Author: Christopherus

  • Memiliki HATI yang KAYA

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena di tengah-tengah situasi yang serba sulit, kita dimampukan oleh Tuhan tetap dapat berbagi. Sahabat, ketika kita sedang menghadapi situasi yang sulit dan berkepanjangan, kita menjadi disibukan untuk mengatasi persoalan dan kesulitan yang sedang kita hadapi, sampai kita lupa dan tidak peduli bahwa di luar sana masih ada cukup  banyak orang yang lebih menderita dan membutuhkan pertolongan. Sesungguhnya sikap mengasihani diri sendri yang berlebihan, melumpuhkan rasa belas kasih kepada sesama.

    Sahabat, mari kita belajar dari Rasul Paulus, bagaimana caranya dia mendekati jemaat di Korintus agar berkenan membantu jemaat yang ada di Yerusalem melalui contoh jemaat di Makedonia yang sudah membantu jemaat di Yerusalem. Untuk itu hari ini kita akan merenungkan surat 2 Korintus 8:1-15.

    Berbagi adalah kata yang mudah untuk diucapkan, tetapi sulit untuk dilakukan. Dalam bacaan kita hari ini, Rasul Paulus menasihati jemaat Korintus untuk menandingi kemurahan hati jemaat Makedonia dalam menolong jemaat di Yerusalem yang menderita dan miskin (ayat 2). Jemaat Makedonia sendiri juga menderita, namun kasih Allah yang ada dalam hati mereka, membuat mereka tetap bersukacita dan peduli pada orang lain. Mereka tidak terjebak dalam sikap mengasihani diri sendiri. Mereka tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, tetapi memilih berbelas kasih dan menolong orang lain yang membutuhkan. Bahkan mereka memberi melampaui kemampuan, bukan karena mereka kaya, melainkan karena berlimpah dalam kasih (ayat 3).

    Sahabat, Paulus mendorong supaya jemaat di Korintus mau mendukung pelayanan jemaat di Yerusalem. Paulus terlebih dahulu memberikan contoh kondisi jemaat Makedonia, yang hidup menderita dan sangat miskin dalam harta, tetapi dalam hal kasih mereka sangat kaya. Mereka dapat memberikan bantuan yang melebihi kemampuan mereka (ayat 1-5). Kemudian Paulus mengingatkan jemaat di Korintus bahwa mereka adalah jemaat yang kaya dalam segala sesuatu maka seharusnya juga kaya dalam hal berbagi kasih (ayat 7).

    Sebenarnya jemaat Korintus sudah berkomitmen untuk membantu jemaat di Yerusalem, tetapi mereka lalai (ayat 10-11). Mengapa Paulus meminta mereka melakukan pelayanan kasih tersebut?

    Pertama, harta milik kita adalah karunia Tuhan. Jika kita mampu memberi, itu adalah anugerah karena belum tentu semua orang bisa memberi (ayat 1-5). Kedua, memberi harus belajar dari apa yang Tuhan telah lakukan, yaitu Kristus yang kaya menjadi miskin agar kita yang miskin menjadi kaya (ayat 9). Ketiga, memberi harus atas dorongan kasih, bukan karena perintah atau paksaan (ayat 11-12). Keempat, pemberian kita dimaksudkan supaya ada keseimbangan yaitu tidak berlebihan dan tidak kekurangan serta diantara sesama jemaat ada kerinduan untuk saling melengkapi (ayat 13-15).

    Sahabat, dari jemaat Makedonia, kita bisa belajar bahwa memberi bukan semata-mata karena kita kasihan kepada orang lain. Memberi juga bukan karena kita sudah merasa berlebihan, melainkan karena mengikuti teladan Kristus di dunia ini agar terjadi keseimbangan.

    Ingatlah! Sahabat, semangat berbagi dalam komunitas orang percaya adalah supaya ada keseimbangan hidup di antara para anggotanya. Kita tidak harus kaya dan berlebih untuk berbagi. Meskipun kita tidak berlebih, tapi kita bisa memiliki hati yang kaya; kaya dengan kemurahan, pengampunan, kebajikan, perhatian, bahkan kaya dengan sukacita dan semangat. Maukah Sahabat dan saya memiliki hati yang kaya? (pg).

  • MENGINGAT KEBAIKAN TUHAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh semangat. Hati kita meluap dengan syukur ketika kita mengingat segala kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Sahabat,  saat ini Pandemi Covid-19 gelombang kedua yang sangat dahsyat sedang menerjang Indonesia, maka kita menjadi takut dan gentar.   Tanpa sadar, kita hanya memperhatikan kesulitan dan penderitaan yang ada, sehingga lupa kepada kebaikan Tuhan. Kita terus mengeluh terhadap situasi yang serba sulit, hanya fokus pada itu dan lupa mengarahkan pandangan kepada Tuhan, melupakan segala kebaikan dan penyertaan-Nya yang sebenarnya masih bisa kita rasakan dan nikmati.

    Sesungguhnya itulah yang disadari oleh Daud, raja Israel,  yang sama seperti kita, manusia biasa juga. Daud meski terus menerus berada dalam situasi sulit, dia  tidak melupakan kebaikan Tuhan yang pernah ada dalam hidupnya, bahkan masih merasakannya meski sedang berada dalam situasi sulit. Itulah yang tergambar dalam Mazmur 34:1-23 yang menjadi perenungan kita pada hari ini.

    Daud  menulis Mazmur 34  bukan ketika ia sedang dalam keadaan baik. Tapi lihatlah apa yang ia katakan, “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!” (ayat 9). Kecap dan lihatItu melibatkan dua panca indera yang bisa merasakan sesuatu secara nyata, bukan hanya sebatas wacana atau impian saja.  Sepanjang Mazmur 34 kita bisa melihat bagaimana mata Daud memandang kepada kebaikan Tuhan.

    Sahabat, kebaikan Allah dapat benar-benar dipahami melalui pengalaman di tengah penderitaan, setidaknya itulah yang dipahami oleh Daud. Dalam Mazmur 34. Mazmur tersebut ditulis ketika Daud berpura-pura gila di depan Abimelekh (ayat 1).

    Dalam 1 Samuel 21:10-15, dijelaskan bahwa Saul berusaha membunuhnya sehingga Daud harus melarikan diri ke Gat. Namun kehadirannya di Gat pun diketahui oleh Raja Gat, yaitu Akhis (nama sesungguhnya) atau Abimelekh (jabatannya, yang artinya ayah dari raja). Lengkap sudah kesulitan yang dihadapi Daud: lari dari Saul yang berusaha membunuhnya, berpisah dari Yonatan, sahabat karibnya, dan berjumpa dengan Akhis yang membencinya karena dia telah membunuh Goliat. Karena itu tidak heran jika Daud merasa gentar (ayat 5), malu (ayat 6), tertindas dan sesak (ayat 7). Ia merasa terjepit, dan tidak ada seorangpun yang dapat diandalkan, selain Tuhan Allahnya. Karena itu, Daud berseru kepada Tuhan (ayat 7).

    Sahabat, perhatikanlah bagaimana Daud mengalami kebaikan Tuhan dalam penderitaannya: “Aku mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku dan melepaskan aku dari segala kegentaranku” (ayat 5); “… berseru, dan Tuhan mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya.” (ayat 7); “Malaikat Tuhan berkemah…, lalu meluputkan mereka” (ayat 8).

    Daud mengalami kasih Tuhan lebih mendalam justru di tengah penderitaannya. Ia merasakan Tuhan dekat dengan orang yang patah hati dan yang menyelamatkan orang yang remuk jiwanya (ayat 19). Karena itu, bukannya mengecam Tuhan atas kesusahan hidupnya, Daud justru memuji Tuhan (ayat 2-3), dan mengajak segenap umat membesarkan nama-Nya (ayat 4). Setelah mengalami kebaikan Tuhan, hati Daud tidak hanya dipenuhi oleh syukur dan pujian kepada Allah, tetapi juga diresponinya dengan takut akan Tuhan (ayat 10 dan 12), yang menunjuk pada ketaatan pada Allahnya.

    Ingatlah! Sahabat, Daud merespons penderitaan dengan pujian, dan merespons kebaikan Tuhan dengan ketaatan. Biarlah hal tersebut menjadi prinsip rohani bagi kita, dalam keadaan apapun, agar kita tetap dekat dan mengalami kasih-Nya senantiasa. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. (pg)

  • DOA MINTA KESEMBUHAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat. Syukur kepada Tuhan kalau kita masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menikmati hidup di dunia sampai saat ini. Itu merupakan anugerah yang besar. Sahabat, saat ini ada cukup banyak kerabat, sahabat, teman sepelayanan, yang terinfeksi atau terpapar Covid-19. Ada cukup banyak anggota keluarga besar Christopherus yang terpapar Covid-19. Demikian Juga ada beberapa orang anggota Persekutuan Muria Wredatama (PMW) yang terpapar Covid-19. Selain itu ada juga yang sedang sakit, baik karena usia lanjut maupun yang menderita sakit tertentu, bahkan ada yang terpeleset. Mari kita terus mendoakan mereka supaya Tuhan memberikan kekuatan dan kesembuhan.

    Sesungguhnya tidak ada seorang pun di dunia ini yang kebal terhadap penyakit. Kita semua pernah mengalaminya. Sejak bayi hingga menjadi tua, tidak terhitung banyaknya penyakit yang pernah kita alami, dari penyakit ringan, seperti flu sampai penyakit berat dan kronis, seperti kanker. Cara dan sikap orang-orang pun berbeda dalam menghadapi penyakit. Ada yang menganggapnya biasa; ada yang berjuang untuk sembuh; tetapi ada juga yang pasrah.

    Sahabat, di hadapan umat pilihan Tuhan  (bangsa Israel), Tuhan sendiri menyatakan diri-Nya sebagai Jehova Rapha, Tuhan yang menyembuhkan,  “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah- Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku TUHANlah yang menyembuhkan engkau.”  (Keluaran 15:26).

    Mengingat cukup banyak teman-teman kita yang sedang sakit saat ini, maka hari ini bersama dengan Daud, saya ajak Sahabat untuk berdoa  minta kesembuhan, sebagaimana yang tercantum di kitab Mazmur 41:1-14. Dalam Mazmur 41, Daud juga sedang sakit. Entah penyakitnya apa, namun tampaknya bukanlah penyakit ringan. Parahnya, ada orang-orang justru menginginkan kematiannya dari penyakit itu (ayat 6). Para pembencinya menyusun rencana jahat terhadapnya (ayat 8), bahkan sahabat karibnya menghina dan melawannya (ayat 10). Daud merasakan dan mengakui bahwa penyakitnya begitu berat (jahanam) (ayat 9).

    Sahabat, bagaimana sikap Daud dan caranya menghadapi sakit penyakitnya? Ia tidak mengingkari bahwa dirinya sedang sakit dan butuh pertolongan. Namun mula-mula, ia menyerukan dirinya untuk berbahagia (ayat 2). Karena, ia percaya Tuhan pasti akan melindungi, memelihara nyawanya (ayat 3), dan menyembuhkan penyakitnya (ayat 4). Lalu dengan jujur, ia mengakui dosanya dan memohon belas kasihan Tuhan (ayat 5). Ia menutup mazmurnya dengan pujian kepada Allah (ayat 14) seolah-olah Allah telah menyembuhkannya.

    Ingatlah! Sahabat, adakah diantara pembaca “Karib Dengan Tuhan”  sedang menderita sakit? Berat maupun ringan, tetap saja itu sangat mengganggu aktivitas kita. Kita menjadi tidak bisa maksimal melakukan aktivitas kita. Syukur, dalam tangan  Tuhan ada kesembuhan.  Tuhan telah memberi kita akal budi sehingga dengan begitu kita berusaha untuk sembuh. Caranya bisa dengan menemui dokter, meminum obat, dan beristirahat. Tuhan juga memberi kita iman. Dengan iman itulah, kita percaya bahwa hanya dengan campur tangan Tuhan kita dapat sembuh. Dokter dan obat hanyalah alat di tangan-Nya untuk menyembuhkan kita. Tuhan menyembuhkan Sahabat-Sahabat yang sedang sakit. (pg)

  • TENANG dan BERDOALAH

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan tetap tenang. Kita butuh kesabaran yang tinggi untuk  melewati masa pandemi -19 yang berkepanjangan. Sahabat, ngeri!  Itulah  kesan pertama bila kita memerhatikan keadaan dunia saat ini, yang semakin hari semakin rawan dan semakin dipenuhi dengan goncangan karena adanya virus Corona varian Delta. Ternyata virus Corona varian Delta  lebih ganas dan lebih cepat penularannya. Selain itu bisa menembus masker kalau hanya satu lapis. Yang diserang bukan hanya orang dewasa dan kaum lansia, tapi justru yang diserang lebih banyak anak-anak, bahkan bayi.  Hal ini membuat banyak orang menjadi panik, takut, stres, frustasi, dan tidak lagi bisa tenang. 

    Sahabat, ketika kita merasa sedang dikepung oleh masalah atau situasi di sekitar kita semakin sulit dikendalikan, mari kita perhatikan nasihat dari Rasul Petrus, “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa” (1 Petrus 4:7)

    Dari nasihat Rasul Petrus tersebut, ada 3 hal yang perlu kita lakukan:

    Pertama, kuasailah dirimu. Sahabat, yang pertama dan utama, kita perlu menguasai diri kita terlebih dahulu. Kita tidak menjadi panik, kalang kabut, gugup, sehingga kita semakin tidak tahu apa yang harus kita perbuat. Kita harus dapat menguasai diri, sehingga kita dapat berpikir dengan jernih sehingga dengan pertolongan Tuhan kita dapat menemukan jalan keluar yang tepat. Kita perlu menguasai diri kita, supaya fokus kita tidak pada masalah yang sedang kita hadapi, tapi fokus kita dapat kita arahkan kepada Tuhan yang jauh lebih besar daripada segala permasalahan yang sedang kita hadapi. Kita harus dapat mengarahkan fokus kita kepada Tuhan yang menjadi sumber pertolongan yang sejati.

    Kedua, jadilah tenang. Tenang adalah kebutuhan semua orang. Tanpa ketenangan orang tidak akan mampu menjalani hidup ini dengan baik, sebaliknya ketika kita mampu untuk tenang maka kita dimampukan untuk menghadapi segala sesuatu dengan baik.  Dalam Yesaya 30:15-b dikatakan, “… dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu. …” Hal tersebut berarti bahwa ketika kita belajar untuk tenang maka ada kekuatan yang kita peroleh dari Tuhan untuk menghadapi setiap tantangan dan persoalan hidup yang terjadi saat ini.

    Sesungguhnya ketenangan bukanlah sebuah keadaan, tetapi sebuah keputusan, artinya walaupun situasi kelihatannya semakin sulit dan menakutkan, tetapi kita bisa membuat sebuah keputusan untuk tetap berlaku tenang.  Kita punya alasan kuat untuk tetap berlaku tenang apa pun situasinya, karena kita punya Tuhan yang tidak pernah mengecewakan, Ia selalu siap menolong tepat pada waktunya.

    Ketiga, berdoalah
    Doa itu bukanlah perkara yang mudah, sebab sejatinya doa itu adalah bagaimana kita membangun hubungan dengan Tuhan. Karena itu jangan pernah berpikir bahwa berdoa itu hanya sebatas susunan kata-kata saja.  Oleh sebab itu dalam situasi yang sangat sulit seperti saat ini hal yang tidak kalah penting untuk selalu dibangun adalah bagaimana kita membangun hubungan yang intim dengan Tuhan setiap waktu.

    Ingatlah! Sahabat, orang yang tenang, dalam doanya bukan hanya menyampaikan apa yang ia mau kepada Tuhan, tetapi juga mendengar apa yang menjadi kehendak Tuhan. Sedangkan kunci untuk mengalami ketenangan adalah tinggal dekat Tuhan, karena Dialah sumber keselamatan bagi kita  (Mazmur 62:2). Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. (pg)