Author: Christopherus

  • BERAPA LAMA LAGI, TUHAN?

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur walau hidup kita tidak luput dari penderitaan. Sahabat, penderitaan merupakan bagian hidup manusia. Yang menarik, ketika Daud mengalami penderitaan yang cukup berat dan menekan, tidak membuatnya menyangkal dan meninggalkan Allah. Sebaliknya, ia tetap berseru dan semakin berharap kepada Allah dalam doa yang tiada putusnya. Untuk itu Sahabat saya ajak untuk berefleksi dari kisah pengalaman Daud yang saya ambil dari Mazmur 13:1-6.

    Sahabat, dalam perikop tersebut, Daud mulai mengungkapkan isi hatinya dengan pertanyaan “Berapa lama lagi Tuhan?” Pertanyaan itu diulangi sampai lima kali. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya perasaan Daud seolah-olah dirinya ditinggalkan Allah. Artinya, derita yang dirasakan Daud sangat berat dan sudah mencapai batas yang dapat ditanggungnya. Bak air sudah mencapai hidung.

    Sebenarnya apa pokok masalah yang sedang dihadapi Daud? Apakah dirinya sedang sakit parah? Apakah keselamatannya terancam? Ternyata tidak. Kuncinya ada di ayat 4-b, “Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati,”  Bila mata Daud tidak bercahaya, hal itu berarti Allah tidak bersama dengannya. Apakah benar Allah sudah tidak menyertai Daud lagi?

    Sahabat, Mazmur 19:9 menyatakan bahwa mata seseorang akan bercahaya karena firman Tuhan. Jika dilihat dari sudut pandang Mazmur 19:9, maka ungkapan Daud menunjukkan bahwa Allah tidak lagi berfirman kepadanya. Tidak adanya firman Allah itulah yang membuat hati Daud goyah. Ia seolah-olah kehilangan pegangan dan tuntunan hidup karena selama ini hidupnya berlandaskan pada firman Allah. Itulah alasannya Daud meratap, “Berapa lama lagi Tuhan?”

    Mazmur  13:1-6  ini merupakan ungkapan isi hati Daud saat ia mengalami pergumulan yang sangat berat.  Hari-hari Daud penuh kegelisahan karena ia terus dikejar-kejar Saul yang hendak membunuhya.  Bisa dibayangkan betapa tidak tenangnya perasaan Daud karena dihantui oleh bahaya kematian.  Selain itu Daud juga harus menghadapi bani Amalek, suatu bangsa yang menjadi musuh bangsa Israel.  Daud benar-benar dalam tekanan yang hebat.  Wajar bila Daud sempat putus asa dan mengeluh kepada Tuhan, “Berapa lama lagi, Tuhan, Kaulupakan aku terus-menerus?  Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?  Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari?  Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?”  (ayat 2-3).

    Ingatlah! Sahabat, pengalamannya bersama Allah yang penuh kasih dan setia membawa Daud pada pengharapan bahwa Allah akan melepaskan penderitaannya. Sebab itu, dengan keyakinan ia berkata bahwa kasih setia kepada Allah dan perjanjian-Nya saja ia percaya (ayat 6-a). Kasih setia tanpa syarat inilah yang menjadi kekuatan Daud untuk terus berseru kepada Tuhan. Ketika kita sedang menderita, hanya Tuhan yang mau mengerti isi hati dan keluh kesah kita. Di sinilah kita baru bisa semakin mengenal Allah dan membuat kita dapat berkata seperti Daud,  “kepada kasih setia-Mu aku percaya” (ayat 6a). Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk mengangkat segala penderitaan kita. (pg)

  • BERMAZMUR bagi ALLAH

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh semangat memuji dan memuliakan nama Tuhan. Sahabat,  Mazmur pamungkas (Mazmur 150) mengajak orang percaya untuk memuji Tuhan. Mazmur tersebut  mau mengatakan bahwa memang Tuhan itu layak dipuji. Dia yang kudus, yang menguasai cakrawala, yang perkasa dengan segala kebesaran-Nya. Dengan apa memuji Tuhan? Tentunya dengan segala yang ada pada kita. Dengan tubuh kita, melalui harta kita, dengan sikap dan perbuatan kita. Melalui segala aspek kehidupan ini, kita diminta untuk memuliakan Tuhan.

    Ajakan menyembah Tuhan merupakan kesempatan untuk menghayati ulang kebesaran dan kemuliaan-Nya, serta terkagum-kagum akan karya-Nya yang ajaib. Kalau motivasi kita keliru, atau penghayatan kita dangkal, atau kita ternyata sedang mendua hati dengan hal-hal dunia ini yang lebih menarik daripada dengan Tuhan, kita perlu bertobat! Lantunkan ulang Mazmur 150.

    Sahabat, mengapa kita harus memuji Tuhan di segala waktu?  Karena kita diciptakan Tuhan dengan tujuan memberitakan kemasyuran-Nya.  Tuhan berkata,  “umat yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyhuran-Ku.” (Yesaya 43:21)  Memuji Tuhan adalah perintah Tuhan, dan sebagai anak-anak-Nya kita harus taat melakukannya,   “Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.” (Ibrani 13:15) 

    Tuhan sangat menikmati puji-pujian yang dinaikkan oleh umat-Nya, karena itu Ia selalu hadir dan bertahta di atas pujian kita.  Meski berada di situasi sulit dan sepertinya kegelapan pekat mengelilingi hidup kita biarlah kita tetap memuji-muji Tuhan, karena ketika kita melakukannya Tuhan akan hadir melawat kita.  Kehadiran-Nya pasti membawa dampak luar biasa dalam kehidupan kita:  memulihkan, menyembuhkan, menolong bahkan memberkati kita.  Daud menulis,  “Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu.”  (Mazmur 147:1). 

    Sahabat, sebagai manusia Daud pun pernah dan sering mengalami masalah atau pun tekanan dalam hidupnya, namun ia tidak menjadi putus asa dan terus-menerus tenggelam dalam kepedihan, ia tetap dapat memuji-muji Tuhan.  Itulah sikap yang patut kita teladani. seperti yang dilakukan Daud.  “Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.”  (Mazmur 34:2). Memuji Tuhan tidak terbatas hanya pada saat kita beribadah di gereja saja. 


    Mari kita ubah keadaan yang buruk dan kepedihan hati menjadi sorak kemenangan dengan kuasa puji-pujian.  Masalah dan pencobaan boleh saja datang, tetapi sebagai orang percaya kita harus belajar untuk tetap mengucap syukur dan memuji-muji Dia.  Kalahkanlah kesedihan dan tekanan di hati kita dengan kuasa puji-pujian.

    Ingatlah! Sahabat, saat memuji Tuhan kita memberi kesempatan Tuhan menyatakan kuasa-Nya:  mengubah keadaan buruk menjadi kemenangan! Jangan pernah berhenti memuji dan menyembah Tuhan!  Karena itu pada saat kita dalam pergumulan, tekanan, dan kesakitan,  angkat hati Saudara dan pujilah Tuhan. Sebab saat kita memuji dan menyembah Tuhan, Tuhan sedang mengambil alih peperangan kita, artinya Tuhan berperang ganti kita.  Selamat ulang tahun ke-36 Sekolah Musik Christopherus. Teruslah mempersiapkan banyak anak Tuhan untuk menjadi pemuji dan penyembah Tuhan yang handal. (pg),

  • PESERTA PERTANDINGAN IMAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh semangat untuk mengikuti pertandingan iman. Sahabat, Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus (1 Korintus 9:24-27) menggambarkan bahwa kita sebagai orang percaya, bagaikan seorang atlet yang sedang berada di arena pertandingan. Kita masing-masing sebagai peserta bukan sebagai penonton. Bertanding untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.

    Sahabat, ada perbedaan mencolok antara peserta dan penonton.  Penonton paling mahir berkomentar, melontarkan kritikan dan hujatan terhadap peserta lomba karena ia hanya menonton, bukan turut bertanding.  Sedangkan bagi peserta lomba,  ia harus berjuang begitu rupa di gelanggang pertandingan, bermandi peluh dan tak jarang harus mengalami cidera di tengah pertandingan.  Ingatlah bahwa sebagai penonton sampai kapan pun tidak pernah berhak mendapatkan medali atau piala atau penghargaan lainnya;  yang berhak menerima adalah peserta pertandingan! 

    Rasul Paulus menggambarkan bahwa sesungguhnya kita sebagai orang percaya dalam kehidupan rohani harus ikut dalam pertandingan iman.  Yang membedakan antara pertandingan iman dan pertandingan di gelanggang olahraga adalah hadiah yang hendak kita kejar.  Dalam pertandingan iman, setiap peserta berjuang untuk mendapatkan mahkota yang abadi;  dan untuk mendapatkan mahkota yang abadi itu ada harga yang harus kita  bayar! 

    Rasul Paulus bersaksi,  “… aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.”  (1 Korintus 9:27).  Tuhan rindu memberkati anak-anak-Nya di segala bidang yang ditekuninya dan Ia berjanji untuk menambahkan semua berkat itu jika kita mau mendahulukan Dia dan kebenaran-Nya  (Matius 6:33).  Namun ukuran kesuksesan sejati orang percaya bukanlah berkenaan dengan berkat-berkat materi  (kekayaan, pangkat atau ketenaran), melainkan sebuah mahkota abadi yang akan Tuhan anugerahkan kelak.Sahabat, ada hal-hal yang harus diperhatikan saat kita menjadi peserta pertandingan iman:  kita harus menanggalkan beban dan dosa,  “Karena…marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.”  (Ibrani 12:1).  Coba bayangkan jika ada peserta pertandingan yang tetap memikul beban di punggung saat berlari!  Sampai berapa lama ia akan mampu bertahan?  Cepat atau lambat ia pasti akan mengalami kelelahan yang sangat dan kemudian menyerah di tengah jalan.  Beban berbicara tentang masalah dan pergumulan hidup ini.

    Ingatlah! Sahabat, mahkota abadi adalah ukuran kesuksesan yang sejati bagi orang percaya! Rasul Paulus harus mengalami penderitaan demi melayani Tuhan, bahkan pada masa tuanya ia harus sendirian berada di penjara dan akhirnya meninggal dipancung.  Menurut ukuran dunia ia bukanlah orang yang berhasil.  Tetapi menjelang akhir hidup Paulus dengan rasa bangga berkata,  “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”  (2 Timotius 4:7). Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk dapat memberi kekuatan kepada kita agar terus dapat berlari hingga garis akhir dengan selamat. (pg)

  • DISIPLIN DIRI

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh semangat menjalankan disiplin. Sahabat, disiplin harus dimulai dari diri sendiri, diawali dengan hal-hal kecil. Dengan terbiasa disiplin mulai hal-hal kecil sejak dini, kita akan memiliki pribadi yang penuh semangat dan lebih punya kemungkinan untuk  mencapai apa saja yang telah kita targetkan. Untuk hidup terbiasa dengan disiplin memang tidak gampang. Kita harus bisa bertempur mengalahkan diri sendiri. Sifat malas harus diberantas, dan bersedia banyak berkorban. Namun, semua itu akan terbayar begitu kita bisa meraih keberhasilan.

    Sahabat, Rasul Paulus sangat sadar akan keinginannya untuk dapat mengakhiri hidup dengan baik, seperti terungkap dalam    banyak tulisannya, salah satunya dalam 1 Korintus 9: 27, “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.”  Dia menulis ayat tersebut pada usia sekitar 50 tahun, ketika sudah melayani Tuhan selama kurun waktu 20 tahunan. Dia menyadari pentingnya disiplin agar hidupnya sendiri berhasil di mata Tuhan.

    Hasil riset Dr. Robert Clinton, seorang professor kepemimpinan  menyimpulkan, salah satu faktor yang menjadikan tokoh-tokoh pemimpin dalam Alkitab berhasil  adalah disiplin. Orang yang tidak disiplin akan berperilaku malas. Banyak menyia-nyiakan waktu, mencari kesenangan yang tidak bermanfaat. Orang demikian mudah jatuh dalam pencobaan. Seorang  pemimpin, tanpa disiplin, kinerjanya akan merosot. Perilaku tidak disiplin akan merusak karakternya.

    Sahabat, kata disiplin mengalami perkembangan makna dalam beberapa pengertian. Pertama, disiplin diartikan sebagai kepatuhan terhadap peratuaran atau tunduk pada pengawasan, dan pengendalian. Kedua, disiplin sebagai latihan yang bertujuan mengembangkan diri agar dapat berperilaku tertib.

    Disiplin memerlukan komitmen dan kerja keras. Dengan disiplin kita bisa mencapai target-target  yang kita canangkan. Salah satu kunci untuk dapat mencapai garis akhir dengan baik adalah menyelesaikan tugas demi tugas yang  kita emban dengan berkualitas.  Dengan disiplin tinggi kita akan dapat menjaga konsistensi kinerja dari satu tahap ke tahap berikutnya hingga selesai.

    Sahabat, disiplin memerlukan kebiasaan berpikir sebelum bertindak. Tanpa kesadaran, maka orang akan dikuasai apa yang tidak kita sadari. Di sini kedagingan gampang bermain. Dengan kesadaran, kita mempertimbangkan apa yang kita lakukan. Dari situlah perubahan-perubahan yang baik dimulai (Roma 12: 2). Dengan disiplin kita membangun kebiasaan-kebiasaan yang sehat.

    Kita perlu menjalankan disiplin dengan kesadaran diri, dengan demikian kita dapat menjalaninya dengan penuh sukacita. Disiplin bisa diumpamakan otot. Supaya tidak merosot dan semakin membentuk, otot perlu dilatih. Disiplin tidak seharusnya membuat kita menjadi orang yang kaku dan merasa benar sendiri.

    Ingatlah! Sahabat, dalam suratnya kepada Timotius (2 Timotius 2:1-7),  Rasul Paulus menggambarkan kehidupan orang percaya hendaknya seperti seorang prajurit (ayat 4), seorang olahragawan (ayat 5), dan seorang petani (ayat 6). Itu berarti untuk mencapai garis akhir dengan baik, kita harus mau berjuang, hidup dengan disiplin, mau berlatih, mau bekerja keras, tekun, dan sabar, Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong kita agar bisa mengakhiri perjalanan hidup kita dengan baik. (pg)

  • Mengalahkan KEKHAWATIRAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh damai sejahtera. Sahabat Khawatir adalah sikap berpikir yang berlebihan atau terlalu cemas dan takut tentang suatu masalah atau situasi yang tidak mengenakan. Kekhawatiran biasanya disertai dengan perasaan cemas, perasaaan tidak nyaman, panik, gugup, serta perasaan yang buruk dan mengganggu lainnya.

    Sahabat, semua orang pasti pernah khawatir!  Banyak hal yang menyebabkan orang khawatir:  Sakit yang sering kambuh dan tidak sembuh-sembuh, Pandemi Covid – 19 yang tidak kunjung selesai, bencana alam terjadi di banyak tempat dalam waktu yang hampir bersamaan, kebutuhan hidup sehari-hari  (sandang, pangan, papan), masa depan anak, dan masih banyak lagi. Sesungguhnya sesekali merasa khawatir adalah hal yang wajar dan sangat manusiawi, tapi jika kekhawatiran terus-menerus melanda tidak akan mendatangkan kebaikan, melainkan berdampak sangat buruk:  Hilang damai sejahtera dan sukacita, mudah terserang penyakit,  “Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang,”  (Amsal 12:25).

    Selain itu,  kita sebagai orang percaya hendaknya jangan sampai dibelenggu oleh kekhawatiran,  karena kekhawatiran adalah salah satu bentuk penjajahan Iblis.  Kekhawatiran membuat seseorang larut dalam kesedihan, murung sehingga sukacita dan damai sejahtera menjadi hilang.  Ingat, ketika kita khawatir berarti kita sedang meragukan kuasa Tuhan.  Sesungguhnya Tuhan tidak pernah memberikan roh yang mendatangkan kekhawatiran dalam hidup orang percaya.  Normalnya, hidup orang percaya adalah hidup yang terbebas dari rasa khawatir.  Itulah sebabnya Rasul Paulus menasihati,  “Aku ingin, supaya kamu hidup tanpa kekhawatiran.”  (1 Korintus 7:32-a). 

    Sahabat, Tuhan Yesus berkata,  “Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?”  (Matius 6:25). 

    Sedangkan Rasul Petrus menasihati,  “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”  (1 Petrus 5:7).  Jadi terbebas dari rasa khawatir adalah pilihan hidup karena kekhawatiran itu adalah serangan.  Dengan kata lain, ketika serangan kekhawatiran itu datang, dan tidak kita lawan, ia akan menjajah dan mengintimidasi kita.  Karena itu ketika serangan kekhawatiran itu datang kita harus bertindak dan melawannya dengan percaya kepada Tuhan.

    Lalu mengapa kita tidak boleh khawawir?  Karena itu merupakan perintah Tuhan dan kita pun harus mentaatinya,  “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”  (Filipi 4:6)

    Ingatlah! Sahabat, kalau kita menyerahkan dan memercayakan hidup dan segala permasalahannya kepada Tuhan, sesungguhnya tidak ada perkara yang perlu dikhawatirkan, sebab semua ada dalam kendali kuasa-Nya dan tidak ada sesuatu yang sulit bagi-Nya untuk bertindak menolong kita.  Yang perlu kita lakukan adalah datang kepada Tuhan melalui doa dan mengimani semua yang Ia sampaikan melalui firman-Nya. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong kita supaya kita dapat menikmati hidup berkemenangan. (pg).

  • Mengalahkan KETAKUTAN

    Selamat jumpa para Pengikut Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh percaya akan perlindungan dan pertolongan Allah. Sahabat, pada saat saya sedang menulis renungan ini, hujan deras sedang turun. Jujur, saya merasa takut. Saya takut kalau hujan deras ini berlangsung lama pada hari ini, maka akan semakin banyak daerah yang akan dilanda banjir.

    Sahabat, punya rasa takut adalah hal yang manusiawi dan wajar, tetapi jika kita terus hidup dalam ketakutan setiap hari adalah tidak wajar, apalagi bagi kita orang percaya.  Ketakutan yang terus dipelihara akan berdampak sangat buruk bagi diri sendiri, “Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku. Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul.”  (Ayub 3:25-26). 

    Daud mengalami ketakutan yang luar biasa ketika orang-orang Filistin menangkap dia di Gat.  Pengalaman tersebut ditulis oleh Daud dalam Mazmur 56:1-14. Daud menjadi sangat ketakutan sehingga meminta hikmat kepada Tuhan.  Satu-satunya cara agar ia dapat melepaskan diri dari raja Filistin adalah dengan berpura-pura menjadi gila,  “Sebab itu ia  (Daud)  berlaku seperti orang yang sakit ingatan di depan mata mereka dan berbuat pura-pura gila di dekat mereka; ia menggores-gores pintu gerbang dan membiarkan air liurnya meleleh hingga ke janggutnya.” (1 Samuel 21:13) 

    Daud sangat berhasil memerankan sebagai orang gila. Berikut reaksi raja Filistin ketika melihat Daud,  “Tidakkah kamu lihat, bahwa orang itu gila?  Mengapa kamu membawa dia kepadaku?  Kekurangan orang gilakah aku, maka kamu bawa orang ini kepadaku supaya ia menunjukkan gilanya dekat aku?  Patutkah orang yang demikian masuk ke rumahku?”  (1 Samuel 21:14-15).     

    Siapa pun orangnya pasti pernah mengalami rasa takut ketika menghadapi permasalahan yang berat.  Tak terkecuali Daud, meski ia dikenal sebagai seorang pemberani. Dialah satu-satunya orang  yang berani menghadapi raksasa Goliat dan mengalahkannya. 

    Sahabat, jika kita memperhatikan Mazmur 56, begitu berat pergumulan yang dihadapi Daud saat itu,   “… orang-orang menginjak-injak aku, sepanjang hari orang memerangi dan mengimpit aku!  Seteru-seteruku menginjak-injak aku sepanjang hari, bahkan banyak orang yang memerangi aku dengan sombong.  Sepanjang hari mereka mengacukan perkaraku;  mereka senantiasa bermaksud jahat terhadapku.  Mereka mau menyerbu, mereka mengintip, mengamat-amati langkahku, seperti orang-orang yang ingin mencabut nyawaku.”  (ayat 2, 3, 6, 7).

    Mungkin Daud berpikir bahwa saat itu ia akan mati dan tidak punya pengharapan lagi.  Namun ternyata ia luput dari kematian dan terbebaskan.  Itu semua karena campur tangan Tuhan.  Daud pun membuat suatu miktam, yaitu nyanyian berulang-ulang untuk menguatkan hatinya yang dapat kita baca di Mazmur 56.

    Ingatlah! Tuhan kita adalah Allah yang besar, jauh melebih semua masalah yang ada. Terkadang pikiran kita sendirilah yang mengecilkan dan meragukan Tuhan. Daud pun menjadi kuat ketika dia percaya kepada Allah, sehingga akhirnya dia dapat berkata,  “kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut.  Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?”  (ayat 5). Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menguatkan kita. (pg).