Author: Christopherus

  • Dipanggil Menjadi TERANG

    Cahaya dan kegelapan menginspirasi kita bahwa hidup memiliki sisi yang berbeda. Cahaya dan kegelapan merupakan dua sisi yang tak bisa dipisahkan. Siang hari, langit terlihat terang karena cahaya matahari. Namun, ketika malam datang, perlahan menjadi gelap dan kita bisa melihat bulan dan bintang-bintang di langit.

    Sesungguhnya cahaya merupakan rahmat dari Tuhan untuk kita semua. Tanpa cahaya, siang dan malam hanyalah hitam tanpa keindahan. Tanpa cahaya, mata pun tak dapat melihat apa-apa. Dengan cahaya itulah kita bisa melihat keindahan dari pagi hingga malam.

    Sahabat, kita sebagai orang percaya dipanggil menjadi terang dunia. Lebih khusus lagi kita dipanbggil untuk menjadi terang bagi mereka,  para pembuat kejahatan dan penyembah barhala.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Dipanggil Menjadi TERANG”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 97:1-12. Sahabat, Pemazmur mengajak alam semesta dan orang-orang benar bergembira dan menaikkan pujian syukur kepada Allah.  Allah yang diimaninya adalah Raja Agung (ayat 1 dan  12). Ia menciptakan alam semesta dan berkuasa atas ciptaan-Nya. Dunia tidak dikuasai oleh kejahatan, melainkan di bawah kendali dan kekuasaan Allah Israel (ayat 9).

    Kehadiran-Nya dilukiskan seperti awan dan kekelaman (ayat 2a; bdk. Keluaran 19:16, 18, 20; Ulangan  5:22). Kata “awan” memiliki sisi terang dan gelap. Kata “kekelaman” lebih dipahami dalam artian awan tebal dan gelap berawan. Pada dasarnya, keduanya menyimbolkan fenomena kehadiran Ilahi.

    Allah itu bukan hanya mahakuasa, tetapi juga adil dan benar dalam segala keputusan-Nya (ayat 2b). Dengan keadilan dan kebenaran-Nya, Ia menghakimi perbuatan manusia (ayat 6 dan 8). Keadilan Allah diibaratkan seperti api yang menghanguskan (ayat 3). Kebenaran-Nya seperti kilat yang membuat alam semesta menggigil dan menciut (ayat 4-5). Di sini, kilat dan api menandakan murka Allah. Dengan murka-Nya, Ia menghukum bangsa-bangsa yang beribadah kepada allah palsu (ayat 7). Karena itu, Pemazmur mengajak seluruh umat Allah menjauhi perbuatan tercela serta hidup dalam kekudusan dan kemurnian di hadapan-Nya (ayat 10-11).

    Sahabat, Pemazmur ingin sejelas mungkin mengungkapkan keagungan Tuhan sebagai Raja. Selain mengungkapkan kemahakuasaan Tuhan, Pemazmur juga menyatakan hukuman Tuhan atas para penyembah berhala. Umat Tuhan bersukacita karena para penyembah berhala akan mendapat malu.

    Pemazmur juga mengajak semua orang benar untuk bersukacita karena mereka akan mengalahkan kejahatan. Mereka juga pantas bersukacita dan memuji Tuhan karena Tuhanlah yang melakukan semua itu bagi mereka.

    Berbagai bentuk “berhala” masih tetap menjadi persoalan di Zaman Now. Begitu juga berbagai macam kejahatan. Itu semua sering membuat orang-orang yang tetap berjalan dalam kebenaran menjadi ragu-ragu. Juga bisa membuat orang percaya menjadi bimbang.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Mazmur ini dimulai dengan serangkaian pengakuan iman. Sifat Tuhan yang manakah yang ditekankan dalam bagian ini? (Ayat 1-6)
    2. Bagian ini mengungkapkan sukacita umat israel (ayat 8, disebut dengan Sion) Apa yang membuat umat Tuhan bersukacita? (Ayat 7-9)
    3. Bagian ini mengungkapkan bahwa sukacita itu tidak hanya dirasakan oleh umat israel, namun juga meluas pada setiap orang. Siapakah yang disebut sebagai orang yang akan bersukacita di bagian ini? (Ayat 10-12)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan Yesus menolong dan memberkati. (pg)

  • BERKAT TUHAN: Mengandung Ketertiban Hidup

    Sahabat, sepengetahuan saya, bila kita mau membeli tanah, maka ada dua hal penting yang perlu kita perhatikan yaitu status tanah dan batas tanah. Apakah status tanah yang akan kita beli itu sedang dalam sengketa atau tidak.

    Selanjutnya perlu kita teliti adalah status kepemilikan tanah. Ada beberapa jenis status kepemilikan tanah: Sertifikat Hak Milik (SHM);  Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB); Sertifikat Hak Guna Usaha (SHGU); Sertifikat Hak Pakai (SHP); Sertifikat Hak Atas Satuan Rumah Susun (SHASRS);  dan Tanah Girik.  

    Sedangkan untuk mengetahui batas tanah, maka perlu diadakan pengukuran dan pemetaan tanah yang biasanya dilakukan oleh pihak Agraria.

    Sahabat, sebelum memasuki tanah perjanjian,  status tanah bagi bangsa Israel masih berupa janji Tuhan, namun Tuhan menghendaki agar batas tanah sudah mulai dibagi lebih dulu, agar tidak timbul masalah di kemudian hari. Bagi saya itu berarti bahwa berkat dan anugerah Tuhan mengandung ketertiban hidup.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “BERKAT TUHAN: Mengandung Ketertiban Hidup”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 34:1-29. Sahabat, Sebelum bangsa Israel memasuki tanah perjanjian, Tuhan menyatakan dengan jelas melalui Musa batasan-batasan tanah perjanjian itu (ayat 1). Selain batasan dengan bangsa asing, Tuhan juga menetapkan batasan di antara umat Tuhan sendiri (ayat 13).

    Tuhan menuntun umat-Nya keluar dari Mesir untuk menggenapi perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub. Tuhan tidak melupakan perjanjian-Nya. Tetapi dalam kemurahan-Nya, Ia juga menetapkan batasan-batasan baik dengan bangsa lain maupun di antara mereka. Berkat dan anugerah Tuhan mengandung ketertiban hidup.

    Sahabat, bangsa Israel diberi tanah perjanjian dengan batasan yang jelas. Jadi, sejak awal mereka tidak diperintahkan untuk merebut daerah itu sesuai keinginan hati mereka. Allah mengkhususkan tanah perjanjian yang ditetapkan-Nya bagi bangsa Israel sebagai umat kepunyaan-Nya sesuai dengan kedaulatan-Nya. Bangsa Israel menerima tanah perjanjian dengan batasan-batasan yang sangat jelas.

    Jadi, anugerah dan berkat Tuhan tidak berdasarkan pada keinginan manusia, tetapi berdasarkan pada kehendak dan kedaulatan Tuhan. Umat Tuhan hanya menerima setiap batasan yang telah ditetapkan-Nya. Berkat dan anugerah tidak diberikan sesuai keinginan manusia yang tanpa batasan.

    Lalu, bagaimana sikap kita pada saat memohon berkat Tuhan? Bagaimana juga sikap kita pada saat menerima berkat Tuhan? Kita seharusnya bersedia menerima batasan-batasan yang telah Tuhan tetapkan, yaitu batasan sebagai manusia, baik secara individu maupun sosial. Dengan batasan itu, manusia memiliki ketertiban hidup. Orang lain pun sebenarnya memperoleh berkat-Nya. Orang yang makin diberkati Tuhan adalah orang yang hidup tertib dan menghormati hak-hak orang lain. Mari kita belajar menerima batasan yang ada di dalam diri kita. 

    Sahabat, berdasarkan hasil perenungan dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Bagaimanakah cara untuk membagi tanah bagi semua suku bangsa Israel? (ayat 13 dan Bilangan 33:54)
    2. Siapa saja yang dipilih Tuhan untuk melaksanakan pembagian tanah di tanah perjanjian? (Ayat 17-18)
    3. Mengapa Tuhan memerintahkan bahwa tanah perjanjian dibagikan hanya kepada 9,5 suku saja? (Ayat 13-15).
    4. Apakah berkat Tuhan didasarkan pada kita yang meminta atau pada Tuhan yang memberi?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan Yesus menolong dan memberkati. (pg)

  • PILIHAN TERBAIK

    Manakah yang Sahabat lebih sukai, ada banyak pilihan sehingga kita dapat memilih yang terbaik sesuai dengan kualifikasi yang kita tentukan,  atau hanya tersedia satu pilihan saja atau tidak ada pilhan, mau tidak mau kita harus mengambilnya atau menerimanya.

    Sahabat, sesungguhnya berada di tengah banyaknya pilihan bukan hal yang mudah. Kadang bisa membuat kita bingung dan ragu. Kadang dapat membawa kita kurang tepat dalam menjatuhkan pilihan. Padahal   kita setiap hari bertemu dengan begitu banyak pilihan dimana keputusan kita akan sangat menentukan langkah selanjutnya. Karena itu kita butuh hikmat dari Tuhan sehingga kita dapat membuat pilihan terbaik yang sesuai dengan kehendak Tuhan. 

    Untuk lebih memahami topik tentang: “PILIHAN  TERBAIK”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 96:1-13 dengan penekanan pada ayat 4. Sahabat,  memang berada di tengah banyaknya pilihan bukan hal yang mudah. Demikian pula dengan situasi yang dihadapi oleh bangsa Israel,  mereka diperhadapkan dengan ada banyak ilah di sekitar mereka. Hal tersebut membuat mereka menimbang-nimbang pilihan. Inilah yang membuat Pemazmur menegaskan bahwa Allah Israel lebih dahsyat dari segala ilah (ayat 4).

    Tujuan Pemazmur adalah agar bangsa Israel dapat lebih mantap menyandarkan pengharapannya kepada Allah. Mazmur 96 dipercaya sebagai mazmur yang ditulis untuk orang Israel dalam masa pembuangan. Pada masa itu bukan hal mudah bagi mereka untuk melihat kehancuran Yerusalem, apalagi mempertahankan iman.

    Sahabat, kekalahan orang Israel membuat bangsa Babel merasa bangga karena ilah mereka lebih kuat daripada Allah Israel. Hal tersebut  bisa membuat iman orang Israel terhadap Tuhannya menjadi goyah. Akan tetapi, sekali lagi pujian dalam Mazmur 96 justru menegaskan pengharapan kepada Allah Israel.

    Pengharapan itu tampak dalam pujian bahwa ada keselamatan dari Allah (ayat 2); ada kemuliaan dan perbuatan-perbuatan ajaib-Nya (ayat 3). Ia lebih tinggi dari segala ilah sembahan manusia (ayat 4-5). Keagungan, semarak, kekuatan, dan kehormatan pun dimiliki-Nya. Pada masa lalu, hal tersebut pernah mereka rasakan ketika dibebaskan dari Mesir. Di masa depan, mereka pun akan merasakan pembebasan dari Babel dan kembali ke Yerusalem (bdk. Ezra 1:1-11). Jadi, sangatlah layak untuk menyembah-Nya, membawa persembahan kepada-Nya, dan memuji-Nya. Tidak ada alasan bagi bangsa Israel untuk meninggalkan Allah Israel.

    Sahabat, dalam kehidupan di Zaman Now ada begitu banyak “ilah-ilah” yang nampak sepintas lebih menjanjikan daripada Allah yang kita sembah selama ini. Dalam  pergumulan hidup, kita sering menghadapi berbagai pilihan duniawi yang dapat membuat kita tidak lagi berharap kepada Allah. Pilihan itu telah membutakan kita terhadap kebaikan Allah, padahal begitu banyak kebaikan Allah telah hadir dalam hidup kita.

    Karena itu, marilah kita bertekad meletakkan pengharapan kita hanya kepada Allah. Mari kita mengingat kembali segala kebaikan yang telah Ia lakukan dalam hidup kita, baik yang kecil maupun yang besar. Percayalah, Yesus Kristus, Allah yang hidup, merupakan pilihan terbaik.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang menjadi tugas kita sebagai komunitas orang percaya? (Ayat  1-3)
    2. Dari pernyataan Pemazmur di ayat 5-6, keyakinan apa yang perlu tertanam dalam-dalam di hati kita?
    3. Apa saja yang perlu kita lakukan sebagai komunitas orang percaya? (Ayat  8-10)

    Selamat sejenak merenung. Jadi,  hidup kita penuh dengan pilihan yang membutuhkan pengambilan keputusan yang baik untuk berhasil. (pg)

  • Kisah KARYA ALLAH Dalam Hidup Kita

    Bagaikan mendapat durian jatuh kalau saya diberi kepercayaan untuk menulis atau mengedit satu naskah sejarah satu gereja atau satu lembaga gerejawi. Saya menaruh minat pada penulisan  sejarah karena saya meyakini bahwa  kisah-kisah pada masa lalu  dapat menjadi guru yang baik dalam menjalalani masa depan.

    Sahabat, mungkin  ada diantara  kita kalau mendengar atau membaca  kata “sejarah” langsung  menyamakannya dengan tanggal-tanggal berderet, diikuti serangkaian nama dan peristiwa yang tak jelas kaitannya satu sama lain. Padahal, sejarah bukanlah serentetan data yang kering dan hampa makna. Sejarah sesungguhnya merupakan kisah karya Allah dalam hidup kita.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Kisah KARYA ALLAH Dalam Hidup Kita”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 33:1-56. Sahabat, ketika bangsa Israel akan mengakhiri pengembaraan di padang gurun, mereka tiba di dataran Moab, di seberang sungai Yordan dekat Yerikho (Bilangan  22:1). Lalu mereka menaklukkan wilayah sungai Yordan (Bilangan 32).

    Kisah pengembaraan padang gurun kemudian diakhiri dengan daftar tempat-tempat persinggahan orang Israel, setelah mereka keluar dari tanah Mesir (ayat 1). Daftar ini ditulis oleh Musa atas perintah Tuhan (ayat 2) sebagai ingatan bagi orang Israel di sepanjang zaman. Bukan hanya ingatan tentang kesulitan dan tantangan di dalam perjalanan, tetapi juga ingatan tentang kesetiaan dan kasih karunia Tuhan yang menyertai mereka dari waktu ke waktu, dari suatu tempat ke tempat lain.

    Sangat menarik, perjalanan tersebut  memakan waktu sampai empat puluh tahun, tetapi bukan karena jarak yang jauh. Allah menggiring mereka ke padang gurun karena ada generasi yang tidak percaya kepada Allah. Generasi itu harus mati di padang gurun sebelum generasi yang penuh iman dibangkitkan untuk merebut Tanah Perjanjian. Maka Tuhan memberikan perintah agar umat menghalau penduduk Kanaan, disertai peringatan bila mereka tidak melakukannya. Selanjutnya, mereka akan menempati tanah itu (ayat 50-56).

    Sahabat, melalui perjalanan panjang kehidupan kita bersama Tuhan, adakalanya kita perlu berdiam diri sejenak untuk  mengingat ulang momen-momen penting yang terjadi. Waktu kita melakukannya, adakah kita melihat Tuhan berkarya di dalamnya?

    Tapi ingat,  jangan berhenti sampai di situ karena perjalanan yang Sahabat  akan tempuh masih panjang. Mari kita  lihat kembali atau tanyakan kepada Allah, apa rancangan-Nya bagi hidup kita  selanjutnya.

    Sahabat, perhatikanlah  setiap peringatan atau perintah. Apa yang Allah kehendaki untuk kita  lakukan dengan sungguh-sungguh. Biarlah kiranya perjalanan panjang kehidupan kita merupakan kisah karya Allah yang luar biasa.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, pelajaran apa yang Sahabat peroleh dan tolong bagikan salah satu karya Allah dalam hidupmu yang tidak dapat kamu lupakan karena begitu berkesan. Selamat sejenak merenung.  Semoga kehidupan kita dapat selalu bermakna dan berguna bagi sesama. (pg)