Author: Christopherus

  • MENERIMA Si LEMAH dan Si KUAT

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan tetap rukun-rukun selalu sebagai keluarga besar komunitas orang percaya. Sahabat, Anthony de Mello dalam bukunya yang berjudul: “Doa Sang Katak 2” bercerita tentang Mahatma Gandhi. Pada saat itu Mahatma Gandhi sebagai seorang mahasiswa di Amerika. Ia amat berminat untuk mengenal Yesus Kristus lebih dalam, khususnya khotbah Yesus di Bukit. Semula dia begitu yakin bahwa kekristenan merupakan jawaban yang tepat bagi sistem kasta yang mengganggu India berabad-abad lamanya.

    Pada suatu hari Minggu dia pergi ke gereja, untuk mengikuti kebaktian. Akan tetapi dia dihentikan di depan pintu masuk gedung gereja dan diberitahu oleh petugas, “Kalau mau ikut kebaktian, Anda bisa melakukan itu di gereja khusus orang hitam di seberang sana. Dia begitu kecewa, kemudian pergi, dan tidak pernah kembali lagi.

    Untuk itu mari kita menggali berkat dari Roma 15:1-13, di bawah judul: “Orang yang lemah dan orang yang kuat.”

    Sahabat, ada pepatah Jawa mengatakan,  “Asu gedhe menang kerahe”, yang artinya anjing besar menang dalam perkelahian.  Namun, Rasul Paulus justru sebaliknya menasihati kita,  “Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat … “ (ayat 1). Itu berarti kita yang sungguh-sungguh yakin akan apa yang kita percayai, haruslah bersabar terhadap keberatan-keberatan orang yang tidak terlalu yakin dengan apa yang dipercayainya.

    Paulus melarang kita untuk menyenangkan diri sendiri. Sebaliknya, Sang Rasul menasihati warga jemaat di Roma untuk menyenangkan hati orang lain. Tentu saja bukan hanya menyenangkannya,  tetapi alasan yang paling mendasar adalah demi kebaikan orang itu sendiri agar semakin dibangun dalam imannya (ayat 2).

    Sebagai anggota jemaat Tuhan, kita harus berusaha untuk menciptakan kerukunan satu sama lain, supaya gereja tetap kuat dan kokoh.  Meski memiliki latar belakang yang berbeda-beda  (status, suku, pendidikan dan sebagainya)  kita adalah satu, “… sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh,”  (1 Korintus 12:12). 

    Sahabat, jadi kita harus menerima dan memperlakukan orang lain sebagai saudara, sebagaimana Kristus telah menerima dan melayani jiwa-jiwa tanpa pandang bulu,  “supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.”  (1 Korintus 12:25-26).

    Memang bukan persoalan mudah, sehingga kita mesti meminta pertolongan Allah agar Dia memberikan karunia kerukunan kepada umat-Nya, yang berujung pada kemuliaan Allah! Menarik disimak bahwa kerukunan umat Allah tidak dimaksudkan untuk kemuliaan sendiri,  tetapi dimaksudkan untuk kemuliaan Allah (ayat 6).

    Ingatlah! Sahabat, Rasul Paulus menghimbau,  “… terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah” (7). Itulah cara untuk mencapai kesatuan di antara umat Allah,  yang kuat menerima yang lemah sama halnya dengan Kristus yang telah menerima baik yang kuat maupun yang lemah imannya. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. (pg)

  • ALLAH saja TEMPAT kita BERLINDUNG

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan tetap beriman kepada Yesus bagaimana pun kondisi kita. Sahabat, lebih gampang mana, percaya kepada Allah dalam kesuksesan atau kesukaran? Mungkin sebagian orang lebih mudah memercayai Allah saat dirinya sehat dan berkelimpahan.  Ada juga  orang  yang mengingkari imannya ketika mengalami kesulitan. Tapi tidak demikian dengan Daud, di tengah pergumulan dan kesulitan, ia masih bisa berharap dan percaya kepada Allah.

    Nyanyian merupakan salah satu bentuk ekspresi perasaan manusia. Orang yang bersedih biasanya menyanyikan lagu sedih, begitu pun sebaliknya. Agak janggal jika orang yang sedang bersedih menyanyikan lagu yang gembira. Bagaimana  dengan mazmur yang  ditulis pada saat penulis sedang menghadapi masalah.

    Sahabat, untuk itu mari kita mengupas Mazmur 57:1-12. Mazmur tersebut ditulis saat Daud bersembunyi dalam gua untuk menghindar dari kejaran Saul (ayat 1). Daud begitu terdesak hingga dengan sangat memohon belas kasihan dan perlindungan dari Allah (ayat 2).

    Kalau kita berada di posisi Daud mungkin kita akan semakin stres dan sulit untuk mengucap syukur.  Namun saat berada di dalam gua Adulam inilah Daud menumpahkan carut-marut perasaannya, karena itulah Daud terus membangun imannya dengan bermazmur dan menaikkan puji-pujian bagi Tuhan,  “Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermazmur. Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar!”  (ayat 8-9). 

    Sahabat, percaya kepada Allah sepenuh hati adalah modal utama Daud. Dalam perjalanan hidupnya, Daud pernah mengalami kondisi yang sangat sulit. Ada sekelompok orang yang berupaya menghancurkannya. Hal ini diungkapkan Daud dengan gambaran singa buas yang memiliki taring yang tajam seperti tombak dan panah serta lidah bagaikan pedang (ayat 5).

    Kesukaran yang dialami Daud hampir saja membuat imannya goyah. Di tengah tekanan para musuhnya,  ia memilih mengarahkan hati dan jiwanya kepada Allah dan memohon belas kasihan-Nya (ayat 2). Ia percaya bahwa Allah akan mengirim pertolongan dan menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapinya (ayat 3).

    Sahabat, dalam keyakinannya, Allah hadir dan menjawab permohonannya. Allah yang perkasa membalikkan keadaan sehingga jerat yang dipasang para musuhnya menjadi senjata makan tuan (ayat 7). Itu sebabnya Daud merasa aman dan dapat tidur lelap walau dirinya dikelilingi siasat keji dari para musuhnya (ayat 5). Karena itulah, perlindungan Allah dilukiskan Daud bagaikan sayap burung yang menopang hidupnya (ayat 2).
    Lewat pertolongan-Nya, ia menemukan kasih setia dan kebenaran Allah (ayat 4). Tidak heran apabila Daud bernyanyi, bersyukur, dan bermazmur bagi Allah (ayat 8-10). Dengan cara itu, ia mengumandangkan kemasyhuran, kemuliaan, kasih setia, dan kebenaran Allah yang melampaui kekuasaan yang ada di muka bumi (ayat 6 dan 11).

    Ingatlah! Sahabat, Allah yang kita kenal dalam Kristus bukan hanya Allah yang peduli, tetapi juga senantiasa bersama dengan kita. Semua kesukaran hidup yang kita alami tidak lebih besar daripada kasih setia-Nya. Arahkanlah hatimu kepada-Nya, maka Ia akan menolongmu. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Biarlah kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi! (pg)

  • Carilah TUHAN dan Kekuatan-Nya

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat. Semoga kita semakin punya kerinduan untuk mencari Tuhan dan kekuatan-Nya. Sahabat, jika sampai saat ini kita masih mampu menjalani dan menikmati hari demi hari, serta  kita masih dapat bernafas dan menghirup udara segar, itu semata-mata hanya karena anugerah Tuhan.

    Ketika kita menyadari betapa besar kasih Tuhan dalam hidup ini seharusnya kita semakin terdorong untuk mendekat kepada-Nya dan membangkitkan kerinduan kita untuk mengenal Dia lebih dalam lagi.  Tuhan berkata,  “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.”  (Hosea 6:6).

    Sahabat, mencari Tuhan dan wajah-Nya adalah perintah Tuhan bagi Umat-Nya agar memiliki pengenalan akan Dia lebih dekat dan semakin karib. Tuhan tidak ingin kita hanya mengejar berkat dan mukjizat-Nya saja, tetapi kita harus mengejar Sang Pemberi berkat dan mukjizat itu sehingga dengan sendirinya berkat dan mukjizat Tuhan justru akan mengejar kita.

    Selain itu Tuhan tidak ingin kita hanya mengejar karunia dan urapan-Nya, tetapi kita harus memiliki kehausan untuk mengejar kuasa Roh Kudus yang memberi karunia dan urapan itu, “Jika engkau mencari Dia, maka Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi jika engkau meninggalkan Dia maka Ia akan membuang engkau untuk selamanya” (1 Tawarikh 28:9-b).

    Sahabat, Tuhan menyediakan berkat bagi orang yang mencari Dia dengan sungguh seperti kata penulis Amsal, “Orang yang jahat tidak mengerti keadilan, tetapi orang yang mencari Tuhan mengerti segala sesuatu” (Amsal 28:5). Daud pun bersaksi,  “… orang-orang yang mencari Tuhan, tidak kekurangan sesuatu pun yang baik” (Mazmur 34:11-b).

    Maka tidak ada jalan lain selain kita harus meningkatkan keintiman dengan Tuhan melalui doa-doa kita.  Doa yang disertai dengan usaha keras dan rasa lapar menjangkau hadirat Tuhan dan tenggelam masuk ke sungai-Nya.

    Raja Daud menyadari benar betapa pentingnya memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan, tinggal dekat Tuhan.  Karena itu ia berkata,  “Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik.”  (Mazmur 84:11). 

    Sahabat, saat berada di rumah Tuhan Daud mengalami lawatan Tuhan.  Lawatan Tuhan selalu disertai dengan kebaikan dan kemurahan-Nya.  Karena itu Daud mempunyai kerinduan yang kuat untuk bersaksi dan menceritakan kasih, kemurahan, dan perbuatan-perbuatan Tuhan kepada orang lain.  “Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib! Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN!”  (1 Tawarikh 16:8-10).

    Ingatlah! Sahabat, Raja Daud memberi nasihat yang sangat berharga bagi kita untuk mencari Tuhan selalu. Jika saat ini kita sedang dalam pergumulan, mulailah mencari Tuhan. Jika saat ini kita sedang mengalami semua yang baik dalam hidup, carilah Tuhan. Jika kita sedang susah carilah Tuhan, jika kita sedang senang carilah Tuhan. Sekali lagi Firman Tuhan menasihati kita, “Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu” (Mazmur 105:4). Karena itu, janganlah jemu-jemu mencari Tuhan dan wajah-Nya dalam hidup kita sehari-hari. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. (pg)

  • JAGALAH PERKATAANMU

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan perkataan kita penuh dengan kasih dan tidak hambar. Sahabat, pepatah lama berkata, “Mulut kamu harimau kamu” yang artinya keselamatan dan harga diri kita tergantung pada perkataan kita sendiri. Ternyata sangat besar peranan perkataan dalam kehidupan. Kalau perkataan kita dapat dipegang, maka kita akan menjadi orang yang dapat dipercaya.

    Wouw! Kekuatan dari perkataan ternyata sangat luar biasa, karena itu kita perlu berhati-hati dengan ucapan kita.   Apalagi kita sebagai anak-anak Tuhan harus bisa menjadi kesaksian dalam perkataan kita,  “… Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (1 Timotius 4:12-b).

    Sahabat, menjaga sikap, tingkah laku dan perbuatan itu memang perlu dan baik. Namun jangan lupa bahwa ada bahaya yang mengancam lewat mulut yang tidak terjaga. Kita diingatkan untuk terus menjaga hati, karena yang diucapkan mulut meluap dari hati (Matius 12:34). Selain itu, ingatlah pesan penting dari Yakobus, “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;” (Yakobus 1:19).

    Tuhan Yesus sendiri mengingatkan kita mengenai pentingnya menjaga perkataan, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.” (Matius 12:36-37).

    Jangan sampai ketika kita menghadapi penghakiman, kita akan diperhadapkan pada daftar panjang perkataan sia-sia yang pernah kita ucapkan selama kita hidup. Seringkali kita mati-matian menjaga sikap, perbuatan dan tingkahlaku kita, namun mengabaikan soal mengeluarkan ucapan. Tidak berhati-hati dalam bercanda, kurang waspada dalam berbicara. Semua itu nanti harus kita pertanggungjawabkan. Apakah kita mempergunakan mulut untuk memuji dan menyembah Tuhan, mengucap syukur dan memberkati dan membangun orang lain, atau semua yang keluar hanya sumpah serapah dan lain-lain yang sia-sia sifatnya.

    Sahabat, lalu, bagaimana cara menjaga perkataan kita?  Pertama.  perkataan penuh kasih.  Artinya suatu perkataan yang penuh dengan keramahan dan didasari oleh kasih setelah terlebih dahulu dipertimbangkan dengan matang, sehingga orang lain yang mendengarnya dibangun, dikuatkan, dihibur serta didorong ke arah yang positif,  “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.”  (Efesus 4:29).  

    Kedua,   perkataan yang menyampaikan firman.  Nasihat Rasul Petrus, “Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; …”  (1 Petrus 4:11-a).  Perkataan kita hendaknya sesuai dengan firman Tuhan, bermuatan kesaksian dan nasihat sehingga orang yang mendengarnya diberkati.

    Ingatlah! Sahabat, mulut letaknya sama, namun dari mulut yang sama bisa keluar keduanya, baik berkat maupun kutuk. (Yakobus 3:10). Ini yang harus kita cermati dengan baik, agar segala ibadah kita jangan menjadi sia-sia. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong kita agar dari mulut kita selalu keluar berkat. (pg)