Category: Karib Dengan Tuhan

  • Terbit FAJAR KEMENANGAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh pengharapan dan keyakinan, karena Yesus hidup, maka tiada yang mustahil bagi-Nya. Sahabat, di Jakarta ada beberapa gedung gereja yang di atas gedungnya diberi patung ayam jago. Yang paling terkenal yaitu gedung GPIB Paulus atau lebih dikenal dengan nama “Gereja Ayam” Menteng. Mengapa dipasang patung ayam jago? Setiap hari, sebelum manusia dan hewan lain bangun, ayam jagolah yang bangun terlebih dahulu, lalu berkokok, membangunkan semua makhluk. Ayam jago adalah lambang bangunnya kehidupan ciptaan.

    Sahabat, ayam jago adalah lambang menyingsingnya fajar. Coba kita perhatikan, apa yang ditulis oleh Matius di awal kisah Paskahnya, “Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu.” (Matius 28:1)

    Menarik ya, ternyata ayam jago menjadi simbol yang penuh dengan makna. Sahabat, untuk mengupas tentang fajar kemenangan, saya ajak Sahabat menggali berkat dari 1 Tawarikh 5:18-22.

    Kalau kita amati, dunia ini sangat dikendalikan oleh hukum kekuatan. Siapa yang kuat, ia akan berada di atas, berkuasa, dan menang. Dalam keseharian hidup hubungan antarmanusia ditentukan oleh hukum tersebut. Mulai dari hubungan dalam keluarga sampai ke hubungan bisnis dan urusan politik. Yang kuat terus menekan, supaya  kemauannya dituruti. Tidak heran, hidup ini sering terasa sebagai medan pertempuran. Kita harus menghadapi orang yang menekan kita agar kita mengikuti kemauannya. Jika kebetulan kita adalah pihak yang lemah, sungguh tidak mudah menghadapi situasi seperti itu.

    Sahabat, kitab Tawarikh banyak bercerita tentang beragam pertempuran, terutama yang tidak berimbang. Pertempuran antara yang besar, kuat, atau banyak, melawan yang kecil, lemah, dan sedikit. Sebenarnya, menurut hukum kekuatan, pemenangnya mudah ditebak. Tetapi penulis kitab Tawarikh memberi catatan yang sangat kuat bahwa semua pertempuran adalah milik Allah. Perangnya Tuhan. Kemenangan akan dialami oleh pihak yang kepadanya Allah berkenan membela. Tak masalah jumlah mereka sedikit atau kecil dan musuh lebih kuat, “… sebab pertempuran itu adalah dari pada Allah. …” (ayat 22).

    Sungguh tidak enak apabila kita sedang mengalami tekanan. Namun anggaplah situasi tertekan sebagai panggilan untuk berseru kepada Tuhan-seperti yang dilakukan oleh pasukan bani Ruben, Gad dan setengah suku Manasye (ayat 18). Tuhan punya seribu satu cara untuk membantu orang-orang tertekan yang mencari pertolongan dari-Nya. Jangan meremehkan peran doa dalam hidup kita. Fajar kemenangan sering kali terbit setelah malam kesesakan yang dibaluri seruan  doa.    

    Sahabat, Tuhan Yesus sebelum menikmati kemenangan di fajar Paskah, terlebih dahulu di taman Getsemani Dia harus bergumul dalam doa sampai peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.

    Ingatlah! Sahabat, setiap kesesakan akibat tekanan hidup adalah panggilan untuk berseru kepada Allah, ”Mereka mendapat bantuan melawan orang-orang itu, sehingga orang Hagri itu dengan semua orang yang mengikutinya menyerahkan diri ke dalam tangan mereka, sebab mereka telah berseru kepada Allah dalam pertempuran itu. Maka Ia mengabulkan permintaan mereka, sebab mereka percaya kepada-Nya.” (ayat 20). Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Yesus sudah bangkit. Ia adalah Tuhan yang hidup. Selamat Paskah. (pg)

  • Memerhatikan KESEJAHTERAAN ORANGTUA

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena kita mempunyai Tuhan yang mengajarkan agar kita peduli dan bertanggung jawab dengan keluarga kita. Sahabat, betapa senangnya kalau kita diberi kepercayaan. Betapa senangnya kalau kita menjadi orang kepercayaan. Apalagi kalau yang memberi kepercayaan itu Tuhan Yesus. Kepercayaan adalah kemauan seseorang bertumpu pada orang lain dimana orang tersebut memiliki keyakinan kepadanya. Kepercayaan adalah salah satu bekal kehidupan yang amat penting untuk kita jaga. Karena tanpa adanya kepercayaan, maka hidup ini terasa penuh dengan kecurigaan dan kebohongan.

    Sahabat, perkataan ketiga Tuhan Yesus di atas kayu salib yang terdapat di Injil Yohanes 19:26-27 memperlihatkan sisi kemanusiaan-Nya, “Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: ‘Ibu, inilah, anakmu!’ Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: ‘Inilah ibumu!’ Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.”

    Sahabat, Yesus mengasihi ibunya dan peduli padanya. Maria sangat kehilangan diri- Nya, Anak yang dikasihinya. Dengan kasih Ia memberikan Yohanes untuk menggantikan-Nya. Yohanes memang murid-Nya yang paling muda, tetapi dialah murid yang paling bertanggung jawab dan paling penuh cinta kasih.  Yohanes diberi tanggung jawab untuk menggantikan diri-Nya menjaga, memelihara, dan merawat Maria.

    Dalam bahasa aslinya, sebenarnya Yesus berkata, “Wanita, inilah anakmu!”  Dengan sebutan itu, Ia tidak bermaksud kurang ajar atau meremehkannya. Maria sudah menjadi ibu bagi Yesus selama tiga puluh tiga tahun lebih. Kini sudah tiba waktunya ia berhenti menjadi  ibu bagi-Nya. Kini ia menjadi wanita, seorang wanita istimewa, yang mendapatkan kasih dan anugrah-Nya.

    Sahabat, perubahan itu berhubungan dengan misi-Nya yang akan segera Ia selesaikan. Ia akan mati untuk menyelamatkan manusia yang berdosa, kemudian bangkit pada hari yang ketiga dan naik ke surga.  Kepada-Nya segala lutut akan bertelut dan semua lidah mengaku, bahwa Yesus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Bapa. Bagamana Maria dapat memuliakan dan menyembah-Nya sebagai Tuhan, jika ia masih menganggap-Nya sebagai “anak”?

    Itu sebabnya, relasi itu harus diubah.  Yesus bukan lagi “anaknya”, melainkan “Tuhan dan Juruselamatnya”. Maria segera memahami rencana keselamatan Allah dan percaya kepada-Nya sebagai Juruselamat, tetapi adik-adik-Nya belum menerima Dia sebagai Juruselamat (Yohanes 7:5)   Saudara-saudara-Nya butuh waktu yang lama untuk bisa percaya kepada-Nya. Karena alasan teologis ini juga Ia menyerahkan ibu-Nya kepada Yohanes.

    Kasih dan kepedulian Yesus kepada ibu-Nya yang diimbangi dengan kesetiaan menjalankan misi Allah sungguh mengharukan. Biarlah teladan Yesus mendorong kita untuk lebih mengasihi orangtua dan keluarga kita, sambil tetap menjalankan misi Allah di dunia ini.

    Ingatlah! Sahabat, dalam penderitaan menjelang kematian, Yesus memerhatikan kesejahteraan ibu-Nya. Ia menugaskan Yohanes untuk menjaga, memelihara, dan merawatnya. Membantu keluarga yang membutuhkan pertolongan merupakan tugas kita sampai menutup mata. Luar biasa, di atas kayu salib Yesus mengajarkan: Tanggung jawab anak terhadap orangtua yang memerlukan bantuan mereka. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan senantiasa mengingatkan kita agar menghormati orangtua kita. Selamat Paskah. (pg)

  • KEHIDUPAN BARU YANG BERKEMENANGAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh semangat karena Tuhan Yesus sudah mengalahkan maut. Sahabat, orang percaya patut bersyukur dan bersukacita karena kita punya Tuhan yang hidup dan berkuasa!  Saat ini kita memperingati kebangkitan Kristus dari kematian.   Kebangkitan Kristus merupakan kemenangan iman orang percaya (1 Korintus 15:3-4).  Ini merupakan penegasan kebenaran ajaran Kristus.  Pernyataan-Nya tentang kematian dan kebangkitan-Nya benar-benar telah digenapi  (Matius 16:21).

    Kebangkitan Kristus seharusnya menjadi titik balik bagi kehidupan orang percaya, sebab kebangkitan-Nya berarti kemenangan terhadap masalah terbesar yang dihadapi oleh manusia yaitu dosa,  “ … ‘Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?’ Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.”  (1 Korintus 15:54-57). 

    Jika masalah terbesar manusia saja sudah diselesaikan-Nya, alangkah mudahnya masalah kehidupan kita sehari-hari.  Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita, sehingga kita menjadi  lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.  (Matius 8:17,  Roma 8:37).

    Sahabat, ada cukup banyak orang percaya yang tidak merespons berita kebangkitan Kristus:  bersikap dingin, biasa-biasa saja dan tidak antusias sedikit pun.  Mereka menganggap bahwa peringatan kebangkitan Yesus Kristus tidak lebih dari sekadar tradisi tahunan orang percaya. 

    Sikap kurang antusias juga ditunjukkan oleh murid-murid Yesus sendiri, bahkan dua orang dari antara mereka ada yang memilih untuk meninggalkan Yerusalem menuju Emaus yang berjark 7 mil jauhnya,  “Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem,”  (Lukas 24:13)

    Sahabat, kata Yerusalem yang berarti kota sejahtera, justru mereka tinggalkan dengan perasaan yang teramat kecewa dan pedih hati karena peristiwa penyaliban dan kematian Sang Guru yang mereka harapkan dapat membawa pemulihan bagi Israel dan tampil sebagai Raja yang dapat membebaskan mereka dari penjajahan pemerintahan Romawi pada waktu itu, namun yang terjadi justru sebaliknya, mereka melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Yesus harus mengalami aniaya, dipermalukan dan mati tergantung di kayu salib, serta menjadi tontonan banyak orang.  Itulah sebabnya mereka tidak bisa menerima kenyataan dan menjadi kecewa.

    Tuhan Yesus menegaskan bahwa jika biji gandum tidak mati, maka ia tetap satu biji saja, namun jika ia mati ia akan menghasilkan banyak buah (Yohanes 12:24) Itulah yang Yesus Kristus kerjakan di kayu salib, Dia mati agar kehidupan baru yang berkemenangan dapat dinikmati oleh setiap orang percaya!

    Ingatlah! Sahabat, pengharapan hidup kita sebagai pengikut Kristus  bergantung mutlak kepada kebangkitan Kristus.  Hal itulah yang membuat rasul Paulus tetap memiliki roh yang menyala-nyala dalam memberitakan Injil, sekalipun harus diperhadapkan dengan ujian dan tantangan yang tidak ringan. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Karena Tuhan Yesus sudah bangkit, tidak ada perkara yang mustahil bagi orang percaya! Selamat Paskah. (pg)

  • SUDAH SELESAI!

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh harap karena Yesus sudah mengalahkan maut. Sahabat, kita tahu bahwa kata-kata terakhir dari seseorang sebelum dia menghembuskan nafas yang terakhir adalah kata-kata terpenting dalam kehidupan orang tersebut. Biasanya dianggap sebagai wasiat. Lazimnya, segenap  anggota keluarga dikumpulkan untuk mendengarkan pesan terakhir dari orang yang akan meninggal dunia. Dua kata “SUDAH SELESAI” merupakan dua kata terakhir yang YESUS ucapkan sebelum Dia menyerahkan nyawa-Nya di atas kayu salib.

    Sahabat, kita bisa membaca peristiwa tersebut di Injil  Yohanes 19:30, Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.”

    Perkataan tersebut tidak terdapat di tiga kitab Injil lainnya (Matius, Markus, dan Lukas), karena pada saat  Yesus mengatakan perkataan tersebut, mereka tidak ada di sana, mereka melarikan diri ketakutan. Hanya Yohanes, satu-satunya murid Yesus, yang berada di tempat kejadian, menyaksikan sepenuhnya penderitaan yang dialami Yesus.

    Sahabat, perkataan “Sudah selesai”  ditulis dalam bahasa Yunani “tetelestai”, beberapa orang menulis “teleios”, atau dalam bahasa Ibrani “Kaw-Lah”. Artinya sudah selesai, sudah sempurna, semuanya sudah sesuai yang direncanakan, semua sudah sesuai dengan yang diinginkan, dan semuanya sudah diterima.

    Ada cukup banyak orang percaya yang berpendapat  bahwa Yesus hanya menyelesaikan sebagian atau sebagian besar apa yang diinginkan Bapa Surgawi. Tapi, bukan itu yang dikatakan oleh Yohanes. Dia menulis Yesus sudah menyelesaikan semua yang diinginkan dan direncanakan Bapa. Yesus menyelesaikannya dengan sempurna, tanpa kekurangan sesuatu apa pun.

    Sahabat, kemuliaan dan kemenangan Allah di dalam Yesus, bukan dinyatakan sesudah Yesus bangkit, tetapi sudah dinyatakan SEBELUM Yesus menghembuskan nafas yang terakhir. Jikalau Yesus mati di dalam kegagalan dan setelah itu baru ada cerita tentang kebangkitan, maka kita boleh ragu-ragu akan kebangkitan Yesus. Tetapi kebangkitan orang percaya dalam Yesus merupakan satu hal yang pasti terjadi, karena sebelum mati Yesus sudah mengatakan: “Sudah selesai!” Perkataan keenam ini merupakan perkataan yang amat bermakna dan berharga.

    Di dalam perkataan keenam tersimpanlah segala pengharapan orang percaya yang beriman kepada Yesus Kristus. Perkataan: “Sudah selesai” bukan berarti sudah hancur atau habisnya sesuatu, tetapi satu teriakan kemenangan. Bagaikan teriakan seorang pelari yang mencapai garis akhir dan memenangkan perlombaan. Sepanjang perlombaan yang menguras tenaga, menguras keringat, dan tentu sangat kecapaian, terbayar sudah setelah melewati garis batas akhir, hilanglah segala keletihan dan meluncurlah teriakan kemenangan!

    Ingatlah! Sahabat, Itulah kalimat teragung yang pernah diucapkan oleh manusia di sepanjang sejarah. Di dalam perkataan “Sudah selesai!”, air mata kita harus berhenti, beban kita harus diletakkan, sikap hidup yang pesimis harus berubah menjadi penuh dengan pengharapan, karena Yesus mengatakan perkataan tersebut di atas kayu salib. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. YESUS SUDAH MENANG sebelum Dia menghembuskan nafas yang terakhir di atas kayu salib. (pg)

  • CERITAKAN KARYA TUHAN dalam Kehidupan Kita

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena kita dapat berkomunikasi dengan keluarga kita dengan nyaman. Sahabat, tulis menulis merupakan bidang minat yang dikaruniakan Tuhan kepada saya. Saya paling senang kalau diberi kepercayaan untuk menulis biografi seseorang, apalagi kalau yang bersangkutan masih hidup dan dapat bercerita tentang perjalanan hidupnya dengan runtut. Saya benar-benar akan dapat menangkap “rohnya”.

    Orangtua biasanya senang sekali bercerita kepada anak-anaknya tentang pengalaman hidup mereka. Hidup mereka dulunya seperti apa. Bagaimana mereka meniti tahap demi tahap untuk menggapai mimpi-mimpinya. Jatuh bangun yang mereka alami. Tak jarang ada begitu banyak nasihat yang tersirat di dalamnya. Itu diungkapkan dengan harapan agar anak-anaknya makin bijaksana dalam menjalani hidup dan makin menjadi lebih baik.

    Sahabat, apa inti seluruh penyataan Allah di Perjanjian Lama? Allah yang berkarya di dalam dunia, dan secara khusus pada dan melalui umat-Nya, Israel. Mazmur-mazmur adalah respons umat Tuhan atas karya Allah dalam berbagai aspeknya.

    Untuk itu saya ajak  menggali berkat dari Mazmur 78:1-16,  merespons Allah yang bertindak dalam sejarah umat-Nya.

    Pemazmur mengajak pembacanya untuk mendengar dengan sungguh-sungguh dan belajar baik-baik dari sejarah nenek moyang mereka (ayat 1-4). Sejarah bukan semata-mata catatan aktivitas manusia, tetapi terutama tindakan dan karya Allah yang agung. Umat Israel, khususnya generasi mudanya belajar mengenal Allah, belajar dari nenek moyang mereka cara merespons Allah yang tepat.

    Sahabat, sejarah umat Tuhan memperlihatkan dua hal. Pertama, kesetiaan Allah yang menyertai, memberkati, dan memelihara umat-Nya. Allah setia terbukti dari Dia memberikan Taurat sebagai pedoman hidup umat (ayat 5-7). Tuhan sendiri menuntun umat-Nya dengan berbagai penyertaan-Nya (ayat 12-16). Kesetiaan Tuhan terbukti dari Zoan (ayat 12) sampai Sion (ayat 65). Zoan adalah nama tempat di Mesir. Sion adalah nama lain dari Yerusalem. Sejarah Israel adalah sejarah kasih setia dan penyertaan Tuhan mulai dari pembebasan dari perbudakan di Mesir sampai merdeka berdaulat sebagai bangsa di tanah Perjanjian.

    Kedua, yang patut disayangkan, ketidak-setiaan umat yang diwujudkan dengan ketidakpercayaan, pemberontakan, dan pengkhianatan (ayat 8-11).Ingatlah! Sahabat, suatu perbuatan yang diceritakan dapat mengilhami pendengar untuk semakin merubah cara hidupnya menjadi lebih baik di hari esok. Dalam kehidupan kita, janganlah lupa untuk menceritakan tentang setiap karya Tuhan. Banyak perbuatan Tuhan yang nyata dalam hidup kita, bukan? Ceritakan dan perkenalkan Tuhan pada sebanyak mungkin orang agar mereka makin bertumbuh dalam iman dan makin taat. Sungguh indah jika mereka akhirnya menjadi generasi yang memuliakan nama Tuhan karena terinspirasi dari cerita kita. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Yesus bangkit. Yesus hidup. Selamat Paskah. (pg)    

  • Ada Apa dengan MARIA?

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena Tuhan Yesus telah mengasihi kita tanpa syarat. Sahabat, hanya orang yang punya hubungan karib yang dapat memberikan bingkisan (hadiah) yang sedang sangat dibutuhkan oleh sahabatnya dan diberikan tepat pada waktunya. Bingkisan tersebut menjadi sangat bermakna, sangat membahagiakan, dan meninggalkan kesan yang mendalam sepanjang hidup. Untuk menggambarkan hal tersebut, saya menyadur dari Amsal 25:11, “Bingkisan yang dibutuhkan jika diberikan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.”

    Sahabat,  di Injil Yohanes ada kisah yang menarik. Maria memberikan  yang terbaik yang dia miliki kepada Yesus dan pada waktu yang tepat. Kisah tersebut dicatat di Yohanes 12:1-8.

    Pada hari itu, Tuhan Yesus mengajak para murid-Nya ke Betania sebelum perayaan Paskah. Yaitu ke tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan-Nya dari kematiannya, “Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati.” (ayat 1)

    Sahabat,  di tempat tinggal Lazarus, diadakan perjamuan makan untuk Yesus. Mungkin, jamuan makan yang diadakan merupakan ucapan syukur Marta dan saudara-saudaranya, karena Lazarus yang sudah mati dan dikuburkan selama empat hari kemudian dibangkitkan oleh Yesus (ayat 2). Mereka telah menikmati mukjizat yang luar biasa.

    Diceritakan, selanjutnya Maria, saudara perempuan Lazarus,  mengambil setengah kati minyak narwastu, lalu meminyaki kaki Tuhan Yesus dan menyekanya dengan rambutnya, bukan dengan tangannya (ayat 3).

    Minyak narwastu tersebut sangat mahal harganya, ditafsir oleh Yudas sekitar 300 dinar (ayat 5). Upah pekerja harian pada waktu itu satu hari sebesar satu dinar. Maka kalau dirupiahkan pada saat ini harga minyak tersebut sekitar Rp. 30 juta, dengan asumsi upah pekerja harian per hari Rp. 100 ribu. Betapa berharganya minyak tersebut bagi Maria.

    Sahabat, suatu demonstrasi kasih yang sangat spektakuler. Biasanya yang diminyaki itu kepala, tapi Maria meminyaki kaki Yesus. Bukan hanya itu saja, Maria menyeka dengan rambutnya. Bagian yang paling rendah dari Tuhan Yesus (kaki) diseka dengan bagian yang paling mulia dari Maria (rambut).

    Pada waktu itu, tidak lazim seorang perempuan baik-baik membiarkan rambutnya terurai di muka umum, di depan orang banyak. Tapi Maria rela menanggung risikonya demi meninggikan Yesus.

    Sahabat, semua itu dilakukan Maria ketika bayang-bayang cawan pahit yang harus direguk oleh Tuhan Yesus semakin mendekat, enam hari sebelum Paskah (ayat 1). Maka reaksi atau tanggapan Yesus sangat luar biasa, “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku.” (ayat 7) dan “Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia.” (Matius 26:13)Ingatlah! Sahabat, Yesus telah memberikan yang terbaik dari diri-Nya untuk menebus dosa kita. Lalu apa yang telah dan akan kita berikan kepada-Nya sebagai ungkapan syukur kita? Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Sebagaimana Maria telah memberikan yang terbaik bagi Tuhannya, semoga demikian juga dengan kita. Selamat Paskah. (pg)

  • DINAMIKA KEHIDUPAN: Indah Untuk Dipahami

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena kita dapat melewati perubahan demi perubahan dengan selamat karena pertolongan Tuhan. Sahabat, dalam kitab Pengkhotbah 3,  Raja Salomo yang terkenal karena kebijaksanaannya,  menulis bahwa segala sesuatu ada masanya, ada waktunya, dan kita tidak dapat menhindari atau menolak kenyataan ini. Ada waktu untuk bergembira, ada waktu untuk berduka. Ada saat kita sehat, tetapi ada saat kita sakit. Itulah bagian dari dinamika hidup.

    Sebagai orang percaya, memang kita yakin bahwa Tuhan berkuasa atas alam semesta. Apapun yang terjadi dalam hidup kita adalah  sepengetahuan-Nya. Tuhan adalah Tuhan yang Mahatahu. Tuhan juga Mahakuasa, yang sudah menetapkan hal-hal tertentu untuk terjadi pada saatnya. Walaupun demikian, manusia yang diciptakan-Nya di dunia, bukanlah seperti robot-robot yang hanya bisa melakukan sesuatu dengan perintah Tuhan. Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk mengambil keputusan dalam menanggapinya.


    Sahabat, kehidupan yang kita jalani penuh dinamika, untuk itu mari kita sejenak  berefleksi dari Mazmur 107:33-43. Pemazmur mengaitkan situasi tersebut dengan perubahan keadaan sungai yang pancaran airnya menjadi gersang (ayat 33); tanah yang subur menjadi padang asin dan tandus (ayat 34); padang gurun menjadi kolam air dan tanah yang kering menjadi pancaran air (ayat 35). Dalam situasi yang berubah-ubah manusia perlu memahami dengan benar keadaan yang ada sehingga tidak terpuruk pada saat hidup sedang sulit dan susah, dan sebaliknya tidak lupa diri pada saat hidup sedang ada di puncak.

    Jika sinar difokuskan pada satu titik, maka daerah itu yang paling terang. Kata fokus seringkali digunakan untuk menunjukkan titik pusat atau hal yang diutamakan. Dalam menghadapi kenyataan hidup, kita perlu memusatkan diri pada hal-hal yang positif agar kita dapat berpikir jernih dan bening.

    Sahabat, Pemazmur menyatakan pada saat kita mengalami kesusahan hidup, janganlah terpaku dan terjebak pada masalah yang ada. Ada baiknya kita mengevaluasi diri apakah respons kita pada kondisi saat itu memberikan dampak positif atau tidak (ayat 34). Sebaliknya, ketika hidup dalam kelimpahan (ayat 35-37) jangan melupakan Tuhan sebagai Pemberi berkat (ayat 38). Sikap hati seperti ini akan membawa kita pada kerendahan hati dan penyerahan diri kepada Allah.

    Saat seseorang memiliki sikap hati di atas, maka dalam hatinya akan timbul rasa aman dan percaya bahwa kehidupannya ada dalam rencana Allah (ayat 41). Sebab itu sukacita yang sejati akan terpancar dalam hatinya. Dalam keadaan susah dan senang, Allah berdaulat atas kehidupan kita (ayat 43).

    Ingatlah! Sahabat, bersyukurlah kepada Allah dan hadapi kenyataan yang ada. Selain itu, kita membutuhkan kemantapan hati bahwa bagaimanapun sulitnya persoalan kita, kehidupan tetap harus dihadapi dan dijalani. Kiranya semangat hidup kita tidak kendur atau mudah dipatahkan oleh masalah yang menimpa kita. Dinamika kehidupan amatlah indah untuk dipahami, seandainya kita tidak fokus pada kesusahan hidup belaka. Pusatkanlah hati kita pada hal-hal yang berkenan bagi-Nya, maka Allah akan mendatangkan kebaikan-Nya dalam hidup kita. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan Yesus hidup, maka ada hari esok. Selamat Paskah. (pg)

  • DOA DI WAKTU PAGI

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena Tuhan telah memberikan pagi yang baru kepada kita. Sahabat, pada waktu saya masih anak-anak, untuk membangunkan saya di pagi hari, mami sering berkata, “Ayo bangun! Jangan kesiangan! Kalau kamu malas dan bangunnya kesiangan nanti rezekimu akan dipatok ayam!” Kalau ingat ucapan tersebut, kadang saya tersenyum sendiri. Tapi saya bersyukur, saya menjadi terbiasa bangun pagi sampai saat ini.

    Sahabat, berdoa adalah hal terpenting dalam kehidupan dan pelayanan Tuhan Yesus!  Sebelum menyatakan diri-Nya dan menjalankan misi yang dipercayakan Bapa kepada-Nya, Tuhan Yesus terlebih dahulu menarik diri di padang gurun untuk berdoa dan berpuasa selama 40 hari 40 malam lamanya.  Karena Dia mempersiapkan diri melalui doa dan puasa, maka  Tuhan Yesus mampu mengalahkan segala tipu muslihat Iblis yang sejak awal ingin menggagalkan misi-Nya  (Matius 4:1-11).  Begitu juga selama pelayanan-Nya di dunia,  Alkitab mencatat bahwa Tuhan Yesus seringkali pergi menyendiri untuk berdoa.  Bahkan, hingga saat-saat terakhir hidup-Nya di kayu salib, Tuhan Yesus pun masih berdoa, bukti nyata bahwa Dia memprioritaskan doa.

    Dalam Injil Markus 1:35 dinyatakan,  “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.”  Yesus sebagai Tuhan,  tahu benar apa yang akan Dia lakukan di hari itu. Dia tahu apa yang bakal terjadi dalam hidup-Nya pada hari itu. Ternyata Dia bangun lebih awal dan langsung berkomunikasi dengan Bapa-Nya,  mohon bimbingan-Nya untuk melakukan misi-Nya dalam dunia ini. Kata “Marilah kita ke tempat lain” (Markus 1:38) adalah ungkapan Yesus setelah Dia berdoa. Itu berarti Allah Bapa yang membimbing dalam perjalanan hidup dan pelayanan Yesus.

    Sungguh, kehidupan Yesus di dunia ini dapat menjadi panutan bagi kita, orang-orang yang percaya kepada-Nya. Kita adalah makhluk yang lemah dan serba terbatas, yang tidak tahu apakah yang akan kita lakukan berdampak baik atau buruk dalam kehidupan. Kita juga tidak tahu apa yang akan terjadi dalam kehidupan kita selanjutnya. Karena itu, berkomunikasi dan berkoordinasi dengan Sang Pemilik Kehidupan merupakan keniscayaan.

    Sahabat, membangun persekutuan dengan Bapa, melibatkan Bapa dalam setiap kehendak dan rencana-Nya adalah kunci keberhasilan pelayanan Yesus.  Meski selalu menjadi incaran banyak orang yang memusuhi dan berusaha menjatuhkan-Nya, Dia mampu menguasai diri-Nya dan tetap tenang karena Dia selalu menempatkan doa sebagai hal yang utama,  “Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.”  (1 Petrus 4:7-b).  Selama 3,5 tahun pelayanan-Nya di bumi Yesus bukan hanya mengajar murid-murid-Nya secara teori tetapi juga secara praktis tentang pentingnya berdoa!

    Ingatlah! Sahabat, doa  di waktu pagi, sebelum melakukan segala aktivitas, merupakan tindakan strategis untuk merancangkan kegiatan yang hendak kita lakukan sepanjang hari itu. Doa di waktu pagi merupakan saat kita menata hati, waktu, pikiran, keuangan, dan tahapan yang akan kita lakukan. Jadi, begitu bangun tidur, bersyukur dan berdoalah! Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan Yesus hidup, maka Dia berkuasa untuk menyelamatkan hidup kita. Selamat Paskah. (pg)

  • KEPUASAN, KEAMANAN, dan KEYAKINAN (3)

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena masa depan sungguh ada dan harapan kita tidak akan hilang. Sahabat, ketika pandemi Covid-19 berkepanjangan, ada cukup banyak orang yang pesimis dengan masa depannya. Khususnya para milenial, mereka pesimis dengan masa depan pendidikannya. Kita perlu tetap yakin dengan janji Tuhan, bahwa Dia tetap berjalan bersama dengan kita melewati masa pandemi ini. 

    Sahabat, Mazmur 23:1-6 memberikan satu gambaran yang sangat indah dan sangat akrab antara Tuhan dan sang pemazmur, raja Daud. Tuhan sebagai gembalanya dan Daud menempatkan dirinya sebagai domba-Nya. Dari Mazmur 23 kita akan belajar 3 (tiga) hal  mengenai apa artinya memiliki hubungan dengan Tuhan sebagai gembala kita. Yang pertama, menikmati kepuasaan. Yang kedua, menikmati keamanan. Yang ketiga, menikmati keyakinan.

    Yang pertama dan kedua sudah saya kupas dalam dua hari berturut-turut, hari ini saya ajak untuk mengupas yang ketiga, menikmati keyakinan. Sahabat, pada ayat 5-6, Daud berkata, “Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.”

    Sahabat, di bagian akhir dari Mazmur 23,  Daud mengutarakan keyakinannya dengan penuh percaya diri  akan masa depannya bersama dengan Tuhan.

    Mengapa Daud bisa begitu yakin  akan masa depannya? Bukankah dia baru saja melewati lembah kekelaman?

    Perhatikan di ayat ke-6 Daud berkata bahwa kebajikan dan kemurahan belaka yang akan mengikutinya. Menarik sekali, karena di sini Daud tidak mengatakan bahwa  dia akan selalu mengikuti Tuhan, tetapi di ayat ke-6 Daud berkata bahwa kebajikan dan kemurahan Tuhanlah yang akan mengikutinya, yang akan mengejarnya.

    Sahabat, keyakinan Daud akan hari esoknya bukan ia dasarkan kepada kemampuan dia sendiri tetapi didasarkan kepada kemurahan Tuhan. Satu gambaran yang sangat indah sekali karena Daud bisa yakin bahwa masa depannya bukan ditopang oleh kemampuan dia sendiri, tetapi ditopang oleh Tuhan. Ini adalah suatu kelegaan. Sumber keyakinan kita akan masa depan di dalam Tuhan itu aman karena itu datang dari Tuhan. Dialah yang akan menuntun kita. Kebaikan dan kemurahan-Nya akan mengikuti kita sepanjang hidup.

    Ingatlah! Sahabat, tidak ada yang pasti di dalam kehidupan ini. Kesehatan bisa datang dan pergi kapan pun. Harta datang dan pergi dalam sekejap mata. Satu hal yang pasti sebagai anak-anak Tuhan, kita bisa yakin bahwa masa depan kita itu pasti di dalam Tuhan. Tuhan kita adalah Allah Pencipta langit, bumi dan segala isinya, tahu segala hal yang kita alami. Apa yang kita sedang rasakan saat ini, apa yang kita rasakan besok, apa yang akan terjadi di masa depan, Tuhan itu tahu. Apabila kita memiliki gembala seperti itu, kita bisa yakin sama seperti Daud, yakin masa depan itu sungguh ada. Kita bisa yakin setelah melewati lembah kekelaman, kita akan dibawa Tuhan ke padang yang berumput hijau dan air yang tenang. (pg).

  • KEPUASAN, KEAMANAN, dan KEYAKINAN (2)

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena kita mempunyai Tuhan, Sang Batu Karang yang teguh. Sahabat, keamanan merupakan salah satu kebutuhan dasar setiap manusia. Maka  ketika kita mencari rumah untuk tempat tinggal, salah satu faktor yang menjadi pertimbangan adalah masalah keamanan.

    Sahabat, Mazmur 23 memberikan satu gambaran yang sangat indah dan sangat akrab antara Tuhan dan sang pemazmur, raja Daud. Tuhan sebagai gembalanya dan Daud menempatkan dirinya sebagai domba-Nya. Dari Mazmur 23 kita akan belajar 3 (tiga) hal  mengenai apa artinya memiliki hubungan dengan Tuhan sebagai gembala kita. Yang pertama, menikmati kepuasaan. Yang kedua, menikmati keamanan. Yang ketiga, menikmati keyakinan.

    Yang pertama sudah saya kupas dalam renungan kemarin, hari ini akan saya ajak untuk mengupas yang kedua, menikmati keamanan. Sahabat, pada ayat 4, Daud berkata, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku;  gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.”

    Di ayat ke-4,  Daud menggambarkan bayang-bayang maut sebagai suatu lembah kekelaman. Berjalan di lembah di antara dua bukit yang tinggi, ketika sinar matahari tidak bisa masuk ke lembah itu, gelap sekali, di sinilah para perampok siap menunggu. Di sinilah para binatang liar menunggu untuk memangsa domba-dombanya. Sebagai seorang gembala, tidak jarang Daud harus membawa domba-dombanya melewati lembah-lembah seperti itu.

    Ketika Daud  menulis ayat ini, dia tidak asing dengan  perasaan berada di ambang kematian. Mengapa? Karena ia juga  seorang raja, ia hidup setiap harinya di bayang-bayang maut. Setiap kali dia maju ke medan peperangan, ia tahu bahwa ada kemungkinan dia kembali tinggal nama.

    Sahabat, ada sesuatu yang sangat menarik  di ayat 4, walaupun Daud menggambarkan hidupnya di dalam lembah kekelaman, tapi dia tidak takut. Seperti seorang anak kecil yang takut masuk ke lorong yang gelap, anak itu akan merasa aman apabila ayahnya menuntun tangannya. Seperti itu juga kita sebagai anak-anak Tuhan. Daud bisa merasa aman karena tangan Tuhan, gada dan tongkat Tuhan yang menuntun dia, yang memegang dia langkah demi langkah melewati lembah kekelaman. Kita bisa merasa aman karena kita memiliki Tuhan sebagai gembala kita.

    Apakah Sahabat merasa aman di dalam Tuhan? Saya tidak tahu masalah apa yang sedang Sahabat alami saat ini, mungkin masalah sakit yang tidak kunjung sembuh, mungkin masalah keluarga, bisnis, pekerjaan, studi, atau lainnya. Banyak hal yang dapat membuat kita takut, bimbang, dan ragu. Di masa pandemi Covid-19,  semua serba tidak menentu dan terbatas, rasa gelisah, takut.dan ragu  pasti ada.

    Ingatlah! Sahabat, ketika kita sedang melewati lembah kekelaman, Daud mengingatkan  kita bahwa kita memiliki Tuhan yang akan selalu beserta kita. Tuhan tidak berjanji untuk melenyapkan bahaya itu. Tuhan tidak berjanji untuk meniadakan lembah kekelaman. Tetapi  Tuhan berjanji  akan beserta dengan kita,  berjalan bersama kita untuk melewati lembah kekelaman. Perasaan aman ini datang karena kita memiliki gembala yang baik yang tidak akan meninggalkan domba-domba-Nya. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk membuat kita merasa aman. (pg)