
Author: Christopherus
-
Restored Mephibosheth
DIPULIHKAN. Sahabat, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pulih berarti kembali menjadi semula, sembuh, dan menjadi baik lagi. Pulih menunjuk pada sebuah proses dari keadaaan tidak baik menjadi baik kembali.
Simon Petrus yang pernah menyangkal Tuhan Yesus dipulihkan dengan ditanyai kembali komitmennya untuk mengasihi Yesus lebih daripada yang lain. Menyangkal tiga kali, ditanyai tiga kali dan Simon menjawab hanya Tuhan yang tahu bagaimana hatinya setelah dijumpai Yesus.
Saulus, yang semula merupakan pembenci dan pembunuh pengikut Kristus, dipulihkan setelah dicegat Tuhan Yesus di tengah jalan ke Damsyik. Saulus sempat jatuh dari kudanya dan menjadi buta selama tiga hari. Saulus yang kemudian berganti nama menjadi Paulus, dia dipakai Tuhan menjadi Pemberita Injil yang menjangkau diluar orang-orang Yahudi.
Sahabat, Ketika kita mengalami kesusahan, merasa remuk, dan tidak berdaya, Tuhan Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, dekat dan bersama-sama kita. Ia akan menyembuhkan dan memulihkan keadaaan kita. Karena itu, kita seharusnya tidak terus-menerus merasa terpuruk dan mengalami hidup yang buruk. Kita bangkit dan berdaya karena kasih dan damai sejahtera Tuhan melingkupi kita.
Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Restored Mephibosheth (Mefiboset yang Dipulihkan)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 9:1-13 dengan penekanan pada ayat 7. Sahabat, seorang yang bermusuhan biasanya menyimpan dendam turun-temurun, dendam yang sulit dilupakan, dendam yang diusahakan untuk dibalas.
Raja Daud dimusuhi Saul, raja pendahulunya. Daud tidak mendendam, malah mengasihi Yonatan, putra Saul. Ia juga ingin menunjukkan kasih Allah kepada keturunan Saul, dan ia menemukan Mefiboset, cucu Saul (Ayat 2 dan 3).
Ketika Daud menjadi raja Israel menggantikan Saul, ia teringat keluarga Yonatan, sahabatnya, dan juga perjanjian dengannya semasa ia masih hidup seperti dikatakan Yonatan kala itu, “Jika aku masih hidup, bukankah engkau akan menunjukkan kepadaku kasih setia TUHAN? Tetapi jika aku sudah mati, janganlah engkau memutuskan kasih setiamu terhadap keturunanku sampai selamanya. …” (1 Samuel 20:14-15a). Itulah sebabnya ketika orang mengabarkan bahwa Mefiboset, salah seorang keluarga Saul, masih hidup segera Daud mengundangnya ke istana.
Setelah bertemu Daud, sujudlah Mefiboset dan berkata: “Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?” (Ayat 8). Mefiboset merasa tidak layak datang kepada Daud, bahkan ia manyamakan dirinya seperti anjing mati yang tidak berguna; ia sudah kehilangan jati dirinya karena sekian lama telah terbuang.
Sahabat, apa yang dilakukan Daud terhadapnya seperti mimpi yang menjadi kenyataan, laksana hujan yang menghapus kegersangan hati. Citra diri Mefiboset yang negatif berubah karena uluran tangan kasih Daud. Mefiboset telah dipulihkan.
Perhatian Daud memberikan pengharapan baru, semangat hidupnya kembali timbul karena merasa dihargai; Daud telah membuatnya merasa diterima dan memberinya rasa aman yang lama ia rindukan. Daud berkata, “… Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah. …” (Ayat 3). Namun Daud menegaskan semuanya itu bukan karena kehebatan dan kebaikannya sendiri, melainkan karena tuntunan Tuhan semata. Ia telah terlebih dahulu mengalami pertolongan dan kebaikan Tuhan yang begitu melimpah supaya ia pun dapat menyalurkan kasih itu kepada Mefiboset.
Sahabat, bila saat ini situasi kita sulit seperti Mefiboset, jangan pernah merasa hidup kita tidak berharga. Ingat, ada satu Pribadi yang sangat memerhatikan dan mengasihi kita. Di tangan-Nya ada pemulihan, masa depan, pengharapan pasti: Ia adalah Yesus! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!
Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
- Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Pengorbanan Yesus di kayu salib menjadi bukti Ia sangat mengasihi kita; Ialah yang sanggup memulihkan hubungan kita dengan Allah Bapa dan sesama, serta menyembuhkan luka-luka batin kita. (pg).
-
Life is Battlefield
MEDAN PERANG. Sahabat, mungkin kita sering mendengar atau membaca ungkapan dalam bahasa Inggris: Life is a battlefield. Hidup ini adalah sebuah medan peperangan.
Pengalaman hidup kita bercerita bahwa hidup ini sungguh penuh perjuangan. Hampir di semua lini kehidupan kita harus berjuang untuk mencapai keberhasilan. Orang rela belajar berpuluh-puluh tahun untuk bisa menyelesaikan jenjang pendidikan yang kita harapkan. Dalam dunia agraris, jika kita ingin bisa memetik hasil, kita harus menanam terlebih dahulu dan memupuk, mengairi, membersihkan hama, dan lain-lain. Merawat dan menjaga selama jangka waktu tertentu terlebih dahulu. Seringkali di tengah perjuangan itu kita akan menghadapi berbagai hambatan..
Ada berbagai pergumulan yang harus kita hadapi dalam prosesnya dan itu bisa jadi tidak mudah. Kita berperang melawan hawa nafsu, melawan keinginan-keinginan daging yang terus berusaha menguasai dan menyesatkan kita. Kita juga menghadapi peperangan melawan roh-roh jahat di udara.
Sahabat, semua berperang, namun tidak semua bisa keluar menjadi pemenang. Ada banyak orang yang tidak bisa terlepas dari pergumulannya, dari kebiasaan buruknya atau dari berbagai kesesatan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Ada banyak orang yang jatuh bangun, terus berusaha untuk bangkit namun lagi-lagi gagal. Karena itu kita perlu belajar dari orang yang memiliki banyak pengalaman akan keberhasilan. Salah seorang tokoh yang hidupnya penuh dengan kemenangan adalah Daud.
Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Life is Battlefield (Hidup adalah Medan Perang)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 8:1-18. Sahabat, dalam bacaan kita pada hari ini, kita melihat serangkaian kemenangan yang diperoleh Daud dengan gemilang. Daud memukul kalah orang Filistin (Ayat 1), mengalahkan orang Moab (Ayat 2), menundukkan raja Hadadezer raja Zoba di hulu sungai Efrat (Ayat 3), daripadanya menangkap 1.700 tentara berkuda dan 20.000 pasukan berjalan kaki (Ayat 4), menumpas orang Aram yang hendak menolong Hadadezer sejumlah puluhan ribu orang (Ayat 5-6), dan dalam perjalanan pulang ia kembali mengalahkan 18.000 orang Edom di Lembah Asin. (Ayat 13).
Lihatlah serangkaian kemenangan yang diperoleh Daud. Tidak sekalipun disebutkan di sana bahwa ia kalah. Apakah itu karena kehebatan Daud? Apakah ia kita kenal sebagai ahli strategi perang? Apakah karena persenjataan Daud memiliki teknologi muktahir yang jauh di atas musuh-musuhnya? Bukan semua itu yang disebutkan Alkitab sebagai alasannya. Alkitab berkata bahwa kemenangan-kemenangan Daud itu bukan karena kuat dan hebatnya Daud, tetapi karena pemberian Tuhan, “TUHAN memberi kemenangan kepada Daud ke manapun ia pergi berperang.” (Ayat 6-b dan 14-b). Dua kali kalimat tersebut diulangi, menunjukkan penekanan bahwa keberhasilan Daud adalah berkat penyertaan Tuhan dalam setiap peperangan yang ia hadapi.
Bagaimana Daud bisa mendapat penyertaan Tuhan seperti itu yang membuatnya berhasil dalam setiap peperangan? Kita bisa melihat penyebabnya dalam Mazmur 60:1-12. Ayat tersebut menuliskan apa yang dilakukan Daud sebelum ia berperang melawan orang Aram dan Edom seperti yang tertulis pada bacaan kita pada hari ini.
Sahabat, peperangan demi peperangan akan terus kita hadapi. Ada yang mudah tapi banyak pula yang sulit. Setiap saat kegagalan bisa mengintip, setiap saat kita bisa dikalahkan. Tapi Tuhan sudah menjanjikan kemenangan, dan kita bisa melihat kunci untuk memperolehnya melalui apa yang dilakukan oleh Daud. Dia tidak mengandalkan kekuatannya, kehebatannya, ketenarannya, kharismanya, namun ia sepenuhnya mengandalkan Tuhan. Ia merendahkan dirinya secara total karena ia tahu semua itu tidak akan ada gunanya jika tidak memiliki penyertaan Tuhan dalam hidup.
Tuhan ingin kita menyambut-Nya seperti sikap seorang anak kecil. Tuhan ingin kita bergantung sepenuhnya kepada-Nya seperti anak kecil yang mengandalkan orang tuanya. Tuhan ingin kita bersikap polos, jujur apa adanya ketika berhadapan dengan-Nya. Ini semua yang akan membawa kita kepada berbagai kemenangan, bukan kekuatan atau kepintaran dan kehebatan diri kita sendiri atau manusia lainnya. Belajarlah dari Daud agar kita bisa memperoleh hasil gemilang dari setiap peperangan yang kita hadapi. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!
Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
- Apa yang Sahabat pahami dari ayat 6-b dan 14-b?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Peperangan demi peperangan akan terus kita hadapi. Kalau kita ingin menang dalam peperangan, kita harus meminta penyertaan Allah. (pg)
-
Life is Battlefield
MEDAN PERANG. Sahabat, mungkin kita sering mendengar atau membaca ungkapan dalam bahasa Inggris: Life is a battlefield. Hidup ini adalah sebuah medan peperangan.
Pengalaman hidup kita bercerita bahwa hidup ini sungguh penuh perjuangan. Hampir di semua lini kehidupan kita harus berjuang untuk mencapai keberhasilan. Orang rela belajar berpuluh-puluh tahun untuk bisa menyelesaikan jenjang pendidikan yang kita harapkan. Dalam dunia agraris, jika kita ingin bisa memetik hasil, kita harus menanam terlebih dahulu dan memupuk, mengairi, membersihkan hama, dan lain-lain. Merawat dan menjaga selama jangka waktu tertentu terlebih dahulu. Seringkali di tengah perjuangan itu kita akan menghadapi berbagai hambatan..
Ada berbagai pergumulan yang harus kita hadapi dalam prosesnya dan itu bisa jadi tidak mudah. Kita berperang melawan hawa nafsu, melawan keinginan-keinginan daging yang terus berusaha menguasai dan menyesatkan kita. Kita juga menghadapi peperangan melawan roh-roh jahat di udara.
Sahabat, semua berperang, namun tidak semua bisa keluar menjadi pemenang. Ada banyak orang yang tidak bisa terlepas dari pergumulannya, dari kebiasaan buruknya atau dari berbagai kesesatan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Ada banyak orang yang jatuh bangun, terus berusaha untuk bangkit namun lagi-lagi gagal. Karena itu kita perlu belajar dari orang yang memiliki banyak pengalaman akan keberhasilan. Salah seorang tokoh yang hidupnya penuh dengan kemenangan adalah Daud.
Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Life is Battlefield (Hidup adalah Medan Perang)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 8:1-18. Sahabat, dalam bacaan kita pada hari ini, kita melihat serangkaian kemenangan yang diperoleh Daud dengan gemilang. Daud memukul kalah orang Filistin (Ayat 1), mengalahkan orang Moab (Ayat 2), menundukkan raja Hadadezer raja Zoba di hulu sungai Efrat (Ayat 3), daripadanya menangkap 1.700 tentara berkuda dan 20.000 pasukan berjalan kaki (Ayat 4), menumpas orang Aram yang hendak menolong Hadadezer sejumlah puluhan ribu orang (Ayat 5-6), dan dalam perjalanan pulang ia kembali mengalahkan 18.000 orang Edom di Lembah Asin. (Ayat 13).
Lihatlah serangkaian kemenangan yang diperoleh Daud. Tidak sekalipun disebutkan di sana bahwa ia kalah. Apakah itu karena kehebatan Daud? Apakah ia kita kenal sebagai ahli strategi perang? Apakah karena persenjataan Daud memiliki teknologi muktahir yang jauh di atas musuh-musuhnya? Bukan semua itu yang disebutkan Alkitab sebagai alasannya. Alkitab berkata bahwa kemenangan-kemenangan Daud itu bukan karena kuat dan hebatnya Daud, tetapi karena pemberian Tuhan, “TUHAN memberi kemenangan kepada Daud ke manapun ia pergi berperang.” (Ayat 6-b dan 14-b). Dua kali kalimat tersebut diulangi, menunjukkan penekanan bahwa keberhasilan Daud adalah berkat penyertaan Tuhan dalam setiap peperangan yang ia hadapi.
Bagaimana Daud bisa mendapat penyertaan Tuhan seperti itu yang membuatnya berhasil dalam setiap peperangan? Kita bisa melihat penyebabnya dalam Mazmur 60:1-12. Ayat tersebut menuliskan apa yang dilakukan Daud sebelum ia berperang melawan orang Aram dan Edom seperti yang tertulis pada bacaan kita pada hari ini.
Sahabat, peperangan demi peperangan akan terus kita hadapi. Ada yang mudah tapi banyak pula yang sulit. Setiap saat kegagalan bisa mengintip, setiap saat kita bisa dikalahkan. Tapi Tuhan sudah menjanjikan kemenangan, dan kita bisa melihat kunci untuk memperolehnya melalui apa yang dilakukan oleh Daud. Dia tidak mengandalkan kekuatannya, kehebatannya, ketenarannya, kharismanya, namun ia sepenuhnya mengandalkan Tuhan. Ia merendahkan dirinya secara total karena ia tahu semua itu tidak akan ada gunanya jika tidak memiliki penyertaan Tuhan dalam hidup.
Tuhan ingin kita menyambut-Nya seperti sikap seorang anak kecil. Tuhan ingin kita bergantung sepenuhnya kepada-Nya seperti anak kecil yang mengandalkan orang tuanya. Tuhan ingin kita bersikap polos, jujur apa adanya ketika berhadapan dengan-Nya. Ini semua yang akan membawa kita kepada berbagai kemenangan, bukan kekuatan atau kepintaran dan kehebatan diri kita sendiri atau manusia lainnya. Belajarlah dari Daud agar kita bisa memperoleh hasil gemilang dari setiap peperangan yang kita hadapi. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!
Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
- Apa yang Sahabat pahami dari ayat 6-b dan 14-b?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Peperangan demi peperangan akan terus kita hadapi. Kalau kita ingin menang dalam peperangan, kita harus meminta penyertaan Allah. (pg)
-
TERPESONA DENGAN YANG SEMENTARA
Saudaraku, pepatah Jawa mengatakan: Ojo kagetan, ojo gumunan, ojo dumeh (jangan mudah terpesona, jangan mudah kagum dan jangan sombong). Ketiga hal tersebut mengingatkan manusia untuk selalu sadar diri dan rendah hati. Ternyata Yesus pernah secara tidak langsung mengungkapkan hal yang sama. Mari kita merenungkan Markus 13:1-3.
Kemegahan Bait Suci Herodes tidak diragukan. Bangunan itu mulai dibangun tahun 20-19 SM dan menjadi mega proyek Herodes saat itu. Pada zaman Yesus bangunan itu belum selesai, padahal sudah lebih dari satu dasawarsa sejak awal pembangunannya. Semua orang mengagumi Bait Suci itu. Semua yang melihatnya pasti terpesona. Bait Suci Herodes memang canggih dan hebat.
Bayangkan saja, bangunan itu berdiri bukan di lahan yang datar melainkan di atas tembok buatan raksasa yang yang menutupi area puncak Sion. Wow. Sejarahwan Yosefus mengatakan bahwa beberapa batu memiliki Panjang 12 meter, tinggi lebih dari 3,5 meter dan lebarnya hampir 5,5 meter. Batu-batu inilah yang membuat murid-murid Yesus gumun, terpesona.
Bahan penyangga bangunan itu memang luar biasa penampakannya, ditambah dengan kemegahan yang dinampakkan oleh beberapa bagian bangunan yang sudah jadi. Wajar bila para murid terpesona dan mengagumi habis-habisan. Mungkin Yesus juga memiliki pendapat yang sama dengan para murid. Memang bangunan itu hebat.
Namun Yesus tahu benar bahwa apa yang dilihat-Nya bersama para murid saat itu hanyalah sementara. Tidak ada yang abadi. Yesus dengan luar biasa justru memakai bangunan megah itu untuk menjelaskan mega proyek Allah yang akan menghancurkannya hingga bahkan satu batupun tidak akan bertumpuk dengan yang lain. Hancur total. Yesus bukan skeptis ataupun iri hati kepada Herodes. Yesus justru mengingatkan para murid untuk selalu sadar dan tetap berjaga-jaga karena semua hanya sementara (Markus 13:37).
Yesus berhasil mengimbangi kekaguman para murid dan membawa mereka kembali dalam situasi yang lebih netral untuk melihat sebuah kenyataan dan mengajak para murid sedikit ‘mengintip’ situasi zaman akhir yang akan membuat mereka sadar bahwa mereka harus siap dengan segala perubahan yang akan terjadi.
Manusia memang diberi kemampuan lebih oleh Tuhan untuk bisa menghasilkan hal-hal yang mempermudah dan melancarkan kehidupannya. Misalnya saja kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang saat ini sedang dikembangkan maksimal. Manusia terpesona dengan kemampuan AI untuk menjawab semua permasalahan dan mulai bergantung kepadanya.
Namun manusia harus sadar bahwa semua akan segera berubah karena apa yang ada di dunia hanya sementara. Manusia harus terus waspada dan menjaga hubungannya dengan Allah, yang membuatnya terus menyadari kefanaan sehingga belajar bergantung kepada kekekalan Allah. Dengan kesadaran itu, manusia belajar meminimalisir kesombongannya dan hidup dalam takut akan Tuhan.
Sebagaimana Pengamsal mengatakan: “Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan Tuhan dan jauhilah kejahatan. Itulah yang akan memulihkan tubuhmu dan menyembuhkan tulang-tulangmu” (Amsal 3:7-8). Mari belajar untuk selalu waspada dan tidak lekas terpesona dengan apa pun yang dikagumi manusia sehingga ketergantungan kepada kasih karunia Tuhan tetap terjaga. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)
-
Amazed by God
TAKJUB. Sahabat, Liam dan Zoe, cucu kami, mendekati tanaman perdu “Putri Malu” karena bunga indahnya. Keduanya terpekik. Daun-daunnya menguncup saat mereka menyentuhnya. Hal itu terjadi tiap kali mereka menyentuh daun-daun yang lain. Seruan takjub pun tak henti terucap dari mulut mereka.
Rasa takjub menguasai hati saat orang dicengkam kekaguman. Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) saya mendapat informasi bahwa takjub adalah kagum atau heran akan kehebatan, keindahan, keelokan seseorang atau sesuatu.
Rasa takjub adalah anugerah amat berharga. Hal itu membuat Pemazmur berseru, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (Mazmur 19:2). Rasa takjub membuat kita tergetar oleh karya Allah, dan merasakan kasih-Nya. Rasa takjub menolong kita merasakan bahwa dibalik hal yang amat sederhana pun ada tangan Allah yang luar biasa. Rasa takjub menolong kita merasakan kehadiran Allah, dan mensyukurinya.
Rasa takjub, yang menolong kita terhubung dengan Tuhan itu, menolong kita untuk tidak berhenti pada fakta, tetapi merasakan tangan Tuhan di balik fakta itu. Betapa gersang hidup ini jika rasa takjub tak lagi kita miliki. Kita patut mensyukuri rasa takjub itu, bukan merendahkan, apalagi mengingkarinya.Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Amazed by God (Takjub akan Tuhan)” Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 7:18-29 dengan penekanan pada ayat 18-20. Sahabat, Jika melihat hidup kita sekarang ini, apakah yang bisa kita katakan? Apakah kita akan merasa sedih dan kecewa? Apakah kita merasa biasa-biasa saja? Atau seperti Daud? TAKJUB dan heran (Ayat 18-20).
Ketika berdoa, kita sedang berhadapan dan berkomunikasi dengan Dia yang Mahabesar, Mahakuasa, Mahamulia dan Mahakudus. Di hadapan Allah yang seperti itu, betapa kecil dan hinanya manusia. Dalam kesadaran seperti itu, selayaknya kita bersikap seperti Daud dalam doanya kepada Tuhan. Daud sangat hormat, khusyuk, sungguh-sungguh, sopan, tertib, penuh iman, dan taat kepada Tuhan.
Sering kali manusia bersikap tidak pantas di hadapan Allah dan manusia, yaitu menyombongkan diri karena merasa kaya, kuat, pandai, berkedudukan tinggi. Bahkan menyombongkan kerohanian karena merasa telah tekun berbakti kepada Tuhan serta telah berusaha melakukan segala sesuatu berdasarkan firman Tuhan.
Sahabat, Daud sebaliknya. Ia memberikan teladan kerendahan hati. Ia bersikap serendah-rendahnya di hadapan Allah yang Mahatinggi. Ia sadar akan keberadaannya. Daud TAKJUB kepada Allah (Ayat 19-22). Tidak ada yang seperti Allah (Ayat 22). Allah yang juga telah menyelamatkan umat-Nya (Ayat 23). Daud TAKJUB, bersyukur, dan dengan rendah hati berdoa kepada Allah memohon berkat-Nya (Ayat 24-29)
Sikap rendah hati itu tidak hanya ditunjukkan dalam doa saja, tetapi juga dinyatakan dalam seluruh hidup kita. Sikap rendah hati harus mendasari dan mewarnai perilaku kita dalam hidup sehari-hari, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama, siapa pun dia dan apa pun latar belakang hidupnya.
Ada pepatah yang mengatakan: “Kerendahan hati adalah kekuatan singa yang diwujudkan dalam lembutnya burung dara”. Marilah kita selalu berusaha bersikap rendah hati, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama. Jauhkanlah diri kita dari sikap dan perilaku sombong yang selalu meninggikan diri sendiri di hadapan orang lain, terlebih di hadapan Tuhan. Tetaplah rendah hati dan berbuat yang terbaik dalam hidup ini dan bagi kehidupan ini.Sahabat, semoga kita, khususnya para Sahabat yang saat ini sudah berusia 60 tahun ke atas, yang sudah memasuki masa emeritus atau pensiun atau purna tugas, merasa TAKJUB dan bersyukur akan karya Tuhan dalam hidup kita beserta keluarga. Kita begitu TAKJUB, heran bahkan merasa begitu besar kasih Tuhan kepada kita dan keluarga. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!
Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah bebeberpa pertanyaan berikut ini:
- Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
- Apa yang Sahabat pahami dari ayat 18-19?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Rasa takjub menolong kita untuk tidak berhenti pada fakta, tetapi merasakan tangan Sang Cinta dibalik fakta itu (O.S. Raille). (pg).



