Category: Karib Dengan Tuhan

  • KEPUASAN, KEAMANAN, dan KEYAKINAN (1)

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat, tetap semangat dan selalu bersyukur. Sahabat, mungkin ada diantara kita yang mengenal novelis asal Banyuwangi yang bernama Intan Andaru. Dia lahir di Banyuwangi pada 20 Februari 1990. Namanya dikenal secara luas melalui karyanya berupa novel, cerita pendek, dan puisi yang dipublikasikan di sejumlah surat kabar. Selain menekuni dunia tulis menulis, Intan juga berprofesi sebagai dokter yang kemudian mendorongnya menuliskan fiksi dengan mengangkat tema kesehatan. Intan menerbitkan buku pertama berupa kumpulan cerpen tentang penderita HIV/AIDS. Dia memilih bekerja sebagai dokter PTT di RSUD Asmat-Papua sambil menyelesaikan riset untuk penulisannya novelnya.

    Sahabat, Mazmur 23:1-6 adalah sebuah lagu yang ditulis oleh seorang raja bernama Daud. Dia adalah seorang raja di Israel. Sebelum menjadi seorang raja, Daud  dulunya adalah seorang gembala domba. Jadi tidak heran apabila di mazmur tersebut dia menulis hubungan antara Tuhan dengan anak-anak-Nya yang diibaratkan seperti seorang gembala dengan  domba-dombanya.

    Lalu apa  tugas seorang gembala di zaman itu? Menjaga dan memberi makan domba-dombanya. Seorang gembala memiliki tugas untuk membawa kawanan domba-domba  dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mencari sumber air dan  makanan yaitu rumput yang hijau. Dalam perjalanannya tidak jarang sang gembala harus berhadapan dengan binatang-binatang liar dan buas, seperti serigala, singa dan beruang. Sang gembala juga harus siap melindungi domba-dombanya dari serangan para perampok yang mungkin ingin merampas kawanan dombanya.

    Sahabat, Mazmur 23 memberikan satu gambaran yang sangat indah dan sangat akrab antara Tuhan dan sang pemazmur, raja Daud. Tuhan sebagai gembalanya dan Daud menempatkan dirinya sebagai domba-Nya. Dari Mazmur 23 kita akan belajar 3 (tiga) hal  mengenai apa artinya memiliki hubungan dengan Tuhan sebagai gembala kita. Yang pertama, menikmati kepuasaan. Yang kedua, menikmati keamanan. Yang ketiga, menikmati keyakinan.

    Pertama, menikmati kepuasan (ayat 1, 2, dan 3). Daud merasa puas karena ia memiliki Gembala yang menuntunnya di dalam kebenaran. Daud berkata bahwa Tuhan menyegarkan jiwanya, menenangkan jiwanya. Perasaan segar yang dia rasakan di dalam jiwanya ketika ia memiliki Tuhan sebagai gembalanya. Ini adalah kunci kepuasan Daud, suatu kepuasan yang berpusat kepada hati yang disegarkan oleh kebenaran.

    Sahabat, satu sukacita yang didapat bukan dari materi, bukan dari prestasi, tetapi karena ia hidup dituntun oleh Tuhan di dalam kebenaran. Kita semua tahu, tidak peduli sebanyak berapa pun harta yang kita miliki, seberapa suksesnya karir kita, seberapa bahagianya keluarga kita, jiwa kita tidak akan bisa tenang dan puas apabila kita tidak hidup di dalam kebenaran Tuhan.

    Ingatlah! Sahabat, Alkitab mencatat ketika setiap kita jatuh ke dalam dosa, hati dan pikiran kita diikat sehingga kita selalu merasa tidak puas, tidak cukup, keinginan untuk mencari lebih dan lebih lagi. Tetapi kita harus belajar untuk hidup puas di dalam kebenaran Tuhan. Bukan hanya puas dalam kecukupan; bukan hanya puas dalam kesuksesan; tetapi puas dalam kebenaran. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara agar kita dapat menikmati kepuasan di dalam kebenaran. (pg).

  • BERDOA dengan tanpa JEMU

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena kita telah tekun berdoa. Sahabat, Judika (penyanyi dan salah seorang juri Indonesian Idol) dengan Duma Riris Silalahi (Runner Up Pertama Puteri Indonesia 2007) telah menikah pada tanggal 31 Agustus 2013. Mereka pacaran selama 7 tahun dan untuk mendapatkan restu dari orangtua Duma  membutuhkan waktu 5 tahun. Pernah ayah Duma mengirimi SMS kepada Duma yang berisi “ancaman”: Duma diminta untuk memilih antara Judika atau orangtuanya. Dari SMS tersebut Judika menciptakan lagu yang berjudul “Mama Papa Larang”. Orangtua Duma akhirnya memberikan restu setelah melihat keseriusan, kegigihan, dan kekonsistenan Judika. Doa, perjuangan, dan sikap pantang menyerah Judika tidak sia-sia, akhirnya Duma menjadi istrinya.

    Tahukah Sahabat  bahwa dalam berdoa pun dibutuhkan hal yang sama, maka Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang hakim yang tak benar yang tertulis di Injil Lukas 18:1-18.

    Sahabat, ada cukup banyak orang yang berdoa hanya sambil lalu saja, menjadikan doa sebagai alternatif diantara banyak alternatif lainnya untuk memperoleh apa yang diharapkan. Dijawab syukur, tidak dijawab ya sudah. Ada pula yang mencoba berdoa sebentar saja, tapi saat tidak langsung dikabulkan, lalu menuduh Tuhan tidak peduli atau bahkan Tuhan tidak ada. Doa dianggap sebagai sarana meminta yang harus dikabulkan, atau kalau tidak maka Tuhan jadi terdakwa dan dinyatakan bersalah.

    Seringkali kita berpikir bahwa doa adalah semata-mata tentang permintaan kita kepada Tuhan atau sarana kita meminta kepada Tuhan yang seketika itu harus dikabulkan.  Awal-awalnya kita berdoa dengan tekun karena menginginkan sesuatu dari Tuhan, namun begitu belum ada jawaban kepastian, kita pun langsung berubah sikap, tidak lagi berdoa secara intensif hingga akhirnya kita benar-benar mogok berdoa. 

    Perhatikanlah!  Doa sebenarnya bukan hanya sekadar kita berbicara dan menyampaikan keinginan kepada Tuhan, tetapi juga mendengarkan apa yang Tuhan mau dan inginkan dari kehidupan kita.  Di awal perikop yang kita gali saat ini, Tuhan Yesus berkata, “Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.” (ayat 1)   

    Berdoa dengan tidak jemu-jemu artinya berdoa terus-menerus, tidak menjadi kendur dan tidak kehilangan semangat.  Kalau kita menyadari bahwa waktu Tuhan bukanlah waktu kita, maka kita akan berdoa dengan tidak jemu-jemu  bagaimana pun keadaannya sampai kita melihat Tuhan bekerja dan menyatakan kuasa-Nya.  Kita berdoa kepada Tuhan dengan tidak jemu-jemu sebagai tanda bahwa kita sangat bergantung kepada-Nya dan menjadikan Dia sebagai satu-satunya Penolong.

    Sahabat, sesungguhnya di dalam doa terkandung unsur:  waktu, kesungguhan, motivasi dan juga iman.  Jujur kita akui bahwa sulit rasanya menerima suatu kenyataan bahwa waktu kita bukanlah waktu Tuhan.  Akibatnya kita tidak sabar dan tidak lagi tahan untuk terus berdoa!

    Doa bukanlah alat untuk memaksa Tuhan agar Dia melakukan apa yang kita inginkan. Doa merupakan suatu proses untuk menyadari kuasa dan rencana-Nya atas hidup kita. Melalui doa, kita menyerahkan hidup dan keadaan kita kepada Tuhan dan mempercayai-Nya untuk bertindak menurut waktu dan cara-Nya.

    Pada saat kita mengandalkan anugerah Tuhan, tidak hanya untuk jawaban dari permohonan kita tetapi juga untuk prosesnya, kita dapat selalu datang kepada Tuhan melalui doa, dengan mempercayai hikmat dan kepedulian-Nya bagi kita.

    Ingatlah! Sahabat, dorongan yang diberikan Tuhan untuk kita sangatlah jelas: “Teruslah berdoa dengan tidak jemu-jemu!”. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk memproses dan mendewasakan kita. (pg)

  • ALLAH Gunung Batuku

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena bagaimana pun keadaan kita, kita tetap beriman kepada Tuhan Yesus. Sahabat, sejak Sekolah Minggu sampai saat ini, salah seorang tokoh di Alkitab yang saya kagumi, Ayub. Dia kehilangan segala sesuatu, bahkan istrinya  pun meninggalkan dirinya. Ayub telah kehilangan segala-galanya. Dalam kesendiriannya tersebut, ia berhasil melewati pergumulan hidup dan bahkan dibenarkan oleh Tuhan.

    Sahabat, saya ajak untuk menggali berkat dari tulisan Asaf yang ada di Mazmur 73:1-28.  Asaf,  penulis banyak Mazmur, seorang kepala pemimpin pujian yang diangkat Raja Daud (1 Tawarikh 16:5).Seorang pemimpin musik di Bait Allah. Asaf sebagai seorang imam Lewi yang bertugas mengatur dan memainkan musik dan pujian di Bait Allah. Dia memainkan ceracap.

    Dalam Mazmur 73 terlihat betapa pemazmur mengalami pergumulan yang sangat berat dalam hidupnya.  Awalnya ia merasa kecewa dan cemburu bila melihat kehidupan orang-orang di luar Tuhan. Ia  memperhatikan kejayaan orang-orang fasik dengan banyak kemujuran (ayat 3-b), sehat-sehat (ayat 4), tidak mengalami kesusahan (ayat 5). Karenanya mereka menjadi sombong dan terus dalam kejahatannya (ayat 7-9), bahkan mengira Allah tidak mengetahuinya (ayat 11). Asaf, seorang yang berhati tulus dan mengandalkan Tuhan (ayat 13), mulai ragu akan imannya. Ia merasa kesetiaannya sia-sia belaka (ayat 13), dan ia nyaris tergelincir (ayat 2).

    Namun akhirnya Asaf memutuskan setia dan tetap mencari Allah (ayat 17), serta berpegang kepada-Nya, sekalipun banyak hal tak dipahaminya (ayat 22-23). Ia berserah pada tuntunan Allah yang membawanya pada kemuliaan (ayat 24). Ia sadar bahwa miliknya yang paling berharga adalah Allah yang kekal (ayat 25-26). Ia pun mengerti bahwa situasi makmur dan mujur yang mereka alami itu bersifat sementara, suatu jerat, karena mereka ada di tempat-tempat licin (ayat 18-a), serta akan berakhir dalam kehancuran dan kebinasaan (ayat 18b-20).

    Sahabat, sekarang saya ajak untuk memerhatikan ayat 26, “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” Jika kata hati digabungkan dengan kata daging  maka ketika kedua-duanya lenyap berarti manusia sudah tidak memiliki apapun, mengingat daging (fisik/tubuh jasmani) dan hati (batin/pikiran) sudah habis lenyap. Jadi  tidak hanya sekadar habis atau selesai, tetapi sampai benar-benar habis tuntas dan tidak dapat dipakai lagi. Itu merujuk pada sebuah kondisi manusia yang sudah tidak memiliki apa-apa lagi, baik secara fisik maupun hati/pikiran/perasaan.

    Jadi dalam bagian pertama ayat ini, Asaf sebagai penulis mazmur hendak melukiskan gambaran seseorang yang sudah tidak punya apa-apa lagi. Secara fisik ia tidak punya harta, uang, kekayaan, rumah, ternak, dan lain sebagainya. Secara non fisik, perasaannya hancur, hatinya berduka, merasa terbuang, tertolak, dan nyaris tanpa pengharapan. Mungkin orang-orang di sekitarnya juga mencemooh dan meninggalkannya. Akan tetapi, Asaf menulis bahwa sekalipun hal tersebut terjadi, Allah tetap menjadi gunung batu (kekuatan) dan bagiannya selama-lamanya.Ingatlah! Sahabat, bagaimana pun keadaan kita, biarlah kita senantiasa menjaga hubungan kita dengan Tuhan.  Saat kita semakin melekat kepada Tuhan bukan berarti keadaan kita akan langsung berubah seketika, tetapi justru kita sendiri yang akan diubahkan oleh Tuhan.  Kita akan diangkat masuk ke dalam kemuliaan-Nya.  Oleh karena itu jangan pernah iri hati kepada keberhasilan orang-orang fasik. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk mengangkat kita. (pg)   

  • Mengembangkan RENDAH HATI sebagai KEPRIBADIAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena kita dapat terus belajar untuk berperilaku rendah hati. Sahabat, orang yang rendah hati cenderung tidak selalu menganggap dirinya lebih baik daripada orang lain. Sifat selalu ingin tampak lebih dari orang lain dan keangkuhan, umumnya mendorong seseorang untuk selalu ingin mendapatkan  pujian (jempol) dan perhatian. Padahal, sesungguhnya pujian adalah saat kita bisa menempatkan diri di mana kita berada, tanpa memaksakan kehendak untuk dipuji.

    Kita perlu semakin menyadari, ketika berdoa, kita sedang berhadapan dan berkomunikasi dengan Tuhan yang Mahabesar, Mahakuasa, Mahamulia dan Mahakudus. Di hadapan Allah yang seperti itu, betapa kecil dan hinanya manusia. Dalam kesadaran seperti itu, selayaknya kita bersikap seperti Daud dalam doanya kepada Tuhan. Daud sangat hormat, khusyuk, sungguh-sungguh, sopan, tertib, penuh iman, dan taat kepada Tuhan.

    Sahabat, untuk itu saya mengajak Sahabat  menggali berkat dari 2 Samuel 7:18-29 di bawah judul: “Doa Syukur Daud.”

    Dari perikop tersebut kita dapat mengetahui bagaimana sikap Daud dalam doanya. Daud memberikan teladan kerendahan hati. Ia bersikap serendah-rendahnya di hadapan Allah yang Mahatinggi. Ia sadar akan keberadaannya. Daud takjub kepada Allah (ayat 19-22). Tidak ada yang seperti Allah (ayat 22). Allah  telah menyelamatkan umat-Nya (ayat 23). Daud takjub, bersyukur, dan dengan rendah hati berdoa kepada Allah memohon berkat-Nya (ayat 24-29)

    Sahabat, di dalam doanya tersebut, Daud menyebut dirinya sebagai hamba Allah sampai sepuluh kali. Ini menyiratkan kesadaran Daud akan siapa dirinya. Dari bukan siapa-siapa, dari gembala domba di padang belantara, dia telah dijadikan Allah sebagai raja Israel. Itu sama sekali bukan karena kemampuannya melainkan karena anugerah Allah semata.

    Sikap rendah hati itu tidak hanya ditunjukkan dalam doa saja, tetapi juga dinyatakan dalam menanggapi penolakan Tuhan atas ide Daud untuk membangun Bait Allah (2 Samuel 7:1-17). Bagaimana reaksi Daud menghadapi penolakan Allah? Jawabnya terdapat juga dalam perikop yang kita pelajari saat ini. Daud tidak mengeluh, juga tidak bersungut-sungut. Ia malah berdoa. Kesadaran ini menunjukkan bahwa Daud menerima dengan baik penolakan Allah terhadap gagasannya. Ini sekaligus merupakan pengakuan Daud bahwa otoritas tertinggi ada di tangan Allah.

    Sahabat, ada pepatah yang mengatakan: “Kerendahan hati adalah kekuatan singa yang diwujudkan dalam lembutnya burung dara”. Marilah kita selalu berusaha bersikap rendah hati, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama. Jauhkanlah diri kita dari sikap dan perilaku sombong yang selalu meninggikan diri sendiri di hadapan orang lain, terlebih di hadapan Tuhan. Tetaplah rendah hati dan berbuat yang terbaik dalam hidup ini dan bagi kehidupan ini.

    Ingatlah! Sahabat, sikap rendah hati harus mendasari dan mewarnai perilaku kita dalam hidup sehari-hari. Mari kembangkan rendah hati sebagai kepribadian. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong kita agar selalu bersikap rendah hati. (pg).

  • MENANTI-NANTIKAN TUHAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh ketekunan untuk menunggu Tuhan bertindak. Sahabat, dengan begitu banyak media komunikasi instan bermunculan dewasa ini, tanpa sadar kita terbentuk menjadi orang yang tidak sabar  dalam menantikan jawaban dari seseorang. Seorang kenalan saya mengirim WA kepada rekan sepelayanan,   tetapi ia kemudian menghubungi rekannya tersebut dengan telepon genggam karena merasa tidak sabar dalam menunggu jawabannya!

    Dalam perkembangannya, sikap tidak sabar bukan hanya sebatas hubungan manusia dengan sesamanya, tapi kadang menjalar juga kepada hubungan manusia dengan Tuhan.  Mereka merasa bahwa Allah telah mengecewakannya karena Dia tidak segera menjawab doanya. Seringkali sikap mereka menjadi, “Jawablah aku dengan segera, ya Tuhan, sudah habis semangatku! …” (Mazmur 143:7).

    Sahabat, dalam Alkitab, kata menanti  sering diarahkan lebih kepada sikap ketimbang sekadar kata kerja aktif. Menantikan Tuhan, itu artinya memercayai Dia sepenuhnya. Itu sebuah sikap yang kemunculannya akan sangat tergantung dari seberapa besar kita memercayai Tuhan dalam segala permasalahan yang kita hadapi. Daud berseru, “Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!” (Mazmur 27:14).

    Kita tahu Daud bukanlah orang yang sama sekali tidak pernah mengalami masalah. Justru sebaliknya, dia kerap berada dalam situasi yang sulit dan mencekam, bahkan tidak jarang nyawanya terancam. Tapi justru dari Daudlah kita menemukan seruan seperti tersebut di atas, sebagai gambaran sikap hatinya dalam menghadapi berbagai situasi sulit dalam perjalanan hidupnya.

    Sahabat, bagaimana Daud bisa memiliki sikap seperti itu? Jika kita membaca Mazmur 27  dari awal, maka kita akan mendapatkan dasar-dasar pemikiran Daud yang akan membuat kita mengerti mengapa dia bisa seperti itu. Awal Mazmur 27 dibuka dengan: “TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?” (ayat 1). 

    Seperti itulah Daud memandang Tuhan. Lewat pengalaman-pengalaman pribadinya sejak kecil,  dia tahu bahwa Tuhan selalu sanggup melepaskannya dari bahaya. Jika dulu bisa, mengapa sekarang tidak? Dalam situasi bahaya, Daud yakin sepenuhnya bahwa Tuhan akan menyembunyikan dan melindunginya (Mazmur 27: 5).

    Menantikan Tuhan itu artinya percaya sepenuhnya kepada-Nya, menyerahkan segenap hidup kita ke dalam tangan-Nya. Menantikan Tuhan juga membawa banyak kebaikan bagi kita. Bagi orang yang tekun menantikan Tuhan, Dia berjanji tidak akan mendapat malu,  “… Maka engkau akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, dan bahwa orang-orang yang menanti-nantikan Aku tidak akan mendapat malu.” (Yesaya 49:23). Orang yang menantikan Tuhan juga dikatakan akan mendapatkan kekuatan baru (Yesaya 40:31), bahkan  akan mewarisi negeri (Mazmur 37:9).

    Ingatlah! Sahabat, menantikan Tuhan dapat mengubah kita menjadi seseorang yang bertumbuh dalam iman. Daud tumbuh menjadi seorang yang berkenan di hati Allah dengan jalan menantikan Tuhan (Kisah Para Rasul 13:22; 1 Samuel 13:14). Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong kita agar tekun dalam menantikan pertolongan-Nya. (pg)

  • Penglihatan TULANG-TULANG KERING (2)

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar?  Salam sehat penuh syukur karena kita dapat menjalani hidup dengan hati yang gembira dan semangat yang menyala. Sahabat, Yehezkiel hidup pada zaman dimana orang dapat menemukan lembah-lembah yang berisi tulang. Pada zaman itu, ketika satu pasukan tentara dikalahkan, para prajurit yang menang dalam peperangan akan menjarah barang-barang berharga dari korban yang tewas dan meninggalkan jenazah musuhnya tanpa dikuburkan. Karena itu di tempat-tempat bekas medan pertempuran, kerangka atau tulang-tulang manusia masih tetap berada disana sampai bertahun-tahun lamanya.

    Sahabat, mari kita belajar dari penglihatan Yehezkiel (Yehezkiel 37:1-14)

    Jika kita merasa seperti sedang berada di lembah tulang kering dan kita berharap dapat mengalami pemulihan, ada empat hal yang harus kita lakukan:

    Pertama, akui situasinya. Tuhan ingin Yehezkiel tahu bahwa tulang-tulang itu betul-betul mati. Tuhan ingin agar Yehezkiel menyadari bahwa masalahnya terlalu besar untuk dapat diatasinya sendiri (Ayat 1 dan 2). Masalahnya, ada cukup banyak orang yang meskipun  mendapati dirinya berada di lembah tulang kering, mereka enggan untuk mengakuinya. Namun mereka tidak akan dapat mengatasi masalah jika tidak mengakui dan menghadapinya. Jangan melarikan diri dari masalah yang ada.

    Sahabat, Yehezkiel percaya bahwa bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Jika Tuhan menghendakinya, Ia dapat memberi kehidupan (Ayat 3). Hal ini juga harus menjadi keyakinan dari setiap orang percaya, bahwa kita menyembah Tuhan Yang Mahakuasa,

    Kedua, perkatakan firman Tuhan. Ayat 4 -6 menunjukkan suatu kebenaran kepada kita, bahwa Tuhan memakai manusia untuk memberikan hidup baru kepada tulang-tulang kering. Tuhan dapat menghidupkan tulang-tulang kering tanpa bantuan manusia. Tetapi pada kenyataannya, Tuhan memakai kita. Itulah sebabnya ada kegairahan yang besar untuk menjadi saksi Kristus. Untuk memberitakan Kabar Baik.

    Ketiga, berdoa untuk pengurapan Roh Kudus. Pada ayat 7-8, semua organ tubuh sudah berada di tempatnya. Tulang, otot, kulit, dan anggota tubuh yang lain sudah berada dalam posisinya yang benar, namun masih belum ada kehidupan. Setiap prajurit di lembah itu adalah seperti  jenazah karena mereka belum bernafas. Sekarang Yehezkiel bukan lagi dikelilingi oleh ribuan tulang lepas, tapi ia dikelilingi oleh balatentara yang  belum bernafas. Maka pada ayat 9, Yehezkiel diminta untuk bernubuat kepada nafas hidup agar masuk ke dalam tubuh bala tentara yang masih mati, karena hanya Roh Kudus yang memiliki kuasa kebangkitan (Zakharia 4:6)

    Keempat, alami kuasa kebangkitan (ayat 10-14). Sahabat,  Tuhan memberi kehidupan kepada orang-orang yang sudah mati di lembah tersebut, dan mereka menjadi balatentara yang hidup. Tulang-tulang kering itu menggambarkan keadaan yang sedang dihadapi oleh orang-orang percaya saat ini. Mungkin ada pembaca yang sedang berada  di lembah: Kesehatan yang kering;  di lembah keuangan yang kering; di lembah masalah keluarga yang kering, atau masalah-masalah lain yang kering.   Tidak perlu ragu-ragu, tulang-tulang kering yang menggambarkan berbagai persoalan kita,  dapat hidup kembali. Walaupun situasi keputus-asaan yang Sahabat alami demikian parah, Tuhan dapat memulihkan hidupmu melalui Firman dan Roh Kudus-Nya.

    Ingatlah! Sahabat, penglihatan Yehezkiel tentang lembah tulang-tulang kering adalah sebuah penglihatan tentang pengharapan. Penglihatan tersebut adalah suatu pesan yang mengagumkan bahwa Firman dan Roh Tuhan dapat menghidupkan kembali situasi  bagaimana pun. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk memulihkan permasalahan yang sudah kering. (pg)

  • Penglihatan TULANG-TULANG KERING (1)

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena Allah Bapa telah memulihkan hubungan-Nya dengan kita melalui kematian dan kebangkitan Anak-Nya. Sahabat, di usia saya yang sudah lebih dari 60 tahun, saat ini saya diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk  mendampingi beberapa orang sahabat atau keluarga sahabat yang sedang menjalani masa pemulihan kesehatannya. Dalam masa pandemi Covid – 19, saya juga mendampingi beberapa sahabat yang saat ini sedang berjuang untuk memulihkan usaha dan keuangan keluarga.

    Maka saat ini saya mengajak Sahabat untuk menggali berkat dari Yehezkiel 37:1-14 di bawah judul: “Kebangkitan Israel.”

    Sahabat, Tuhan berbicara kepada Nabi Yehezkiel melalui mimpi-mimpi dan penglihatan. Selama 22 tahun pelayanan Yehezkiel, kita menemukan sedikitnya enam penglihatan yang diperolehnya dari Tuhan. Penglihatan Yehezkiel yang paling dikenal diantara kita yaitu penglihatan tentang suatu lembah yang penuh dengan tulang-tulang kering.

    Tulang-tulang kering adalah gambaran dari bangsa Israel pada masa itu. Yehezkiel bersama dengan orang-orang Israel sedang berada dalam pembuangan. Suku-suku bangsa Israel sudah terpencar secara luas di antara bangsa-bangsa tetangga sehingga Israel tampak seperti suatu bangsa yang sudah hilang. Suku Yehuda, Benyamin dan Lewi baru saja ditaklukkan dan dibawa sebagai tawanan ke Babel. Kelihatannya identitas mereka sebagai bangsa sudah hilang untuk selama-lamanya. Orang-orang Israel merasa tidak akan pernah pulang kembali ke Tanah Perjanjian. Karena itu, salah satu tujuan Tuhan memberi penglihatan kepada Yehezkiel tentang tulang tulang kering adalah untuk membangkitkan kembali pengharapan mereka bahwa Tuhan pada suatu saat nanti akan membangkitkan mereka kembali sebagai suatu bangsa.

    Sahabat, penglihatan dari Tuhan kepada Yehezkiel diberikan untuk meyakinkan orang Israel yang terbuang bahwa mereka akan dipulihkan oleh Tuhan dan kembali ke tanah perjanjian lagi walaupun saat itu keadaan mereka sangat suram. Pemulihan dari Tuhan dalam pembacaan perikop ini menyangkut dua hal yaitu pemulihan jasmani, dimana umat Israel kembali ke tanah mereka dari pembuangan (ayat 7-8) dan pemulihan rohani kepada iman (ayat 9-10).

    Tulang-tulang kering juga menggambarkan Israel rohani yang sedang kering. Israel rohani dapat juga menggambarkan gereja masa kini, gereja sebagai suatu komunitas orang percaya. Nubuatan Yehezkiel bagi Israel rohani yang kering yaitu bahwa Tuhan dapat memulihkan keadaan rohani umat-Nya atau gereja-Nya. Tuhan dapat membangkitkan kita dan menjadikan kita sebagai balatentara yang perkasa untuk Kristus. Bala tentara untuk membawa Kabar Baik.

    Ingatlah! Sahabat, kalau Tuhan ingin memulihkan keadaan seseorang, maka Dia dapat melakukannya di manapun dan dalam keadaan separah bagaimana pun juga. Mintalah kepada Roh Kudus untuk menghidupkan kembali tulang-tulangmu yang sudah kering akibat semangat hidup yang patah. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk memulihkanmu. (pg)

  • Tuhan Meninggikan ORANG yang RENDAH

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan dengan semangat kita memuji Tuhan dari sekarang sampai selamanya. Sahabat, kalau kita belajar dari kehidupan presiden kita saat ini, bapak Joko Widodo atau lebih dikenal dengan nama Jokowi, sangat luar biasa. Beliau bukan seorang Ketua Partai, bukan pula seorang jenderal, juga bukan keturunan ningrat, tapi diangkat oleh Tuhan menjadi Presiden Republik Indonesia yang ke-7.

    Maka pada hari ini dengan penuh antusias saya mengajak Sahabat untuk menggali berkat dari Mazmur 113:1-9 di bawah judul: “Tuhan meninggikan orang rendah.”

    Sahabat, sangat menarik, perikop tersebut dibuka dengan ayat 1 dan 2 sebagai berikut, ”Haleluya! Pujilah, hai hamba-hamba TUHAN, pujilah nama TUHAN! Kiranya nama TUHAN dimasyurkan , sekarang ini dan selama-lamanya.” Nah, itu artinya jangan tunggu sampai hari esok untuk memuji nama Tuhan tetapi mulailah sekarang dan untuk selama-lamanya. Tuhan tidak ingin kita berhenti memuji dan memuliakan nama-Nya. Tuhan ingin kita meninggikan nama-Nya, bahkan dalam setiap waktu kita, “Dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari, terpujilah nama Tuhan” (ayat 3).

    Ayat berikutnya berbicara mengenai siapakah Tuhan itu? Coba kita simak ayat 4-6,  “TUHAN tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit. Siapakah seperti TUHAN, Allah kita yang diam di tempat tinggi, yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi?” Dari 3 ayat tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa Tuhan adalah yang punya kuasa. Tuhan mengatasi segala bangsa dan Kemuliaan-Nya mengatasi langit.

    Sahabat, pemazmur mengajak orang percaya untuk memuliakan Tuhan karena tidak ada allah lain seperti Allah Israel (ayat 5). Sebab langit adalah takhta Allah dan bumi adalah tumpuan kaki-Nya (ayat 4 dan Yesaya 66:1). Di sisi lain, Allah yang Mahatinggi juga adalah Allah yang peduli dengan ciptaan-Nya. Allah tidak duduk diam di surga tanpa berbuat apa pun. Sebaliknya, Ia dengan saksama mengamati, menyelidiki, mengatur, dan mencukupi kebutuhan ciptaan-Nya (ayat 6 dan Matius 6:25-32).

    Selain itu, Allah mengangkat derajat dan martabat umat-Nya di mata bangsa-bangsa. Ia tidak membiarkan umat-Nya dipandang sebelah mata oleh para musuh mereka (ayat 7 dan 8). Ia mendudukan umat-Nya setara dengan bangsa-bangsa lain. Salah satu contohnya dapat ditemukan dari kisah Daud, Ester, Daniel, dan sebagainya. Bahkan untuk perempuan yang mandul pun diperhatikan oleh Allah. Ia mengembalikan kehormatan orang-orang yang dikasihi-Nya di hadapan sesamanya (9). Kebesaran Allah dapat terlihat pada kisah Sara dan Hana.

    Sahabat, dalam kisah-kisah di Alkitab, ada cukup banyak orang yang mungkin dipandang sebelah mata namun dipilih Allah untuk melakukan pelayanan besar. Misalnya Gideon, ia dipanggil sewaktu sedang mengirik gandum. Saul dipanggil saat sedang mencari keledai-keledai betina ayahnya yang hilang. Daud dipanggil saat sedang menggembalakan domba. Para rasul dipanggil saat mereka sedang menjala ikan. 

    Ingatlah! Sahabat. bukan tidak mungkin orang-orang yang dipandang bodoh dan lemah bagi dunia, dipilih dan dipakai Allah untuk melakukan perkara besar. Allah sanggup mengangkat mereka yang dianggap tidak memiliki keahlian untuk kemudian menempatkan mereka di tempat yang paling terhormat. Itulah cara yang kadang dipakai Allah untuk mengagungkan hikmat, kuasa dan kedaulatan-Nya. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk mengangkat anak-anak-Nya. (pg)

  • Tempat PERTEDUHAN yang AMAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena Tuhan berkenan menjadi tempat perteduhan kita yang nyaman. Sahabat, pada musim hujan seperti saat ini, kadang kalau saya sedang mengendarai motor, tiba-tiba turun hujan, maka saya cepat-cepat cari tempat perteduhan yang cukup aman, biasanya saya cari emper toko yang cukup lebar atau halte bis kota. Tentu saya berusaha mendapatkan emper atau halte bis kota yang tidak bocor. Memang saya masih bisa melihat tetesan hujan yang turun dari langit. Saya masih bisa merasakan tiupan angin, dan kadang saya dapat melihat kilatan petir di langit dan suara guruh yang menggelegar, tapi yang penting saya tidak basah kena air hujan. Saya dapat berteduh sejenak dengan aman.


    Sahabat, kehidupan kita di dunia bak satu perjalanan yang cukup jauh. Dalam perjalanan, tentu tidak selamanya lancar. Kadang kita menemui halangan, tantangan, kesulitan, dan bahaya. Demikian juga perjalanan hidup kita, badai kehidupan berupa: sakit penyakit, krisis keluarga, krisis keuangan, serta permasalahan lainnya bisa tiba-tiba datang menerpa. Itulah sebabnya, kita membutuhkan tempat perteduhan.

    Untuk itu saya mengajak Sahabat untuk menggali berkat dari Mazmur 91:1-16 di bawah judul: “Dalam lindungan Allah.”

    Sahabat, sesungguhnya, kepada siapakah janji-janji Tuhan dalam perikop tersebut dialamatkan?  Janji-janji Tuhan disampaikan kepada orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan yang Mahakuasa (ayat 1).  Tempat perlindungan dan kubu pertahanan kita adalah Allah yang kita percayai (ayat 2). Kita harus tinggal dalam Kristus dan di dalam firman-Nya (Yohanes 15:7). 

    Selama kita masih hidup di dunia, kita tetap akan diperhadapkan pada berbagai ancaman kehidupan. Bedanya, ketika kita menjadikan Tuhan sebagai tempat perteduhan, kita tidak lagi merasa takut sebab semua itu tidak akan menimpa kita (ayat 5-7). Perlindungan Tuhan itu kuat bagaikan perisai dan pagar tembok. Akan ada rasa aman bagi setiap orang yang berada dalam naungan Tuhan sebab badai kehidupan tidak dapat menerobos masuk ke dalamnya (ayat 4, 9 dan 10).


    Sahabat, b
    ila kita tidak mau tinggal di dalam firman-Nya, kita akan menjumpai banyak kesulitan.  Ada cukup banyak orang percaya yang  mencoba-coba hidup di luar firman-Nya dan berpikir suatu saat kelak masih ada kesempatan kembali bertobat.  Tetapi, kadang masalah sudah datang terlebih dahulu sebelum kita sempat kembali dan tinggal dalam tempat perlindungan; maka bertanya-tanyalah kita mengapa itu terjadi, mengapa Tuhan izinkan, bukankah Tuhan berjanji akan melindungi di bawah kapak-Nya dan kesetiaan-Nya seperti perisai dan pagar tembok.

    Sekarang, marilah kita memeriksa diri apakah kita sudah tinggal di dalam Dia dan firman-Nya di dalam kita.  Bila kita tidak tinggal dalam daerah perlindungan-Nya,  ketika masalah terjadi secara bertubi-tubi menyerang kehidupan kita, itu bukan Tuhan yang ingkar janji. Apabila kita berjalan di jalur Tuhan dan melakukan kehendak-Nya, persoalan boleh saja datang, tetapi Tuhan pasti turut campur tangan dan membela kita.  Dia berkata, “Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya.”  (Ayat 15).  Untuk beroleh pemeliharaan dan perlindungan-Nya kita harus karib dengan Tuhan dan hidup dalam ketaatan!

    Ingatlah! Sahabat, di tengah badai yang menggelora, Tuhan menjadi tempat perteduhan yang aman bagi mereka yang berlindung pada-Nya. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk melindungi kita. (pg).

  • CARI dan PIKIRKANLAH PERKARA yang di ATAS

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena kita telah dimampukan oleh Tuhan untuk membuat skala prioritas. Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita bahwa setiap manusia mempunyai jumlah waktu yang sama, setiap hari 24 jam. Sedangkan kita mempunyai jadwal kegiatan harian  yang berbeda. Maka di dalam hidup ini kita perlu memiliki ketrampilan untuk menentukan skala prioritas dalam membagi perhatian, waktu, uang, tenaga, dan lain sebagainya.  Selain itu kita juga perlu punya komitmen untuk memprioritaskan hidup kita untuk siapa.

    Untuk itu mari kita belajar dari satu perikop yang saya ambil dari Injil Matius 6:25-34, dengan berfokus pada ayat 33, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” 

    Sahabat, kata carilah menunjuk kepada usaha yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh dan secara terus-menerus sampai mendapatkan sesuatu.  Artinya, kita harus menempatkan Tuhan Yesus sebagai yang terutama dalam hidup ini;  mengejar perkara-perkara rohani lebih daripada perkara-perkara yang ada di dunia.  Rasul Paulus  menasihati,  “… carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi”  (Kolose 3:1-2). 

    Lalu apa yang pertama yang harus kita cari di dalam hidup? Yang pertama dan terutama kita mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya.  Apa itu Kerajaan Allah dan kebenarannya?  Kita harus mencari hal-hal yang berkaitan dengan Allah sebagai prioritas di atas hal-hal yang di bumi. Kita harus mencari keselamatan yang disyaratkan Kerajaan Allah karena jauh lebih berharga daripada kekayaan duniawi. Selanjutnya kita perlu hidup taat kepada Tuhan dan membagikan kabar baik mengenai Kerajaan Allah  kepada orang lain.

    Sahabat, namun dalam kenyataannya, manusia lebih mengutamakan mencari harta, makanan, minuman dan pakaian seperti yang disebutkan pada ayat 25, daripada mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya terlebih dahulu (ayat 33). Perhatikan kalimat pada ayat 25-b, “Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” Secara sederhana, kalimat di ayat 25-b ingin mengatakan bahwa mereka yang hidup dan memprioritaskan mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya, itu sudah pasti akan mendapatkan makanan, minuman dan pakaian.

    Selanjutnya, mari kita perhatikan pula kalimat “Pandanglah burung-burung di langit” pada ayat 26 dan kalimat “Perhatikanlah bunga bakung di ladang” pada ayat 28. Kedua kalimat di atas ingin mengatakan, bahwa jika burung-burung  dan bunga bakung saja Tuhan pelihara, apalagi setiap orang yang memberi prioritas kepada  Kerajaan Allah dan kebenarannya (ayat 30).

    Ingatlah! Sahabat, Tuhan menghimbau kita sebagai orang percaya agar dalam hidup mengutamakan Tuhan lebih daripada yang lain. Menjadikan Tuhan prioritas utama dalam semua aspek hidup kita. Sahabat, coba simak, dalam doa Bapa kami, kalimat datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu ditempatkan lebih dahulu daripada berikanlah kami pada hari ini  makanan kami yang secukupnya. Kita tidak perlu bimbang dan ragu, janji Tuhan itu ya dan amin, kalau kita mendahulukan mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya (apa saja yang kita butuhkan untuk hidup) akan ditambahkan Tuhan kepada kita. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk dapat mencukupkan kebutuhan kita. (pg)