Author: Christopherus

  • TANPA PEDANG

    Saudaraku, Injil Yohanes selalu menceritakan kisah yang berbeda dengan Injil yang lain.  ini adalah salah satu penggalan peristiwa yang dituliskan secara istimewa oleh Yohanes, sebuah penggalan kisah yang membuka fakta menarik tentang gaya pelayanan Yesus.  Mari renungkan Yohanes 10:40-42

    Yesus selalu enggan secara langsung berkonfrontasi dengan orang-orang yang tidak setuju dengannya. Alkitab beberapa kali mencatat Dia menghindar kala orang mulai emosi saat mendengar penjelasan-Nya.  

    Ia tidak butuh pengakuan massa untuk kebenaran yang dikatakan-Nya apalagi sampai ia terlibat dalam pertikaian fisik.  Selebar-lebarnya perbedaan pendapat, Yesus menghindari kekerasan untuk membuktikan kebenaran perkataan-Nya.  Ia konsisten memegang prinsip: Orang yang menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang (Matius 26:52). 

     Itulah sebabnya saat terjadi keributan di serambi Salomo sebagaimana dikisahkan dalam Yohanes 10, Yesus pergi meninggalkan Bait Suci.  Ia menepi ke Yordan, tempat dimana ia dibaptiskan oleh Yohanes dan tinggal di sana beberapa hari.  Ia tak bersembunyi karena identitasnya diketahui oleh orang-orang di seberang Yordan.  Ia menepi dari keramaian, menjauh dari kemarahan massa yang menuduhnya sebagai penista agama.   Perjuangan Yesus BUKAN DENGAN JALAN PEDANG  dan ia tidak memperlengkapi pengikutnya dengan PEDANG.  

    Pada zaman ini ‘pedang’ terlalu banyak dipakai untuk memperjuangkan apa yang disebut dengan kebenaran sehingga melukai banyak orang dan meninggalkan bekas yang sulit disembuhkan.  Orang yang merasa dirinya benar berkonfrontasi dengan terbuka, mengunggah di media sosial, melabrak orang yang dianggapnya bersalah di depan banyak orang.  Tujuannya hanya satu yaitu pengakuan dari orang lain atau pembelaan netizen (bila ia mengunggahnya di media sosial).  Orang itu tak menyadari bahwa perbuatannya membawa dampak sosial yang luar biasa karena jejak digital tak akan pernah hilang.

    Saat Yesus menepi di Yordan, Yesus tidak istirahat karena justru banyak orang dari seberang yang percaya kepada-Nya.  Mereka melihat fakta bahwa Yesus sesuai dengan apa yang dinubuatkan oleh Yohanes.  Mungkin mereka mendengar sepak terjang Yesus dan mengikuti jejak pelayanan-Nya dan membuktikan kebenaran sehingga mereka percaya kepada Yesus.  

    Ironi bukan? Di pusat kesucian seperti Bait Allah, Yesus ditolak namun Dia diterima oleh orang yang berada jauh dari pusat kesucian.  Yohanes menuliskan fakta ironi bahwa Allah menyatakan kebenaran kepada orang-orang yang tidak diprioritaskan sebagaimana perkataan Yesus: Yang terdahulu akan menjadi terkemudian (Matius 19:30).

    Kebenaran seringkali memilih JALAN SENYAP  untuk memunculkan diri.  Perjuangan kebenaran itu perlu namun jalan kekerasan tak pernah ditorehkan oleh Yesus dalam menyampaikan Kabar Baik.  Selalu ada orang yang akan menerima kebenaran walau mereka bukan yang diharapkan untuk menerimanya.  Siapa pun mereka yang MENERIMA KEBENARAN,  akan menemukan SANG KEBENARAN.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • Respect GOD

    MENGHORMATI ALLAH. Sahabat, Wahyu 4:10–11 menggambarkan sebuah adegan di surga: “Maka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Dan mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu, sambil berkata: ‘Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.’” 

    Kata yang diterjemahkan sebagai “puji-pujian” dan “hormat” kerapkali sering berhubungan dan digunakan secara bergantian di dalam Alkitab. Akan tetapi ada perbedaan tipis di antara keduanya. Kata yang seringkali diterjemahkan sebagai “terpuji” berarti “sesuatu yang memiliki nilai yang melekat dan pada hakikatnya”, sedangkan “hormat” berarti “nilai yang dipersepsikan; membuat atau menilainya sebagai mulia.”

    Terpuji adalah kualitas yang melekat kepada sosok yang dipermuliakan. Terpuji dapat diartikan sebagai cermin yang memantulkan sesuatu secara benar. Ketika kita dengan akurat mencerminkan karakter Allah, kita memuliakan atau memuji Dia. Memuji Allah adalah menghormati Dia sebagaimana ada-Nya.

    Alkitab menunjukkan berbagai cara menghormati dan memuliakan Allah. Kita mengindahkan-Nya dan mencerminkan karakter-Nya dengan bersuci diri secara seksual (1 Korintus 6:18-20), dengan berbagi dari pendapatan kita (Amsal 3:9), dan dengan cara hidup yang berabdi kepada-Nya (Roma 14:8). 

    Tidaklah cukup hanya menghormati Dia dengan cara yang terlihat. Allah menghendaki hormat yang berasal dari hati (Yesaya 29:13). Ketika kita bersuka cita kepada Tuhan (Mazmur 37:4), mencari-Nya di dalam segala yang kita lakukan (1 Tawarikh 16:11; Yesaya 55:6), dan membuat pilihan yang mencerminkan posisi-Nya di dalam hati kita, kita sedang menghormati-Nya.

    Pada hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Maleakhi dengan topik: “Respect God (Menghormati Allah)”. Bacaan Sabda diambil dari Maleakhi 3:13-18. Sahabat, pada masa Maleakhi, bangsa Israel mengalami kebingungan. Sepertinya, mereka menilai tidak ada perbedaan antara orang benar dan fasik. Antara orang beribadah dan yang tidak beribadah kepada Tuhan, nyaris sama saja. Apa respons Allah mendengar ucapan mereka? “Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah… Bicaramu kurang ajar tentang Aku, …” (Ayat 13).

    Kenyataannya, kita memang menjumpai banyak orang fasik hidup berlimpah dan mujur ketimbang anak-anak Tuhan. Kita melihat koruptor maju terus, sementara orang yang melaporkan korupsi malah dipenjarakan. Banyak yang mulai merasa tidak ada gunanya hidup menjadi orang jujur di hadapan sesama. Akibatnya, cukup banyak orang percaya berpikiran sama seperti bangsa Israel. Tuhan merespons keras perkataan mereka yang kurang ajar. Alasannya, perbedaan yang diinginkan oleh bangsa Israel dengan bangsa-bangsa lain yang tidak beribadah kepada-Nya semata-mata pada persoalan jasmaniah.

    Tanggapan Maleakhi mulai dengan melaporkan perkataan orang-orang yang takut akan Allah (Ayat 16-18). Mereka saling menguatkan. Mereka mengingatkan bahwa Tuhan pasti mengingat dan memerhatikan bangsa (manusia) yang takut dan menghormati-Nya. Perkataan itu diteguhkan dengan firman dari Allah sendiri. Mereka yang menghormati Allah merupakan pewaris sejati identitas Israel sebagai milik kesayangan-Nya (bdk. Keluaran 19:5).

    Jadi, yang membedakan orang benar dan orang fasik ialah soal menjadi milik Allah. Itulah keuntungan menaati Allah. Jika di luar itu, kita pasti akan kecewa, seperti Israel pada masa itu. Akan tetapi, jika Allah yang dicari, perhatian dan kasih yang dicurahkan-Nya sudah cukup bagi kita.

    Sahabat, mari kita berdoa:  Ya Tuhan, berikanlah kami kebesaran hati untuk menerima kenyataan bahwa di sekeliling kami ada manusia yang hidup dengan tidak jujur. Bahkan, mereka tidak menghormati Tuhan sebagai pemilik kehidupan. Teguhkanlah hati kami untuk selalu setia dan menghormati-Mu sampai kami dapat berbuah seperti yang Tuhan kehendaki. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 17 dan 18?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Marilah kita terus berjuang dan berusaha untuk melakukan ibadah yang benar di hadapan TUHAN agar kita memperoleh berkat-Nya yang berkelimpahan. (pg).

  • The Ability to be Responsible of Our Life

    MENYALAHKAN TUHAN. Sahabat, menyalahkan Tuhan merupakan respons umum ketika hidup tidak berjalan sesuai keinginan kita. Pikir mereka Tuhan mampu mengendalikan segalanya, maka menurut pemikiran tersebut, Dia bisa saja menghentikan apa yang terjadi. Dia bisa saja mengubah situasi demi keuntungan kita; Dia bisa menghindarkan bencana itu. Karena Dia tidak melakukannya, Dialah yang harus disalahkan.

    Kata menyalahkan berarti “mencari-cari kesalahan.” Menyalahkan lebih dari sekadar mengakui kedaulatan Tuhan. Menyalahkan Tuhan menyiratkan bahwa Dia telah melakukan kesalahan, bahwa ada kesalahan yang ditemukan pada diri-Nya. Ketika kita menyalahkan Tuhan, kita menjadikan diri kita sendiri sebagai hakim dan juri-Nya. 

    Sesungguhnya kita sebagai manusia biasa tidak mempunyai hak untuk menghakimi Yang Mahakuasa. Kita adalah ciptaan-Nya; Dia bukan milik kita. Mari kita simak Yesaya 45:9-10: “Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuknya; dia tidak lain dari beling periuk saja! Adakah tanah liat berkata kepada pembentuknya: ‘Apakah yang kaubuat?’ atau yang telah dibuatnya: ‘Engkau tidak punya tangan!’ Celakalah orang yang berkata kepada ayahnya: ‘Apakah yang kauperanakkan?’ dan kepada ibunya: ‘Apakah yang kaulahirkan?’”

    Sahabat, daripada menyalahkan Tuhan, orang percaya bisa berlari kepada-Nya untuk mencari penghiburan (Amsal 18:10; Mazmur 34:18). Orang percaya mempunyai janji yang tidak dapat diterima oleh dunia yang tidak percaya. Rasul Paulus dalam Roma 8:28 menyatakan:  “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” 


    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Maleakhi dengan topik: “The Ability to be Responsible  of our Life (Kemampuan untuk Bertanggung Jawab atas Hidup Kita)”. Bacaan Sabda diambil dari Maleakhi 2:17-3:5. Sahabat, sifat manusia pada umumnya  memang mudah untuk menyalahkan orang lain. Kita tentu ingat saat Adam jatuh ke dalam dosa. Ketika dihakimi Allah; Adam malah menyalahkan Hawa. Waktu Allah bertanya, Hawa menyalahkan iblis. Manusia senang menganggap diri benar sembari menyalahkan orang lain. Bahkan, saat menghadapi masalah besar, kita mungkin dengan lancang menyalahkan Allah. Kita berani menuding-Nya tidak mengasihi, tidak adil, tidak menepati janji, dan sebagainya.

    Tampaknya, ada anggapan yang keliru dalam benak orang Israel tentang Allah. Mereka berpikir: Ia berkenan kepada orang jahat (Ayat 17). Akibatnya, mereka cemburu melihat orang yang hidupnya jahat, tetapi hidup dengan nyaman. Sedangkan  mereka sendiri, sekalipun sudah merasa hidup baik, tetap menderita. Oleh karena itu, mereka mempertanyakan keadilan Allah itu. Mereka bertanya sinis: “Di manakah Allah yang dianggap adil itu?” (Ayat 17).

    Menanggapi itu, Maleakhi tidak menghibur mereka. Sebaliknya, ia malah menegur dengan kecaman keras. Hidup kerohanian bangsa Israel sedang merosot. Itu disebabkan ulah para pemimpin yang tidak bertanggung jawab.

    Namun, inilah kondisi manusia yang berdosa. Sebenarnya, mereka sadar telah melakukan kesalahan dan melanggar hukum. Namun, mereka tetap berkelit dan tidak mau dipersalahkan. Mereka merasa perbuatan mereka benar, sedangkan tindakan Allah salah.

    Sahabat, ketika mendung merundung hidup, kita mungkin masih sering mengeluh kepada Allah. Sebenarnya, mengeluh itu seperti seorang anak yang mengadu kepada ayahnya, asalkan tidak dilakukan dengan berlebihan, boleh-boleh saja. 

    Sesungguhnya penderitaan itu diperlukan untuk menempa iman. Kita perlu menyadari hal itu, sehingga hidup kita tidak lagi hanya untuk menyalahkan keadaan dan mencari pembenaran. Apalagi, jika kita lancang menyalahkan Tuhan. Semoga kita dimampukan oleh Tuhan untuk mempertanggungjawabkan hidup kita, tanpa mempersalahkan keadaan, orang lain, apalagi Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang menyalahkan Tuhan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Orang yang rendah hati tidak mudah menghakimi, tetapi mudah mengakui kesalahan diri.

  • KENANGAN INDAH

    Saudaraku, saat ini umurku  65 tahun.  Ketika aku  membaca Mazmur 37:25-26: “Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti; … dan anak cucunya menjadi berkat”, tiba-tiba aku sadar bahwa dahulu aku pernah menjadi orang muda, dan kini memang menjadi orang tua. Syukur banyak kenangan indah di masa lalu yang tidak hilang, akibat pikun ataupun kena alzheimer, jadi bisa aku ceriterakan kenangan-kenangan indah kepada anak dan keluarga lain, serta pembaca “Sejenak Merenung”.

    Salah satu yang aku ingat saat lewat jalan Pandanaran (Jendral A, Yani),  di seberang Timlo Solo, ada rumah warna hijau cokelat dan aku saat SD-SMP sering diajak Mama ke situ. Itulah rumah Tante Non (Djwa Non Nio atau Ruth Irawati), yang ahli menjahit. Sering Mama membuat baju di situ karena Tante Non bisa menjahit baju dengan pas untuk Mama yang ada sedikit kelainan di bagian punggung, jadi baju bagian belakangnya bisa rata.

    Mama memang ada kena gejala sakit jantung, susah tidur, banyak makan obat, dan terutama sejak adiknya yang di Kudus meninggal dunia karena kecelakaan, sering waktu malam seakan-akan ada penampakan yang datang, menakutkan, hingga jarang bisa tidur lagi. 

    Sekitar tahun 1974, Mama mengajak aku ke rumah Tante Non. Kebetulan Kong Gombak sedang menginap di rumah Tante Non. Aku ingat Kong Gombak pakai baju putih, berjalan dengan tongkat, memakai cincin coklat di jarinya. Ternyata Kong Gombak adalah perintis dan Gembala Jemaat GKMI Jepara.

    Mama diminta duduk di kursi. Kong Gombak membacakan ayat Alkitab dan  menyampaikan renungan singkat, lalu berdoa.  Ada beberapa orang saudara  yang ikut mendukung doa. Doanya cukup panjang, aku buka mata dikit-dikit untuk ngintip: Kepala Mama dipegang Kong Gombak, saat menyebut “Dalam Nama Yesus!” aku lihat kepala dan tubuh Mama bergetar hebat. Entah berapa menit doanya, ketika “Amin” Mama menangis lalu dipeluk Tante Non. Berkat Tuhan turun, setelahnya Mama bisa tidur tenang, penampakan-penampakan hilang, dan jantung Mama semakin membaik.

    Di rumah Tante Non, aku mengenal keponakan-keponakannya yang  tinggal di situ, yakni Om Yesaya Abdi Djajadihardja (Djwa Tiong Hauw) yang menjadi Pendeta di GKMI. Adiknya, yakni Ev. Esther K. Djajadihardja, menjadi hamba Tuhan. Kemudian ada adiknya lagi Dr Lydia Djajadihardja SpOG (Obgyn). Terakhir menjadi dokter di RS Mitra Keluarga Bekasi. Ketika dikabarkan sakit. Mama dan aku sempat menengok ke rumahnya di Kemang Pratama, masih nampak sehat saja. Juga adiknya lagi Ev. Hanna P. Djajadihardja, alumni SAAT Malang, skripsinya pada tahun 1982 berjudul “Hidup Membujang”. Adik yang paling kecil yakni M. Ratna Djajadihardja, kuliah di FE Satya Wacana Salatiga. 

    Saudaraku, aku ingat benar,  23 Maret 1982 aku bertemu Ci Ratna di toko buku di jalan Gajah Mada Semarang, dia sedang mencari beberapa buku ekonomi dan manajemen untuk bahan skripsi, tidak ada di toko buku itu, namun aku memilikinya. Lalu aku tawarkan beberapa buku untuk dipinjamnya, dan dua hari kemudian aku ke rumah Tante Non di Pandanaran. Ci Ratna melihat-lihat beberapa buku yang aku bawa, bertanya isinya apa saja, dan aku bisa menjawabnya dengan lancar. Dia mencatat beberapa bagian dari buku.

    Lalu dia menatapku tajam, dia bertanya: “Sur, kamu hafal dan tahu semua buku manajemen ini, bagus itu. Tapi apakah buku-buku ini sudah kamu terapkan di gereja, digunakan untuk pelayanan gereja?” Aku kaget, lho apa hubungan buku ekonomi dan manajemen dengan pelayanan di gereja, karena aku menjadi guru Sekolah Minggu beberapa tahun dan tidak pernah cerita tentang manajemen kepada murid-murid SM. “Gini lho, gereja banyak tidak tahu tentang bagaimana manajemen yang benar, banyak yang hanya ditentukan perorangan atau pendetanya. Kadang cocok dengan majelis, kalau tidak cocok dan masing-masing pegang cara-cara sendiri-sendiri, ya gereja gampang ribut.”

    Mungkin saat itu aku hanya melongo, tapi dalam perjalanan pulang ada suara yang mengingatkan betapa bodohnya aku, hanya tahu teori buku, tapi tidak tahu penerapannya, apalagi digunakan gereja. Malamnya aku merenung dan berdoa panjang, sempat menangis, minta Tuhan menolong. 

    Saudaraku, Tuhan memberikan gambaran kira-kira bagaimana, aku ambil pensil dan coret-coret di kertas bikin draf. Sekitar tiga hari kemudian aku ke pastori Pdt Andreas Hadi Simeon, Gembala Sidang GKI Stadion. Aku ceritakan pengalamanku bertemu Ci Ratna dan kira-kira apa yang bisa diterapkan di gereja. Pdt Simeon tersenyum: “Ini yang saya tunggu-tunggu.” Singkat cerita, setelah itu Pdt Simeon mengoreksi beberapa kali draf manajemen yang aku sampaikan. Bertepatan dengan  hari Kenaikan Tuhan Yesus 20 Mei 1982 aku diminta Pdt Simeon memberikan ceramah tentang manajemen bagi gereja di acara pembinaan pengurus di Bandungan. 

    Pengalaman itu membekas sekali bagiku, dan ketika pindah ke Jakarta tahun 1983 aku menyampaikan hal-hal manajemen ke Gembala dan Ketua Majelis GKJMB (Gereja Kristus Jemaat Mangga Besar), berganti menjadi Sinode Gereja Kristus Yesus (GKY) di tahun 2002. Sejak tahun 1985 hingga hari ini para Penatua GKY memasukkan aku sebagai anggota Tim Tata Gereja, sudah hampir 40 tahun silam.

    Saudaraku, Itulah KENANGAN INDAH  masa mudaku tentang keluarga Djajadihardja. Aku berharap Tuhan menggenapkan ayat-ayat di Mazmur 37:25-26 kepada keluarga ini, dan kesaksian hidup mereka boleh menjadi teladan dan berkat bagi gereja-gereja Tuhan. (Surhert).

  • MUSIK DALAM KITAB KEJADIAN

    Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkan ayat berikut: “Nama adiknya ialah Yubal; dialah yang menjadi bapa semua orang yang memainkan kecapi dan suling.” (Kejadian 4:21)

    Joshua adalah seorang anak laki-laki yang tinggal di sebuah desa kecil. Sejak kecil, ia selalu merasa tertarik pada suara-suara di sekitarnya: Kicauan burung, aliran sungai, dan bunyi angin yang meniup dedaunan. Suatu hari saat bermain di hutan, Joshua menemukan sebatang kayu yang berlubang. 

    Dengan penasaran, ia meniup lubang itu dan terkejut mendengar suara yang dihasilkannya. Suara itu sederhana, namun begitu menyentuh hatinya. Joshua pun mulai bermain dengan kayu itu setiap hari, mencoba menciptakan berbagai nada. 

    Seiring waktu, ia belajar membuat alat musik sederhana dari bahan-bahan alami yang ia temukan di sekitarnya. Tanpa disadari, Joshua telah menemukan karunia musik yang Tuhan berikan kepadanya. Ketika ia memainkan musik di desanya, banyak orang merasakan sukacita dan damai yang disebarkan melalui nada-nada indah itu. 

    Cerita Joshua mencerminkan apa yang dilakukan Yubal dalam Kitab Kejadian. Yubal adalah pelopor, seorang inovator yang menemukan dan mengembangkan alat musik pertama. Dari sini, kita belajar bahwa Tuhan memberikan kepada manusia karunia untuk menciptakan dan mengekspresikan diri melalui musik. 

    Yubal menunjukkan bahwa musik adalah bagian integral dari kehidupan manusia sejak awal penciptaan. Musik tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga alat komunikasi dan ekspresi yang kuat. Melalui musik, kita dapat menyampaikan perasaan terdalam kita, memuji Tuhan, dan menjalin hubungan yang lebih dalam dengan sesama.

    Refleksi :

    Saudaraku, sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menggali dan menggunakan karunia-karunia yang Tuhan berikan kepada kita, termasuk karunia musik. Seperti Joshua yang menemukan kebahagiaan dalam menciptakan musik dari kayu sederhana, kita juga dapat menemukan dan mengembangkan karunia kita dengan cara-cara yang mungkin tidak terduga. Musik bisa menjadi sarana untuk menyembuhkan, mempersatukan, dan memuliakan Tuhan.

    Marilah kita menggunakan karunia musik untuk membawa damai, sukacita, dan harapan dalam kehidupan kita dan orang-orang di sekitar kita. Mari kita mengingat bahwa setiap nada yang kita mainkan atau nyanyikan bisa menjadi persembahan yang harum di hadapan Tuhan, seperti yang ditunjukkan oleh Yubal, bapak semua orang yang memainkan kecapi dan suling. Amin, Tuhan Yesus memberkati. (Inthan)

    Pesan:

    Bagi Bapak, Ibu, kakak, adik, dan anak-anak yang ingin belajar musik dan vokal, silakan bergabung dengan Sekolah Musik Christopherus. Hubungi HP.: 081292081227.