Author: Christopherus

  • SEANDAINYA MENJADI ORANG YAHUDI

    Membaca Injil Yohanes pasal 1 hingga pasal 12, tiba-tiba aku disadarkan adanya banyak penolakan kehadiran Yesus di tengah orang-orang Yahudi.

    Sejak pemulangan gelombang pertama orang Yahudi dari pembuangan di Babel pada zaman Raja Koresh tahun 537 SM, dan hingga hampir 400 tahun sesudahnya, tanah Israel dikuasai oleh Kerajaan Babel, Persia, dan Yunani. Penguasaan atau penjajahan ini bukan hanya dalam bentuk fisik, tapi juga menyebabkan pengaruh kebudayaan penjajah berkembang terutama karena adanya perkawinan campuran. Masa-masa ini sering disebut sebagai Zaman Gelap bagi orang Yahudi karena tidak ada nabi-nabi yang menyuarakan Firman Tuhan.

    Bayangkan orang Yahudi yang dulu-dulunya punya raja-raja legendaris seperti Daud dan Salomo, kemudian Kerajaan Israel pecah menjadi dua, akhirnya hancur dan orang Yahudi diangkut ke Babel sebagai tawanan perang, pasti tidak ada harapan bagi orang Yahudi untuk mendirikan Kerajaan lagi.

    Sangat menakjubkan, tiba-tiba ada Yohanes yang menyerukan Firman Tuhan dan membaptis di Sungai Yordan, dan Yohanes sendiri tidak mau menyebut dirinya sebagai nabi atau bahkan sebagai Mesias, tetapi dia menyerukan “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu” (Markus 1:4). Siapakah Yohanes ini, kok tiba-tiba muncul setelah lebih dari 400 tahun tidak ada Firman Tuhan di Israel? Saat Yohanes membaptis Yesus dan melihat adanya Roh Kudus turun, Yohanes menyuruh seorang muridnya yang bernama Andreas, yang kemudian mengajak Simon saudaranya, untuk mengikut Yesus.

    Saudaraku, Yesus dengan dengan dua murid pertama bertemu dengan Filipus, dan Yesus berkata kepada Filipus: “Ikutlah Aku!”  (Yohanes 1:43). Nah ini kok tiba-tiba Filipus mau mengikut Yesus, menjadi murid yang ketiga, bahkan Filipus kemudian mengajak Natanael untuk datang ke Yesus. Menariknya Natanael saat menjumpai Yesus berkata: “Mungkinkah ada sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (Yohanes 1:46) dan Yesus segera menjawabnya:  “Lihat, inilah seorang seorang Israel yang sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” (Yohanes 1:47). Memang Natanael sebagai orang Yahudi mengharapkan adanya Mesias yang akan datang membebaskan Israel, dan berasal dari Bethlehem, kota kelahiran Raja Daud.

    Kata Natanael kepada Yesus:  “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya: “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.”  (Yohanes 1:47-48). Mendengar jawab Yesus, percayalah Natanael kepada Yesus yang dianggapnya sebagai nabi karena bisa menerawang jauh melihat dirinya yang sedang duduk di bawah pohon merenungi nasib orang Israel.

    Kita membaca ayat-ayat selanjutnya di kitab Yohanes, sering mendapatkan ketidakpercayaan orang-orang Yahudi kepada Yesus. Setelah mukjizat air menjadi anggur di Kana, ternyata tidak dicatat adanya orang-orang Yahudi yang merubung atau mengerumuni Yesus menanyakan bagaimana cara mengubah air jadi anggur. Ketika Yesus pertama kali ke Bait Allah di Yerusalem dan mengobrak-abrik mengusir pedagang-pedagang yang membuat gaduh Bait Suci, mulailah orang Yahudi mempertanyakan Yesus kok berani-beraninya melakukan tindakan seperti tersebut.

    Memang kemudian ada seorang Farisi bernama Nikodemus yang datang di malam hari menemui Yesus. Dia mendapatkan pencerahan langsung dari Yesus, dan pernah mencoba membela Yesus (Yohanes 7:50), namun kemudian tidak kedengaran lagi eksistensinya, hingga dicatat Nikodemus turut menguburkan Yesus (Yohanes 19:39).

    Namun hampir sehari-harinya kehadiran Yesus sering dipertanyakan oleh orang-orang Yahudi. Bahkan di Yohanes  10: 1-21 Yesus dengan baik-baik menyebut diri-Nya sebagai gembala yang baik, tapi di ayat  22-42 kita membaca orang-orang Yahudi mempertanyakan siapa Yesus sebenarnya, dan bahkan di ayat 31 orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Lho kok begitu? Sebelumnya mengajarkan yang baik-baik, dan selanjutnya malahan dilempari batu. 

    Saudaraku, semakin kita membaca Yohanes pasal 1-12 semakin mengetahui bahwa orang Yahudi berulangkali mempertentangkan kehadiran Yesus, itu sebagai nabi atau rabi (guru) atau orang yang sering membuat mukjizat atau Mesias yang akan membebaskan dari penjajahan Romawi, atau sebagai siapa yang mengaku-ngaku mengenal Abraham:  “Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?” (Yohanes 8:57).

    Hingga hari ini ternyata masih banyak juga orang yang tidak mengerti arti kehadiran Yesus. Kita sering bertemu dengan orang-orang yang menganggap semua agama itu baik, semua agama itu sama saja, yang penting mesti hidup baik agar mendapatkan karma yang lebih baik. 

    Bahkan aku pernah bertemu seorang sepuh yang menegurku: “Mengapa justru percaya kepada Yesus yang orang Yahudi, bukan percaya kepada ajaran leluhur yang sama-sama mengajarkan kebaikan?

    Balajar dari kitab Yohanes jelaslah bahwa manusia sebenarnya tidak dapat mengenal siapa Yesus, karena mata kita semua tertuju pada hal-hal duniawi. Tapi kita membaca di Yohanes 1, ada Yohanes yang melihat Roh Kudus turun ke atas Yesus saat dibaptis, mata hatinya dicerahkan, dan kemudian dia menyuruh seorang muridnya, Andreas, untuk meninggalkannya dan mengikut Yesus, Andreas ini kemudian mengajak Petrus, Filipus dan Natanael mengikut Yesus.

    Saudaraku, apakah mata hati kita benar-benar sudah mendapatkan pencerahan dari Roh Kudus sehingga kita dapat mengetahui SIAPAKAH YESUS ITU?, dan akhirnya kita mengerti penebusan Yesus bagi dosa-dosa kita? (Surhert).

  • Self and Worship Introspection

    PENGANTAR KITAB MALEAKHI. Sahabat, dari Maleakhit 1:1 kita mendapat  info bahwa Maleakhi sebagai penulis kitab ini. Kitab Maleakhi dituliskan dalam kurun waktu antara tahun 440- 400 SM. Allah melalui Maleakhi menyerukan bangsa Israel untuk berpaling kembali kepada-Nya.

    Di saat kitab terakhir masa Perjanjian Lama ditutup, pernyataan mengenai keadilan Allah dan janji pemulihan-Nya melalui kedatangan Mesias menggema di hati bangsa Israel. Ada jeda empat ratus tahun di mana Allah tidak bersuara lagi, sampai nabi Allah yang berikutnya, yakni Yohanes Pembaptis, yang berseru: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Matius 3:2).

    Sahabat, Maleakhi menuliskan firman Tuhan kepada umat pilihan Allah yang sudah menyimpang, terutama kepada para imam yang menyimpang dari jalan Tuhan. Para imam tidak memperlakukan dengan benar kurban yang mereka persembahkan kepada Allah. Hewan kurban yang cacat pun ikut disembelih, walaupun hukum telah menyatakan hewan kurban tidak boleh bercacat (Ulangan 15:21).

    Kaum laki-laki Yudea tidak memperlakukan istri mereka dengan baik. Tapi, mereka masih tidak mengerti mengapa Allah tidak berkenan atas kurban yang mereka persembahkan. Bangsa Israel juga tidak memberikan persepuluhan sebagaimana seharusnya (Imamat 27:30, 32).

    Terlepas dari segala dosa dan pembangkangan yang terjadi, Maleakhi mengulangi pesan mengenai kasih Allah kepada umat-Nya (Maleakhi 1:1-5) dan janji-Nya akan kedatangan utusan-Nya kelak (Maleakhi 2:17-3:5). Ia akan kembali dan menjadi hakim. Jika kita kembali kepada-Nya, maka Dia akan kembali pada kita (Maleakhi 3:6).

    Hari ini kita mulai belajar dari kitab Maleakhi dengan topik: “Self and Worship Introspection (Memeriksa Diri dan Ibadah Kita)”. Bacaan Sabda diambil dari Maleakhi 1:6-14. Sahabat, pernahkah kamu menerima keluhan dari seseorang? Apa yang kamu lakukan saat itu? Biasanya kita akan meminta maaf terlebih dahulu. Kemudian, kita akan menganalisis mengapa terjadi ketidakpuasan tersebut. Selanjutnya, tentu saja kita akan memperbaikinya agar tidak terulang di kemudian hari.

    Dalam bacaan kita pada hari ini, kita melihat bahwa Allah mengajukan beberapa pertanyaan yang mengandung keluhan terhadap para imam. Mereka yang seharusnya menghormati kekudusan Allah, malah berlaku sebaliknya dan tidak takut kepada-Nya. Padahal, semestinya mereka menghormati Allah selayaknya seorang anak kepada bapaknya atau hamba kepada tuannya (Ayat 6). 

    Sahabat, para imam telah menghina nama Allah. Penghinaan itu dilakukan dengan membawa persembahan yang tidak layak, seperti roti yang cemar (Ayat 7) dan hewan kurban yang cacat (Ayat 8). Bahkan, seorang bupati pun tidak mau menerima persembahan tersebut.

    Oleh karena itu, Allah berkata lebih baik rumah Tuhan ditutup saja. Alasannya, sekalipun mereka datang beribadah dan mempersembahkan kurban, Allah tidak menyukainya (Ayat 10). Bangsa-bangsa lain begitu menghormati Tuhan, tetapi Israel, umat pilihan Allah, justru meremehkan-Nya (Ayat 11-13).

    Jika begini, mungkin saja Allah pun sedang mengeluhkan ritual ibadah kita. Sudahkah kita memeriksa diri dengan baik? Apakah kita sudah mengerjakan tugas  pelayanan dengan sepenuh hati sebaik-baiknya? Sebagai seorang pelayan Tuhan, sudahkah kita mempersiapkan khotbah dengan baik? Sudahkah permainan musik kita baik? Apakah kita sudah menata ruang ibadah dan segala perlengkapannya dengan rapi? Ketika datang beribadah, sudahkah hati, pikiran, dan sikap tubuh kita sungguh terarah hanya kepada-Nya?

    Sahabat, mari kita MEMERIKSA DIRI  dan IBADAH kita. Apakah pelayanan yang kita berikan sungguh berkenan di hadapan Tuhan? Sudahkah  semua itu kita persiapkan dengan baik? Sudahkah kita memberikan yang terbaik bagi Tuhan? Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawabalah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 11?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dari terbit matahari sampai pada masuknya, biarlah nama Tuhan dipuji! (pg)

  • HARAPAN DALAM KEMALANGAN

    Saudaraku, manusia cenderung menolak hal-hal yang buruk dan menganggapnya sebagai hukuman bila ia mengalaminya.  Rasa trauma ini membuat manusia juga menilai kondisi sesamanya saat mereka dalam masa sulit dan bahkan tak jarang memberikan vonis kepada yang mengalami kemalangan.  Mari merenungkan Yohanes 9:1-3 untuk melihat sikap unik Yesus kepada mereka yang tertimpa kemalangan.

    Menyandang disabilitas dianggap sebuah kemalangan.  Pada zaman Yesus menjadi seorang difabel memiliki beban yang bertumpuk.  Ia dianggap sebagai seorang yang tidak diberkati karena ia tidak bisa beribadah di Bait Suci dan dianggap menanggung akibat dosa yang dilakukannya atau dilakukan orangtuanya.  Penyandang disabilitas akan dilarang untuk dapat mengunjungi Bait Suci sehingga mereka terdiskriminasi.  

    Mereka menderita lahir dan batin.  Sang difabel yang dituliskan dalam Yohanes 9:1-7 agaknya berada dalam lingkungan Bait Allah dan meminta-minta di sana.  Ia berada begitu dekat dengan rumah Allah namun seakan ia tidak layak menerima berkat karena disabilitas yang disandangnya.  Ia tunanetra sehingga bahkan ia tak bisa melihat Bait Suci sejak lahirnya.  

    Padahal bagi orang Israel, melihat Bait Suci adalah berkat yang luar biasa.  Maka para murid menanyakan hal yang sangat krusial kepada Yesus: Siapa yang melakukan dosa sehingga orang ini mengalami kemalangan seumur hidupnya?   Jawaban Yesus memberikan pembelajaran kepada para murid bahwa :

    1. Kemalangan bukan vonis akhir manusia.

    Penderitaan adalah realitas manusia dan setiap manusia tidak menginginkan untuk berada di dalamnya namun manusia harus siap menghadapi kemalangan saat ia tiba.  Pertanyaan para murid tentang siapa yang bertanggung jawab dengan kondisi si difabel, menunjukkan pandangan umum masyarakat Yahudi yang menganggap penderitaan selalu diakibatkan dosa baik keluarganya atau pun yang bersangkutan sendiri.  

    Maka Yesus membuka opsi ketiga dari pertanyaan para murid dengan mengatakan  bahwa ada Allah dibalik penderitaan itu untuk menyatakan diri-Nya.  Maka sebaiknya para murid tidak menyalahkan siapa pun atas kemalangan orang lain dan menjatuhkan vonis atas mereka. 

    1. Allah bekerja dalam kemalangan.

    Dalam opsi ketiga yang diucapkan Yesus, Ia hendak menyatakan bahwa pekerjaan Allah tidaklah bergantung pada kondisi manusia.  Siapa yang bisa menyembuhkan orang buta sejak lahirnya?  Namun Yesus mengatakan bahwa Allah bisa bekerja untuk menyatakan kemuliaan kepada apa yang dianggap mustahil oleh manusia.  Dalam penderitaan yang terberat seumur hidup seperti yang dialami difabel pengemis itu, masih ada Allah yang bekerja baginya dan semuanya bertujuan supaya Allah dimuliakan.

    Sebagai guru, Yesus mengajar para murid sebuah hal baru bahwa ada harapan dalam kemustahilan dan bahwa pekerjaan Allah tidak dapat dihalangi oleh apa pun termasuk kemalangan.  Maka manusia yang memercayai pekerjaan Tuhan yang tak terbatas akan memiliki optimisme dalam setiap masa sulitnya karena Allah saja.  

    Para murid diajar untuk tidak saling menghakimi dan bahkan memberikan vonis akhir pada kemalangan sesamanya karena Allah bisa mengubah kemalangan menjadi sukacita pada waktu yang tepat dan dengan berbagai cara.  

    Saudara, mari BELAJAR MENAHAN DIRI  dari memberikan nilai buruk yang permanen kepada sesama karena Allah sanggup mengubah KEMALANGAN  menjadi HARAPAN.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • KASIH BUKAN PERMISIF

    Saudaraku, manusia memandang Yesus sebagai pribadi yang Maha Kasih sehingga Yesus dianggap sebagai pribadi yang permisif dan lunak terhadap dosa.  Kisah dalam Yohanes 8 sering diambil sebagai contoh sikap permisif Yesus.  Benarkah demikian?  Mari membaca dan merenungkan kembali Yohanes 8: 1-11.

    Saat Yesus diminta mengadili perempuan yang tertangkap basah sedang berzinah, Yesus hanya diam dan bahkan tidak memberikan hukuman kepada tersangka.  Benarkah Yesus selunak itu terhadap dosa serius seperti perzinahan ini ?  Beberapa hal yang perlu dipikirkan ulang dalam kasus ini yaitu:

    1. Posisi Yesus sebagai seorang guru.

    Hukum tentang perzinahan sangat jelas dan tegas.  Di dekalog, larangan perzinahan masuk dalam hukum yang ketujuh (Keluaran 20:14) dan selanjutnya dalam Imamat 20:10 dijelaskan: “Bila seorang laki-laki berzinah dengan isteri  orang lain, yakni berzinah dengan isteri sesamanya manusia, pastilah keduanya dihukum mati,   baik laki-laki maupun perempuan yang berzinah itu.” Maka mustahil bila Yesus lunak terhadap dosa perzinahan yang dilakukan perempuan itu karena sebagai seorang guru, Yesus tetap memijakkan ajaran-Nya di atas Taurat.

    1. Alasan penolakan Yesus untuk menghukum perempuan itu.

    Perzinahan adalah dosa serius namun Yesus tidak menghukum perempuan itu karena beberapa hal alasan dibalik diseretnya perempuan itu di depan-Nya.  

    a. Ada sisi tidak adil yang terjadi karena dalam kasus ini terjadi peradilan yang berat sebelah karena semua beban dosa itu dilimpahkan ke pundak pelaku perempuan saja, tidak ke pelaku laki-laki yang tak diketahui rimbanya.

    b. Motivasi dengki para ahli Taurat dan Farisi membawa kasus itu kepada Yesus.  Penulis Yohanes menyebutkan bahwa alasan ahli Taurat dan Farisi menghadapkan kasus itu adalah untuk mencari kesalahan Yesus.  Jelas kondisi ini sangat subyektif dan  rawan diarahkan ke pengadilan massa.  Itulah sebabnya Yesus tak memberikan respons kepada desakan para elit rohani itu.

    1. Yesus tetap bersikap tegas Yesus terhadap dosa perempuan itu.

    Dialog Yesus di akhir perikop ini menjelaskan sikap Yesus kepada sang perempuan:  “Aku juga tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang jangan berbuat dosa lagi.” (Yohanes 8:11 versi Terjemahan Sederhana Indonesia).  

    Yesus tahu perempuan itu bersalah maka Yesus mengingatkan dengan tegas untuk ia tidak mengulang lagi dosa yang dilakukannya sejak saat itu.  Penulis Yohanes menunjukkan bagaimana Yesus memandang hukum bukan untuk menghancurkan namun untuk memulihkan perempuan itu secara utuh.  Ini menunjukkan Yesus tidak permisif terhadap dosa sang perempuan.

    Tuhan adalah Allah yang penuh kasih namun juga Hakim yang adil. Maka manusia harus menyadari betapa besar anugerah pengampunan dan penyelamatan dalam Kristus Yesus sehingga berjuang untuk hidup dalam kebenaran sesuai Firman Tuhan dalam kasih.  

    Rasul Paulus yang mengatakan: “Hidup ini yang saya hayati sekarang adalah hidup oleh iman kepada Anak Allah yang mengasihi saya dan yang telah mengurbankan diri-Nya untuk saya.” (Galatia 2:20 versi BIS).  

    Saudara, Allah Maha Kasih namun TAK PERMISIF DENGAN DOSA. Mari belajar untuk menghargai kasih-Nya yang besar dengan hidup dalam kekudusan. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • BUKAN DARI ROTI SAJA

    Saudaraku, aku memiliki kelompok kecil yang suka berbagi cerita-cerita akrab. Cerita-cerita kisah nyata pengalaman hidup kami masing-masing. Nah pada kesempatan ini aku bagikan salah satu cerita akrab yang aku terima dari temanku yang dilahirkan dan dibesarkan di Medan. 

    Saya merupakan anak sulung dalam keluarga. Keluarga saya dulu tinggal di Medan. Kami 3 orang bersaudara, dua orang laki-laki dan seorang  perempuan. Papa dan Mama kami jualan telur asin di salah satu kios di Central Market. Kulakan telur asin dari pemasok dari luar kota. Papa kena sakit kanker dan meninggal dunia di usia 50 tahun lebih dikit, jadi Mama kerja keras membesarkan kami bertiga. Saat Papa meninggal, Mama nangis-nangis sambil berkata: “Papamu mati tidak meninggalkan warisan, rumah masih kontrak di kampung, jadi laki-laki tidak berguna, tidak bisa membesarkan anak.”

    Tentu kami bertiga sebagai anak merasa gundah mendengar tangisan Mama. Sumbangan duka dari keluarga, teman-teman dan diakonia gereja cukup berarti bagi kami, bisa untuk membayar biaya rumah sakit, beli peti mati, ongkos rumah duka dan kremasi, dan ada masih ada sisa Rp 750 ribu. 

    Nah adik saya yang laki-laki bilang ke Mama: “Ma, saya yakin Papa tidak ingin kita terus hidup menderita, bagaimana kalau sisa uang duka kita belikan lotre buntut Singapura, kalau menang dapat 1.000 kali sebagai warisan.” Akhirnya Mama setuju, dan berdua dengan adik saya  naik bentor (becak motor) ke tempat penjual lotre. Mama pasang Rp 600 ribu, kalau  menang dapat Rp 600 juta.

    Saudara, minggu depannya, hari Senin, Mama sudah gelisah, siapa tahu jadi jutawan. Dia pergi sendiri ke yang jual lotre, karena sudah tahu alamatnya. Hampir dua jam kemudian Mama pulang. Ketika  masuk rumah, Mama  diam saja, matanya kadang-kadang melihat ke atas, lalu Mama menangis sesenggukan. Ternyata lotre Mama tidak tembus, tidak menang. Duit Rp. 600 ribu kabur. Mama mesti tetap kerja jualan telur asin di pasar untuk menghidupi tiga orang anaknya yang sudah kuliah.

    Tepat sepuluh tahun kemudian, bertepatan dengan  hari Papa dikremasi,saya  kumpulkan Mama dan dua orang adik  di rumah. Ceritanya saya sudah menikah dan punya dua 2 orang anak dan tinggal Jakarta, Mama ikut saya.  Saya usaha di bidang impor bahan makanan, cukup maju, bisa punya rumah di kompleks yang lumayan di Jakarta.

    Adik saya yang laki-laki juga sudah menikah, bisa usaha sendiri membuat ban dalam motor, cukup laris dan ada pabrik kecil-kecilan. Sedang adik saya yang perempuan tinggal di Singapura, buka kios di Bugis Junction jualan tas wanita, suaminya warga Singapura kerja di bank. Kiosnya laris, jualan banyak ke turis-turis dari Indonesia yang suka royal beli tas, apalagi yang jualan bisa ngomong Indonesia.

    Kita ngumpul di hari itu, adik perempuan tidak bisa datang, tapi Mama senang sekali dikelilingi 3 orang cucu yang masih di bawah usia 6 tahun, tentu suasana rumah sangat ceria. Sebelum makan bersama, saya bercerita tentang Papa yang telah mewariskan iman kepada Yesus Kristus. Mengajak kami  sekeluarga ke gereja di Medan. Mengantarkan anak-anak ke Sekolah Minggu dan kadang-kadang mengajak kami berdoa bersama. Meski dalam usaha jualan telur asin kondisinya naik turun, dan dapat cuannya (untungnya)  tipis karena banyak saingan, tapi nyatanya bisa membiayai tiga orang anaknya kuliah hingga lulus.

    Saudara, memang rumah masih ngontrak, tapi dua tahun setelah Papa meninggal ternyata rumah yang dikontrak bisa dibeli, jadi sebenarnya dari penghasilan jual telur asin ada peningkatan, juga saya dan adik sudah mulai bekerja jadi ada pendapatan tambahan. Apalagi di tahun ke-6 kami semua bisa pindah ke Jakarta, rumah di Medan dijual dan bisa dijadikan uang muka untuk beli rumah di Jakarta.

    Hari itu saya menceritakan kembali bagaimana Mama menangis-nangis dan adik menawarkan bagaimana kalau sisa uang sumbangan kedukaan dibelikan lotre buntut. Cerita saya didengar oleh istri dan adik iparku  dan mungkin anak saya yang berumur 6 tahun ikutan mengerti. Mama hanya senyum-senyum kecut, cuman diam. Ini kisah nyata. Adik saya memecahkan suasana: “Yah, itu semua kan zaman susah, zaman berdosa”. Kami semua tertawa, mentertawakan diri sendiri ya, zaman kemiskinan dan kebodohan.

    Pokoknya dalam sepuluh tahun, ya pas sepuluh tahun, kami sekeluarga bisa menikmati berkat dan penyertaaan Tuhan.  Kami semua bekerja secara legal, tidak kerja barang selundupan atau barang-barang terlarang, nyatanya produk yang kami kerjakan bisa diterima baik oleh pasar, tidak ada komplain bahkan permintaan meningkat.

    Usaha semakin maju, bisa rutin memberikan persembahan ke gereja bahkan ikutan memberikan persembahan syukur untuk pembangunan gereja, Memang belum bisa membeli mobil yang harganya mahal, tapi untuk operasional Innova sudah cukup, dan di akhir pekan atau hari libur bisa ajak Mama jalan-jalan ke Bogor hingga Bandung.

    Kami percaya bahwa Tuhan selalu melihat perjuangan dan kerja kami sekeluarga, tetap berusaha setia di jalan Tuhan, karenanya berkat Tuhan dicurahkan. Memang dari usaha kami bisa mendapatkan uang dan rezeki, tapi kami juga perlu mendengarkan Firman Tuhan yang bisa menuntun kami bagaimana hidup menjadi orang benar, dan kami mencoba menjalankan Firman Tuhan itu, sebisa kami. Memang tidak mudah, tapi ya pokoknya tetap ikut saja Firman. Apalagi Tuhan Yesus sudah menebus dosa-dosa kami, jadi bagaimana kami sekarang mesti hidup yang memuliakan Tuhan.

    Saudara, ingatlah selalu sabda Tuhan Yesus: “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Matius 4:4). (Surhert)