Author: Christopherus

  • PERCAYALAH dan BERTINDAKLAH!

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena kita meyakini bahwa bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Sahabat, masih ingat dengan acara I’m Possible yang  merupakan acara gelar wicara yang disiarkan di Metro TV?  Acara  tersebut dipandu oleh motivator ternama, Merry Riana. Sering dia berseru: “Dari Impossible menjadi I’m possible”.

    Sahabat, sesungguhnya jika kita memiliki iman, maka tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya (Markus 9:23). Itulah yang ditekankan oleh Tuhan Yesus bahwa iman tidak mengenal hal yang mustahil. Impossible menjadi I’m possible. Semua itu terjadi bukan karena kehebatan manusia, akan tetapi karena pertolongan dan kuasa Allah yang tidak terbatas.

    Dalam Injil Lukas 17:11-19 diceritakan bahwa ada sepuluh orang yang menderita sakit kusta datang kepada Kristus dan memohon belas kasihan dari-Nya,  “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”  (ayat 13).  Mereka tidak dapat mendekati Yesus karena hukum Ibrani melarang orang kusta mendekati siapa pun. Sepuluh orang kusta itu tidak langsung meminta Yesus memberi kesembuhan. Mereka hanya meminta belas kasih-Nya agar sudi melihat penderitaan mereka.

    Sahabat, Yesus mendengar teriakan mereka dan menunjukkan kasih-Nya. Akan tetapi, apa yang Ia lakukan kemudian? Yesus tidak langsung menyembuhkan mereka. Ia pun tidak menjanjikan kesembuhan. Yesus terlebih dahulu ingin menguji ketaatan mereka. Ia memerintahkan agar mereka pergi menemui imam. Ternyata, para penderita kusta itu memiliki iman untuk menaati Yesus. Mereka menerima tantangan dan membuktikan ketaatannya. Setelah itu, kesembuhan pun terjadi (ayat 14).

    Dari 10 orang yang mengalami kesembuhan dari Tuhan  ternyata hanya 1 orang saja, yaitu orang Samaria, yang tahu berterima kasih dan tersungkur di bawah kaki Tuhan dengan penuh ucapan syukur (ayat 15-16).  Lalu Yesus berkata,  “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?” (ayat 17).

    Sahabat, Yesus menyembuhkan orang Samaria dari penyakit kusta. Itu adalah anugerah Tuhan yang luar biasa baginya. Tetapi  yang patut menjadi refleksi buat kita adalah anugerah Tuhan yang terbesar untuk orang Samaria tersebut sesungguhnya bukan kesembuhan dari  sakit kusta, tetapi perjumpaannya dengan Yesus yang menyelamatkannya.

    Anugerah terbesar yang didapat oleh orang Samaria itu adalah Yesus Kristus sendiri. Bahkan orang Samaria itu mendapatkan peneguhan dari Yesus, “… Imanmu telah menyelamatkan Engkau” (ayat 19).

    Ingatlah! Sahabat,  peristiwa mukjizat di Injil Lukas 17 tersebut mau mengatakan bahwa iman adalah suatu tindakan, tidak hanya memercayai segala yang telah  difirmankan,  tetapi menaati segala perintah Tuhan.  Keyakinan kita membawa pada tindakan.  Kitab Ibrani pasal 11 menunjukan bahwa memercayai Allah berarti menaati Tuhan dan berjuang taat sekalipun mengahadapi tantangan dan pergumulan yang tidak mudah. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Percayalah dan bertindaklah! (pg) 

  • MULIAKANLAH ALLAH

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan muliakanlah Allah melalui hidup kita.. Sahabat, masih ingat dengan lagu dari Duo Maia Estianty dan Mey Chan yang berjudul: “Ingat Kamu”? Refrainnya berbunyi: Aku mau makan kuingat kamu, aku mau tidur juga kuingat kamu, aku mau pergi kuingat kamu. Sahabat, ketika kita mencintai seseorang, maka ia mewarnai segala aspek kehidupan kita. Persoalannya menjadi berbeda dalam hubungan dengan Allah. Aneh tapi nyata. Dengan Allah, kita malah penuh perhitungan. Itu buat Allah, ini buat aku. Itu urusan Allah, ini urusanku. Ini hidupku, jangan jadi urusan Allah. Aku makan, ya makan tanpa perlu ingat Dia yang memberi makan. Aku hidup, ya hidup tanpa harus bersyukur kepada sang Pemberi Kehidupan.

    Sahabat, saya ajak untuk menghayati tulisan Paulus yang sangat khas yang terdapat di Roma 11:33-36. Di sini theologia berubah menjadi syair. Di sini pergumulan pikiran berubah menjadi puji-pujian yang timbul dari hati.

    Sebagai orang percaya kita imani bahwa apa yang kita miliki bahkan hidup kita sekalipun adalah milik Allah, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” (ayat 36) Memerhatikan firman tersebut  maka bisa dipahami bahwa apa yang kita miliki,  pakailah  semua untuk kemuliaan Allah.

    Sahabat, menurut Rasul Paulus, Allah dan segala keputusan-Nya begitu besar, luas dan akbar, tidak terselami oleh akal budi manusia. Manusia tidak mampu menyelami pikiran dan keputusan Allah. Manusia tidak mampu mengetahui persis isi hati Allah. Dia Mahabesar dan kita manusia teramat kecil. Yang pasti, pikiran dan hikmat Allah itu tentu jauh lebih baik bila dibandingkan dengan pikiran dan hikmat manusia. Keputusan-Nya pastilah benar dan tidak pernah salah. Paulus mengingatkan bahwa Allah tidak memerlukan nasihat manusia. Manusialah yang membutuhkan nasihat dan perintah Allah. (ayat 33-35)

    Proklamasi sederhana dari Paulus ditutup dengan pernyataan: Semua bermula dan berakhir pada Allah. Apa yang dimiliki, dirasakan, dijalani, diperoleh dan dilakukan manusia semata-mata dari Allah, oleh Allah, dan kepada Allah. Manusia tidak ada apa-apanya di hadapan Allah. Kesadaran akan hal ini semestinya membuat kita melakukan segala sesuatu dengan kesadaran akan pertanggungjawaban kepada Allah. Demikianlah kita memuliakan Allah. (ayat 36).

    Sahabat, sesungguhnya hidup bukan untuk memuaskan ambisi pribadi, melainkan untuk memuliakan Allah. Mengapa kita harus memuliakan Allah? Pertama, karena keberadaan Allah yang mulia. Dia adalah Allah yang mulia dan sudah selayaknya dimuliakan. Kedua, karena segala perbuatan-Nya: Dia yang menciptakan kita; Dia telah menebus dan menyelamatkan kita; dan Dia mengasihi, memelihara dan memberkati kita. Ketiga, karena kita diciptakan untuk kemuliaan-Nya. Semua orang yang disebut dengan nama-Nya, diciptakan untuk kemuliaan-Nya.

    Ingatlah! Sahabat, kita diciptakan untuk kemuliaan Allah. Maka jalanilah hidup ini dengan tujuan, yaitu untuk kemuliaan-Nya. Mari kita hayati harapan dari Rasul Paulus, ”Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1 Korintus 10:31). Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Muliakanlah Allah. (pg)

  • RUKUN-RUKUNLAH

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus , apa kabar? Salam sehat penuh kerukunan. Sahabat, kerukunan adalah dambaan setiap persekutuan. Persekutuan mana pun, entah keluarga, gereja, maupun masyarakat, semuanya menginginkan kerukunan dalam hidup persekutuannya. Tetapi seperti apakah gambaran persekutuan atau persaudaraan yang rukun itu?

    Panggilan untuk hidup dalam kerukunan  digemakan oleh Daud dalam Mazmur 133:1-3. Suku-suku di Israel rentan  terhadap konflik antarsuku. Semakin kuat konflik di antara mereka, tentu semakin lemah pertahanan mereka terhadap serangan dari bangsa-bangsa sekitar mereka.

    Mazmur 133 merupakan sebuah Mazmur Ziarah. Mazmur ini mengungkapkan tentang kerukunan kekeluargaan dari umat Allah. Ternyata dalam pengalaman hidup beriman, umat Israel selaku umat pilihan Allah menyadari bahwa yang terbaik dan terindah adalah apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun, sebagaimana yang dikemukakan dalam ayat 1, “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun.” Selanjutnya dalam ayat 2 dan 3, persaudaraan yang rukun itu diumpamakan dengan minyak di atas kepala Harun dan embun gunung Hermon yang menyegarkan. Persaudaraan yang rukun juga disamakan dengan berkat.

    Mazmur 133 merupakan pernyataan iman mengenai kasih persaudaraan umat Tuhan. Bila kasih itu ada, maka berkat Tuhan pun melimpah.

    Sahabat, selanjutnya Kristus merumuskan ulang hukum Allah di Perjanjian Lama menjadi: “Kasihilah Tuhan Allahmu…, dan kasihilah sesamamu manusia…” (Matius 22:37-39). Dengan demikian kasih kepada Allah menjadi dasar kasih kepada sesama. Kasih kepada sesama menjadi bukti dan wujud kasih kepada Allah. Kasih kepada sesama hanya mungkin ada pada orang-orang yang sudah lebih dahulu mengalami kasih Allah.

    Mazmur 133 menggambarkan keindahan kasih kepada sesama. Kasih Allah yang sudah dialaminya menjadi kekuatan bagi komunitas anak-anak Allah untuk dapat saling mengasihi. Mereka pun akan belajar mengasihi sesama yang masih berada di luar komunitas umat Allah.

    Mazmur 133 juga menggambarkan bagaimana komunitas persaudaraan kasih tersebut menyenangkan Allah sehingga Dia mencurahkan berkat-Nya yang limpah. Bagaikan minyak urapan yang melimpah dan turun atas diri Harun, demikian berkat yang melimpah itu akan dialami anak-anak Tuhan seperti imam yang karena pengurapan atasnya, dapat melayani Tuhan di rumah-Nya. Berkat Tuhan ini pasti akan dialami dan dinikmati umat-Nya, yang mewujud dalam tindakan saling mengasihi dan saling memberkati.

    Sahabat, sedangkan embun yang turun dari Hermon sampai ke Sion, menggambarkan keajaiban berkat Tuhan, mengingat kedua bukit itu terpisah jauh secara geografis. Maka kelimpahan berkat ini secara ajaib akan menyeberang dari komunitas umat Tuhan kepada sesama yang di luar komunitas tersebut.

    Ingatlah! Bila Sahabat termasuk dalam komunitas persaudaraan karena kasih, pastilah kasih Allah akan mengalir juga melalui Sahabat kepada sesama manusia di luar sana. Wujud kasih itu ialah Sahabat berani berbagi berkat Allah kepada mereka, sama seperti Sahabat berbagi berkat kepada saudara seiman. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Rukun-rukunlah! (pg).

  • BERSABARLAH

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh pengharapan di dalam Tuhan. Sahabat, pengharapan adalah daya kekuatan yang memampukan kita untuk bergerak maju, untuk terus hidup, untuk melihat masa depan, dan bertahan dalam segala situasi. Tanpa pengharapan tidak ada kehidupan. Sesungguhnya selama ada pengharapan, selama itulah ada kehidupan.

    Sahabat, yang sering menjadi masalah, ketika kita harus menunggu pengharapan kita mewujud. Kita tidak sabar menunggu. Masalah kesabaran menjadi salah satu masalah yang krusial bagi orang percaya. Yang paling menggoda seseorang untuk tidak setia sampai akhir adalah penyakit ketidaksabaran. Manusia cenderung ingin cepat memetik hasil dalam melakukan sesuatu. Kita cenderung ingin segera menikmati hasilnya. Kita ingin segera melihat dan memegang apa yang kita harapkan. Kita ingin segera menerima dan menikmati apa yang dijanjikan oleh Tuhan.

    Dalam menunggu datangnya jawaban dari Tuhan pun, kita seringkali tidak sabar. Kita kadang memaksakan Tuhan untuk menjawab sesuai kehendak kita. Kadang kita menuntut waktunya Tuhan haruslah sama dengan  waktu yang kita kehendaki. Ironisnya, hal tersebut kita anggap sebagai hal yang lazim. Kita tidak merasa bersalah. Kemudian jika hal tersebut tidak terjadi, kita akan bersungut-sungut,  dan yang lebih parah malah menghujat Tuhan atau bahkan meragukan keberadaan Tuhan. Sesungguhnya hal tersebut merupakan  kesalahan fatal yang bisa berakibat hilangnya semua berkat Tuhan dari diri kita. Selain itu, hal tersebut  seringkali menjadi titik lemah manusia yang dijadikan celah bagi iblis sebagai pintu masuknya.

    Sahabat, kita perlu belajar dari Abraham dalam menanti dengan sabar penggenapan janji Tuhan yang terdapat di surat Ibrani 6:13-15. Mari kita perhatikan ayat 15, “Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya.”   

    Kita belajar dari Abraham yang harus menunggu selama 25 tahun untuk bisa mendapatkan keturunan dan ahli waris, yaitu Ishak. Yang patut diteladani dari Abraham adalah kesabarannya menanti dan menaati janji Allah dengan sepenuh hati. Ia sangat yakin janji Allah pasti digenapi. Allah yang dikenalnya secara pribadi pasti akan menepatinya dan Ia tidak pernah sekalipun ingkar janji. Walau sebagian janji Allah kepada Abraham belum dialami langsung, namun ia memilih tetap percaya bahwa suatu ketika janji itu akan terwujud pada waktu yang ditentukan Allah.

    Sahabat, Abraham mampu bersabar selama 25 tahun, waktu yang tidak pendek,  mengatasi segala ketidakmungkinan dan kemustahilan jika memakai logika manusia. Ia tidak hilang harapan meski usianya terlihat sangat tidak memungkinkan untuk menunggu terlalu lama. Hasilnya? Abraham menikmati janji Tuhan. 

    Ingatlah! Sahabat, latih diri untuk bersabar agar kita tidak kehilangan janji Tuhan.Bukan waktu kita, tapi waktu Tuhanlah yang penting. Sebab Dia tahu apa yang terbaik buat kita dan Dia telah merancangkan segala sesuatu itu indah pada waktunya bagi kita. Jika demikian, bersabarlah. Nantikan janji Tuhan dinyatakan kepada Sahabat dan saya pada waktu yang paling tepat sesuai dengan waktu-Nya.Tuhan memberkati Sahabat dengan keluarga. Bersabarlah. (pg).