Author: Christopherus

  • Kejadian Kecil Bernilai Besar

    Saudaraku, dalam perjumpaan kali ini  mari kita membaca dan merefleksikan Amsal 11:3: “Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya

    Sore itu, setelah late lunch with family – ini hal yang sering kulakukan bersama keluargaku, karena hari Sabtu aku pulang kerja jam 14.30, biasanya aku melewatkan makan siang di kantor dan memindahkannya sepulang kerja bersama keluarga; kuputuskan mampir supermarket untuk membelikan Kensa, jajanan kesukaannya. Sudah sejak beberapa hari yang lalu dia merengek memintanya. Tapi selalu kutahan karena dia masih batuk. Sore ini batuknya masih ada, tapi melihat nafsu makannya yang berkurang, aku berniat untuk memberinya “hadiah”, yaitu meluluskan keinginan Kensa untuk makan jajanan kesukaannya tersebut.

    Di supermarket ini, seperti biasanya jiwa perempuanku bergejolak. Niat belanja jajanan, ujung-ujungnya jadi penuh juga keranjang belanjaan karena melihat banyak barang promo di akhir bulan., hehe. Lalu segera setelah terambil semua barang yang kami inginkan, aku bergegas ke kasir untuk membayar.

    Karena sudah cukup familiar dengan supermarket ini, sambil menghitung belanjaan, Mbak kasir sesekali menawarkan promo-promo lain yang sedang berlaku di minggu itu. Pada batas pembelian tertentu, aku bisa tebus murah barang-barang yang ditawarkan. Jujur, aku tidak tertarik karena memang tidak ada yang kubutuhkan. Sampai akhirnya dia menawarkan dua bungkus biskuit Oreo seharga Rp 12,500. Saat kutanya anak-anak, mereka tidak menolak. Jadilah kuambil tawaran Mbak kasir tersebut. 

    Setelah semua terbayar, kami segera beranjak keluar dari toko. Karena tidak membawa kantong belanja (dan aku tidak mau pakai kantong plastik), TOKO meminjamkan keranjang belanja supaya kami bisa membawa barang belanjaan kami dan memindahkannya ke mobil. SELESAI. Kami segera berlalu dari toko dan pulang. 

    Dalam perjalanan pulang setelah berbelanja aku punya kebiasaan melihat nota setelah berbelanja. Bukan untuk melihat harga tapi untuk memastikan bahwa semua belanjaan lengkap, tidak ada yang kurang atau pun lebih. Tapi sore ini, karena ngobrol di sepanjang perjalanan, sudah hampir tiba di rumah baru kulihat lagi nota belanja, dan kudapati bahwa item Oreo tidak ada di nota tersebut! 

    Menyadari hal itu, kuminta Kakak Damai untuk meneliti ulang dan memang tidak item Oreo tercantum di nota. Aku cek ulang belanjaan, dua buah Oreo itu sudah ada. Duh! Yang bikin Duh itu sebenarnya adalah karena satu belokan lagi kami akan tiba di rumah. Jarak rumah dengan toko sekitar 3 km. Hmmm. Anak-anak mulai melihatku dan bertanya, “Trus bagaimana?”

    Melihat raut anak-anakku, aku tahu, ini saat yang tepat untuk mengajar mereka sebuah pelajaran baru. Kukatakan kepada mereka: “Kita kembali ke toko sekarang, kita bayar Oreo ini karena memang belum dibayar. Harus kembali sekarang karena jika ditunda-tunda dengan alasan besok juga akan lewat toko itu lagi, karena bisa jadi kita justru akan lupa dan pada akhirnya mbak kasir harus nombok untuk kekurangan pembayaran barang ini”

    Kujelaskan juga kepada mereka, betapa berharganya uang sebesar Rp 12,500 itu. Kujelaskan kepada mereka pelajaran Kejujuran, meskipun bukan kami yang menyebabkan kesalahan itu terjadi. Meski pun kesalahan itu disebabkan oleh keteledoran si mbak kasir di toko. Kuajarkan kepada mereka, bahwa Jujur dan Kejujuran adalah tentang mengerjakan kebenaran meskipun tidak ada seorang pun yang mengetahui atau mempedulikannya. Dan jika kami tidak jujur, akan ada orang lain yang dirugikan dan menderita, contohnya Mbak kasir di toko tadi harus mengganti harga Oreo yang belum terbayar. Aku bersyukur, anak-anakku memahami dan bisa menangkap pelajaran yang kusampaikan ini. Sehingga mereka tidak komplain, bahkan ingin bersegera untuk kembali ke toko. 

    Setiba di toko kebetulan si mbak kasir yang tadi melayani kami sedang berada ruangan lain. Jadi kujelaskan kepada penjaga toko yang ada saat itu. Dia mengecek ulang kepada Mbak kasir yang kemudian mengiyakan karena memang item tersebut belum ter-input di nota pembelian. Dia mencetak nota baru senilai harga dua buah oreo tersebut, sambil memberikan satu bungkus Oreo baru kepadaku sebagai permintaan maaf sekaligus terima kasihnya. Kutolak dengan halus pemberiannya dan memberikan uang yang harus kubayar. Dia mengulurkan uang kembalian kepadaku sambil berkata: “Matur nuwun sanget Bu…” Sambil meletakan tangannya di dada dan menundukkan badannya kepadaku. 

    Tiba- tiba hatiku terasa sangat adem dan penuh sukacita. kejadian kecil yang bernilai besar sore itu menyirami hatiku dengan rasa syukur. Terima kasih Tuhan untuk setiap pelajaran baik yang terus Engkau tambahkan. (Novi Reksanto)

  • RED FLAG

    Saudaraku, ada banyak tanda bahaya di dunia ini yang dipakai untuk memperingatkan seseorang.  Salah satunya adalah RED FLAG.   Secara harafiah red flag berarti bendera merah yang dikibarkan untuk memperingatkan tanda bahaya.  Namun kata red flag banyak dipakai di media sosial untuk menggambarkan karakter seseorang yang membahayakan sebuah relasi, misalnya sikap posesif, gengsi dan ego yang terlalu besar.  

    Pernah hidup seorang crazy rich yang bernama Nabal, dari kota Maon yang punya Perusahaan Pengguntingan Bulu Domba di Karmel. Nabal merupakan keturunan Kaleb, pengintai Yerikho yang hebat itu. Nabal kaya dan punya seorang istri yang cantik jelita bernama Abigail (1 Samuel 25:2-3).  Sebagai seorang pemilik Perusahaan yang tajir melintir alias kaya raya, Nabal dihormati oleh para bawahannya.  

    Sayangnya Nabal adalah seorang pria red flag karena ia seorang yang kasar (liar, keras) dan buruk (jahat).  Sedangkan Abigail digambarkan sebagai seorang perempuan yang bijak (berakal budi/pandai) dan cantik (penampilan visual menarik).  Dalam budaya Yahudi Kuno, seorang perempuan tidak memiliki kebebasan untuk memilih jalan hidup sendiri walau ia berpasangan dengan seorang lelaki red flag.  

    Abigail melihat permasalahan antara Nabal dan Daud dan memutuskan untuk bertindak sendiri karena ia sadar bahwa suaminya yang bersalah dan Daud sudah dalam kondisi yang siap berperang untuk membunuh semua lelaki di keluarga Nabal.  Ia harus segera turun tangan dan mengambil jalan ‘damai’ dengan meminta maaf secara langsung sekaligus memberikan permintaan Daud (1 Samuel 25:23-31). 

    Abigail mengambil jalan yang lebih bijaksana dengan perhitungan yang matang, bahkan ia merangkai kata-kata yang baik untuk melunakkan kemarahan Daud.  Oleh karena itu benar kata penulis Amsal : Jawaban yang lemah lembut meredakan kemarahan tetapi perkataan yang pedas membangkitkan kemarahan (Amsal 15:1).  

    Saudaraku, ribuan lontaran kalimat pedas diketikkan di media sosial dalam satu hari.  Jutaan kalimat berisi kritik pedas yang menghancurkan hati dan semangat diucapkan oleh manusia bahkan oleh para pemimpin pemerintahan, masyarakat, agama dan kepala keluarga.  Sikap red flag bertebaran di mana-mana dan melukai banyak orang.  

    Alih-alih melawan dengan kekerasan, lakukanlah “perlawanan” dengan cara yang lebih bijak sehingga meminimalisir kekerasan dan tindakan yang membahayakan.  Lebih baik meminta Tuhan memberi hikmat untuk dapat mengambil sikap saat pasangan atau kolega adalah seorang yang red flag karena bagi mereka pun selalu ada kesempatan seorang mengalami perubahan pada saatnya.  Di dalam Tuhan tidak ada yang tak mungkin.

    Saudaraku, Rasul Paulus juga seorang red flag namun Tuhan berhasil mengubah karakternya sehingga ia menjadi seorang yang berhikmat.  Mari lakukan dan terus mendoakan mereka yang membutuhkannya. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • TUHAN MENGATUR SETIAP LANGKAH

    Saudaraku, aku menikmati penggenapan firman Tuhan berikut: “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” (Mazmur 37:23-24) melalui rangkaian peristiwa berikut ini:

    Senin sore, 6 Mei 2024, sepulang dari check up Kensa di RSUP Dr. Kariadi, aku bersiap untuk berbelanja. Rencanaku, aku akan memasak bekal yang akan kubawa ke Jakarta keesokan hari. Yah, hari Selasa dan Rabu adalah jadwal Kensa untuk menjalankan program PET CT Scan yang sudah terjadwal dari dua minggu sebelumnya. Ini adalah program evaluasi setelah dia menyelesaikan 3 siklus kemoterapi dengan obat baru. Kami perlu tahu efektivitas obat dan keberhasilan obat ini dalam memerangi sel-sel kanker yang masih bersarang di tubuh Kensa.

    Pada saat menuju swalayan untuk berbelanja, sebuah Whatsapp masuk. Ternyata dari RS Kanker Dharmais. Jadwal Kensa harus di- reschedule karena alat yang akan digunakan untuk pemeriksaan rusak! Hmm.., sejenak aku kaget. Semua yang sudah kurencanakan dan kutata rapi mendadak menjadi berantakan. Aku  sudah memesan 1 kamar hotel di dekat RS untuk check in pada 7 Mei 2024 yang tidak bisa di-refund atau pun di-reschedule karena jadwalnya cuma tinggal keesokan hari. 

    Berdiam sejenak, aku sudah mulai bisa mengucap syukur. Yah, bersyukur informasi ini kuterima sebelum kami memulai perjalanan kami ke Jakarta. Yang pasti, Tuhan tahu kami lelah. Karena sebelum kami ke Semarang di hari Senin itu, pada Sabtu dan Minggu kami berada di Sragen untuk mengadakan ibadah 100 hari Ibu berpulang. Tuhan mau kami beristirahat dulu sebelum kembali berjuang. Puji Nama Tuhan. Tuhan sungguh baik.

    Karena tidak jadi ke Jakarta, kuputuskan untuk menunda belanja dan pulang ke rumah. Terpikir olehku, ikhlas sajalah reservasi hotel hangus karena di aplikasi memang sudah tidak bisa di-refund / reschedule. Tapi, entah kenapa mendadak terpikir olehku, mengapa aku tidak mencoba menghubungi langsung Traveloka melalui CS atau email dan memperjuangkan reservasi ini supaya tidak hangus. Sayang juga menghanguskan berkat Tuhan, pikirku.

    Maka Senin malam itu kutulis sebuah email ke Traveloka. Sebuah email yang sangat jujur. Kuceritakan semua kronologi dan kusertakan Whatsapp dari Rumah Sakit. Aku memohon bisa mendapatkan kebijakan dari Traveloka untuk bisa reschedule ke tanggal baru. Amazingly, ternyata emailku direspons baik. Agen ini meminta aku untuk memberiku tanggal baru, supaya mereka bisa mengurus dan menerbitkan voucher baru untukku.

    Ada masalah berikutnya untukku. Karena RS hanya memberi info bahwa perbaikan alat adalah 1 – 2 minggu. Tidak pasti sekali waktunya. Aku harus bisa memberikan tanggal baru kepada Agen paling lambat pada hari Selasa, 7 Mei maksimal jam 14.00 karena seharusnya aku check in di tanggal dan jam tersebut. Jujur, ini sangat membingungkan. Kutimbang-timbang, kubawa dalam doa dan kupikirkan. Sampai akhirnya dengan semua perhitungan sekaligus keberserahanku kepada Tuhan, aku submitted tanggal baru yaitu check in 21 Mei dan check out 22 Mei 2024. 

    Hari-hari berlalu dengan semua dinamikanya. Urusan keluarga, urusan pekerjaan, mendengar kabar bahwa Aji adikku yang di Sragen sakit karena gula nya yang kambuh, semuanya bercampur jadi satu. Aku belum bisa menengok Aji karena pikirku aku ingin menyelesaikan satu persatu urusanku, terutama urusan program Kensa di Jakarta ini. Tuhan sudah melancarkan jalan-jalanku karena setelah reservasi hotel bisa ku-reschedule, aku juga bisa mendapatkan jadwal PET CT dari RS yang sesuai dengan tanggal reservasi hotelku yang baru. Puji Tuhan!

    Ternyata Tuhan mempercayakan sebuah cerita yang lain dari apa yang kurancangkan. Jalan cerita yang sangat mengejutkanku, tetapi juga sekaligus membuatku sangat amazed dengan cara-Nya mengatur setiap langkahku.

    Senin siang 20 Mei 2024, di saat aku mulai kembali mempersiapkan perjalananku ke Jakarta, ternyata Tuhan memanggil adikku Aji pulang ke rumah-Nya. Kali ini semuanya terasa lebih berantakan lagi. Hatiku hancur berkeping-keping rasanya. 

    Tapi sekali lagi, Tuhan itu sungguh baik. Dikembalikan-Nya akal sehatku dengan segera. Di sela-sela tangis kesedihanku, kusampaikan kepada Mas Sapto, kakakku untuk mengatur pemakaman adikku di hari Selasa pagi. Supaya pada Selasa sorenya aku tetap bisa berangkat ke Jakarta. Supaya aku tetap bisa mengerjakan dua hal besar ini, memakamkan adikku dan mendampingi anakku memperjuangkan kesembuhan sempurnanya. Kalau harus ditunda, semuanya harus diatur kembali dari awal. Itu akan lebih susah lagi.

    Pada saat perjalanan ke Jakarta, air mataku masih terus mengalir. Meratapi kepergian adikku, dan tidak bisa hadir di ibadah penghiburannya. Tapi kutahu, aku harus terus melangkah maju. 

    Satu hal yang terasa menenangkan dan membuatku terkagum dengan rencana Tuhan, ada banyak tanggal dan hari yang bisa kupilih untuk membuat reservasi baru, Tuhan menuntunku untuk memilih hari Selasa, 21 Mei 2024. Secara logika, waktu dua minggu yang dibutuhkan RS untuk perbaikan alat, itu jatuhnya di hari Senin, 20 Mei 2024. Waktu yang terasa jauh lebih tepat dan convenience untuk bepergian karena kami bisa berangkat di hari Minggu. Tapi tidak kupilih tanggal itu. Karena ternyata, di Timeline yang Tuhan sudah rancangkan, di hari dan tanggal itu, aku harus menemani dan merawat adikku sebelum kami berpisah selama-lamanya. 

    Sungguh hari-hari yang tidak mudah dan berat. Tapi aku terus bisa melihat, semuanya baik dan indah di dalam penyertaan dan pertolongan Tuhan. Tuhan mencukupkan kekuatan dan memberikan penghiburan yang kubutuhkan. (Novi Reksanto).

  • Judgement Day

    HARI TUHAN. Sahabat, frasa “hari Tuhan” biasanya merujuk pada peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di akhir sejarah umat manusia (Yesaya 7:18-25), yang juga sering diasosiasikan dengan frasa “hari itu.” Salah satu kunci untuk memahami frasa ini adalah dengan memerhatikan bahwa frasa-frasa ini selalu berbicara mengenai suatu masa di mana Allah secara pribadi ikut campur tangan dalam sejarah, baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk menggenapi aspek tertentu dari rencana-Nya.

    Kebanyakan orang mengasosiasikan “hari Tuhan” dengan masa tertentu atau hari tertentu yang akan terjadi di akhir zaman, ketika rencana dan maksud Allah bagi dunia dan umat manusia akan digenapi. Beberapa pakar percaya kalau “hari Tuhan” itu merujuk pada satu masa yang lebih panjang, bukannya mengacu pada satu hari tertentu saja. 

    Ini akan menjadi suatu periode di mana Kristus akan memerintah di seluruh dunia, sebelum Dia kelak menciptakan langit dan bumi yang baru untuk kekekalan. Sebaliknya, ada pakar lainnya yang memahami kalau “hari Tuhan” merupakan peristiwa yang akan berlangsung dengan cepat. Kristus akan kembali ke dunia untuk menebus orang-orang percaya yang setia dan menghukum orang-orang yang tidak percaya.

    Sahabat, selain merupakan masa penghakiman, masa itu juga merupakan masa penyelamatan ketika Allah membebaskan sisa-sisa Israel, menggenapi janji-Nya kalau “seluruh Israel akan diselamatkan” (Roma 11:26), mengampuni dosa mereka dan memulihkan orang-orang pilihan-Nya ke tanah yang dijanjikan-Nya kepada Abraham (Yesaya 10:27; Yeremia 30:19-31, 40; Mikha pasal 4; Zakharia pasal 13). 

    Hasil terakhir dari hari Tuhan adalah: “Manusia yang sombong akan ditundukkan dan orang yang angkuh akan direndahkan; hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu” (Yesaya 2:17). Penggenapan utama atau yang paling akhir dari nubuat-nubuat mengenai “hari Tuhan” akan terjadi pada akhir dari sejarah ketika dengan kuasa yang ajaib Allah akan menghukum kejahatan dan menggenapi semua janji-Nya.

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat belajar dari pasal terakhir dari kitab Maleakhi dengan topik: “Judgement Day  (Hari Penghakiman)”. Bacaan Sabda diambil dari Maleakhi 4:1-6. Sahabat, Alkitab menegaskan bahwa hari Tuhan itu pasti datang tanpa pembatalan. Hanya saja, tidak seorang pun mengetahui kapan saatnya tiba. Jadi, tidak perlu ada lagi keraguan tentang ini. Bacaan kita pada hari ini mengatakan, kedatangan-Nya akan didahului oleh pengutusan Nabi Elia (Ayat 5). Dari perspektif Israel, itu dipahami sebagai cara Tuhan untuk mempersiapkan umat-Nya. Dia menyediakan waktu agar orang-orang percaya bertobat menjelang hari Tuhan itu (Ayat 6).

    Kedatangan hari Tuhan dilukiskan sebagai malapetaka besar bagi orang-orang gegabah dan fasik. Mereka akan menjadi seperti jerami yang terbakar habis (Ayat 1). Bahkan, akar dan cabang mereka pun akan sirna tak berbekas. Mereka akan menjadi seperti abu yang diinjak-injak. Gambaran itulah yang ditunjukkan oleh bacaan kita untuk melukiskan kesudahan orang-orang jahat.

    Sahabat, namun, selain narasi malapetaka, bacaan kita juga menyodorkan narasi sukacita, yaitu pengharapan. Pada hari kedatangan-Nya, orang-orang yang takut akan Tuhan bersukacita karena semua penderitaan berakhir (Ayat 2). 

    Hari Tuhan itu menjadi momen yang menggembirakan. Itulah saat yang penuh kebahagiaan. Ketidakadilan yang terjadi selama ini akan digantikan dengan terang surya kebenaran. Ketidakberdayaan akan disegarkan dengan kekuatan baru, seperti sayap yang dipulihkan. Pengekangan paksa selama ini digantikan dengan kemerdekaan, laksana anak lembu lepas dari kandang. Ada janji “kebebasan” yang akan dinikmati orang-orang yang takut Tuhan ketika hari itu tiba.

    Sahabat, kita tidak tahu kapan hari kedatangan Tuhan. Yesus sendiri pun menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang tahu waktu kedatangan-Nya. Jadi, kita tidak perlu menghabiskan energi dan waktu untuk menguak “misteri” hari kedatangan Tuhan, sebaiknya kita harus tetap berjaga-jaga, waspada, dan siap sedia. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang Hari Tuhan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Barang asli dan barang palsu (KW) seringkali susah dibedakan namun tentu ada ciri yang menunjukkan: Mana yang palsu dan mana yang asli. (pg).

  • DIGENAPI DENGAN KONSPIRASI

    Saudaraku, manusia memiliki berbagai cara untuk menyelesaikan ancaman, salah satunya dengan konspirasi.  Konspirasi adalah persekongkolan.  Sedangkan persekongkolan adalah perjanjian yang dibuat oleh dua pihak atau lebih untuk melakukan sesuatu.  Persekongkolan selalu berkonotasi negatif. Alkitab juga mencatat banyak persekongkolan yang dilakukan manusia untuk menyelesaikan masalah mereka dengan seseorang yang dianggap mengancam mereka.  Mari membaca salah satunya yaitu dalam Yohanes 11: 45-53.

    Heboh kejadian kebangkitan Lazarus di Betania membuat beberapa orang menceritakannya kepada para elit agama dan politik do Yerusalem.  Para elit itu merasa bahwa Yesus sudah menjadi ancaman untuk mereka karena begitu banyak orang yang mulai memercayai kemesiasan-Nya saat melihat mukjizat itu.  Mereka khawatir rakyat yang memercayai Yesus akan menarik pemerintah Romawi dan mengirim pasukan untuk menertibkan mereka.  

    Bagaimanapun  orang Israel waktu itu dalam penjajahan Roma dan setiap gerakan massa akan diwaspadai.  Para elit itu ternyata menjaga ketenangan dan stabilitas wilayahnya supaya kesucian Yerusalem tidak terjamah oleh orang Romawi yang dianggap kafir.  Maka mereka khawatir ketenangan ini akan terusik dengan banyaknya orang yang mulai percaya Yesus. Alarm bahaya mulai menyala dan mulai terjadilah konspirasi saat Imam Besar Kayafas menyatakan legalitas untuk melenyapkan satu orang demi keselamatan seluruh bangsa.  Penulis Yohanes menuliskan bahwa sejak saat itulah konspirasi melenyapkan Yesus dimulai.  Yesus dianggap menggoyang sendi sosial agama saat itu dan dikhawatirkan akan menimbulkan ketidak stabilan politis.

    Ada hal yang menarik dituliskan oleh penulis Yohanes bahwa ucapan Kayafas menjadi seperti nubuat untuk kematian Yesus, yang memiliki dampak yang universal.  Karena kematian-Nya akan mempersatukan kembali anak-anak0Nya yang tercerai berai (Yohanes 11: 52).  Memang Yesus datang untuk menderita dan mati untuk keselamatan orang yang mempercayainya, maka konspirasi yang nampak jahat itu ternyata menjadi alat untuk menggenapi rencana penyelamatan Allah.  

    Betapa agung dan besarnya Tuhan dalam rencana-Nya yang Ajaib, sehingga bahkan sesuatu yang keji seperti konspirasi ini dapat dipakai untuk menggenapi rencana-Nya.  Melalui hal yang negatif, Dia mengungkapkan segala kelemahan sekaligus memakainya untuk membuat perkara yang besar.

    Umat Allah juga tak lepas dari konspirasi-konspirasi yang bisa dihadapi kapan saja dan dalam kondisi apapun.  Yohanes 15:19 mengatakan bahwa para pengikut Kristus bukan lagi milik dunia, maka dunia membenci mereka.  Yesus sudah mengingatkan hal ini dua abad lalu, maka setiap umat perlu belajar bersandar kepada Dia yang membuat rencana kehidupan.  Hal yang buruk dapat dirangkai-Nya menjadi perkara yang memuliakan nama-Nya.  Mari hadapi semua dengan rasa percaya dan penuh penyerahan kepada Tuhan.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)