
Author: Christopherus
-
Tuhan Meninggikan ORANG yang RENDAH
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan dengan semangat kita memuji Tuhan dari sekarang sampai selamanya. Sahabat, kalau kita belajar dari kehidupan presiden kita saat ini, bapak Joko Widodo atau lebih dikenal dengan nama Jokowi, sangat luar biasa. Beliau bukan seorang Ketua Partai, bukan pula seorang jenderal, juga bukan keturunan ningrat, tapi diangkat oleh Tuhan menjadi Presiden Republik Indonesia yang ke-7.
Maka pada hari ini dengan penuh antusias saya mengajak Sahabat untuk menggali berkat dari Mazmur 113:1-9 di bawah judul: “Tuhan meninggikan orang rendah.”
Sahabat, sangat menarik, perikop tersebut dibuka dengan ayat 1 dan 2 sebagai berikut, ”Haleluya! Pujilah, hai hamba-hamba TUHAN, pujilah nama TUHAN! Kiranya nama TUHAN dimasyurkan , sekarang ini dan selama-lamanya.” Nah, itu artinya jangan tunggu sampai hari esok untuk memuji nama Tuhan tetapi mulailah sekarang dan untuk selama-lamanya. Tuhan tidak ingin kita berhenti memuji dan memuliakan nama-Nya. Tuhan ingin kita meninggikan nama-Nya, bahkan dalam setiap waktu kita, “Dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari, terpujilah nama Tuhan” (ayat 3).
Ayat berikutnya berbicara mengenai siapakah Tuhan itu? Coba kita simak ayat 4-6, “TUHAN tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit. Siapakah seperti TUHAN, Allah kita yang diam di tempat tinggi, yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi?” Dari 3 ayat tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa Tuhan adalah yang punya kuasa. Tuhan mengatasi segala bangsa dan Kemuliaan-Nya mengatasi langit.
Sahabat, pemazmur mengajak orang percaya untuk memuliakan Tuhan karena tidak ada allah lain seperti Allah Israel (ayat 5). Sebab langit adalah takhta Allah dan bumi adalah tumpuan kaki-Nya (ayat 4 dan Yesaya 66:1). Di sisi lain, Allah yang Mahatinggi juga adalah Allah yang peduli dengan ciptaan-Nya. Allah tidak duduk diam di surga tanpa berbuat apa pun. Sebaliknya, Ia dengan saksama mengamati, menyelidiki, mengatur, dan mencukupi kebutuhan ciptaan-Nya (ayat 6 dan Matius 6:25-32).
Selain itu, Allah mengangkat derajat dan martabat umat-Nya di mata bangsa-bangsa. Ia tidak membiarkan umat-Nya dipandang sebelah mata oleh para musuh mereka (ayat 7 dan 8). Ia mendudukan umat-Nya setara dengan bangsa-bangsa lain. Salah satu contohnya dapat ditemukan dari kisah Daud, Ester, Daniel, dan sebagainya. Bahkan untuk perempuan yang mandul pun diperhatikan oleh Allah. Ia mengembalikan kehormatan orang-orang yang dikasihi-Nya di hadapan sesamanya (9). Kebesaran Allah dapat terlihat pada kisah Sara dan Hana.Sahabat, dalam kisah-kisah di Alkitab, ada cukup banyak orang yang mungkin dipandang sebelah mata namun dipilih Allah untuk melakukan pelayanan besar. Misalnya Gideon, ia dipanggil sewaktu sedang mengirik gandum. Saul dipanggil saat sedang mencari keledai-keledai betina ayahnya yang hilang. Daud dipanggil saat sedang menggembalakan domba. Para rasul dipanggil saat mereka sedang menjala ikan.
Ingatlah! Sahabat. bukan tidak mungkin orang-orang yang dipandang bodoh dan lemah bagi dunia, dipilih dan dipakai Allah untuk melakukan perkara besar. Allah sanggup mengangkat mereka yang dianggap tidak memiliki keahlian untuk kemudian menempatkan mereka di tempat yang paling terhormat. Itulah cara yang kadang dipakai Allah untuk mengagungkan hikmat, kuasa dan kedaulatan-Nya. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk mengangkat anak-anak-Nya. (pg) -
Tempat PERTEDUHAN yang AMAN
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena Tuhan berkenan menjadi tempat perteduhan kita yang nyaman. Sahabat, pada musim hujan seperti saat ini, kadang kalau saya sedang mengendarai motor, tiba-tiba turun hujan, maka saya cepat-cepat cari tempat perteduhan yang cukup aman, biasanya saya cari emper toko yang cukup lebar atau halte bis kota. Tentu saya berusaha mendapatkan emper atau halte bis kota yang tidak bocor. Memang saya masih bisa melihat tetesan hujan yang turun dari langit. Saya masih bisa merasakan tiupan angin, dan kadang saya dapat melihat kilatan petir di langit dan suara guruh yang menggelegar, tapi yang penting saya tidak basah kena air hujan. Saya dapat berteduh sejenak dengan aman.
Sahabat, kehidupan kita di dunia bak satu perjalanan yang cukup jauh. Dalam perjalanan, tentu tidak selamanya lancar. Kadang kita menemui halangan, tantangan, kesulitan, dan bahaya. Demikian juga perjalanan hidup kita, badai kehidupan berupa: sakit penyakit, krisis keluarga, krisis keuangan, serta permasalahan lainnya bisa tiba-tiba datang menerpa. Itulah sebabnya, kita membutuhkan tempat perteduhan.Untuk itu saya mengajak Sahabat untuk menggali berkat dari Mazmur 91:1-16 di bawah judul: “Dalam lindungan Allah.”
Sahabat, sesungguhnya, kepada siapakah janji-janji Tuhan dalam perikop tersebut dialamatkan? Janji-janji Tuhan disampaikan kepada orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan yang Mahakuasa (ayat 1). Tempat perlindungan dan kubu pertahanan kita adalah Allah yang kita percayai (ayat 2). Kita harus tinggal dalam Kristus dan di dalam firman-Nya (Yohanes 15:7).
Selama kita masih hidup di dunia, kita tetap akan diperhadapkan pada berbagai ancaman kehidupan. Bedanya, ketika kita menjadikan Tuhan sebagai tempat perteduhan, kita tidak lagi merasa takut sebab semua itu tidak akan menimpa kita (ayat 5-7). Perlindungan Tuhan itu kuat bagaikan perisai dan pagar tembok. Akan ada rasa aman bagi setiap orang yang berada dalam naungan Tuhan sebab badai kehidupan tidak dapat menerobos masuk ke dalamnya (ayat 4, 9 dan 10).
Sahabat, bila kita tidak mau tinggal di dalam firman-Nya, kita akan menjumpai banyak kesulitan. Ada cukup banyak orang percaya yang mencoba-coba hidup di luar firman-Nya dan berpikir suatu saat kelak masih ada kesempatan kembali bertobat. Tetapi, kadang masalah sudah datang terlebih dahulu sebelum kita sempat kembali dan tinggal dalam tempat perlindungan; maka bertanya-tanyalah kita mengapa itu terjadi, mengapa Tuhan izinkan, bukankah Tuhan berjanji akan melindungi di bawah kapak-Nya dan kesetiaan-Nya seperti perisai dan pagar tembok.
Sekarang, marilah kita memeriksa diri apakah kita sudah tinggal di dalam Dia dan firman-Nya di dalam kita. Bila kita tidak tinggal dalam daerah perlindungan-Nya, ketika masalah terjadi secara bertubi-tubi menyerang kehidupan kita, itu bukan Tuhan yang ingkar janji. Apabila kita berjalan di jalur Tuhan dan melakukan kehendak-Nya, persoalan boleh saja datang, tetapi Tuhan pasti turut campur tangan dan membela kita. Dia berkata, “Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya.” (Ayat 15). Untuk beroleh pemeliharaan dan perlindungan-Nya kita harus karib dengan Tuhan dan hidup dalam ketaatan!Ingatlah! Sahabat, di tengah badai yang menggelora, Tuhan menjadi tempat perteduhan yang aman bagi mereka yang berlindung pada-Nya. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk melindungi kita. (pg).
-
CARI dan PIKIRKANLAH PERKARA yang di ATAS
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena kita telah dimampukan oleh Tuhan untuk membuat skala prioritas. Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita bahwa setiap manusia mempunyai jumlah waktu yang sama, setiap hari 24 jam. Sedangkan kita mempunyai jadwal kegiatan harian yang berbeda. Maka di dalam hidup ini kita perlu memiliki ketrampilan untuk menentukan skala prioritas dalam membagi perhatian, waktu, uang, tenaga, dan lain sebagainya. Selain itu kita juga perlu punya komitmen untuk memprioritaskan hidup kita untuk siapa.
Untuk itu mari kita belajar dari satu perikop yang saya ambil dari Injil Matius 6:25-34, dengan berfokus pada ayat 33, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”
Sahabat, kata carilah menunjuk kepada usaha yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh dan secara terus-menerus sampai mendapatkan sesuatu. Artinya, kita harus menempatkan Tuhan Yesus sebagai yang terutama dalam hidup ini; mengejar perkara-perkara rohani lebih daripada perkara-perkara yang ada di dunia. Rasul Paulus menasihati, “… carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi” (Kolose 3:1-2).
Lalu apa yang pertama yang harus kita cari di dalam hidup? Yang pertama dan terutama kita mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya. Apa itu Kerajaan Allah dan kebenarannya? Kita harus mencari hal-hal yang berkaitan dengan Allah sebagai prioritas di atas hal-hal yang di bumi. Kita harus mencari keselamatan yang disyaratkan Kerajaan Allah karena jauh lebih berharga daripada kekayaan duniawi. Selanjutnya kita perlu hidup taat kepada Tuhan dan membagikan kabar baik mengenai Kerajaan Allah kepada orang lain.
Sahabat, namun dalam kenyataannya, manusia lebih mengutamakan mencari harta, makanan, minuman dan pakaian seperti yang disebutkan pada ayat 25, daripada mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya terlebih dahulu (ayat 33). Perhatikan kalimat pada ayat 25-b, “Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” Secara sederhana, kalimat di ayat 25-b ingin mengatakan bahwa mereka yang hidup dan memprioritaskan mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya, itu sudah pasti akan mendapatkan makanan, minuman dan pakaian.
Selanjutnya, mari kita perhatikan pula kalimat “Pandanglah burung-burung di langit” pada ayat 26 dan kalimat “Perhatikanlah bunga bakung di ladang” pada ayat 28. Kedua kalimat di atas ingin mengatakan, bahwa jika burung-burung dan bunga bakung saja Tuhan pelihara, apalagi setiap orang yang memberi prioritas kepada Kerajaan Allah dan kebenarannya (ayat 30).
Ingatlah! Sahabat, Tuhan menghimbau kita sebagai orang percaya agar dalam hidup mengutamakan Tuhan lebih daripada yang lain. Menjadikan Tuhan prioritas utama dalam semua aspek hidup kita. Sahabat, coba simak, dalam doa Bapa kami, kalimat datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu ditempatkan lebih dahulu daripada berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. Kita tidak perlu bimbang dan ragu, janji Tuhan itu ya dan amin, kalau kita mendahulukan mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya (apa saja yang kita butuhkan untuk hidup) akan ditambahkan Tuhan kepada kita. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk dapat mencukupkan kebutuhan kita. (pg)
-
AJARAN itu CAHAYA
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena firman Tuhan telah menjadi terang bagi hidup kita. Sahabat, saat berkendara di malam hari, entah kita mengendarai sepeda motor atau mobil, kita menyalakan lampu untuk siapa? Jelas, utamanya untuk diri kita sendiri, agar kita bisa melihat keadaan di depan dengan lebih jelas. Untuk mengetahui apakah ada jalan yang berlubang, memberitahu pengendara lain saat kita akan belok atau berhenti, dan untuk menolong pengendara lain supaya dapat melihat posisi kendaraan kita. Terang sangat diperlukan dalam keadaan gelap, supaya kita tidak bertabrakan dengan pengendara lain, kita tidak jatuh karena masuk ke lubang yang lebar dan dalam, dan kita tidak tersesat masuk ke jalan yang salah.
Sahabat, hari ini saya mengajak belajar dari Mazmur 119:105-112. Daud mengibaratkan firman Tuhan sebagai penuntun hidupnya. Ia menggunakan firman Tuhan sebagai pelita tidak untuk menyoroti hidup orang lain, tapi dirinya sendiri, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (ayat 105). Saya belajar dari Daud, firman Tuhan yang saya baca dan renungkan, menyoroti hidup saya sendiri terlebih dahulu, kemudian saya tulis dan saya bagikan kepada sahabat saya.Daud sadar akan keadaannya yang dalam kesulitan, himpitan, kesesakan dan penindasan (ayat 107). Namun ia bersumpah akan menepati firman Tuhan dan berpegang pada hukum-Nya yang adil (ayat 106). Daud tidak melupakan firman Tuhan dalam kegelapan hidupnya, tetapi justru menggunakannya sebagai terang agar dia bisa dipulihkan kembali. Dia juga sadar bahwa Tuhan adalah penolongnya, yang tidak akan membiarkannya sendiri.
Sahabat, firman Tuhan bisa menjadi terang yang akan menunjukkan jalan guna menghindarkan kita dari kesesatan. Firman Tuhan menolong kita untuk bersikap kritis terhadap nilai-nilai dan filosofi-filosofi yang kelihatannya benar, tetapi sebenarnya keliru.Selain itu, saat ini cukup banyak orang di sekitar kita mengalami depresi dan putus asa, semakin banyak pasangan yang berpisah, bahkan banyak yang berniat mengakhiri hidupnya, sebab hidup terasa semakin gelap dan tak memiliki harapan. Semuanya bisa berubah dengan cepat. Di sinilah kita memerlukan firman Tuhan untuk menolong kita memahami hidup dan maknanya.
Bagi setiap orang yang senantiasa berjalan di dalam firman Tuhan apa yang dikerjakan dan dilakukan akan terlihat terang, “Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, …” (Mazmur 119:130). Firman Tuhan bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memerbaiki kelakuan dan mendidik kita dalam kebenaran, sehingga kehidupan kita akan selalu diperbaharui dari hari ke sehari, hingga semakin berkenan kepada Tuhan.
Ingatlah! Sahabat, karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan (Amsal 6:23). Firman Tuhan berguna menjaga jiwa dan juga menyelamatkan orang yang kehilangan pengharapan. Ketika hidup terasa berat dan gelap, kita membutuhkan terang dan kebenaran yang padanya jiwa kita dapat berlabuh dan mendapat ketenangan serta kedamaian. Karena itu mari kita mencintai firman Tuhan dan tekun mempelajarinya, sebab ia dapat menerangi, menyegarkan dan menyelamatkan kita. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan senantiasa punya cara untuk menuntun kita ke jalan yang benar. (pg) -
MENGEMBANGKAN SIKAP PUAS DI DALAM ALLAH
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena kita dapat hidup dengan rasa cukup. Sahabat, saya senang minum kopi hitam dengan sedikit gula. Satu hari cukup satu cangkir saja, tidak lebih. Minum kopi itu baik, tapi kalau berlebihan menjadi kecanduan, justru dapat mengganggu kesehatan kita. Saya senang bekerja keras, tapi tidak sampai menjadi kecanduan kerja (Workaholics). Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Bisa berdampak negatif. Segala sesuatu perlu kita kerjakan dan nikmati dengan secukupnya.
Hari ini saya mengajak Sahabat untuk belajar dari 1 Timotius 6:1-10, dan berfokus kepada ayat 9-10, “… mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”
Sahabat, saat membimbing Timotius yang masih muda, Rasul Paulus memeringatkan bahwa sifat cinta uang dan hasrat untuk menjadi kaya telah menyebabkan sebagian orang tersesat dan kehilangan arah hidup. Mereka takluk kepada beragam godaan dan terjerat oleh berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan (ayat 9). Paulus melihat cinta uang (bukan uang itu sendiri) sebagai akar dari segala kejahatan (ayat 10), terutama kejahatan berupa ketergantungan pada uang dan bukan ketergantungan pada Kristus.
Tuhan tidak melarang kita bekerja untuk mendapatkan penghasilan (uang) karena setiap manusia yang masih hidup di dunia membutuhkan uang di dalam hidupnya dan untuk hidupnya. Masalahnya ada cukup banyak orang yang kehilangan arah, lupa diri, mereka menghambakan dirinya kepada uang. Uang menjadi tuan mereka. Akibatnya mereka menggantungkan hidupnya kepada uang dan bukan kepada Tuhan.
Sesungguhnya Tuhan memberkati orang-orang yang beribadah dengan sungguh dalam kesalehan, namun Tuhan tidak ingin kita beribadah dengan motivasi yang salah, yaitu demi mencari keuntungan. Sebab, cinta uang adalah akar segala kejahatan dan dapat membuat seseorang menyimpang dari iman (ayat 10).
Oleh karena itu, Paulus mengingatkan Timotius dan jemaat Efesus agar mereka setia dalam pengajaran firman (ayat 2-b) dan mencukupkan diri di dalam segala perkara (ayat 6 dan 8). Karena, kita lahir dan mati tanpa membawa apa-apa (ayat 7). Dengan kesetiaan dalam firman dan rasa cukup dalam segala keadaan, maka umat Allah akan terhindar dari penyimpangan dan kedukaan (10), serta tetap teguh di dalam iman kepada Tuhan.
Ingatlah! Sahabat, dengan terus belajar melihat Kristus sebagai sumber dari segala yang kita miliki, kita akan menemukan kepuasan di dalam Dia dan bukan dari harta benda. Ketika kita mengejar kesalehan lebih daripada kekayaan, kita akan memperoleh sebuah kerinduan untuk selalu setia dengan segala sesuatu yang sudah kita terima. Kita dapat mensyukuri apa yang telah kita miliki. Dengan penuh kesadaran, marilah kita mengembangkan sikap puas di dalam Allah, dan dengan setia berserah kepada-Nya, karena Allah yang Maha Pemelihara akan menjaga kita senantiasa. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong kita agar selalu berkecukupan. (pg)



