Author: Christopherus

  • PUASA: Lebih Memahami Kehendak Allah

    Dalam Kitab Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB) kita menemui beberapa macam PUASA: Ada Puasa Musa, Daud, Elia, Ester, Ayub, Daniel, Yunus, Niniwe, Yesus, Yohanes Pembaptis, Paulus, dan lain-lainnya.

    Sahabat, kadang program atau kegiatan  doa dan puasa memicu pro dan kontra di  suatu gereja. Beberapa orang berpendapat bahwa puasa adalah hal yang tidak perlu dilakukan oleh orang percaya. Mereka beranggapan bahwa berpuasa itu sama dengan memaksa Allah untuk mengabulkan sesuatu. Sementara sebagian lainnya percaya, walaupun sebagai orang percaya kita sudah ditebus, puasa adalah jalan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Saat berpuasa, kita menjauhkan diri untuk sementara waktu dari hal-hal jasmani yang selama ini mencuri waktu bersama Tuhan. Manakah pandangan yang tepat? Sesungguhnya puasa merupakan waktu yang kita khususkan untuk lebih memahami kehendak Allah.

    Hari ini kita memasuki Rabu Abu, untuk itu mari kita lebih memahami topik tentang: “PUASA: Lebih Memahami Kehendak Allah”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 58:1-12, dengan penekanan pada ayat 11. Sahabat, dalam kitab Yesaya, Tuhan sendiri menentang puasa yang selama ini dilakukan oleh umat-Nya karena mereka melakukannya tidak dengan tulus.

    Mereka tetap menindas yang lemah (ayat 3), mereka tetap berselisih paham dan berkelahi (ayat 4). Tentu saja bukanlah hal demikian yang dikehendaki Allah. Apa gunanya berpuasa sambil tetap melakukan hal-hal tercela! Allah tidak melihat puasa kita, namun niat di baliknya. Apakah ada roti bagi yang lapar, kemerdekaan bagi yang terjajah, dan pakaian bagi yang telanjang?

    Sahabat, tidak ada yang salah dengan keinginan untuk berpuasa. Bahkan Yesus sendiri pun melakukan puasa untuk lebih memahami kehendak Allah. Dan tujuan yang benar tersebut memampukan-Nya untuk melawan Iblis yang menggoda. Hendaknya keputusan kita untuk melakukan puasa didasarkan pada kerinduan untuk menjadi semakin dekat dengan Dia yang kita kasihi, tanpa “ada udang di balik batu” yang mengiringi.

    Allah menghendaki puasa yang membebaskan mereka dari belenggu kelaliman supaya mereka menjadi orang-orang yang rendah hati. Allah menghendaki ibadah yang membawa perubahan diri dan berdampak nyata dalam kehidupan umat, karena saat itulah umat menjadi terang dan berkat bagi orang lain.

    Ibadah yang Allah kehendaki adalah ibadah yang berorientasi kepada kepentingan Allah dan pengenalan yang benar akan kehendak-Nya, bukan kepada kepentingan diri sendiri.

    Hakikat ibadah adalah mengalami perjumpaan yang dalam dan indah dengan Tuhan baik dalam ritual ibadah maupun dalam praktiknya setiap hari. Itulah bentuk kesalehan dan ibadah kita yang sejati, yang Tuhan inginkan terwujud di dalam hidup kita sebagai umat-Nya. 

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pemahamanmu tentang puasa dan model (bentuk) puasa yang engkau lakukan selama ini. Selamat sejenak merenung. Ingatlah, puasa adalah kesempatan untuk memahami kehendak Allah, bukan kesempatan untuk memaksakan kehendak kita kepada Tuhan. (pg)

  • PERSEMBAHKAN yang TERBAIK

    Pada waktu ulang tahun pernikahan ke-50 Bapak Andreas Christanday dengan Ibu Maria Susilowati pada 22 Maret 2022, kami berusaha membuat kartu ucapan untuk mereka yang apik, menarik, ada sentuhan personal, dan mempunyai makna yang dalam. Mengingat Pak Andreas dan Bu Maria menjadi teladan dan panutan kami. Kami ingin memberikan yang terbaik di momen ulang tahun pernikahan emas mereka.

    Kalau untuk orang yang kita hormati saja kita berusaha memberikan yang terbaik, apalagi untuk Tuhan. Kita wajib mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan. Karena itu  Hukum Taurat mengatur persembahan kepada Tuhan begitu detail.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “PERSEMBAHAN yang TERBAIK”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 28:1-15. Sahabat, pemberian seperti apa yang diperkenan Allah? Pernahkah kita memikirkannya? Dalam ibadah kepada Allah, bangsa Israel memiliki berbagai aturan yang berkaitan dengan kurban. Kitab Bilangan  28-29 memuat peraturan untuk kurban yang harus dipersembahkan umat di Tanah Perjanjian.

    Kurban tersebut dapat dibagi dalam beberapa jenis. Pertama, kurban umum berupa kurban makanan yang setiap pagi dan sore hari harus dipersembahkan kepada Allah (ayat 2-8). Kedua, kurban pada hari Sabat yang dipersembahkan tiap minggu dalam ibadah kepada Allah (ayat 9-10). Ketiga, kurban pada pesta bulan baru yang dipersembahkan tiap bulan pertama dalam menyambut tahun baru (ayat 11-14).

    Ketiga kurban tersebut melibatkan kurban bakaran (domba jantan, lembu jantan, dan domba yang tak bercela); kurban sajian (tepung yang terbaik); serta kurban curahan (minuman yang memabukkan atau anggur). Semuanya harus dicurahkan di tempat yang kudus bagi Tuhan.

    Kurban seperti itulah yang disebut sebagai kurban api-apian/bakaran yang baunya menyenangkan Tuhan (Ayat 2, 13). Bangsa Israel tidak boleh mempersembahkan hal-hal yang lain. Apa yang disajikan ini menunjukkan bahwa Allah menghendaki persembahan yang terbaik dari umat-Nya.

    Sahabat, sekalipun kita tidak lagi mengadakan kurban seperti bangsa Israel, kita perlu melihat persembahan kita selama ini. Sudahkah kita memberikan yang terbaik kepada Allah? Ataukah, kita hanya memberikan sisa-sisa atau ala kadarnya bagi Allah?

    Allah telah memberikan banyak berkat kepada kita, dari anugerah keselamatan hingga berkat pemeliharaan tiap hari. Dibandingkan dengan pemberian Allah, tidak ada yang terlalu besar untuk dipersembahkankan kepada Allah.

    Sahabat, saat ini, kita tidak perlu lagi mempersembahkan binatang karena Yesus Kristus telah menjadi kurban tebusan yang membebaskan kita dari segala dosa. Namun Rasul Paulus mengajar kita supaya memberikan diri sebagai  persembahan bagi Tuhan. Persembahan yang hidup, yang kudus, yang berkenan kepada-Nya (Roma 12:1).

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagaimana Sahabat memaknai pesan Rasul Paulus dalam Roma 12:1 tersebut? Selamat sejenak merenung. Ingatlah, kualitas persembahan kita menunjukkan besarnya rasa hormat kita kepada Tuhan. (pg)

  • MENGHITUNG HARI

    Ada ungkapan yang menyatakan: Manusia adalah makhluk yang serba terbatas. Ungkapan tersebut benar adanya. Mulai dari umur, kekuatan, kesehatan, keuangan, dan beberapa hal lainnya kita memang terbatas. Meski begitu, terbatas itu baik kalau disikapi dengan cara yang benar. Kita  menjadi pribadi yang bijak,  yang menggunakan segala sesuatu yang Tuhan percayakan kepada kita dengan sebaik mungkin.

    Sahabat, dengan menyadari keterbatasan kita sebagai manusia, kita diajak untuk menghitung hari-hari kita dengan bijakasana. Kita diajak untuk menggunakan setiap kesempatan yang  masih Tuhan anugerahkan kepada kita dengan sebaik-baiknya karena tidak ada seorang manusia pun yang tahu kapan batas hidupnya di muka bumi ini.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “MENGHITUNG HARI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 90:1-17, dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, Musa meminta kepada Tuhan agar diajari menghitung hari-hari hidup dirinya dan juga bangsanya Israel. Betapa pentingnya permintaannya ini karena dengan bisa menghitung hari-hari membuat orang menjadi bijaksana.

    Sahabat, kata menghitung dari kata Ibrani manah yang artinya: Menghitung; mempersiapkan;  dan mendaftarkan. Orang percaya harus memperhitungkan atau memperkirakan bahwa umur hidupnya ada batasnya,  70 sampai 80 tahun. Memang ada juga orang yang bisa punya usia lebih panjang dari 80 tahun,  tetapi tetap terbatas. Jika kita memahami bahwa ada batas umur hidup kita maka kita akan mempersiapkan dengan sebaik mungkin karena dibalik kematian ada kehidupan kekal. 

    Musa dalam doanya kepada Tuhan menunjukkan bahwa dalam segala keterbatasan manusia, kita harus mengucap syukur atas segala kebaikan Tuhan selama kita hidup. Kita diajar untuk menghitung hari-hari, sehingga memperoleh hati yang bijaksana.

    Sahabat, sesungguhnya setiap hari adalah hari baru dan satu hari hanya dapat kita jalani satu kali saja. Kemudian hari tersebut berganti dengan hari berikutnya yang sama lamanya namun berbeda keadaannya. Hari yang telah kita lalui itu sudah menjadi masa lalu dan tinggal kenangan; hari ini merupakan kesempatan, sedangkan hari-hari yang akan datang menjadi suatu pengharapan bagi kita.

    Karena begitu berharganya waktu, Musa berdoa kepada Tuhan agar ia diberi hati yang bijaksana sehingga dapat memperhatikan hari demi hari dengan sungguh-sungguh, supaya tidak ada satu hari pun yang terlewatkan dengan begitu saja. Begitu juga kita yang telah dikaruniai Tuhan dengan banyak talenta, pastilah kita tidak akan merelakan waktu berlalu begitu saja sebab kita tidak tahu apakah tersedia hari esok bagi  kita.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong bagikan bagaimana responsmu ketika kamu mengetahui bahwa waktu yang kita jalani ini sedang bergerak menuju kekekalan, dan hidup yang kita jalani sekarang ini memiliki dampak ke kekekalan. Selamat sejenak merenung. Semoga keterbatasan membuat kita benar-benar menghargai kehidupan yang Tuhan beri. (pg).

  • ReKat: JAGALAH PERKATAAN KITA (30 Maret 2022)

    Bacaan Sabda: Bilangan 20:2-13

    Dari perenungan saya dari bacaan pada hari ini, beberapa hal yang perlu saya lakukan agar saya dapat menjaga perkataan saya:

    1. Perlu terus belajar ketrampilan mengontrol emosi.
    2. Perlu terus belajar menahan diri untuk tidak cepat berkata-kata.
    3. Perlu terus belajar agar tidak cepat reaktif dalam segala situasi.
    4. Perlu terus belajar berkata-kata dengan nada lembut.
    5. Pegang prinsip, kalau tidak dapat berkata-kata yang membangun dan menguatkan, lebih baik diam.
    6. Minta kekuatan dari Tuhan sehingga saya dapat menjadi yang dilukai namun memberkati.

    (Swan Lioe).

  • SUDAH DUDUK LUPA BERDIRI

    Suksesi kepemimpinan adalah proses pemindahan jabatan dari satu generasi ke generasi lainnya untuk memimpin suatu kelompok atau organisasi dengan tujuan agar kepemimpinan bisa terus berjalan.

    Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) memberikan definisi: Suksesi yaitu  penggantian (terutama di lingkungan pimpinan tertinggi negara) karena pewarisan; dan  proses pergantian kepemimpinan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

    Sahabat, dalam setiap pemerintahan, peristiwa ini lazim terjadi dengan berbagai cara. Ada sistem yang melakukan suksesi per lima tahun sekali. Dalam sistem kerajaan, tampuk kepemimpinan berikut diberikan kepada keturunan raja. Namun, ada juga pergantian dengan tiba-tiba karena rakyat menuntut demikian. Dalam kenyataan di lapangan suksesi kepemimpinan tidak mudah dilaksanakan karena kalau sudah duduk lupa berdiri.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “SUDAH DUDUK LUPA BERDIRI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 27:12-23. Sahabat, berbagai persiapan dilakukan untuk memasuki tanah Kanaan, termasuk memilih pemimpin untuk menggantikan Musa. Allah telah menyatakan bahwa Musa akan mati sebelum memasuki tanah itu (Bilangan 20:12). Meski demikian, Allah memberi kesempatan kepada hamba-Nya itu untuk melihat Tanah Perjanjian dari Gunung Nebo (Ulangan 32:48-52).

    Reaksi Musa saat mendengar pemberitahuan Tuhan mengenai kematiannya cukup mengagumkan. Ia tidak panik seperti Raja Saul (1 Samuel 28:20), atau berdoa agar diberikan hidup lebih lama seperti Raja Hizkia (2 Raja-raja 20:1-3). Yang ia doakan adalah kesejahteraan Israel, bangsanya yang sering membuat dia  bersedih.

    Banyak pemimpin yang memilih dan mempersiapkan orang yang akan menggantikan tempatnya, tetapi Musa menyerahkan hal ini kepada Allah. Hal ini memperlihatkan penundukan dirinya ke bawah kedaulatan Allah atas Israel. Lalu Allah memilih Yosua, seorang yang penuh roh (ayat 18), yang telah melayani Musa selama bertahun-tahun (Keluaran 24:13). Musa kemudian melantik Yosua dengan menumpangkan tangannya atas Yosua (ayat 22-23). Pelantikan yang dilakukan di depan seluruh umat ini penting agar seluruh bangsa mengetahui bahwa Yosualah yang akan menjadi pemimpin untuk menggantikan Musa. Implikasinya, mereka harus mengikuti dan mematuhi kepemimpinan Yosua.

    Sahabat, betapa mulus proses penyerahan tongkat estafet kepemimpinan dari Musa kepada Yosua. Mari kita belajar dan meneladani Musa. Semoga kita tidak menjadi pemimpin yang kalau sudah duduk lupa untuk berdiri.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaam kita pada hari ini, tolong bagikan pengalamanmu tentang suksesi kepemimpinan di gerejamu atau lembaga gerejawi dimana kamu terlibat di dalamnya. Selamat sejenak merenung. Tuhan menolong dan memberkati. (pg)

  • TUHAN SETIA pada janji-Nya

    Burung merpati sering dipakai sebagai simbol kesetiaan karena burung itu dikenal sebagai burung monogami. Sekalipun ia (burung merpati jantan) terbang tinggi, bila melihat pasangannya ada di bawah, pasti ia akan segera meluncur turun. Bahkan, ketika di sekitarnya ada banyak burung betina yang lain, ia tidak akan pernah salah memilih pasangannya.

    Sahabat, seseorang akan disebut setia pada janji ketika janji itu ditepati. Faktanya, ada cukup banyak orang mengingkari janjinya dan hal itu membuat kita kecewa. Bahkan, ada cukup banyak juga pasangan suami istri yang berjanji sehidup semati tidak menepatinya ketika ada tantangan. Bagaimana dengan janji setia Tuhan kepada umat-Nya? Tuhan itu setia pada janji-Nya.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “TUHAN SETIA pada janji-Nya” Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 89:1-19. Sahabat, Mazmur 89 diawali dengan sebuah keyakinan akan kasih setia Tuhan. Pemazmur hendak menyaksikannya turun-temurun. Kasih setia Tuhan itu adalah janji Tuhan kepada Daud bahwa Dia akan menegakkan kerajaan Daud selamanya (bnd. 2 Samuel 7:8-16). Janji Tuhan tersebut telah melewati berbagai tantangan dan melampaui zaman, namun Tuhan tidak pernah lupa akan janji-Nya.

    Isi perjanjian itu adalah Tuhan menjadi Allah Israel dan menjamin kehidupan umat-Nya, sedangkan bangsa Israel menjadi umat pilihan-Nya. Jaminan Tuhan kepada Israel dinyatakan-Nya melalui Daud sebagai raja yang diurapi. Karena itu, seorang raja wajib melaksanakan titah Tuhan dengan cara menyejahterakan rakyatnya.

    Sahabat, dalam konteks ikatan perjanjian, umat Israel mengenal istilah “raja imam”, yaitu seorang raja menjadi jembatan penghubung antara Tuhan dan umat-Nya. Artinya, raja mewakili umat di hadapan Tuhan dan menjadi wakil Tuhan di hadapan umat. Segala pola pikir dan perilaku raja menjadi sorotan, baik bagi umat maupun Tuhan. Jika rajanya jahat, maka perilaku rakyatnya cenderung menyimpang. Jika rajanya setia, maka rakyatnya akan dibimbing hidup dalam takut akan Allah. Kekuasaan raja seharusnya dipakai untuk memperlihatkan kesetiaan Tuhan (ayat 6) yang melindungi umat-Nya dari kekuatan yang mengancam (ayat 10-11) dan menjamin terwujudnya keadilan yang merata bagi semua (ayat 15 dan  17).

    Kalau seorang raja menjalankan kehendak Allah dan memelihara ikatan perjanjian-Nya, maka Tuhan menjamin tahta dan keturunannya (ayat 5). Sebaliknya, jika raja tidak menjalankan misi Allah, maka kekuasaannya dicabut oleh Allah. Karena itu, segala hukum dan rencana Allah wajib dijalankan seorang raja dengan bertanggungjawab untuk menyejahterakan umat dan memuliakan nama-Nya.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong bagikan pemahamanmu, kita sebagai imamat yang rajani, apa yang perlu dihadirkan oleh setiap orang percaya  dalam dunia ini? Selamat sejenak merenung.  Mari kita berdoa: “Bapa, aku  berterima kasih untuk janji setia-Mu yang tidak pernah berkesudahan dalam hidupku.” (pg).