Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan tetap rukun-rukun selalu sebagai keluarga besar komunitas orang percaya. Sahabat, Anthony de Mello dalam bukunya yang berjudul: “Doa Sang Katak 2” bercerita tentang Mahatma Gandhi. Pada saat itu Mahatma Gandhi sebagai seorang mahasiswa di Amerika. Ia amat berminat untuk mengenal Yesus Kristus lebih dalam, khususnya khotbah Yesus di Bukit. Semula dia begitu yakin bahwa kekristenan merupakan jawaban yang tepat bagi sistem kasta yang mengganggu India berabad-abad lamanya.
Pada suatu hari Minggu dia pergi ke gereja, untuk mengikuti kebaktian. Akan tetapi dia dihentikan di depan pintu masuk gedung gereja dan diberitahu oleh petugas, “Kalau mau ikut kebaktian, Anda bisa melakukan itu di gereja khusus orang hitam di seberang sana. Dia begitu kecewa, kemudian pergi, dan tidak pernah kembali lagi.
Untuk itu mari kita menggali berkat dari Roma 15:1-13, di bawah judul: “Orang yang lemah dan orang yang kuat.”
Sahabat, ada pepatah Jawa mengatakan, “Asu gedhe menang kerahe”, yang artinya anjing besar menang dalam perkelahian. Namun, Rasul Paulus justru sebaliknya menasihati kita, “Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat … “ (ayat 1). Itu berarti kita yang sungguh-sungguh yakin akan apa yang kita percayai, haruslah bersabar terhadap keberatan-keberatan orang yang tidak terlalu yakin dengan apa yang dipercayainya.
Paulus melarang kita untuk menyenangkan diri sendiri. Sebaliknya, Sang Rasul menasihati warga jemaat di Roma untuk menyenangkan hati orang lain. Tentu saja bukan hanya menyenangkannya, tetapi alasan yang paling mendasar adalah demi kebaikan orang itu sendiri agar semakin dibangun dalam imannya (ayat 2).
Sebagai anggota jemaat Tuhan, kita harus berusaha untuk menciptakan kerukunan satu sama lain, supaya gereja tetap kuat dan kokoh. Meski memiliki latar belakang yang berbeda-beda (status, suku, pendidikan dan sebagainya) kita adalah satu, “… sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh,” (1 Korintus 12:12).
Sahabat, jadi kita harus menerima dan memperlakukan orang lain sebagai saudara, sebagaimana Kristus telah menerima dan melayani jiwa-jiwa tanpa pandang bulu, “supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.” (1 Korintus 12:25-26).
Memang bukan persoalan mudah, sehingga kita mesti meminta pertolongan Allah agar Dia memberikan karunia kerukunan kepada umat-Nya, yang berujung pada kemuliaan Allah! Menarik disimak bahwa kerukunan umat Allah tidak dimaksudkan untuk kemuliaan sendiri, tetapi dimaksudkan untuk kemuliaan Allah (ayat 6).
Ingatlah! Sahabat, Rasul Paulus menghimbau, “… terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah” (7). Itulah cara untuk mencapai kesatuan di antara umat Allah, yang kuat menerima yang lemah sama halnya dengan Kristus yang telah menerima baik yang kuat maupun yang lemah imannya. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. (pg)
Leave a Reply