Author: Christopherus

  • IT IS WHAT SO-CALLED CARE

    Saudaraku, mari kita membaca dan merefleksikan Mazmur 56:9: “Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?” Betapa PEDULI Tuhan kepada kita. Tuhan tidak hanya menyimpan air mata kita, tetapi Dia juga mencatat saat-saat kita bersedih! Aku sering suka membayangkan Dia mencatat alasan kesedihanku.  Dia cukup peduli untuk memerhatikan dan dapat membalikkan keadaan demi kebaikan kita.

    Kantor sudah sepi saat aku beranjak keluar dari ruanganku. Akhirnya selesai sudah hari yang sangat sibuk dan berat. Waktu menunjuk angka 20.05. Jam bubaran karyawan yang kerja lembur sudah lewat lima menit. Pantaslah kalau tinggal beberapa orang di luar kantor yang masih menunggu jemputan. 

    Berjalan perlahan mendekati mobil, tiba-tiba berdiri di dekatku satu sosok kurus yang mengagetkanku! Huft… ternyata Mbak Wid, salah seorang karyawan kebersihan di kantorku. “Aduh kaget aku”,  spontan itu yang keluar dari mulutku. Mbak Wid hanya  tersenyum lalu mengulurkan plastik hitam yang tidak kelihatan  isinya. “Apa ini Mbak?”, tanyaku kepadanya  sambil mengintip isi plastik itu. Ya Tuhan, ternyata isinya  empat buah jeruk nipis.  “Jeruk saya berbuah lagi Bu, dan setiap kali berbuah saya selalu ingat Ibu. Maaf ya Bu,  kali ini buahnya kecil-kecil” katanya sambil tersenyum malu. 

    I really don’t know what to say. Kepala dan hatiku yang panas dan lelah sepanjang hari ini tiba-tiba terasa adem dan damai. Empat jeruk nipis ini, yang secara angka hanya bernilai kecil, tapi malam itu aku bisa melihat cinta yang besar di dalamnya. Pemberiannya bernilai sangat mahal. Tak ternilai harganya! 

    Mba Wid, petugas kebersihan yang sejak muda bekerja di kantorku, pertama kali memberiku jeruk nipis dari halaman rumahnya saat melihatku batuk tidak kunjung sembuh. Kejadian tersebut sudah beberapa tahun yang lalu. Sejak saat itu setiap pohon jeruk di rumahnya berbuah, aku terkadang masih dibawakan olehnya, meskipun aku sudah tidak batuk lagi. Mbak Wid mungkin tidak akan bisa memberiku obat-obatan yang mahal tetapi dengan kasih yang diwujudkannya dalam bentuk jeruk nipis itu, bahkan sanggup menyembuhkan jauh lebih banyak “penyakit”. Malam itu , saat hatiku begitu lelah, sekali lagi Tuhan mengingatkanku bahwa masih ada dan SELALU ADA begitu banyak CINTA dan KASIH  di sekelilingku.

    Apa sebenarnya Peduli? Apakah tentang memberi dengan berkelimpahan? Atau perhatian yang berkelebihan? I don’t think so! Peduli itu seputih cinta Mbak Wid kepadaku MALAM itu. Rasa pedulinya tulus dan tidak berpamrih. Pedulinya yang diwujudkan dalam sebuah tindakan yang sepertinya sederhana namun bermakna luar biasa itu mampu menjebol dinding air mataku yang kutahan untuk tidak mengalir.

    Jadi kalau sekarang aku ditanya apa saja yang kupedulikan, jawabanku adalah semua kesayangan Tuhan yang dipercayakan Tuhan kepadaku. Para kekasih Tuhan yang diizinkan Tuhan hadir dalam hidupku. Jeruk nipis bernama cinta yang diberikan Mbak Wid malam itu menyadarkanku betapa dahsyatnya kekuatan CARE (PEDULI) dalam mengarungi perjalanan kehidupan. 

    Sapaan seperti “Selamat pagi Bu”, lalu Greeting such as “How are you today?”, atau Reminder “Jangan lupa makan siang ya” dan “Istirahatlah dulu sebentar”  atau dua kata magic “Take care!” pun sering kali justru merupakan obat yang manjur untuk membangunkan semangat yang sedang padam.

    Mengapa kita harus peduli? Karena tidak ada yang kebetulan dalam hidup kita. Setiap orang, setiap kejadian dalam hidup kita dirangkai-Nya dalam konstelasi untuk SALING PEDULI. Rantai hidup itu mempersatukan. Peduliku yang dipersiapkan dan dibentuk Tuhan dengan modal cinta kasih-Nya, akan kusebarkan bak benih yang subur untuk menumbuhkan cinta, kekuatan dan semangat. Akan kubagikan sepanjang kuat kakiku berjalan dan sepanjang nafasku berhembus.

    Kuminta kepada Tuhan untuk terus mengasah dan menumbuhkan peduliku. Supaya bisa kusampaikan kepada dunia, kepada keluarga, sahabat dan teman-temanku, bahwa saat kita bergandeng tangan, kita akan sanggup melewati setiap badai yang ada di hadapan. 

    Saudarku, sesungguhnya tidak pernah dibiarkan-Nya setiap orang berjalan sendirian. Tangan kita  akan saling menggenggam dengan erat. Sekalipun tidak bisa kulenyapkan masalahmu, aku akan tetap menyediakan telingaku untuk mendengarkan kesah kalian. Supaya hati kalian bisa lebih tenang, dan langkah kalian bisa menjadi lebih ringan. Selamat Peduli! (Novi Reksanto).

  • Do Not Refuse God’s Chosen and Anointed King

    YANG DIURAPI. Sahabat, dalam Perjanjian Lama, kita menemukan bahwa orang yang akan dipakai Tuhan pada umumnya diurapi dengan minyak. Pengurapan atas para imam, para nabi dan para raja merupakan simbol pemilihan dan pengudusan mereka untuk melayani Allah (bandingkan dengan Imamat 8:10-13; 1 Samuel 9-10; 16:1-13; 1 Raja-raja 19:16; Mazmur 105:15).

    Penting untuk kita  cermati bahwa kata Ibrani untuk istilah “yang diurapi” adalah “Mesias”, sedangkan kata Yunaninya adalah “Kristus.” Tidaklah mengherankan bahwa dalam Perjanjian Baru, para rasul beranggapan bahwa Mazmur 2  membicarakan Yesus Kristus sebagai sosok Raja yang diurapi Tuhan (Kisah Para Rasul 4:25-26; 13:33; Ibrani 1:5). 

    Yesus Kristus adalah Raja yang adil dan benar, yang ditetapkan Allah untuk memerintah dan menghakimi umat-Nya. Kita hanya mempunyai dua pilihan, yaitu menundukkan diri kepada Yesus Kristus atau menolak Dia. Agar kita bisa memiliki kehidupan yang bercirikan damai sejahtera dan sukacita, kita harus menundukkan diri di hadapan Yesus Kristus. 

    Syukur kepada Tuhan hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Do Not Refuse God’s Chosen and Anointed King (Jangan Menolak Raja yang Dipilih dan Diurapi Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 2:1-12. Sahabat, dari permulaan Mazmur ini, kita bisa menemukan adanya penolakan terhadap kepemimpinan dari raja yang diurapi Tuhan (Ayat 1-3). 

    Penolakan ini tidak main-main karena yang menolak pemerintahan sang raja adalah bangsa-bangsa, raja-raja dunia, dan para pembesar. Raja yang diurapi adalah pelayan Allah. Oleh karena itu, perlawanan pada dirinya adalah bentuk perlawanan kepada Tuhan. 

    Namun, Tuhan adalah Allah yang mahakuasa dan berdaulat. Tidak ada yang dapat melawan ketetapan dan kuasa-Nya (Ayat  4-9). Perlawanan kepada Tuhan dan raja yang diurapi-Nya akan berakhir dengan kehancuran dan kebinasaan (Ayat 9). 

    Oleh karena itu, respons yang tepat semestinya adalah menundukkan diri dan menghormati Allah, yang dalam hal ini diwakili oleh raja yang diurapi-Nya (Ayat 10-12). Jelas bahwa ketundukan pada raja yang diurapi ini memprasyaratkan bahwa sang raja sendiri adalah raja yang adil, benar, dan hidup dalam ketaatan pada hukum Tuhan (bandingkan dengan Ulangan 17:14-20).

    Mazmur 2 memang mazmur mesianik. Raja pilihan dan urapan Tuhan menunjuk kepada Yesus (Ayat 7; Matius 3:17; 17:5). Kedatangan Mesias untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa. Perlawanan kepada-Nya datang dari para pemuka agama dan politik. Ketika Petrus berkhotbah mengenai Yesus kepada pemuka agama Yahudi, ia mengutip Mazmur 2:1-2 dan mengidentifikasi Herodes dan Pilatus dengan bangsa-bangsa (Kisah Para Rasul 4:25-27). Bahkan Perjanjian Baru mengutip dan mengacu pada mazmur ini paling banyak daripada mazmur-mazmur lainnya.

    Mari kita bersyukur karena Mesias sudah datang, dan sudah tuntas menyatakan keselamatan bagi umat manusia. Mari kita beritakan kabar baik ini, agar bangsa-bangsa datang bukan untuk melawan, melainkan untuk menyembah! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?

    Apa yang Sahabat pahami dengn prasa Yang Diurapi?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Melawan Allah sejatinya merupakan kebodohan semata karena Allah sungguh Mahakuasa. Ialah yang menurunkan dan menaikkan para penguasa dunia. (pg).

  • IRONI EFEK LAZARUS

    Saudaraku, produk digital yang menguasai dunia membuat manusia sangat tergantung dengan dimensi visual.  Nyaris tak ada manusia yang mengabaikan sisi visual, mulai dari anak sampai dewasa.  Produk yang dibuat dan dipasarkan juga sangat mengutamakan sisi visual.  Makin menarik visualnya, makin tinggi harganya. Namun ini menjadi ironi manakala sisi visual dibiarkan menguasai dan menentukan sebuah kebenaran, termasuk dalam dunia rohani.    Mari renungkan Yohanes 12:9-11

    Kisah kebangkitan Lazarus dari Betania menimbulkan efek yang sangat luar biasa sehingga mendadak Betania menjadi destinasi kunjungan  orang-orang yang mendengar kisah mukjizat itu.   Mukjizat itu begitu fenomenal sehingga membuat orang penasaran.  Mereka ke Betania tak lagi mencari pengajaran Yesus namun mulai mengarahkan perhatian kepada Lazarus.  Orang-orang ini menjadi percaya karena melihat sosok Lazarus yang bangkit, bukan karena pengajaran Yesus yang mengubah hati.

    Ironi dari kisah singkat ini adalah kemunculan fenomena “Wisatawan Rohani”.

    Wisatawan biasanya akan datang untuk melihat dan mengalami suasana tempat tertentu.  Mereka tidak menetap karena tujuan mereka adalah mengunjungi karena ada yang menarik minat mereka, biasanya adalah pengalaman visual.  Seperti para wisatawan itu, mereka yang datang ke Betania pasca mukjizat Lazarus bukan hanya untuk mendengarkan pengajaran Yesus Sang Pembuat Mukjizat, namun juga untuk melihat Lazarus yang sudah dibangkitkan.  Mereka menjadi percaya karena bertemu dengan sosok yang mengalami mukjizat, bagaikan teori yang telah terbukti.  

    Mereka mengejar kepuasan batin namun tidak mengubah hidup dan prinsip mereka. Mereka tetap tidak berani membela Yesus yang saat itu sedang dicari untuk ditangkap (Yohanes 11:57). Orang-orang itu hanya berkunjung namun tidak  berani menghidupi Yesus Sang Mesias.  Mereka bagaikan wisatawan yang mencari fenomena dan puas dengan visual semata, sementara hidup dan prinsip mereka tetap sama.

    Saudaraku manusia cenderung mencari pengalaman visual untuk menguatkan spiritualnya.  Hal itulah yang mendorong orang berbondong  datang ke Betania.  Namun hanya mengandalkan visual akan memiskinkan pengalaman spiritual dengan Allah.  Itu sebabnya Yesus mengatakan kepada Thomas :  “Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya” (Yohanes 20:29).  

    Saat ini manusia hidup dalam masa dimana visual menjadi faktor penting sebuah kebenaran. Namun manusia perlu menyadari bahwa Allah mampu bekerja dalam dimensi yang jauh lebih luas, melampaui dimensi visual.  Allah tidak terkurung dengan visual manusia, Allah bekerja dalam kreativitas dan dimensi yang tak terbatas.  

    Saudaraku, mari belajar untuk memercayai pribadi Allah sebagai Maha segalanya walaupun mungkin tak ada mukjizat besar terjadi.  Untuk apa ada mukjizat kalau hati tidak tersentuh dengan pekerjaan-Nya dan mengenal pribadi-Nya?  Sesungguhnya MUKJIZAT TERBESAR adalah saat manusia mengenali Dia sebagai Tuhan dan Juru selamat-Nya.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • PELITA ITU BERNAMA NANGKA

    Saudaraku, dalam perjumpaan kita kali ini, mari kita membaca dan merefleksikan: “Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.” (Amsal 11:25)

    Ada yang berubah dari kebiasaan makan keluargaku sejak pandemi dimulai. Ketika awal pandemi, kami berkomitmen untuk meminimalkan makan di luar. Sebisa mungkin kuusahakan untuk bisa memasak setiap hari. Kadang tetap gagal. Apalagi kalau pekerjaan dan kegiatan sedang banyak-banyaknya. Tapi tetap, kami berupaya untuk membuat jarak dan mengurangi physical contact dengan orang di luar rumah. 

    Pada saat PPKM darurat dicanangkan oleh pemerintah untuk menanggulangi Covid 19 semakin merebak, kembali kami mengubah kebiasaan makan kami. Caranya? Kalau dulu kami membatasi makan di luar, saat PPKM ini aku memasak rata-rata untuk makan pagi dan makan siang saja. Makan malamnya? Aku membeli dari warung-warung makan yang setiap jam 20.00 harus segera menutup warungnya itu. 

    Yah, memang aku tidak bisa membayar lebih untuk makanan yang kubeli. Atau bahkan memborong semua dagangan mereka. Yang kubeli pun maksimal hanya empat porsi karena itulah jumlah anggota keluargaku. Sangat sedikit. Tidak banyak. Tapi tetap kupercaya itu bernilai. Itu berguna. Itu sangat membantu mereka. 

    Caraku belanja makanan juga berpindah-pindah. Hari ini membeli bakmi goreng dan nasi goreng. Besoknya pindah ke warung padang. Kemudian hari ke warung soto, dan seterusnya. Hampir semua makanan kubungkus dan kami makan di rumah. Supaya lebih nyaman dan higienis.

    Masih kuingat beberapa hari yang lalu, saat aku belanja di warung nasi goreng. Saat itu jam 19.45. Artinya 15 menit lagi warung harus tutup. Sebelum sirine polisi dan Satpol PP mulai bergerak dengan water cannon nya membubarkan dan meminta warung untuk segera ditutup. Sambil memasak Bapak penjual bercerita kepadaku: “Sampeyan tamu pertama dan kemungkinan juga tamu terakhir saya hari ini Bu..” Deg … Artinya sejak pukul 17.00 dia buka belum ada pembeli lain selain saya. Setelah itu dia juga harus tutup lapak. Sedih. Pilu rasanya. 

    Jadi, malam ini karena PPKM masih diperpanjang, aku, suami dan anak-anak “berdiskusi” menentukan tempat makan malam kami. Akhirnya pilihan jatuh ke warung asem-asem daging langganan kami. Sudah lama warung itu tutup. Dan kulihat sudah tiga hari ini kembali buka. Selain berbelanja makanan, kami juga ingin menanyakan kabarnya. Apakah dia sakit. Atau apakah dia sedang berkesusahan. 

    Hampir selesai berbelanja, Si Ibu penjual tiba-tiba bertanya kepadaku: “Apakah aku bersedia membeli buah Nangka yang ada di situ?” Kutanya kepadanya: “Itu Nangka siapa? Si Ibu menjelaskan bahwa dia dititipi keponakannya yang sedang membutuhkan uang sehingga meminta bantuannya untuk menjualkan buah Nangka yang sudah matang di pohon. Uang dari penjualan Nangka ini akan dipakai untuk membayar rekening listrik di rumah yang sudah menunggak. Duuh. Sedihnya hatiku. 

    Aku sadar betul betapa tuanya tanggal di kalender saat itu. Tapi aku juga tahu bahwa aku tidak akan menolak untuk membeli buah Nangka itu. Tujuan awalku berbelanja adalah untuk “ngelarisi” warungnya. Ternyata sekarang aku juga harus membeli buah Nangka yang sesungguhnya tidak kuperlukan. Entah kenapa, rasanya Tuhan terus meneguhkanku untuk membeli buah itu. Nangka yang lumayan besar senilai tujuh puluh ribu rupiah. 

    Ternyata benar pilihanku. Sesaat setelah kubayar semua belanjaanku, termasuk buah Nangka itu, Si Ibu penjual warung makan itu berkata kepadaku: “Matur nuwun ya, kamu sudah membuat rumah ponakanku tidak gelap lagi sekarang.”

    Oh Tuhan betapa lega dan bersyukurnya hatiku. Apalah artinya nilai tujuh puluh ribu yang kukeluarkan ketika ternyata itu begitu berarti dan bahkan sangat berguna bagi orang lain.

    Tuhan memang paling tahu bagaimana mengubah segala sesuatu yang begitu sederhana menjadi sebuah maha karya. Bagaimana Dia mengubah buah Nangka menjadi pelita bagi sebuah keluarga. (Novi Reksanto).

  • Life is A Choice

    BANYAK PILIHAN. Sahabat, dalam dunia saat ini, manusia diperhadapkan dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat. Saya sudah tidak menjumpai lagi pemandangan orang membaca Koran Pagi atau Koran Sore di teras rumah. Orang tidak lagi memburu berita melalui koran, tetapi sudah banyak orang berburu berita melalui internet dan sosial media. Banyak pilihan berita yang kita dapatkan di sana. 

    Hampir semua orang lebih memilih untuk mencari sesuatu dengan cepat tanpa harus melewati proses yang panjang, berbelit, dan sulit. Nah, melalui internet kita akan menemukan banyak pilihan.  Teknologi menjadi pengganti segala sesuatu hal yang bersifat lama dan sulit. Misalnya dalam mencari jawaban sebuah tugas, kita bisa langsung cari di Geogle tanpa harus membaca buku. Apakah itu salah? Hal itu tidak salah jika kita pergunakan secara bijak. Kita perlu untuk melihat kembali apakah hal itu perlu kita lakukan. Sebagai orang percaya, kita perlu untuk melihat segala sesuatu yang kita lakukan sesuai dengan tujuannya dan juga bagaimana hal tersebut memberikan pengaruh terhadap hidup kita. 

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita mulai belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Life is A Choice (Hidup itu Pilihan)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 1:1-6. Sahabat, hidup sebagai orang percaya di tengah dunia tidaklah mudah. Setiap hari kita diperhadapkan dengan banyak pilihan. Selain itu kita setiap hari juga dihadapkan dengan banyak hal yang harus kita putuskan, dan  keputusan penting dalam hidup harus diambil segera.

    Pemazmur menggambarkan dua jalan berbeda yang dijalani oleh manusia, yaitu jalan hidup orang benar (Ayat 1-3), dan jalan hidup orang fasik (Ayat 4-5). Mereka yang menjalani hidup yang benar disebut berbahagia.

    Pemazmur hendak menunjukkan bahwa penghakiman Tuhan atas manusia tidak didasarkan pada ras, jenis kelamin, ataupun suku bangsa. Penghakiman Tuhan didasarkan pada respons manusia terhadap apa yang difirmankan-Nya. Dalam hidup orang benar, Taurat Tuhan menjadi kegemarannya, serta direnungkan siang dan malam (Ayat 2). Ketaatan kepada firman Tuhan adalah kunci keberhasilan dalam hidup yang dijalani (Ayat 3), dan Pemazmur menekankan bahwa Tuhan mengenal dan memberkati jalan hidup mereka (Ayat 6a).

    Namun, hal yang kontras dialami oleh orang fasik. Hidup mereka digambarkan seperti sekam yang diterbangkan oleh angin (Ayat 4). Mereka tidak akan pernah betah dalam kumpulan orang benar (Ayat 5). Jalan yang dipilih berujung pada kebinasaan (Ayat 6b).

    Sahabat, dalam hidup ini kita bisa melihat contoh dari orang-orang yang memilih hidup di jalan orang benar dan jalan orang berdosa. Alkitab menegaskan hasil akhir dari dua pilihan yang amat berbeda ini. Allah menghendaki agar umat-Nya tidak memilih jalan orang fasik, melainkan jalan orang benar.

    Kita sebagai orang percaya yang hidup di antara orang tidak percaya harus bijak dalam memilih dan menempuh jalan hidup supaya kita tidak mengikuti pengertian dan kebiasaan orang berdosa. Firman Tuhan harus senantiasa menjadi pegangan kita dalam menjalani kehidupan. Firman itu bukan hanya untuk dibaca, melainkan direnungkan dan dijalankan dalam ketaatan, sehingga dalam segala aspek kehidupan kita senantiasa berkenan di hadapan Tuhan.

    Sahabat, Tuhan mengetahui setiap jalan yang kita ikuti sehingga segala sesuatunya tidak ada yang tersembunyi bagi Dia. Oleh sebab itu, Jalan manakah yang akan kita pilih? Apakah kita sudah hidup benar dan bahagia bersama dengan Tuhan atau masih hidup dalam kehidupan orang fasik yang akan menerima hukuman? 

    Hidup itu pilihan, karena itu pilihlah yang mendatangkan kehidupan dan kebahagiaan. Pilihan ada di tangan masing-masing pribadi. Pilihan kita untuk sesuatu hal adalah tanggung jawab kita sendiri. Pemazmur telah memberikan kepada kita penjelasan yang sangat baik mengenai hal yang Tuhan inginkan, tetapi keputusan kembali kepada pribadi kita. Tuhan tidak memaksakan kita untuk memilih mengikuti-Nya. lengkapilah dirimu dengan Firman untuk menjalani kehidupan yang kudus, dan jadikanlah dirimu sebagai alat Tuhan dalam memberkati orang lain. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat  peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat lakukan ketika diperhadapkan pada dua pilihan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dunia dengan segala daya pikatnya terus mencoba menjerat umat Tuhan, tetapi Tuhan mengenal jalan hidup orang-orang yang bergantung sepenuhnya kepada Dia. (pg).