Author: Christopherus

  • Patience Brings Goodness

    KESABARAN. Sahabat, ketika segala sesuatu berjalan sesuai dengan rencana, kesabaran adalah hal yang mudah untuk dilakukan. Ujian sejati dari kesabaran terjadi ketika hak-hak kita dilanggar;  ketika mobil lain memotong jalur kita di jalanan; ketika kita diperlakukan tidak adil; ketika rekan kerja kita mengejek iman kita, dan sebagainya.

    Ketidaksabaran tampak seperti kemarahan yang kudus. Alkitab menyatakan kesabaran sebagai salah satu dari buah Roh (Galatia  5:22) yang harus dihasilkan oleh semua orang percaya  (1 Tesalonika 5:14). Kesabaran merupakan bentuk perwujudan iman kita terhadap waktu, kemahakuasaan, dan kasih Allah.

    Kesabaran itu tidak bisa dibangun dalam semalam. Kuasa dan kebaikan Allah sangat penting dalam membangun kesabaran. Surat Kolose 1:11 menyatakan bahwa kita dikuatkan oleh-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar. Sedangkan surat Yakobus 1:3-4 menguatkan kita untuk tahu bahwa pencobaan adalah cara yang Dia gunakan untuk menyempurnakan kesabaran kita.

    Sahabat, di dalam Alkitab, kita melihat banyak contoh dari perjalanan hidup tokoh-tokoh Alkitab dengan Allah ditandai dengan kesabaran. Yakobus mengingatkan kita akan nabi-nabi yang merupakan teladan penderitaan dan kesabaran (Yakobus 5:10). Dia juga mengingatkan kita mengenai Ayub, yang ketekunannya dihargai dengan apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya (Yakobus 5:11).

    Abraham juga, menunggu dengan sabar dan memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya (Ibrani  6:15). Yesus adalah teladan kita dalam segala hal. Dia menunjukkan kesabaran  dengan mengabaikan kehinaan, tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah (Ibrani 12:2).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Patience Brings Goodness (Kesabaran Mendatangkan Kebaikan)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 16:5-16 dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, seorang polisi mengalami peristiwa tidak menyenangkan ketika ia menghentikan seorang perempuan bermobil yang melakukan pelanggaran. Ia memberikan surat tilang, tetapi perempuan itu mengamuk, mulai mencakar dan memukul sambil melontarkan perkataan kasar. Hebatnya, polisi itu bergeming. Ia hanya berupaya menghindari pukulan itu tanpa membela diri. Kesabarannya itu mengundang banyak simpati. Akhirnya ia diberi penghargaan oleh Kapolda Metro Jaya.

    Daud pun pernah mendapatkan perlakuan serupa ketika ia dan para pengikutnya melarikan diri dari usaha kudeta Absalom. Di tengah jalan, Simei, yang termasuk salah seorang keluarga Saul, datang dan melempari rombongan Daud dengan batu serta mengucapkan kata-kata kutuk. Abisai, salah seorang pengikut Daud, bereaksi dan meminta izin untuk memenggal kepala Simei. Daud bereaksi sebaliknya. Alih-alih memberi izin, ia justru menegur Abisai dan membiarkan Simei terus mengutuk. Dan Daud menunjukkan kesabarannya dengan perkataan: “Mungkin TUHAN akan memperhatikan kesengsaraanku ini dan membalas yang baik kepadaku sebagai ganti kutuk orang itu pada hari ini.” (Ayat 12). Daud yakin kesabaran mendatangkan kebaikan.

    Sahabat, memang tindak kebenaran yang kita lakukan tidak selalu membuahkan hal yang baik untuk kita. Kadang-kadang kita justru menerima perlakuan yang buruk. Namun, Tuhan bisa memakai situasi itu untuk menguji hati kita. Setiap perlakuan buruk sesungguhnya menguji kualitas hati kita dan menjadikan kita semakin dewasa secara rohani.  Menjadikan kita semakin sabar. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang ayat 12?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sabar adalah kesadaran bahwa kita percaya kepada Tuhan yang Mahakuasa dan yang Mahatahu akan segala sesuatu. (pg).
       

  • Itai, The True Friend of King David

    KAWAN SEJATI. Sahabat, dalam perjalanan hidup, akan ada banyak orang yang datang dan pergi silih berganti. Sebagian orang yang kita temui bisa pergi tanpa meninggalkan kesan apa pun, tetapi yang lain mungkin akan menjadi kawan, bahkan kawan sejati.

    Memiliki kawan sejati bukan hanya bisa mengusir kesepian, tetapi juga baik untuk kesehatan mental. Namun perlu diingat, persahabatan yang sehat melibatkan komunikasi dua arah yang terbuka, artinya ketika kamu menganggap seseorang kawan sejatimu, pastikan ia pun menganggapmu sebagai  kawan sejatinya.

    Kawan sejati adalah seorang pendukungmu yang objektif. Dia selalu memberi dukungan, baik saat susah maupun senang. Ia akan dengan senang hati mendengarkan curahan hatimu. Ia menjadi pendengar yang baik dan sabar.

    Ia juga menjadi orang yang membuatmu bangkit saat kamu sedang dihadapkan pada tantangan hidup. Sebuah studi mengungkapkan bahwa dukungan moril yang diberikan oleh kawan sejati dapat membantu seseorang melewati masa-masa yang berat di dalam hidupnya.

    Selain itu, tanda seseorang merupakan kawan  sejatimu adalah jika ia mampu menegur jika kamu melakukan hal-hal yang salah. Ketahuilah saat seorang kawan  sejati menegurmu, semata-mata karena ia menngasihimu.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Itai, The True Firiend of King David (Itai, Kawan Sejati Raja Daud)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 15:13-37 dengan penekanan pada ayat 21. Sahabat, Daud dikhianati anaknya sendiri. Absalom melakukan kudeta. Banyak orang Israel berbalik mendukung Absalom. Bukan hanya kehilangan takhta, nyawa pun terancam. Daud terpaksa meninggalkan istana. Sepanjang perjalanan, muncul tokoh-tokoh yang tetap setia kepadanya. Salah seorang kawan sejati Daud adalah Itai.

    Dikisahkan bahwa pegawai istana, orang Kreti, Pleti, dan Gat (sekitar 600 orang) melarikan diri bersama Daud. Di antaranya adalah pengawal pribadi raja, termasuk Itai (orang Filistin). Ketika Daud melarikan diri dari Raja Saul yang ingin membunuhnya, ia bersembunyi di gua Adulam. Di situ ia bertemu dengan 30 orang pelarian dari berbagai bangsa. Bersama mereka, Daud membentuk kelompok Adulam. Mereka menjadi pasukan yang kuat dan setia kepada Daud.

    Sahabat, setelah Daud menjadi raja, tim elite ini merekrut tentara baginya. Itai orang baru. Ia tidak punya riwayat bersama Daud. Lagi pula, masa depan Daud saat itu tidak jelas. Bisa jadi Absalom menangkap dan membunuh Daud dan semua pengikutnya. Maka, Daud menyuruhnya tinggal, melayani Absalom, yang sebentar lagi akan menguasai istana. Itai bersikukuh: “Demi TUHAN yang hidup, dan demi hidup tuanku raja, di mana tuanku raja ada, baik hidup atau mati, di situ hambamu juga ada” (Ayat 21). Kesetiaannya bukan demi Daud, tetapi juga demi Tuhan.

    Daud tahu kejadian yang menimpanya merupakan penggenapan nubuatan nabi Natan atas perbuatannya terhadap Batsyeba dan Uria (2 Samuel 12:10-11). Itai tetap setia, meski tidak ada alasan baginya untuk bersikap demikian. Itai menjadi kawan sejati bagi Daud.  Sesungguhnya hal tersebut menggambarkan kesetiaan Tuhan. Meskipun Daud manusia berdosa, Ia tidak meninggalkannya.

    Sahabat, daripada mengeluh dan menyalahkan Tuhan pada saat susah, lebih baik memfokuskan diri kepada orang-orang yang tetap ada di sisi kita. Merekalah kawan sejati. Mereka menunjukkan kesetiaan dan pertolongan Tuhan pada saat paling dibutuhkan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pad hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami mengenai kawan sejati?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kawan yang setia di sisi kita pada saat kita mengalami kesusahan adalah kawan sejati. (pg).



  • Never Bite the Hands that Feed You!

    AIR SUSU DIBALAS DENGAN AIR TUBA. Sahabat,  sejak SD saya senang dengan mata pelajaran bahasa Indonesia, apalagi kalau membahas peribahasa. Judul renungan saya hari ini senada dengan arti peribahasa kuno: Air susu dibalas dengan air tuba. Peribahasa tersebut  sudah sangat familier di masyarakat kita. Peribahasa tersebut  sering dipakai dalam percakapan sehari-hari.

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) peribahasa adalah kelompok kata atau kalimat yang tetap susunannya, biasanya mengiaskan maksud tertentu. Peribahasa adalah bagian dari sastra rakyat yang dimiliki setiap daerah. Bentuknya berupa kalimat ringkas berisi nasihat atau sindiran yang diungkapkan menggunakan kiasan.

    Salah satu peribahasa yang sering dipakai dalam obrolan adalah air susu dibalas dengan air tuba. Peribahasa tersebut  biasanya digunakan untuk menyindir seseorang yang tidak tahu diri. Makna air susu dibalas dengan air tuba adalah kebaikan yang dibalas dengan kejahatan.

    Sahabat, Tuba adalah jenis pohon yang akarnya mengeluarkan getah beracun. Getah tersebut kerap dipakai untuk menangkap ikan. Ada pun susu adalah minuman yang menyehatkan dan tinggi nutrisinya. Kata tuba dan susu digunakan sebagai kiasan untuk membandingkan dua hal yang sangat kontras, dalam konteks peribahasa tersebut adalah kejahatan dan kebaikan.

    Makna dari peribahasa tersebut menggambarkan orang yang tidak baik budinya. Orang yang tidak tahu berterima kasih. Biasanya perilaku tersebut  hanya dilakukan oleh orang jahat dan penuh rasa dengki, sebab, membalas kebaikan orang dengan kejahatan adalah tindakan yang tidak baik dalam norma sosial.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Never Bite the Hands that Feed You! (Jangan Pernah Menggigit Tangan yang Memberi Makan Anda!)”.  Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 14:1-33. Sahabat,  perbuatan baik seseorang dibalas dengan perbuatan jahat,  itulah tindakan Absalom yang memerintahkan anak buahnya untuk membakar ladang Yoab (Ayat 30). Kalau Absalom mau melihat segala sesuatu dengan hati yang bening, lebih cermat dan memperhatikan semua yang dilakukan Yoab baginya, bisa jadi dia mengurungkan niatnya.

    Dalam bacaan kita pada hari  ini, kita bisa melihat bagaimana Yoab berupaya memberikan yang terbaik bagi raja. Ia tahu Raja Daud sangat merindukan Absalom (Ayat 1), tetapi dia malu mengakuinya. Ia juga merasa tak enak meminta Yoab untuk memanggil anaknya pulang. Di sinilah kelebihan Yoab. Ia tahu apa yang diinginkan Daud. Kebahagiaan Daud merupakan hal terpenting bagi dia.

    Sahabat, dengan sengaja Yoab mengutus seorang perempuan bijaksana dari Tekoa untuk berpura-pura berkabung di hadapan raja dan mengutarakan persoalannya. Perempuan itu yang mendorong Daud mengambil keputusan untuk memanggil Absalom pulang dari pembuangan. Namun, Daud tidak memperkenankan Absalom menghadap dia (Ayat 21-23). Di sini Yoab adalah perancang kepulangan Absalom dari pembuangan. Memang Yoab sendiri tak berani melanggar perintah Daud, sehingga Yoab menolak permintaan Absalom untuk bertemu dengan ayahnya.

    Sayangnya, Absalom tidak mengingat dan memperhitungkan kebaikan Yoab. Yang dia tahu, keinginannya tidak terpenuhi. Ia juga marah kepada Yoab yang tidak mau bertemu dengannya, meski sudah tiga kali dipanggil. Absalom agaknya lupa bahwa dia memang anak raja. Akan tetapi, anak raja tetaplah anak raja, dan belum menjadi raja. Yoab mestinya memang hanya tunduk kepada raja.

    Sahabat, sayangnya itu tidak dilakukan Absalom. Demi mencapai tujuannya, dia merasa boleh berbuat apa saja. Ia rela menyakiti orang yang telah membantunya pulang ke Israel. Dari kisah relasi Yoab dengan Absalom, kita bisa bejalajar Absalom memang bukan tipe pemimpin yang baik. Pemimpin yang baik tak pernah dengan sengaja menyakiti orang lain, apalagi menyakiti orang yang telah berbuat baik baginya. Orang yang baik tidak pernah menggigit tangan orang yang memberi makan kepadanya. Semoga kita ingat membalas budi orang yang pernah menolong kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 21-22?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Memang relasi tidak selalu berjalan mulus, karena itu rekonsiliasi bisa menjadi jalan keluar bagi pemulihan sebuah relasi. (pg).

  • BERITAKAN DAN BAPTISKAN!

    Saudaraku, badai sudah menerpa dengan keras sejak awal Yesus bekerja.  Banyak orang yang diberkati namun sangat banyak yang membenci, hingga akhirnya berusaha membungkam-Nya dengan berbagai cara.  Puncaknya ketika Yesus berhasil ‘dilenyapkan’ dengan cara licik.  Namun ternyata kisah-Nya tidak berhenti dengan tubuh-Nya yang dimasukkan ke liang kubur.  Kisah itu terus berlanjut hingga hari ini. Mari kita merenungkan Markus 16:9-20.

    Penghukuman terhadap Yesus mengakhiri kisah-Nya di dunia.  Selesai mayat-Nya dikuburkan, semua berharap suasana kembali normal.  Pusat pengajaran kembali ke sinagoge, tidak ada lagi kerumunan masyarakat yang menanti untuk disembuhkan, tidak ada lagi perdebatan dengan para pemuka agama atau cerita-cerita mukjizat diantara rakyat. 

    Sejak Yesus dikuburkan maka diharapkan minggu itu menjadi tenang.  Namun ternyata itu salah besar.  Justru setelah ketenangan sehari, pada hari minggu itu menjadi hari yang luar biasa dan menjadi titik awal sebuah gerakan yang hingga sekarang masih dilakukan.  Injil Markus tidak ditutup dengan ketakutan para murid atau bungkamnya mereka karena peristiwa pembunuhan Sang Guru secara sadis namun justru ditambahkan tulisan tentang Amanat Agung Yesus yang mencegah para murid bungkam dan mulai aktif mengabarkan Berita Sukacita.

    Pembungkaman terhadap kemanusiaan Yesus telah berhasil dilakukan, namun Injil tidak akan pernah bisa dibungkam.  Setelah kematian Yesus, kabar tentang kelepasan dalam nama-Nya terus diberitakan dan tidak terbendung hingga saat ini. Injil Markus secara gamblang menuliskan amanah dari Yesus yang akan naik ke surga , yaitu :

    1. Memberitakan Injil

    Para murid diutus untuk bersaksi.  Mereka tidak diizinkan diam untuk menyimpan semua kisah Sang Kristus melainkan memberitakan kepada orang lain tentang Kerajaan Allah.  Mereka harus terus bergerak untuk bersaksi.  Penulis bagian penutup Injil Markus hendak menyampaikan bahwa tugas gereja yang POKOK adalah BERSAKSI.

    • Membaptiskan mereka yang percaya

    BAPTISAN menandakan ikatan dalam komunitas.  Para murid diminta untuk tidak hanya menginjil namun mengumpukan mereka yang percaya untuk terhimpun dalam sebuah komunitas.  Tugas gereja yang lain adalah PERSEKUTUAN.  Setelah dibaptiskan dengan nama Yesus, maka orang percaya berkomitmen untuk mengikuti jejak-Nya bersama komunitas imannya.

    Dengan indahnya Injil Markus menuliskan bahwa TUHAN TIDAK TINGGAL DIAM. Ia menyertai, turut bekerja dan meneguhkan Firman yang diberitakan (Markus 16:20). 

    Tongkat estafet PENGINJILAN  telah beralih kepada orang percaya sejak Dia naik ke surga.  Setiap gereja-Nya  yang harus melakukan tugas tersebut dengan penyertaan dan peneguhan dari Kristus sendiri. Tugas gereja bukanlah hanya membangun gedung megah, memperkaya hidup, membuat acara-acara spektakuler dan megah.  TUGAS UTAMA GEREJA  adalah MEMBERITAKAN INJIL  dan MEMBANGUN KOMUNITAS IMAN dalam Kristus. 

    Memang ada tanda-tanda yang menyertai, namun itu hanya sampingan saja. TUGAS POKOK GEREJA  tetaplah MEMBERITAKAN KABAR BAIK  dan MEMBAPTIS mereka yang mau percaya serta menjadikannya satu dalam sebuah komintas.  Gereja perlu belajar konsisten berjalan dalam tugas yang sudah diberitakan Sang Kristus, apa pun yang terjadi.  Tetaplah setia mengerjakan tugas itu seperti Kristus telah setia melaksanakan tugas hingga akhir.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • Tragedy of the King’s Family

    TRAGEDI. Sahabat, dari Wikipedia saya mendapat informasi bahwa tragedi atau dukacarita adalah genre drama  yang menceritakan kisah yang menyedihkan. Dalam tragedi, tokohnya biasanya memiliki kualitas-kualitas yang baik namun mengalami nasib yang buruk dan menyebabkan dirinya, atau kerabat dan sahabatnya, mengalami masalah.

    Drama tragedi berasal dari Yunani kuno dan biasanya dipentaskan dalam festival keagamaan. Penulis tragedi Yunani yang terkenal yaitu Aiskhilos, Sofokles.  dan Euripedes,  sedangkan penulis tragedi masa modern yang terkenal adalah William Shakespeare.

    Sahabat, momen kelam dalam sejarah Indonesia, yang dikenal sebagai “Tragedi ’65,” tetap menjadi kenangan yang menyakitkan dan kontroversial dalam perjalanan negara ini.  Mengingat peristiwa “Tragedi ’65” adalah sebuah pengingat yang menyakitkan tentang perpecahan dan kekerasan yang pernah melanda Indonesia. Meskipun telah berlalu lebih dari setengah abad, peristiwa itu tetap menjadi salah satu momen tersulit dalam sejarah bangsa ini. Sebuah tragedi yang mengerikan bagi bangsa kita.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Tragedy of the King’s Family (Tragedi Keluarga Raja)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 13:23-39. Sahabat, dosa bisa saja tidak terjadi bila orang-orang di sekitar orang yang akan berbuat dosa mau mengingatkan, melarang atau menegur, bahkan menghalangi perbuatan dosa itu. Namun bila orang diam saja atau malah memberikan dukungan maka dosa akan bagaikan api terguyur bensin.

    Setelah pemerkosaan terhadap adiknya, Absalom menyimpan kepahitan dan sakit hati terhadap Amnon. Mengingat Amnon, bukan saja telah menyakiti Tamar, sang adik kandung, tetapi juga telah mempermalukan keluarganya. Maka sebuah aksi pembalasan dendam pun direncanakan (Ayat 28). Masa pengguntingan bulu domba dipakai sebagai saat yang paling tepat untuk pelaksanaan aksi tersebut.

    Dengan mengundang segenap keluarga raja Daud, Absalom bermaksud melaksanakan niatnya (Ayat 23-24). Niat itu sudah bulat, sehingga ketidakhadiran raja seolah jadi pendukung untuk mewujudkan niat tersebut. Tragedi tragis pun kembali terjadi. Absalom, anak Daud, membunuh Amnon, anak Daud yang lain. Walau ingin menuntaskan dendam, Absalom sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan. Maka Absalom pun melarikan diri (Ayat 34).

    Sahabat, bila kita berada di pihak Absalom, kira-kira bagaimana tindakan kita terhadap Amnon? Bukankah memang pahit apa yang harus dialami Tamar dan betapa memalukan aib yang juga ikut diderita Absalom? Namun kisah ini memperlihatkan pada kita bahwa menyimpan dendam dan kemudian membalaskannya ternyata tidak menghasilkan kepuasan dan kelegaan.

    Kita mungkin puas untuk sementara ketika dendam itu terbalaskan. Mungkin kita akan senang dan bisa mengatakan, “Rasakan apa yang aku alami akibat tindakanmu!” Namun apakah marah itu jadi hilang? Apakah kepahitan itu jadi sirna? Apakah kebencian itu jadi luluh? Ternyata tidak.

    Sahabat, tragedi keluarga Daud ini memberikan pelajaran bagi kita bahwa tanpa pengampunan tidak akan pernah ada damai sejahtera. Maka bila terasa sulit bagi kita untuk mengampuni orang yang telah menyebabkan kita menderita, ingatlah: “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” (Kolose 3:13). Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang tragedi?

    Selamat Sejenak Merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dosa yang dimulai dari Daud kemudian menjangkiti anggota keluarganya sehingga setiap orang bisa terjerat dalam lingkaran dosa itu. (pg).