
Author: Christopherus
-
Semakin Menjadi DEWASA ROHANI
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat. Kita patut bersyukur jika kita punya komunitas yang anggotanya saling memperhatikan. Sahabat, ketika seseorang mensyukuri hari ulang tahunnya, orang-orang terdekatnya pasti memberikan ucapan selamat, baik itu melalui WA, fb, IG, atau media sosial lainnya atau memberikan ucapan selamat secara langsung melalui telepon atau video call. Dengan bertambahnya usia seseorang diharapkan semakin dewasa pula rohaninya.
Dengan berjalannya waktu, semua manusia yang ada di alam semesta akan menjadi tua. Menjadi tua berarti menjadi makin lemah dan berakhir dengan kematian. Menjadi dewasa adalah hal yang berbeda. Bertumbuh menjadi dewasa berarti menjadi orang yang kuat, berpengertian, berpengetahuan dan bertanggung jawab. Banyak yang menjadi tua tanpa pernah menjadi dewasa rohani, karena menjadi dewasa rohani memang diperlukan keputusan dan tekad yang kuat.
Hari ini 20 Juni 2021 istri saya berulang tahun. Kamis, 17 Juni 2021 sore ketika kami sedang ngobrol-ngobrol santai, istri saya berkata: “Pi, dalam rangka refleksi ulang tahun, mami membuat pernyataan pendek sambil menyodorkan HP-nya. Saya baca pernyataan yang ditulis istri saya, “Bagai burung Camar terbang tinggi di angkasa, tapi tetap turun mencari makan. Aku juga ingin bermimpi tinggi, namun tetap merendah dan peduli dengan sesama.” Saya bersyukur kepada Tuhan karena dari pernyataan tersebut istri saya tumbuh semakin dewasa rohaninya, bukan hanya tambah usianya.
Sahabat, dalam 1 Samuel 2:18-26 diceritakan bahwa hidup Samuel mengalami peningkatan demi peningkatan, “… Samuel yang muda itu, semakin besar dan semakin disukai, baik di hadapan Tuhan maupun di hadapan manusia.” (ayat 26) Samuel mengalami pertumbuhan iman yang luar biasa dan makin dewasa rohani. Kedewasaan rohani seseorang seharusnya adalah kedewasaan penuh, artinya ia dewasa di hadapan Tuhan dan juga di hadapan manusia. Ada pun kedewasaan seseorang tidak tergantung pada usia atau berapa tahun dia menjadi orang percaya. Mungkin saja seseorang dewasa secara umur, tapi belum tentu ia dewasa secara rohani.
Kedewasaan rohani seseorang berbicara tentang karakter dan buah-buah Roh yang dihasilkan dalam hidupnya. Orang yang dewasa rohani memahami kehendak dan rencana Tuhan dalam hidupnya, serta menyadari bahwa jalan-jalan Tuhan bukanlah jalannya, waktu Tuhan bukanlah waktunya. Oleh karena itu ia percaya bahwa Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya (Pengkotbah 3:11), sehingga ia pun mampu memandang segala sesuatu dari sudut pandang Tuhan, bukan dari sudut pandang manusia. Dampaknya, selalu ada ucapan syukur, tidak mudah mengomel dan mengeluh meski harus melewati berbagai persoalan, karena dia tahu bahwa Tuhan memegang kendali segenap hidupnya.
Ingatlah! Sahabat, kedewasaan seseorang tidak tergantung pada usia atau berapa tahun dia telah menjadi orang percaya. Seseorang bisa saja dewasa secara usia, namun belum tentu secara rohani. Ketika seseorang berada dalam tahap dewasa rohani, ia layak menerima janji-janji Tuhan dalam hidupnya! Maukah Sahabat dan saya menjadi orang percaya yang dewasa rohaninya? Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. (pg). -
Resep TIDUR PULAS
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat. Semoga para pembaca “Karib Dengan Tuhan (KDT)” setiap malam dapat menikmati tidur yang pulas. Sahabat, saya sangat bersyukur kalau saat ini mudah sekali pulas jika tidur. Syaratnya hanya dua, saya tidak sedang sakit dan saya harus berangkat tidur paling lambat jam 22.00. Tidak seperti yang dialami oleh salah seorang teman saya, dia sangat menderita. Hampir setiap malam jika ia ingin tidur, ia harus berjuang keras sedemikian rupa. Kadang-kadang sampai fajar, jam 01.00 belum bisa tidur juga.
Sesungguhnya semua makhluk hidup memerlukan tidur yang cukup agar tetap sehat. Di saat kita tidur tubuh kita melakukan perbaikan terhadap berbagai kerusakan jaringan sel yang terjadi akibat berbagai aktivitas atau kegiatan kita sehari-hari. Kita butuh tidur bukan saja sehabis lelah secara fisik. Sebuah penelitian mengatakan bahwa orang yang banyak mempergunakan otak/pikiran dalam bekerja memerlukan tidur yang justru lebih lama dibandingkan dengan orang yang bekerja mempergunakan tenaga.Sahabat, ketika tubuh kita sedang sakit, kita membutuhkan waktu lebih banyak lagi agar tubuh punya cukup waktu untuk mengganti sel-sel yang rusak agar kita bisa kembali pulih. Secara umum para ahli sepakat bahwa orang dewasa memerlukan sedikitnya sekitar tujuh sampai delapan jam sehari untuk tidur kalau mau sehat. Apa yang terjadi jika kita kurang tidur? Kita akan rentan terserang penyakit. Tubuh kita akan terasa lemas, kita sulit konsentrasi, dalam kadar kekurangan tertentu, emosi menjadi labil, bahkan bisa membawa halusinasi apabila tubuh dibiarkan tidak tidur berhari-hari lamanya.
Bebicara mengenai tidur yang pulas, mari kita gali dari Mazmur 4:1-9. Mazmur 4 berisi doa Daud pada malam hari menjelang tidur. Daud sadar betul bahwa Tuhan mendengarkannya jika ia berseru kepada-Nya. Oleh karena itu Daud mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan sebelum tidur. Ia menaikkan syukur atas berkat Tuhan yang telah dicurahkan kepadanya. Yang lebih mengharukan adalah penyerahan diri Daud begitu total kepada Tuhannya.Sahabat di akhir doanya Daud membuat pernyataan, bahwa hanya Tuhan yang membiarkan ia diam dengan aman, maka ia merasa tenteram sewaktu membaringkan diri untuk tidur, “Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.” (ayat 9)
Saya yakin sekali bahwa Daud segera tertidur pulas setelah doanya di malam hari menjelang tidur tersebut. Ternyata resep tidur pulas adalah berserah total kepada kekuasaan Tuhan. Rasa ketakutan, kekhawatiran dan banyak pikiran-pikiran yang lain adalah penyebab orang tidak bisa tidur, atau pun tidur dengan kualitas yang kurang bagus.
Sahabat, mari belajar dari Daud. Berdoalah sebelum tidur dengan kepasrahan total. Yakinlah bahwa Tuhan yang Mahabaik akan menjaga hidup kita. Singkirkan pikiran- pikiran negatif yang mengganggu tidur kita. Karena dengan dipikirkan juga tidak akan menolong apa-apa. Tanamkan dalam-dalam di hati kita: Berserah itu indah.
Ingatlah! Sahabat, orang bijak berkata bahwa uang bisa membeli tempat tidur yang super mewah, tetapi tidak bisa membeli tidur nyenyak. Apabila ada di antara Sahabat yang tengah mengalami banyak masalah pada saat ini dan karenanya menjadi sulit untuk tidur, serahkanlah segalanya ke dalam tangan Tuhan. Di dalam Tuhan ada kelegaan, di dalam Tuhan ada jawaban, di dalam Tuhan ada pertolongan, dan tentu saja di dalam Tuhan ada keselamatan. Hari ini lepaskanlah semua rasa takutmu. Datanglah kepada-Nya dan rasakan kelembutan jamahan Tuhan yang mampu memberikan kelegaan sehingga Sahabat akan bisa beristirahat dengan tenang. Alami tidur yang nyenyak dengan penyertaan Tuhan sepenuhnya atas dirimu. (pg) -
KERENDAHAN HATI dan KETAATAN YESUS
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena Tuhan Yesus telah memberi teladan kepada umat-Nya dalam hal mengosongkan diri dan ketaatan. Sahabat, seorang teman yang ahli di bidang keuangan memberi nasihat kepada saya bahwa saya harus punya “Tabungan Darurat” jumlahnya minimal sejumlah 6 (enam) kali kebutuhan rutin kita tiap bulan. Kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi di kemudian hari. Tabungan darurat tersebut untuk mengantisipasi hal-hal yang tak terduga yang menyebabkan penghasilan kita berkurang bahkan tidak berpenghasilan sama sekali.
Ternyata kita sebagai makhluk sosial, kebutuhan dan tantangan hidup bukan hanya berkaitan dengan uang, tetapi juga perihal relasi dengan sesama. Kita butuh dikasihi dan mengasihi. Sesungguhnya itulah keinginan Tuhan, agar kita saling mengasihi dan mengutamakan, bukan sebaliknya. saling membenci dan menjatuhkan. Untuk itu hari ini kita akan berefleksi dari surat Filipi 2:1-11.
Sahabat, tujuan utama hidup orang percaya adalah menjadi seperti Kristus, “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” (1 Yohanes 2:6). Setiap orang percaya harus meneladani Kristus dalam hidupnya dan mengikuti jejak hidup-Nya sehingga kita menjadi serupa dengan Dia.
Lalu aspek apa saja yang harus kita teladani? Aspek yang pertama: Kerendahan hati. Bacaan kita hari ini mencatat, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (ayat 6-7). Yesus Kristus adalah pribadi yang rendah hati. Dia datang ke dunia bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani. Orang yang rendah hati adalah orang yang tidak semata-mata memikirkan dirinya sendiri atau mencari pujian bagi diri sendiri, tetapi menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri (ayat 3-b).
Aspek yang kedua: Ketaatan. Mengikuti jejak Kristus berarti meneladani ketaatan-Nya melakukan kehendak Bapa. Yesus teladan utama dalam hal ketaatan, “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (ayat 8)
Sahabat, ketika dihadapkan pada cawan penderitaan Yesus berkata, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Matius 26:39). Bagi Yesus melakukan kehendak Bapa adalah yang terutama dan melebihi segala-galanya. Itulah sebabnya Rasul Paulus menasihati supaya kita menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus (ayat 5). Karena ketaatan Yesus maka Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama (ayat 9).Ingatlah! Sahabat, tantangan dalam hal membangun relasi jauh lebih besar dibandingkan persoalan uang. Oleh karena itu, hidup bersama dalam keharmonisan perlu “tabungan” yang ditaruh dalam hati. Tabungan tersebut adalah kerendahan hati Yesus dan ketaatan-Nya dalam mewujudkan kehendak Bapa. Itulah fondasi dari relasi yang kita bangun dengan sesama. Hal tersebut akan menjadi modal utama ketika kita menghadapi kesulitan dalam menjalin relasi, yaitu sikap yang tidak meninggikan diri sendiri, melainkan rela berkorban bagi orang lain. (pg)
-
TUHAN PELINDUNG dan PENOLONGKU
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena kita memiliki Tuhan yang melindungi dan menolong kita. Sahabat, pernahkah kamu mengalami situasi yang sukar dan tidak menyenangkan? Misalkan, pertengkaran dalam rumah tangga, diputus oleh pacar, tidak naik kelas, tidak lulus ujian, ditolak saat melamar pekerjaan, diusir dari kontrakan karena tidak bisa bayar ketika jatuh tempo, atau sakit yang tidak kunjung sembuh. Kadang Tuhan izinkan kita melewati masa-masa sukar dalam hidup ini. Perkara yang tidak enak itu bisa saja datang dari keluarga, teman, rekan sepelayanan, pekerjaan dan lain-lain.
Daud adalah Raja Israel yang luar biasa. Ia juga pernah berada dalam kondisi sukar dan tidak menyenangkan. Salah satunya ialah ketika Daud dikejar-kejar oleh Saul dan diancam akan dibunuh. Mazmur 54:1-9 yang menjadi bacaan kita pada hari ini mengingatkan kita akan peristiwa tersebut.
Sahabat, Daud harus tinggal di padang gurun atau di tempat-tempat perlindungan karena dikejar-kejar oleh Saul yang hendak membunuhnya, “Ia tinggal di pegunungan, di padang gurun Zif. Dan selama waktu itu Saul mencari dia, tetapi Allah tidak menyerahkan dia ke dalam tangannya.” (1 Samuel 23:14b). Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Daud pada waktu itu: takut, cemas, khawatir, was-was bercampur aduk jadi satu.Maka Daud berseru kepada Allah, “Ya Allah, selamatkanlah aku karena nama-Mu, berilah keadilan kepadaku karena keperkasaan-Mu! Ya Allah, dengarkanlah doaku, berilah telinga kepada ucapan mulutku!” (ayat 3-4).
Sahabat, Mazmur 54 dipercaya sebagai doa Daud saat dalam kesesakan. Ia tahu bahwa hanya Tuhan sajalah yang mampu melindungi dan menolongnya (ayat 6). Tuhan menjadi satu-satunya penolong yang akan menjauhkannya dari orang-orang yang berniat jahat (ayat 5). Tuhan tidak seperti manusia karena Ia adalah sumber keadilan (ayat 3). Ia akan membela mereka yang benar dan menopang orang yang bersandar kepada-Nya.
Permohonan Daud merupakan tindakan konkrit dari sebuah keyakinan terhadap siapakah Allah bagi dirinya dan siapakah dirinya di hadapan Allah (ayat 6). Bahkan permohonannya agar Allah bertindak didasarkan pada apa yang pernah para musuhnya lakukan dan kesetiaan-Nya (ayat 7). Masih ada unsur kasih terhadap musuhnya dalam permohonan Daud. Akhirnya Mazmur 54 diakhiri dengan janji Daud kepada Allah (ayat 8-9). Janji ini merupakan pengakuan sebelum Allah bertindak bahwa Allah pasti akan menyelamatkannya. Keyakinannya tidak dibatasi oleh dimensi waktu.
Sahabat, saat ini, mungkin berbagai permasalahan hidup sedang menghimpit kehidupan kita. Harapan seolah-olah hilang dan kita kehilangan semangat menjalani kehidupan. Bahkan, mungkin saja kita sudah sampai meragukan pemeliharaan Tuhan.
Ingatlah! Sahabat, teduhkanlah hati dan pikiran kita. Marilah kita mengingat bahwa Tuhan adalah satu-satunya tempat perlindungan yang kukuh. Dialah yang menopang kita untuk melintasi badai kehidupan. Mari kita belajar dari Daud. Ia ditimpa banyak permasalahan hidup yang amat berat. Namun, ia tetap percaya bahwa Tuhan akan menolongnya dan melepaskannya dari kesesakan. Jangan berhenti berharap kepada-Nya, sebagaimana Allah juga tak pernah berhenti mengasihi kita. Maukah Sahabat dan saya selalu meyakini perlindungan dan pertolongan Tuhan? Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. (pg) -
PENGHARAPAN akan KEKEKALAN
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena Tuhan Yesus telah menganugerahkan pengampunan dosa dan hidup yang kekal kepada kita. Sahabat, ada cukup banyak orang yang berpendapat bahwa kehidupan manusia hanya terjadi pada saat kita hidup di dunia. Setelah kita meninggal dunia, semuanya akan berakhir. Sekarang mari kita perhatikan apa yang dikatakan oleh Abraham Lincoln (Presiden AS ke-16), “Tentu Allah tidak akan menciptakan makhluk seperti manusia hanya untuk hidup sehari! Tidak, tidak … manusia diciptakan untuk kekekalan.” Ternyata Lincoln berpendapat bahwa hidup manusia tidak berakhir ketika dia meninggal dunia. Ketika seseorang meninggal dunia, dia memasuki babak baru, babak kekekalan.
Sesungguhnya Kehidupan kita di bumi hanya bersifat sementara dan pendek. Kita akan jauh lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kekekalan. Bumi merupakan tempat persiapan bagi kehidupan kita di kekekalan. Inilah masa latihan sebelum permainan yang sesungguhnya; putaran pemanasan sebelum pertandingan dimulai. Kehidupan di bumi memang singkat, tapi sangat penting dan menentukan untuk kehidupan berikutnya. Firman Tuhan menegaskan bahwa masih ada kehidupan setelah kematian, yaitu kehidupan kekal di dalam kerajaan surga dan kebinasaan kekal di neraka.
Sahabat, perhatikanlah dengan saksama bahwa kelak kita akan masuk ke dalam kerajaan surga atau neraka sangat ditentukan selagi kita masih hidup di bumi, bukan setelah kita mati, “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup ,..” (Efesus 5:15-a).
Saya sependapat, untuk menuju ke kota Semarang bisa melalui Kudus, Salatiga, Pekalongan, Purwadadi, dan kota yang lain, tapi tidak berlaku untuk menuju ke surga. Tidak ada jalan lain menuju ke surga selain melalui Yesus Kristus, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6).
Sahabat, sangat jelas dinyatakan bahwa Kristus bukanlah hanya penunjuk jalan menuju kepada Bapa (surga) tapi Ia adalah Jalan itu sendiri. Sebagai Jalan, tentu Kristus tidak hanya sekadar memberi nasihat dan arahan, tapi Ia sendiri akan menuntun dan memimpin umat-Nya secara pribadi hari lepas hari melalui Roh Kudus. Kristus juga adalah kebenaran! Banyak orang, bahkan para nabi, mungkin bisa mengajar tentang kebenaran, tapi hanya Kristus yang berani berkata, “Akulah kebenaran.”, sebab Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya (1 Petrus 2:22). Selain itu Kristus adalah hidup, karena itu setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa, melainkan akan beroleh kehidupan yang kekal (Yohanes 3:16).
Sebagaimana selama sembilan bulan kita habiskan di dalam rahim ibu, itu bukanlah suatu akhir tetapi persiapan untuk menghadapi kehidupan selanjutnya di bumi. Demikian juga kehidupan ini merupakan persiapan untuk menghadapi kehidupan berikutnya. Jika kita beriman kepada Yesus, maka kita tidak perlu takut menghadapi kematian. Sesungguhnya kematian merupakan pintu menuju kekekalan. Kematian akan menjadi saat terakhir dari waktu kita di bumi, tetapi bukan akhir dari kehidupan kita. Bukannya akhir dari kehidupan kita, kematian justru merupakan hari kelahiran kita ke dalam kehidupan kekal.
Ingatlah! Sahabat, jadi sekalipun di bumi ini kita sedang menjalani ragam peristiwa kehidupan yang silih berganti, kiranya kita tidak hanya berfokus pada hal-hal yang sementara. Pengharapan akan kekekalan dapat mengubah cara pandang kita, serta mengikuti kehendak-Nya dengan tekun dan setia. Maukah Sahabat dan saya berpengaharapan akan kekekalan? Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. (pg)



