Author: Christopherus

  • Punya Hati Untuk Indonesia

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Mari kita terus menjaga pola makan dan pola hidup kita sehingga kesehatan dan kebugaran tubuh kita dapat terus terjaga di saat pandemi seperti saat ini.

    Seseorang yang menangis kerap dinilai sebagai sosok yang cengeng dan lemah. Laki-laki merupakan kalangan yang sering mendapat cap tersebut saat menangis. Sementara, perempuan lebih dianggap wajar saat mengungkapkan perasaan dengan menangis. Saya yakin hampir semua orang pernah menangis, Tuhan Yesus saja ketika Ia hidup di dunia juga pernah menangis.

    Menangis merupakan hasil ungkapan perasaan seseorang saat merasa sedih, terharu, atau bahagia.  Ada banyak faktor yang membuat seseorang menangis dan biasanya orang menangis untuk hal-hal yang berhubungan langsung dengan diri sendiri, seperti:  menangis karena menderita sakit, menangis karena ada saudara atau kerabatnya yang meninggal dunia, menangis karena tertimpa musibah atau bencana, menangis karena diputus oleh kekasih, menangis karena gagal dalam ujian, menangis karena terkena PHK, menangis karena sudah mendapatkan teman hidup dan sebagainya.

    Berbeda dengan tangisan karena kepedihan hati yang dirasakan oleh Nehemia, “Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit,”  (Nehemia 1:4). Nehemia  menangis karena mendengar berita tentang Yerusalem dan penduduknya yang sedang tertimpa kesusahan besar. 

    Nama  Nehemia berarti menyenangkan Tuhan.  Di mana Nehemia saat itu?  Ia tinggal jauh dari Yerusalem karena menjadi salah seorang yang diangkut ke pembuangan di Babel, tapi pada waktu itu ia hidup nyaman dengan jabatan sebagai juru minuman raja pada masa pemerintahan Artahsasta, raja Persia. 

    Begitu mendengar apa yang menimpa bangsanya, hati Nehemia terasa teriris-iris, ia pun menangisi bangsanya.  Pernahkah kita menangis  ketika melihat dan mendengar begitu banyak masalah menimpa bangsa Indonesia yang kita cintai?  Khususnya ketika yang terinfeksi Covid – 19 di Indonesia setiap hari terus bertambah?

    Belajar dari Nehemia kita diajar punya hati yang terbeban bagi bangsa.  Kita diminta lebih peka melihat dan mendengar perkembangan yang terjadi di negara kita.  Mari kita saling bergandengan tangan, sehati sepikir, berdoa kepada Tuhan untuk kesejahteraan negeri tercinta Indonesia, “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” (Yeremia 29:7)

    Ketika Nehemia berdoa untuk Yerusalem, doanya pun dikabulkan oleh Tuhan!  Oleh karena campur tangan Tuhan tembok Yerusalem dapat dibangun dan kota Yerusalem dipulihkan kembali.  Bila orang percaya berdoa sungguh-sungguh kepada Tuhan untuk bangsa Indonesia, seburuk apa pun keadaannya, Tuhan sanggup memulihkan.

    Ingatlah! Di tengah pergumulan hidup yang berat saat ini, tetaplah tekun dan setia, pertolongan Tuhan pasti akan dinyatakan tepat pada waktu-Nya. “dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.” (2 Tawarikh 7:14). GBU & Fam. (pg).

  • Mengerti Kehendak Tuhan

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Hari ini merupakan saat yang baik bagi kita untuk menjalin persekutuan dengan Tuhan. Kita mendekatkan diri kepada-Nya. Memberi kesempatan kepada Allah Roh Kudus untuk berbicara kepada kita sehingga kita semakin mengerti kehendak-Nya.

    Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita diperhadapkan pada masalah atau situasi yang sulit dan kita harus membuat keputusan atau pilihan. Bagaimana caranya kita bisa membuat keputusan atau menentukan pilihan yang sesuai dengan kehendak Tuhan?

    Untuk mencari kehendak Tuhan, kita tidak bisa hanya mengandalkan nalar atau logika saja. Kita membutuhkan kepekaan rohani. Kita perlu terus melatih kepekaan telinga rohani kita. Kita harus membiasakan diri dengar-dengaran firman Tuhan. Inilah harga yang harus kita bayar! Yesaya berkata, “Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.” (Yesaya 50:4b).

    Selain itu kita harus memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan. Bila kita karib dengan Tuhan, kita pasti akan tahu apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidup kita, sebab “TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.” (Mazmur 25:14)

    Yakinlah, kalau kita berusaha dengan sungguh mencari kehendak Tuhan, maka Tuhan pun tidak pernah kehilangan cara untuk menyatakan kehendak- Nya dalam kehidupan kita, sebab keinginan Tuhan untuk menyatakan kehendak-Nya itu jauh lebih besar daripada keinginan kita untuk mencari kehendak-Nya, “Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.” (2 Tawarikh 16:9a).

    Ingatlah! Berikut adalah janji Tuhan kepada setiap orang yang bersungguh hati mencari-Nya, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.” (Matius 7:7-8). GBU & Fam. (pg)

  • Mencapai Keberhasilan dan Menikmati Ketenangan

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan tetap semangat. Hampir setiap orang ingin dapat mencapai keberhasilan dalam hidupnya. Selain itu hampir setiap orang juga ingin dapat menikmati ketenangan dalam hidupnya, khususnya ketika kita sudah berusia lanjut.

    Nah, maka pada hari ini saya mengajak Saudara untuk belajar bagaimana supaya kita dapat menikmati hidup tenang. Coba kita simak apa yang ditulis oleh Yohanes  dalam suratnya yang pertama, “Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah, …” (1 Yohanes 3:19). Ternyata kita berasal dari kebenaran.


    Sedangkan ciri hidup orang yang berasal dari kebenaran yaitu hidup dalam ketenangan.  Kalau kita berasal dari kebenaran dan hidup dalam kebenaran kita pasti akan tenang dalam menjalani hidup.  “Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.”  (Yesaya 32:17).  Yang membuat orang tidak hidup tenang adalah ketika ia hidup dikuasai oleh dosa sehingga setiap saat selalu timbul rasa bersalah, karena iblis terus mendakwanya.  Selama kita hidup dalam kebenaran Tuhan pasti akan membela dan memberkati hidup kita.  Orang yang berasal dari kebenaran pasti memiliki kerinduan yang besar untuk tinggal dekat Tuhan, sebab ia menyadari bahwa  “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.”  (Mazmur 62:2).  Karena itu  “…lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik.” (Mazmur 84:11).  Di mana pun kita berada dan seberat bagaimana pun tantangan, kita akan mampu melewatinya selama kita dekat dengan-Nya.

    Orang yang berasal dari kebenaran pasti taat melakukan perintah Tuhan dan berbuat apa yang berkenan kepada Tuhan,  “dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.” (1 Yohanes 3:22).  Jaminan bagi orang yang taat melakukan perintah Tuhan dan berbuat apa yang berkenan adalah apa yang diminta dan didoakan pasti dikerjakan oleh Tuhan!

    Rick Warren berkata, “Tidak ada hal yang Tuhan tidak kerjakan bagi orang yang segenap keinginannya hanya untuk memperoleh perkenan-Nya.”

    Dari 1 Yohanes 3:22 dan pendapat Rick Warren kita bisa menyimpulkan jika segala keinginan dan perbuatan kita berkenan kepada Tuhan, maka segala yang kita minta akan dikerjakan oleh Tuhan.

    Ingatlah! Kerinduan kita untuk menjadi orang yang berhasil dan bisa menikmati hidup dengan tenang akan mewujud jika kita bisa semakin menyadari bahwa kita berasal dari kebenaran dan hidup dalam kebenaran. GBU & Fam. (pg).

  • KETIKA CORONA MELANDA

    Selamat jumpa para pendukung Kristus, apa kabar? Sehat-sehat, tetap semangat dan kita senantiasa bisa bersyukur. Semoga  kita semua tetap yakin bahwa Yesus Kristus tetap sama. Ia Tuhan yang hidup dan Mahakuasa. Ia berkuasa atas alam semesta beserta sgenap isinya. Ia menjadi pemegang sejarah umat manusia.

    Dengan adanya pandemi virus Corona yang melanda seluruh dunia, banyak orang percaya yang bertanya-tanya, di mana Tuhan, mengapa Ia membiarkan virus Corona semakin meraja lela di mana-mana? Mengapa Tuhan tidak segera membasmi virus Corona supaya tidak semakin banyak manusia yang meninggal dunia dan semakin banyak manusia yang menderita? Kapan penderitaan, goncangan, kecemasan, kekalutan, dan tekanan karena virus Corona ini akan berakhir? Sampai kapan, Engkau membiarkan penderitaan umat manusia ini terus berlangsung?

    Keadaan manusia saat ini kian tertekan dan terjepit.  Lalu, bagaimana seharusnya kita bersikap dalam menghadapi kondisi yang sangat sulit ini?

    Tentu  manusiawi jika banyak orang menjadi takut, khawatir dan tertekan.  Hari ini firman Tuhan menasihatkan agar kita bisa menjaga sikap hati dengan benar.  Jangan bersikap seperti orang dunia yang terus dihinggapi rasa takut dan khawatir karena Tuhan berjanji untuk menopang dan memlihara umat-Nya dari kesukaran yang ada.  Janji-Nya adalah ya dan amin, “Janji Tuhan adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah.”  (Mazmur 12:7).  Mari kita belajar dari Daud.  Mazmur pasal 13  merupakan ungkapan isi hati Daud saat ia mengalami pergumulan yang sangat berat.  Hari-hari Daud penuh kegelisahan karena ia terus dikejar-kejar Saul yang hendak membunuhya.  Bisa dibayangkan betapa tidak tenangnya perasaan Daud karena dihantui oleh bahaya kematian.  Selain itu Daud juga harus menghadapi bani Amalek, suatu bangsa yang menjadi musuh bangsa Israel.  Daud benar-benar dalam tekanan yang hebat.  Wajar bila Daud sempat putus asa dan mengeluh kepada Tuhan, “Berapa lama lagi, Tuhan, Kaulupakan aku terus-menerus?  Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?  Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari?  Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?”  (Mazmur 13:2-3).

    Terlihat sekali, dari  berbagai tuntutan Daud bahwa ia merasa sangat tidak sabar menanti jawaban TUHAN.  Tuhan seakan-akan bertindak sangat lambat, sementara persoalan datang bertubi-tubi dan cepat.  Demikian juga dengan kita,  lebih senang minta agar TUHAN dengan segala kuasa-Nya menghentikan segala persoalan yang kita hadapi saat ini. Kita sering lupa bahwa TUHAN juga sanggup memberikan kekuatan pada kita untuk menghadapi dan menang atas persoalan yang sedang kita hadapi saat ini. 


    Sekarang kita simak dan renungkan apa yang dikatakan Daud dalam Mazmur 13:6, “Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku.” Kasih setia Tuhan sangat terlihat di dalam diri  Daud, bayangkan saja, berbagai bahaya yang semestinya terjadi di dalam dirinya, namun ia senantiasa luput dari itu.  Daud mulai sadar, ia melihat, ternyata TUHAN Allah yang dia sembah itu adalah TUHAN yang penuh kasih setia-Nya. Untuk itu maka respons yang ditujukan pada TUHAN adalah ia harus bangkit dari permasalahan dan kesulitan, bukan tenggelam dan terbawa arus. Hidup manusia begitu rapuh , bukan hanya rapuh tetapi hidup kita sekaligus begitu lapuk. Gampang rusak. Ia ibarat mutiara yang harus dijaga setiap saat.  Itu sebabnya tanpa kasih setia Tuhan maka semua itu tidak akan terpelihara dengan baik.  

    Pemeliharaan Tuhan sangat nyata di dalam diri Daud. Itu sebabnya imannya mulai terstimulasi, ia menjadi percaya. Bukan hanya itu, ia juga bersorak-sorak; karena penyelamatan dari Tuhan itu jelas dan nyata.  Seorang penafsir mengatakan apabila engkau bagkit kembali di dalam Tuhan maka engkau pasti akan bangkit pula dari keputusasaan hidup ini. Inilah yang dimaksud dengan hidup yang berkemenangan itu.

    Berkat rohani yang kita peroleh dari Daud hari ini ada tiga tahap. Tahap pertama,  bahwa sebagai manusia kita begitu rapuh dan lapuk. Itu sebabnya bila ada tekanan, kesulitan, persoalan, sakit, dan keputusasaan yang menimpa, kita lebih gampang protes dan bahkan marah.  Namun Tuhan kadang membiarkan itu berjalan terus di dalam hidup kita, hingga memasuki tahap kedua yaitu: Bukan berarti Ia meninggalkan kita, Ia mau kita benar-benar sadar bahwa kita butuh pertolongan dari yang berkuasa, dalam hal ini Tuhan. Memasuki Tahap ke tiga, ini merupakan tahap penentuan, ternyata Tuhan yang disembah memang benar-benar memiliki kuasa yang dahsyat. Ia sanggup memberikan kita kekuasaan dan kekuatan menghadapi berbagai persoalan yang sulit, dan bukan hanya itu. Ia juga membawa kita menuju kemenangan.

    Ingatlah!  “Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepadaNya, dan Ia akan bertindak;…”  (Mazmur 37:5). GBU & Fam.  (pg)

  • Bukti Menghargai Waktu dan Potensi

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Apakah Saudara terbiasa membuat rencana harian? Minimal setiap sore atau malam, Saudara membuat rencana apa saja yang ingin Saudara kerjakan besok dari pagi hingga malam.

    Orang bijak berkata, “You are what you believe” Artinya apa yang kita percayai akan menentukan bagaimana sikap dan perilaku kita. Sejak muda saya sudah memercayai bahwa jika kita tidak membuat rencana, maka kita merencanakan kegagalan.

    Saya bersyukur,  Tuhan beri kesempatan kepada saya untuk melayani di Sinode GKMI, GKMI Sola Gratia, dan Yayasan Christopherus. Saya dilatih dan diminta terus menerus untuk membuat rencana jangka pendek dan rencana jangka panjang. Dengan demikian membuat rencana sudah menjadi gaya hidup.

    Perencanaan merupakan hal penting dalam menjalani sebuah kehidupan. Dengan perencanaan yang baik dan matang, langkah hidup seseorang akan semakin teratur dan semakin terarah kepada suatu sasaran yang hendak dituju. Hidup yang terencana adalah bukti bahwa seseorang sangat menghargai waktu dan semua potensi yang Tuhan berikan.

    Sebuah perencanaan hidup akan semakin sempurna apabila Tuhan terlibat di dalamnya. Yakobus.mengingatkan agar jangan pernah kita melupakan Tuhan dalam setiap perencanaan hidup, “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” (Yakobus 4:15).

    Orang yang melupakan Tuhan dalam setiap rencana hidupnya sama artinya meremehkan Tuhan, mengabaikan kehadiran-Nya, menganggap seolah-olah Tuhan tidak ada dan tidak punya kuasa. Yang menjadi akar persoalan adalah kesombongan.

    Orang sombong dan angkuh meyakini bahwa ia mampu mengatasi semua persoalan hidupnya dengan kekuatan yang dimiliki, padahal banyak hal di dunia ini yang unpredictable. Apa yang akan terjadi esok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan? Tak seorang pun tahu, “Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu.” (Amsal 27:1). Ternyata kehidupan ini tidak selurus dan semulus yang kita bayangkan, terkadang ada “kejutan-kejutan” yang tidak pernah kita harapkan.

    Ingat-ingat, sebuah perencanaan jika tidak disertai tekad dan usaha mewujudkannya tidak akan lebih dari sekadar mimpi di siang hari dan angan-angan belaka. Orang yang berhasil adalah orang yang hidupnya terencana dengan baik serta punya semangat dan kemauan keras untuk mewujudkannya.

    Ingatlah! “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana.” GBU & Fam. (pg)

  • Belajar dari Burung Rajawali

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga sehat-sehat dan tetap semangat. Ada ungkapan yang berkata bahwa belajar itu sepanjang hidup kita. Betul sekali, apalagi ketika ada pandemi Covid-19 dan memasuki “New Normal” kita harus mau belajar banyak hal baru kalau kita ingin bisa bertahan hidup.

    Saudara, sesungguhnya hidup itu adalah sebuah pembelajaran  (learning)   selama hidup. Selama kita hidup, kita takkan pernah berhenti untuk belajar dan  belajar.  Belajar itu tidak selamanya harus di ruang kelas,  ada guru, ada buku/diktat, dan perlengkapan belajar lainnya. Adakalanya kita harus belajar dari situasi-situasi yang ada di sekitar, belajar dari setiap kejadian atau peristiwa, belajar dari hewan, tumbuhan, dan alam, belajar dari pengalaman hidup orang lain, belajar dari kesalahan atau kegagalan masa lampau dan sebagainya.  Semakin kita belajar semakin kita mengerti banyak hal dan kita pun menjadi semakin bijaksana! 


    Dalam amsalnya, Agur bin Yake mengajak kita untuk belajar dari 4 hal:  “Ada tiga hal yang mengherankan aku, bahkan, ada empat hal yang tidak kumengerti: jalan rajawali di udara, jalan ular di atas cadas, jalan kapal di tengah-tengah laut, dan jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis.” (Amsal 30:18-19).

    Hari ini kita akan khusus belajar dari burung rajawali.  Burung rajawali adalah salah satu jenis burung yang besar dan memiliki sayap yang sangat kuat.  Ia tidak pernah takut dan khawatir dengan badai sehebat bagaimana pun.  Justru ketika badai datang burung rajawali akan semakin mengembangkan sayapnya dan terbang semakin tinggi, kemudian dia terbang di atas badai itu.  Sebagaimana burung rajawali mampu terbang di atas badai, dia mampu mengatasi badai.  Orang percaya hendaknya memiliki mentalitas burung rajawali yang tidak takut menghadapi badai  hidup. .

    Selain itu burung rajawali menyukai tempat-tempat yang tinggi, bersarang di tempat-tempat yang tinggi atau di bukit-bukit batu yang sulit dijangkau.  Tempat yang tinggi berbicara tentang perkara-perkara rohani, perkara yang dari Tuhan.  Nasihat Rasul Paulus:  “…carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada,…Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.”  (Kolose 3:1-2).  Orang yang senantiasa memikirkan perkara-perkara rohani atau perkara yang di atas tentunya adalah orang yang memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan.  Semakin kita dekat dengan Tuhan semakin kita beroleh kekuatan dan kemampuan untuk mengatasi badai hidup ini;  dan melalui badai persoalan kita diajar untuk memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan.

    Pelajaran lain yang kita dapatkan dari burung rajawali adalah bergerak dengan kecepatan tinggi.  Ini berbicara tentang semangat hidup.  “Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?”  (Amsal 18:14).  Seberat bagaimana pun penderitaan, tekanan atau kesesakan yang kita alami, biarlah kita tetap memiliki semangat untuk menjalani hidup, karena kita tahu bahwa Tuhan selalu ada untuk kita, lengan-Nya yang kuat siap menopang.  “Punya-Mulah lengan yang perkasa, kuat tangan-Mu dan tinggi tangan kanan-Mu.”  (Mazmur 89:14).

    Ingatlah! Bagaikan seorang olahragawan yang sedang bertanding, semangat merupakan modal penting untuk bisa meraih kemenangan.  Rasul Paulus menasihati:  “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.”  (Roma 12:11). GBU & Fam. (pg)

  • HARUS TELATÈN

    Melihat seorang anak belajar membatik di Elly Batik.

    “Belajar m’batik harus telatèn,” kata instruktur sambil terus mendemonstrasikan:

    merangkai kompor, mengisi minyak gas, menyulut sumbu dengan korek api, pasang wajan kecil dan memasukkan malam/lilin batik agar cair. Kemudian mempersilakan anak didiknya mencoba  membongkar dan merangkai peralatan di atas.

    “Nyekelé begini,” sang instruktur  memberi contoh bagaimana memegang canting untuk mencedok lilin batik yang sudah mencair.

    “Jangan sampai ‘kètès’, diusap dulu ya,” pesannya lebih lanjut.

    Menghapus Kesalahan

    “Nglorod/melorod/ngerok/ngebyok/mbabar’ adalah istilah yang dipakai untuk membersihkan lilin batik pada permukaan kain.

    Kain di rendam dengan air panas yang telah dicampur dengan soda abu, kemudian dikucek atau dikerok/dikerik sampai lilin batik lepas. Cara itu juga dapat digunakan untuk menghapus sebagian lilin batik yang tidak pada tempatnya atau ketètèsan karena kecerobohan sang pembatik

    Satu Jam Pertama

    Langsung praktik di atas sehelai kain katun putih yang telah ada gambar pinsilnya:

    “Ya, betul,” kata-kata penyemangat dari seorang instruktur yang tak takut tersaing oleh muridnya.

    “Rapi bersih tanpa tètèsan kecerobohan,” pujinya kembali setelah sehelai kain selesai dililin batik sesuai gambar.

    Wajah berbinar (bukan webinar…) terpancar dari anak yang dididik dengan rasa asih, sang instruktur tidak takut kelak tersaingi.

    Sepertinya proses dasar lilin batik yang dikerjakan oleh anak didiknya tidak rapi-rapi amat, tapi kata-kata cela tak keluar dari mulut sang instruktur.

    Dia membiarkan anak didiknya berdemonstrasi tanpa terus dikontrol dengan omelan, dia melihat, dia mengoreksi, dia memberi contoh, dia memberi pujian.

    Regenerasi

    Regenerasi akan berjalan mulus jika sang Senior mengasuh sang Yunior dengan asih, dengan kata-kata yang memberi semangat.

    Bagus…

    Andai sebuah organisasi, pengurusnya dimotivasi sedemikian rupa, pasti regenerasi akan berjalan mulus.

    Harus Telaten

    Kalau mau terjadi regenerasi tanpa merasa tersaingi!

    Selamat beregenerasi! (simon nhk)

  • Kita Pun Boleh Percaya

    Bacaan Alkitab, ”Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah” (Kisah Para Rasul 1:3)

    Hari ini, tepatnya pada 12 Juli 1947 adalah hari lahir Koperasi. Merupakan sejarah Hari Koperasi Indonesia. Istilah koperasi berasal dari kata bahasa Inggris co-operation yang berarti usaha bersama. Di Indonesia koperasi bukan merupakan sesuatu hal yang asing bagi masyarakat Indonesia, mengingat begitu banyak manfaat yang telah dirasakan oleh masyarakat dalam membantu perekonomian, telah teruji dan terbukti.

    Pada tahun 1957, Letnan David Steeves berjalan keluar dari Pegunungan Sierra di Nevada, Kalifornia, setelah 54 hari pesawat jet pelatih Air Force-nya menghilang. Ia menceritakan kisah yang tak masuk akal tentang bagaimana ia bertahan hidup di belantara bersalju setelah terjun dengan parasut dari pesawatnya yang mati mesin. Sebelum ia menunjukkan bahwa dirinya masih hidup, sebenarnya secara resmi ia dinyatakan telah mati. Saat penyelidikan selanjutnya gagal menemukan bangkai pesawat, Steeves dianggap berbohong dan ia dipaksa mengundurkan diri karena ceritanya diragukan. Lebih dari 20 tahun kemudian, kisahnya terbukti dengan ditemukannya bangkai pesawat oleh sebuah regu Pramuka.

    Kisah bertahan hidup lain yang terjadi berabad-abad lalu juga masih kontroversial sampai saat ini. Seorang lelaki bernama Yesus Kristus yang berjalan keluar dari padang gurun Yudea membuat banyak pernyataan yang sulit dipercaya. Lalu Dia dihukum mati dan dinyatakan mati. Namun, tiga hari kemudian Dia muncul dan menunjukkan bahwa diri-Nya hidup. Sejak itu muncul berbagai pandangan skeptis.

    Namun, renungkanlah kenyataan tentang kehidupan, kematian, dan kebangkitan Kristus. Integritas-Nya tidak diragukan lagi. Para nabi telah menubuatkan kedatangan-Nya. Mukjizat menjadi bukti keilahian-Nya. Para saksi mata membenarkan kebangkitan-Nya. Dan kini, kepada semua orang yang mencari kebenaran, Roh Kudus menegaskan bahwa Yesus Kristus hidup. Di akhir zaman ini, Dia adalah Hakim Yang Adil yang akan datang kembali. Sejarah telah teruji dan terbukti, tak perlu ragu bahwa kita, Anda dan saya pun boleh percaya.

    Ya, kita, Anda dan saya pun bisa dan boleh percaya! Mari kita tidak menundanya, menunda sama dengan tidak melakukan apa-apa, sia-sia.

    Hikmat hari ini: Kebangkitan Yesus Kristus adalah fakta sejarah yang perlu ditanggapi dengan iman.

    Selamat hari Minggu. Selamat beribadah baik online maupun offline, berjumpa Sang Juruselamat hari ini. Tetap jalani protokol kesehatan di era New Normal dengan setia dan tulus hati. Jesus Christ bless you (sp).