Author: Christopherus

  • JATUH, namun BANGUN kembali

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan penuh syukur karena ketika kita mengalami kegagalan, kita dapat bangkit dan meraih keberhasilan. Sahabat, sesungguhnya  semua orang pasti pernah mengalami kegagalan di sepanjang hidupnya, bukan sekali atau dua kali, tapi mungkin berkali-kali, lebih dari jumlah jari tangan kita. Apa respons kita dengan kegagalan-kegagalan kita? Sebagai orang percaya kita dididik dan dilatih untuk tidak mudah menyerah dalam situasi bagaimana  pun, melainkan terus berdoa dan berjuang untuk bangkit kembali. 

    Sahabat, setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus menyandang predikat baru sebagai orang benar.  Yang menjadi masalah, ada cukup banyak orang yang berasumsi bahwa sebagai orang benar,  perjalanan hidup yang kita tempuh akan terus mulus dan kalis dari kegagalan dan kejatuhan.  Tetapi Daud meyakinkan,  “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.”  (Mazmur 37:23-24).  Itu berarti orang benar bisa saja jatuh sewaktu-waktu. 

    Adam dan Hawa yang diciptakan oleh Tuhan segambar dan serupa dengan diri-Nya, dapat jatuh dalam dosa.  Kejatuhan mereka  sebagai akibat dari ketidaktaatan mereka sendiri, karena termakan oleh tipu muslihat dari si Iblis.

    Namun selama kita masih berada di zaman anugerah, Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita untuk bangkit,  “Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.”  (Amsal 24:16). 

    Tentu saja, hal tersebut tidak sekadar berbicara soal tekad dan semangat untuk bangkit, tetapi merespons kegagalan dengan cara yang tepat supaya kegagalan yang ada tidak sampai terulang lagi. Evaluasi diri, belajar dari kesalahan, mendengar nasihat atau petuah dari orang lain, dan tidak lupa membawa rencana ini dan itu kepada Tuhan, adalah beberapa cara yang dapat dilakukan dalam rangka bangkit dari kegagalan atau kejatuhan. Meratapi nasib dan sedih berkepanjangan, apalagi menyalahkan Tuhan, sama sekali bukanlah tindakan yang bijak untuk merespons kegagalan

    Sahabat, ada kalanya, ketika  kita mengalami kegagalan demi kegagalan, kita merasa lelah untuk berdoa, berharap, dan berjuang, lalu kita mulai membuat banyak  alasan untuk berhenti berdoa dan berusaha. Salomo mengingatkan, “Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai.”  (Pengkhotbah 11:4).  Tuhan tidak menghendaki kita terpaku kepada kegagalan-kegagalan masa lalu, melainkan terus maju menatap ke depan.

    Justru kita harus menjadikan kegagalan sebagai cambuk untuk kita keluar dari zona nyaman dan mengizinkan Tuhan untuk bekerja lebih dan lebih lagi di dalam hidup kita,  “… aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.”  (Filipi 1:6). 
    Ingatlah! Sahabat, tetaplah percaya kepada Tuhan bahkan saat kita berada di titik nadir sekali pun dan tak berdaya, “Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel. Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu.”  (Mazmur 121:3-5).  Janji Tuhan adalah ya dan amin, tiada janji yang tak ditepati-Nya! Selamat ulang tahun ke-49 Yayasan Christopherus. Peganglah pesan Rasul Paulus, “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dab layanilahg Tuhan.” (Roma 12:11). (pg)

  • MELAMBATKAN TEMPO Kehidupan Kita

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan terus mengingat segala kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Sahabat, Daud dalam Mazmur 40:1-18 mengajak kita untuk melihat ke masa lampau. Tuhan telah banyak melakukan perbuatan yang besar bagi umat-Nya, termasuk kita. Perbuatan-perbuatan itu menjadi saksi atas kebaikan Allah. Itu berarti kita tidak akan pernah kehabisan alasan untuk mengucap syukur kepada Tuhan. Jika kita merasa tidak ada hal yang bisa kita syukuri, maka sangat mungkin hal itu terjadi karena kita kurang menaruh perhatian kepada apa yang Allah telah kerjakan di dalam hidup kita dan sekitar kita, termasuk gereja lokal kita, juga lembaga/usaha tempat kita bekerja.

    Sesungguhnya Allah kita hidup dan Ia terus berkarya. Ia tidak pernah tertidur dan Ia tidak pernah tidak peduli. Ini berlawanan dengan konsep Deisme yang menyatakan bahwa Allah telah menciptakan dan pergi meninggalkan ciptaan-Nya. Sebaliknya, Allah terus aktif dan terus menyertai umat-Nya.

    Sahabat, Carl Honoré,  dalam bukunya yang berjudul: “In Praise of Slow”, dengan tepat membidik fenomena dunia masa kini, yang olehnya disebut tengah dibungkam oleh mitos kecepatan. Kecepatan menjadi “Dewa Zaman Kini”. Segala hal yang berbau cepat dipandang bagus dan baik, bahkan ada yang menganggapnya terbaik dan mengidolakannya. Karenanya, orang-orang zaman now sepertinya dipacu untuk bergerak lebih cepat dan membuat sesuatu yang super cepat.

    Saya akui kecepatan memang bisa mendatangkan banyak kebaikan. Lalu, apakah yang lambat berarti buruk atau tidak baik? Hal inilah yang coba dikritisi oleh Honoré dalam bukunya tersebut. Apa yang lambat bisa juga mendatangkan kebaikan. Misalnya: mengunyah makanan. Bukankah ilmu kesehatan mengingatkan kita untuk mengunyah 30-an kali untuk satu suapan makanan? Dengan mengunyah secara lambat, maka makanan yang ada menjadi hancur dan lunak dengan baik serta bercampur dengan enzim. Dampaknya, lambung kita tidak bekerja dengan berat. Enzim dalam tubuh pun bisa lebih dihemat. Jadi, apa yang lambat tidak selalu buruk. Itulah sebabnya, Honoré memberi judul pada bukunya: “In Praise of Slow” (Memuja Kelambatan).

    Sahabat, dalam kaitan dengan kehidupan beriman, situasi dunia yang terasa menuntut kita untuk bergerak cepat, bukan tidak mungkin membuat kita terburu-buru dalam berelasi dengan Tuhan. Kehidupan saat teduh kita, entah kita laksanakan di pagi atau malam hari,  kita lakukan serba tergesa-gesa. Kalau tidak cepat, takut terlambat atau tugas kita hari ini tidak selesai. Alhasil, dalam dunia yang dibungkam oleh mitos kecepatan, bukan tidak mungkin menghasilkan kekeringan spiritual dalam diri orang percaya. Kehadiran dan perbuatan Tuhan dalam kehidupan kita tidak terlalu dirasakan, sebab banyak hal  dibiarkan berlalu dengan begitu cepat.

    Daud dalam Mazmur 40, menyatakan bahwa ia mengalami banyak perbuatan Tuhan yang ajaib. Dalam ayat 2, ia menyatakan sebagai pribadi yang menanti-nantikan Tuhan. Itu berarti, ia dengan sengaja meluangkan waktunya, untuk merasakan kehadiran dan pertolongan Tuhan. Sesungguhnya Daud merupakan manusia biasa, seperti  kita: punya masalah, ada beban dalam kehidupannya, mengalami pasang surut, dan bisa sakit. Ia membutuhkan pertolongan Tuhan. Pada saat ia melambatkan tempo kehidupannya dengan menantikan pertolongan Tuhan, lalu ia merasakan perbuatan Tuhan yang ajaib atas hidupnya. Berdasarkan pengalamannya tersebut, ia menyatakan bahwa orang yang percaya kepada Tuhan adalah berbahagia, sebab Tuhan sungguh hadir dan bertindak (ayat 5 dan 6).

    Ingatlah! Sahabat,  kehidupan ini terlalu indah untuk dilalui dalam situasi serba cepat. Melambatkan tempo kehidupan kita bukan berarti kita sedang tidak menghargai waktu anugerah Tuhan. Melambatkan tempo kehidupan kita, akan menolong kita untuk lebih merasakan kehadiran dan perbuatan-Nya di dalam kehidupan kita, “Banyaklah yang telah Kaulakukan, ya TUHAN, Allahku, perbuatan-Mu yang ajaib dan maksud-Mu untuk kami. Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Engkau! Aku mau memberitakan dan mengatakannya, tetapi terlalu besar jumlahnya untuk dihitung.” (ayat 6). Selamat ulang tahun ke-49 Yayasan Christopherus. Pf.: 3 Mei 2021. “Semua untuk Kristus, Kristus untuk Semua.” (pg)

  • Sebab TUHAN BAIK

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan tetap setia memerhatikan jam-jam ibadah kita, terutama di hari Minggu. Sahabat, melalui ibadah, kita menundukkan diri untuk mengungkapkan rasa takzim dan takjub  kita kepada Tuhan.  Ini merupakan wujud respons kita kepada Tuhan sebagai Pencipta, Penebus  dan juga Gembala kita.  Wujud pernyataan kasih kita kepada Tuhan, karena Dia lebih dulu mengasihi kita, rela turun ke dunia untuk menebus dan menyelamatkan kita.  Selayaknya kita sebagai umat ciptaan-Nya menyembah Dia, menyatakan syukur karena kasih dan kebaikan-Nya.

    Ada banyak hal sebenarnya yang bisa mendatangkan sukacita bagi kita. Salah satunya adalah dengan menyadari betapa baiknya Tuhan itu. Dalam kitab Yesaya kita bisa menemukan hubungan yang indah antara menyadari kebaikan Tuhan dengan datangnya perasaan sukacita (Yesaya 63:7).

    Sahabat, ketika pertolongan Tuhan hadir, kadang  kita dengan cepat melupakan kebaikan-Nya. Atau ketika keadaan baik-baik saja, kita pun terlena dan tidak bersyukur. Ada pula orang yang masih saja menggerutu meski keadaannya tidaklah begitu parah. Apakah dengan hadirnya masalah atau sakit penyakit, itu artinya Tuhan tidak baik? Tentu saja tidak. Ada banyak alasan mengapa kita harus tetap melalui lembaran-lembaran sulit dalam perjalanan hidup kita. Bisa jadi Tuhan sedang melatih otot rohani kita, bisa jadi itu untuk memberi pelajaran bagi kita, bisa jadi pula akibat dosa kita sendiri.

    Ketika Yesus datang ke bumi, Ia langsung turun tangan menyelamatkan umat manusia, menebus kita dalam kasih dan belas kasih-Nya yang begitu besar. Untuk itu saja kita sudah sangat pantas mengucap syukur dengan tiada henti.

    Di zaman Salomo kita bisa menemukan sebuah lagu pujian yang dipersembahkan kepada Tuhan dengan megahnya lewat ensambel besar, “Demikian pula para penyanyi orang Lewi semuanya hadir, yakni Asaf, Heman, Yedutun, beserta anak-anak dan saudara-saudaranya. Mereka berdiri di sebelah timur mezbah, berpakaian lenan halus dan dengan ceracap, gambus dan kecapinya, bersama-sama seratus dua puluh imam peniup nafiri. Lalu para peniup nafiri dan para penyanyi itu serentak memperdengarkan paduan suaranya untuk menyanyikan puji-pujian dan syukur kepada TUHAN. Mereka menyaringkan suara dengan nafiri, ceracap dan alat-alat musik sambil memuji TUHAN dengan ucapan: ‘Sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.’ Pada ketika itu rumah itu, yakni rumah TUHAN, dipenuhi awan.” (2 Tawarikh 5:12-13).

    Lihatlah lagu pujian yang menyatakan kebaikan Tuhan itu mampu membuat kemuliaan-Nya turun dari langit. Kebaikan Allah haruslah selalu kita ingat, dari sana kita bisa beroleh sumber sukacita yang hebat dari Tuhan sendiri.

    Sahabat, perhatikanlah himbauan  Pemazmur berikut,  “Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!” (Mazmur 100:2). Mengapa himbauan tersebut dinyatakan Pemazmur? Alasannya sederhana, “Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.” (Mazmur 100:5). Ingatlah! Sahabat, Pemazmur menyadari betul bahwa Tuhan itu baik. Kasih setia-Nya berlaku untuk selama-lamanya dan turun temurun. Kebaikan dan kemurahan Tuhan itu berlaku tidak hanya sesaat tapi sepanjang masa. Maka Daud bersaksi, “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.” (Mazmur 23:6). Selamat ulang tahun ke-49 Yayasan Christopherus. Jagalah Api-Nya agar tetap menyala di hati dan hidup kita. (pg)

  • AYUB sendiri MEMANDANG ALLAH

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh sukacita. Semoga kita dengan penuh sukacita berani  menceritakan pengalaman hidup kita bersama dengan Tuhan. Sahabat, membaca renungan  yang dihidupi selama bertahun-tahun, dampaknya  tentu akan berbeda dengan renungan yang hanya ditulis berdasarkan kemampuan penulis dalam menguasai ilmu tafsir tanpa disertai pengalaman pribadi. Pengalaman pribadi dapat menghidupkan isi renungan karena seseorang berbagi dengan segenap hatinya.

    Tragedi yang dialami oleh Ayub, seandainya Ayub berkesempatan menceritakan langsung kisah hidupnya hingga ia sendiri memandang Allah, pastilah akan sangat punya kekuatan yang dahsyat, bahkan sanggup dipakai Allah untuk mengubahkan hati dan hidup para pendengarnya. Mengapa? Karena Ayub menghidupi pesannya, tak hanya piawai berbicara!

    Selanjutnya kita akan menggali berkat dari Ayub 42:1-6 di bawah judul: “Ayub mencabut perkataannya dan menyesalkan diri.”

    Yang menarik, saat asyik beradu argumentasi tentang kondisi Ayub, justru kata terakhir Tuhan  kurang dipedulikan oleh mereka. Mereka hanya berkutat pada kondisi Ayub yang ditafsir sebagai keberdosaan Ayub. Akhirnya, Tuhan mengintervensi perdebatan mereka dan Ia memberikan kata akhir, bukan untuk istri dan para sahabat Ayub, tetapi justru untuk Ayub sendiri.

    Sahabat, yang terjadi, sikap takjub dan takzim Ayub tidak hanya diungkapkan dengan menutup mulut (Ayub 39:37) dan bungkam seribu bahasa, tetapi juga Ayub membuat pengakuan iman, “…  Engkau (Tuhan) sanggup melakukan segala sesuatu dan tidak ada rencana-Mu yang gagal” (ayat 2).

    Berlandaskan pengakuan tersebut, meskipun Ayub belum melihat nasibnya di kemudian hari, ia sudah bisa bangkit (move on) dari keterpurukan. Ayub tidak lagi memusatkan perhatiannya pada dirinya sendiri dengan segala situasi dan kondisinya, bahkan yang paling buruk sekali pun. Seperti warna putih akan terasa lebih menonjol saat disandingkan dengan warna hitam pekat, begitulah kira-kira pengalaman Ayub.

    Dengan nada yang agak berlebihan tetapi jujur, Ayub mengatakan, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau” (ayat 5). Tindak lanjut pertama yang diambil oleh Ayub adalah menyesali sikapnya dan ia mencabut perkataan yang telah dilontarkannya kepada Tuhan (ayat 6).

    Ingatlah! Sahabat, Ayub adalah seorang yang berhasil.  Sebagai orang yang berhasil bukan berarti Ayub tidak pernah gagal dalam hidupnya.  Ayub pun harus mengalami kegagalan demi kegagalan, penderitaan dan keterpurukan, bahkan sempat mencapai titik nadir.  Namun Ayub tidak pernah menyerah dan putus asa di tengah jalan.  Ia tetap bangkit dan mengarahkan pandangannya kepada Tuhan.  Ayub tetap bersyukur kepada Tuhan.  Di tengah keterpurukannya Ayub masih dapat berkata,  “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!”  (Ayub 1:21) dan “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.”  (Ayub 2:10-b). Tuhan memberkati Sahabat dengan keluarga. (pg)

  • Bak POHON yang DITANAM di tepi aliran AIR

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan penuh syukur. Kita hidup karena percaya bukan hanya karena melihat. Sahabat, kehidupan kita seringkali berada dalam ketegangan tarik-ulur antara apa yang ada di hadapan mata dan apa yang masih harus diperjuangkan, antara apa yang terlihat dan apa yang diimani, antara kenyamanan dan kewajiban.

    Hidup mengandalkan Tuhan adalah kunci keberhasilan. Pernyataan tersebut benar. Namun, apakah pengertian mengandalkan Tuhan itu? Bagaimana wujudnya? Apakah berarti kita cukup berdoa saja? 

    Untuk mendapatkan pemahaman tentang hidup mengandalkan Tuhan, kita akan belajar dari  Yeremia 17:1-18 di bawah judul: “Pergumulan nabi oleh karena bangsa yang berdosa.”

    Dalam ayat 5 dikatakan, “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!”  Ada akibat yang sangat mengerikan jika seseorang lebih mengandalkan manusia dan kekuatannya sendiri, bukan hanya tidak mendatangkan berkat, melainkan akan mendatangkan kutuk.

    Sahabat, Tuhan memberi vonis berat kepada Yehuda,  karena mereka mencari apa yang di depan mata dan kenyamanan. Tuhan menginginkan mereka hidup bagi-Nya  dan membuat pilihan-pilihan dengan mengandalkan Tuhan.  Karena umat Yehuda mengandalkan diri sendiri untuk mendapatkan kekayaan dan kenikmatan hidup, semua itu jadi dirampas orang lain, bahkan umat akan mengalami kejatuhan besar dari kehidupan makmur, hingga menjadi budak di tanah asing.

    Sangat menarik, Yeremia mengontraskan kehidupan umat Yehuda yang mengandalkan diri dan kenikmatan sesaat dengan kehidupan orang-orang yang mengandalkan Tuhan, bagaikan padang gurun dan semak bulus yang senantiasa dalam kekeringan (ayat 5-6) dengan pohon yang ditanam di tepi aliran air (ayat 7-8). Walaupun pohon yang ditanam di tepi aliran air bisa jadi akan mengalami masa-masa berat dalam kehidupan, tetapi ia mendapatkan kekuatannya dari Tuhan yang selalu memasok akarnya dengan air kehidupan. Keadaan hidup boleh penuh masalah, tetapi daunnya tetap hijau dan ia tetap menghasilkan buah.

    Sahabat, Yeremia mengakui bahwa kehidupannya sebagai orang beriman memang sangat berat (ayat 14-15). Cemooh dan pencobaan datang silih berganti, tetapi orang beriman harus menggunakan kacamata yang berbeda dalam memandang hidup. Prioritas hidup kita harus berbeda.

    Kita percaya pada Tuhan yang menyelidiki hati, menguji batin, dan menilik setiap detail kehidupan kita (ayat 10); Ia akan melindungi kita pada hari malapetaka (ayat 17) dan menjaga kita hingga akhir (ayat 18), selayaknya seorang gembala menjaga domba dombanya (bdk. Yohanes 10:14-15). Pada-Nya kita temukan kenyamanan dan keamanan sejati dalam hidup.

    Ingatlah! Sahabat, mengandalkan Tuhan dengan benar berarti menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan, satu-satunya yang kita inginkan. Tanpa Tuhan, kita tidak berdaya. Bersama Tuhan, kita merasa cukup. Segala tindakan kita bersumber dan ditujukan pada Tuhan. Merasa bahagia saat melakukan segala sesuatu bagi Tuhan. Melakukan tugas dengan baik dan benar serta penuh tanggung jawab, baik tugas di rumah tangga, di tempat kerja, di gereja, maupun di tengah masyarakat. Ya, mengandalkan Tuhan berarti menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya sumber sukacita dan motivasi hidup kita. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. (pg)