
Author: Christopherus
-
Segala Sesuatu INDAH pada WAKTUNYA
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena kita masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menikmati hidup. Hidup itu kesempatan karena itu selama kita masih hidup, pergunakanlah untuk melayani Tuhan dan sesama. Sahabat, orang percaya sama dengan orang tidak percaya. Keduanya tidak dapat mengendalikan apa yang akan mereka alami dalam hidup. Semua orang mengalami banyak hal yang menyukakan hati, tetapi juga banyak hal yang mendukakan hati.
Segala sesuatu ada waktunya. Bagi saya ada waktu untuk menulis renungan setiap hari dan kemudian membagikannya setiap pagi. Tapi juga ada waktu untuk berhenti menulis renungan, Tidak ada sesuatu yang abadi di dunia ini. Semua ada waktu untuk memulai dan ada waktu untuk mengakhiri.
Sahabat, dalam renungan saya yang terakhir pada hari ini, mari kita merenungkan Pengkhotbah 3:1-15. Sehebat bagaimana pun, manusia tidak dapat melawan atau menahan lajunya waktu. Apa pun yang terjadi, waktu akan terus berjalan tanpa mempedulikan sikap kita terhadapnya. Semua yang ada di dunia ini dan lamanya kita berada di dunia ini juga dibatasi oleh waktu. Jadi, Untuk segala sesuatu ada masanya (ayat 1). Sesungguhnya selama kita masih hidup di dunia, kita akan terus berpacu dengan waktu.Sangat menarik, bacaan renungan kita pada hari ini merupakan ungkapan yang berpasangan, “Ada waktu untuk…, ada waktu untuk…”, pengkhotbah menyatakan bahwa hidup adalah campuran antara kegembiraan dan kesedihan. Hal tersebut menekankan pada ketidakmampuan manusia mengendalikan berbagai peristiwa yang terjadi.
Karena itu pengkhotbah bertanya, “Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah?” (ayat 9). Namun, pengkhotbah juga menyadari bahwa tidak mungkin manusia tidak berjerih payah, karena Allah sudah menetapkan pekerjaan yang harus dilakukan manusia dengan bersusah payah (ayat 10)
Sahabat, supaya kita tidak putus asa, pengkhotbah menegaskan bahwa Allah akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya (ayat 11). Jika kita perhatikan ungkapan berpasangan yang diberikan, ini dimulai dengan “ada waktu untuk lahir” (ayat 2) dan diakhiri dengan “ada waktu untuk damai” (ayat 8).Pengkhotbah menyatakan bahwa bagi orang percaya, walau harus melewati berbagai hal yang menyenangkan dan menyakitkan, kita dilahirkan untuk berakhir dengan damai bersama Allah. Sesungguhnya itulah arti segala sesuatu indah pada waktunya.
Sahabat, meskipun kita juga mengalami pasang surut seperti orang yang tidak percaya, tetapi ada perbedaannya. Pada akhirnya, kita berdamai dengan Tuhan. Hebatnya, damai tersebut tidak dapat diubahkan oleh peristiwa apa pun dalam hidup kita. Karena itu, segala sesuatu menjadi indah pada waktunya.
Ingatlah! Sahabat, dengan mengetahui bahwa pada akhirnya kita akan hidup kekal di dalam damai sejahtera bersama Tuhan, kiranya kita mampu menikmati kehidupan ini dan menjalaninya dengan lebih tenang. Waktu kita sangat berharga. Kita perlu memohon kepada Allah agar dimampukan untuk melihat indahnya hidup bersama-Nya. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. (pg) -
Mempercakapkan PERBUATAN ALLAH yang DAHSYAT
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh sukacita. Hati kita meluap dengan syukur dan sukacita ketika kita mengingat segala perbuatan Tuhan yang dahsyat dalam kehidupan kita. Sahabat, dalam kehidupan sehari-hari kita sering bertemu dan berhadapan dengan orang-orang yang memiliki sifat, karakter dan kebiasaan yang berbeda-beda. Ada golongan orang yang setiap kali bertemu dengan sesama selalu mempercakapkan segala sesuatu yang berkenaan dengan dirinya sendiri, menonjolkan diri sendiri, terlebih-lebih bagi mereka yang punya nilai plus, keunggulan atau prestasi yang bisa dibanggakan. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang dengan sengaja menambahi dengan bumbu-bumbu yang sedap supaya orang yang mendengar semakin terkesima dan berdecak kagum dengan apa yang disampaikan.
Pemazmur memberi nasihat agar kita senantiasa memfungsikan mulut kita untuk memuji dan memuliakan Tuhan, serta mempercakapkan perbuatan-Nya yang ajaib, “Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib!” (Mazmur 105:2).
Sahabat, Jika langit dan cakrawala dapat menceritakan perbuatan Tuhan yang dahsyat (Mazmur 19:2), maka kita sebagai umat-Nya juga diminta untuk melakukan hal sama. Maka pada hari ini kita akan menggali pengalaman Pemazmur yang terdapat di kitab Mazmur 66:1-20.Dalam Mazmur 66, ada dua dasar pujian yang dinaikkan kepada Allah: Pertama, bangsa Israel memuji Allah karena Ia telah memimpin mereka keluar dari tanah Mesir (ayat 1-12). Pemazmur memberi dorongan, “Pergilah, pandanglah pekerjaan Tuhan” (ayat 5). Ini mengingatkan mereka akan peristiwa besar yang Allah lakukan pada waktu bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Ia membelah Laut Teberau menjadi tanah yang kering. Allah memerintah dengan perkasa (ayat 6-7).
Sahabat, Allah telah memimpin umat Israel sedemikian rupa dalam penyertaan-Nya siang dan malam. Namun, di padang gurun umat Israel memberontak kepada Allah sehingga mereka dibuang ke Babel dan mengalami kesukaran. Mereka mengalami pengujian, ibarat seseorang memurnikan emas dan perak. Yang lulus ujian akan dibebaskan dari pembuangan. Mereka akan memperoleh tanah perjanjian (ayat 8-12). Sesungguhnya penyelamatan Israel merupakan bukti nyata agar bangsa-bangsa mengenal Tuhan dan memuji Dia. Sekalipun, umat itu tersebar ke seluruh bumi, hidupnya dipertahankan dan kakinya tidak goyah. Mereka tidak jatuh dan kehilangan identitas sebagai umat pilihan Allah karena Allah yang dahsyat menyertai mereka.
Kedua, pujian syukur kepada Allah atas keluputan dan keselamatan yang dianugerahkan (ayat 13-20). Dalam kesulitan (ayat 14), Allah telah menolong dan menyelamatkan umat-Nya. Pemazmur berjanji akan memenuhi nazarnya, memuji-Nya dan memasyurkan perbuatan-Nya yang dahsyat (ayat 13-20). Ia akan masuk ke rumah Allah dan mempersembahkan kurban bakaran.
Ingatlah! Sahabat, kita patut bersyukur mempunyai Allah yang dahsyat dalam hidup ini. Ucapan syukur itu sangat sakral dan bukan ucapan kosong tanpa dasar. Terlalu banyak hal dahsyat yang Allah telah lakukan. Hal itu membuat kita patut bersyukur dan mempercakapkan perbuatan-perbuatan-Nya yang dahsyat. Maukah Sahabat dan saya melakukannya? Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. (pg) -
BERDOA Sampai TUHAN MENJAWAB Pergumulan Kita
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena Tuhan telah memampukan kita untuk menjaga kehidupan doa kita. Sahabat, ternyata berdoa bukan semata-mata aktivitas fisik atau badani, melainkan suatu perbuatan rohani. Bukan suatu tindakan yang digerakkan oleh tubuh kita, melainkan suatu gerakan yang dilakukan dan didasari oleh roh kita. Sebenarnya tubuh kita hanyalah membantu melaksanakan perbuatan roh kita; jadi yang berdoa adalah roh kita (Roma 8:26) Berdoa juga bukan hanya sebatas meminta atau memberi laporan terperinci tentang kebutuhan kita kepada Tuhan. Tapi berdoa adalah sarana mempererat hubungan kita dengan Tuhan yang didalamnya terkandung pujian, penyembahan dan ucapan syukur.
Seorang rekan yang menjadi Guru Agama Kristen (GAK) di SD dan mendapat subsidi bantuan dari Departemen PBS Christopherus bercerita bahwa dia setiap hari pada sekitar jam 15.00 berdoa khusus untuk pergumulannya saat ini. Dia bergumul apakah akan melanjutkan sebagai GAK atau menjadi Gembala Jemaat di gerejanya. Dulu suaminya yang menjadi Gembala Jemaat, tapi beberapa bulan yang lalu suaminya dipanggil Tuhan, maka dia menggumuli hal tersebut. Dia berkomitmen untuk terus tekun berdoa sampai Tuhan secara jelas menjawab pergumulannya. Betapa pentingnya kita punya komitmen berdoa sampai sesuatu terjadi.
Maka pada hari ini kita akan merenungkan pergumulan Daud yang terdapat di Mazmur 28:1-9.
Sahabat, Mazmur 28 terdiri atas tiga bagian. Pertama, seruan minta tolong (ayat 1-2), kedua, permohonan agar jangan dibinasakan bersama orang fasik (ayat 3-5), dan ketiga, ucapan syukur, pengakuan percaya, dan doa syafaat (ayat 6-9).
Melalui Mazmur 28 kita dapat melihat pengalaman yang dialami oleh Daud ketika ia merasa ditinggalkan Allah. Sesaat ia merasa bahwa Allah tidak mendengar seruan doanya. Ia tidak tahu mengapa Allah diam. Daud merasa tidak ada lagi harapan.
Daud berpikir bahwa TUHAN hendak menghukumnya seperti orang fasik. Namun, ia merasa tidak melakukan kesalahan apa pun (ayat 3-4). Dalam pengalaman doanya yang panjang, fajar harapan pun tiba. TUHAN menjawabnya. Karena itu ia bersyukur dan memuji TUHAN. Sebab TUHAN adalah perisai dan gunung batu tempat perlindungan yang aman dan dapat diandalkan.
Sahabat, melalui Mazmur 28, Daud mengingatkan kita untuk tidak berhenti berdoa. Terkadang Allah memang terlihat begitu jauh sehingga doa kita pun sepertinya tidak pernah sampai ke telinga-Nya. Kalaupun Allah mendengar, mungkin Ia tidak mau menjawabnya. Pikiran kita mulai membentuk asumsi negatif. Misalnya, “Apakah aku dihukum oleh Tuhan atau apakah Tuhan itu memang ada?”Ingatlah! Sahabat, dari Mazmur 28 kita tahu satu hal, yaitu Allah mendengar dan menjawab doa orang-orang yang berseru kepada-Nya, dari orang-orang yang berkeluh-kesah, dan dari orang-orang yang menggantungkan harapannya hanya kepada Allah. Maukah Sahabat dan saya untuk tidak berhenti berdoa dan berharap hanya kepada Tuhan saja? Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. (pg).





