Category: Karib Dengan Tuhan

  • ALLAH saja TEMPAT kita BERLINDUNG

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan tetap beriman kepada Yesus bagaimana pun kondisi kita. Sahabat, lebih gampang mana, percaya kepada Allah dalam kesuksesan atau kesukaran? Mungkin sebagian orang lebih mudah memercayai Allah saat dirinya sehat dan berkelimpahan.  Ada juga  orang  yang mengingkari imannya ketika mengalami kesulitan. Tapi tidak demikian dengan Daud, di tengah pergumulan dan kesulitan, ia masih bisa berharap dan percaya kepada Allah.

    Nyanyian merupakan salah satu bentuk ekspresi perasaan manusia. Orang yang bersedih biasanya menyanyikan lagu sedih, begitu pun sebaliknya. Agak janggal jika orang yang sedang bersedih menyanyikan lagu yang gembira. Bagaimana  dengan mazmur yang  ditulis pada saat penulis sedang menghadapi masalah.

    Sahabat, untuk itu mari kita mengupas Mazmur 57:1-12. Mazmur tersebut ditulis saat Daud bersembunyi dalam gua untuk menghindar dari kejaran Saul (ayat 1). Daud begitu terdesak hingga dengan sangat memohon belas kasihan dan perlindungan dari Allah (ayat 2).

    Kalau kita berada di posisi Daud mungkin kita akan semakin stres dan sulit untuk mengucap syukur.  Namun saat berada di dalam gua Adulam inilah Daud menumpahkan carut-marut perasaannya, karena itulah Daud terus membangun imannya dengan bermazmur dan menaikkan puji-pujian bagi Tuhan,  “Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermazmur. Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar!”  (ayat 8-9). 

    Sahabat, percaya kepada Allah sepenuh hati adalah modal utama Daud. Dalam perjalanan hidupnya, Daud pernah mengalami kondisi yang sangat sulit. Ada sekelompok orang yang berupaya menghancurkannya. Hal ini diungkapkan Daud dengan gambaran singa buas yang memiliki taring yang tajam seperti tombak dan panah serta lidah bagaikan pedang (ayat 5).

    Kesukaran yang dialami Daud hampir saja membuat imannya goyah. Di tengah tekanan para musuhnya,  ia memilih mengarahkan hati dan jiwanya kepada Allah dan memohon belas kasihan-Nya (ayat 2). Ia percaya bahwa Allah akan mengirim pertolongan dan menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapinya (ayat 3).

    Sahabat, dalam keyakinannya, Allah hadir dan menjawab permohonannya. Allah yang perkasa membalikkan keadaan sehingga jerat yang dipasang para musuhnya menjadi senjata makan tuan (ayat 7). Itu sebabnya Daud merasa aman dan dapat tidur lelap walau dirinya dikelilingi siasat keji dari para musuhnya (ayat 5). Karena itulah, perlindungan Allah dilukiskan Daud bagaikan sayap burung yang menopang hidupnya (ayat 2).
    Lewat pertolongan-Nya, ia menemukan kasih setia dan kebenaran Allah (ayat 4). Tidak heran apabila Daud bernyanyi, bersyukur, dan bermazmur bagi Allah (ayat 8-10). Dengan cara itu, ia mengumandangkan kemasyhuran, kemuliaan, kasih setia, dan kebenaran Allah yang melampaui kekuasaan yang ada di muka bumi (ayat 6 dan 11).

    Ingatlah! Sahabat, Allah yang kita kenal dalam Kristus bukan hanya Allah yang peduli, tetapi juga senantiasa bersama dengan kita. Semua kesukaran hidup yang kita alami tidak lebih besar daripada kasih setia-Nya. Arahkanlah hatimu kepada-Nya, maka Ia akan menolongmu. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Biarlah kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi! (pg)

  • Carilah TUHAN dan Kekuatan-Nya

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat. Semoga kita semakin punya kerinduan untuk mencari Tuhan dan kekuatan-Nya. Sahabat, jika sampai saat ini kita masih mampu menjalani dan menikmati hari demi hari, serta  kita masih dapat bernafas dan menghirup udara segar, itu semata-mata hanya karena anugerah Tuhan.

    Ketika kita menyadari betapa besar kasih Tuhan dalam hidup ini seharusnya kita semakin terdorong untuk mendekat kepada-Nya dan membangkitkan kerinduan kita untuk mengenal Dia lebih dalam lagi.  Tuhan berkata,  “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.”  (Hosea 6:6).

    Sahabat, mencari Tuhan dan wajah-Nya adalah perintah Tuhan bagi Umat-Nya agar memiliki pengenalan akan Dia lebih dekat dan semakin karib. Tuhan tidak ingin kita hanya mengejar berkat dan mukjizat-Nya saja, tetapi kita harus mengejar Sang Pemberi berkat dan mukjizat itu sehingga dengan sendirinya berkat dan mukjizat Tuhan justru akan mengejar kita.

    Selain itu Tuhan tidak ingin kita hanya mengejar karunia dan urapan-Nya, tetapi kita harus memiliki kehausan untuk mengejar kuasa Roh Kudus yang memberi karunia dan urapan itu, “Jika engkau mencari Dia, maka Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi jika engkau meninggalkan Dia maka Ia akan membuang engkau untuk selamanya” (1 Tawarikh 28:9-b).

    Sahabat, Tuhan menyediakan berkat bagi orang yang mencari Dia dengan sungguh seperti kata penulis Amsal, “Orang yang jahat tidak mengerti keadilan, tetapi orang yang mencari Tuhan mengerti segala sesuatu” (Amsal 28:5). Daud pun bersaksi,  “… orang-orang yang mencari Tuhan, tidak kekurangan sesuatu pun yang baik” (Mazmur 34:11-b).

    Maka tidak ada jalan lain selain kita harus meningkatkan keintiman dengan Tuhan melalui doa-doa kita.  Doa yang disertai dengan usaha keras dan rasa lapar menjangkau hadirat Tuhan dan tenggelam masuk ke sungai-Nya.

    Raja Daud menyadari benar betapa pentingnya memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan, tinggal dekat Tuhan.  Karena itu ia berkata,  “Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik.”  (Mazmur 84:11). 

    Sahabat, saat berada di rumah Tuhan Daud mengalami lawatan Tuhan.  Lawatan Tuhan selalu disertai dengan kebaikan dan kemurahan-Nya.  Karena itu Daud mempunyai kerinduan yang kuat untuk bersaksi dan menceritakan kasih, kemurahan, dan perbuatan-perbuatan Tuhan kepada orang lain.  “Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib! Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN!”  (1 Tawarikh 16:8-10).

    Ingatlah! Sahabat, Raja Daud memberi nasihat yang sangat berharga bagi kita untuk mencari Tuhan selalu. Jika saat ini kita sedang dalam pergumulan, mulailah mencari Tuhan. Jika saat ini kita sedang mengalami semua yang baik dalam hidup, carilah Tuhan. Jika kita sedang susah carilah Tuhan, jika kita sedang senang carilah Tuhan. Sekali lagi Firman Tuhan menasihati kita, “Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu” (Mazmur 105:4). Karena itu, janganlah jemu-jemu mencari Tuhan dan wajah-Nya dalam hidup kita sehari-hari. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. (pg)

  • JAGALAH PERKATAANMU

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan perkataan kita penuh dengan kasih dan tidak hambar. Sahabat, pepatah lama berkata, “Mulut kamu harimau kamu” yang artinya keselamatan dan harga diri kita tergantung pada perkataan kita sendiri. Ternyata sangat besar peranan perkataan dalam kehidupan. Kalau perkataan kita dapat dipegang, maka kita akan menjadi orang yang dapat dipercaya.

    Wouw! Kekuatan dari perkataan ternyata sangat luar biasa, karena itu kita perlu berhati-hati dengan ucapan kita.   Apalagi kita sebagai anak-anak Tuhan harus bisa menjadi kesaksian dalam perkataan kita,  “… Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (1 Timotius 4:12-b).

    Sahabat, menjaga sikap, tingkah laku dan perbuatan itu memang perlu dan baik. Namun jangan lupa bahwa ada bahaya yang mengancam lewat mulut yang tidak terjaga. Kita diingatkan untuk terus menjaga hati, karena yang diucapkan mulut meluap dari hati (Matius 12:34). Selain itu, ingatlah pesan penting dari Yakobus, “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;” (Yakobus 1:19).

    Tuhan Yesus sendiri mengingatkan kita mengenai pentingnya menjaga perkataan, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.” (Matius 12:36-37).

    Jangan sampai ketika kita menghadapi penghakiman, kita akan diperhadapkan pada daftar panjang perkataan sia-sia yang pernah kita ucapkan selama kita hidup. Seringkali kita mati-matian menjaga sikap, perbuatan dan tingkahlaku kita, namun mengabaikan soal mengeluarkan ucapan. Tidak berhati-hati dalam bercanda, kurang waspada dalam berbicara. Semua itu nanti harus kita pertanggungjawabkan. Apakah kita mempergunakan mulut untuk memuji dan menyembah Tuhan, mengucap syukur dan memberkati dan membangun orang lain, atau semua yang keluar hanya sumpah serapah dan lain-lain yang sia-sia sifatnya.

    Sahabat, lalu, bagaimana cara menjaga perkataan kita?  Pertama.  perkataan penuh kasih.  Artinya suatu perkataan yang penuh dengan keramahan dan didasari oleh kasih setelah terlebih dahulu dipertimbangkan dengan matang, sehingga orang lain yang mendengarnya dibangun, dikuatkan, dihibur serta didorong ke arah yang positif,  “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.”  (Efesus 4:29).  

    Kedua,   perkataan yang menyampaikan firman.  Nasihat Rasul Petrus, “Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; …”  (1 Petrus 4:11-a).  Perkataan kita hendaknya sesuai dengan firman Tuhan, bermuatan kesaksian dan nasihat sehingga orang yang mendengarnya diberkati.

    Ingatlah! Sahabat, mulut letaknya sama, namun dari mulut yang sama bisa keluar keduanya, baik berkat maupun kutuk. (Yakobus 3:10). Ini yang harus kita cermati dengan baik, agar segala ibadah kita jangan menjadi sia-sia. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong kita agar dari mulut kita selalu keluar berkat. (pg)

  • JALINAN PERSAUDARAAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan berharap kita tetap dapat berkomunikasi dengan konco-konco zaman biyen (dahulu). Sahabat, menjadi seseorang yang diingat oleh orang lain karena kenangan yang baik ternyata sungguh indah dan mengesankan. Tak terkecuali bagi jemaat di Filipi. Kepada jemaat tersebut, Rasul Paulus menulis surat singkat dari balik jeruji penjara. Secara khusus, ia mengingat kembali akan kebaikan-kebaikan Tuhan yang dialaminya melalui jemaat di Filipi.  Jemaat tersebut mempunyai kontribusi yang penting dalam pelayanan Paulus, baik melalui persekutuan mereka dengan Paulus maupun melalui dukungan finansial mereka. Paulus dan jemaat di Filipi saling mendukung. Mereka, tentu saja, juga bersyukur karena saling memiliki.

    Untuk itu kali ini kita akan menggali berkat dari Surat Filipi 1:3-11 dengan judul: “Ucapan syukur dan doa.”

    Sahabat, Filipi 1:3-11 merupakan bagian dari surat-surat Rasul Paulus dan Timotius yang dikirimkan  kepada segenap jemaat di Filipi. Doa mereka sungguh menyejukkan hati untuk segenap jemaat di Filipi. Mereka berdoa supaya kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai mereka semua (ayat 9-11).

    Rasul Paulus menyatakan bahwa ia mengucap syukur kepada Allah setiap kali mengingat jemaat di Filipi. Setiap kali ia berdoa untuk mereka semua, ia selalu berdoa dengan penuh sukacita. Ada saja perasaan senang dan riang gembira yang muncul ketika ia berdoa untuk mereka (ayat 3 dan 4).

    Rasul Paulus juga mengatakan bahwa ia mengucap syukur kepada Allah, karena adanya jalinan ikatan, hubungan atau persekutuan yang luar biasa, yaitu persekutuan dalam Berita Injil yang intim dan terus berlangsung sampai surat tersebut ditulis (ayat 5)

    Rasul Paulus meyakini bahwa terjadinya keberlangsungan komunikasi antara dirinya dengan jemaat di Filipi, adalah karena kuasa Kristus yang ajaib (ayat 6).

    Berkaitan dengan itu, Rasul Paulus mengatakan bahwa sesungguhnya adalah sudah sewajarnya jika ia berpikir positif tentang jemaat di Filipi, karena mereka selalu berada di dalam hatinya.

    Rasul Paulus mengatakan bahwa  mereka semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadanya. Mereka memperoleh bagian kasih karunia dari Tuhan Yesus Kristus. Baik kasih karunia pada waktu Rasul Paulus dipenjarakan maupun pada saat dia melakukan pembelaan dan peneguhan pemberitaan Injil Kristus. Bahwa Allah adalah saksinya mengenai betapa ia, Rasul Paulus, dalam kasih mesra Kristus Yesus, sungguh merindukan jemaat Filipi (ayat 7-8).

    Sahabat, kita tentu rindu untuk meninggalkan kenangan yang baik bagi sesama kita. Tentu saja, bukan supaya mereka mengingat bahwa diri kita orang yang baik, melainkan supaya mereka dapat melihat kebaikan Tuhan. Melalui kebaikan-kebaikan kita, kiranya orang-orang di sekeliling kita bisa bersyukur dan melihat kasih Tuhan. Sebaliknya pula, kiranya kita senantiasa menyimpan kenangan tentang kebaikan hati sahabat-sahabat kita.

    Ingatlah! Sahabat, berbahagialah kita yang terus berkomunikasi kepada Tuhan dalam ibadah, doa, ucapan syukur, pujian, penyembahan, persembahan, dan pelayanan, karena Dia, Yesus Kristus, Tuhan kita sudah menyediakan bagian hidup kekal yang penuh sukacita dan damai sejahtera di surga. Haleluya! (pg)

  • Peran MOTIVATOR

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan mari berjalan dengan iman. Sahabat, Yohanes bercerita  bahwa di dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda, artinya  rumah anugerah.  Hal Ini menunjukkan bahwa Tuhan telah menyediakan anugerah-Nya bagi semua orang yang hidup dalam penderitaan karena buta, timpang dan  lumpuh. 

    Memang. orang-orang yang sakit sangat memerlukan anugerah dari Tuhan, terlebih bagi mereka yang sakit rohani, buta rohani, timpang rohani dan juga lumpuh rohani.  Itulahlah yang menjadi penghalang iman mereka sehingga tidak dapat bertumbuh. Itulah yang menjadi penyebab mengapa mereka belum mengalami anugerah kesembuhan dari Tuhan.

    Mungkin deretan nama berikut  tidak asing bagi pembaca karena mereka merupakan motivator papan atas di Indonesia saat ini: Gede Prama, Christian Adrianto, James Gwee dan Merry Riana. Apa sebenarnya yang dilakukan oleh seorang motivator, sehingga peran motivator begitu menonjol? Peran mereka mendorong atau memengaruhi orang untuk berbuat sesuatu yang positif dengan membangkitkan kemauannya. Kadang kemauan manusia seperti sedang tertidur pulas sehingga dirinya menjadi serba pasif,  cenderung ogah-ogahan, tanpa gairah, dan kehilangan daya juang.

    Sahabat, pernahkah kamu mendengar atau membaca Tuhan Yesus menjadi seorang motivator? Sekarang mari kita  menggali berkat dari Yohanes 5:1-9.  Si lumpuh di kolam Betesda memang pasif total. Mengapa? Bayangkan, sudah 38 tahun ia menunggu mukjizat (ayat 5). Ia terkurung oleh kepercayaan bahwa kesembuhannya hanya tergantung pada kesempatan menjadi yang pertama menceburkan diri tatkala air kolam berguncang (ayat 3). Padahal, kelumpuhan merintanginya. Berharap bantuan orang lain pun mustahil karena hampir semua orang yang berada di situ sedang menantikan kesembuhan (ayat 7). Akibatnya, dia menjadi frustasi. Yang tersisa hanya kelumpuhan: baik kaki maupun hati. Kemauan untuk sembuh pun perlahan ikut terkubur di hamparan ketidakberdayaan.

    Sampai Seorang bernama Yesus datang, membuka jalan baru baginya dan berkata, “Maukah engkau sembuh?” (ayat 6). Kemudian Yesus bertindak sebagai seorang motivator dan berkata kepada Si Lumpuh, “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” (ayat 8). Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan (ayat 9).

    Sahabat, karena berbagai sebab dan alasan kita pun bisa diserang kelumpuhan kemauan. Padahal kemauanlah motor penggerak semuanya. Jadi, betapa bahayanya orang yang kehilangan kemauan, semangat, tekad, motivasi dan daya juang, yang lalu diikuti oleh kecenderungan untuk menyalahkan keadaan dan orang lain karena tidak berpihak padanya.

    Bangun! Ayo, bangun! Jangan berilusi. Jangan terus dan terlalu mengasihani diri sendiri. Bangkitkan motivasi dari dalam diri kita sendiri. Tak ada yang sanggup menolong kita jikalau kita sendiri tidak punya motivasi.

    Ingatlah! Sahabat, Jangan ragu dan pesimis, anugerah Tuhan selalu tersedia bagi kita yang mau datang kepada-Nya. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong kita agar bersedia menjadi motivator bagi mereka yang sudah tertidur pulas akibat pandemi Covid-19. (pg).

  • MANFAAT BERPIKIR POSITIF

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus , apa kabar? Salam sehat dan selalu berpikir positif. Sahabat, cara berpikir kita sangat memengaruhi cara kita menjalani kehidupan dan  menentukan hasil yang akan kita peroleh. Pikiran kita bisa menjadi kawan yang dapat membuat kita semakin lebih baik. Namun, ia juga dapat menjadi lawan, yang membawa kita semakin terpuruk. Maka kalau kita ingin mendapatkan hasil yang positif, mulai sekarang kita harus berlatih untuk selalu berpikir positif!

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berpikir artinya menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu; menimbang-nimbang di ingatan. Sedangkan positif artinya pasti, tegas, tentu,  yakin, bersifat nyata dan membangun. Dengan demikian berpikir positif berarti menggunakan akal budi  untuk mempertimbangkan atau memutuskan sesuatu dengan yakin, tegas, pasti dan bersifat membangun.

    Pikiran yang positif tidak terbentuk atau langsung kita dapatkan dalam waktu sesaat atau setelah kita mengikuti satu program atau setelah membaca satu artikel, misalnya  setelah kita mengikuti seminar tentang berpikir positif atau setelah kita selesai membaca renungan ini. Kita perlu melakukan upaya berulang kali. Kita perlu terus berlatih, ketika kita mulai berpikir negatif, cepat-cepat alihkan pikiran kita menjadi positif.

    Sahabat, ada ungkapan dalam bahasa Inggris yang mengatakan, “You are what you think!”  (Anda adalah apa yang Anda pikirkan).  Sedangkan dalam Amsal 23:7a dikatakan,  “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia. …”  Oleh karena itu, kita harus menjaga pikiran kita agar tetap positif dan bersih, “Karena kami memikirkan yang baik, bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan manusia.”  (2 korintus 8:21)

    Jika kita selalu berpikir positif, maka kita juga akan menuai hal-hal yang positif. Pikiran yang positif memampukan kita untuk  menanggung segala sesuatu, menambah rasa syukur, sukacita, semangat, dan tentunya mampu membuat kita melihat kebaikan-kebaikan Tuhan.

    Sahabat, Rasul Paulus dengan jelas menasihati,  “… saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”  (Filipi 4:8). 

    Berpikiran positif berarti pikiran yang diubah dan dipenuhi oleh firman Tuhan.  Perhatikan pula yang disampaikan Tuhan kepada Yosua,  “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.”  (Yosua 1:8).

    Ingatlah! Sahabat, ketika pikiran kita positif, kita akan lebih bisa bersyukur dan tidak mudah mengeluh. Akibatnya, kita menjadi tenang, mampu melihat masalah dengan lebih jernih, dan akhirnya solusi pun lebih mudah ditemukan. Pikiran yang positif akan memacu kita untuk tetap bertekun, berjuang, berdoa, bersyukur, dan  semangat. Selain itu berpikir positif akan membantu kita terus berdoa dan  berpengharapan. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong kita agar selalu dapat berpikir positif. (pg)

  • Betapa BAIKNYA TUHAN itu

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena kita mempunyai Gembala yang baik. Sahabat, masih ada orang yang belum bisa mengakui bahwa Tuhan itu baik. Hal itu terjadi karena mereka berasumsi bahwa kalau Tuhan itu baik, maka perjalanan hidup mereka akan lancar, tidak ada halangan, tidak ada masalah, tidak ada sakit penyakit, tidak ada kegagalan, tidak ada bencana, dan lain-lain yang menurut mereka itu tidak baik.

    Apakah Tuhan itu baik? Jawabnya  memang bisa beragam. Sebenarnya, ketika manusia pertama jatuh ke dalam dosa, Allah sudah menyampaikan bahwa kerja keras, masalah, kesulitan, tantangan, sakit penyakit, dan penderitaan, akan menjadi bagian dalam dinamika kehidupan manusia. Sedangkan Daud dalam Mazmur 23 menyampaikan bahwa dalam perjalanan hidup kita, kadang kita harus melewati lembah kekelaman. Dengan demikian selama kita masih hidup di dunia, siapa pun kita,  masalah, kesulitan, sakit penyakit, kegagalan dan bencana, kadang menghampiri kita tanpa permisi.  


    Sahabat, untuk mengetahui apakah Allah itu baik, mari kita belajar dari pengalaman Daud yang terdapat di Mazmur 145:1-21. Dengan tegas Daud mengatakan “TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.” (ayat 9). Dalam Mazmur 145 Daud berbicara mengenai pujian akan kemurahan atau kebaikan Tuhan, bukan hanya terhadap dirinya tetapi terhadap semua manusia, bahkan terhadap segala ciptaan-Nya.

    Mari kita menyimak beberapa  kebaikan Tuhan yang ditulis oleh Daud: Pertama, TUHAN itu penopang bagi semua orang yang jatuh dan penegak bagi semua orang yang tertunduk(ayat 14). Kedua, Tuhan memberi  makanan pada waktunya (ayat 15). Ketiga. TUHAN membuka tangan-Nya dan  berkenan mengenyangkan segala yang hidup  (ayat 16). Keempat, TUHAN itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya(ayat 17). Kelima, TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan  (ayat 18). Keenam, TUHAN melakukan kehendak orang-orang yang takut akan Dia, mendengarkan teriak mereka minta tolong dan menyelamatkan mereka(ayat 19)

    Semua itu menggambarkan kebaikan Tuhan bagi kita. Fakta menarik mengenai kebaikan Tuhan dengan kasih tanpa batas dapat  kita baca dari apa yang dikatakan oleh Yesus sendiri. Tuhan adalah Allah yang menerbitkan  matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Matius 5:45). Orang yang jahat dan tidak benar pun masih Dia perhatikan. Bukankah itu bukti nyata bagaimana baiknya Allah. Dia tetap memelihara dan merindukan orang-orang seperti itu untuk bertobat. Tuhan tetap menempatkan orang-orang jahat dan tidak benar itu dalam perhatian-Nya dan terus memberi kesempatan untuk bertobat.


    Ingatlah! Sahabat, ada begitu banyak kebaikan Tuhan yang mungkin luput dari perhatian kita, padahal Dia sudah memberikan begitu banyak termasuk kehidupan yang masih diberikan kepada kita sampai saat ini. Karena itu Daud menghimbau, “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! …” (Mazmur 34:9-a). Himbauan Daud tersebut mengingatkan kita agar tidak melupakan betapa baiknya Tuhan kepada kita. Tidak saja kita diminta agar mau terus melihat kebaikan Tuhan, tetapi Daud pun mengingatkan kita untuk merasakan sendiri, betapa baiknya Tuhan itu. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong kita agar  dapat menikmati kebaikan Tuhan. (pg)

  • SELALU BARU SETIAP PAGI

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh harapan. Sahabat,  nabi Yeremia tidak hanya menyampaikan nubuatan, tetapi juga seorang penulis dan peratap. Isi nubuatan dan ratapannya erat kaitannya dengan penderitaan umat Allah (Yehuda) dan kehancuran kota Yerusalem karena dosa dan pemberontakan mereka terhadap Allah. Dalam kitab yang ditulisnya, nabi Yeremia menyebut umat Allah sebagai anak dara, puteri bangsaku (Yeremia 14:17 dan Ratapan 1:15)

    Sahabat, nabi Yeremia merupakan satu-satunya nabi dan penulis di kitab Perjanjian Lama yang menyaksikan secara langsung musibah yang menghancurkan kota dan penduduk Yerusalem tahun 586 SM.

    Kitab Ratapan ditulis Yeremia sebagai ungkapan kepedihan hatinya yang mendalam atas kehancuran Yerusalem:  tembok-tembok kota yang runtuh dan pembuangan orang-orang ke Babel.  Sambil duduk ia menangis dan meratapi Yerusalem,  “Ah, betapa terpencilnya kota itu, yang dahulu ramai! Laksana seorang jandalah ia, yang dahulu agung di antara bangsa-bangsa. Yang dahulu ratu di antara kota-kota, sekarang menjadi jajahan. Yehuda telah ditinggalkan penduduknya karena sengsara dan karena perbudakan yang berat; Jalan-jalan ke Sion diliputi dukacita, karena pengunjung-pengunjung perayaan tiada; sunyi senyaplah segala pintu gerbangnya, …”  (Ratapan 1:1, 3, 4).

    Sahabat, kitab Ratapan sangat menarik, bukan? Untuk itu mari kita menggali berkat dari kitab Ratapan 3:22 – 33. Meskipun dimulai dengan ratapan, di balik itu ada pengharapan untuk dipulihkan.  Ada janji pemulihan bagi setiap orang yang berharap kepada Tuhan,  “Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.”  (ayat 26).  Janji pemulihan disediakan bagi orang-orang yang senantiasa bertekun menanti-nantikan Tuhan. 

    Dalam ratapannya, nabi Yeremia tidak hanya meratapi kehancuran umat dan kota, tetapi juga lebih daripada itu mengungkap bahwa Allah benar dan adil dalam segala jalan-Nya dan bahwa Allah bermurah-hati serta berbelas-kasih kepada mereka yang berharap kepada-Nya. Dalam Kitab Ratapan ini terdapat suatu konfesi (pernyataan iman) yang amat kuat, yang menegaskan bahwa tidak berkesudahan kasih setia TUHAN dan tidak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi (ayat 22-23).

    Sahabat, kasih setia TUHAN tak berkesudahan dan  rahmat-Nya tak habis-habisnya, tetapi selalu baru tiap pagi, karena tidak untuk selamanya TUHAN mengucilkan (ayat 31); karena kendati Ia mendatangkan susah, Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setia-Nya (ayat 32); karena tidak dengan rela hati Ia menindas dan merisaukan anak-anak manusia (ayat 33).

    Ingatlah! Sahabat, menantikan Tuhan berarti menaruh harap dan memercayakan hidup sepenuhnya kepada Tuhan, serta memandang Dia sebagai satu-satunya sumber pertolongan, bukan yang lain,  “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. … orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”  (Yesaya 40:29, 31). Tuhan memberkati sahabat dan keluarga.   Orang yang menanti-nantikan Tuhan akan beroleh kekuatan baru, kemampuan untuk mengatasi masalah dan kesanggupan untuk terus berjalan maju melewati badai kehidupan. (pg)

  • Hanya TUHAN yang sanggup MENOLONG

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena kita mempunyai Tuhan sebagai penolong. Sahabat, bangsa Israel diam di daerah yang dikelilingi oleh gunung batu. Posisi tersebut sangat menguntungkan bagi mereka. Kota yang dikelilingi gunung, ibarat kota berbenteng. Mereka dapat mengawasi pergerakan musuh, sehingga sebelum musuh tiba mereka sudah melihatnya dan berjaga-jaga. Namun demikian sang pemazmur menyatakan bahwa gunung-gunung itu tidaklah menjadi andalan mereka. Ia mengakui bahwa hanya TUHAN saja penolong mereka. Mari kita melafalkan Mazmur 121:1-8.

    Sudah lebih dari satu tahun pandemi Covid-19 memorakporandakan dunia. Manusia diliputi dengan ketakutan, kegelisahan, ketidak pastian, dan keterbatasan.  Akibatnya hampir semua negara pertumbuhan ekonominya minus. Banyak bisnis yang hancur dan banyak orang kehilangan mata pencaharian.

    Sahabat, sesungguhnya selama kita masih bernafas kita tidak akan pernah bisa menghindar dari masalah, kesukaran, kesulitan atau penderitaan, yang bisa datang silih berganti tanpa permisi, tanpa memandang usia atau status sosial.  Belum lagi marabahaya, ancaman, bencana, yang juga sewaktu-waktu dapat terjadi tanpa bisa diduga dan diprediksi. 

    Di tengah hantaman badai persoalan,  ada cukup banyak orang yang  berusaha mencari cara agar dapat terlepas dari masalah. Mencari pertolongan ke sana ke mari, dan tidak sedikit yang tergiur dengan tawaran-tawaran yang dunia sodorkan.  Bukannya jalan keluar yang didapatkan, tapi justru mereka terjebak dalam lubang yang semakin menganga.

    Sahabat, kekayaan yang berlimpah, jabatan yang tinggi, kekuasaan dan koneksi yang luas serta kepandaian, sering dijadikan andalan hidup seseorang. Mereka berpikir, semua yang mereka ingini, dapat diatur dan dibeli dengan menggunakan fasilitas yang dimiliki. Mereka merasa dapat mengendalikan dunia dengan semuanya itu. Mereka baru sadar bahwa segala yang mereka punya tidak ada apa-apanya ketika sesuatu yang buruk datang menimpa. Terkena bencana, ada pandemi, menderita sakit yang parah,  atau mengalami kebangkrutan.

    Kekayaan, jabatan, koneksi, kekuasaan, kecerdasan, ketenaran dan segala hal yang mendapat tempat, serta dipandang “wouw!!!” oleh dunia, bukanlah pilihan yang tepat untuk kita jadikan andalan hidup. Semua itu bisa hilang lenyap dalam sekejap. Hanya kuasa Tuhan saja yang masih tinggal tetap. Sebab Tuhanlah Allah pencipta langit dan bumi. Tuhan tidak pernah tidur. Di bawah kendali-Nyalah seluruh isi dunia. Dia sanggup menjaga, dan melindungi dengan kuasa penuh.

    Sang pemazmur memiliki kesadaran akan hal tersebut, “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.” (Mazmur 121:1-2)

    Ingatlah! Sahabat, Tuhan mau kita senantiasa mengandalkan-Nya dan menanti-nantikan pertolongan-Nya.  Seringkali masa menunggu jawaban Tuhan adalah masa yang rawan terhadap berbagai jalan keluar yang ditawarkan dunia.  Apa pun keadaannya kita harus tetap berharap kepada pertolongan dari Tuhan saja,  “… apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.”  (Habakuk 2:3). Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Selamat Paskah. (pg)

  • MELANGKAH DENGAN IMAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena kita mempunyai Tuhan yang hidup yang pasti akan menggenapi janji-janji-Nya. Sahabat, Yeremia adalah salah seorang nabi di kerajaan Yehuda yang hidup menjelang dan setelah zaman pembuangan ke Babel. Selama hidupnya, Yeremia menyampaikan Firman Tuhan yang keras dan berat kepada bangsa Yehuda, yaitu bahwa Tuhan akan menghukum dan membuang bangsa Yehuda karena dosa-dosa yang mereka perbuat. Walaupun demikian, Tuhan menjanjikan akan memulihkan bangsa Yehuda dan mengembalikan mereka kembali ke tanah asalnya.

    Seseorang akan dengan ringan melangkahkan kakinya, ketika dia yakin bahwa apa yang akan dia dapatkan di depan akan menguntungkan dirinya. Demikian halnya dengan Israel; agar mereka tetap taat kepada ketetapan Tuhan, Dia memberi janji bahwa yang akan mereka dapatkan di depan akan jauh lebih baik. Janji Tuhan ini menjadi semangat bagi Israel dalam menjalani masa sulitnya dalam pembuangan. Sebagai simbol bahwa Tuhan akan benar-benar memulihkan umat-Nya, Tuhan berfirman supaya Yeremia membeli ladang saudaranya di Anatot.

    Untuk itu mari kita  menggali berkat dari Yeremia 32:1-25 di bawah judul: “Pembelian ladang sebagai jaminan dari keselamatan Yehuda yang akan datang.”

    Sahabat, Yeremia diperintahkan Tuhan untuk menebus ladang dari sepupunya di Anatot. Bagi Yeremia, tindakan penebusan tanah itu, yang sesuai dengan Taurat (Imamat 25:25-28), menjadi kesempatan baginya untuk menunjukkan bahwa janji Allah pasti digenapi. Penjajahan yang sedang terjadi serta pembuangan ke Babel yang akan menyusul hanyalah bersifat sementara. Allah pada waktunya akan membebaskan umat-Nya dari pembuangan, dan akan mengembalikan mereka ke Tanah Perjanjian.

    Maka perjanjian resmi penjualan tanah yang dimeteraikan di hadapan para saksi dan dokumennya disimpan baik-baik oleh Barukh dalam sebuah bejana tanah menjadi bukti bahwa kelak situasi akan membaik dan transaksi ekonomi kembali normal (ayat 12 – 14). Perbuatan Yeremia adalah tanda bahwa jaminan pemulihan dari Allah pasti tergenapi, sekaligus menunjukkan iman Yeremia kepada janji Allah tersebut.


    Yeremia menaati firman Tuhan walau ia tidak mengerti maknanya. Namun Yeremia menanyakan hal itu. Doa Yeremia menunjukkan pemahamannya akan kasih dan keadilan Tuhan (ayat 17-19). Oleh kasih-Nya, umat dimerdekakan dari Mesir dan dijadikan bangsa dengan tanah Kanaan sebagai wilayah kedaulatan mereka (ayat 20-22). Namun ketika umat berkhianat dan menyembah ilah lain, Tuhan di dalam keadilan-Nya menghukum umat-Nya dengan membuang mereka dari wilayah mereka (ayat 23-24). Sebentar lagi, hukuman akan menimpa Yehuda. Kalau begitu apa gunanya membeli tanah ladang di Anatot?

    Sahabat, doa Yeremia bukan lahir dari ketidakpercayaan, melainkan ketidakmengertian. Yeremia tetap percaya dan mengandalkan Tuhan. Maka ia taat melakukan perintah-Nya.

    Ingatlah! Sahabat, biarlah kita tetap setia dan taat kepada firman, walau kadang kita tidak mengerti bahkan kadang merasa perintah Tuhan tidak sesuai dengan situasi dan kondisi kita saat itu. Yakinlah, Tuhan tidak pernah keliru dalam setiap  rencana-Nya. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Oleh kebangkitan Kristus, hidup kita mengalami pembaruan, penuh dengan keyakinan, kepastian, dan kelimpahan. Selamat Paskah. (pg)