
Author: Christopherus
-
ReKat: TUHAN SETIA pada Janji-Nya (12 April 2022)
Bacaan Sabda: Mazmur 89:1-19
Berdasarkan hasil perenungan saya dari Mazmur 89:1-19, kita sebagai umat Allah yang telah menerima kasih setia-Nya , kita harus merespons akan kebaikan dan janji setia Tuhan kepada kita, dengan cara hidup bersyukur yaitu dengan mau menaati akan firman Allah serta melakukan kehendak-Nya di dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita harus menjadi saksi Kristus bagi orang lain dengan menceritakan akan kebaikan Tuhan yang telah kita terima selama ini.
(Swan Lioe)
-
Pujilah dan Taatilah Tuhan
Memuji Tuhan tidak dapat dilepaskan dari kehidupan orang percaya. Mengapa? Memuji Tuhan adalah perintah Tuhan, dan sebagai anak-anak-Nya kita harus taat melakukannya (Ibrani 13:15). Selain itu bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah (Mazmur 147:1).
Sahabat, Tuhan sangat menikmati puji-pujian yang dinaikkan oleh umat-Nya, karena itu Ia selalu hadir dan bertakhta di atas pujian kita. Meski berada di situasi sulit dan sepertinya kegelapan pekat mengelilingi hidup kita biarlah kita tetap memuji-muji Tuhan, karena ketika kita melakukannya Tuhan akan hadir melawat kita. Kehadiran-Nya pasti membawa dampak luar biasa dalam kehidupan kita: Memulihkan, menyembuhkan, menolong bahkan memberkati kita. Karena itu pujilah dan taatilah Tuhan.
Untuk lebih memahami topik tentang: “Pujilah dan Taatilah Tuhan”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 95:1-16. Sahabat, memuji Allah wajib dilakukan orang percaya. Pemazmur mengajak bangsa Israel bersorak-sorai dan sujud menyembah-Nya. Pemazmur mengajak umat menyembah Tuhan karena Ia adalah Allah dan Raja yang besar. Namun, Mazmur 95 tidak hanya mencakup ajakan untuk memuji, tetapi juga nasihat untuk menaati peringatan Allah.
Peringatan yang diberikan tidak main-main sebab peringatan tersebut berasal dari Allah. Di bagian awal Mazmur 95, Pemazmur mengajak umat memuji Allah (ayat 1-7a). Akan tetapi, mulai dari ayat 7b, bangsa Israel dituntun untuk mendengarkan peringatan dari Allah. Seruan Allah dalam Mazmur 95 mengingatkan bangsa Israel dalam tiga hal:
Pertama, jangan keras kepala dan bebal (ayat 8). Artinya, seruan dan peringatan Allah harus direspons dan tidak boleh diabaikan. Tindakan mengabaikan peringatan Allah sama artinya membangkang dan melawan Tuhan. Sikap ini yang dilakukan oleh leluhur bangsa Israel dalam peristiwa di Masa dan Meriba.Kedua, jangan mencobai Tuhan (ayat 9). Apa perbedaan besar antara menguji dan mencobai? Motif menguji selalu mencari bukti terhadap suatu kebenaran, sedangkan motif mencobai adalah menyangkal kebenaran sebagai fakta yang valid. Dalam hal ini, leluhur bangsa Israel telah mencobai Allah di Masa dan Meriba karena mereka bukan hanya menolak kebenaran yang telah dialami, tetapi juga mau mengatur Allah untuk tunduk kepada keinginan mereka.
Ketiga, jangan sesat hati (ayat 10). Kata “sesat hati” bisa dipahami sebagai hati yang tidak lurus, memberontak, dan penuh tipu muslihat. Inilah yang menjadi inti permasalahan leluhur bangsa Israel yang dengan sengaja dan berulang-ulang mengabaikan jalan Allah. Akibatnya, Allah membinasakan satu generasi bangsa Israel yang keluar dari Mesir, kecuali keluarga Yosua dan Kaleb.
Sahabat, berdoalah agar kita tidak hanya memuji Allah, tetapi juga dibarengi dengan ketaatan kepada-Nya. Karena itu, marilah saat ini kita belajar untuk terus taat kepada Allah sembari memuji kebaikan dan kebesaran-Nya dalam hidup kita hari lepas hari.Berdasarakan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pelajaran apa saja yang engkau dapatkan. Mengapa Allah merasa jemu dengan umat-Nya? (Ayat 10). Selamat sejenak merenung. Tuhan menolong dan memberkati. (pg).
-
Ada TANGGUNG JAWAB di Pundak Kita
Setiap orang pada hakikatnya telah diberikan tanggung jawab, yang telah menjadi bagian dari kehidupan manusianya sebagai kodrat. Namun, belum tentu semua orang dapat mengetahui dan memahami apa sebenarnya arti dari tanggung jawab.
Tanggung jawab menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan keadaan untuk wajib menanggung segala sesuatunya. Dalam hal ini, jika dijabarkan tanggung jawab adalah kesadaran seseorang akan kewajiban untuk menanggung segala akibat dari sesuatu yang telah diperbuatnya.
Sahabat, tanggung jawab merupakan bagian yang tak terpisahkan dan harus tertanam dalam diri setiap orang. Tentunya, setiap orang memiliki tanggung jawab yang berbeda-beda. Bahkan, semakin dewasa seseorang, tanggung jawabnya pun makin kompleks. Pada kenyataannya, tidak semua orang mampu melakukan apa yang menjadi tanggung jawab dalam kehidupannya. Kendati demikian penting untuk mempunyai jiwa yang bertanggung jawab dalam hal apapun. Di dalam hati kita perlu tertanam dalam-dalam: Ada tanggung jawab di pundak kita.
Untuk lebih memahami topik tentang: “Ada TANGGUNG JAWAB di Pundak Kita”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 32:1-42 dengan penekanan pada ayat 18. Sahabat, para laki-laki dewasa di antara bangsa Israel memiliki dua macam tanggung jawab sosial, yaitu tanggung jawab sebagai kepala keluarga yang harus melindungi istri dan anak-anak mereka serta tanggung jawab sebagai anggota suku sebuah bangsa, yaitu bangsa Israel. Tanggung jawab sebagai kepala keluarga membuat suku Ruben dan suku Gad meminta agar mereka diizinkan untuk menempati daerah yang sudah mereka taklukkan di sebelah Timur Sungai Yordan (ayat 1-5).
Sahabat, semula Musa merasa kesal mendengar permohonan tersebut, tetapi akhirnya Musa mengabulkan permohonan itu setelah para laki-laki dewasa dari suku Ruben dan suku Gad berjanji bahwa mereka tetap akan ikut berperang merebut daerah-daerah di sebelah Barat sungai Yordan sampai semua suku Israel memperoleh milik pusaka masing-masing. Dari kisah berikutnya (39-42), jelas bahwa langkah suku Ruben dan suku Gad itu kemudian diikuti oleh sebagian (setengah) dari suku Manasye.
Bacaan kita pada hari ini mengingatkan bahwa bila kita menjadi anggota satu komunitas, kita tidak boleh hanya memerhatikan kepentingan sendiri, tetapi kita harus memerhatikan kepentingan anggota komunitas yang lain. Sebaliknya, perhatian kita terhadap segenap anggota komunitas juga tidak boleh membuat kita melupakan kepentingan keluarga kita. Tanggung jawab kita dalam satu bidang tertentu tidak boleh membuat kita mengabaikan tanggung jawab kita dalam bidang yang lain.
Sebagai orang percaya, kita harus menyadari bahwa kita harus bertanggung jawab dalam berbagai bidang di setiap lingkungan tempat kita berada. Kita harus bertanggung jawab terhadap keluarga kita, terhadap tempat kita bekerja, terhadap tempat kita berjemaat, terhadap lingkungan tempat kita tinggal, terhadap setiap organisasi yang kita ikuti, bahkan kita juga harus bertanggung jawab terhadap negara kita.
Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pemahamanmu tentang tanggung jawab apa saja yang ada di pundakmu. Selamat sejenak merenung. Mari kita mendaraskan: “Kami tidak akan pulang ke rumah kami, sampai setiap orang Israel memperoleh milik pusakanya.” (Ayat 18)
-
ADA KEBAHAGIAAN di balik HAJARAN
Membaca atau mendengar kata hajaran pasti timbul kengerian di benak kita, karena terbayang keadaan seseorang yang sedang merintih kesakitan dalam kondisi babak belur, terluka dan berdarah-darah akibat menerima siksaan berupa pukulan.
Dalam kehidupan orang percaya, menerima hajaran dari Tuhan adalah perkara yang tidak bisa dihindari, terlebih-lebih jika kita berlaku menyimpang dari firman Tuhan, siap-siaplah menerima hajaran Tuhan.
Sahabat, Tuhan menghajar umat-Nya bukan berarti membenci atau tidak mengasihi, justru hajaran-Nya adalah wujud kasih-Nya kepada kita. Hajaran Tuhan adalah bentuk proses pendisiplinan supaya hidup kita semakin sempurna dan lebih baik dari sebelumnya. Ada kebahagiaan di balik hajaran.Untuk lebih memahami topik tentang: “ADA KEBAHAGIAAN di balik HAJARAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 94:1-23 dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, setiap pukulan dan hajaran tentulah menyakitkan. Namun, Pemazmur justru menyatakan sebaliknya, HAJARAN Tuhan itu adalah sebuah kebahagiaan!
Pemazmur memiliki beragam pengalaman hidup. Pengalaman yang dibentuk melalui berbagai penderitaan sebagai bentuk hajaran Tuhan yang akan membawa kebaikan baginya. Setiap bentuk hajaran yang Tuhan izinkan bukanlah untuk membuatnya hancur, melainkan disertai kerinduan Tuhan agar ia kembali pada kebenaran dan dibawa mendekat kepada-Nya.
Saat mengarungi kehidupan ini, tanpa sadar kesibukan dan rasa nyaman telah menjadi gelombang yang membawa hidup kita jauh dari Tuhan. Pada saat itulah Tuhan mengingatkan, menegur, bahkan menghajar kita, anak-anak-Nya. Seperti Pemazmur, biarlah kita belajar menerima setiap “lemparan” dan “hajaran” Tuhan itu dengan sukacita. Karena kita tahu Dia tidak pernah melukai kita, Dia ingin membawa kita dekat kepada-Nya.Sahabat, sampai berapa lama Tuhan menghajar kita? Itu sangat tergantung pada respons kita, apakah kita segera sadar dan mau menyerah penuh kepada Tuhan. Kalau kita terus memberontak dan mengeraskan hati maka hajaran Tuhan akan berlangsung lama seperti yang dialami oleh bangsa Israel yang harus diproses dan dihajar Tuhan selama 40 tahun di padang gurun. Karena itu Pemazmur berkata, “Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari Taurat-Mu, untuk menenangkan dia terhadap hari-hari malapetaka, …” (Mazmur 94:12-13).
Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Bagikanlah pemahamanmu tentang hajaran Tuhan.
- Mengapa Pemazmur mengatakan bahwa berbahagialah kita kalau Allah masih mau menghajar kita? (Ayat 12)
Selamat sejenak merenung. Ingatlah, Orang yang memiliki kepekaan rohani tidak akan pernah memberontak atau pun lari ketika sedang dihajar Tuhan. (pg)




