Category: Karib Dengan Tuhan

  • AJARAN itu CAHAYA

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena firman Tuhan telah menjadi terang bagi hidup kita.  Sahabat, saat berkendara di malam hari, entah kita mengendarai sepeda motor atau mobil,  kita menyalakan lampu untuk siapa? Jelas, utamanya untuk diri kita sendiri, agar kita bisa melihat keadaan di depan dengan lebih jelas. Untuk mengetahui apakah ada jalan yang berlubang, memberitahu pengendara  lain saat kita akan belok atau berhenti, dan untuk menolong pengendara lain supaya dapat melihat posisi kendaraan kita. Terang sangat diperlukan dalam keadaan gelap, supaya kita tidak bertabrakan dengan pengendara lain, kita tidak jatuh karena masuk ke lubang yang lebar dan dalam, dan kita tidak tersesat masuk ke jalan yang salah. 

    Sahabat, hari ini saya mengajak  belajar dari Mazmur 119:105-112. Daud mengibaratkan firman Tuhan sebagai penuntun hidupnya. Ia menggunakan firman Tuhan sebagai pelita tidak untuk menyoroti hidup orang lain, tapi dirinya sendiri,
    “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (ayat 105). Saya belajar dari Daud, firman Tuhan yang saya baca dan renungkan, menyoroti hidup saya sendiri terlebih dahulu, kemudian saya tulis dan  saya bagikan kepada sahabat saya.  

    Daud sadar akan keadaannya yang dalam kesulitan, himpitan, kesesakan dan penindasan (ayat 107). Namun ia bersumpah akan menepati firman Tuhan dan berpegang pada hukum-Nya yang adil (ayat 106). Daud tidak melupakan firman Tuhan dalam kegelapan hidupnya, tetapi justru menggunakannya sebagai terang agar dia bisa dipulihkan kembali. Dia juga sadar bahwa Tuhan adalah penolongnya, yang tidak akan membiarkannya sendiri. 

    Sahabat, firman Tuhan bisa menjadi terang yang akan menunjukkan jalan guna menghindarkan kita dari kesesatan. Firman Tuhan menolong kita untuk bersikap kritis terhadap nilai-nilai dan filosofi-filosofi yang kelihatannya benar, tetapi sebenarnya keliru.

    Selain itu, saat ini cukup banyak orang di sekitar kita mengalami depresi dan putus asa, semakin banyak pasangan yang berpisah,  bahkan banyak yang berniat mengakhiri hidupnya, sebab hidup terasa semakin gelap dan tak memiliki harapan. Semuanya bisa berubah dengan cepat. Di sinilah kita memerlukan  firman Tuhan untuk menolong kita memahami hidup dan maknanya.

    Bagi setiap orang yang senantiasa berjalan di dalam firman Tuhan apa yang dikerjakan dan dilakukan akan terlihat terang, “Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, …”  (Mazmur 119:130). Firman Tuhan  bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memerbaiki kelakuan dan mendidik kita dalam kebenaran, sehingga kehidupan kita akan selalu diperbaharui dari hari ke sehari, hingga semakin berkenan kepada Tuhan.

    Ingatlah! Sahabat, karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan (Amsal 6:23). Firman Tuhan berguna menjaga jiwa dan juga menyelamatkan orang yang kehilangan pengharapan. Ketika hidup terasa berat dan gelap, kita membutuhkan terang dan kebenaran yang padanya jiwa kita dapat berlabuh dan mendapat ketenangan serta kedamaian. Karena itu mari kita mencintai firman Tuhan dan tekun mempelajarinya, sebab ia  dapat menerangi, menyegarkan dan menyelamatkan kita. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan senantiasa punya cara untuk menuntun kita ke jalan yang benar. (pg)

  • MENGEMBANGKAN SIKAP PUAS DI DALAM ALLAH

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena kita dapat hidup dengan rasa cukup. Sahabat, saya senang minum kopi hitam dengan sedikit gula. Satu hari cukup satu cangkir saja, tidak lebih. Minum kopi itu baik, tapi kalau berlebihan menjadi kecanduan, justru dapat mengganggu kesehatan kita. Saya senang bekerja keras, tapi tidak sampai menjadi kecanduan kerja (Workaholics). Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Bisa berdampak negatif. Segala sesuatu perlu kita kerjakan dan  nikmati  dengan secukupnya.

    Hari ini saya mengajak Sahabat untuk belajar dari  1 Timotius 6:1-10, dan berfokus kepada ayat 9-10, “… mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”

    Sahabat, saat membimbing Timotius yang masih muda, Rasul Paulus memeringatkan bahwa sifat cinta uang dan hasrat untuk menjadi kaya telah menyebabkan sebagian orang tersesat dan kehilangan arah hidup. Mereka takluk kepada beragam godaan dan terjerat oleh berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan (ayat 9). Paulus melihat cinta uang (bukan uang itu sendiri) sebagai akar dari segala kejahatan (ayat 10), terutama kejahatan berupa ketergantungan pada uang dan bukan ketergantungan pada Kristus.

    Tuhan tidak melarang kita bekerja untuk mendapatkan penghasilan (uang) karena setiap manusia yang masih hidup di dunia membutuhkan uang di dalam hidupnya dan untuk hidupnya. Masalahnya ada cukup banyak orang yang kehilangan arah, lupa diri, mereka menghambakan dirinya kepada uang. Uang menjadi tuan mereka. Akibatnya mereka menggantungkan hidupnya kepada uang dan bukan kepada Tuhan.

    Sesungguhnya Tuhan memberkati orang-orang yang beribadah dengan sungguh dalam kesalehan, namun Tuhan tidak ingin kita beribadah dengan  motivasi yang salah, yaitu  demi mencari keuntungan.  Sebab, cinta uang adalah akar segala kejahatan dan dapat membuat seseorang menyimpang dari iman (ayat 10).

    Oleh karena itu, Paulus mengingatkan Timotius dan jemaat Efesus agar mereka setia dalam pengajaran firman (ayat 2-b) dan mencukupkan diri di dalam segala perkara (ayat 6 dan 8). Karena, kita lahir dan mati tanpa membawa apa-apa (ayat 7). Dengan kesetiaan dalam firman dan rasa cukup dalam segala keadaan, maka umat Allah akan terhindar dari penyimpangan dan kedukaan (10), serta tetap teguh di dalam iman kepada Tuhan.

    Ingatlah! Sahabat, dengan terus belajar melihat Kristus sebagai sumber dari segala yang kita miliki, kita akan menemukan kepuasan di dalam Dia dan bukan dari harta benda. Ketika kita mengejar kesalehan lebih daripada kekayaan, kita akan memperoleh sebuah kerinduan untuk selalu setia dengan segala sesuatu yang sudah kita terima. Kita dapat mensyukuri apa yang telah kita miliki. Dengan penuh kesadaran, marilah kita mengembangkan sikap puas di dalam Allah, dan dengan setia berserah kepada-Nya, karena Allah yang Maha Pemelihara akan menjaga kita senantiasa. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong kita agar selalu berkecukupan. (pg)

  • Hari MALANG dan Hari MUJUR

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena masa depan sungguh ada bagi setiap orang percaya. Sahabat, ada peribahasa lama berkata, “Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak” yang artinya kehidupan didepan kita menjadi rahasia Allah,  untung maupun malang sering datang tiba-tiba tanpa disangka. Kemalangan dan kemujuran umumnya datang dan pergi seperti pencuri yang tidak dapat diprediksi.

    Sahabat, coba kita bandingkan peribahasa tersebut dengan Firman Tuhan yang ditulis dalam Kitab Pengkhotbah 7:13-14, “Perhatikanlah pekerjaan Allah! Siapakah dapat meluruskan apa yang telah dibengkokkan-Nya? Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang ini pun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.”

    Di dunia ini, tidak ada orang yang dapat memberikan hikmat sejati. Tidak ada orang yang berkuasa mengubah karakter seseorang. Benar! Pasti tidak ada! Di dunia ini dapat dipastikan tidak ada seorang pun yang berkuasa melakukannya!

    Sahabat, hanya Allah yang berkuasa mengubah karakter seseorang. Hanya Allah yang dapat melakukannya! Hanya Tuhan yang berhikmat dan berkuasa mengubahnya! Hanya Tuhan yang berkuasa meluruskan jalan hidup sesesorang yang bengkok. Karena hanya Tuhan Allah kita yang memiliki kuasa dan hikmat sejati.

    Lebih jauh, Pengkhotbah 7:14 menyatakan: Pada hari mujur bergembiralah. Ya! Bergembiralah pada hari mujur! Bergembiralah! Tetapi pada hari malang ingatlah! Ingatlah baik-baik! Pada hari malang pun dijadikan Allah seperti juga hari mujur!

    Benar! Allah menjadikan hari malang seperti hari mujur, hari yang beruntung, hari yang baik. Hari yang penuh berkat. Tuhan menjadikan hari-hari yang penuh kekecewaan menjadi hari-hari yang memuaskan. Tuhan berkuasa membuat hari-hari yang menyedihkan seperti hari-hari yang menyenangkan. Tuhan berkuasa membuat hari-hari yang galau seperti hari-hari yang penuh kedamaian.

    Sahabat, mengapa Tuhan menjadikan hari malang seperti hari mujur? Apakah rencana Tuhan di dalamnya? Mengapa Tuhan mengizinkan hal tersebut terjadi? Tujuannya supaya  kita tidak mengetahui apa yang bakal terjadi dalam kehidupan seseorang pada masa yang akan datang. Suyaya kita tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depan kita. Supaya manusia tidak mengetahui masa depannya. Ini adalah hikmat Tuhan. Ini adalah hikmat Allah. Semua hal itu adalah rencana Allah yang telah ditetapkan-Nya bagi manusia, bagi kita sejak semula.

    Oleh sebab itu, janganlah kamu menghabiskan hari-harimu dalam kemujuran tanpa kendali. Jangan pula kamu terlena, sehingga kamu binasa dan turun ke dalam kegelapan dunia orang mati yang gelap selama-lamanya. Jangan iri hati terhadap kemujuran hidup orang fasik! Jangan iri hati dengan keberhasilan orang jahat. Jangan hilangkan kesetiaanmu kepada Tuhan, karena Tuhan sangat mengasihimu. Benar! Tuhan sangat mengasihimu!

    Ingatlah! Sahabat,  janganlah kamu heran! Tetapi percayalah! Kemalangan orang percaya dan berhikmat akan digantikan-Nya dengan kemujuran yang ajaib! Percayalah, kemalangan orang berhikmat yang takut akan Tuhan akan diubah-Nya menjadi kasih karunia yang melebihi segalanya. Percayalah! Kemalangan orang yang rindu terhadap Firman Tuhan akan dijadikan-Nya keberuntungan yang sangat dahsyat dan berlimpah-limpah. Hari-hari kemalangan orang benar yang sedang sakit akan dijadikan-Nya sembuh dengan kuasa-Nya yang luar biasa dan ajaib. Imanilah! Berkat Tuhan bagi orang yang mengikut Yesus akan seperti batang air yang mengalir dan tidak pernah kering. (pg).

  • SANG IDOLA

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan penuh syukur karena kita mengidolakan Tuhan Yesus dalam hidup kita. Sahabat, ada cukup banyak orang yang mempunyai tokoh idola dalam hidupnya. Entah itu dari kalangan artis, penyanyi, atlet, pengusaha, orang-orang sukses atau tokoh penting lainnya. Sebagai penggemar, tentu mereka melakukan banyak hal seperti: Mengikuti sang idola di media sosial, mencari tahu segala hal tentangnya, segala berita tentangnya, apa yang disukai dan kebiasaannya, dan mengikutinya saat sedang tur. Memasang posternya yang cukup besar di kamarnya dan memasang fotonya di sosial media. Dengan bangga menunjukkan pada dunia bahwa mereka adalah penggemarnya.

    Beberapa alasan menjadikan seseorang idola antara lain karena: Penampilannya,  ketenarannya, prestasinya, kepribadian, falsafah hidupnya, pemikirannya,  keunikannya, bahkan bisa juga karena “keanehan dan kegilaannya” dan lain-lainnya/

    Sesungguhnya idola memberikan pengaruh yang besar terhadap kehidupan seseorang, apalagi jika idola tersebut merupakan tokoh dalam masyarakat (sosialita), akan menjadi magnet yang kuat,  menarik minat banyak sekali orang.

    Sahabat, sesungguhnya mengagumi seseorang itu boleh-boleh saja asal dalam batas kewajaran. Tetapi kalau kita mengagumi seseorang sampai kita menjadi tergila-gila dan memuja-mujanya bahkan sampai mendewakannya dan benar-benar menjadi berhala dalam kehidupan kita, itu yang berbahaya (Keluaran 20:3-5).

    Seringkali seseorang yang mengagumi seorang idola membuat dia ingin menjadi seperti sang idola. Memiliki hidup  dan berlaku seperti sang idola. Bahkan bagi para penggemar fanatik, tindakan diluar nalar menjadi hal biasa yang akan mereka lakukan, seperti melakukan oplas untuk memiliki wajah yang mirip seperti idolanya.

    Sahabat, maka dalam memilih tokoh idola sebaiknya tidak sembarangan, karena karakter dan kehidupan mereka akan memengaruhi kehidupan kita sebagai pengikut. Diantara banyaknya tokoh idola yang dapat kita kagumi, kita mempunyai seorang yang layak dan wajib menjadi teladan hidup kita, yaitu Yesus (1 Petrus 2:21).

    Menjadikan Yesus sebagai idola dalam hidup kita sama dengan menjadikan apapun yang berhubungan dengan-Nya menjadi sangat penting dan menarik. Kita akan berusaha mencaritahu segala hal tentang-Nya, kebiasaan-Nya, hal-hal yang disenangi dan tidak disenangi-Nya, bahkan kita dengan bangga akan menunjukkan pada dunia bahwa kita adalah pengikut-Nya. Bahwa kita adalah murid-Nya. Saat Yesus menjadi teladan hidup kita, kita akan berusaha untuk memiliki hidup seperti hidup Yesus dan berlaku sebagaimana sikap Yesus setiap harinya.

    Yesus adalah teladan yang sempurna, Dia idola yang benar yang akan membawa kita menjalani kehidupan dengan benar. Saat kita memutuskan untuk menjadi murid Kristus, kita harus dengan yakin membawa hati dan hidup kita menjadi seperti Dia. Saat kita menjadikan Yesus sebagai teladan dalam hidup, kita juga harus mampu menjadikan diri kita sebagai teladan buat orang lain (Filipi 2:5 dan 3:17). Seperti nasihat Rasul Paulus kepada Timotius, “Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (1 Timotius 4:12)

    Ingatlah! Sahabat, jadilah teladan dalam berbuat baik. Semoga kita bisa menjadi teladan bagi orang lain, agar saat mereka melihat hidup kita, mereka bisa memuji dan memuliakan Tuhan. Oh ya, saat ini, adakah idola dalam hidup kita yang mengisi hidup kita lebih daripada Tuhan Yesus? Semoga tidak ada. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Jadikan Tuhan Yesus sebagai idola dalam kehidupan kita. (pg)  

  • FONDASI KEHIDUPAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena kita telah memiliki fondasi hidup yang kokoh. Sahabat, fondasi merupakan bagian konstruksi yang terpenting pada sebuah bangunan, karena di sanalah terletak tumpuan seluruh beban yang ada di atasnya, juga kekuatan menahan berbagai gaya dari luar. Sebuah fondasi akan tergantung dari berat bangunan (berapa tingkat dan bahan yang digunakan), juga kontur tanah dimana bangunan tersebut didirikan. Ada tanah yang miring, ada tanah yang  bekas rawa, ada tanah hasil timbunan, dan lain-lain, sehingga kondisinya benar-benar harus diketahui terlebih dahulu agar fondasinya kuat untuk menahan beban rumah yang ada di atasnya.

    Kalau fondasi rumah saja begitu penting kita perhatikan, apalagi fondasi kehidupan kita. Kehidupan ini tidaklah mudah untuk dijalani. Selalu ada badai masalah, tekanan, problema dan berbagai rintangan yang akan  muncul tanpa permisi. Bagaimana kita bisa bertahan dan tetap tegar di tengah badai kalau fondasi kita lemah?


    Sahabat, fondasi kehidupan kita begitu penting, sehingga Tuhan Yesus langsung bersabda, “Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya–Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan–, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun.” (Lukas 6:47-48).

    Sedangkan Rasul Paulus menyatakan bahwa fondasi hidup orang percaya adalah Tuhan Yesus sendiri, bukan yang lain,   “… tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.” (1 Korintus 3:11).  Jadi, yang menjadi fondasi hidup orang percaya bukanlah sebuah pelayanan, keanggotaan atau jabatan dalam struktur keorganisasian di sebuah gereja atau lembaga gerejawi,   “Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.”  (1 Petrus 2:6).

    Lalu bagaimana agar kita bisa memiliki fondasi  kehidupan yang kokoh?  Perhatikan kembali Lukas 6:47-48 di atas. Itulah kunci untuk membuat sebuah fondasi kehidupan yang kokoh  yang sangat berpengaruh pada kekuatan hidup. Datang kepada Tuhan, mendengarkan perkataan-Nya dan melakukan firman-Nya. Berhenti pada percaya kepada-Nya dan mengetahui firman-Nya saja tidaklah cukup untuk membangun fondasi hidup yang kokoh kuat. Kita harus pula melanjutkan dengan melakukan apa yang Dia ajarkan. Intinya, kita harus melandaskan hidup kita sepenuhnya pada batu karang yang tidak lain adalah Kristus sendiri. (1 Korintus 10:4).

    Ingatlah! Sahabat,  ketika kita masih diberi kesempatan untuk hidup di dunia yang penuh tantangan dan pergolakan ini, janganlah kita salah mendasarkan kehidupan kita. Janganlah kita mendasarkan  kehidupan kita pada kekayaan atau kedudukan, atau hal lain yang bersumber dari dunia yang fana. Karena segala sesuatu yang berasal dari dunia,  memiliki sifat yang rapuh dan fana. “Sebab, semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur.” (1 Petrus 1:24). Tuhan memberkati Sahabat dan keluiarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong kita agar dapat memilih fondasi hidup yang benar. (pg)

  • KASIH SETIA TUHAN tidak pernah BERUBAH

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur. Sahabat, pengenalan akan Tuhan sangat menentukan sikap kita dalam menjalani kehidupan, terlebih bila kesulitan datang: Apakah kita menghadapi masalah dengan penuh pengharapan kepada Tuhan atau menghadapinya dengan sikap putus asa? Mazmur 108:1-14 merupakan doa dan nyanyian syukur yang mengungkapkan semangat dan kesiapan hati Daud untuk menyaksikan  perbuatan Tuhan yang besar yang menyelamatkan umat-Nya.

    Sahabat, kalau Mazmur 53 identik dengan Mazmur 14, maka Mazmur 108 ini merupakan gabungan dari dua mazmur. Ayat 2-6 berasal dari Mazmur 57:8-12, sedangkan ayat 7-14 mengutip Mazmur 60:7-14.

    Kalau mengingat mazmur adalah respons umat dari waktu ke waktu dalam sejarah panjang Perjanjian Lama, maka tidak heran dalam mengungkapkan perasaannya pemazmur bisa mengutip bagian mazmur lainnya yang sesuai..

    Sahabat, Mazmur 108 dimulai dari keyakinan iman pemazmur bahwa Tuhan pasti menjawab doa pergumulannya (ayat 2-6). Kasih setia Tuhan dapat diandalkan. Hal tersebut diteguhkan dengan pernyataan akan kuasa Tuhan atas berbagai suku bangsa yang ada di sekeliling Israel (8-10). Kemudian ditutup dengan menegaskan kebergantungan penuh kepada Tuhan karena manusia tidak dapat diandalkan (11-14). Kasih setia Tuhan kembali menjadi andalan umat-Nya dalam menghadapi masalah apa pun dalam kehidupan ini.

    Pengalaman hidup orang percaya sangat dinamis, seperti yang terungkap waktu kita merenungkan mazmur. Dari pergumulan karena menghadapi masalah berubah menjadi syukur dan sembah karena mendapat pertolongan Tuhan. Pengalaman tersebut membuahkan keyakinan iman dan pengharapan. Keyakinan akan kebaikan dan kemahakuasaan Tuhan selanjutnya menghasilkan keberanian untuk meminta pertolongan tatkala masalah kembali menimpa. Apa pun masalah yang kita hadapi, ingatlah bahwa kasih setia Tuhan tidak pernah berubah.

    Sahabat, Daud mau memuji atau bermazmur bagi Tuhan, sebab ia percaya dan menyadari besarnya kasih setia Tuhan. Daud percaya bahwa Tuhan yang berkuasa atas bangsa Israel dan bangsa-bangsa lain akan bertindak menolong dan menyelamatkan umat-Nya pada saat-Nya. Daud sadar bahwa kekuatan manusia sangat terbatas, tetapi pertolongan Tuhan membuat kita bisa berkata, “Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa” (ayat 14).

    Kehidupan tidak selalu lancar, tetapi jika kita sudah mengalami kebaikan Tuhan dan makin menyadari betapa besarnya kasih setia Tuhan, kita dapat menghadapi keadaan apa pun dengan penuh pengharapan kepada Tuhan. Kita tidak mudah putus asa atau menyerah karena kita percaya bahwa Dia selalu beserta kita. Ingatlah! Sahabat, setiap hari, saat bangun pagi, kita dapat menyambut hari yang baru dengan hati penuh syukur, pengharapan penuh kepada Tuhan, keyakinan bahwa kasih setia dan penyertaan Tuhan akan menopang dan menolong dalam menjalani hari dengan penuh kemenangan. Bahkan, kita dapat memandang segala tantangan dan kesulitan yang kita hadapi sebagai kesempatan melihat Allah memampukan kita untuk melakukan perbuatan gagah perkasa. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong kita. (pg)

  • HIDUP BAHAGIA

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur. Sahabat, Mazmur 33:1-22 memang  kurang jelas latar belakangnya, tetapi bukan kebetulan jika mazmur ini ditempatkan setelah Mazmur 32, yang berbicara tentang kebahagiaan orang yang diampuni Tuhan. Bila dalam Mazmur 32 kita membaca  betapa bahagianya pengampunan Tuhan, maka pada Mazmur 33 kita diperlihatkan bagaimana pengampunan yang sempurna itu menjadi pendorong bagi pemazmur untuk berelasi akrab dengan Tuhan dan menjalani hidup dengan penuh ucapan syukur.

    Sahabat, sangat menarik sekali ucapan syukur Daud. Ia tidak bersyukur atas kekayaannya, juga bukan  karena jabatan raja yang dimilikinya. Ia justru bersyukur untuk dua hal utama, yaitu firman Tuhan (ayat 4-11) dan pribadi Tuhan itu sendiri (ayat 12-18).

    Alkitab yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah buku di atas segala buku, firman Tuhan yang hidup untuk manusia, yang berlaku untuk segala zaman.  Jadi isi Alkitab adalah perkataan Tuhan sendiri yang penuh kuasa. Rasul Paulus meyakinkan Timotius,  “… bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”  (2 Timotius 3:16-17).

    Sahabat, mengapa Alkitab disebut firman Tuhan yang hidup?  Karena daripadanya kita mendapatkan makanan dan minuman rohani.  Banyak orang berpikir bahwa roti adalah satu-satunya yang dibutuhkan untuk bisa hidup.  Memang benar, makanan jasmani diperlukan agar kita dapat bertahan hidup, namun ada hal lain yang diperlukan untuk membuat hidup kita lebih dari sekadar bertahan hidup.  Yesus bersabda,  “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”  (Matius 4:4). 

    Sedangkan mengenai Tuhan, Daud bersyukur karena Tuhan memperhatikan umat-Nya (ayat 13-15,18) serta berkuasa untuk menyelamatkan dan memelihara umat-Nya (ayat 19). Karena itu, Daud berkata, “Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah Tuhan…” (ayat 12).

    Sahabat, melalui pengalaman Daud, kita belajar bahwa seseorang yang berelasi dekat dengan Tuhan niscaya akan berdampak pada perspektifnya dalam memandang hidup. Umumnya kita pikir bahwa hidup bahagia adalah hidup berlimpah harta dan kesuksesan. Namun bagi Daud, kebahagiaannya adalah karena ia punya Tuhan dan firman-Nya.
    Ingatlah! Sahabat, kunci mengalami kebahagiaan, sukacita, damai sejahtera yang sejati hanya kita dapatkan di dalam Alkitab.  Dengan kata lain hati manusia hanya dapat dipuaskan dengan firman Tuhan saja.  Juga kedewasaan rohani setiap orang percaya hanya dapat bertambah-tambah dan menjadi kuat hanya dengan membaca, mendengar, merenungkan dan melakukan firman Tuhan saja.  Sungguh bahwa Alkitab adalah firman Tuhan yang hidup dan berkuasa. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara agar kita dapat menikmati hidup dengan bahagia. (pg)

  • BERAPA LAMA LAGI, TUHAN?

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur walau hidup kita tidak luput dari penderitaan. Sahabat, penderitaan merupakan bagian hidup manusia. Yang menarik, ketika Daud mengalami penderitaan yang cukup berat dan menekan, tidak membuatnya menyangkal dan meninggalkan Allah. Sebaliknya, ia tetap berseru dan semakin berharap kepada Allah dalam doa yang tiada putusnya. Untuk itu Sahabat saya ajak untuk berefleksi dari kisah pengalaman Daud yang saya ambil dari Mazmur 13:1-6.

    Sahabat, dalam perikop tersebut, Daud mulai mengungkapkan isi hatinya dengan pertanyaan “Berapa lama lagi Tuhan?” Pertanyaan itu diulangi sampai lima kali. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya perasaan Daud seolah-olah dirinya ditinggalkan Allah. Artinya, derita yang dirasakan Daud sangat berat dan sudah mencapai batas yang dapat ditanggungnya. Bak air sudah mencapai hidung.

    Sebenarnya apa pokok masalah yang sedang dihadapi Daud? Apakah dirinya sedang sakit parah? Apakah keselamatannya terancam? Ternyata tidak. Kuncinya ada di ayat 4-b, “Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati,”  Bila mata Daud tidak bercahaya, hal itu berarti Allah tidak bersama dengannya. Apakah benar Allah sudah tidak menyertai Daud lagi?

    Sahabat, Mazmur 19:9 menyatakan bahwa mata seseorang akan bercahaya karena firman Tuhan. Jika dilihat dari sudut pandang Mazmur 19:9, maka ungkapan Daud menunjukkan bahwa Allah tidak lagi berfirman kepadanya. Tidak adanya firman Allah itulah yang membuat hati Daud goyah. Ia seolah-olah kehilangan pegangan dan tuntunan hidup karena selama ini hidupnya berlandaskan pada firman Allah. Itulah alasannya Daud meratap, “Berapa lama lagi Tuhan?”

    Mazmur  13:1-6  ini merupakan ungkapan isi hati Daud saat ia mengalami pergumulan yang sangat berat.  Hari-hari Daud penuh kegelisahan karena ia terus dikejar-kejar Saul yang hendak membunuhya.  Bisa dibayangkan betapa tidak tenangnya perasaan Daud karena dihantui oleh bahaya kematian.  Selain itu Daud juga harus menghadapi bani Amalek, suatu bangsa yang menjadi musuh bangsa Israel.  Daud benar-benar dalam tekanan yang hebat.  Wajar bila Daud sempat putus asa dan mengeluh kepada Tuhan, “Berapa lama lagi, Tuhan, Kaulupakan aku terus-menerus?  Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?  Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari?  Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?”  (ayat 2-3).

    Ingatlah! Sahabat, pengalamannya bersama Allah yang penuh kasih dan setia membawa Daud pada pengharapan bahwa Allah akan melepaskan penderitaannya. Sebab itu, dengan keyakinan ia berkata bahwa kasih setia kepada Allah dan perjanjian-Nya saja ia percaya (ayat 6-a). Kasih setia tanpa syarat inilah yang menjadi kekuatan Daud untuk terus berseru kepada Tuhan. Ketika kita sedang menderita, hanya Tuhan yang mau mengerti isi hati dan keluh kesah kita. Di sinilah kita baru bisa semakin mengenal Allah dan membuat kita dapat berkata seperti Daud,  “kepada kasih setia-Mu aku percaya” (ayat 6a). Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk mengangkat segala penderitaan kita. (pg)

  • BERMAZMUR bagi ALLAH

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh semangat memuji dan memuliakan nama Tuhan. Sahabat,  Mazmur pamungkas (Mazmur 150) mengajak orang percaya untuk memuji Tuhan. Mazmur tersebut  mau mengatakan bahwa memang Tuhan itu layak dipuji. Dia yang kudus, yang menguasai cakrawala, yang perkasa dengan segala kebesaran-Nya. Dengan apa memuji Tuhan? Tentunya dengan segala yang ada pada kita. Dengan tubuh kita, melalui harta kita, dengan sikap dan perbuatan kita. Melalui segala aspek kehidupan ini, kita diminta untuk memuliakan Tuhan.

    Ajakan menyembah Tuhan merupakan kesempatan untuk menghayati ulang kebesaran dan kemuliaan-Nya, serta terkagum-kagum akan karya-Nya yang ajaib. Kalau motivasi kita keliru, atau penghayatan kita dangkal, atau kita ternyata sedang mendua hati dengan hal-hal dunia ini yang lebih menarik daripada dengan Tuhan, kita perlu bertobat! Lantunkan ulang Mazmur 150.

    Sahabat, mengapa kita harus memuji Tuhan di segala waktu?  Karena kita diciptakan Tuhan dengan tujuan memberitakan kemasyuran-Nya.  Tuhan berkata,  “umat yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyhuran-Ku.” (Yesaya 43:21)  Memuji Tuhan adalah perintah Tuhan, dan sebagai anak-anak-Nya kita harus taat melakukannya,   “Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.” (Ibrani 13:15) 

    Tuhan sangat menikmati puji-pujian yang dinaikkan oleh umat-Nya, karena itu Ia selalu hadir dan bertahta di atas pujian kita.  Meski berada di situasi sulit dan sepertinya kegelapan pekat mengelilingi hidup kita biarlah kita tetap memuji-muji Tuhan, karena ketika kita melakukannya Tuhan akan hadir melawat kita.  Kehadiran-Nya pasti membawa dampak luar biasa dalam kehidupan kita:  memulihkan, menyembuhkan, menolong bahkan memberkati kita.  Daud menulis,  “Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu.”  (Mazmur 147:1). 

    Sahabat, sebagai manusia Daud pun pernah dan sering mengalami masalah atau pun tekanan dalam hidupnya, namun ia tidak menjadi putus asa dan terus-menerus tenggelam dalam kepedihan, ia tetap dapat memuji-muji Tuhan.  Itulah sikap yang patut kita teladani. seperti yang dilakukan Daud.  “Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.”  (Mazmur 34:2). Memuji Tuhan tidak terbatas hanya pada saat kita beribadah di gereja saja. 


    Mari kita ubah keadaan yang buruk dan kepedihan hati menjadi sorak kemenangan dengan kuasa puji-pujian.  Masalah dan pencobaan boleh saja datang, tetapi sebagai orang percaya kita harus belajar untuk tetap mengucap syukur dan memuji-muji Dia.  Kalahkanlah kesedihan dan tekanan di hati kita dengan kuasa puji-pujian.

    Ingatlah! Sahabat, saat memuji Tuhan kita memberi kesempatan Tuhan menyatakan kuasa-Nya:  mengubah keadaan buruk menjadi kemenangan! Jangan pernah berhenti memuji dan menyembah Tuhan!  Karena itu pada saat kita dalam pergumulan, tekanan, dan kesakitan,  angkat hati Saudara dan pujilah Tuhan. Sebab saat kita memuji dan menyembah Tuhan, Tuhan sedang mengambil alih peperangan kita, artinya Tuhan berperang ganti kita.  Selamat ulang tahun ke-36 Sekolah Musik Christopherus. Teruslah mempersiapkan banyak anak Tuhan untuk menjadi pemuji dan penyembah Tuhan yang handal. (pg),

  • PESERTA PERTANDINGAN IMAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh semangat untuk mengikuti pertandingan iman. Sahabat, Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus (1 Korintus 9:24-27) menggambarkan bahwa kita sebagai orang percaya, bagaikan seorang atlet yang sedang berada di arena pertandingan. Kita masing-masing sebagai peserta bukan sebagai penonton. Bertanding untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.

    Sahabat, ada perbedaan mencolok antara peserta dan penonton.  Penonton paling mahir berkomentar, melontarkan kritikan dan hujatan terhadap peserta lomba karena ia hanya menonton, bukan turut bertanding.  Sedangkan bagi peserta lomba,  ia harus berjuang begitu rupa di gelanggang pertandingan, bermandi peluh dan tak jarang harus mengalami cidera di tengah pertandingan.  Ingatlah bahwa sebagai penonton sampai kapan pun tidak pernah berhak mendapatkan medali atau piala atau penghargaan lainnya;  yang berhak menerima adalah peserta pertandingan! 

    Rasul Paulus menggambarkan bahwa sesungguhnya kita sebagai orang percaya dalam kehidupan rohani harus ikut dalam pertandingan iman.  Yang membedakan antara pertandingan iman dan pertandingan di gelanggang olahraga adalah hadiah yang hendak kita kejar.  Dalam pertandingan iman, setiap peserta berjuang untuk mendapatkan mahkota yang abadi;  dan untuk mendapatkan mahkota yang abadi itu ada harga yang harus kita  bayar! 

    Rasul Paulus bersaksi,  “… aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.”  (1 Korintus 9:27).  Tuhan rindu memberkati anak-anak-Nya di segala bidang yang ditekuninya dan Ia berjanji untuk menambahkan semua berkat itu jika kita mau mendahulukan Dia dan kebenaran-Nya  (Matius 6:33).  Namun ukuran kesuksesan sejati orang percaya bukanlah berkenaan dengan berkat-berkat materi  (kekayaan, pangkat atau ketenaran), melainkan sebuah mahkota abadi yang akan Tuhan anugerahkan kelak.Sahabat, ada hal-hal yang harus diperhatikan saat kita menjadi peserta pertandingan iman:  kita harus menanggalkan beban dan dosa,  “Karena…marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.”  (Ibrani 12:1).  Coba bayangkan jika ada peserta pertandingan yang tetap memikul beban di punggung saat berlari!  Sampai berapa lama ia akan mampu bertahan?  Cepat atau lambat ia pasti akan mengalami kelelahan yang sangat dan kemudian menyerah di tengah jalan.  Beban berbicara tentang masalah dan pergumulan hidup ini.

    Ingatlah! Sahabat, mahkota abadi adalah ukuran kesuksesan yang sejati bagi orang percaya! Rasul Paulus harus mengalami penderitaan demi melayani Tuhan, bahkan pada masa tuanya ia harus sendirian berada di penjara dan akhirnya meninggal dipancung.  Menurut ukuran dunia ia bukanlah orang yang berhasil.  Tetapi menjelang akhir hidup Paulus dengan rasa bangga berkata,  “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”  (2 Timotius 4:7). Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk dapat memberi kekuatan kepada kita agar terus dapat berlari hingga garis akhir dengan selamat. (pg)