Author: Christopherus

  • God Speaks Through His Word

    MAZMUR 19. Sahabat, dari beberapa sumber saya menemukan bahwa hal yang sangat diharapkan dari pengenalan akan sifat dan karakteristik dari firman Tuhan adalah takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan itu suci, tetap ada untuk selamanya. Pengertian suci, tidaklah sebatas bersih melainkan lebih dalam dari itu; suci artinya tetap ada untuk selamanya. Jika ada sebutan: Janji pernikahan adalah janji suci, maka hal itu berarti janji yang tetap ada, yang tidak akan berubah oleh hal apa pun yang terjadi. 

    Firman Tuhan dan takut akan Tuhan memiliki hubungan sebab dan akibat yang searah. Jika benar mengenal dan memahami firman Tuhan maka sesungguhnya akan tercipta sikap yang takut akan Tuhan. Kedua hal itu disebutkan dalam Mazmur 19 sebagai sesuatu yang lebih indah dari pada emas bahkan lebih indah dari emas tua; dan lebih manis daripada madu bahkan lebih manis dari madu tetesan sarang lebah. Firman Tuhan dan sikap takut akan Tuhan mengungguli keindahan dan rasa manis yang ada.

    Sedangkan ungkapan syukur kepada Allah atas firman Tuhan yang sempurna, tak boleh lepas dari permohonan pada perlindungan Tuhan atas banyak hal yang tidak sempurna dalam hidup ini. Banyak hal yang tidak sempurna dalam dunia ini, sehingga terjadi penyesatan oleh oknum-oknum tertentu yang ingin berkuasa. Bahkan diri kita ini adalah oknum yang tidak sempurna, karena akan mati dan mudah tergoda. Mari tetap menjaga diri kita agar setiap gerak langkah hidup tetap diperkenan oleh Tuhan.

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajr dari kitab Mazmur dengan topik: “God Speaks Through His Word (Tuhan Berbicara Melalui Firman-Nya)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 19:8-15. Sahabat, Tuhan berbicara kepada umat-Nya melalui firman-Nya. Firman-Nya menguatkan kita yang letih, juga menegur kita ketika langkah kita mulai serong. Firman-Nya menuntun kita untuk hidup seturut dengan kehendak-Nya. Bagian ini jugalah yang menjadi doa dari Pemazmur agar Tuhan selalu menuntunnya dengan firman-Nya sehingga hidup Pemazmur berkenan di hati Tuhan.

    Sahabat, berbicara mengenai menaati firman Tuhan, di satu sisi ada banyak orang percaya yang merasa kebebasannya hilang dan kesenangannya diambil sehingga memilih untuk hidup dalam keinginannya sendiri tanpa merasa bersalah. Ia tidak mau membiarkan firman Tuhan menuntun hidupnya sehingga ia pun kehilangan arah. Di sisi lain, ada orang percaya yang berusaha dengan gigih melakukan firman-Nya; tetapi, ketika mendapati dirinya gagal dan gagal lagi, ia merasa bersalah karena hidupnya tidak bisa memenuhi standar yang Tuhan inginkan. Mereka akhirnya putus asa dan menyerah.

    Melalui bacaan kita pada hari ini , di satu sisi, kita diingatkan bahwa ketika kita menaati kebenaran firman Tuhan, sukacita yang sesungguhnya akan memenuhi hati kita. Ketika kita hidup seturut dengan firman-Nya, kita menemukan kebebasan yang sejati. Hidup kita tidak lagi diikat oleh dosa, melainkan kita bisa melakukan kebenaran (Ayat 8-11). Di sisi lain, kita juga diingatkan untuk senantiasa mengevaluasi diri dan mengandalkan Roh Kudus untuk hidup seturut kehendak-Nya. Allah kita penuh rahmat dan pengampun, Ia tahu siapa kita. Ketika kita gagal, jangan menyerah, melainkan berusaha lagi dengan memohon pertolongan-Nya.

    Sahabat, mari kita bersyukur karena kita memiliki Allah yang mau menyatakan kehendak-Nya dan mau berkomunikasi dengan kita melalui Firman-Nya. Mari kita bersyukur karena Allah kita penuh rahmat dan maha pengampun serta selalu siap menolong kita yang mau sungguh-sungguh menaati firman-Nya. Dengan memahami hal ini, mari kita senantiasa berdoa seperti Pemazmur agar pikiran, ucapan, dan tindakan kita senantiasa dikoreksi oleh Tuhan sehingga hidup kita dapat berkenan di hadapan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Aturan dan sistem nilai itu diberikan Allah agar manusia menjadi mahkota ciptaan yang bermartabat dan memiliki makna dalam hidupnya. (pg).

  • Menggali Kehausan yang Sejati

    Saudaraku, Pada suatu pagi yang tenang, seorang laki-laki berjalan sendirian di tengah padang pasir yang luas. Matahari mulai menyengat, dan rasa haus perlahan-lahan menggerogoti tenggorokannya. Di kejauhan, dia melihat kilauan air. Dengan penuh harap, dia bergegas menuju kilauan itu, berharap menemukan oase yang akan menyegarkan tubuhnya yang lelah. Namun, saat dia tiba, harapannya hancur. Kilauan itu hanyalah fatamorgana, ilusi yang menipu matanya. Tak ada air, hanya pasir yang semakin menambah rasa hausnya.

    Kisah laki-laki di padang pasir ini bisa menjadi gambaran kehidupan banyak orang di zaman sekarang. Kita hidup di dunia yang menawarkan banyak sekali kilauan: Kekayaan, popularitas, dan kesenangan instan, yang terlihat seolah-olah bisa memuaskan kehausan kita. Namun, kenyataannya, semua itu seringkali berakhir seperti fatamorgana, meninggalkan kita dengan kehausan yang lebih dalam dan rasa kecewa yang tak terhindarkan.

    Di dalam kitab Yeremia, Tuhan menyampaikan keluhan-Nya terhadap umat-Nya: “Sebab dua kali umat-Ku berbuat jahat: mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor yang tidak dapat menahan air” (Yeremia 2:13). 

    Ayat tersebut menggambarkan bagaimana umat Israel, dalam upaya mereka mencari kepuasan, justru menjauh dari Tuhan dan memilih untuk menggali “kolam-kolam bocor” yang tak mampu memuaskan dahaga mereka.

    Kolam-kolam bocor ini bisa berbentuk apa saja dalam hidup kita. Mungkin itu ambisi yang tak ada habisnya untuk mencapai puncak karier, keinginan untuk memiliki harta yang melimpah, atau pencarian tanpa akhir akan pengakuan dari orang lain. Kita mungkin berpikir bahwa jika kita bisa mencapai hal-hal ini, kita akan bahagia dan puas. Tetapi, seperti halnya laki-laki di padang pasir, kita seringkali menemukan bahwa apa yang kita kejar ternyata tidak lebih dari ilusi. Bukannya merasa puas, kita justru semakin haus, merasa ada yang kurang, dan akhirnya, kita hanya merasa lebih lelah dan hampa.

    Namun, di tengah kehausan ini, ada kabar baik. Tuhan menyebut diri-Nya sebagai “sumber air yang hidup.” Dia adalah satu-satunya yang bisa benar-benar memuaskan kehausan terdalam dalam jiwa kita. Seperti yang dikatakan Yesus kepada perempuan Samaria di sumur, “Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya” (Yohanes 4:14). Air kehidupan yang ditawarkan Tuhan ini bukanlah ilusi, melainkan sesuatu yang nyata dan kekal.

    Mungkin dalam hidup kita, kita sudah terlalu sering menggali kolam-kolam bocor, berharap mendapatkan kepuasan dari hal-hal duniawi yang sementara. Tetapi, ketika kita berbalik kepada Tuhan dan minum dari air kehidupan-Nya, kita akan menemukan sesuatu yang jauh lebih besar. Kepuasan yang Dia berikan bukanlah sesuatu yang bisa ditemukan dalam kekayaan, ketenaran, atau hal-hal duniawi lainnya, melainkan kedamaian sejati, sukacita yang tak tergoyahkan, dan kasih yang tidak bersyarat.

    Sebagai manusia, wajar jika kita merasa haus, baik secara fisik maupun rohani. Tetapi, penting bagi kita untuk menyadari ke mana kita mengarahkan kehausan itu. Apakah kita akan terus mengejar fatamorgana yang tidak pernah bisa benar-benar memuaskan, ataukah kita akan datang kepada sumber air yang hidup, yang siap memberikan kepuasan sejati?

    Saudaraku, ketika kita memilih untuk menggali kehausan yang sejati, yakni mencari Tuhan dan mendekat kepada-Nya, kita akan menemukan bahwa apa yang kita butuhkan bukanlah hal-hal yang sementara, melainkan hubungan yang mendalam dengan Sang Pencipta. Di situlah kita akan menemukan air yang memuaskan, yang tidak pernah habis dan selalu tersedia, tidak peduli seberapa kering padang gurun kehidupan kita. (EBWR).

  • GAGAH MENGHADAPI MASALAH

    Saudaraku, ada tiga mekanisme yang umum dilakukan manusia untuk menyelamatkan dirinya dari tekanan berat dalam hidupnya, yaitu melarikan diri, menyalahkan pihak lain atau menyeret orang lain bersamanya.  Namun Yesus tidak mengambil ketiga mekanisme itu saat Ia berhadapan dengan masalah dan tekanan yang berat.  Mari renungkan Yohanes 18:1-11.

    Cara bertutur penulis Injil Yohanes memang unik. Dibandingkan dengan ketiga penulis Injil yang lain, Injil Yohanes lebih detail menjelaskan proses penangkapan Yesus yang penuh drama, tanpa ciuman Yudas sebagai petunjuk keberadaan-Nya.  Yesus langsung berhadapan dengan aparat bersenjata dan terus terang mengakui diri-Nya.  Dalam peristiwa itu makin nampak karakter Kristus yang gagah berani yang diidentifikasi dalam dua sikap-Nya :

    Pertama: Mengakui identitas kepada aparat bersenjata yang mencari-Nya.

    Yesus tahu apa yang akan Ia hadapi kalau Ia mengakui dirinya sendiri. Ia tak mengelak atau melarikan diri dari konsekuensi itu.  Ia menunjukkan kepada para pengiku-tNya tentang keberanian yang sejati, walau beberapa jam setelah itu Petrus tak mampu meneladani-Nya (Yohanes 18:17, 25, dan 27).

    Kedua: Meminta agar para pengikutnya tidak dilibatkan dalam ketegangan itu.  

    Ketegangan-ketegangan yang terjadi sebelumnya dengan para pemimpin agama membuat Yesus menyadari dampak negatif dari pelayanan-Nya dan Dia sadar semua orang di sekitarnya akan terdampak karena-Nya,  maka Ia meminta supaya para aparat itu hanya berurusan dengan Dia saja dan membiarkan para murid itu pergi (Yohanes 18:8).

    Alih-alih lari dari masalah, menyalahkan orang lain atau bahkan menyeret pengikut-Nya masuk dalam pusaran masalah yang dihadapi-Nya, Yesus  malah menunjukkan sisi gagah-Nya dengan keberanian menghadapi dan melindungi mereka.  Sikap ini kontras dengan Adam dan Hawa yang saling seret saat diminta pertanggung jawaban perbuatannya mengambil buah pengetahuan baik dan jahat (Kejadian 3:11-13), sikap umum manusia yang terdesak.

    Yesus meneladankan kepada para pengikut-Nya untuk menjadi pribadi yang tak pengecut karena Ia tahu panggilan hidup-Nya dan siapa yang mengutus-Nya.  Bila manusia menyadari panggilan hidup-Nya dan memercayai Dia yang mengutus mereka, maka manusia akan berani membayar harga dari iman percaya-Nya. 

    Saudaraku, mari belajar untuk MEMILIKI KEGAGAHAN  Sang Kristus yang berani menghadapi masalah tanpa menyalahkan situasi atau sesama apalagi menyeret orang lain dalam pusaran masalah.  Tuhan pasti menolong umat-Nya.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • God is our Leaning Back Up and Savior

    KESESAKAN. Sahabat, setiap orang pasti pernah mengalami situasi hidup dalam kesesakan. Sesak karena persoalan keluarga yang tak kunjung selesai, persoalan pekerjaan yang tidak menggembirakan, persoalan studi yang tidak berjalan dengan lancar, persoalan politik yang mengancam kita, dan lain sebagainya.

    Kadang ada rasa patah semangat, menyerah dan bahkan ingin segera keluar dari masalah dengan cara-cara yang negatif. Cara-cara negatif yang kerap disebut dengan jalan pintas antara lain: Mencuri, korupsi, bahkan mengakhiri hidupnya sendiri. Cara-cara seperti itu merupakan cara yang paling tidak disukai oleh Tuhan.

    Tuhan tidak pernah meninggalkan kita dalam kesesakan. Selama kita masih berjalan di jalan Tuhan, maka setiap ujian yang Tuhan izinkan terjadi, Tuhan akan turut memikulnya. Tuhan hanya ingin kita melalui setiap prosesnya dengan iman dan kesabaran agar beroleh kualitas yang luar biasa. Di dalam setiap kesesakan kita, Tuhan ada. Di dalam setiap jalan buntu yang kita alami, Tuhan akan buka jalan. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, sebab Dia adalah Allah yang setia.

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: God is our Leaning Back Up and Savior (Tuhanlah Sandaran dan Penyelamat Kita), Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 18:1-20. Sahabat, bacaan kita pada hari ini merupakan sebagian dari nyanyian syukur Daud kepada Tuhan ketika Tuhan telah melepaskan dia dari cengkeraman semua musuhnya dan dari cengkeraman Saul. 

    Itu berarti nyanyian syukur tersebut lahir dari pengenalan akan penyertaan dan pemeliharaan Tuhan atas kehidupannya. Apakah ucapan syukur kepada Allah itu penting? Hal itu tergantung seberapa jauh dan dalam kecintaan kita kepada Allah. Sebagai orang percaya, seharusnya setiap orang wajib menaikkan rasa syukur kepada Allah. Sebab rasa syukur adalah ungkapan terima kasih atas pemeliharaan Allah dalam kehidupan kita.

    Daud adalah pribadi yang selalu bersyukur kepada Tuhan atas segala hal yang menimpa hidupnya, apakah itu baik atau buruk. Rasa syukur itu diungkapkan Daud secara jujur. Dalam kejujurannya terpancar kasihnya yang dalam kepada Allah. Pertanyaannya adalah bagaimana Daud bisa memiliki perasaan syukur yang mendalam kepada Allah? Dalam hidupnya, Daud menjadikan Tuhan sebagai gunung batu, kubu pertahanan, tempat perlindungan, dan penyelamatnya. Artinya, Tuhan adalah satu-satunya tempat keselamatan yang kukuh, kuat, perkasa, dan abadi bagi Daud (Ayat 3).

    Ketika seseorang memanjatkan syukur, pasti ada pengalaman khusus yang dialaminya saat itu. Bagaimana dengan dengan Daud? Pengalaman apa yang membuatnya berulang kali bersyukur kepada Allahnya? Ia menyatakan bahwa Tuhanlah yang telah menyelamatkan hidupnya dari musuh, ketika tali-tali maut melilitnya, banjir-banjir jahaman menimpanya, dan lolos dari berbagai perangkap maut. Saat Daud dalam kesesakan dan berteriak minta pertolongan Tuhan, ia menjumpai bahwa Allah tidak pernah mengecewakan dirinya. Allah selalu mendengar seruan hatinya (Ayat 5-7).

    Bagaimanakah Tuhan menjawab Daud? Allah memperlihatkan keperkasaan dan kuasa-Nya. Kuasa Allah dilukiskan dengan pernyataan:  “… goncanglah bumi, dasar-dasar gunung gemetar” (Ayat 8), dan suara mengguntur di langit (Ayat 14). Semua kiasan tersebut membuktikan, betapa Allah sayang kepada Daud. Kasih Tuhan itulah yang memberikan Daud kekuatan untuk maju terus dalam iman dan pengharapan.

    Sahabat, kita PERLU TERUS BELAJAR BERSYUKUR.  Apa pun yang kita alami akan teratasi karena Tuhanlah SANDARAN  dan PENYELAMAT kita yang KUKUH. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Berserulah kepada TUHAN saat kita mengalami kesesakan maka Ia akan menolong kita. (pg). 

  • Prayers are the Strength of Believers

    DOA. Sahabat, ada ungkapan bijak yang menyatakan, “if you only pray when you’re in trouble, then you are in trouble (Jika kamu hanya berdoa ketika kamu dalam kesulitan, maka kamu sedang dalam kesulitan).” Sesungguhnya doa bukan hanya dipanjatkan pada saat seseorang merasa perlu atau ada dalam masalah dan pergumulan saja. Doa itu bukan suatu hal yang remeh dan merupakan nomer dua atau sekadar ritual untuk memperkuat keyakinan atas motivasi seseorang. 

    Mengapa orang percaya harus berdoa? Firman Tuhan memerintahkan kepada kita untuk berdoa. Tuhan melalui nabi Yesaya mengingatkan kita: “Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!” (Yesaya 55:6). Tuhan Yesus juga mengatakan suatu perumpamaan supaya murid-murid-Nya tidak jemu- jemu berdoa (Lukas 18:1). Rasul Paulus memberi nasihat: “Tetaplah berdoa.” (1 Tesalonika 5:17). 

    Kita dapat menarik kesimpulan bahwa doa adalah perintah Allah dan disertai janji Allah. Allah yang memerintahkan untuk berdoa adalah Allah yang berjanji akan menjawab doa dan permohonan setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam doa. 

    Coba kita simak dua ayat berikut: Pertama: Mazmur 50:15: “Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau,dan engkau akan memuliakan Aku”. Kedua,  Matius 7:7-8: “Mintalah,maka akan diberikan kepadamu; carilah maka kamu akan mendapat;ketoklah,maka pintu akan dibukakan kepadamu. Karena setiap orang yang meminta, menerima,dan setiap orang yang mencari, mendapat,dan setiap orang yang mengetok,baginya pintu dibukakan.” 

    Sahabat, Allah menginginkan agar setiap umat-Nya berdoa dan hal ini pun diajarkan oleh Tuhan Yesus  kepada para murid-Nya agar mereka berbicara kepada Bapa di surga saat mereka berdoa. Berdoa ialah berbicara dengan Bapa yang di surga. Ini merupakan persekutuan dengan Allah. 

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan tema: “Prayers are the Strength of Believers (Doa adalah Kekuatan Orang Percaya)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 17:1-15. Sahabat, dalam doa, kita bebas mencurahkan semua isi hati tanpa merasa akan disalahmengerti oleh Allah. Ia sangat peduli dan mau mengerti diri kita. Ia mau memberikan telinga-Nya untuk mendengarkan curahan hati umat-Nya. Di hadapan-Nya, semua orang sama nilai dan derajatnya. Ia bukan Allah yang tebang pilih. Ia sungguh adil adanya.

    Daud adalah pribadi yang mau belajar hidup berkenan kepada Allah. Dalam berbagai mazmurnya, kita melihat Daud merupakan figur yang suka berdoa. Daud menyampaikan doanya kepada Tuhan dengan kejujuran dan ketulusan, baik menyangkut kepribadiannya, orang-orang di sekitarnya, termasuk juga orang-orang fasik dan orang-orang yang memusuhinya.

    Saat berdoa, Daud berharap Tuhan mendengarkan seruan hatinya. Sebab apa yang diceritakan dan disampaikan kepada Allah itu benar. Ia tidak merekayasa cerita. Sebab Daud mengerti bahwa Allah itu mahatahu. Bahkan Daud mengatakan bahwa Tuhan menguji dan menyelidiki hatinya. Faktanya adalah Allah tidak akan menemukan kejahatan pada diri dan mulutnya. Karena Daud selalu berpegang pada firman-Nya (Ayat 3). Ia senantiasa menjaga perilakunya terhadap jalan orang-orang yang melakukan kekerasan.

    Dalam doanya, Daud memohon agar Tuhan menunjukkan kasih setia-Nya. Ia meminta agar Tuhan menyelamatkan dirinya dari para pemberontak. Ia berharap Allah mau menjaganya seperti biji mata-Nya dan menyembunyikannya dalam naungan sayap-Nya terhadap orang fasik (Ayat 8). Tanpa pertolongan Allah, Daud pasti hancur menghadapi gempuran para musuhnya, yang laksana singa siap menerkam. Dalam kondisi seperti ini, Daud berdoa agar Tuhan bangkit melawan mereka dan meluputkannya dari maut.

    Sahabat, teladan baik yang diberikan Daud patut  kita tiru dan adaptasi dalam kehidupan doa kita. Karena itu, berdoalah dengan ketulusan, kejujuran, dan sukacita. Sebab doa adalah kekuatan, sekaligus nafas, hidup orang percaya.  Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang doa?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mata hati yang benar akan mengarahkan kita pada jalan hidup yang benar. Bila fokus mata hati kita salah, sesatlah jalan kehidupan kita.  (pg).