
Author: Christopherus
-
Keep Trusting God in Difficult Times
JALAN TUHAN. Sahabat, bagi orang-orang percaya segala jalan Tuhan adalah kasih dan kebenaran. Di dalam jalan-Nya ada cinta yang hangat, kasih yang memulihkan dan memuaskan hasrat kita, dalam kasih-Nya ada kesetiaan kepada kita. Orang yang siap menerima hadirat Allah setiap hari, akan mengalami Tuhan dan berkobar sepanjang waktu. Firman Tuhan menjamin, barangsiapa berpegang pada perjanjian dan peringatan-Nya, maka dia akan mengalami jalan Tuhan yang penuh kasih setia dan kebenaran.
Jalan kasih setia adalah jalan yang diberikan oleh TUHAN kepada manusia yang penuh dengan kasih setia. Jalan ini diberikan sebagai wujud kasih setia ALLAH. Wujud perhatian dan pembelaan ALLAH kepada orang-orang yang berpegang pada perjanjian ALLAH dan peringatan-peringatan-Nya.
Mengapa kasih setia harus diberikan? Karena tidak banyak orang yang tetap berpegang kepada jalan TUHAN. Jalan TUHAN seakan adalah beban. Jalan TUHAN seakan adalah tidak sesuai dengan kebutuhan. Jalan TUHAN adalah seakan tidak sanggup memberikan solusi atas persoalan-persoalan hidupnya, sehingga mereka lebih suka memilih jalan sendiri.
Segala jalan TUHAN adalah kasih setia. Artinya tidak ada malapetaka di dalam jalan TUHAN. Tidak ada kecelakaan atau kehancuran di dalam jalan TUHAN. Meski sering jalan TUHAN susah dimengerti dengan akal sehat. Kadang jalan TUHAN tidak sanggup kita mengerti. Tetapi apa pun yang terjadi, Firman TUHAN menyatakan bahwa segala jalan TUHAN adalah kasih setia.
Pengalaman hidup kita bercerita bahwa tidak mudah memahami dan mengerti jalan-jalan Tuhan itu, “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yesaya 55:8-9).
Karena tak mampu memahami jalan Tuhan, kita seringkali memaksa Tuhan untuk mengikuti kemauan, kehendak dan rencana kita, tetapi kita sendiri tidak mau mengikuti jalan-jalan Tuhan. Jalan Tuhan itu kadang sulit untuk dimengerti dan serasa tidak masuk akal.
Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Keep Trusting God in Difficult Times (Tetap Percaya Tuhan di Masa Sukar)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 25:1-22. Sahabat, pepatah lama mengatakan, “Sudah jatuh, tertimpa tangga pula”, kira-kira seperti itulah gambaran kondisi Daud. Dalam Mazmur 25, Daud berhadapan dengan orang-orang yang membencinya (Ayat 2, 19). Ia juga merasa kesepian dan menderita (Ayat 16). Ia berada dalam kondisi terdesak (Ayat 17). Ia sengsara dan mengalami kesukaran karena dosa (Ayat 18).
Bila kita mengalami seperti yang dialami Daud, kita mungkin akan putus asa, mengeluh, bahkan marah kepada Tuhan. Namun menariknya, Daud tidak merespons seperti itu. Ia memilih berdoa dan tetap percaya Tuhan di tengah kesukarannya. Perhatikan cara Daud menyatakan kepercayaannya kepada Tuhan: Kuangkat jiwaku (Ayat 1), kepada-Mu aku percaya (Ayat 2), Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari (Ayat 5), mataku tetap terarah kepada Tuhan (Ayat 15), aku berlindung kepada-Mu (Ayat 20), aku menanti-nantikan Engkau (Ayat 21).
Mengapa Daud tetap percaya Tuhan di masa sukar? Karena ia mengenal Allahnya. Ia mengenal bahwa Allah adalah penyelamatnya (Ayat 5), penuh rahmat dan kasih setia (Ayat 6), yang memberi kebaikan (Ayat 7), yang bergaul dekat dengan orang yang takut akan Dia (Ayat 14), yang peduli pada sengsara umat-Nya (Ayat 15-20). Kepada Tuhan yang demikian, Daud berseru. Oleh karena itu, di tengah kesesakannya, Daud mencari Tuhan (Ayat 4), terbuka pada ajaran-Nya (Ayat 5), memohon pengampunan-Nya (Ayat 7, 11), dan berharap pada penghiburan dan kekuatan-Nya (Ayat 16-19).Meski situasi hidup menyesakkan dada, tetapi Daud tetap percaya bahwa Allah akan menolong. Bahkan kepercayaan itu membuat Daud berseru kepada Tuhan untuk membebaskan umat Israel dari segala kesesakannya (Ayat 22).
Sahabat, dalam menjalani hidup, pengenalan kita terhadap firman-Nya dan pengalaman kita bersama-Nya akan memupuk kepercayaan dan kasih kita kepada-Nya. Nantikanlah Tuhan dan tetaplah percaya pada-Nya dalam segala keadaan, karena Dialah Allah Penyelamat kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
- Apa yang Sahabat pahami tentang Jalan Tuhan?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Berjalanlah dalam jalan Tuhan maka kita akan menikmati kasih setia- Nya. (pg).
-
King of Glory
RAJA KEMULIAAN. Sahabat, jika Mazmur 23 menyatakan bahwa Tuhan adalah Raja yang memelihara segala aspek kehidupan manusia, maka Mazmur 24 menyatakan bahwa Tuhan adalah Raja Kemuliaan.
Pernyataan bahwa Tuhan adalah Raja Kemuliaan menjadi penekanan dalam Mazmur 24 karena dinyatakan sampai 5 kali (Ayat 7-10). Tuhan berdaulat atas bumi dan isinya (Ayat 1-2). Ia juga berdaulat atas manusia (Ayat 3-6). Ialah Allah yang kudus, yang hanya dapat disembah oleh mereka yang bersih tangannya dan murni hatinya (Ayat 3-4). Ia adalah Raja yang penuh anugerah, memberikan berkat dan keadilan kepada orang yang diselamatkan-Nya (Ayat 5). Ia juga Tuhan yang perkasa, yang kedatangan-Nya dinantikan oleh pintu-pintu gerbang yang sudah berabad-abad lamanya menunggu-Nya (Ayat 7-10).
Dalam sejarah keselamatan, Mazmur 24 dapat dilihat sebagai mazmur yang diberikan untuk menyambut Allah ketika Daud memindahkan tabut ke Yerusalem (2Samuel 6). Daud mengerti bahwa yang menjadi raja besar bukanlah dirinya, melainkan Allah, Raja Kemuliaan yang bertakhta di atas Kerubim. Karena itu, Daud membawa tabut tersebut ke Yerusalem supaya Allah sebagai Raja Besar bertakhta di ibu kota kerajaan.Secara teologis, Mazmur 24 dapat ditafsirkan sebagai penyambutan terhadap Kristus sebagai Raja Kemuliaan ketika Ia datang untuk yang kedua kalinya nanti. Kristus akan berjalan masuk melalui pintu-pintu gerbang yang sudah berabad-abad menantikan-Nya. Ia akan disambut dengan meriah oleh umat-Nya yang dengan setia menantikan-Nya.
Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “King of Glory (Raja Kemuliaan)”, Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 24:1-10 dengan penekanan pada ayat 8. Sahabat, Mazmur 24 dimulai dengan pengakuan bahwa bumi dan segala isinya adalah milik Tuhan, dan seluruh alam semesta adalah hasil karyanya. Mazmur ini kemudian berbicara tentang orang yang dapat mendekati Tuhan, dan pada akhirnya, pintu gerbang dan pintu-pintu gerbang yang kekal akan terbuka bagi Raja Kemuliaan.Bacaan kita pada hari ini menyoroti pertanyaan retorik: “Siapakah itu Raja Kemuliaan?” yang dijawab dengan, “TUHAN, gagah dan perkasa, TUHAN, perkasa dalam peperangan!” (Ayat 8). Hal itu merujuk pada pengakuan akan kebesaran Tuhan sebagai Raja yang perkasa, yang memiliki otoritas mutlak atas segala sesuatu, termasuk kemenangan dalam peperangan.
Mazmur 24 memiliki kaitan dengan upacara memasuki Bait Suci di Yerusalem, di mana raja atau pahlawan perang membawa Tabut Perjanjian ke dalam kota dengan upacara kebesaran. Pertanyaan, “Siapakah itu Raja Kemuliaan?” mencerminkan kekaguman dan hormat terhadap kehadiran Tuhan yang gagah dan perkasa.
Sahabat, bacaan kita pada hari ini memberikan beberapa poin untuk kita renungkan:
Pertama, pengakuan akan Kebesaran Tuhan. Pernyataan ini adalah sebuah pengakuan tentang kebesaran Tuhan sebagai Raja Kemuliaan. Hal ini mengajak kita untuk merenungkan dan menghormati keagungan dan keperkasaan Tuhan dalam segala hal.
Kedua, kemuliaan Tuhan dalam pertempuran. Ungkapan “TUHAN, perkasa dalam peperangan” menyoroti bahwa Tuhan adalah penguasa yang memiliki kekuatan dan kemenangan mutlak, bahkan dalam situasi peperangan atau tantangan hidup. Hal ini bisa menginspirasi kita untuk menempatkan kepercayaan dan harapan kita pada Tuhan ketika kita menghadapi cobaan atau pertempuran dalam hidup.
Ketiga, refleksi atas pemimpin dan kepemimpinan. Pernyataan ini merujuk pada pemimpin-pemimpin manusia, seperti raja atau pemimpin perang, yang harus mengakui kekuatan dan kepemimpinan Tuhan di atas segalanya. Hal ini dapat memberikan dorongan untuk mencari pemimpin yang taat kepada Tuhan dan mengingat bahwa keberhasilan sejati datang dari-Nya.
Keempat, penghargaan terhadap kekuatan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Ungkapan “gagah dan perkasa” juga dapat mengingatkan kita untuk menghargai kekuatan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita. Meskipun Tuhan memiliki kekuasaan yang luar biasa, Ia juga peduli dengan kehidupan sehari-hari kita. Karena itu, renungan ini dapat membangkitkan rasa kagum, rasa hormat, dan kesadaran akan kehadiran Tuhan yang kuat dan mulia dalam hidup kita. Haleluya! Tuhsn itu baik. Bersyukurlah!
Berdasarkan hasil perenungan kita dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
- Apa yang Sahabat pahami dari frasa “Raja Kemuliaan”?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mari kita hidup dengan setia menantikan hari kedatangan Raja Kemuliaan. (pg).
-
HIDUP ADALAH PERJALANAN
Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkan Mazmur 119:105: “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”
Ada satu pengalaman menarik, saya pernah tersesat dengan seorang teman ketika menuju suatu tempat. Kami tersesat karena salah satu aplikasi yang kami gunakan, tidak bisa memberi arah yang benar. Alhasil bukannya kita sampai ke tempat yang kita tuju, justru kita disesatkan melewati jalan yang sangat sempit yang hampir membuat kami celaka.
Tentu saja pengalaman saya ini bukan satu-satunya. Mungkin Saudara-saudara juga pernah mengalami kejadian serupa, karena menggunakan aplikasi petunjuk jalan, yang justru menyesatkan perjalanan kita.
Hidup adalah sebuah perjalanan yang penuh dengan lika-liku, pilihan, dan tantangan. Dalam perjalanan ini, kita seringkali dihadapkan pada jalan yang penuh dengan ketidakpastian. Namun, kita bersyukur karena kita memiliki Firman Tuhan yang dapat kita gunakan sebagai pelita yang dapat menerangi, memberikan arah, bimbingan, dan kekuatan dalam langkah hidup kita.
Firman Tuhan berbeda dengan aplikasi petunjuk jalan. Walaupun sama-sama dapat memberikan arah, tetapi keakuratan Firman Tuhan 100% dan sudah teruji.
Renungkan !
Mungkin hari-hari ini kita sedang hidup dalam kebimbangan dan keragu-raguan. Banyaknya masalah yang terjadi, justru membuat kita jauh dari Sang Firman itu sendiri.
Masihkah kita memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan? Memiliki waktu pribadi dengan bersaat teduh setiap hari? Atau justru kita menggantikan Tuhan dengan hobi, kegiatan-kegiatan yang justru menjauhkan kita dari Sang Firman itu sendiri?
Hidup ini adalah sebuah perjalanan yang penuh dengan dinamika. Kadang kita menghadapi jalan yang terang dan mudah dilalui, namun ada kalanya kita juga berhadapan dengan jalan yang gelap dan penuh ketidakpastian. Mazmur 119:105 mengingatkan kita bahwa firman Tuhan adalah pelita yang dapat menerangi langkah-langkah kita. Dengan firman-Nya, kita tidak perlu takut tersesat atau salah langkah, karena Tuhan akan selalu memberikan kita petunjuk yang tepat pada waktu yang tepat.
Marilah kita selalu menjadikan firman Tuhan sebagai panduan utama dalam setiap langkah dan keputusan kita, agar perjalanan hidup kita senantiasa berada di jalur yang benar dan menuju kepada rencana-Nya yang indah. Amin, Tuhan Yesus memberkati.
Pesan:
Bagi Bapak, Ibu, kakak, adik, dan anak-anak yang ingin belajar musik dan vokal, silakan bergabung dengan Sekolah Musik Christopherus. Hubungi HP.: 081292081227. (Inthan).
-
Yang Terbatas di Tangan Yang Tak Terbatas:Belajar dari Kisah Gideon
Pernahkah Saudara merasa seperti pensil tua yang hampir habis? Terkadang, hidup bisa membuat kita merasa terbatas, terbatas oleh kemampuan, keadaan, atau bahkan oleh pandangan orang lain terhadap kita.
Ada sebuah pelajaran luar biasa yang bisa kita ambil dari sebuah pensil biasa. Pensil, meski tampak sederhana, bisa menjadi alat untuk menciptakan karya seni yang luar biasa jika berada di tangan seorang maestro. Demikian juga dengan hidup kita, ketika kita menyerahkannya ke tangan Tuhan yang tak terbatas, hidup kita yang tampak terbatas bisa berubah menjadi luar biasa.
Kisah Gideon dalam Alkitab adalah salah satu contoh terbaik tentang bagaimana Tuhan mengubah yang terbatas menjadi alat yang luar biasa. Gideon adalah seorang yang sangat biasa, mungkin lebih dari biasa, dia merasa dirinya paling kecil dan paling lemah di antara bangsanya.
Dalam Hakim-Hakim 6:15, dia mengungkapkan keraguannya kepada Tuhan, “Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan aku pun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku.”
Gideon melihat dirinya seperti pensil yang tumpul dan pendek, tidak berguna untuk menulis cerita yang hebat. Namun, justru di saat itulah Tuhan datang dan memanggilnya untuk melakukan sesuatu yang besar.
Saudaraku, mari kita ambil ilustrasi sederhana: Bayangkan sebuah pensil kecil yang hampir habis dan sudah tumpul. Pensil itu sendiri mungkin merasa tidak berguna lagi, namun ketika seorang seniman hebat mengambilnya, dia bisa mengubah lembaran kertas putih menjadi karya seni yang mengagumkan.
Demikian juga dengan Gideon. Ketika Tuhan memegang hidupnya, Tuhan mengubahnya menjadi seorang pemimpin besar yang menyelamatkan bangsa Israel. Hal ini menunjukkan bahwa keterbatasan kita bukanlah penghalang bagi Tuhan untuk melakukan karya besar melalui hidup kita.
Rasul Paulus juga pernah mengalami hal yang sama. Dalam 2 Korintus 12:9, Paulus menulis, “Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ‘Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.’”
Di sini, kita diajak untuk menyadari bahwa dalam kelemahan kita, kuasa Tuhan bisa bekerja dengan cara yang jauh melampaui pemahaman kita. Seperti pensil yang tampak lemah, namun di tangan Tuhan, kita bisa menjadi alat yang menghasilkan sesuatu yang luar biasa.
Ketika Tuhan memanggil Gideon, Dia tidak melihatnya sebagai orang yang lemah atau terbatas. Tuhan melihat potensi yang besar di dalam diri Gideon, potensi yang hanya bisa terwujud jika Gideon bersedia menyerahkan dirinya sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan. Tuhan berkata kepada Gideon, “Pergilah dengan kekuatanmu ini dan selamatkanlah orang Israel dari cengkeraman orang Midian. Bukankah Aku mengutus engkau?” (Hakim-Hakim 6:14).
Ini adalah momen penting di mana Tuhan mulai menulis cerita baru dalam hidup Gideon. Sama seperti seorang seniman yang mulai menggambar, Tuhan mulai menggoreskan rencana-Nya melalui hidup Gideon.
Hal yang sama berlaku bagi kita. Mungkin kita merasa hidup kita biasa saja, atau bahkan tidak berarti. Namun, dalam Yeremia 29:11, Tuhan berkata, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”
Saudaraku, Tuhan memiliki rencana yang indah untuk setiap dari kita, meskipun kita merasa terbatas atau tidak cukup baik. Seperti pensil di tangan seorang seniman, hidup kita ada dalam rancangan Tuhan yang sempurna.
Puncak dari kisah Gideon adalah ketika dia memimpin pasukan yang sangat kecil, hanya 300 orang, melawan ribuan tentara Midian. Secara manusiawi, ini adalah misi bunuh diri, sebuah pertempuran yang tidak mungkin dimenangkan. Namun, Tuhan tidak membutuhkan banyak orang atau kekuatan yang besar. Dia hanya membutuhkan hati yang taat dan bersedia dipakai.
Sama seperti pensil yang mungkin tidak menyadari bahwa dia sedang digunakan untuk menciptakan sebuah mahakarya, Gideon juga mungkin tidak menyadari bahwa Tuhan sedang melakukan sesuatu yang besar melalui dirinya.
Dalam 1 Korintus 1:27, tertulis, “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat.” Tuhan sering kali memilih yang lemah dan terbatas untuk menunjukkan betapa besar kuasa-Nya. Gideon, yang merasa dirinya tidak layak, akhirnya menjadi alat yang luar biasa di tangan Tuhan.
Kesimpulannya, mungkin saat ini Saudara merasa seperti hidupmu adalah pensil kecil yang tumpul dan hampir habis. Tapi ingatlah, di tangan Tuhan, Sang Maestro, hidupmu bisa menjadi alat yang luar biasa untuk karya-Nya. Tuhan bisa memakai setiap kita, seperti Dia memakai Gideon, untuk melakukan hal-hal besar. Jangan pernah meremehkan dirimu sendiri, karena di tangan Tuhan, keterbatasanmu bisa menjadi kekuatan yang memuliakan nama-Nya.
Marilah kita serahkan hidup kita kepada Tuhan, seperti pensil yang diserahkan kepada seorang seniman. Biarkan Dia yang menggambar dan menulis cerita hidup kita. Tidak peduli seberapa terbatasnya kita, di tangan Tuhan yang tak terbatas, kita bisa menjadi berkat dan menciptakan sesuatu yang indah dan bermakna. Percayalah, Tuhan punya RENCANA BESAR BAGI HIDUPMU! (EBWR).
-
LEMAH SAAT MARAH
Saudaraku, titik terlemah manusia bukan pada kemiskinan atau ketimpangan melainkan saat ego yang terusik dan memicu kemarahan tak terkendali. Sejarah mencatat banyaknya kematian diakibatkan hal ini. Mari ikuti salah satu kisahnya dengan merenungkan dari Yohanes 19:1-16.
Pilatus memang licik. Ia sengaja mengulang kata yang membuat para imam Bait Suci alergi terhadap Yesus untuk membuat mereka makin marah dan brutal. Kata itu adalah “raja Yahudi”. Pilatus dengan jitu memanfaatkan orang-orang yang marah itu dan hingga pada akhirnya terlontar kalimat yang haram diucapkan oleh orang yahudi biasa sekalipun yaitu Kami tak punya raja selain Kaisar (Yohanes 19:15).
Kalimat tersebut janggal mengingat kolotnya pemikiran pemimpin agama Yahudi yang haram untuk tunduk di bawah Kaisar Romawi dan bahkan rela mati dibandingkan tunduk kepadanya. Tapi Pilatus berhasil menggoyangkan prinsip dan akal sehat mereka sehingga mereka bahkan mengatakan hal yang diharamkan oleh mereka sendiri, membelakangi prinsip suci mereka untuk hanya tunduk kepada Tuhan dan bahkan mengkhianati Taurat.
Wow … betapa lemahnya orang yang sudah dibakar kebencian dan kemarahan, saat egonya diobarak abrik oleh orang lain sehingga ia bahkan tak mampu berpikir logis dan benar. Penulis Amsal mengingatkan bahwa orang yang tak dapat menahan diri bagaikan kota yang runtuh temboknya (Amsal 25:28). Ego yang terhina menimbulkan kemarahan, menggerogoti penguasaan diri dan pada akhirnya membobol benteng kewarasan sehingga mereka menjadi lemah untuk dimanfaatkan. Kemarahan selalu membawa kelemahan.
Berhati-hatilah dengan usikan ego yang menimbulkan kemarahan yang meledak karena saat itulah manusia berada di titik terlemahnya karena ada banyak prinsip ditanggalkan, dijual dan dikhianati olehnya. Para imam Yahudi yang terkenal kuat menjaga prinsip dan independensi, terbukti telah masuk dalam jebakan Pilatus dan mengakui Kaisar sebagai raja. Daripada mengakui anak tukang kayu sebagai raja, lebih baik dikuasai kaisar. Mungkin itu cara berpikirnya.
Betapa berbahayanya kebencian dan betapa dahsyatnya daya lebur kemarahan sekaligus menunjukkan betapa lemahnya manusia yang marah sehingga ia kehilangan kekuatannya sendiri. Oleh karena itu nasihat Rasul Paulus yang mengatakan saat kemarahan menguasai, jangan sampai pada akhirnya berbuat dosa (Efesus 4:26) menunjukkan betapa lebarnya jalan kepada pelanggaran dan lemahnya manusia saat logikanya dirampas dan dikuasai oleh api amarah.
Saudaraku, logika dan prinsip menguatkan dan menyeimbangkan manusia namun KEMARAHAN bisa MENGHABISINYA dalam SEKEJAB, bahkan ia bisa mengambil Langkah yang ditolaknya sendiri dalam kondisi biasa.
Hidup bukanlah mudah, marah adalah hal yang biasa ditemui sebagai respons ketidak puasan manusia. Namun berhati-hatilah Ketika memutuskan untuk marah dan meletupkan kebencian karena saat itu adalah saat genting hilangnya logika dan terbukanya kesempatan untuk berdosa dan bahkan dikendalikan orang lain.
Saudaraku, tetaplah mohon Roh Kudus memimpin sehingga mampu MENJAGA LOGIKA KETIKA MARAH MELANDA. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)



