Author: Christopherus

  • UNIK: Kekuasaan dan Kemurahan

    Sahabat, salah satu sifat manusia adalah kagum akan hal-hal yang unik, yang khas, yang khusus, yang spesial. Sesuatu yang unik akan bernilai lebih, dan keunikan itu kita sematkan pada sesuatu yang tidak ada bandingannya. Pernahkah kita merenungkan seberapa unik Allah kita?

    Untuk lebih memahami topik tentang “Unik: Kekuasaan dan Kemurahan”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 147:1-20. Mazmur haleluya yang kedua ini unik karena disusun menjadi tiga bagian (Ayat 1-6; 7-11; 12-20) yang masing-masing bisa berdiri sendiri. Lebih unik lagi, mazmur ini menyatu dengan tema kekuasaan dan kemurahan Tuhan atas Yerusalem (ayat 2, 12) dan atas seluruh alam ciptaan-Nya (ayat 4, 8-9, 15-18).

    Bagian pertama, pujian kepada Tuhan dikumandangkan karena Dialah yang telah membangun kembali Yerusalem serta mengumpulkan umat-Nya yang telah tercerai berai oleh karena pembuangan. Segala sakit hati umat yang tertindas oleh musuh telah dihapus (ayat 3), sebaliknya para musuh sudah dikalahkan (ayat 6). Di tengah bagian ini (ayat 4), pujian diarahkan pada karya penciptaan-Nya. Penggabungan dua motif ini mungkin dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Sang Penebus Israel tidak lain ialah Sang Khalik alam semesta, Dialah satu-satunya Allah yang mengatasi segala ilah lain yang disembah bangsa-bangsa!

    Bagian kedua, fokus pada karya Allah sebagai pemberi hidup bagi segala makhluk (ayat 8-9), termasuk manusia (ayat 10). Terutama kepada manusia, yang diciptakan unik karena bisa merespons karya-Nya secara pribadi, Allah menghendaki kesetiaan dan kebersandaran penuh (ayat 11).

    Bagian ketiga, kembali pada motif pertama yaitu karya-Nya atas pemulihan Yerusalem pasca pembuangan. Kali ini motif penciptaan terutama diarahkan pada pemeliharaan-Nya. Sang Penebus ialah Sang Pemelihara umat-Nya. Kalau alam ciptaan, dipelihara-Nya, terlebih lagi manusia. Kita diingatkan ajaran Yesus agar tidak khawatir akan sandang-pangan-papan karena burung dan bunga pun dipelihara-Nya (Matius 6:25-34).

    Allah yang kita sembah di dalam Alkitab adalah Allah yang tidak dapat dibandingkan dengan apa pun di dunia ini (Yesaya 46:5). Maka, memuliakan Allah adalah sikap dan tindakan yang seharusnya muncul secara alami dari dalam diri kita.

    Pemazmur menegaskan bahwa semua tindakan Allah dikerjakan semata-mata oleh kedaulatan-Nya, tanpa meminta nasihat dari ciptaan-Nya. Maka, satu-satunya respons yang tepat adalah: “Haleluya!” (ayat 1, 20). Pujian inilah yang mengawali dan mengakhiri Mazmur 147.

    Sahabat, temukanlah keunikan Allah yang kita sembah melalui pembacaan dan perenungan kita pada hari ini. Semoga Sahabat sudah menemukannya dan berkenan untuk menuliskannya secara singkat serta membagikannya. Tuhan memberkati. (pg)

  • BERUBAH dan BERBUAH

    Sahabat, keberadaan orang percaya di tengah dunia  sebagai garam dan terang dunia  (Matius 5:13-16).  Artinya kita harus bisa menjadi berkat dan kesaksian bagi orang-orang dunia.  Bagaimana kita bisa menjadi berkat dan kesaksian bagi mereka, bila hidup kita tidak menunjukkan perubahan dan masih mengenakan manusia lama?  Padahal di dalam Kristus, kita adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. (2 Korintus 5:17).

    Adapun tanda bahwa kita  ciptaan baru di dalam Kristus adalah berubah dan berbuah.  Oleh karena itu.hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan (Matius 3:8). Untuk lebih memahami topik tentang: “Berubah dan berbuah”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 1 Timotius 1:12-17.

    Sahabat, pernahkah kamu membuat pengakuan bahwa kamu orang paling jahat, berdosa, dan segala yang buruk yang melekat dalam dirimu, serta menceritakan bahwa kamu punya masa lalu yang sangat kelam? Tentu sangat tidak mudah menyampaikan pengakuan sedemikian terbuka.

    Paulus menyatakan dirinya sebagai penghujat, penganiaya, dan ganas kepada pengikut Kristus (ayat 13). Ia menyebut dirinya orang yang paling berdosa (ayat 16). Sampai suatu ketika, dalam perjalanan ke Damsyik untuk memburu dan menganiaya para pengikut Kristus, Tuhan menjumpainya (Kisah Para Rasul 9:1-18). Ia dibuat buta oleh cahaya kemuliaan Tuhan, dan akhirnya pulih setelah didoakan Ananias. Peristiwa tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya. Seorang penganiaya yang penuh amarah terhadap jemaat berubah menjadi pemberita Injil yang sangat militan dan tidak setengah-setengah. Ini merupakan bentuk kasih Tuhan kepada Paulus. Allah menunjukkan seluruh kesabaran-Nya kepada Paulus. Bahkan, Tuhan melihatnya setia dan memercayakan pelayanan besar dan mulia kepadanya (ayat 12).

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Dari pengakuan Rasul Paulus sendiri, apa yang menyebabkan dia dapat berubah? (ayat 13-16)
    2. Apa yang menyebabkan Tuhan memercayakan pelayanan yang besar dan mulia kepada Rasul Paulus? (Ayat 12 dan 16)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg).

  • ALLAH BERSEMAYAM di HATI ORANG yang REMUK

    Sahabat, berdasarkan pengalaman hidupnya, Daud membuat pernyataan, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.”  (Mazmur 51:19)

    Entah sudah berapa kali kita mendengar atau membaca pernyataan, “Kesempatan yang sama tidak akan pernah datang dua kali.” Ironisnya, sudah beberapa kali pula kita sering melewatkan atau bahkan membuang kesempatan yang datang, hingga akhirnya kesempatan yang sama tidak pernah kunjung datang lagi. Lalu bagaimana dengan kesempatan untuk bertobat?

    Sahabat, untuk lebih memahami topik tentang “Allah bersemayam di hati orang yang remuk”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 57:14-21.  Nabi Yesaya adalah salah seorang dari sepuluh orang nabi besar pada zamannya. Pada saat itu, nabi Yesaya menerima perintah Allah untuk menyampaikan Firman-Nya. Yaitu Firman Tuhan yang merupakan kata-kata penghiburan bagi umat-Nya. Kata-kata penghiburan dari Allah kepada orang-orang Israel yang tegar tengkuk. Kata-kata penghiburan dari Tuhan Pencipta langit dan bumi kepada umat pilihan-Nya yang sangat dikasihi-Nya.

    Orang-orang Yehuda hidup jauh dari perkenan Allah, tidak sesuai dengan identitas sebagai umat Allah. Mereka menggantikan penyembahan kepada Allah dengan berhala-berhala. Kemudian muncul kesadaran bahwa mereka membutuhkan penghiburan. Nabi Yesaya memberitakan, hanya Allah yang dapat memberikan penghiburan. Namun, ada syaratnya, yaitu mereka harus mengadakan pertobatan dan membuang segala bentuk batu sandungan yang menghalangi berkat Allah. Allah hanya akan menghibur dan menghidupkan orang-orang yang remuk dan rendah hati.

    Allah itu penuh kasih dan kemurahan. Dia mengampuni mereka yang menyesal dan mengakui dosanya. Bahkan Allah akan menganugerahkan semangat dan kehidupan yang baru. Sebaliknya, tiada damai bagi orang fasik.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa syaratnya agar Allah berkenan memberikan penghiburan kepada umat-Nya? (Ayat 14 dan 15)
    2. Apa syaratnya agar Allah berkenan mengampurni segala kesalahan umat-Nya, dan berkenan menganugerahkan semangat dan kehidupan baru? (Ayat 16-19)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Perlu Melatih OTOT ROHANI

    Pekan Olahraga Nasional (PON) XX telah diselenggarakan di Papua pada 2 Oktober hingga 15 Oktober 2021. Stadion Lukas Enembe menjadi lokasi utama penyelenggaraan edisi ini, baik upacara pembukaan maupun penutupan. Ada 56 cabang olahraga yang dipertandingkan dan akhirnya propinsi Jawa Barat menjadi Juara Umum dengan meraih medali emas sebanyak 133 medali.

    Olahraga atau latihan jasmani yang dilakukan secara rutin akan mampu menjaga dan meningkatkan stamina kita. Tubuh akan menjadi lebih sehat, segar dan kuat, tidak gampang jatuh sakit, dan akan lebih mampu mengatasi tantangan berat seperti jalan yang curam menurun atau naik turun tangga.

    Sahabat, efek naik tangga beberapa tingkat berbeda bagi orang yang sering berolahraga dengan yang jarang atau tidak sama sekali. Bagi yang suka berolahraga, naik tangga beberapa lantai ke atas tidak akan terasa melelahkan. Mereka akan tetap terlihat normal alias biasa-biasa saja. Sedangkan yang jarang berolahraga tentu akan kehabisan nafas, terengah-engah, keringat dingin, sesak nafas dan menjadi sulit bicara.

    Untuk lebih memahami topik tentang “Perlu melatih otot rohani”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 1 Timotius 4:1-16. Bagi seorang atlet, selain menjaga asupan makanan, latihan merupakan keharusan agar kondisi tubuh tetap prima. Secara rohani, kita juga seorang “atlet”; dan latihan juga merupakan keharusan supaya otot-otot rohani tetap kencang dan tangguh menghadapi apa pun tantangan yang menghadang.

    Sahabat, usia belia tatkala menerima tampuk pelayanan yang sebelumnya dikerjakan Paulus besar kemungkinan menjadi halangan psikologis bagi Timotius untuk melanjutkan pelayanan Tuhan yang besar. Paulus memiliki keyakinan bahwa hal terpenting yang mesti dikerjakan Timotius agar ia mampu melanjutkan pelayanan anugerah Tuhan adalah dengan terus melatih diri beribadah. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa nasihat Rasul Paulus kepada Timotius, anak rohaninya? (Ayat 7)
    2. Walaupun latihan badani itu berguna untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh kita, tapi ibadah itu lebih besar gunanya, mengapa? (Ayat 8)
    3. Apa yang harus Timotius lakukan agar umat tidak merendahkannya karena dia masih muda? (Ayat 12)
    4. Apa saja yang harus dilakukan oleh Timotius dengan tekun dari hari ke hari? (Ayat 13-15)
    5. Apa nasihat Rasul Paulus kepada Timotius agar Timotius dan umat yang digembalakannya dapat selamat? (Ayat 16)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • KEPUASAN selalu minta DIPENUHI

    Billy Graham berkata, “Jika sikap seseorang benar terhadap uang, maka hal itu dapat menolong dia untuk memiliki sikap yang benar di setiap area dalam hidupnya.”

    Sahabat, penelitian dengan cermat membuktikan, orang dengan penghasilan sedikit tidak merasa puas; namun ketika penghasilannya lebih banyak ia tetap tidak puas. Mengapa? Sebab tuntutannya pun bertambah, begitu pun pengeluarannya. Sementara tingkat kepuasannya sama saja: Tetap belum puas. Kepuasan itu layaknya orang bergerak di atas putaran alas treadmill, meski kecepatan meningkat, pun tak ada gerak maju. Tetap saja di situ.

    Untuk lebih memahami topik tentang, “Kepuasan selalu minta dipenuhi”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Pengkhotbah 5:9-18. Pengkhotbah juga dengan jeli mengamati, dalam kehidupan manusia yang namanya kepuasan atau kesenangan selalu minta dipenuhi, tak kenal henti. Kekayaan bukan jawaban. Sia-sia saja menjadikannya jalan pemenuhan kepuasan.

    Orang yang memiliki banyak uang sampai kapan pun tidak akan pernah puas dengan uang yang dimilikinya.  Begitu pula orang kaya, tidak pernah puas akan kekayaannya.  Seringkali kita menganggap bahwa ada hubungan erat antara kepuasan dengan jumlah uang atau kekayaan yang dimiliki oleh seseorang.  Kita mengira jika orang mempunyai uang dalam jumlah besar ia akan merasa puas dan berbahagia. 

    Sahabat, ketika seseorang mendapatkan gaji 1 juta rupiah/bulan, ia berpikir bahwa hidupnya akan lebih dari cukup dan berbahagia jika gajinya 3 juta rupiah/bulan.  Anggapan ini kelihatannya benar, tapi ketika ia mendapatkan gaji 3 juta rupiah/bulan ia merasakan bahwa masih banyak hal yang belum bisa dipenuhi dengan gajinya tersebut.  Kita selalu merasa masih kurang dan tidak pernah merasa cukup.

    Ingatlah! Rasa puas dan cukup tidak datang dari uang, melainkan dari relasi kita dengan Tuhan. Uang itu hamba yang baik, tapi tuan yang jahat sekali. Kita harus waspada pada ilusi kesenangan, yang mengajarkan kepada kita bahwa cara untuk menjadi puas adalah dengan mendapatkan lebih. Itu tipuan, bahkan jebakan!

    Sahabat, berdasarkan hasil dari perenunganmu pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Kekayaan bukan jawaban. Sia-sia saja menjadikannya jalan pemenuhan kepuasan, mengapa? (Ayat 10 – 13, dan 16)
    2. Apa yang menjadi kunci kita dapat menikmati kebahagiaan? (Ayat 11-a, dan 17-18)
    3. Kebenaran apa yang senantiasa perlu kita ingat dalam hiduip ini? (Ayat 14)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)