Author: Christopherus

  • Continuing Life with God

    HIDUP ADALAH SEBUAH PERJALANAN. Sahabat, hidup adalah sebuah perjalanan. Demikian ungkapan yang sering kita baca dan dengar. Karena hidup adalah sebuah perjalanan, maka tugas kita adalah terus berjalan dan terus berjalan dari waktu ke waktu yang kita miliki.

    Hidup adalah sebuah perjalanan yang harus kita lalui. Walau kadang kita malas untuk mengayunkan langkah,  karena rasa lelah yang mendera. Kadang kita dapat menjadi marah dengan keadaan yang kita alami, karena merasa jengah. Atau tak sadar, kita menjadi lengah, sehingga kehilangan arah dan tak mengerti harus berjalan ke mana.

    Perjalanan hidup ini sangat panjang, berliku dan penuh rintangan. Begitu banyak penghalang menghadang, dan itu terkadang membuat kita ingin berhenti dan berbalik arah. Ya, tembok dan batu masalah yang besar, kerikil persoalan kecil pun bertebaran, berusaha membuat kita terbentur, terpeleset, terantuk, untuk terjatuh dan menghentikan perjalanan kita.

    Belum lagi lubang-lubang yang tak sadar membuat kita terperosok di dalamnya. Mungkin berkali-kali  kita harus  melewati lembah air mata, jurang kehancuran, tebing terjal, hutan belantara dalam malam yang mencekam. Belum lagi kita harus menghadapi badai dan ombak yang menderu, mendera iman kita, meski telah lemah dan tak memiliki daya lagi. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Continuing Life with God (Melanjutkan Hidup bersama Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 12:1-25 dengan penekanan pada ayat 23. Sahabat, setelah Nabi Natan menegurnya atas dosa perzinahannya dengan Batsyeba, Daud mengakui dosanya dan bertobat. Tetapi ia masih harus menanggung akibatnya. Anak yang dilahirkan Batsyeba itu sakit. Lalu Daud berdoa, berpuasa dan semalaman berbaring di tanah memohonkan kesembuhan anaknya (Ayat 16).

    Para penasihatnya berusaha menghibur dan mengajaknya makan, tetapi ia menolaknya. Sepertinya, ia sedang menghukum diri, berkabung, menangis serta memohon ampun dari Tuhan. Hal itu berlangsung selama enam hari (Ayat 17). Lalu pada hari ketujuh, anak itu mati. Para pegawainya takut memberitahu kabar itu kepada sang raja. Pikir mereka, Daud bisa mencelakakan dirinya (Ayat 18).

    Namun ketika Daud mengetahui anaknya telah mati, ia melakukan tindakan yang membuat orang-orang heran. Ia bangun dari lantai, mandi, berurap, berganti pakaian, beribadah ke rumah Tuhan, pulang, dan makan (Ayat  20). Alasannya:  “Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup. Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? …” (Ayat 22-23).

    Daud telah melakukan berbagai upaya untuk kesembuhan anaknya. Namun ketika kenyataan berbeda dari harapan, ia tidak larut dalam duka. Ia bangkit, menghibur istrinya, dan melanjutkan hidupnya dalam Tuhan. Daud melanjutkan hidupnya bersama Tuhan. 

    Memang, ada hal-hal di luar kendali kita. Jika demikian halnya, berserahlah pada Tuhan dan jalanilah hidup kita. Ini merupakan langkah iman yang dapat kita tempuh. Belajar rela, berserah dan melanjutkan hidup bersama Tuhan, ketika jalan hidup berbeda dengan apa yang kita harapkan.

    Sahabat, bagaimana pun hidup adalah sebuah perjalanan, kisahnya takkan berhenti, segala warna dan rasa akan silih berganti terisi di dalamnya. Namun tetap percaya, dan tetap berjalan dengan seorang Pribadi yang hebat, kuat dan dahsyat, kita akan aman. Sebab Dia, Tuhan, pemilik hidup kita  dan apa yang Ia kerjakan sempurna. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 23-24?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan berhenti berkarya karena hanya dengan cara itu kita akan temukan janji Tuhan bagi hidup kita. (pg).

  • DIAM NAMUN TAK TINGGAL DIAM

    Saudaraku, siapapun akan sigap membela diri ketika dituduh melakukan sesuatu yang tidak dilakukannya.  Diam dianggap pasif dan membenarkan tuduhan.  Maka pada masa sekarang banyak orang tertindas berani untuk speak up (angkat suara) dan menyatakan kebenaran dari sudut pandang mereka.   Namun Markus menuliskan KEBISUAN Yesus saat Ia dihakimi dan dituduh dengan kejam.  Mari kita merenungkan Markus 15:1-5.

    Pagi itu kantor Pilatus sangat berisik dan gaduh dengan kedatangan para pemuka agama Yahudi yang menyeret tersangka penistaan agama.  Mereka tak berhenti menuduh-Nya dan memaparkan kesalahan-kesalahan-Nya.  Anehnya Si Pelaku hanya menjawab satu pertanyaan Pilatus dan selebihnya Ia hanya diam. Pilatus sampai mendorong Yesus, Sang Tersangka, untuk membela diri dan menjawab tuduhan mereka.

    KEBISUAN Yesus memang mengherankan.  Sebagai seorang guru yang bisa menjawab pertanyaan para Farisi, Saduki, ahli Taurat, kaum Herodian dan bahkan para tua-tua, Yesus pasti punya banyak amunisi untuk bisa menjawab tuduhan itu dengan mudah.  Sebagai seorang pembuat mukjizat yang bisa membangkitkan orang mati, menyembuhkan yang sakit, mengusir setan dan bahkan bisa melewati orang-orang yang akan menjatuhkan-Nya dari atas tebing (Lukas 4:29-30), Yesus pasti bisa mengatasi kemarahan orang-orang itu dengan sedikit kuasa yang dimiliki-Nya. 

    Namun Yesus memilih DIAM  dan tidak menjawab semua tuduhan mereka.  Mengapa Yesus DIAM?   Nubuatan tentang hal ini sudah disampaikan oleh Yesaya: “Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan dirinya disakiti dan tidak membuka mulutnya.  Seperti induk domba yang kelu di depan mereka yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.” (Yesaya 53:7). 

    William Barclay menuliskan bahwa DIAMNYA Yesus disebabkan oleh kebencian orang Yahudi yang bagaikan tirai besi yang sulit ditembus oleh pembelaan diri model apa pun  dan sikap hati Pilatus yang enggan dan takut untuk membuka kebenaran maka tidak ada gunanya kata-kata pembelaan di saat seperti itu. Namun sebenarnya Yesus pun tahu bahwa memang jalan penderitaanlah yang harus dilalui-Nya untuk menyelesaikan misi kedatangan-Nya di dunia ini.  Selain karena faktor situasi yang memang tidak memungkinkan untuk membela diri, Yesus DIAM karena Ia harus menuntaskan misi-Nya.  Yesus DIAM tapi tidak tinggal DIAM.

    DIAM memang tidak mudah dipahami.  DIAM memiliki banyak arti.  Ketika Yesus DIAM itu menandakan kekerasan hati manusia yang sudah diliputi kedengkian sehingga tidak lagi mampu mendengar suara kebenaran.  Allah yang DIAM memang menggelisahkan bagi manusia yang mengharapkan pertolongan-Nya. 

    Namun sebenarnya Allah tidak tinggal DIAM karena Ia bekerja untuk menyadarkan manusia akan kehadiran-Nya.  Manusia gelisah karena Allah tidak menjawab seperti yang dikehendakinya, namun Allah menyatakan apa yang diinginkan-Nya. 

    Allah yang DIAM dalam pergumulan iman umat-Nya menjadi pergumulan Shusaku Endo saat menuliskan novelnya yang berjudul Silence. Endo mempertanyakan mengapa Tuhan bungkam dengan semua penderitaan umat-Nya dan membiarkan mereka berjuang menghadapi aniaya. Namun ternyata Tuhan tidak bungkam, Tuhan turut menderita bersama umat-Nya.  Mari TETAP PERCAYA.  Tuhan sepertinya DIAM, tapi Ia tidak pernah tinggal DIAM.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • Sin is Like A Snowball

    BOLA SALJU. Sahabat, dari beberapa sumber saya mendapat informasi bahwa
    bola salju adalah benda berbentuk bola yang terbuat dari salju. Bola salju yang
    paling sederhana dibuat dengan menciduk salju menggunakan tangan dan
    memadatkannya menjadi bola berukuran kepalan tangan. Bola salju banyak
    digunakan dalam berbagai permainan seperti pertarungan bola salju, dan
    pembuatan manusia salju.

    Memadatkannya dengan tekanan tinggi akan menjadikan bola salju
    sekeras es sehingga membahayakan jika dilempar. Salju yang terlalu kering atau
    terlalu dingin sulit untuk dibuat menjadi bola salju, karena dibutuhkan sedikit air
    untuk membuat setiap partikel es di salju saling menempel (sifat kohesi).

    Dalam kondisi tertentu, meski jarang, sekumpulan salju dapat menjadi bola salju
    dan menggelinding dengan sendirinya. Kondisi tersebut diantaranya lapisan es di
    antara salju dan tanah sehingga salju tidak menempel. Selain itu, dibutuhkan
    angin dan gravitasi untuk mendorong salju tersebut agar membentuk bola.

    Sahabat, efek bola salju itu juga menjadi istilah yang eksis dalam dunia bisnis.
    Bola salju yang bergerak dan semakin besar menggambarkan pertumbuhan
    besar dalam pemasaran.

    Dalam dunia pemasaran bisnis, istilah efek bola salju adalah ketika situasi bisnis
    yang sedang Sahabat kerjakan terus berkembang dan semakin sukses, maka
    semakin banyak pula publisitas yang kamu dapatkan dan semakin banyak
    promosi yang diterima.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Sin is
    Like A Snowball (Dosa itu Seperti Bola Salju)”. Bacaan Sabda diambil dari 2
    Samuel 11:1-27 dengan penekanan pada ayat 2. Sahabat, dosa itu seperti bola
    salju. Dosa yang satu akan melahirkan dosa yang lain untuk menutupi dosa awal.

    Waktu itu Yoab masih berusaha menundukkan bangsa Amon dalam pertempuran
    di Raba. Ke mana Daud? Ia malah tinggal di Yerusalem (Ayat 1). Padahal penulis
    2 Samuel menyebutkan, biasanya raja-raja berperang pada saat pergantian tahun.
    Dengan tinggal saja di Yerusalem berarti Daud tidak kurang memerlihatkan
    tanggung jawabnya sebagai panglima perang kerajaan dan ikut berbagi beban
    dengan para prajuritnya dalam membela kerajaan.

    Pada saat ia bersantai-santai itulah pencobaan datang. Ia melihat seorang
    perempuan sedang mandi (Ayat 2). Orang mungkin saja melihat tanpa disengaja.
    Masalahnya, Daud tidak berhenti melihat dan setelah melihat ia menginginkan
    perempuan itu, yang ternyata bernama Batsyeba, istri Uria (Ayat 3). Lalu tahap
    menginginkan itu dilanjutkan dengan tahap mengambil Batsyeba dan tidur
    dengan perempuan itu (Ayat 4).

    Kesadaran akan bahaya baru muncul setelah Batsyeba memberitahu Daud bahwa
    ia mengandung (Ayat 5). Maka yang muncul kemudian adalah muslihat untuk
    menutupi dosa, mulai dari cara yang halus (Ayat 6-11), yang kotor (Ayat 12-13),
    sampai yang bersifat kriminal (Ayat 14-21), yang ditujukan kepada Uria, suami
    Batsyeba.

    Melihat, menginginkan, dan mengambil merupakan suatu proses yang tidak
    berdiri sendiri, melainkan berkaitan dan berkembang. Jadi dosa tidak bersifat
    statis. Sesungguhnya dosa seperti bola salju, semakin digelindingkan akan
    semakin besar!

    Dimulai dari berzinah dengan istri orang hingga “membunuh” suami perempuan
    itu. Meski dilakukan sembunyi-sembunyi dan hanya diketahui sedikit orang,
    tetapi penulis 2 Samuel menyatakan bahwa dosa yang dilakukan Daud adalah
    jahat di mata Tuhan (Ayat 27). Hal tersebut menjadi suatu peringatan keras bagi
    kita. Jangan pernah bermain-main dengan dosa. Bila suatu waktu kita jatuh ke
    dalam dosa, jangan berkubang di dalamnya. Segera mintalah pengampunan Sang
    Penebus. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perennganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah
    beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang Bola Salju?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kenalilah kesalahan-
    kesalahanmu dan belajarlah dari kesalahan itu, namun jangan berkubang di
    dalamnya (Zig Ziglar). (pg).

  • Don’t Make Outrageous Accusations!

    MENUDUH. Tuduhan yang sembarangan, tuduhan yang keterlaluan, tuduhan
    yang asal tuduh, dapat menghancurkan reputasi dan hidup seseorang. Kalau
    tidak percaya, tanyalah pada Sautuola.

    Nama lengkapnya Don Marcelino Sanz de Sautuola. Dari beberapa sumber saya
    mendapat informasi bahwa Sautuola, seorang ahli hukum Spanyol dan arkeolog
    amatir. Lahir pada 2 Juni 1832 dan meninggal pada 30 Maret 1888.

    Pada tahun 1879, ketika Sautuola sedang memeriksa sebuah gua di propertinya
    di Altamira, Cantabria, di Spanyol Utara. Saat itu Maria, putrinya, merangkak ke
    dalam gua samping, dan secara tidak sengaja ia melihat ke atas, kemudian
    dengan cepat kembali keluar sambil berseru: “Lihat Ayah! Di atas gua ada
    gambar Banteng!”

    Memang ada lukisan Banteng di langit-langit gua Altamira. Sautuola kemudian
    memanggil seorang profesional arkeologi, yang setuju bahwa lukisan-lukisan itu
    adalah lukisan prasejarah. Pada tahun 1880, Sautuola mempresentasikan
    makalahnya kepada Kongres Prasejarah di Lisbon, menggambarkan lukisan-
    lukisan gua dan menyatakan bahwa lukisan-lukisan itu adalah karya manusia
    primitif.

    Ketika ia mempublikasikan temuannya, banyak arkeolog yang cemburu. Mereka
    terang-terangan menuduh Sautuola sengaja menciptakan kebohongan untuk
    memperoleh popularitas. Dia tidak pernah bisa meyakinkan arkeolog lain untuk
    datang mengunjungi guanya, dan dia meninggal sebagai orang yang depresi,
    integritasnya dipertanyakan, dan penemuan besarnya tidak diakui. Puluhan tahun
    kemudian, baru para ahli mengakui keaslian temuan Sautuola.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel 10 dengan topik: “Don’t
    Make Outrageous Accustions! (Jangan Asal Menuduh)”. Bacaan Sabda diambil
    dari 2 Samuel 10:1-19 dengan penekanan pada ayat 4. Sahabat, tuduhan yang
    keterlaluan, bukan hanya membuat hati kita tidak tenang, tetapi dapat juga
    menghancurkan relasi dengan sesama. Setidaknya hal itu tampak dari
    pengalaman Hanun, raja orang Amon.

    Hanun mencurigai niat baik Daud yang hendak menyampaikan rasa simpati atas
    kematian ayahnya. Saking curiganya, Hanun memperlakukan para utusan Daud
    dengan sangat tidak tidak hormat. Mereka bukan hanya ditangkap, janggut
    mereka juga dicukur sampai setengahnya, dan pakaian mereka pun dipotong

    hingga menyingkap bagian tubuh yang tak pantas terlihat.

    Tindakan itu bukan hanya menghina dan mempermalukan para utusan Daud,
    tetapi secara tidak langsung berarti menghina Daud juga. Sebab dalam budaya
    zaman itu, janggut menandakan kearifan dan derajat seseorang. Kaum laki-laki
    Israel membiarkan janggut memenuhi dagu dan rahang mereka untuk
    membedakan statusnya dengan para budak. Yang berdagu licin (tidak
    berjanggut) adalah kaum budak. Dengan demikian Hanun bukan hanya menolak
    tawaran persahabatan Daud, tetapi juga merendahkan derajat umat Israel setara
    budak.

    Tindakan ini muncul karena buruknya diplomasi, serta pikiran negatif yang
    menguasai mereka. Juga karena mereka tidak belajar dari fakta masa lalu,
    tentang bagaimana raja mereka bersahabat baik dengan Daud.

    Para pemuka negeri Amon lupa bahwa Daud adalah seorang yang setia, teguh
    memegang perjanjian dan dapat dipercaya. Penghinaan yang mereka lakukan
    harus dibayar dengan kehancuran satu negeri.

    Terkadang kita salah memahami itikad baik seseorang. Kita terlalu berprasangka,
    berpikiran buruk, dan mengambil tindakan tanpa didasari bukti dan pertimbangan
    yang matang. Kita cepat menuduh. Kita asal menuduh. Memang sewajarnyalah
    kita waspada, hati-hati dan tidak percaya begitu saja. Namun kita juga perlu
    mengumpulkan informasi yang akurat, agar tidak salah langkah, serta terhindar
    dari kerugian dan kehancuran. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah
    beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hubungan yang baik
    dapat hancur dalam sekejap, ketika prasangka dan pikirian negatif menyergap.
    (pg).

  • SALAH PERHITUNGAN

    Saudaraku, manusia bisa salah perhitungan.  Ketika ia melihat sebuah masalah, sebuah benda atau pekerjaan, manusia bisa mengukur kekuatannya untuk menghadapi hal itu.  Namun sikap takabur membuat manusia meleset dalam perhitungannya sehingga ia mengalami kegagalan menyelesaikan masalah  atau memperoleh apa yang diinginkannya.  Mari kita merenungkan Markus 14: 27-31.

    Malam itu menjadi malam yang sentimental ketika Yesus berpamitan dengan para murid-Nya.  Petrus merasakan ketegangan itu sehingga ketika Yesus mengatakan bahwa akan ada peristiwa yang mengguncangkan iman mereka, Petrus langsung mengatakan bahwa ia akan tetap kuat, bahkan lebih kuat dari teman-temannya.  Keberanian Petrus ini sebenarnya tidak mengherankan karena Yesus pernah memarahinya karena keyakinan diri yang kebablasan itu (Markus 8:33). 

    Petrus memperkirakan bahwa ia akan kuat menghadapi peristiwa besar yang akan mengguncangkan semua murid Yesus.  Tentunya perhitungan Petrus masuk akal karena:

    1. Petrus selalu masuk dalam daftar murid terdekat Yesus bersama Yohanes dan Yakobus (Markus 9:2-13)
    2. Petrus bisa menjawab pertanyaan Yesus dengan tepat tentang kemesiasan-Nya (Markus 8:29)
    3. Seperti murid yang lain, Petrus selalu berada di sekeliling guru-Nya dan tidak menganggap serius apa yang dipercakapkan Sang Guru tentang penderitaan yang akan dijalaniNya untuk mengakhiri misi kedatangan-Nya.

    Sebagai seorang nelayan yang berpengalaman dan pengikut Yesus yang setia selama 3 tahun, wajar bila Petrus merasa bahwa ia akan kukuh dan kuat dalam imannya.  Bahkan ketika Yesus menegur keyakinan dirinya yang berlebihan, Petrus makin berani menetapkan target yang tertinggi:  Mati pun dijalani asal bersama Yesus (Markus 14:31).  Wow.  Yesus mungkin tertawa dalam hati sekaligus prihatin dengan sikap Petrus saat mengucapkan sumpah setia yang dalam beberapa jam akan dilanggarnya habis-habisan.

    Takabur.  Petrus merasa kuat, namun sebenarnya ia tidaklah sekuat itu.  Manusia memang rentan untuk terinfeksi dengan sikap takabur, salah perhitungan, menganggap remeh.  Itulah sebabnya alangkah baiknya manusia harus selalu penuh dengan kerendahan hati.  Ia menghitung kekuatan dan jujur dengan diri sendiri ketika berhadapan dengan masalah atau mengambil keputusan seperti seorang yang berhitung dulu sebelum membangun menara (Lukas 14:28-30). 

    Beriman bukan berarti nekat dan mengabaikan perhitungan.  Namun sebaliknya, beriman bukan berarti ragu dan takut mengambil keputusan. Beriman berarti menaruh semua langkah yang akan diambil di kaki Tuhan dan meraih tangan-Nya serta meminta-Nya menyertai jalan yang akan dilalui. 

    Kalau memang lemah, akuilah dan minta Tuhan menyertai.  Kalau memang mampu, tetaplah rendah hati dan minta Tuhan merestui.  Manusia diberi karunia untuk tidak mengetahui masa depan, agar manusia bergantung penuh pada kasih setia-Nya.  Mari jalani kehidupan dengan penyertaan Tuhan agar perhitungan iman tidak meleset dan menimbulkan penyesalan.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)