Author: Christopherus

  • PENDERITAAN yang Mendatangkan PENGHIBURAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena Tuhan berkenan mendampingi kita saat melewati penderitaan demi penderitaan. Sahabat, ada cukup banyak diantara kita berpikir bahwa hamba Tuhan atau setiap orang yang terlibat dalam pelayanan pekerjaan Tuhan, baik itu penuh waktu atau separuh waktu, pasti akan terluput dari masalah atau kesulitan atau penderitaan, hidupnya akan lancar-lancar saja. Ternyata kenyataan hidup tidak seperti itu, bahkan yang terjadi sebaliknya.

    Tidak semua orang bisa menerima penderitaan dengan begitu saja. Ada yang mempertanyakan kebaikan Allah, ada juga yang mempertanyakan mengapa harus dirinya yang mengalami penderitaan itu dan bukan orang lain. Ada juga orang yang langsung menyelidiki dosa-dosa yang menjadi penyebab penderitaannya.

    Sahabat, bagaimana dengan Rasul Paulus ketika dia mengalami penderitaan demi penderitaan. Mari kita belajar dari Rasul Paulus dalam menyikapi penderitaan hidup yang terdapat dalam surat 2 Korintus 1:3-11.

    Rasul Paulus memuji Allah, “Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan,” (ayat 3). Tuhan memakai ujian dan penderitaan kita untuk membuat kita semakin serupa dengan-Nya. Penghiburan-Nya dalam pergumulan kita memperlengkapi kita untuk menguatkan orang lain dengan bersaksi tentang pertolongan yang kita terima dari-Nya (ayat 4).

    Akan tetapi, Paulus melihat penderitaannya secara berbeda. Secara khusus, ia mengidentifikasi penderitaannya sebagai “kesengsaraan Kristus” (ayat 5). Penderitaan itu begitu besar dan begitu berat hingga membuat Paulus putus asa (ayat 8). Kita tidak tahu penderitaan apa yang sesungguhnya dihadapi Paulus, tetapi ia sampai merasa seolah dijatuhi hukuman mati (ayat 9). Dalam keadaan seperti itu, Paulus hanya dapat memercayakan dirinya kepada Allah, yang membangkitkan orang mati (ayat 10). Paulus berharap bahwa Allah akan menyelamatkannya.

    Meski demikian, Paulus menyadari bahwa penderitaan yang dia alami adalah untuk kepentingan jemaat di Korintus juga, yaitu untuk menjadi berkat bagi mereka. Karena melalui penghiburan yang dia terima dari Allah, Paulus menjadi sanggup untuk menghibur mereka yang sedang menghadapi penderitaan juga (ayat 4 dan 6).

    Penderitaan yang kita alami karena iman kepada Kristus bukanlah kutuk, melainkan berkat. Jika penderitaan Kristus adalah untuk kepentingan kita maka penderitaan kita bisa menjadi berkat yang dimaksudkan Allah agar kita dapat melayani orang lain. Di dalam penderitaan itu, kita bisa mengharapkan penghiburan yang berlimpah-limpah dari Allah. Namun bukan untuk kita simpan sendirian, tetapi agar kita dapat berbagi dengan orang lain yang mengalami penderitaan juga.

    Ingatlah! Sahabat, oleh karena itu, penderitaan seharusnya bukan menjauhkan kita dari Allah, melainkan membawa kita lebih dekat. Selain itu, akan membawa kita juga semakin dekat dengan saudara-saudara seiman di dalam Kristus. Penderitaan selalu datang dengan janji penghiburan Ilahi dan itu akan mendorong kita untuk memuji dan menyembah Dia, Sumber Penghiburan kita. Maukah Sahabat dan saya menghibur dan memberi kekuatan kepada teman-teman kita yang butuh pendampingan? Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. (pg).

  • SERAHKANLAH dan PERCAYALAH

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena Tuhan begitu setia memelihara hidup kita. Sahabat, di tengah-tengah situasi  Pandemi Covid-19 di Indonesia yang sedang mengganas, tentu kita merasa khawatir dengan keselamatan kita, keluarga kita, kerabat, sahabat dan jemaat kita.

    Sesungguhnya bukan hanya kita, sebagai manusia biasa, Rasul Paulus tentu juga pernah merasa khawatir di tengah ketidakpastian dan kesulitan. Ia pernah mengalami karam kapal. Ia pernah dipukuli. Ia pernah dipenjara. Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus menguatkan para sahabatnya yang juga menghadapi ketidakpastian dan mengatakan kepada mereka, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (Filipi 4:6). 

    Sahabat, pernyataan Rasul Paulus tersebut sangat menguatkan kita saat ini. Sesungguhnya hidup ini tidak mungkin lepas dari ketidakpastian, baik itu yang berkaitan dengan pandemi Covid-19, masalah keluarga, kesehatan yang memburuk, atau kesulitan keuangan yang sedang kita hadapi.

    Lalu, apa yang harus kita lakukan saat  kekhawatiran datang menghampiri?

    Sahabat, pertama, menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada Tuhan (1 Petrus 5:7) Kekhawatiran merupakan celah bagi iblis untuk ia masuk mengintimidasi kita. Oleh karena itu tidak cukup hanya berdoa supaya kita tidak khawatir tapi juga harus menyerahkan segenap kekhawatiran yang ada. Kita harus percaya bahwa kuasa Allah bekerja sempurna dalam hidup kita dan Ia sanggup melakukan segala perkara yang ajaib bagi kita. Menyerahkan dan percaya adalah dua hal yang harus berjalan beriringan, “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;” (Mazmur 37:5)

    Kedua, lawan dengan iman yang teguhKhawatir adalah hal yang manusiawi yang dialami oleh banyak orang. Namun Tuhan ingin agar kita melawan segala intimidasi rasa khawatir dengan iman yang teguh. Menghadapi dengan kekuatan Firman Tuhan yang berkuasa. Ketika Tuhan menciptakan kita, percayalah bahwa Allah telah merancangkan segala sesuatu yang terbaik bagi hidup kita dan menyediakan segala yang kita butuhkan.

    Mari kita pegang teguh sabda Tuhan Yesus, ”Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” (Matius 6:25)

    Ingatlah! Sahabat, mari kita terus belajar untuk memahami bahwa Allah peduli. Dia mengundang kita untuk melepaskan kekhawatiran kita akan segala hal yang tidak pasti dengan menyerahkan semua itu kepada-Nya. Saat kita melakukannya, Allah yang Mahatahu menjanjikan bahwa damai sejahtera-Nya yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus (Filipi 4:7). Maukah Sahabat dan saya melakukannya? Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. (pg)

  • ALLAH tempat PERLINDUNGAN yang AMAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena kita mempunyai Tuhan sebagai penolong kita. Sahabat, jika melihat situasi dunia saat ini yang sedang dilanda Pandemi Covid-19, ada cukup banyak orang berpikir bahwa dirinya selalu berada dalam ancaman bahaya. Saat ini  tidak ada tempat yang benar-benar aman di muka bumi ini. Jika seandainya kita bersembunyi di setiap sudut bumi sekali pun, maka bahaya virus Corona akan tetap mengintai di sana.

    Sahabat, Daud,  adalah manusia biasa seperti kita, tapi dia selalu kuat dan mampu bertahan di tengah badai hidup yang menderanya.  Apa rahasianya?  Karena ia menjadikan Tuhan sebagai tempat perlindungan dan sumber pengharapan.  Daud mengalami sendiri bahwa Tuhan sebagai penolong dalam kesesakan  sangat terbukti. 


    Sejak dari muda Daud percaya bahwa satu-satunya pengharapan  adalah Tuhan  (Mazmur 71:5).  Maka dari itu ia mengambil sikap yang benar yaitu berdoa.  Berseru kepada Tuhan adalah langkah untuk memadamkan segala ketakutan dan kekhawatiran yang membelengu kita,  “Tetapi aku, aku berdoa kepada-Mu, ya Tuhan, pada waktu Engkau berkenan, ya Allah; demi kasih setia-Mu yang besar jawablah aku dengan pertolongan-Mu yang setia!”  (Mazmur 69:14) 

    Sahabat, untuk itu hari ini kita akan belajar dari pengalaman Daud yang terdapat di Mazmur 27:1-14. Dalam Mazmur 27, Daud berdoa kepada TUHAN dengan penuh keyakinan bahwa Dia adalah terang dan keselamatan. Ia adalah benteng tempat berlindung (ayat 1). Keyakinan sekaligus pengakuan iman ini bukan tanpa alasan, sebab ada pengalaman pribadi Daud dengan Tuhan. Bukan juga karena hidup Daud selalu dalam keadaan aman, sebaliknya justru ia selalu berada dalam ancaman bahaya. Diserang oleh sepasukan musuh (ayat 2), dikepung oleh tentara (ayat 3), orang-orang berperang terhadapnya (ayat 3), ayah dan ibu meninggalkannya (ayat 10).

    Berbagai pengalaman itulah yang mungkin sedang atau pernah dialami oleh Daud. Tetapi yang luar biasa, bukan  ketakutan atau kalimat pesimistis yang keluar dari mulutnya, melainkan pujian dan permohonan kepada TUHAN. Daud percaya bahwa ketika ia berlindung kepada TUHAN, Dia akan membuat musuh-musuhnya tergelincir dan jatuh (ayat 2).

    Sahabat, kepercayaannya kepada TUHAN tidak luntur walaupun seberat apa pun tantangan yang dihadapi di depan matanya (ayat 3). Daud  tahu dengan pasti di mana tempat terbaik untuknya bisa melihat perlindungan TUHAN dan merasa aman, yaitu berada dalam hadirat TUHAN (ayat 4). Di sanalah ia dengan jujur mengakui kelemahannya dan betapa ia sangat memerlukan TUHAN (ayat 7-12).

    Ingatlah! Sahabat, satu-satunya tempat teraman dalam dunia adalah hadirat Allah,  karena Allah adalah perisai perlindungan yang dapat dipercaya. Bersama dengan Allah kita dapat merasakan ketenangan, kenyamanan, dan kekuatan baru. Maukah Sahabat dan saya semakin hari semakin dekat dengan Tuhan dan berserah penuh kepada-Nya? Dengan jalan itulah kita akan menikmati rasa  aman dan tenang yang sejati. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. (pg)

  • BERGEMBIRALAH karena TUHAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh sukacita. Tuhan itu baik. Dia memelihara hidup anak-anak-Nya. Sahabat, rasanya kesal jika kita melihat orang lain menang karena berbuat curang. Pada waktu saya kelas 2 SD, permainan Umbul sangat digemari oleh anak laki-laki. Permainan Umbul adalah mengadu gambar gacoan masing-masing. Gambar ditumpuk jadi satu, dijepit menggunakan jari telunjuk dan jari tengah kemudian dilemparkan ke atas. Gambar gacoan akan berhamburan ke tanah, nanti akan terlihat mana gambar yang menghadap ke atas dan mana yang menutup. Gambar gacoan yang dalam posisi terlentang (gambar di atas) saat jatuh di tanah adalah pemenangnya. Teman saya berlaku curang, gambar gacoannya dibuat bolak-balik, akibatnya dia memenangkan permainan. Hati saya jengkel sekali melihat kemenangan karena kecurangannya. Setelah ketahuan, dia dijauhi teman-teman, tidak ada yang mau main umbul dengannya.

     
    Sahabat, Daud mengajak kita tidak marah dan dengki terhadap orang yang berbuat jahat dan curang. Hari ini kita akan menggali berkat dari Mazmur 37:1-40. Daud membuka mazmur ini dengan satu kalimat yang menusuk persoalan tentang bagaimana respons kita kepada ketidakadilan dalam hidup ini, “Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang” (ayat 1).  

    Orang yang berbuat jahat dan curang akan lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau. Artinya, kejahatan dan kecurangan mungkin saja membawa kesuksesan sesaat, namun hal itu tidaklah abadi. Cepat atau lambat, kecurangannya akan terungkap dan menjadi aib bagi dirinya.

    Sahabat, Mazmur 37  menegaskan betapa rentan dan terbatasnya hidup orang yang berbuat jahat (ayat 2, 9, 10, 13, 20, 22, 35-36, dan 38). Itu berarti, meski kelihatan hidup orang jahat dipenuhi dengan kelimpahan, namun sesungguhnya hidup mereka seperti telur di ujung tanduk. Begitu rentan dan begitu mudah jatuh. Beda halnya dengan orang-orang yang hidupnya takut akan Allah. Daud menggambarkan hidup mereka itu kokoh karena ditopang Allah (ayat 17, 19, 23-24, 30-31, 33, dan 39-40), penuh kelimpahan dari Allah (ayat 9, 11, 22, 25-26, 29, dan 34), dan dipelihara selamanya oleh Allah (ayat 18, 28, dan 37).

    Dalam Mazmur 37, Daud mengingatkan kita bahwa di tengah kesusahan dan ketidakadilan yang kita hadapi dalam hidup ini, Allah tidak pernah tinggal diam dan mengabaikan kesusahan umat-Nya. Ia peduli dan memperhatikan, meski tidak selalu kita melihat jalan dan karya-Nya atas hidup kita. Tetapi itu tidak mengubah fakta bahwa Allah sedang bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Oleh karena itu, jangan cemburu terhadap orang yang berbuat jahat (ayat 1, 7, dan 8), percayalah kepada Tuhan (ayat 3, 5, 7, dan  34), dan tetap lakukan apa yang baik dan
    benar (ayat 3-5, 27, dan 34).


    Ingatlah! Sahabat, Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk marah dan iri. Selama kita berjalan dalam kebenaran Allah dan berbuat jujur, kualitas mental dan moral kita tidak bisa disandingkan dengan orang yang curang. Selama kita hidup jujur, maka tak perlu marah atas keberhasilan yang diperoleh orang lain dengan cara yang curang. Lebih baik sambut ajakan dari Daud, “ … bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.” (ayat 4). Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. (pg)

  • TUHAN Melimpahkan Damai Sejahtera-Nya

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh damai sejahtera. Sahabat, menurut pandangan orang dunia, damai sejahtera merupakan suatu keadaan atau situasi yang aman, tidak ada perang, tidak ada konflik, tidak ada bencana, tidak ada perselisihan, tidak ada masalah, dan tidak ada pandemi.  Orang dunia juga berpikir bahwa sumber damai sejahtera itu ada pada  kekayaan, jabatan, popularitas, dan kesehatan. Mereka berkeyakinan bahwa damai sejahtera sangat tergantung dengan hal-hal yang tampak  atau secara kasat mata, datangnya dari pihak luar  (eksternal), atau bergantung pada situasi kondisi.  Padahal semua yang ada di dunia ini hanyalah semu, serba tidak menentu, dan tidak kekal. 

    Sahabat, berdasarkan Kejadian 1:26-27,  manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Tuhan, artinya manusia pertama berada dalam kondisi tanpa salah dan dosa, dengan citra diri yang utuh, sempurna dan mulia.  Tetapi setelah manusia jatuh ke dalam dosa, kemuliaan Tuhan di dalam diri manusia menjadi rusak karena dosa tersebut.  Karena itu Bapa pun berinisiatif menyelamatkan manusia melalui Putera-Nya yang diutus untuk datang ke dunia.  Melalui penebusan Kristus di kayu salib, citra diri manusia dipulihkan, karena manusia memperoleh pembenaran.  Yang dimaksud pembenaran adalah tindakan Tuhan untuk menyatakan orang  “benar”  karena percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat,   “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah”  (2 Korintus 5:21).

    Lalu apa dampak yang luar biasa dari  “pembenaran” tersebut?  Setiap orang percaya memperoleh damai sejahtera.  “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus”  (Roma 5:1)

    Sahabat, damai sejahtera  terjadi karena adanya pemulihan hubungan antara manusia dengan Bapa di surga,  “Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,” (Efesus 2:14-15). 


    Damai sejahtera dari Tuhan mengalir dari dalam hati  (internal), tidak terpengaruh oleh situasi kondisi, dan bersifat kekal.  Sekalipun diterpa masalah, sekalipun situasi sedang tidak baik, hati tetap dipenuhi oleh damai sejahtera.  Damai sejahtera bersumber dari hubungan yang karib antara kita dengan Tuhan dan dampak dari ketaatan kita melakukan firman Tuhan,   “Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti,”  (Yesaya 48:18).  Dengan cara itulah Tuhan akan melimpahkan damai sejahtera-Nya kepada kita.

    Ingatlah! Sahabat, damai sejahtera dari Tuhan  tidak dapat dibeli dan diukur dengan uang dan harta sebesar apa pun!  Damai sejahtera sejati diberikan secara cuma-cuma kepada setiap orang yang percaya kepada Kristus, yang merupakan sumber damai sejahtera.  Maukah Sahabat dan saya memiliki persekutuan yang karib dengan Tuhan dan taat melakukan firman-Nya? Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. (pg)