Author: Christopherus

  • One Episode of Life

    LEMBAH KEKELAMAN. Sahabat, di Israel, di jalanan antara Yerusalem dan Yerikho, ada sebuah lembah yang disebut Lembah Kekelaman. Di zamannya,  Raja Daud mungkin telah melalui jalanan itu berkali-kali. Beberapa lembah di sepanjang jalan Yerikho menyempit di bagian dasar, dalamnya sekitar 243 meter. Satu-satunya waktu di mana kita bisa melihat sinar matahari ialah di waktu siang hari dan ketika matahari berada tepat di atas kepala. 

    Di dalam Alkitab, lembah seringkali dijadikan sebagai metafora untuk masa-masa sulit, masa kegelapan, keputusasaan, kekalahan, atau ketidakberdayaan. Lembah adalah bagian dari kehidupan.  Lembah tidak bisa dihindari. Saat ini kita bisa saja sedang mendaki keluar dari lembah kesukaran atau sedang berada di tengah-tengah kesukaran atau akan menuju lembah kesukaran lainnya, karena inilah yang namanya kehidupan. Kita tidak bisa menghindari lembah kesukaran, tetapi sebaliknya kita bisa melewati lembah itu  BERSAMA dengan TUHAN. 

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “One Episode of Life (Satu Episode Kehidupan)”. Bacaan Sabda diambil dari: Mazmur 23:1-6 dengan penekanan pada ayat 4. Sahabat, dalam bacaan kita pada hari ini,  Daud menggambarkan Tuhan sebagai Gembala yang baik. Dalam salah satu kutipannya Daud mengatakan: “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.”  (Ayat 4). Mungkin kita pernah berpikir: “Jika Tuhan itu Gembala yang baik, mengapa ada lembah kekelaman?”

    Dunia penuh dengan tantangan. Setiap saat kita mungkin dihadapkan pada masalah kesehatan, keuangan atau hubungan. Inilah yang disebut LEMBAH KEKELAMAN dalam hidup! Berita baiknya, dalam lembah kekelaman itu kita BERJLAN, bukan TINGGAL atau BERHENTI. Hal itu menunjukkan bahwa lembah kekelaman bersifat SEMENTARA! Ada batas kedaluwarsa bagi setiap persoalan kita. 

    Sahabat, tantangan yang kita hadapi hari ini mungkin tidak akan berarti di kemudian hari. Satu hal yang pasti, saat kita berjalan, kita tidak dibiarkan sendirian. Tuhan, Gembala yang baik, senantiasa BESERTA kita. Tuhan siap sedia menolong dan menyelamatkan kita. Inilah yang menjadi jaminan bahwa setiap persoalan, tidak peduli entah berat atau ringan, semua pasti akan DAPAT TERSELESAIKAN!

    Lembah kekelaman seperti apakah yang kita hadapi saat ini? Tidak perlu khawatir ataupun cemas! Yakinlah kita tidak akan selamanya ada di sana! Kita hanya berjalan melewatinya bersama Sang Gembala. 

    Tidak ada bahaya dapat mengancam kehidupan kita selama kita berjalan bersama Tuhan. Saat persoalan datang menerpa, katakan kepada diri sendiri: “Masalahku akan berlalu. Tangan Gembalaku akan menuntunku berjalan melewati lembah kekelaman sampai akhirnya mataku melihat sinar terang.” 

    Sahabat, LEMBAH KEKELAMAN seumpana SATU EPISODE KEHIDUPAN yang akan kita lewati bersama dengan Tuhan. Haleluya. Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat pahami dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 6?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Teruslah jalani lembah kekelaman bersama Tuhan, sebab TUHAN punya rencana dalam setiap lembah yang kita lewati. (pg).

  • Rely to God

    MAZMUR 22. Sahabat, Mazmur 22 menerangkan bahwa Mazmur ini dituliskan oleh Daud, seperti tertulis di ayat 1. “Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Rusa di kala fajar. Mazmur Daud”. 

    Menariknya sebagai sebuah pujian kepada TUHAN Pemazmur memulai nyanyiannya dengan ratapan-ratapan kehidupannya, tetapi kemudian diakhir dengan suatu pengharapan dan pujian akan kekuasaan TUHAN. Oleh karena itu, ketika membaca Mazmur 22, setidaknya kita dapat membaginya menjadi dua bagian. 

    Pertama menggambarkan ratapan dan permohonan Pemazmur akan perasaannya ditinggalkan oleh Allah (Ayat 1-22); sedangkan bagian kedua (ayat 23-32), menjadi ucapan syukur atau jawaban Pemazmur atas pemeliharaan Allah kepada umat-Nya di masa lalu dan akan datang, sekaligus menyatakan kedaulatan ALLAH atas dunia ini. 

    Bagian pertama itulah yang akan menjadi bahan renungan kita pada hari ini. 

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Rely to God (Bersandar pada Allah). Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 22:1-22. Sahabat, pergumulan hidup senantiasa terjadi dan dialami orang percaya. Sebab Yesus pernah mengatakan bahwa tekanan dan pergumulan iman akan dialami oleh para murid-Nya (Markus 4:17). Bagaimana sikap hati dan hidup orang percaya saat menghadapi pergumulan iman?

    Mazmur 22 merupakan buah perenungan Daud saat ia menghadapi pergumulan iman. Di satu sisi, ia mengakui bahwa Allahnya Mahakuasa. Namun, pada saat itu Allah terkesan “berdiam diri” (Ayat 2). Mazmur ini menyingkapkan dengan jelas bagaimana seorang percaya berseru kepada Tuhan dalam pergumulannya: ia berseru, tetapi tetap menyadari bahwa Allah berkuasa dan akan menyelamatkannya (Ayat 4, 9, 11, dan 22).

    Sahabat, keadaan seperti itu dapat menggoda orang percaya jatuh ke dalam jurang keputusasaan. Namun, Daud mengajarkan untuk menengadahkan iman ke surga dan melihat bagaimana Allah yang tidak pernah meninggalkan umat-Nya pada masa lampau, bagaimana mungkin Ia akan meninggalkan kita saat ini? (Ayat 4-6).

    Untuk sementara imannya dikuatkan, namun perasaan dapat menggoyahkan iman (Ayat 7-9). Maka Pemazmur mengajak kita melihat pada fakta, bukan kepada fenomena. Allah adalah Penolong umat-Nya sejak saat mereka masih tidak berdaya sebagai anak. Jadi, bagaimana mungkin Ia akan meninggalkan umat-Nya (Ayat 10-12)? 

    Di sinilah Pemazmur mendapatkan kekuatannya kembali bahwa Allah akan menolongnya demi kesetiaan-Nya (Ayat 21). Tugas kita adalah PERCAYA dan BERSANDAR kepada-Nya.

    Sahabat, masalah utama yang sering kali kita hadapi adalah ketidaksabaran menantikan waktu Allah. Kita mungkin sudah sangat lama mendoakan satu pokok pergumulan, dan kita belum mendapatkan jawabannya. Sebagaimana Pemazmur, kita bisa mengatasi kegalauan pergumulan kalau kita berani BERSANDAR kepada ALLAH. Renungkan karya Allah pada masa lalu dan berpeganglah kepada janji penyertaan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 10-12?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jika kesusahan dan sakit penyakit menghimpit kita, datang dan berserulah kepada Tuhan. Katakan kepada-Nya: “Tolonglah Aku, ya Tuhan!” (pg).

  • BERAWAL DARI KEBIJAKSANAAN

    Saudaraku, beberapa tahun lalu seorang selebritis Korea Selatan yang terkenal ditemukan meninggal di rumahnya dan diduga ia melakukan bunuh diri.  Beberapa jam sebelum ia bunuh diri, dia merekam video yang berisi curahan hatinya yang tidak tahan dengan komentar negatif di media sosialnya sehingga membuatnya sangat putus asa.  Kasus bunuh diri dengan alasan yang sama makin banyak dijumpai.  Lalu apa kata Alkitab tentang komentar negatif yang dilontarkan manusia?  Mari renungkan Yakobus 3: 5-10 dan Amsal 16:24.

    Rasul Yakobus memberikan pesan yang sangat penting berkaitan dengan interaksi antar manusia melalui peringatannya tentang fungsi lidah yang memiliki kekuatan yang dahsyat sehingga digambarkan bagaikan api yang bisa saja membakar segalanya bila tak dikendalikan (Yakobus 3:5).  

    Peringatan Yakobus diberikan kepada para pengajar yang perlu selalu berhati-hati dengan pengajarannya karena kata-kata seorang pengajar memiliki pengaruh kepada para pendengarnya.  Kata-kata memang dahsyat pengaruhnya dan itulah sebabnya manusia perlu hikmat untuk mengucapkannya.  Amsal menuliskan bahwa kata-kata yang baik akan dimiliki oleh orang yang bijaksana.  

    Bahkan lebih lanjut ia mengatakan bahwa perkataan yang baik bagaikan madu yang menyehatkan dan mengobati kelemahan (Amsal 16:24).  Ini menunjukkan korelasi antara kebijaksanaan dan perkataan baik yang memberi pengaruh yang baik pula.  

    Di zaman digital ini manusia perlu untuk memiliki kebijaksanaan sebelum ia melontarkan berbagai bentuk perkataan, baik yang diucapkan secara verbal maupun yang diketikkan dalam percakapan di berbagai platform media sosial.  Karena identitasnya tersembunyi maka seringkali manusia tak merasa bersalah saat ia merespons negatif sebuah unggahan di media sosial, sebenarnya ia sedang menyulut api yang bisa saja membakar habis sebuah relasi sosial dan bahkan memadamkan semangat orang lain. 

    Saudaraku, bila manusia ingin memiliki dampak yang baik bagi sesamanya maka penulis Amsal mengatakan bahwa setiap orang sebaiknya memiliki bijak dalam perkataan dalam bentuk apapun.  Kebijakan ini akan didapat manusia saat ia tunduk kepada Allah karena Dialah sumber segala hikmat dan pengetahuan (Amsal 1:7)

    Mari belajar untuk memiliki kebijaksanaan dalam mengucapkan perkataan ataupun menuliskan pendapat di dunia digital sehingga apa yang dikatakan dan dituliskan akan membangun dan menyehatkan untuk orang lain. 

    Saudaraku, mari menjaga relasi dengan Tuhan agar hikmat itu membuat perkataan menjadi berkat dan menguatkan orang lain.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • True Joy is the fruit of Faith Work

    SUKACITA SEJATI. Sukacita merupakan hal yang agak langka pada hari-hari ini. Mengapa? Karena beratnya himpitan ekonomi, banyak sekali orang kehilangan sukacita. 

    Apakah sukacita itu? Sukacita merupakan suatu kondisi hati yang meluap dengan syukur, bukan karena kondisi tetapi karena merupakan suatu kesadaran.

    Sukacita berbeda dengan gembira, senang, atau bahagia. Gembira, senang, atau bahagia timbul karena sesuatu yang terjadi di luar diri kita: Menang tender, mendapat kenaikan gaji, berhasil mendapat calon pasangan hidup, sembuh dari sakit kronis, dan lain-lain. 

    Sukacita jauh melebihi gembira, senang, atau bahagia. Sukacita adalah keputusan. Ya, suatu bentuk kesadaran kita untuk memutuskan bahwa kita memang ingin bersukacita, tanpa menghiraukan kondisi yang kita alami.

    Sumber sukacita ada di dalam hati kita. Ya, kita tidak perlu jauh-jauh mencari sukacita itu, apalagi harus membayar mahal. Biaya bersukacita adalah gratis. Karena sukacita merupakan sikap hati dan bukan kondisi, itu sebabnya dalam Alkitab diajarkan bagi kita untuk bersukacita, dan bukan bergembira. Sukacita merupakan suatu hal yang mutlak kita miliki. 

    Bagi orang percaya sukacita merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Semua persoalan boleh terjadi, namun sukacita adalah hak kita. Sudahkah kita memilih untuk bersukacita? 

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “True Joy is the Fruit of Faith Work  (Sukacita Sejati Merupakan Buah dari Karya Iman)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 21:1-14. Sahabat, sukacita merupakan sebuah ungkapan rasa ketika kita berhasil menggapai keinginan hati kita. Namun, pernahkah kita mengaitkan sukacita dengan pemeliharaan Allah secara nyata dalam hidup? Bagaimana kita mendapatkan sukacita sejati?

    Pemazmur menjelaskan perihal sukacita sejati ketika ia menguraikan keberhasilan seorang raja yang berjalan bersama Tuhan. Kebanggaan diperoleh bukan sekadar karena keberhasilan dalam kehidupan atau pun kemenangan dalam peperangan, melainkan semata-mata karena karya Allah dalam hidup orang beriman.

    Perhatikan bagaimana Daud menggambarkan peranan Allah dalam keberhasilannya, antara lain: Pertama,  sukacita datang dari Allah semata (Ayat 2-3); Kedua,  Allah menjadikan raja sebagai pengantara keberhasilan dan kemenangan-Nya (Ayat 4-7); Ketiga,  penyertaan dan pemeliharaan Allah ada bersama umat-Nya (ayat 8-14). 

    Berbagai kemenangan yang dialami Raja Daud (Ayat 3) menjadi dasar pujian umat kepada Allah (Ayat 7-12). Puji-pujian itu juga diarahkan kepada masa depan, yaitu ketika Allah hadir dalam penghakiman-Nya pada akhir zaman (Ayat 10-11). Selain itu, Raja Daud juga mengakui bagaimana Allah terlibat secara nyata dalam setiap pergumulan kehidupannya, termasuk dalam pemerintahannya. Itulah sumber sukacita yang sejati.

    Memang tidak mudah meletakkan segala orientasi hidup kita kepada Allah. Namun, oleh Kristus kita diberikan pemahaman tentang Allah yang benar dan ditunjukkan tentang keberadaan Allah secara nyata dalam hidup (Yohanes 1:18; 17:3). Jalan untuk mendapatkan sukacita hanyalah dengan menerapkan iman sejati dalam kehidupan keseharian.

    Sahabat, iman yang sejati akan menghadirkan sukacita karena karya Allah dalam hidup orang percaya. Persoalannya adalah apakah kita mendasarkan sukacita pada hal yang bersifat sementara, atau hanya untuk memuaskan keinginan mata dan kedagingan kita. Sesungguhnya, sukacita sejati adalah buah dari karya iman yang kita terima dari Allah! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang Sukacita Sejati?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Berserah merupakan tindakan iman kita bahwa Allah akan memelihara dan memberikan yang terbaik untuk hidup kita. (pg).

  • HE’s Just as far as Prayer

    MAZMUR 20. Sahabat, dari berbagai sumber saya mendapat informasi bahwa Mazmur pasal 20  dikategorikan pada genre Mazmur Raja. Syair ini mengungkapkan tentang permohonan bagi raja Israel, keyakinan atas karya Tuhan bagi raja, perbandingan dan hasil serta seruan untuk kemenangan raja. 

    Syair ini telah disajikan dengan berbagai karakteristik tertentu yang menunjukkan bahwa teks ini memiliki kualitas tersendiri sebagai teks syair. Ciri khas sebagai teks syair dalam pasal ini nampak pada kesejajaran atau perimbangan gagasan antar baris. 

    Keindahan teks syair pada pasal ini dikategorikan sebagai Mazmur Raja nampak pada pemilihan kata-kata kunci yang berhubungan dengan raja Israel, misalnya: Kesesakan dan membentengi (Ayat 2), rancangan (Ayat 5), memegahkan (Ayat 8) dan kemenangan (Ayat 5, 6 dan 9). 

    Keindahan lainnya nampak pada ciri teks syair dalam bentuk paralelisme sintesis (Ayat 3, 7) dan paralelisme antitesis (Ayat 8 dan 9). Syair ini diakhiri dengan sentuhan keindahan penutup yakni pengulangan pokok penting yang menjadi kebutuhan raja Israel, yakni kemenangan. 

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “HE’s Just as far as Prayers (DIA Hanya Sejauh Doa)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 20:1-10. Sahabat, satu-satunya sumber kekuatan bagi orang percaya dalam menghadapi kesulitan hidup adalah berdoa. 

    Salah seorang reformator, Martin Luther, pernah mengatakan bahwa menjadi orang percaya tanpa berdoa tidak lebih menjadi seorang yang hidup tanpa bernafas. Jika dilihat dari sisi medis, orang yang sudah tidak bernafas biasanya disebut sudah meninggal dunia. Kalau frasa “tidak bernafas” dikaitkan dengan kerohanian berarti sudah mati rohani. Atau dengan kata lain, hidupnya telah putus hubungan dengan Allah.

    Daud pun mengakui bahwa doa memainkan peranan penting dalam kehidupan jasmani dan rohani seseorang. Sebab doa bukan hanya menjadi sumber nafas kehidupan, tetapi juga motor penggerak utama bagi umat Allah untuk memperoleh perlindungan dan berkat Allah.

    Daud juga meyakini bahwa dalam doa terdapat kekuatan Allah. Wujud konkret kekuatan Allah terlihat bagaimana Allah memberikan kemenangan dalam setiap masalah yang dihadapi oleh umat-Nya. Hal itu tampak saat umat-Nya berada dalam kesesakan, Allah memberikan solusi dan meluputkan mereka dari bahaya. Karena itu, Daud tidak ragu-ragu mengajak bangsanya untuk berseru kepada Tuhan dan Ia hanya bisa ditemui dalam doa. 

    Sahabat, keyakinan Daud inilah yang memberikan harapan dan sukacita. Harapan dan sukacita itu pada akhirnya menjadi kekuatan bagi umat Allah untuk tidak takut dan gentar dalam menghadapi siapa pun. Sebab mereka menyadari bahwa Allah senantiasa bersama dengan umat-Nya. 

    Bahkan Allah tidak ragu-ragu turun tangan untuk berperang membela umat-Nya dari para musuh mereka. Semua pertolongan Allah ini membuat umat Allah dapat bermegah dan memuliakan nama-Nya.

    Sahabat, masihkah kita  berdoa setiap hari? Bagaimana kondisi hidup kita saat jauh dari Allah? Bertambah baik atau semakin buruk? Marilah kita bertobat dan bertekad kembali kepada Allah. Ia dapat ditemui sejauh doa. DIA hanya sejauh doa. 

    Karena dalam doa kita menemukan kekuatan, penghiburan, dan sandaran yang kukuh untuk berlindung. Bahkan melalui doa, Allah akan memberikan kita KEMENANGAN hari demi hari. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sesungguhnya kemenangan sejati atas pergumulan hidup kita hanya ada di dalam Tuhan. (pg).