Author: Christopherus

  • PERTUNJUKAN PERISTIWA KASIH

    Sahabat, sebelum kita melangkah lebih jauh untuk menjalani hari ini, mari kita coba merenungkan betapa besar kasih Tuhan dalam kehidupan kita!  Detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun kasih Tuhan kepada kita tidak pernah berubah.  Sungguh, kita tak dapat menghitung  betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus  (Efesus 3:18). 

    Banyak cerita tentang cinta kasih yang ada di dunia ini, namun kesemuanya itu tidak bisa dibandingkan dengan kasih Tuhan.  Kasih Tuhan itu sangat jauh berbeda dari kasih lain yang ada di dunia ini. Maka tatkala pada hari ini kita memperingati Jumat Agung, sesungguhnya kita sedang memperingati  “Pertunjukan Peristiwa Kasih”.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “PERTUNJUKAN  PERISTIWA  KASIH”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Injil Lukas 23:44-49. Sahabat, tidak terhitung berapa banyak hinaan, pukulan, dan perlakuan keji yang Yesus terima hingga akhirnya Ia dipaku di atas salib. Itu semua tidak masuk akal. Mengapa Ia mau mengalami itu semua? Mari kita ingat kembali. Ketika hidup di bumi, Yesus pernah menyampaikan kepada para murid-Nya: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yohanes15:13). Semua penderitaan yang Yesus alami adalah realisasi kasih tersebut.

    Peristiwa penyaliban Yesus sesungguhnya menjadi peristiwa kasih yang melahirkan banyak peristiwa dan perubahan ajaib: Langit yang gelap karena mentari tidak bersinar, tabir Bait Suci terbelah dua, kepala pasukan memuliakan Allah, hingga orang banyak yang menyesali apa yang terjadi (ayat 44-48).

    Sahabat, orang-orang yang mengenal Yesus dari dekat serta para pengikut-Nya melihat dan menjadi saksi akan peristiwa kasih terbesar sepanjang masa (ayat 49) ketika Yesus menyerahkan nyawa-Nya (ayat 46). Karena kasih-Nya, Yesus telah mati untuk kita (bdk. Yohanes 3:16). Dengan lebih dalam, mari kita lihat dan resapi semua peristiwa itu, dan katakan: “Yesus, terima kasih untuk kasih-Mu”.

    Tatanan masyarakat kita sekarang ini sedang kering dengan cinta kasih. Semua orang sibuk dengan kepentingan dirinya sendiri. Di tengah kehidupan dunia yang dipenuhi oleh nilai-nilai egoisme dan individualisme ini, kita belum bisa memiliki kualitas kasih seperti Yesus.

    Sahabat, marilah kita memohon kepada-Nya agar kita bisa mengasihi sama seperti Ia mengasihi dunia dan umat manusia. Dengan demikian, kasih terbesar yang telah Ia lakukan dan tunjukkan tidak hanya terjadi di atas salib 2.000 tahun yang lalu, namun bisa terus tampak nyata sampai akhir zaman melalui diri kita.

    Dengan kualitas kasih seperti kasih Yesus, kita bisa mewujudkan habitat hidup yang lebih baik untuk seluruh umat manusia. Dan dengan kasih-Nya pula kita menebarkan kasih Yesus kepada dunia di sekitar kita hingga banyak orang merasakan kasih-Nya dan kemudian menjadi percaya.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pemahamanmu tentang karakteristik kasih Tuhan kepada umat-Nya. Selamat sejenak merenung.  Ingatlah, tidak alasan bagi kita untuk meragukan kasih Tuhan dalam hidup kita. (pg).

  • SALIB KEHIDUPAN: Sebuah Refleksi

    Sabtu Sunyi atau Sabtu Sepi atau Sabtu Suci (bahasa Latin : Sabbatum Sanctum – “Hari Sabat Suci”) adalah hari setelah Jumat Agung dan sebelum Minggu Paskah. Hari Sabtu Sunyi memperingati pada saat tubuh Yesus Kristus dibaringkan di kubur setelah pada hari Jumat Agung mati disalibkan. Keesokan harinya (Paskah) Yesus bangkit dari kematian-Nya.

    Perayaan Sabtu Sunyi umumnya dilaksanakan dalam keheningan, tentu tidak melulu soal kesedihan, melainkan refleksi dan evaluasi diri atas pengurbanan Kristus sampai mati dikubur. Sabtu Sunyi adalah keheningan yang menjembatani antara Jumat berdarah dengan Minggu bergelora, jembatan antara kematian Anak Domba dengan kebangkitan Mesias Yesus Kristus.

    Sahabat, salib jarang menjadi impian manusia. Bahkan salib merupakan hal yang ingin dihindari oleh setiap manusia. Mengapa? Karena salib dalam kehidupan manusia identik dengan penderitaan. Rasa sakit akibat penderitaan yang kita alami sering begitu dalam, dan itu tidak bisa hilang begitu saja. Hal itu merupakan sebuah realitas yang kita miliki karena kadang terkait dengan beberapa pengalaman hidup kita yang paling awal.

    Karena itu bukanlah hal yang mudah bagi kita untuk menerima, merangkul, memikul dan membawa salib hidup kita setiap hari. Kendati demikian, sebagai orang percaya, kita harus sadar bahwa yang menjadi hakikat panggilan hidup kita ialah untuk membawa penderitaan itu sebagai milik kita dan memasukkan rasa sakit kita ke dalam diri kita dan membiarkannya berbuah berkat di hati kita dan hati orang lain.

    Inilah yang Yesus maksudkan saat Ia meminta kita untuk memikul salib kita. Dia mendorong  kita untuk mengenal dan menerima penderitaan kita yang khusus dan percaya bahwa jalan menuju keselamatan terletak di dalamnya. Dengan mengambil salib berarti kita bersahabat dengan luka-luka kita dan membiarkan luka-luka itu mengungkapkan kebenaran pada kita. Hal demikian dapat terjadi jika kita bersandar pada salib Kristus. Kematian Yesus di kayu salib hendak mengatakan bahwa Yesus bukan hanya sekadar manusia, tetapi Ia adalah Tuhan yang merendahkan diri-Nya setara dengan manusia. Dialah Tuhan dan Penyelamat.

    Dalam kehidupan, ketika kita memandang salib, tentu terdapat beragam pikiran tentang salib itu. Namun, barangkali kita tak menyadari bahwa di dalam salib itu ada suatu kehidupan, dalam artian melalui salib itu, hidup kita diubah. Salib yang kita pasang di rumah bukan hanya sekadar simbol, tapi mempunyai makna yang dalam. Salib yang kita pasang itu menjadi sumber kehidupan. Karena dengan salib itu, kita mengenang akan sengsara dan wafat Kristus. Ingat juga bahwa berkat salib Kristus, kita diselamatkan. Hidup kita diubah. Meskipun perjalanan hidup kita penuh dengan derita (via dolorosa) tapi kalau perjalanan kita bersama Yesus, maka semuanya menjadi ringan.

    Sahabat,  Yesus bersabda,  “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28). Itu berarti salib merupakan sumber kehidupan dan kemuliaan. Salib sebagai salib kehidupan seharusnya menjadi sumber keselamatan kita. Salib Kristus sebagai salib kehidupan akan membawa kita kepada keselamatan. Oleh karena itu pandanglah salib Kristus sebagai salib kehidupan. Karena pada salib itulah terletak pengharapan dan keselamatan hidup kita. (pg)

  • Tetap BERBUAH di usia SENJA

    Sangat menarik Pemazmur menggambarkan orang benar akan bertunas seperti pohon korma. Pohon korma dapat hidup dan tumbuh secara ajaib di padang gurun.  Di padang yang kering dan berpasir itu biji korma yang ditanam tidak akan langsung bertumbuh ke atas, namun membutuhkan waktu yang cukup lama, bahkan bisa sampai bertahun-tahun.  Ternyata pada masa-masa itu biji korma akan bertumbuh ke bawah, mencari dan menuju kepada sumber air yang tersembunyi di bawahnya hingga biji itu semakin besar dan semakin kuat berakar ke dalam. 

    Bahkan sudah menjadi tradisi jika seorang petani menanam biji korma akan dengan sengaja menekan biji itu sedemikian rupa dengan menggunakan batu besar supaya biji itu makin terbenam ke dalam dan makin bertumbuh ke bawah, sehingga aman dari badai gurun yang sewaktu-waktu menerpa. 

    Pada saatnya, tunas korma itu akan menggulingkan batu yang menekannya, lalu bertumbuh ke atas dan tidak tergoyahkan meski ada badai sekalipun, karena akarnya telah kuat mengakar ke dalam, dan pada waktunya, tanaman korma itu akan menghasilkan buah dan terus berbuah sampai pada masa tuanya.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Tetap BERBUAH di usia SENJA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 92:1-16 dengan penekanan pada ayat 13-16. Sahabat, dalam Mazmur 92 bangsa Israel mengungkapkan nyanyian syukur atas hari-hari yang penuh kebaikan dan berkat yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka. Allah adalah Raja di atas segala raja. Ia bertakhta. Menaikkan syukur dan pujian kepada Allah merupakan perbuatan yang dikehendaki Allah dari mulut umat-Nya.

    Ia adalah Allah. Karena itu, Ia layak menerima sujud sembah, pujian, hormat, dan kemuliaan. Pemazmur menyatakan semuanya ini lewat syair-syair yang dilantunkan. Mazmur ini mengajar kita bahwa memuji dan bersaksi atas pekerjaan Allah merupakan tindakan yang penting sebagai ekspresi iman yang sejati kepada Allah (ayat 6). Orang yang mengenal Allah adalah orang yang mengenal betapa besarnya pekerjaan Allah.

    Sahabat, pada bagian akhir, Pemazmur bersaksi bahwa orang benar akan bertunas seperti pohon korma. Mereka yang ditanam di bait Tuhan, akan bertunas di pelataran Allah. Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar (ayat 13-15).

    Adalah penting bagi kita untuk menyadari tujuan hidup kita di dunia secara umum, yaitu bekerja memberi buah. Tidak sedikit orang percaya yang lupa akan hal tersebut. Apa yang Dia perhatikan adalah buah yang kita hasilkan. Apakah kita sudah bertumbuh dengan subur dan menghasilkan banyak buah yang rasanya manis dan segar?

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, coba bagikan pemahamanmu, apa kaitannya antara orang benar akan bertunas seperti pohon korma dengan tetap berbuah di usia senja? Selamat sejenak merenung. Mari kita daraskan: “Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.” (ayat 15-16). (pg).

  • BERBAGI PERGUMULAN HIDUP

    Yesus itu Allah 100% dan Manusia 100%. Yesus sebagai manusia tentu butuh teman untuk berbagi ketika Dia sedang menghadapi pergumulan yang super amat sangat berat.

    Sahabat, sesungguhnya tidak mudah mengakui ketakutan dan kelemahan kita kepada orang lain, terlebih jika kita menduduki jabatan struktural yang tinggi. Kita akan berusaha terlihat tegar dan kuat, serta menyembunyikan berbagai kecemasan. Seolah-olah tak ada persoalan yang dapat menyentuh dan menjatuhkan kita. Kita kemudian menutup diri karena tidak ingin dinilai lemah, bahkan kerdil.

    Hari ini kita memasuki “Kamis Putih”, untuk itu saya ajak untuk lebih memahami topik tentang “BERBAGI PERGUMULAN HIDUP”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Matius 26:36-46 dengan penekanan pada ayat 38. Sahabat, setiba di Getsemani, Yesus menempatkan delapan murid-Nya untuk duduk agak jauh (ayat 36), tetapi Petrus, Yakobus, dan Yohanes diajak untuk menyertai-Nya berdoa (ayat 37). Sambil berbagi kesedihan-Nya yang sangat mendalam, Yesus meminta ketiga murid-Nya menemani-Nya berdoa sambil berjaga-jaga (ayat 38, 40, 41). Dalam doa-Nya, Yesus memohon agar cawan murka Allah tidak diminum-Nya. Namun, Ia tidak mau memaksakan kehendak-Nya, melainkan memasrahkan kepada kehendak Bapa apa yang terjadi atas diri-Nya (ayat 39).

    Ketika Yesus menemui ketiga murid-Nya, Ia menemukan mereka tertidur. Sekalipun gagal menemani-Nya dalam keadaan terjaga, kepada mereka Ia kembali meminta untuk menemani-Nya berdoa hanya satu jam saja (ayat 40), khususnya berdoa bagi pencobaan dari kelemahan kedagingan, yakni rasa kantuk (ayat 41).

    Sahabat, isi doa Yesus selanjutnya persis sama dengan yang pertama (ayat 42, 44). Dua kali pula Yesus mendapati ketiga murid-Nya tertidur (ayat 43, 45). Ironis, bagaimana mereka bisa siap siaga terhadap kehendak Bapa jika mereka tidak mampu mengalahkan rasa kantuk? (ayat 45). Akhirnya Yesus membangunkan dan mengajak mereka pergi sebab Sang Pengkhianat sudah datang (ayat 46).

    Tindakan Yesus ini menunjukkan bahwa sebagai manusia, mengalami ketakutan dan kesedihan itu sangat wajar. Memang kita tidak dianjurkan mengumbarnya kepada semua orang, tetapi membaginya dengan orang-orang tertentu yang diharapkan dapat memahami keadaan kita.

    Sahabat, para murid gagal memahami Yesus, mereka malah tertidur. Tetapi kehadiran mereka di dekat-Nya menjadi penguatan tersendiri bagi-Nya. Kiranya kita juga belajar membagikan pergumulan kita kepada orang lain, dan tidak menanggungnya sendirian, karena kita juga butuh topangan mereka.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami tentang berbagi pergumulan hidup?
    2. Kepada siapa saja biasanya kamu berbagi tentang pergumulan hidup yang sedang engkau hadapi?

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah, membuka diri dapat membuat kita terlihat rentan dan lemah, tapi sekaligus dapat beroleh kekuatan karena dukungan dan doa mereka. (pg).

  • MEMFOKUSKAN diri untuk BERIBADAH

    Satu di antara hal tersulit dalam menjalani kehidupan adalah tetap fokus dan konsisten dengan tujuan hidup. Pada perjalanannya, pasti ada yang akan mengganjal. Terkadang, ada hal yang membuatmu ragu. Perasaan seperti itu bisa saja muncul karena kamu terlalu mendengarkan perkataan orang lain dan tidak fokus dengan apa yang sedang kamu lakukan.

    Sahabat, itulah mengapa kita perlu tetap fokus. Coba tetap fokus karena perkataan orang lain belum tentu cocok dan pas dengan situasi yang kamu hadapi maupun jalan hidup yang kamu pilih. Selain itu, tetaplah fokus pada hal yang kamu lakukan saat ini karena apabila terlalu fokus dengan hasil, kamu tidak akan pernah menikmati prosesnya.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “MEMFOKUSKAN diri untuk BERIBADAH”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 28:16 – 29:40. Sahabat,  memfokuskan diri untuk beribadah kepada Allah tentu bukan hal yang mudah. Fokus ini dijabarkan dalam bacaan kita pada hari ini, khususnya mengenai berbagai aturan ibadah pada hari-hari suci. Setidaknya dicatat ada lima hari suci, yaitu: Paskah, Pentakosta, Tahun Baru, Hari Penebus Dosa, dan Pesta Pondok Daun.

    Hal yang menarik dari kelima hari suci tersebut adalah perintah agar umat tidak bekerja atau melakukan pekerjaan berat. Pada pesta Paskah, hari pertama dan ketujuh minggu itu adalah hari suci bagi umat dan mereka tidak diperkenankan bekerja (Bilangan 28:18, 25). Pada hari Pentakosta (hari hulu hasil), selain mempersembahkan hasil panen gandum pertama, umat juga tidak boleh bekerja (Bilangan 28:26).

    Pada Tahun Baru, hari pertama merupakan hari peniupan serunai sehingga umat tidak boleh bekerja (Bilangan 29:1). Pada hari Penebus Dosa, umat diperintahkan untuk merendahkan diri dengan berpuasa. Untuk itu, umat juga tidak diperbolehkan bekerja (Bilangan 29:7). Pada Pesta Pondok Daun, umat harus mengadakan perayaan bagi Tuhan selama 7 hari, sehingga pada hari pertama dan kedelapan umat tidak boleh bekerja (Bilangan 29:12, 35).

    Sahabat, semua itu menunjukkan pentingnya tidak bekerja pada setiap hari suci. Pentingnya umat memfokuskan diri untuk beribadah.  Pertemuan antara Tuhan dan umat Israel adalah pertemuan yang kudus. Karena itu, tidak ada satu pun hal yang boleh mengganggunya, termasuk pekerjaan sehari-hari mereka.

    Betapa pentingnya bagi umat Tuhan dapat memfokuskan segenap pikiran dan waktu mereka hanya untuk Allah.

    Sahabat, di tengah kesibukan, marilah kita bertekad menjaga fokus hidup, terutama ketika tiba hari yang kita khususkan untuk Tuhan. Terkadang kita terlalu sibuk dengan pekerjaan dan aktivitas sehingga tidak sungguh-sungguh berfokus dalam beribadah. Mari kita mulai sungguh-sungguh memberikan yang terbaik ketika beribadah kepada Tuhan, tidak hanya dalam hal materi, tetapi juga dalam hal waktu dan pikiran.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pemahamanmu tentang mengfokuskan diri untuk beribadah. Selamat sejenak merenung. Ingatlah, perjumpaan kita dengan Tuhan adalah di dalam pertemuan ibadah yang kudus. (pg). 

  • Kala AKU TAKUT

    Pernahkah Anda merasa takut untuk berjuang menjalani hidup, terlebih ketika sedang menghadapi berbagai masalah yang pelik? Sebagai manusia, rasa takut itu tentulah yang wajar. Namun, ketika sedang menghadapi pergumulan yang berat, kita sering kali tidak dapat mengendalikan rasa takut kita sehingga tetap dapat melihat secuil harapan. Kita justru terkurung pada rasa takut itu, akibatnya merasa bahwa harapan kita telah sirna. 

    Sahabat, sesungguhnya tidak ada manusia yang bebas dari masalah, dan pengalaman merupakan guru terbaik. Pengalaman hidup mengajarkan kepada manusia bahwa ketakutan tidak dapat meniadakan masalah. Jika ada masalah, kita tidak harus menghindar atau melarikan diri. Sebaiknya, kita menghadapi setiap masalah dengan tenang sembari mencari solusinya. Maka ketika kita takut, itulah saatnya kita perlu semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Kala AKU TAKUT”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 91:1-16. Sahabat, Kitab Mazmur adalah nyanyian, pujian, dan ungkapan bangsa Israel yang dilantunkan dalam bentuk syair kepada Allah. Orang-orang Yahudi kebanyakan menggunakan mazmur dalam ibadah mereka (bnd. 1 Korintus 14:26; Efesus 5:19; Kolose 3:16). Isi mazmur menyatakan pujian manusia kepada pribadi dan karya Tuhan.

    Karena itu, dalam mazmur kita bisa melihat berbagai macam ekspresi dan perasaan yang mendalam tentang pernyataan kekuasaan Allah, kemegahan Allah, pertolongan Allah, dan sebagainya. Di sini dapat disimpulkan bahwa Allah adalah satu-satunya tempat pertolongan bagi bangsa Israel untuk mengadu dan bersandar saat mereka menghadapi kesulitan.

    Sahabat, Mazmur 91 merupakan ungkapan pengharapan kepada Allah pada saat bangsa Israel mengalami ketakutan. Mereka menaikkan pujian dan pengharapan kepada Allah. Pengharapan mereka teguh dan pasti karena bagi mereka Tuhan adalah “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku” (ayat 2).

    Pemazmur percaya Allah akan membentangkan sayap-Nya untuk menudungi dan melindungi dari musuh. Umat-Nya tidak perlu takut dengan kedahsyatan malam, panah di waktu siang, terhadap penyakit, terhadap seribu orang bahkan sepuluh ribu orang, terhadap malapetaka dan tulah, antukan batu, dan terhadap singa dan ular tedung yang mengerikan (ayat 5-13). Kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok. Pemazmur menggambarkan betapa penyertaan Tuhan sungguh-sungguh sempurna sehingga umat tidak perlu takut apa pun. Allah menjamin bahwa umat-Nya akan dikasihi dan diluputkan dari semua yang mereka takutkan.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang engkau pahami tentang ketakutan?
    2. Apa dampaknya jika ketakutan sampai membelenggu hidupmu?
    3. Apa yang harus engkau kerjakan ketika ketakutan menghampirimu?

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah, bersama Tuhan kita cakap menanggung segala sesuatunya. (pg)