
Author: Christopherus
-
Saling TOPANG MENOPANG
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan Tuhan beserta kita sepanjang hidup. Sahabat, pada umumnya ketika kita membaca kalimat tentang kehidupan yang disertai, maka pikiran kita akan langsung tertuju kepada Tuhan yang menyertai kita. Itu tidak salah, tapi kita tidak boleh melupakan bahwa seringkali kuasa penyertaan Tuhan itu seiring sejalan dengan cara Tuhan dalam menghadirkan orang-orang yang ada di sekitar untuk menyertai kehidupan kita. Melalui kehidupan orang-orang yang ada di sekitar kita, kuasa penyertaan Tuhan seringkali terjadi.
Pandemi Covid – 19 yang berkepanjangan membuat sebagian orang percaya merasakan adanya beban hidup yang menindih yang membuat mereka merasa lelah dan penat secara rohani. Dalam situasi seperti ini kita sangat membutuhkan kehadiran orang lain untuk menguatkan dan menopang, “Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!” (Pengkhotbah 4:9-10).
Sahabat, untuk itu mari kita menggali berkat dari Keluaran 17:8-16 di bawah judul: “Kemenangan orang Israel melawan orang Amalek.”
Ketika bangsa Amalek menyerang orang-orang Israel yang tengah berada di Rafidim, Musa segera memberikan perintah kepada Yosua untuk menyiapkan pasukan yang baik untuk berperang melawan bangsa Amalek. Tentu saja strategi perang juga dipercayakan kepada Yosua. Selain itu, Musa memberikan dukungan moral kepada Yosua bahwa ia akan berdiri di puncak bukit sambil memegang tongkat Allah sebagai simbol kuasa dan perlindungan Allah. Begitulah keduanya menjalankan peran dan fungsinya masing-masing (ayat 8-10).Strategi dan kekuatan militer yang dilakukan Yosua beserta pasukan Israel ditopang oleh kuasa Allah melalui Musa, dibantu Harun dan Hur, dengan mengangkat tongkat Allah sebagai tanda permohonan agar Allah menyatakan kuasa dan perlindungan-Nya sehingga peperangan tersebut dapat dimenangkan oleh bangsa Israel (ayat 11-13).
Sahabat, begitulah pengakuan yang harus diingatkan kepada bangsa Israel turun-temurun bahwa Tuhanlah yang berperang melawan musuh. Tuhanlah yang memberikan panji kemenangan bagi umat pilihan-Nya (ayat 14-16).
Pelajaran yang kita dapatkan: sekalipun merasa lelah dan penat, tapi bila ada yang menopang, maka musuh pasti dapat dikalahkan. Karena itu, firman Tuhan menasihati kita untuk saling menopang dan menguatkan di antara saudara seiman, “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2).
Ingatlah! Sahabat, Allah merupakan sumber kehidupan, kekuatan, perlindungan, dan penghiburan. Kita patut bersyukur karena Tuhanlah yang ada di balik kemenangan kita. Sesungguhnya kekristenan identik dengan kasih, yaitu kasih yang bukan sekadar slogan, melainkan kasih yang disertai dengan tindakan nyata. Jika ada saudara kita sedang lemah tak berdaya, adakah kita tergerak hati untuk menolongnya? Rasul Paulus mengingatkan, “Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri.” (Roma 15:1). Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. (pg). -
JATUH CINTA kepada TAURAT TUHAN
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh cinta. Sahabat, apakah kamu pernah merasakan jatuh cinta? Kata Titiek Puspa, jatuh cinta itu berjuta rasanya. Biar siang biar malam terbayang wajahnya. Jatuh cinta itu berjuta indahnya. Biar hitam biar putih manislah nampaknya. Hampir semua orang pasti pernah merasakan apa yang namanya jatuh cinta. Cinta membuat hati orang berbunga-bunga, dunia terasa menjadi milik berdua, yang lain menumpang. Ketika terpisah oleh jarak, rasa rindu pun menyerang, hasrat ingin bersua pun bergelora. Rasa rindu dan cinta akan terobati ketika mereka berjumpa dan menghabiskan waktu bersama.
Sebuah ungkapan cinta ditulis lengkap oleh Daud dalam Mazmur 119:97-104. Bukan kepada seseorang, tetapi tentang rasa cintanya yang begitu menggelora kepada Taurat Tuhan. Sebenarnya tidak hanya dalam Mazmur 119 saja, tetapi jika kita melihat isi dari kitab Mazmur, maka kita akan menemukan ada begitu banyak ayat yang menyatakan kecintaan sang Penulis kepada Taurat Tuhan. Tapi mengingat keterbatasan halaman, kali ini mari kita batasi hanya menggali pasal 119:97 – 104. Daud menggambarkan dengan indah mengenai rasa cintanya dan apa yang dia perbuat kepada Taurat Tuhan yang sangat ia cintai itu. Dengan antusias Daud berseru, “Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari.” (ayat 97).Dalam Mazmur 119:97-104 Daud menyatakan diri sebagai seorang yang sedang jatuh cinta. Rasa cinta yang mendalam ia tujukan kepada Taurat Tuhan. Ada cukup banyak orang percaya menganggap bahwa membaca dan merenungkan firman Tuhan adalah kuno, ketinggalan zaman, pekerjaan yang sangat membosankan dan menjadi beban tersendiri. Karena itu mereka melakukannya tidak dengan sepenuh hati, tapi setengah hati atau terpaksa.
Berbeda dengan Daud yang menjadikan Taurat Tuhan sebagai kesukaan, “Betapa kucintai Taurat-Mu!” (ayat 97). Karena mencintai Taurat Tuhan maka Daud merenungkannya sepanjang hari. Mengapa Daud begitu mencintai Taurat Tuhan?
Daud mengungkapkan betapa ia mencintai Taurat Tuhan yang dapat membuatnya lebih bijaksana (ayat 98), lebih berakal budi (ayat 99), dan lebih memiliki pengertian (ayat 100, 104). Taurat Tuhan berkuasa menahan agar seseorang tidak berjalan dalam kejahatan (ayat 101-102). Taurat Tuhan berisi janji-janji Tuhan yang membuat hidupnya bergairah (ayat 103). Taurat Tuhan menjadi petunjuk bagi hidupnya (ayat 104).
Ingatlah! Sahabat, bagi Daud, firman Tuhan diibaratkan sebagai pelita yang menerangi jalan hidupnya (105). Tanpa cahaya terang, niscaya kita akan mudah tersandung, tersesat dan menempuh perjalanan yang berisiko. Sayangnya, kita sebagai orang percaya sering tidak sungguh-sungguh menyadarinya. Akibatnya, kita pun tidak dapat menyenangkan Allah melalui ketaatan kita pada firman-Nya. Nah, tunggu apalagi, marilah kita menyediakan waktu setiap hari untuk membaca dan merenungkan firman Allah, agar hidup kita semakin dituntun oleh terang-Nya. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan punya seribu satu cara untuk menolong kita agar kita jatuh cinta berulang kali kepada firman-Nya. (pg)
-
KEHIDUPAN yang senantiasa BERSUKACITA
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat. Semoga dalam menjalani dan menikmati hidup, kita senantiasa dapat memandang kepada Tuhan. Sahabat, senantiasa memandang TUHAN adalah sikap orang percaya yang baik. Bagaimana pun keadaan dan pergumulan hidup yang sedang kita alami, kita harus tetap memandang TUHAN. Daud memberikan contoh dan teladan iman bagi kita untuk selalu memandang kepada Tuhan dalam segala langkah, “Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah” (Mazmur 16:8)
Mazmur 16:1-11 merupakan suatu doa permohonan dan pengakuan iman yang sangat menyentuh realitas kehidupan sehari-hari. Mazmur ini mengajarkan dan menggambarkan dengan jelas bahwa hanya ada satu sumber sukacita, sumber kebahagiaan, sumber perlindungan, dan sumber keselamatan. Tidak ada sumber lainnya yang kekal di luar Tuhan. Harta dan kepunyaan kita yang terbesar adalah beriman kepada Allah. Hanya di dalam Dialah hati kita bersukacita, jiwa kita bersorak-sorak, dan tubuh kita akan diam dengan tenteram. (ayat 7 – 11)
Sahabat, Daud mengerti benar bahwa sukacita dan sorak-sorai bukanlah bergantung dari berat-ringannya situasi yang sedang ia hadapi. Tetapi ia percaya bahwa dengan memandang kepada Tuhan, menyadari kehadiran Tuhan yang selalu berjalan di sebelah kanannya dengan setia, akan membuatnya mampu untuk terus berdiri tegak meski situasi sama sekali tidak kondusif.
Bagi Daud, kehadiran Tuhan bersamanya merupakan kunci utama yang membuatnya mampu terus hidup dengan penuh sukacita dan keriangan. Bersama Tuhan dia tidak perlu takut. Bersama Tuhan ada solusi, jawaban, pertolongan bahkan kemenangan. Bersama Tuhan kita akan selalu bisa bersukacita. Itu benar-benar disadari Daud..
Senada dengan Daud, Rasul Paulus dalam Filipi 4:4-9 memberi nasihat kepada jemaat di Filipi agar memilih kehidupan yang senantiasa bersukacita. Bahkan ia menegaskan, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (ayat 4).
Senantiasa bersukacita artinya sukacita yang kita miliki tidak tergantung pada suasana hati atau kondisi yang sedang kita alami. Bersukacita senantiasa bukan hal yang mustahil ketika kita menyerahkan segala kekhawatiran kepada Allah di dalam doa (ayat 6). Lebih lanjut, Paulus menasihatkan agar kita selalu berpikir positif (ayat 8). Dengan demikian, damai sejahtera Allah akan memelihara hati dan pikiran kita sehingga kita memiliki sukacita yang melimpah (ayat 7).
Sahabat, hati yang bersukacita memancarkan kekuatan, sebaliknya sungut-sungut hanya menambah beban. Situasi kehidupan yang sulit memang tidak akan berubah begitu saja ketika kita memilih untuk tetap bersukacita. Sukacita memang tidak mengubah keadaan tetapi memberikan kekuatan untuk mengatasi setiap kesukaran yang ada.Ingaltah! Sahabat, sadarilah bahwa beban kehidupan akan selalu datang silih berganti. Kabar baiknya adalah, Tuhan tahu dan mengerti pergumulan kita. Dia mendengar dan sangat peduli terhadap semua itu. Yesus berkata, “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28). Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. (pg).
-
HIKMAT: Lebih BERHARGA daripada PERMATA
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh hikmat. Sahabat, rasanya kita semua setuju bahwa permata itu merupakan benda berharga. Tidak saja indah, berkilau, tapi permata juga bisa menaikkan gengsi, menjadi ukuran kekayaan, mengangkat martabat seseorang, dan lain sebagainya. Pada masa Perjanjian Lama, adalah hal lumrah untuk menjadikan permata sebagai persembahan bagi raja-raja.
Namun ada ungkapan yang sangat menarik yang disampaikan oleh raja Salomo yang terdapat di Amsal 8:11, “Karena hikmat lebih berharga dari pada permata, apapun yang diinginkan orang, tidak dapat menyamainya.”
Sahabat, apakah hikmat itu? Wikipedia menyatakan hikmat adalah suatu pengertian dan pemahaman yang dalam mengenai orang, barang, kejadian atau situasi, yang menghasilkan kemampuan untuk menerapkan persepsi, penilaian dan perbuatan sesuai pengertian tersebut. Seringkali membutuhkan penguasaan reaksi emosional seseorang supaya prinsip, pertimbangan dan pengetahuan universal dapat menentukan tindakan seseorang. Hikmat juga berarti pemahaman akan apa yang benar dikaitkan dengan penilaian optimal terhadap suatu perbuatan.
Sahabat, permata itu berharga, benar. Tapi Salomo, si raja terkaya justru mengatakan bahwa ada sesuatu yang lebih berharga dari permata. Kalau Salomo mengatakan hikmat itu lebih berharga daripada permata, itu tidak berarti bahwa Salomo menganggap rendah nilai permata. Salomo justru mau bilang ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada permata, kemewahan dan kekayaan, yaitu hikmat. Apapun yang termahal yang pernah diinginkan orang tidak akan pernah bisa menyamai harga dari hikmat.
Hikmat adalah hal yang sangat penting yang harus dimiliki oleh setiap orang percaya, sebab dengan hikmat, orang dimampukan untuk membuat keputusan dengan benar, dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak.
Hikmat tidaklah sama dengan kecerdasan atau intelektual. Orang dengan indeks prestasi tinggi, punya banyak gelar yang setinggi langit sekalipun tidak menjamin bahwa mereka pasti punya hikmat dalam hidupnya. Sahabat bisa membeli permata atau batu mulia lainnya yang paling indah kapan saja jika Sahabat punya uang yang cukup untuk itu. Sedangkan hikmat adalah sesuatu yang tidak dapat dibeli, tidak dapat dicari, tidak dapat dicuri, dan tidak akan lenyap. Itu sebabnya hikmat ini lebih berharga dari permata.
Daud adalah contoh orang yang penuh hikmat. Karena hikmatnya ini Daud mampu menjadi pemimpin yang benar-benar dikagumi oleh rakyatnya seperti tertulis, “… perkataan tuanku raja tentulah akan menenangkan hati, sebab seperti malaikat Allah, demikianlah tuanku raja, yang dapat membeda-bedakan apa yang baik dan jahat. Dan TUHAN, Allahmu, kiranya menyertai tuanku.” (2 Samuel 14:17). Ingatlah! Sahabat, hikmat yang dimiliki Daud adalah buah dari persekutuannya yang karib dengan Tuhan dan ketekunannya dalam merenungkan firman Tuhan di sepanjang hidupnya, “Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari. Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku. Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan.” (Mazmur 119:97-99). Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. (pg)
-
ALLAH Kota Benteng yang TEGUH
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat. Semoga kita masih dapat menikmati damai sejahtera Allah di tengah banyak bencana alam terjadi di mana-mana. Sahabat, ada banyak hal yang menakutkan yang kita hadapi di dalam hidup ini. Saat ini yang paling menonjol yaitu masalah pendemi Covid-19 dan bencana alam yang susul menyusul terjadi di beberapa daerah di Indonesia.
Dalam situasi yang masih mencekam akibat pandemi Covid-19 dan bencana alam, mari kita menggali berkat dari perikop yang berjudul, “Allah, kota benteng kita” yang terdapat di Mazmur 46:1-12. Pemazmur mengingatkan bahwa kita punya Allah yang menjadi kota benteng. Perhatikan bagaimana pemazmur sangat menegaskan hal tersebut dengan menyebutkannya sebanyak dua kali, di ayat 8 dan 12.Sebagai kota benteng, Allah adalah tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti (ayat 2).Sahabat, di zaman dahulu setiap kota selalu memiliki benteng, pintu gerbang kota dan juga tembok yang mengelilingi kota itu, dengan tujuan supaya kota itu terjaga aman dan terlindungi dari serangan musuh. Namun bagaimanapun juga perlindungan dan penjagaan yang dibangun oleh manusia adalah terbatas adanya, tidak seratus persen dapat memberikan jaminan keamanan dan keselamatan yang sempurna, “… jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.” (Mazmur 127:1-b).
Allah adalah kota benteng kita yang teguh. Oleh karena itu, pemazmur mendorong kita agar di tengah kesukaran yang sedang terjadi, kita memandang pekerjaan Tuhan (ayat 9) dan berdiam diri di hadapan-Nya (ayat 11).Frasa “pandanglah pekerjaan Tuhan” (ayat 9) mengacu pada tindakan mengingat apa yang telah Tuhan kerjakan di dalam hidup kita dan di bumi ini. Ingat dan lihatlah sekelilingmu! Perhatikan betapa Allah punya kuasa untuk mengatur segala sesuatu demi kebaikan kita.
Kemudian, frasa “Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah!” (ayat 11) menegaskan bahwa apapun yang terjadi dalam hidup kita, hendaknya kita berdiam diri dan tidak mengandalkan kekuatan sendiri, sebaiknya mengandalkan Tuhan. Sekalipun bencana alam menimpa, didera sakit penyakit, pandemi masih merajalela atau persoalan hidup apapun yang membuat kita takut dan gentar, maka pandanglah kepada Tuhan. Andalkanlah Dia senantiasa karena Dialah kota benteng kita yang teguh.
Sahabat, pertolongan, perlindungan dan kekuatan yang sejati hanya kita dapatkan di dalam Tuhan, karena Dia adalah benteng hidup kita. Ada tertulis, “Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN.” (Yesaya 31:1). Ingatlah! Sahabat, seberat bagaimana pun masalah dan tantangan yang kita hadapi, jika kita mau bersandar dan berserah penuh kepada Tuhan, kita pasti beroleh kekuatan untuk menanggungnya, “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” (2 Timotius 1:7). Saat itulah kita pun dapat berkata, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13). Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. (pg)



