Category: Sejenak Merenung

  • Kasih Tak Bertepi, Pilihan Manusia

    Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkan Ulangan 6:5: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu.”.

    Di tengah dunia yang semakin sibuk dan penuh distraksi, kasih yang tulus kepada Tuhan seolah menjadi barang langka. Kehidupan modern menawarkan begitu banyak hal yang terlihat lebih menarik daripada menjalani hidup dalam kasih kepada Sang Pencipta. 

    Dengan segala kesibukan, tujuan hidup yang berubah, dan godaan yang memikat, manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak selalu mengarah pada Tuhan. Persoalan besar dari judul ini adalah: Mengapa Tuhan tidak membuat manusia secara otomatis mencintai-Nya? Mengapa Dia membiarkan manusia memiliki pilihan yang berpotensi membawa mereka jauh dari-Nya? 

    Kasih sejati selalu melibatkan pilihan. Tuhan yang Maha Pengasih tidak memaksakan cinta. Kasih yang dipaksakan tidak pernah menjadi kasih yang tulus. Jika kita tidak memiliki kebebasan untuk memilih, cinta itu hanyalah kepatuhan buta, tanpa makna. 

    Tuhan tidak menginginkan robot, melainkan hati yang rela. Kita melihat hal ini dari permulaan sejarah manusia di Taman Eden. Adam dan Hawa diberi kebebasan untuk memilih menaati Tuhan atau melanggar perintah-Nya. Sayangnya, mereka memilih untuk jatuh. Kejatuhan itu membuka jalan bagi penderitaan, rasa sakit, dan kematian. Tapi apakah ini berarti Tuhan gagal? Tidak. Justru di dalam kebebasan itu kita melihat besarnya kasih Tuhan.

    Kehidupan kita sebagai anak-anak Tuhan hari ini tidak jauh berbeda. Setiap hari kita dihadapkan pada pilihan-pilihan:  Apakah kita akan mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan kita, atau kita akan mengarahkan kasih kita kepada hal-hal lain yang lebih menarik di mata dunia? 

    Kerap kali, tanpa kita sadari, kita memilih yang kedua. Kesibukan, ambisi pribadi, kenikmatan sementara, semua itu menjadi tuhan-tuhan kecil yang mencuri tempat Tuhan di hati kita. Namun di balik itu semua, Tuhan tetap memberikan kita kebebasan. Dia tidak menghapus pilihan kita untuk mencintai atau menolak-Nya.

    Bayangkan seorang ayah yang memberikan kunci mobil kepada anaknya yang baru belajar mengemudi. Sang ayah tahu risiko yang ada, namun dia juga ingin memercayai dan memberi kesempatan kepada anaknya untuk bertumbuh. Dalam cinta yang sejati, ada risiko. Risiko bahwa kita akan salah memilih. Risiko bahwa kita mungkin berpaling. 

    Namun, kasih sejati juga memberi ruang untuk bertobat, kembali, dan mengasihi dengan tulus. Tuhan memilih untuk mencintai kita dengan cara yang sama, membiarkan kita bebas memilih, meski ada risiko kita jatuh, bahkan ketika kita sering kali salah arah.

    Saudaraku, Firman Tuhan dalam Ulangan 6:5 dengan jelas mengajarkan kita tentang jenis kasih yang Tuhan inginkan: kasih yang total, yang tidak terbagi-bagi. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu.” Ini bukan hanya panggilan untuk kasih emosional semata, tetapi kasih yang melibatkan segenap keberadaan diri kita: Pikiran, perasaan, kehendak, dan tindakan. 

    Mengasihi Tuhan berarti mengutamakan-Nya dalam segala hal, menempatkan Dia di pusat hidup kita, meskipun ada banyak hal lain yang menarik hati kita. Namun, bagaimana kita bisa mengasihi Tuhan dengan tulus di tengah dunia yang penuh dengan pilihan? Jawabannya terletak pada pengenalan akan kasih Tuhan yang lebih dahulu mengasihi kita. 

    Kita mengasihi Tuhan bukan karena kita dipaksa, tetapi karena kita sadar betapa besarnya kasih yang telah Dia curahkan kepada kita. Ketika kita merenungkan pengorbanan Kristus di kayu salib, kita melihat kasih yang tak bertepi. Tuhan tidak sekadar mengasihi kita dalam kata-kata, tetapi dalam tindakan konkret yang membawa keselamatan. Kasih itu harus menjadi sumber kekuatan kita untuk membalas cinta-Nya dengan ketulusan.

    Apa yang harus kita bangun dalam diri kita sebagai anak-anak Tuhan? Pertama, kesadaran akan kebebasan kita untuk memilih. Kita harus memahami bahwa setiap hari kita memiliki pilihan untuk mengasihi Tuhan atau mengejar hal-hal lain. 

    Kedua, keinginan yang tulus untuk mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati. Kasih kepada Tuhan bukanlah kewajiban yang berat, tetapi respons alami dari hati yang telah mengalami cinta-Nya. Ketiga, komitmen untuk menjaga kasih itu tetap hidup, bahkan ketika godaan datang untuk menarik kita jauh dari-Nya.

    Saudaraku, ketika kita memilih untuk mengasihi Tuhan dengan tulus, kita tidak hanya memilih kebahagiaan kekal, tetapi juga kehidupan yang penuh makna. Dalam kasih kepada Tuhan, kita menemukan siapa diri kita yang sebenarnya. 

    Dunia mungkin menawarkan begitu banyak pilihan yang terlihat menarik, tetapi pada akhirnya, hanya kasih Tuhan yang tak bertepi itu yang memuaskan hati kita. Apakah kamu memilih untuk mengasihi-Nya hari ini? Tuhan tidak akan memaksa, tetapi Dia SELALU MENUNGGU. (EBWR).

  • Life is a Choice

    MAZMUR 36. Sahabat, dunia yang kita tempati hari ini adalah dunia yang telah jatuh dalam dosa dan penuh dengan kejahatan. Setiap hari, kita mendengar, membaca, atau menonton medsos dan berita televisi tentang berbagai kejahatan di lingkungan kita, di kota tempat kita tinggal, di negara kita, serta di belahan lain dunia ini. Bagaimana tanggapan kita terhadap berita-berita seperti itu?

    Dalam Mazmur 36, Daud menyaksikan bahwa orang-orang fasik memenuhi hidup mereka dengan dosa dan kejahatan. Hati mereka tidak memiliki rasa takut terhadap Tuhan. Segala perkataan, pikiran, dan perbuatan mereka penuh dengan kejahatan dan tipu daya. 

    Menyaksikan hal seperti itu tidak membuat Daud takut, melainkan membuat Daud makin menyadari betapa besar dan berharganya kasih setia Tuhan dalam kehidupannya dan dalam kehidupan orang-orang lain yang mengenal Tuhan. Tuhan yang penuh dengan kasih setia selalu menyelamatkan, melindungi, memelihara, dan menuntun kehidupan umat-Nya. Tuhan adalah Tempat Perlindungan paling aman di dunia ini.

    Melalui pembacaan Mazmur 36 pada hari ini, marilah kita belajar untuk tidak terpaku pada dunia di sekeliling kita yang sering nampak menakutkan. Sebaliknya, marilah kita mengarahkan pandangan kita kepada Tuhan. 

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Life is A Choice (Hidup itu Pilihan)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 36:1-13. Sahabat, sesungguhnya hidup ini penuh dengan pilihan, dari yang sederhana hingga yang kompleks. Mulai dari urusan memilih mau pakai baju apa hari ini, hingga pilihan yang menentukan arah hidup kita di masa mendatang. Terlepas dari begitu banyaknya pilihan dalam keseharian kita, ada pilihan paling penting yang tidak boleh kita abaikan dan harus kita putuskan di dalam hidup ini, yaitu: menjalani hidup penuh dosa ataukah hidup penuh kebaikan Allah?

    Dalam bacaan kita pada hari ini, Daud memerlihatkan kontrasnya gambar dari orang berdosa yang penuh kejahatan dan Allah yang penuh kebaikan. Digambarkan bagaimana bagi orang berdosa: Hatinya dipenuhi dosa (Ayat 2) dan hidupnya dipenuhi dengan kesalahan, kebencian serta kejahatan (Ayat 3-5). Akar dari kehidupan yang penuh dosa adalah orang berdosa tidak takut kepada Allah (Ayat 2b). 

    Gambaran ini sangat kontras sekali dengan gambaran Allah yang penuh kebaikan, seperti: kasih-Nya luas (Ayat 6), keadilan-Nya teguh (Ayat 7), Ia sumber kehidupan bagi segala ciptaan-Nya (Ayat 8-10). Oleh karena itu, bagi orang-orang yang takut akan Allah dan mengenal-Nya, hidup mereka dipenuhi oleh kasih setia dan keadilan Allah (Ayat 11). 

    Beda halnya dengan akhir hidup dari orang berdosa. Daud menegaskan di akhir mazmurnya:  “…orang-orang yang melakukan kejahatan itu jatuh; mereka dibanting dan tidak dapat bangun lagi” (Ayat 13).

    Sahabat, pertanyaan bagi kitah: Hidup manakah yang mewakili kehidupan yang kita jalani sekarang ini? Kehidupan yang tidak takut akan Allah dan penuh dengan keberdosaan? Atau kehidupan yang takut akan Allah dan penuh dengan kebaikan-Nya? Banyak orang mengaku menjalani hidup yang takut akan Allah, namun hidupnya penuh dengan dosa dan kejahatan. Tentu bukan itu yang Tuhan inginkan dari hidup kita. Kiranya Tuhan menolong kita menjalani hidup yang takut akan Tuhan dan dipenuhi dengan kebaikan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sepanjang hidup, kita berhadapan dengan pilihan untuk menerima atau menolak kasih setia Tuhan. Karena itu, selera dan keinginan kita perlu dikekang dan diselaraskan dengan terang firman Tuhan.

  • Waiting God’s Times Patiently

    MAZMUR 35. Sahabat, Mazmur 35 merupakan Nyanyian Ratapan. Nyanyian Ratapan termasuk satu bagian yang cukup besar dalam kitab Mazmur; dan ini menyatakan bahwa Firman Tuhan memberikan tempat untuk kita berespons di hadapan Tuhan dengan benar waktu kita sedang menderita.

    Kita bisa membagi Mazmur 35 dalam 2 bagian: Nyanyian Ratapan, dan Nyayian Pujian atau Ucapan Syukur. Mengingat Ratapan termasuk bagian yang besar dari Mazmur, ini berarti Tuhan juga mau mendewasakan kita melalui kita meratap di hadapan-Nya.  

    Ada orang yang di dalam penderitaan, dia tetap tidak bertumbuh. Meski dia mengalami penderitaan, kehidupannya tidak bertumbuh, karena dia tidak berespons di hadapan Tuhan, dia tidak bergumul di hadapan Tuhan,dia tidak mencari relasi dengan Tuhan, sehingga sia-sia saja penderitaan itu terjadi dalam kehidupannya, tidak menjadikan apa-apa. 

    Yang pasti, orang tidak perlu bangga karena dia menderita; tidak ada yang perlu dibanggakan dengan penderitaan. Sama juga dengan keberhasilan tidak perlu membuat kita bangga karena itu adalah berkat Tuhan, terlebih lagi, tidak ada yang perlu dibanggakan karena kita menderita. Tidak ada apa pun yang mulia dengan penderitaan. Penderitaan akan menjadi satu sarana yang baik, kalau kita berespons dengan benar di hadapan Tuhan. Inilah yang dilakukan Pemazmur dalam Mazmur 35.

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Waiting God’s Times Patiently (Menunggu Waktu Tuhan dengan Sabar)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 35:1-28. Sahabat, Pernahkah  diperlakukan dengan jahat oleh orang-orang yang Sahabat perlakukan dengan baik? Dalam ketidakmengertian atas perbuatan mereka, apa yang biasanya kita lakukan? Mengutuki, bersungut-sungut, mengecam, menyimpan dendam, atau mencari cara untuk membalas perbuatan mereka dengan lebih kejam?

    Daud pernah mengalaminya. Orang-orang yang selama ini diperlakukan baik olehnya justru membalasnya dengan kejahatan, antara lain: mereka ingin mencabut nyawanya (Ayat 4a), merancangkan kecelakaan baginya (Ayat 4b), tanpa alasan menjebaknya (Ayat 7), menuntutnya (Ayat 11), menistanya terus-menerus (Ayat 15), mengolok-oloknya (Ayat 16), memusuhinya tanpa sebab (Ayat 19), dan menipunya (Ayat 20). Padahal Daud tidak tahu apa kesalahan yang telah ia perbuat (Ayat 11). Ia berbuat baik kepada mereka (Ayat 12) dan menemani mereka yang sakit (Ayat 13-14). Karena perbuatan jahat yang tanpa alasan itu, Daud merasa hidupnya telah dirusak habis-habisan (Ayat 17).

    Menariknya, dalam ketidakmengertiannya atas kejahatan yang dialaminya, Daud tidak menyalahkan Tuhan. Ya, ia marah terhadap orang-orang yang telah berbuat jahat itu. Ia sakit hati atas kekejian mereka. Ia merasa dikhianati karena perbuatan baiknya dibalas dengan kejahatan. Tetapi semua kemarahan, sakit hati, dan perasaan dikhianati itu diserahkan kepada Allahnya.

    Kesadaran bahwa Tuhan adalah Hakim yang adil (Ayat 24), membuat Daudmenyerahkan perkaranya kepada-Nya. Daud paham, pembalasan bukanlah haknya, melainkan hak Tuhan. Daud belum jelas apa yang akan Allah lakukan atas perkaranya, dan entah sampai berapa lama Daud mengalami semuanya kejahatan itu (Ayat 17). Namun Daud tetap bersorak-sorak karena Tuhan (9) dan bersyukur kepada-Nya (Ayat 18). Daud menutup Mazmur 35 dengan doksologi yang agung atas kebesaran Tuhan (Ayat 27-28).

    Orang-orang di sekitar kita bisa berbuat jahat dan menyakitkan, tetapi percayalah bahwa kita punya Sang Hakim yang Adil. Bagian kita adalah menyerahkan hidup sepenuhnya ke dalam tangan-Nya, maka Ia akan bertindak.

    Daud sadar bahwa Tuhan mempunyai caranya sendiri dalam bertindak, entah membalas mereka saat itu juga atau di kemudian hari. Sikap Daud yang benar yaitu tetap memuji Tuhan dalam keyakinan imannya akan Tuhan, DIA MENUNGGU WAKTU TUHAN DENGAN SABAR,  bukan menuntut Tuhan bertindak sesuai dengan keinginannya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 9 dan 18?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Di bagian tengah Mazmur 35 ada sebuah perubahan besar yaitu ketika Daud mengakui bahwa keselamatan itu berasal dari Tuhan (Ayat 9), dan Daud tetap setia memuji Tuhan dalam segala hal (Ayat 18). (pg).

  • SATU BUKAN SERAGAM

    Saudaraku,  Indonesia memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang ada pada lambang negara Garuda Pancasila.  Bhinneka Tunggal Ika memiliki arti berbeda tetapi satu.  Alkitab ternyata juga memuat nilai Bhinneka Tunggal Ika, maka mari kita merenungkan Kisah Para Rasul 2:1-40.

    Perayaan Pentakosta yang ramai menjadi makin hiruk pikuk dengan  kabar mabuknya para murid Yesus di pagi hari sehingga  rumah itu ramai dikerumuni massa.  Mereka yang mendatangi rumah itu kaget dan heran karena para murid itu bisa berbicara dalam berbagai bahasa dan massa memahami pesan yang disampaikan padahal para murid Yesus adalah orang Yahudi Galilea yang tak menguasai bahasa asing apalagi menerima mereka yang berbeda dengan bangsa dan adat mereka.  

    Yang lebih mengherankan adalah dari sekian banyak bahasa yang keluar dari mulut para murid yang tersampaikan kepada banyak orang asing itu memiliki  pesan yang sama:  Memuliakan pekerjaan Allah yang besar. Pesan inilah yang membuat mereka membuka telinga kepada Injil dan setelah Petrus menjelaskan situasi, mereka menjadi percaya dan dibaptiskan.  

    Peristiwa Pentakosta ini menjadi titik balik dari para pengikut Yesus dari sekumpulan para penakut yang pesimis, menjadi sekumpulan orang yang berani memberitakan tentang Kristus.  Berita tentang Kristus tersebar dari Yerusalem menuju ke luar Yerusalem melalui orang-orang yang menerima Injil dan dibaptiskan.  Dari lokal menjadi global dalam satu peristiwa dengan satu berita pokok: Pekerjaan Allah yang besar.   Inilah kerja Roh Kudus yang Maha Dahsyat.  Ia menyatukan bangsa-bangsa yang berbeda dalam satu irama, satu frekuensi dalam pekerjaan-Nya.  

    Manusia membuat banyak tembok dalam kehidupan, diantaranya: Etnisitas, adat istiadat, bahasa dan dialek.  Tak jarang karenanya manusia tidak bisa bersatu dan hidup dalam pertikaian dan kesalah pahaman sehingga saling menjegal dan menjatuhkan.  Namun Roh Kudus datang untuk menyatukan perbedaan dan mengarahkannya kepada pekerjaan Allah.   Tembok pemisah warisan Menara Babel dihapuskan oleh Roh Kudus.  SATU bukan berarti SERAGAM, melainkan menghargai PERBEDAAN untuk SATU TUJUAN.   

    Indonesia disatukan oleh Pancasila, bukan berarti Indonesia harus menjadi seperti satu suku mayoritas  melainkan segala perbedaan itu dijembatani oleh Pancasila untuk satu tujuan bersama.  

    Demikian juga Roh Kudus MENJADI PENYATU  setiap orang yang percaya kepada Kristus, apa pun etnisnya, aliran gerejanya, tingkat pendidikannya ataupun usianya.  Roh Kudus menyatukan untuk membuat yang berbeda memiliki satu tujuan bersama:  Memuliakan pekerjaan Allah yang besar.  

    Saudara, masihkah hal ini menjadi tujuan bersama umat Allah?  Atau karya Roh Kudus hanya dipersempit dengan manifestasi ritual yang memperuncing perbedaan dan membuat diskriminasi baru?  Mari kembali kepada asal.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • Tasting the Goodness of God

    MAZMUR 34. Sahabat, dalam Mazmur 34 Daud mengecap kebaikan Tuhan dan mengajak kita ikut menikmatinya. Saat itu, Daud baru saja lolos dari bahaya maut. Sebelumnya, karena dikejar Raja Saul bersama tentaranya yang bermaksud membunuhnya, ia pun melarikan diri sampai ke Gat. Raja Akhis, raja kota itu pun mendapat laporan dari para hambanya bahwa mereka menemukan Daud, pahlawan Israel. 

    Di tengah rasa takut yang hebat, Daud berakting seolah-olah gila. Daud pun diusir (1Samuel  21:10-15) sehingga ia dapat melarikan diri kembali. Hal tersebut sangat melegakan hati Daud sehingga ia menulis Mazmur 34. Daud bisa lolos karena Tuhan memberi hikmat dan meloloskannya (Ayar 5).

    Ketika Daud terhindar dari peristiwa mencekam itu, ia belum terbebas sepenuhnya dari bahaya. Ia masih harus bersembunyi sementara di gua Adulam (1Samuel  22:1). Namun, rasa takutnya lenyap. Dengan demikian, mengecap kebaikan Tuhan tidaklah harus menunggu segenap keadaan sudah  menjadi baik. 

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Tasting the  Goodness of God (Mengecap Kebaikan Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 34:1-23 dengan penekanan pada ayat 9, “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!” 

    Sahabat, Daud, seorang pemimpin yang dihadapkan pada banyak tantangan dan rintangan, sering mencari perlindungan dan kekuatan dari Tuhan dalam pengalaman hidupnya. Dalam konteks bacaan kita pada hari ini, Daud telah menemukan bahwa ketika seseorang memilih untuk bergantung sepenuhnya pada Tuhan, mereka akan menemukan bahwa Tuhan baik dan setia dalam memenuhi kebutuhan dan memberikan perlindungan. 

    Jadi, secara keseluruhan, bacaan kita pada hari ini mengajak kita untuk mengamati dan merenungkan kebaikan Tuhan dalam hidup kita, serta untuk mencari perlindungan dan kebahagiaan dalam hubungan yang erat dengan-Nya. Hal ini merupakan undangan untuk hidup dengan kesadaran akan hadirnya Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita, serta untuk mengalami kegembiraan yang bersumber dari ketergantungan kita pada-Nya.

    Bacaan kita pada hari  ini mengajak kita untuk merenungkan dua hal penting: Pertama, Kebaikan Tuhan. Pemazmur menekankan bahwa Tuhan itu baik. Meskipun hidup kita penuh dengan berbagai tantangan dan kesulitan, kita dipanggil untuk memerhatikan kebaikan Tuhan di sekitar kita. Banyak kali, kebaikan Tuhan dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, seperti berkat yang diberikan, perlindungan yang diberikan, atau kasih yang ditunjukkan kepada kita melalui orang lain. Dengan merenungkan kebaikan Tuhan, kita dapat memperoleh sikap syukur yang lebih besar dalam hidup. 

    Kedua, perlindungan dalam Tuhan. Pemazmur juga menyatakan bahwa orang yang berlindung pada Tuhan akan berbahagia. Hal ini menunjukkan pentingnya memiliki hubungan yang kuat dengan Tuhan dan memercayakan hidup kita sepenuhnya kepada-Nya. Ketika kita mencari perlindungan dalam Tuhan, kita meletakkan keyakinan kita pada-Nya untuk memberikan bimbingan, perlindungan, dan kekuatan dalam menghadapi segala situasi. 

    Sahabat, hal tersebut membawa kedamaian dan kebahagiaan yang sejati, karena kita tahu bahwa kita tidak sendirian dalam menghadapi hidup ini. Karena itu,  kita diingatkan untuk senantiasa mencari kebaikan Tuhan dalam hidup kita dan untuk memperkuat hubungan kita dengan-Nya sebagai sumber perlindungan dan kebahagiaan yang abadi. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 10-11?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kecaplah dan lihatlah kebaikan-kebaikan Tuhan, nikmati perlindungan dan penyertaan-Nya setiap hari. (pg).

  • Di Medan Hidup: Prinsip Jadi Senjata

    Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkan surat Roma 12:1-2.

    Di tengah riuhnya dunia yang terus berputar, kita seolah berjalan di tepi jurang, terperangkap dalam arus yang tak henti menggoda. Setiap detik, suara-suara asing menyergap, memaksa kita untuk bertanya: di mana posisi kita? Sebagai orang beriman, tantangan ini terasa semakin pelik. Kita dipanggil untuk hidup berbeda, namun dihadapkan pada pilihan yang tak pernah mudah. Dalam medan pertempuran ini, apakah kita berani berdiri teguh atau justru menyerah pada tekanan?

    Paulus mengingatkan kita dalam Roma 12:1-2, sebuah seruan yang tak sekadar kata-kata, tetapi panggilan untuk bertindak. “Persembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah.” Kata-kata tersebut memaksa kita untuk merenung: apakah kita benar-benar mempersembahkan diri kita, atau hanya berperan sebagai pengamat dalam perjalanan iman kita? Kehidupan sehari-hari kita harus menjadi bentuk ibadah yang sejati, bukan sekadar rutinitas kosong.

    PERUBAHAN adalah kata yang sering kita dengar, tapi seberapa banyak dari kita yang benar-benar siap untuk berubah? Kita diajak untuk tidak menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi untuk mengalami pembaharuan budi. Apa artinya? Ini berarti merombak cara kita berpikir, membongkar prasangka-prasangka yang menjerat, dan menggantinya dengan perspektif ilahi. 

    Dalam dunia yang menormalkan kebencian dan egoisme, kita harus berani menjadi agen kasih dan pengampunan. Pertanyaannya: apakah kita siap menghadapi perlawanan saat berdiri dalam kebenaran?

    Setiap hari kita berhadapan dengan PILIHAN. Apakah kita akan menyesuaikan diri dengan arus besar yang menghanyutkan, atau mengambil jalan sempit yang penuh tantangan? Seperti Yosua yang menantang bangsanya untuk memilih kepada siapa mereka akan beribadah, kita juga harus memilih dengan bijak. Pilihan ini tidak hanya menyangkut hidup kita, tetapi juga dampaknya pada orang lain. Ketika dunia mengagungkan kesuksesan individu, kita dipanggil untuk merangkul prinsip pelayanan dan kasih. Apakah kita akan tetap teguh dalam iman, atau berkompromi demi popularitas sesaat?

    Saudaraku, PRINSIP, senjata kita yang paling kuat, menjadi landasan ketika badai kehidupan menerpa. Tanpa prinsip yang kokoh, kita bagaikan daun kering yang ditiup angin. Prinsip yang berakar dalam Firman Tuhan memberi kita kekuatan untuk berdiri teguh, meski banyak yang meragukan. Dalam setiap keputusan, dari bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain hingga cara kita menghadapi tantangan, prinsip ini mengarahkan langkah kita. 

    Ketika dunia menyuguhkan jalan pintas untuk kesuksesan, kita harus ingat: nilai sejati terletak pada kasih dan integritas. Kita tidak hanya hidup untuk diri sendiri, tetapi untuk memancarkan cahaya di tengah kegelapan.

    Hidup adalah medan pertempuran yang penuh dengan pilihan dan konsekuensi. Di tengah segala tantangan, kita tidak bisa berjuang sendirian. Dengan perubahan yang berkelanjutan, pilihan yang bijaksana, dan prinsip yang kokoh, kita bisa tidak hanya bertahan, tetapi juga menang. 

    Saudaraku, jadi, mari kita ambil senjata kita, perubahan, pilihan, dan prinsip, dan berjuanglah dengan sepenuh hati di medan hidup ini. Pertanyaannya adalah, apakah kita siap untuk mengambil tantangan ini dan menulis cerita iman kita dengan tinta keberanian? (EBWR).

  • God is Care and Powerful

    MAZMUR 33. Sahabat, dalam Mazmur 33, jelas bahwa hati Pemazmur bersukacita. Ia mengajak pembacanya, orang-orang yang sudah mengenal Tuhan, untuk bersorak-sorai, memuji-muji, bersyukur bersama kepada Tuhan. Ia mengajak mereka mengekspresikan sukacita mereka dengan bernyanyi dan bermazmur bagi Tuhan dengan kecapi (Ayat 1-3). 

    Kapan terakhir kali Sahabat mengekspresikan sukacita kepada Tuhan? Selain bersaksi tentang kebaikan/berkat Tuhan kepada orang lain, jangan lupa mengekspresikan secara langsung kepada Tuhan. Tuhan akan mengangkat jiwa kita seiring dengan pujian yang kita naikkan kepada-Nya.

    Sangat menarik, berbeda dengan kebanyakan orang yang bersukacita karena mendapat sesuatu, barang atau uang, Ppemazmur bersukacita karena Tuhan. Mulai ayat 4 yang diawali dengan kata “sebab”’, Pemazmur menguraikan alasan mengapa ia begitu bersukacita karena Tuhan, yaitu karena Tuhan menciptakan bumi yang ia tinggali dengan kuasa dan kasih yang hangat. Dengan firman-Nya, Tuhan membuat bumi menjadi tempat yang dapat ditinggali manusia, maka patutlah kita takut, kagum, hormat, dan mengasihi Tuhan (Ayat 4-9). 

    Kita mungkin tidak menyadari bahwa lingkungan tempat tinggal kita adalah karya Tuhan melalui tangan manusia. Selain itu, dalam hubungan dengan rencana-Nya terhadap umat manusia, Tuhan berdaulat penuh. Manusia mungkin saja mengatakan bahwa ia punya sumber daya yang cukup untuk memastikan rencananya berjalan (Ayat 16-17) meskipun hal itu melawan dan menentang Tuhan. Akan tetapi, Tuhan memastikan bahwa rencana-Nyalah yang akan terlaksana (Ayat 10-11).

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan tema: “God is Care and Powerful (Tuhan itu Peduli dan Berkuasa). Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 33:1-22. Sahabat, salah satu arti dari kuasa adalah wewenang atas sesuatu atau untuk menentukan sesuatu. Dalam arti demikian, seorang yang berkuasa bisa menggunakan kekuasaannya sesuai seleranya. Bisakah seseorang yang berkuasa peduli kepada yang dikuasainya?

    Kalau kita  membaca Mazmur 33  segera terbayang mengenai kekuasaan Tuhan. Kekuasaan-Nya tampak dalam alam. Langit dijadikan hanya oleh firman-Nya (Ayat 6), air laut bisa dikumpulkan-Nya dan samudera dapat diwadahi-Nya (Ayat 7). Kekuasaan-Nya dibandingkan dengan berbagai kekuatan yang sering kali diandalkan oleh manusia. Kalau raja-raja memiliki kekuasaan, maka kuasa Tuhan jauh melampaui mereka (Ayat 16). Jika dibandingkan dengan kekuatan seorang pahlawan, maka kekuatan Tuhan tidak ada batasnya (16). Kuda yang hebat pun tidak sehebat Tuhan (Ayat 17). 

    Namun, Tuhan yang berkuasa itu tidak digambarkan sebagai penguasa yang arogan. Karena Dia tidak bertindak sewenang-wenang. Malahan Dia peduli dengan ciptaan-Nya. Dia memandang dari surga untuk menilik anak-anak manusia (Ayat 13). Bahkan Pemazmur menggambarkan bahwa Tuhanlah sumber pengharapan manusia (20-22). Itu sebabnya Pemazmur mengajak umat senantiasa memuji-muji Tuhan.

    Sahabat, TUHAN yang BERKUASA tetapi tetap PEDULI  membuat kita percaya diri menjalani kehidupan ini. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena Dia berkuasa atas segala sesuatu. Oleh sebab itu, Tuhan dapat dijadikan sumber pengharapan kita. Untuk alasan itulah, kita harus menjalani hidup penuh puji-pujian kepada Tuhan. Puji-pujian itu harus menjadi konkret dalam kehidupan kita dengan meneladani perbuatan Allah.

    Lagipula setiap orang percaya juga memiliki kuasa yang dapat memengaruhi kehidupan orang lain dan ciptaan lain. Karena itu, kehidupan kita harus dijalani dengan peduli kepada sesama ciptaan Tuhan dan tidak bertindak sewenang-wenang. Haleluyta! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?

    Bagaimana Sahabat mengekspresikan sukacita kepada Tuhan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mari kita meneladani Tuhan dalam keseharian kita, berkuasa tapi tetap peduli. (pg).. 

  • KELELAHAN TOTAL

    Saudaraku, sayamelanjutkan perbincangan dengan dengan Pak Direktur Ministry Center. Dia menginformasikan malam itu ada satu gereja, Majelis dan rohaniawannya ingin bertemu. Gereja tersebut mau ulang tahun yang ke-40 dan ingin merayakannya dengan cara unik, yaitu memoratoriumkan kegiatan dan hanya menyisakan ibadah, doa dan kelompok kecil. Gereja tersebut mau mengambil waktu diam beberapa minggu, retret doa, untuk mencari pimpinan Tuhan atas tahun yang baru. Saya bertanya,. “Wah, gereja tersebut defisit dan jemaatnya susut ya? Karenanya kegiatan-kegiatannya mau dihentikan.”

    “Bukan karena defisit namun karena kelelahan, lengkaplah bentuk kelelahannya, kelelahan spiritual, kelelahan mental, kelelahan fisik, masih beruntung bisa menyadari kelelahan. Banyak gereja tidak sadar, sedang burn out (kondisi stres kronis, seseorang merasa lelah secara fisik, mental, dan emosional gara-gara pekerjaannya).”

    Jadi ceritanya di gereja ada banyak kegiatan, yang ikutan banyak, tapi setelah selesai kegiatan ya tidak ada bekas-bekasnya, tidak ada catatan sejarahnya, apalagi tindak lanjut, yang tertinggal hanya foto-foto meriah, orang-orang atau anggota jemaat tertawa-tawa renyah, laporan keuangan pokoknya dana sudah terpakai. Hal tersebut berlangsung bertahun-tahun …. beberapa tahun kemudian generasi mendatang tidak tahu itu kegiatan apa dan tidak kenal nama-nama orang yang tertawa renyah karena tidak ada keterangan di foto.

    Ngenes ya, tiga tugas panggilan gereja tradisional yakni Marturia, Diakonia, dan Koinonia sudah terlaksana, tapi seperti angin berlalu. Marturia, berarti kesaksian atau pemikiran, dalam konteks gereja berarti kesaksian iman, yaitu pemberitaan Injil sebagai berita keselamatan bagi manusia.

    Diakonia, berarti pelayanan atau perbuatan, bisa berupa kegiatan sosial, dukungan untuk komunitas sekitar, atau partisipasi dalam kegiatan kemanusiaan. Sedangkan Koinonia, berarti persekutuan atau kelompok, diwujudkan dengan menghayati hidup berjemaat, seperti berkumpul bersama, bernyanyi, berdoa, melakukan pelayanan dan saling melayani.

    Tiga tugas panggilan gereja sudah dilakukan bertahun-tahun, tapi mengapa tiba-tiba merasa kelelahan total, kelelahan spiritual, kelelahan mental, kelelahan fisik/tenaga. Tugas panggilan gereja sudah dilakukan, hasilnya ada, namun bila hal-hal ini dilakukan tanpa dilandaskan pada doa, maka apa yang dilakukan gereja hanya seperti kegiatan organisasi umum lainnya bahkan dilakukan juga oleh parpol, hanya beda visi dan misinya.

    Kini Gereja merasa lelah dan menyadari semua kegiatannya untuk beberapa saat ke depan perlu dimoratorium, perlu ditangguhkan atau ditunda, dan Gereja mau mengambil waktu diam beberapa minggu, mengadakan retret doa, untuk mencari pimpinan Tuhan atas tahun-tahun yang baru.

    Dengan adanya doa bukan saja mendekatkan Gereja pada Tuhan, tapi menyadarkan kembali bahwa ladang yang gereja layani yakni terkait kehidupan rohani, bukan jasmani. Ladang yang dilayani Gereja memang tidak kelihatan, namun berorientasi jangka panjang dan kekal. Rasul Paulus menasihatkan, sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. (2 Korintus 4:18). 

    Ayat berikut mungkin sering kita baca, Matius 11:28:  “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Tapi saat kondisi kita sedang jaya-jayanya dan sehat walafiat, ayat tersebut mungkin sering diabaikan dan dilupakan, belum dibutuhkan …

    Saudaraku, perhatikan gereja yang usianya sudah 40 tahun,  yang disebut rumah rohani dan punya pengurus banyak, ternyata bisa kelelahan, karena justru terlalu banyak kegiatan. Bandingkan dengan diri kita, yang seorang diri. Apakah Saudara selalu merasa kuat, jaya dan dapat memperoleh segala-galanya? 

    Kapan Anda merasa lelah? Inilah saatnya datang berdoa, merendahkan diri di hadapan Allah. Ingatlah selalu: “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya (Yesaya 40:29). (Surhert)..

  • WISTLE-BLOWER

    Saudaraku, hari ini kita akan membaca dan merenungkan 2 Samuel 12 : 1-5 dan terlebih dahulu kita akan menghafalkan Amsal 10:10: “Siapa mengedipkan mata, menyebabkan kesusahan, siapa bodoh bicaranya, akan jatuh”.

    Di dalam pengelolaan organisasi, lembaga, atau pemerintahan, pengawasan dibutuhkan untuk mencapai tata kelola yang baik (good governance).  Salah satunya melalui “whistle-blowing system”, yaitu sistem pelaporan sesuatu perbuatan yang diduga pelanggaran. Seorang “whistleblower” sendiri adalah “orang dalam” yang mengungkap dugaan pelanggaran yang terjadi di tempatnya bekerja. Keberadaan seorang “whistleblower” menjadi sangat penting dalam upaya pembuktian suatu masalah.

    Keberadaan “whistleblower” tidak hanya dibutuhkan di dalam organisasi atau lembaga formal. Dalam kehidupan kita sebagai orang percaya, “whistleblower” bisa jadi adalah orang yang terdekat kita, pasangan kita, orangtua, anak, pemimpin di gereja, atau majelis. Keberadaan kita sebagai manusia yang memiliki kecenderungan berdosa, dimana tidak ada seorangpun yang menjamin dirinya selalu benar dan tidak pernah melakukan kesalahan, kita semua memiliki “blind spot” (titik buta). 

    Daud tidak ada rencana untuk tidur dengan Batsyeba, namun keinginan yang berdosa itu muncul ketika ia berjalan-jalan dan melihatnya dari atas sotoh istana. Dosa itu terus berlanjut hingga ia membunuh Uria. Alkitab mencatat apa yang dilakukan Daud adalah jahat di mata Tuhan, maka Ia mengutus Nabi Natan untuk menjadi seorang “whistleblower” dalam kasus Daud. 

    Setelah kejahatannya terungkap, Daud mengaku dosa, menyesali dan menghadapi konsekuensi dosanya. Bukan hanya Raja Daud yang membutuhkan “whistleblower”, melainkan kita semua tanpa terkecuali. Jangan marah jika ada yang mengungkap pelanggaran kita, bersikaplah terbuka atas koreksi dan siap berubah melakukan yang benar.

    Saudaraku,  Bapa akan mendidik dan mengingatkan kita, anak-anak-Nya, ketika kita keluar jalur (Ibrani 12:4-6), dan kitab Amsal menuliskan, “Siapa mengindahkan didikan, menuju jalan kehidupan, tetapi siapa mengabaikan teguran, tersesat (Amsal 10:17).

    Refleksi Diri:

    1. Siapa “whistleblower” Saudara belakangan ini?
    2. Apa yang harus diperbaiki dalam kehidupan Saudara? 

    Apa Yang Harus Kita Lakukan?

    Jangan marah jika ada yang mengungkap pelanggaran kita, bersikap terbuka atas koreksi dan siap untuk berubah melakukan yang benar.

    Pokok Doa:

    Bapa surgawi, terima kasih telah senantiasa mendisiplinkan aku, agar aku terus hidup benar. Berikanlah aku terus melakukan apa yang benar di hadapan-Mu. Kumohon penyertaan Roh Kudus senantiasa ada padaku. Dalam nama Yesus. Amin.

    Hikmat Hari Ini:

    Siapa enggan mengakui kesalahan berada dalam bahaya. (PW)

  • TERUS BELAJAR

    Saudaraku,  tujuan pendidikan adalah perubahan.  Manusia menjalani pendidikan dengan harapan ada perubahan dalam pemikiran, pengetahuan dan karakter.  Kitab Kisah Para Rasul merupakan salah satu kisah perjalanan ragam manusia yang berjuang melakukan kehendak Allah.  Mari mulai merenungkan kitab Kisah Para Rasul  dengan membaca Kisah Para Rasul 1:1-8.

    Lukas menyambung kisah Yesus yang diceritakan dalam Injil yang ditulisnya dalam Kitab Kisah Para Rasul dan Lukas mengambil titik berangkat yang menarik yaitu fakta kerapuhan dan gagal pahamnya para murid menangkap misi-Nya ke dunia. Lukas menceritakan juga berbagai upaya Yesus untuk membuat para murid mengerti yaitu dengan pengajaran visual dengan menampakkan diri berulang kali selama empat puluh hari dan pengajaran verbal dengan terus berbicara tentang Kerajaan Allah (Kisah Para Rasul 1:3).  

    Secara intensif Yesus berusaha untuk menyadarkan para murid setelah Ia bangkit namun tetap saja para murid tidak memahami maksudnya.  Pertanyaan dalam Kisah Para Rasul 1:6 menunjukkan bahwa pemikiran para murid belum berubah dan tetap memikirkan tentang pemulihan Israel.  

    Seakan tak lelah dengan kenyataan lambannya daya cerap para murid, Yesus memberikan respons yang sangat baik dengan membuka kenyataan bahwa para muridlah yang akan menjadi pelaku sejarah Kerajaan Allah karena mereka akan dipakai Allah untuk mendirikan kerajaan-Nya di dunia sehingga tidak hanya Israel yang pulih namun seisi dunia menggemakan tentang pekerjaan Allah  (Kisah para Rasul 1:7-8).  

    Sekalipun para Murid masih belum bisa mengubah pemikirannya karena mereka adalah orang-orang Yahudi yang kuat dalam pengharapan mesianis yang sempit, namun Allah tak lelah mengajar untuk membongkar tembok identitas yang yang membelenggu mereka. 

    Menjadi Kristen membutuhkan proses dan kesetiaan untuk bertahan terus belajar sepanjang proses tersebut. Tak disangkal bahwa orang Kristen adalah manusia biasa yang rapuh dan membutuhkan proses untuk memahami pekerjaan Allah dalam kehidupannya.  

    Tak jarang orang Kristen masih memiliki pemikiran lama, mengambil keputusan yang keliru dan bahkan berangkat dari prasangka dalam perjalanan imannya, namun terpujilah Allah yang tak lelah untuk mengajar dan mendidik hingga orang itu mencapai kemajuan dalam pemahamannya dengan perubahan pemikiran, perubahan karakter yang ditampilkan secara visual dengan perubahan gaya hidup ke arah Firman Tuhan.  

    Hidup adalah proses belajar, maka mari menjadi manusia pembelajar.  Saat seorang menerima Kristus maka saat itulah dia memulai proses belajar tentang Dia, inilah pesan yang disampaikan Lukas melalui Kitab Kisah Para Rasul.  

    Saudaraku, orang Kristen adalah pembelajar sejati sebagaimana nasehat Rasul Paulus dalam Kolose 2:7 : Hendaklah kalian membangun hidupmu dengan Kristus sebagai dasarnya. Hendaklah kalian makin percaya kepada Kristus, menurut apa yang sudah diajarkan kepadamu. Mari terus menjadi Kristen pembelajar dan terus diubahkan sesuai Firman Tuhan.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)