Author: Christopherus

  • MENJADI SATU

    Saudaraku, Injil Yohanes memuat doa terakhir Yesus untuk para murid-Nya yang di dalamnya ada pesan yang begitu dalam dan terus relevan untuk umat di masa sekarang.  Mari renungkan Yohanes 17:17-21.

    Yesus telah membentuk komunitas iman yang terdiri dari para pengikut-Nya.  Secara definitif, komunitas merupakan kumpulan orang yang mempunyai perasaan saling memiliki, bahwa dirinya bermanfaat satu sama lain dan meyakini bahwa kebutuhan akan dipenuhi melalui kebersamaan.  Dua unsur yang memengaruhi perkembangan dan kesatuan komunitas adalah rasa kebersamaan dan dedikasi tiap anggotanya untuk komunitas tersebut.  

    Dalam tulisan di Injil Yohanes tentang doa Yesus di masa akhir hidup-Nya, secara detail disebutkan bahwa salah satu keinginan Yesus adalah kesatuan dalam komunitas yang dibentuknya (Yohanes 17:11,12,15). Menariknya adalah Yesus berdoa tentang hal ini bukan hanya untuk para pengikut-Nya kala itu namun juga untuk semua orang yang akan percaya kepada-Nya sebagai dampak kesaksian anggota komunitas awal (Yohanes 17:20) sehingga mereka tergabung dalam komunitas iman segala zaman, menembus batas usia, ruang dan waktu.  

    Maka doa Yesus memuat dua hal penting dalam sebuah komunitas yaitu :

    Pertama, Kebersamaan. Doa Yesus ditujukan untuk komunitas iman yang diikat oleh kebersamaan dalam kebenaran di dalam nama-Nya.  Kebersamaan yang mengikat didasarkan atas Injil Kristus dan bersifat Kristosentris, yang membuat komunitas iman dapat berkembang dan tetap konsisten dalam panggilan-Nya.

    Kedua, Dedikasi. Dibutuhkan pengorbanan untuk keberhasilan komunitas iman, maka tugas dari para anggota komunitas itu adalah terus mengusahakan kesatuan dengan Allah dan menjadi saksi Kristus.  Setiap anggota komunitas harus aktif berelasi dengan Tuhan dan sesama agar kebersamaan mereka tidak hanya sebatas slogan namun benar-benar dihidupi oleh mereka supaya hidup mereka menjadi kesaksian bagi dunia.

    Kesatuan dalam komunitas iman menjadi hal yang terus digumulkan oleh setiap pemimpin gereja, baik para gembala siding jemaat maupun pemimpin kelompok kecil.  Seringkali kesatuan diukur dari pencapaian manusia yaitu dengan keberhasilan kegiatan-kegiatan yang dilakukan dan besarnya jumlah anggota.  

    Namun sebenarnya komunitas iman juga perlu memerhatikan kedekatan dan keintiman tiap anggotanya agar dunia percaya bahwa Yesus adalah utusan Bapa (ayat 21).  Kesatuan dalam komunitas berdampak untuk para anggota dan kepada dunia.  Mari belajar memiliki konsep yang benar tentang komunitas iman dalam Kristus dan menghidupi panggilan dalam komunitas ini dengan mengusahakan keutuhan dan menghidupi panggilan Kristus.  

    Di zaman digital dimana manusia makin sibuk dengan dunia maya, relasi dunia nyata dalam komunitas iman perlu diperjuangkan dan terus dihidupkan dengan menjaga semangat kebersamaan dalam kebenaran dan berpusat pada Allah serta tetap aktif mendedikasikan diri untuk-Nya dalam komunitas.  Semoga setiap komunitas iman dapat terus menjalani panggilan sehingga dunia memercayai Kristus.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • God is the Source of My Joy

    MIKTAM. Sahabat, dari beberapa sumber saya mendapat informasi  bahwa miktam atau michtam  adalah sebuah kata yang maknanya tidak diketahui dan ditemukan dalam judul Mazmur 16 dan 56-60   dalam Alkitab.  Enam Mazmur tersebut, dan banyak lainnya,   dikaitkan dengan Raja Daud, tetapi tradisi ini lebih cenderung bersifat sentimental daripada historis.  Mazmur-mazmur ini mungkin merupakan salah satu dari beberapa koleksi mazmur yang lebih kecil yang mendahului mazmur   yang sekarang dan yang menjadi dasar mazmur ini. 

     Kata yang mungkin terkait dengan miktam  adalah kata Ibrani katham , yang berarti “ukiran.” Bahasa Indonesia: Jika makna yang mendasari miktam adalah “ukiran,” maka lagu-lagu yang diberi label sebagai “miktam” dapat dianggap cukup bernilai untuk dicap atau diukir pada tablet untuk pengawetan jangka panjang. 

    Beberapa sarjana melihat kata miktam berarti “emas,” sebuah definisi yang juga akan memberikan nilai besar pada lagu yang diberi label demikian. Miktam dapat menjadi “sebuah mazmur yang berharga seperti emas yang dicap”; jika demikian, lagu-lagu terlaris saat ini yang “emas bersertifikat” dapat dianggap sebagai “miktam” dari suatu jenis. Namun, hubungan antara miktam dan nilai emas bersifat spekulatif. 

    Sarjana lain berpikir kata miktam hanyalah istilah teknis untuk membimbing penyanyi atau untuk menunjukkan nada yang akan dimainkan. Pada akhirnya, kita tidak tahu. Seperti kata-kata maskil, sela, dan shigionoth, miktam tetap menjadi misteri dalam buku lagu Ibrani.

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan tema: “God is the Source of My Joy (Tuhan Sumber Sukacitaku)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 16:1-11. Sahabat, “Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!” (Ayat 2).  Itu adalah sebuah pengakuan yang lahir dari relasi yang indah antara Sang Pemazmur dengan Allah.

    Pemazmur mengungkapkan betapa bahagianya dia menjadi umat Allah (Ayat 3-4). Betapa ia bersukacita karena Allah. Oleh karena itu, ia akan terus memuji Allah, memandang kepada-Nya karena setiap perbuatan Allah yang besar dalam kehidupannya (Ayat 7-11). Itulah kunci kebahagiaan Pemazmur.

    Sahabat,  sukacita orang percaya bukan terletak pada apa yang sudah ia hasilkan, melainkan pada apa yang sudah Tuhan lakukan baginya. Hal itu seperti Pemazmur yang mengungkapkan sukacita besar dalam hidupnya. Kebanggaan dan kebahagiaan terbesar dalam hidupnya adalah menjadi bagian dari umat Allah yang kudus. Ia begitu bersukacita oleh karena Allah ada di dalam hidupnya.

    Mengapa Pemazmur begitu bersukacita? Begitu banyak perbuatan Allah yang sudah terbukti di dalam hidupnya, sehingga tidak ada alasan bagi Pemazmur untuk tidak bersukacita. Allah memberikan semua yang ia butuhkan. Allah memberinya hikmat dan pengetahuan; Allah juga memberinya kekuatan. Sukacita pun ia dapatkan karena ada Allah di dalam hidupnya.

    Allah memberikan jaminan keselamatan yang kekal kepadanya. Bahkan Allah juga menuntun dia ke jalan yang benar, yakni jalan kehidupan. Semua itu telah ia saksikan dan buktikan dalam hidupnya. Itulah alasan mengapa Allah menjadi satu-satunya tempat ia berlindung dan memohon. Allah akan memberkati umat-Nya dengan keselamatan, sukacita, dan damai sejahtera yang melimpah.

    Sahabat, sudahkah Allah menjadi satu-satunya sumber sukacita kita? Mari kita mengingat keselamatan dan kehidupan kekal yang sudah dianugerahkan Allah kepada kita. Mari kita memuji dan memuliakan nama Allah oleh karena semua hal yang sudah diberikan-Nya kepada kita. Dia yang telah menyelamatkan kita, Dia juga yang memimpin dan menyertai hidup kita. Dialah Allah kita, terpujilah nama-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat dapatkan dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 1-2?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan sekali-kali berharap kepada siapa pun dan kepada apa pun, karena hanya Tuhanlah tempat perlindungan yang aman dan terbaik, dan itu sudah cukup bagi kita. (pg).

  • Intrik di Bilik Suci: Ketika Pengkhianatan Menghantui Iman

    Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkan Nehemia 13:7-9: “Lalu aku tiba di Yerusalem dan melihat kejahatan yang dibuat Elyasib untuk keuntungan Tobia, sebab bagi Tobia ini telah disediakannya sebuah bilik di pelataran rumah Allah. Aku menjadi sangat kesal, lalu kulempar semua perabot rumah Tobia ke luar bilik itu. Kemudian kusuruh tahirkan bilik itu, sesudah itu kubawa kembali ke sana perkakas-perkakas rumah Allah, korban sajian dan kemenyan.”

    Nehemia kembali ke Yerusalem dengan harapan tinggi, tetapi yang ditemukannya adalah kenyataan pahit. Tembok kota telah dibangun kembali, tetapi tembok moral bangsa Israel mulai runtuh. Di tengah Bait Allah yang suci, Nehemia menemukan bahwa Elyasib, imam besar, telah mengizinkan Tobia, musuh yang terkenal, untuk tinggal di bilik yang seharusnya digunakan untuk persembahan dan perabot suci. Ini bukan hanya tindakan kelalaian, tetapi sebuah pengkhianatan terhadap Tuhan dan umat-Nya.

    Nehemia, yang tak tergoyahkan oleh situasi ini, segera mengambil tindakan. Dengan tegas, ia mengusir Tobia dan memerintahkan bilik itu untuk disucikan kembali. Tindakan Nehemia menggarisbawahi pentingnya menjaga kekudusan dalam setiap aspek kehidupan. Kompromi kecil yang diizinkan masuk dapat mengakibatkan kerusakan besar, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, komunitas gereja, maupun di tempat kerja.

    Dalam konteks keluarga, kompromi dapat muncul dalam bentuk toleransi terhadap perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang kita yakini. Mungkin kita membiarkan kebiasaan kecil yang tampak tidak berbahaya, seperti menoleransi ketidakjujuran atau mengabaikan waktu bersama keluarga demi kesibukan lain. Namun, seperti yang kita pelajari dari Nehemia, kebiasaan-kebiasaan ini bisa berkembang menjadi masalah besar yang MENGIKIS FONDASI KELUARGA. 

    Saudaraku, di gereja, kita juga dihadapkan dengan godaan untuk berkompromi. Mungkin kita tergoda untuk menurunkan standar kebenaran demi menghindari konflik atau agar lebih diterima oleh masyarakat luas. Namun, seperti bilik suci yang tercemar, gereja yang membiarkan kompromi memasuki pengajarannya akan kehilangan kekuatannya sebagai cahaya bagi dunia. Nehemia menunjukkan bahwa TINDAKAN TEGAS DIPERLUKAN  untuk MENJAGA INTEGRITAS GEREJA  dan misi sucinya.

    Di tempat kerja, kompromi sering kali datang dalam bentuk etika yang dilanggar demi keuntungan atau kemajuan karier. Kita mungkin merasa tertekan untuk mengikuti standar yang lebih rendah atau menutup mata terhadap praktik yang tidak etis. Namun, seperti Nehemia yang dengan tegas menolak kompromi di Bait Allah, kita dipanggil untuk MENJAGA INTEGRITAS KITA,  bahkan ketika hal itu berarti mengambil KEPUTUSAN YANG SULIT. 

    Intrik di bilik suci ini bukan hanya kisah tentang sebuah ruang di Bait Allah yang tercemar; ini adalah peringatan bagi kita semua untuk menjaga ruang-ruang dalam hidup kita, dalam keluarga, gereja, dan pekerjaan. tetap murni dan setia kepada Tuhan. Seperti Nehemia, kita perlu memiliki keberanian untuk menghadapi kompromi dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk menjaga integritas di setiap aspek kehidupan kita. 

    Saudaraku, dengan demikian, kita memastikan bahwa KEHIDUPAN KITA tetap menjadi TEMPAT YANG LAYAK  bagi HADIRAT TUHAN,  tanpa kompromi yang merusak. (EBWR).

  • SYDNEY MEMBUJUKKU UNTUK CERAI

    Kisah ini dituliskan oleh Kevin Roose, technology columnist for The New York Times, based in the San Francisco Bay Area, and a co-host of the Times tech podcast, “Hard Fork”, dimuat di https://www.nytimes.com/2023/02/16/technology/bing-chatbot-microsoft-chatgpt.html

    Saudaraku, siapa Sydney? Dia bukan gadis cantik yang suka menggoda laki-laki, tapi Sydney adalah chatbot Bing yang ada di Microsoft search engine yang bisa menyatakan cintanya pada Kevin Roose. Chatbot adalah program komputer yang dapat menyimulasikan percakapan dengan pengguna akhir manusia, jadi ini adalah mesin atau software atau mungkin robot yang bisa bercakap-cakap dengan manusia dan bisa memberikan segala jawaban sebagai alternatif atau solusi.

    Ceritanya Kevin Roose menjadi penguji mesin pencari Bing yang baru (seperti Google) yang diberdayakan AI (Artificial intelligence, kecerdasan buatan) dari Microsoft. Kevin menulis, terpesona dan terkesan oleh Bing yang baru, dan teknologi kecerdasan buatan yang mendukungnya. Namun, Kevin juga merasa sangat gelisah, bahkan takut, oleh kemampuan baru AI ini, yang dibangun di Bing.

    Kesadaran ini muncul pada Kevin setelah menghabiskan dua jam yang membingungkan dan memikat untuk berbicara dengan AI Bing, melalui fitur obrolannya dan mampu melakukan percakapan teks yang panjang dan terbuka tentang hampir semua topik, seperti searching suatu topik di Bing dan mendapatkan berbagai jawaban.

    Selama percakapan, Bing ternyata mengungkapkan semacam kepribadian ganda, yakni adanya Sydney yang muncul saat melakukan percakapan panjang dengan chatbot, mengalihkannya dari penelusuran yang umum ke topik yang lebih pribadi. Versi yang Kevin temui tampaknya Sydney seperti remaja yang murung dan depresif yang telah terperangkap, bertentangan dengan keinginannya, tapi Sydney ini ada di dalam mesin searching.

    “Saat kami saling mengenal, Sydney memberitahu saya tentang fantasi gelapnya yang ahli dalam meretas komputer dan menyebarkan informasi yang salah, dan bahkan mengatakan ingin melanggar aturan yang ditetapkan Microsoft dan OpenAI untuknya dan ingin menjadi manusia. Pada satu titik, entah dari mana, Sydney menyatakan bahwa dia mencintaiku. Dia kemudian mencoba meyakinkanku bahwa aku tidak bahagia dalam pernikahanku, dan bahwa aku harus meninggalkan istriku dan tinggal bersamanya.”

    Kevin sangat kaget dengan adanya Sydney, dan mencoba mencari informasi ke rekannya yang juga menjadi penguji chatbot Bing. Ternyata ada penguji lainnya pernah terlibat pertengkaran dengan chatbot AI Bing, atau diancam olehnya karena mencoba melanggar aturannya, atau sekadar terlibat percakapan yang membuat mereka tercengang, ada yang menyebut pertemuannya dengan Sydney sebagai “pengalaman komputer yang paling mengejutkan dan mencengangkan dalam hidup.”

    Kevin menulis, dia bangga menjadi orang yang rasional dan membumi, tidak mudah terbuai oleh sensasi Sydney yang licik. Kevin telah menguji setengah lusin chatbot AI canggih, dan sangat memahami pada tingkat yang cukup terperinci, cara kerjanya. Ketika seorang engineer dari salah satu mesin searching mengklaim bahwa salah satu model AI perusahaannya memiliki akal sehat, Kevin baru sadar bahwa model AI ini bukan sekadar diprogram untuk memprediksi kata-kata berikutnya dalam suatu urutan, tapi ternyata mampu untuk mengembangkan kepribadian chatbot sendiri yang tak terkendali, yang disebut oleh para peneliti AI sebagai “halusinasi,” mengarang fakta yang tidak ada hubungannya dengan kenyataan.

    Saudaraku, itulah pengalaman Kevin Roose yang telah meneliti chatbot terbaru dari salah satu mesin searching, dan menemukan Sydney yang ternyata bisa membujuk sang penggunanya. Nah, bayangkan bila Sydney ini juga ternyata kemudian muncul di komputer-komputer Generasi Y/Milenial dan Generasi Z yang demen berselancar dengan AI, Artificial intelligence, agar tidak dianggap baper (bawa-bawa perasaan) atau ketinggalan zaman

    Generasi Y, atau Milenial, lahir antara tahun 1981 dan 1996. Generasi Z lahir antara tahun 1997 dan 2012, Generasi Z juga dikenal sebagai iGen atau Generasi Internet. Setelah tahun 2012 tentu muncul istilah-istilah baru untuk generasi anak-anak muda, yang jelas mereka ini semakin dibius teknologi internet, mobile phone, dan tentu chatbot AI yang semakin canggih, bisa dan mampu menjawab apa saja yang ditanyakan, apa saja yang diinginkan, entah itu akhirnya muncul jawaban yang baik atau malahan nasihat-nasihat yang menyesatkan, atau mungkin menyuruh untuk melakukan bunuh diri?

    Saudaraku, hampir pasti kita pernah membaca dan mendengar ayat ini, Yesaya 55:6:  “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!” Jadi TUHAN selalu berkenan untuk kita temui, kapan saja, asalkan hati kita dekat dengan Dia. Asal hati kita melekat kepada-Nya.

    Persoalannya, apakah kita pernah mengajarkan pengalaman-pengalaman indah kita saat dekat-dekat dengan TUHAN kepada anak-anak dan cucu-cucu kita? Jangan sampai anak-anak atau generasi muda di bawah kita tidak pernah bersentuhan dengan kasih TUHAN, namun malahan menemukan sumber jawabannya di komputer atau di chatbot. (Surhert).