
Author: Christopherus
-
FAITHFUL GOD
SETIA. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mencatat setia berarti berpegang teguh pada janji, pendirian, dan sebagainya; patuh; taat. Sedangkan pengamalan dari setia disebut dengan kesetiaan. Dengan demikian pengertian setia adalah berpegang teguh pada janji, pendirian kokoh, tidak tergoyahkan, patuh, taat, tidak berubah, konsisten, dan layak dipercaya.
Sesungguhnya Tuhan menginginkan anak-anak-Nya hidup setia di hadapan-Nya!: “Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu lakukan dengan setia, janganlah engkau menambahinya ataupun menguranginya.” (Ulangan 12:32) dan tentu Tuhan menyediakan berkat-berkat-Nya bagi orang yang setia!: “… Ia pun akan mengangkat engkau di atas segala bangsa yang telah dijadikan-Nya, untuk menjadi terpuji, ternama dan terhormat. …” (Ulangan 26:19).
Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “Faithful God (Tuhan yang Setia)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 9:1-11. Sahabat, TUHAN menyerukan dan memanggil orang-orang yang akan melakukan penghukuman atas Israel. Dari antara pemusnah ini, ada seseorang yang bertugas untuk memberi tanda T pada dahi orang-orang yang tidak ikut dalam segala perbuatan keji yang dilakukan oleh orang-orang Israel lainnya (ayat 1-4).
Sahabat, Tuhan mengirim para malaikat-Nya untuk menghancurkan Yerusalem. Namun, sebelum penghakiman dilakukan, Tuhan menyuruh seorang dari mereka untuk memberikan tanda T pada dahi orang-orang yang berkeluh kesah karena segala kekejian yang terjadi (ayat 4). Mereka adalah UMAT yang SETIA, yang menangis karena dosa penyembahan berhala yang dilakukan di sana. Tuhan memerintahkan supaya mereka tidak disentuh (ayat 6). Tuhan tidak akan membiarkan umat yang setia dihukum seperti mereka yang tidak setia. Dalam murka-Nya sekalipun, Tuhan tetap MELUPUTKAN dan MELINDUNGI umat-Nya yang SETIA.
Penghakiman Tuhan dimulai dari tua-tua di hadapan Bait Suci, dan terus dijalankan kepada semua orang yang tidak bertanda T. Bait Suci yang seharusnya dijadikan tempat penyembahan yang kudus, kini dinajiskan dan dipenuhi dengan orang-orang yang mati (ayat 6-7).
Sahabat, penghakiman Tuhan begitu mengerikan sampai-sampai Yehezkiel tidak tahan melihatnya dan memohon kepada Tuhan. Namun, kesalahan umat sudah keterlaluan. Mereka hidup dalam kemurtadan dan berharap kepada dewa-dewi Babel. Mereka tidak lagi menghormati Tuhan sebagai Tuhan atas mereka (ayat 9). Karena itu, Tuhan menjatuhkan hukuman yang setimpal dengan ketidaksetiaan mereka.
Dengan demikian, sangat penting bagi kita sebagai orang percaya untuk mengerti betapa pentingnya menjalankan kehidupan dengan takut akan Dia. Kita akan dituntut dengan standar yang lebih tinggi dan dihakimi terlebih dahulu. Akan tetapi, jangan lupa bahwa Ia adalah Allah yang setia, yang akan menunjukkan penyertaan dan kesetiaan-Nya kepada orang-orang yang setia dan taat kepada-Nya.
Sahabat, percayalah bahwa TUHAN selalu SETIA. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak setia kepada-Nya. Ia selalu menunjukkan penyertaan dan perlindungan-Nya. Itulah berkat bagi mereka yang tetap setia kepada-Nya di tengah dunia yang tidak setia. Haleluya! Tuhan itu baik.Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
- Apa yang Sahabat pahami dari Ulangan 12:32?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” (Wahyu 2:10)
-
ReKat: Why Dont They Believe Still? (11 April 2023)
Bacaan Sabda: Yeremia 43:1-13
Dari hasil perenungan saya dari Bacaan Sabda, saya mendapatkan:
Pesan yang saya peroleh dari hasil perenungan firman Tuhan pada hari ini: Bangsa Yehuda dan pemimpin mereka, fokus mengutamakan keinginan dan kemauannya sendiri. Keadaan ini menunjukkan kesombongan, kebebalan hati, tegar tengkuk mereka dan dengan demikian mereka jelas-jelas menolak Tuhan yang berotoritas atas kehidupan mereka.
Nubuat yang disampaikan oleh nabi Yeremia: Walaupun umat Yehuda mengandalkan perlindungan, pertolongan kepada Mesir. Namun Tuhan akan bertindak kepada Mesir, sehingga Mesir akan mengalami kehancuran, beserta ilah-ilah mereka yang selama ini menjadi andalan kekuatannya.
Tujuan penyampaian nubuatan Yeremia: Melalui Yermia, Tuhan menegaskan bahwa tindakan umat Yehuda yang bodoh, sembrono, ngawur meminta pertolongan kepada Mesir, justru hanya berdampak kepada kebinasaan bukan keselamatan. Bahkan Mesir pun yang menjadi tempat andalan mereka akan dihancurkan.
(Haryono)
-
The Glory of God Leaves His Sacred Hall
KEMULIAAN ALLAH. Ketika membaca, mendengar atau mengucapkan kata kemuliaan, sebenarnya apa yang terlintas di benak kita? Apakah kita membayangkan kilaunya singgasana emas dengan permata yaspis, berlian atau semacamnya?
Sesungguhnya kemuliaan mengandung arti keadaan mulia; keluhuran; keagungan; kehormatan dan diasosiasikan dengan memuji Tuhan. Di dalam bahasa Inggris, kata kemuliaan mempunyai banyak persamaan seperti magnificence, spendor, grandeur dan sebagainya, di antaranya yang sering digunakan untuk menggambarkan kemuliaan Allah adalah kata glory dan majesty.
Tidak perlu disangkal bahwa pada umumnya pemahaman akan kata kemuliaan terlalu sering digambarkan sebagai status sosial ekonomi yang tinggi yang diperoleh dari keberhasilan di dalam hidup seseorang. Pengertian kemuliaan seperti ini memberi nuansa kebendaan, mengangkat ego manusia.
Di dalam kitab Perjanjian Lama, Allah yang Mahamulia menyatakan kemuliaan-Nya melalui kehadiran-Nya di sepanjang perjalanan kehidupan bangsa Israel. Umat Israel menyaksikan kemuliaan-Nya melalui tuntunan sejak mereka keluar dari Mesir. Bahkan sebelum itu, Abraham, bapak orang percaya telah mengalami tuntunan tersebut.
Kemuliaan Allah dapat nampak di dalam karya-Nya, mulai dari ciptaan yang dilakukan-Nya pada awal terciptanya dunia dan segala isinya, sampai kini nampak dari pemeliharaan-Nya sampai selamanya.
Pada hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: The Glory of God Leaves His Sacred Hall (Kemuliaan Allah Meninggalkan Bait Suci-Nya). Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 10:1-22. Sahabat, bacaan kita pada hari ini dimulai dengan penglihatan Yehezkiel akan sesuatu yang menyerupai takhta di atas cakrawala. Dari takhta itu terdengar perintah kepada seorang yang berpakaian lenan untuk masuk ke ruang Mahakudus di Bait Suci untuk mengambil bara api dan menghamburkannya ke atas kota Yerusalem.
Allah menyatakan kehendak-Nya kepada Yehezkiel dalam suatu penglihatan. Ia melihat keagungan Allah di atas takhta dari permata yang berkilauan. Dari takhta itu Allah memerintahkan penghukuman bagi Yerusalem (ayat 1-2). Allah turun ke Bait Suci dan memenuhi tempat itu dengan kemuliaan-Nya (ayat 4-5).
Kemudian, malaikat melakukan kehendak Allah itu dengan cara mengambil bara api dan memberikannya kepada seorang berpakaian lenan (ayat 6-7). Itulah api penghukuman Allah yang dijatuhkan kepada setiap orang yang berbuat keji. Lalu, Allah meninggalkan Bait Suci dengan cara berada di atas sayap malaikat dan dibawa naik (ayat 18-19). Apakah ini artinya Allah sungguh-sungguh meninggalkan umat-Nya?
Sahabat, Allah kita adalah Allah Yang Mahabesar. Ia memberikan penglihatan kepada orang yang dipilih-Nya untuk menyatakan kehendak-Nya. Ia ingin agar manusia yang lemah tetap dapat memahami kehendak-Nya. Dahulu Allah memerintahkan umat untuk membangun Bait Suci supaya mereka dapat beribadah kepada-Nya di dalam kekudusan dan kelayakan. Namun, mereka justru mencemarkan Bait Suci dengan penyembahan berhala. Padahal, Allah yang bertakhta di tempat itu merupakan satu-satunya Allah mereka.
Melalui penglihatan itu, Allah ingin menyatakan bahwa mereka telah menolak kehadiran-Nya dengan kekejian mereka sendiri. Ia ingin agar umat-Nya menggantungkan hidup mereka hanya kepada-Nya, bukan kepada ilah lain atau benda-benda. Jika tidak, Ia akan mendatangkan hukuman. Allah yang meninggalkan bait-Nya merupakan gambaran hidup yang tidak berkenan di hadapan Allah. Jadi, Allah tetap bertakhta di atas segala sesuatu dan Ia tetap melihat kita, umat-Nya, tetapi kemuliaan Allah tidak lagi terpancar di dalam hidup kita.
Sahabat, hidup sebagai umat Allah perlu dinyatakan dengan menghormati kemuliaan-Nya dan menaati kehendak-Nya. Untuk itu, kita harus menjalani kehidupan ini hanya untuk menyembah Allah, tanpa ada yang lain. Haleluya! Tuhan itu baik.
Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
1.Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
2.Apa itu kemuliaan Allah dan bagaimana kita memuliakan Allah melalui hidup kita setiap hari?Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Allah tidak ada di tempat persekutuan umat yang tidak menjaga kekudusan-Nya dan tidak memuliakan-Nya. (pg).
-
Gods Punishment for Egypt
KEBIASAAN. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mencatat, kebiasaan berarti sesuatu yang biasa dikerjakan dan sebagainya; Pola untuk melakukan tanggapan terhadap situasi tertentu yang dipelajari oleh seorang individu dan yang dilakukannya secara berulang untuk hal yang sama. Sedangkan kamus Webster mencatat, kebiasaan berarti kecenderungan melakukan aktivitas tertentu secara terus-menerus atau berulang-ulang; latihan atau praktik yang dilakukan secara konsisten dan kontinu. Sedangkan para ahli menyimpulkan bahwa kebiasaan merupakan pekerjaan yang dilakukan secara terus-menerus sehingga dari yang awalnya tidak bisa dikerjakan jadi terlatih dan lama-kelamaan akan menjadi terbiasa.
Sebagai orang percaya, kita perlu melatih diri untuk mengembangkan kebiasaan-kebiasaan hidup yang benar, yang sesuai dengan firman Tuhan. Karena itu kita harus menjadikan Kristus sebagai teladan dalam segala hal (perkataan dan perbuatan), sebab barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup (1 Yohanes 2:6).
Mengembangkan kebiasaan hidup baru yang sesuai dengan firman Tuhan berarti tidak lagi menyerahkan tubuh ini untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran (Roma 6:13).
Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: Gods Punishment for Egypt (Hukuman Tuhan Untuk Mesir). Bacaan Sabda diambil dari Yeremia 46:1-28. Sahabat, pasal 46-51 dari kitab Yeremia berisikan koleksi khotbah Yeremia yang ditujukan kepada bangsa-bangsa. Dalam kanon PL versi Septuaginta, yaitu terjemahan Yunani Umum (Yunani Perjanjian Baru), koleksi ini diletakkan sesudah pasal 25 untuk menyambung berita penghukuman yang dinubuatkan Yeremia kepada bangsa-bangsa tersebut.
Melalui Nabi Yeremia, Allah menubuatkan penghakiman-Nya kepada bangsa-bangsa yang hidup di sekitar bangsa Israel.
Sahabat, Allah menyatakan hukuman-Nya kepada Mesir dengan memakai tangan Nebukadnezar (ayat 2). Walaupun Mesir datang dengan kekuatan penuh, jika Allah ingin melakukan pembalasan, maka Mesir pasti kalah (ayat 13-24). Allah juga ingin menghukum dewa Mesir, yaitu Amon dan Tebe, serta Firaun dan seluruh pengikutnya (ayat 25-26). Tidak ada yang dapat Mesir lakukan untuk mengelak hukuman Allah.
Di samping itu, Tuhan meminta agar bangsa Israel tidak takut terhadap hukuman-Nya (ayat 27-28). Saat itu orang Israel memang bergantung pada Mesir karena sebagian Israel hidup sebagai pelarian di sana. Sebab itu, mereka berharap bahwa bangsa Mesir dapat mengalahkan Nebukadnezar.
Dalam nubuat-Nya, Tuhan berjanji untuk tetap melindungi bangsa Israel walaupun Mesir yang menjadi andalan mereka mendapat hukuman-Nya. Tuhan menghukum Mesir karena dosanya, yaitu keinginan untuk meluaskan kekuasaannya dengan menghancurkan bangsa-bangsa sekitarnya.
Penghukuman Tuhan menunjukkan bahwa Tuhan yang kita kenal melalui Alkitab adalah Tuhan yang berdaulat atas semua bangsa. Apa pun yang akan Mesir lakukan tidak akan sanggup membalikkan hukuman Tuhan itu. Firman ini mengingatkan kita, jika bangsa besar seperti Mesir saja tidak mampu menahan dan membalikkan hukuman Tuhan, bagaimana dengan diri kita?
Sahabat, sebab itu, kita harus hidup bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Artinya, Tuhan telah memberi firman, kehidupan, dan akal kepada kita. Maka, kita sebagai orang percaya harus menghidupi firman Tuhan setiap hari. Belajar firman Tuhan dengan tekun mesti menjadi KEBIASAAN kita SETIAP HARI. Kita harus menjadi contoh atau teladan tentang hidup berdasarkan firman Tuhan (bdk. Lukas 12:48).
Sebab itu, orang percaya mempunyai tanggung jawab lebih besar daripada orang yang belum percaya. Jika ada hukuman Tuhan atas kita, ingatlah bahwa Ia ingin mengoreksi sikap kita supaya menjadi lebih benar, dan akan menolong kita. Ia adalah Allah Mahakasih. Haleluya! Tuhan itu baik.
Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
1.Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
2.Apa yang Sahabat pahami dari Injil Lukas 12:48??Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Allah kita yang berdaulat dapat menggunakan siapa saja. Mereka yang jahat dan memusuhi Allah dan umat-Nya tetap ada dalam kendali-Nya. (pg).
-
Stay Faithful and Grateful
MENGELUH. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) mencatat kata mengeluh merupakan kata Kerja yang artinya menyatakan susah (karena penderitaan, kesakitan, kekecewaan, dan sebagainya). Mengeluh sebenarnya merupakan hal wajar yang sering dilakukan hampir semua orang. Mengeluh juga merupakan salah satu bentuk cara untuk mengeluarkan keluh kesah yang ada di dalam hati, sehingga tidak menjadi stres dan mengganggu kesehatan.
Di sisi lain, menurut ahli kejiwaan, mengeluh merupakan salah satu cara untuk menghilangkan stres, seperti kecemasan atau rasa takut. Namun, keluhan yang dikeluarkan secara berlebihan bisa menjadi pertanda negatif dari kesehatan mental seseorang. Hal itu karena manusia yang sehat jiwanya cenderung bisa menerima diri sendiri apa adanya, bisa menerima orang lain dan kondisi di sekitarnya apa adanya dan juga bersikap optimis. Sedangkan orang yang sering mengeluh, merasa tertekan, sering protes dan mengalami penurunan fungsi kognitif atau emosi, orang tersebut bisa dicurigai memiliki masalah dengan kejiwaannya.
Selain itu, yang juga menjadi masalah adalah bahwa kebanyakan orang lebih sering mengeluh dibandingkan melakukan pemecahan masalah. Sebagai hasilnya, banyak orang mengeluh untuk melepaskan sesuatu, tetapi tidak menyelesaikan masalah atau membuat perubahan, sehingga membuat keluhan sama sekali tidak efektif. Masalahnya tetap ada, sehingga keluhan pun akan terus berlangsung.
Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “Stay Faithful and Grateful (Tetap Setia dan Bersyukur)”. Bacaan Sabda diambil dari Yeremia 45:1-5. Sahabat, Sebagai manusia, tentu kita ingin hasil kerja keras kita dihargai. Bukan hal yang menyenangkan ketika kita sudah berjuang keras namun yang kita dapatkan adalah cacian. Apalagi ketika yang kita lakukan adalah pelayanan untuk Tuhan, namun yang menjadi upah adalah tekanan demi tekanan. Hal-hal tersebut membuat kita lelah dan patah semangat. Hal itulah yang mungkin dirasakan oleh Barukh.
Bacaan kita pada hari ini berisikan jawaban Tuhan atas keluhan Barukh yang memang bertarikhkan masa pemerintahan Yoyakim, sehingga sepertinya kurang tepat ditempatkan di sini. Namun, perikop ini sengaja diletakkan sebagai penutup dari rangkaian kisah sejarah yang dicatat oleh Barukh, sejak kasus pembakaran nubuat Yeremia oleh raja Yoyakim (pasal 36) sampai dengan kehancuran Yerusalem dan larinya penduduk Yerusalem ke Mesir (pasal 44).Jawaban Tuhan atas keluhan Barukh menunjukkan kedaulatan-Nya atas para hamba-Nya. Yeremia pernah mengeluh kepada Tuhan atas beban pelayanan yang dirasanya terlalu berat. Tuhan mengizinkan Yeremia mengeluh, tetapi tidak mengabulkan keinginannya. Yeremia harus tetap tunduk pada kedaulatan Allah untuk setia memberitakan nubuat penghukuman atas umat Yehuda.
Kasus Barukh tentu lebih ringan. Barukh sebagai sekretaris Yeremia tentu merasa kesal dengan kenyataan karyanya menuliskan firman Tuhan melalui mulut Yeremia dirobek dan dibakar begitu saja oleh sang raja. Belum lagi ia terus menerus menyaksikan dan ikut merasakan penolakan umat Yehuda atas sang nabi.
Jawaban Tuhan kepada Barukh menunjukkan bahwa Allah berdaulat atas hidup Barukh. Maka, Barukh tidak patut untuk mengeluh, apalagi menganggap diri berjasa. Sebaliknya Barukh harus belajar bersyukur karena Allah menganugerahinya keselamatan dan keluputan dari malapetaka yang menimpa Yehuda dan Yerusalem.
Sahabat, memang tidak mudah untuk bersyukur ketika menghadapi permasalahan dalam pelayanan. Namun, kita harus selalu ingat bahwa panggilan kita ialah untuk melayani-Nya dengan tetap setia dan bersyukur. Kita patut bersyukur karena kepercayaan-Nya kepada kita untuk melayani Dia. Juga untuk pemeliharaan-Nya atas kita saat kita setia melayani Dia. Haleluya! Tuhan itu baik.Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
- Siapakah Barukh? Sejak kapan ia menjadi rekan kerja nabi Yeremia?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Bersyukur dalam tekanan, harapkan kekuatan Tuhan, kita akan tetap bertahan dalam panggilan-Nya dalam hidup kita. (pg).
-
Hide and Seek To God
PETAK UMPET. Petak umpet merupakan sejenis permainan tradisional “Cari dan Sembunyi” yang bisa dimainkan oleh minimal dua orang yang umumnya dilakukan di luar ruangan. Nama permainan ini berbeda-beda di setiap daerah.
Permainan ini selain bertujuan untuk bersenang-senang, juga digunakan sebagai metode pengajaran kemampuan berhitung pada anak-anak TK dan untuk melatih anak bermain dan bekerja dalam tim.
Permainan dimulai dengan “hompimpa” untuk menentukan siapa yang menjadi “kucing” (berperan sebagai pencari teman-temannya yang bersembunyi). Si kucing ini nantinya akan memejamkan mata atau berbalik sambil berhitung sampai 10 (kadang sampai 15 atau 20, tergantung luas area tempat bermainnya). Biasanya dia menghadap tembok, pohon, atau apa saja supaya dia tidak melihat teman-temannya bergerak untuk bersembunyi. Setelah teman-temannya bersembunyi, mulailah si “kucing” beraksi mencari teman-temannya tersebut.
Permainan selesai setelah semua teman ditemukan. Orang yang pertama ditemukan yang menjadi ‘kucing’ berikutnya.
Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “Hide and Seek to God (Main Petak Umpet Kepada Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 8:1-18 dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, Saya coba membayangkan kehidupan orang-orang Israel pada waktu itu. Perilaku mereka di tempat pembuangan kerap menunjukkan sikap yang “ganjil”. Tuhan menunjukkan semua itu kepada Yehezkiel melalui sebuah penglihatan, bagaimana orang-orang Israel seolah bermain petak umpet kepada Tuhan selayaknya anak-anak.
Yehezkiel dibawa oleh Roh melihat Bait Allah di Yerusalem, khususnya pintu gerbang pelataran dalam, melihat apa yang ada dan dilakukan orang Israel bersama para imam di sana.
Yehezkiel melihat patung berhala yang membangkitkan murka Tuhan (ayat 1-5). Di sana 70 orang tua-tua kaum Israel melakukan penyembahan di setiap kamar yang dipenuhi oleh gambar-gambar berhala berupa binatang-binatang haram, yang oleh Musa disebut najis. Karena raja Yoyakhim dan penduduk Israel telah diangkut ke dalam pembuangan, maka Allah dianggap telah meninggalkan mereka serta tidak melihat mereka dan sudah meninggalkan tanah Israel (bdk. Yehezkiel 9:9; Mazmur 94:7).Israel menganggap berhala-berhala itu lebih berkuasa dan dapat melindungi mereka (ayat 6-12). Perempuan-perempuan Israel juga melakukan pemujaan terhadap dewa Tamus, yaitu dewa kesuburan dan dewa dunia orang mati asal Asyur yaitu Babel (bdk. Ulangan 28:11-12, 17-24; Mazmur 104: 10-30; Yoel 2:18-27; dan lain-lain). Israel percaya bahwa tumbuh-tumbuhan diatur oleh Sang Dewa (ayat 13-14). Sementara itu laki-laki Israel memuja dewa matahari (bdk. Ulangan 4:19; 2 Raja-Raja 21:5; 23:5, 11; dan lain-lain). Mereka adalah 24 orang imam dan 1 orang imam besar atau pemimpin imam (ayat 15-16). Ada juga orang-orang Israel yang melakukan upacara dengan mengunjukkan ranting kepada hidung mereka (ayat 17)
TUHAN murka atas semua kejahatan Israel tersebut, yang tidak saja menentang-Nya, bahkan menggantikan ibadah terhadap-Nya di Bait Suci dengan penyembahan berhala. Ia memutuskan tidak akan merasa sayang dengan Israel lagi, bahkan tidak akan mendengarkan mereka lagi (ayat 18).
Manusia memiliki pembawaan untuk bersembunyi jika sudah melakukan kesalahan. Bersembunyi ada berbagai macam bentuknya: Melakukan hal-hal terlarang di tempat yang tersembunyi; ada yang langsung menghilangkan jejak; membela diri; atau melakukan aktivitas yang baik untuk menutupi kesalahan yang telah dia perbuat.Sahabat, jangan mengajak Tuhan untuk bermain petak umpet. Jangan pernah berpikir Tuhan tidak melihat apa yang kita perbuat. Tuhan itu Mahatahu. Dia tahu apa saja yang kita lakukan, tiada yang tersembunyi di hadapan-Nya (Mazmur 139:1-24). Jika sudah tahu demikian, maka tidak ada alasan untuk kita semakin menjauh dan menolak untuk dikoreksi Tuhan. Lebih baik mendekat pada Tuhan dan berharap Tuhan akan menolong untuk membuat kita sadar akan dosa dan mulai belajar untuk memahami kehendak-Nya. Jangan cenderung menguasai diri kita, biarlah Tuhan yang menguasainya. Haleluya! Tuhan itu baik.
Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
- Apa yang Sahabat pahami dari ayat 12?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita bersembunyi dan berpikir Tuhan tidak melihat kita, tetapi Tuhan terus akan mencari dan menemukan kita. (pg)


