Author: Christopherus

  • BERTUMBUH melalui PEMBACAAN ALKITAB

    Saya berharap melalui program “Sejenak Merenung”, banyak Sahabat  akan mendisiplin diri  mengadakan waktu untuk berdoa, membaca Alkitab dan merenungkannya. Tentu pada akhirnya kita dapat menjadi pelaku-pelaku firman. Kita dapat tumbuh bersama melalui pembacaan Kitab Suci dan doa setiap hari.

    Kegiatan membaca Alkitab bagi sebagian orang percaya mungkin tidak lagi menjadi momen yang menarik dan dinanti-nantikan. Bosan, malas, sibuk, dan sukar memahami isi Alkitab menjadi empat alasan yang sering muncul.

    Sahabat, untuk lebih memahami topik tentang: “Bertumbuh melalui pembacaan Alkitab”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 2 Timotius 3:10-17. Mengapa Paulus perlu menekankan kembali pentingnya mempelajari dan merenungkan firman Tuhan?  Karena pada waktu itu banyak sekali pengajar-pengajar sesat yang menyusup di antara jemaat sehingga mereka tidak lagi menjadikan Alkitab sebagai pedoman hidup, melainkan lebih menyendengkan telinganya kepada ajaran-ajaran yang menyimpang dari kebenaran (2 Timotius 4:3-4).  

    Paulus mengerti bahwa sebagai pemimpin jemaat, Timotius harus bekerja keras dalam membangun kehidupan jemaat dan mengajar mereka. Tugas pelayanan yang tak bisa dilakukan dengan sembarangan sehingga Timotius perlu terus melengkapi dirinya dengan kebenaran dari Kitab Suci.

    Sahabat, apa manfaat Alkitab bagi kehidupan orang percaya?  Alkitab merupakan sarana utama belajar mengenal pribadi Tuhan, mempercayai janji-Nya, serta memahami apa kehendak dan rencana-Nya bagi kehidupan kita.  Melalui Alkitab Tuhan mengajar dan mendidik kita untuk hidup dalam kebenaran (Ayat 16).  

    Proses pertumbuhan menuju karakter Kristus tidak terjadi secara otomatis atau tiba-tiba, namun memerlukan waktu seumur hidup.  Untuk bertumbuh secara rohani, Allah sudah memberikan pedoman-Nya  melalui Alkitab.  Diperlukan kebenaran untuk mengubah hidup kita, dan Alkitab menunjukkan kebenaran itu kepada orang percaya.  Hidup kita akan berubah bila kita mau membayar harga, yaitu menyediakan waktu membaca Alkitab, mempelajari, merenungkan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pengakuan apa yang ditulis oleh Paulus dari penjara di Roma kepada Timotius? (Ayat 10-11)
    2. Apa yang disampaikan oleh Rasul Paulus kepada Timotius di ayat 14?
    3. Apa manfaat Kitab Suci bagi Timotius yang dikatakan oleh Rasul Paulus di ayat 15?
    4. Apa manfaat Kitab Suci bagi kita? (Ayat 16)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Ada KUASA dalam PERKATAAN kita

    Lao Tzu berkata, “Kata-kata yang benar tidak selalu indah; kata-kata yang indah tidak selalu benar.  Kata-kata yang bermanfaat tidak selalu enak didengar; kata-kata yang enak didengar belum tentu bermanfaat”.

    Sesungguhnya perkataan itu seperti pisau. Pisau yang tajam bisa dipakai untuk membunuh, tetapi di sisi lain ia dapat menolong kita melakukan banyak hal. Sahabat, melalui sebuah perkataan positif dan membangun, seseorang dapat dibuat lebih semangat, lebih percaya diri, lebih bersyukur, lebih banyak berbuat baik dan menolong orang lain; seseorang dapat bangkit dan percaya bahwa hidupnya bisa lebih baik; seorang jahat dan keras kepala bisa berubah menjadi pribadi yang lembut dan rendah hati,  dan seterusnya.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Ada kuasa dalam perkataan kita”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 12:14-22. Allah menciptakan langit dan bumi serta isinya dengan kata-katanya yang diucapkan melalui mulut-Nya (Kejadian 1:3-8).  

    Perkataan adalah unsur yang penting dalam proses penciptaan alam semesta ini.  Jadi semua kata yang keluar dari mulut Allah berkuasa.  Juga ketika Yesus berada di bumi, semua perkataan-Nya penuh kuasa.  Dengan berkata-kata Dia sanggup menyembuhkan sakit-penyakit, membangkitkan Lazarus yang sudah mati empat hari  (Yohanes 11:43-44), dan angin ribut diredakan  (Markus 4:39).

    Sahabat, karena kita ini diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya, maka setiap perkataan yang keluar dari mulut kita pun mengandung kuasa.  Apa pun yang kita perkatakan akan berdampak terhadap masa depan kita.  Maka marilah kita bersedia tak henti-hentinya diingatkan agar berhati-hati dengan perkataan kita (Yakobus 3:4-5a). 

    Dengan perkataan, kita daat membangun masa depan yang baik, tapi dapat pula menghancurkan masa depan kita sendiri.  Dengan perkataan, kita dapat menguatkan, menghibur, melemahkan dan juga menyakiti orang lain.  Janganlah jemu-jemu memperkatakan yang positif, karena apa yang kita percayai, bila kita ucapkan dengan iman, cepat atau lambat akan terwujud dalam alam nyata. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari ayat 14?
    2. Kebenaran apa yang Sahabat peroleh dari ayat 17?
    3. Berkat apa yang Sahabat peroleh dari ayat 18?
    4. Berkat apa yang Sahabat peroleh dari ayat 20?
    5. Kebenaran apa yang Sahabat perlu selalu ingat yang terdapat di ayat 22?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati.

  • HIDUP BARU: Menjadi Bukti

    Sebelum naik ke surga, pasca kebangkitan-Nya Yesus memberi pesan kepada para murid agar mereka memberitakan Injil. Mereka diutus agar mengajar semua orang di seluruh dunia untuk dijadikan pengikut Kristus, serta membaptis mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Pesan tersebut sampai sekarang terus dihidupi sebagai Amanat Agung. Baik secara pribadi maupun komunitas, gereja menjalankan misi mewartakan Injil supaya lebih banyak lagi orang menerima Kristus.

    Sahabat, salah satu cara yang ampuh dalam memberitakan Injil tentu dengan menunjukkan bukti. Bukti yang berupa kesaksian hidup dari setiap pribadi yang keluar dari gedung gereja. Alangkah kuatnya kesaksian tentang Injil jika didasari dengan bukti kehidupan orang percaya yang dipenuhi dengan karakter Kristus. Hidup kudus dalam persekutuan yang penuh kasih, ada kepedulian, saling mendukung dan bekerjasama, murah hati, mudah mengampuni, rendah hati, lemah lembut, sabar dan cinta damai.

    Untuk lebih memehami topik tentang: “HIDUP BARU: Menjadi Bukti”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kolose 3:5-17. Sahabat, Rasul Paulus mengajar umat untuk mematikan diri dari segala tindak duniawi. Membuang segala bentuk kemarahan, geram, kejahatan, fitnah, kata-kata kotor dan dusta. Dengan kata lain Paulus sedang mengajarkan kita untuk menanggapi setiap persoalan dengan cara pandang positif. Mengenakan belas kasih, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Ketika seseorang melakukan kesalahan, alih-alih mendendam kita mesti mengampuni, atas dasar pengampunan yang sudah lebih dulu kita terima dari Tuhan.

    Karena itu, ketika diperhadapkan dengan seseorang yang melukai hati, cobalah memandang mereka sebagai pribadi yang harus kita kasihi. Jika hal tersebut terasa sulit, cobalah kita melakukannya atas dasar kasih pada diri sendiri. Bukankah melepaskan pengampunan melegakan diri sendiri? Jika hal tersebut masih sulit, cobalah lakukan karena kita menaruh kasih kepada Tuhan! Bukankah Tuhan telah memberikan pengampunan atas kesalahan dan dosa kita yang begitu besar? Jika ternyata tidak bisa juga, tanyakan pada diri sendiri: Layakkah aku disebut pengikut Kristus?

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Mengapa Paulus minta agar kita mematikan segala sesuatu yang duniawi? (Ayat 5-6)
    2. Hal-hal apa saja yang Paulus minta agar dibuang dari kehidupan kita? (Ayat 8)
    3. Apa yang tidak boleh kita lakukan sebagai manusia baru? (Ayat 9)
    4. Sebagai orang-orang pilihan Allah, apa saja yang harus melekat dalam hidup kita? (Ayat 12-15)
    5. Apa yang harus kita lakukan sebagai komunitas orang percaya? (Ayat 16-17)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • ReKat: INSPIRATOR: Hidup yang MENGUBAHKAN (31 Oktober 2021)

    Bacaan Sabda: 1 Korintus 9 : 1 – 27.

    1. Prinsip Rasul Paulus memberitakan Injil:  Tidak memegahkan diri; suatu keharusan dan wajib dilakukan;  dan merupakan tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadanya (Ayat 16 dan 17).
    2. Upah Rasul Paulus dalam memberitakan Injil: Upahnya ialah bahwa dia boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa dia tidak mempergunakan haknya sebagai pemberita Injil. Fokus utama Rasul Paulus adalah memberitakan Injil, sedangkan upah bukanlah yang menjadi prioritasnya (Ayat 18). 
    3. Pendekatan Rasul Paulus untuk memenangkan sebanyak mungkin orang: Menjadikan dirinya hamba bagi semua orang; memakai pendekatan konteks sosial budaya kepada para pendengarnya;  dan memakai pendekatan  latarbelakang dan tingkatan sosial ekonomi para pendengarnya (Ayat 19-22).
    4. Yang dilakukan Rasul Paulus supaya dirinya tidak ditolak: Punya visi dan misi; punya tujuan yang jelas; dan mendisiplin dirinya dengan tekun (Ayat 26 dan 27).
    5. Nasihat Rasul Paulus kepada Timotius:  Menjadi teladan dalam segala aspek kehidupan (1 Timotius 4:12).

    (Haryono).

  • Mengapa engkau TERTEKAN, hai JIWAKU?

    Sahabat, setiap orang termasuk para lansia sering mengalami tekanan hidup. Tekanan selalu hadir dalam setiap fase kehidupan. Apakah sebenarnya tekanan hidup itu? Tekanan hidup adalah sesuatu yang terjadi akibat timbulnya perubahan dalam kehidupan. Semakin besar perubahan itu, semakin besar tekanan hidupnya.

    Sesungguhnya Setiap orang pasti pernah mengalami tekanan dari masalah yang dihadapi: Keuangan, sakit penyakit, hubungan sosial, pekerjaan,  dan lain-lain. Respons setiap orang dalam menghadapi masalahnya bisa berbeda-beda.

    Tekanan hidup kerap memantik kemarahan kita, bahkan kadang-kadang sampai meledak tak terkendali. Menghadapi tekanan hidup, kita cenderung bersungut-sungut dan menyalahkan orang lain. Yakobus menyebutnya sebagai dosa yang dapat mengundang hukuman (Yakobus 5:9). Menggerutu dan mempersalahkan pihak lain mungkin dapat sedikit meringankan perasaan. Namun, Tuhan menghendaki kita bersabar dan tekun.

    Sahabat, untuk lebih memahami topik tentang: “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku?”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 42:1-12. Daud, seorang raja hebat, juga mengalami tekanan dalam jiwanya karena masalah yang dihadapinya. Tiga kali ia menulis, “Mengapa engkau tertekan hai jiwaku?” Ia menggambarkan, air mata menjadi makanannya siang dan malam. Banyak musuh menyerangnya dan ia merasa terimpit. Orang-orang mencelanya sambil berkata, “Di mana Allahmu?” (Ayat 4) Ada perkabungan yang melingkupi kehidupannya.

    Kunci yang memampukan Daud bertahan dalam tekanan adalah kepercayaan bahwa Tuhan memerintahkan kasih setia-Nya dan ia bisa berdoa dengan penuh ucapan syukur. Mengingat kasih setia Tuhan dalam hidup ini akan membantu kita untuk selalu dapat bersyukur. Ucapan syukur merupakan pintu berkat. Hati yang meluap dengan ucapan syukur membuat kita bebas dari tekanan yang mengimpit.

    Saat ini jika kita memiliki masalah yang menekan jiwa, katakan kepada jiwa kita, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku? Berharaplah kepada Tuhan, penolongku dan Allahku.” (Ayat 6) Tuhan mencurahkan kasih setia-Nya kepada orang-orang yang berharap kepada Dia.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenungan dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa makna yang tersirat dari pernyataan Daud dalam ayat 2-3?
    2. Di tengah tekanan dan penderitaannya, apa yang selalu diingat oleh Daud? (Ayat 4-6)
    3. Ketika sedang menghadapi tekanan yang berat, bagaimana caranya agar kita mampu mengatasi emosi dengan baik dan bijak?  (Ayat 12 dan Mazmur 116:7).

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg).

  • PENGENALAN kita akan ALLAH

    Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita bahwa kita  dihinggapi rasa cemas dan khawatir ketika kita mulai memasuki masa tua. Usia kita terus bertambah, sedangkan kekuatan dan kemampuan kita semakin berkurang. Teman-teman seangkatan, seorang demi seorang mendahului kita menghadap Sang Khalik.  Anak-anak juga  meninggalkan kita, mereka membentuk rumah tangga sendiri, kalau pun mereka  masih ada di dekat kita, mungkin kita merasa anak-anak sudah tidak membutuhkan diri kita lagi. 

    Untuk lebih memahami topik tentang “Pengenalan kita akan Allah”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 71:14-21. Rasa cemas  juga sempat menyerang Daud karena ia tahu benar bahwa tak mungkin seseorang terus tetap muda dan tetap perkasa.  Berita baiknya,  pada akhirnya Daud yakin benar bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang dikasihi-Nya.  Ia mengerti benar bahwa satu-satunya tempat bersandar adalah Tuhan saja. 

    Sahabat, bagaimana pengenalan kita terhadap Allah? Pengenalan itu memengaruhi cara pandang dan cara kita menyikapi segala persoalan yang terjadi di dalam hidup.  Melalui pengalaman dalam perjalanan hidupnya bersama Allah, Daud mengenal Allah sebagai penolong dan pelindung yang setia.  Karena itu, meski di tengah pergumulan, keyakinannya kepada Allah tidak goyah. Daud bahkan dapat selalu memuji Allah dan kebesaran-Nya di tengah-tengah pergumulannya.

    Bagaimana dengan kita? Mari memperdalam pengenalan kita akan Allah. Semakin dalam kita mengenal Allah, semakin dalam pula kita mengenal diri kita. Semakin dalam kita mengenal Allah kita, semakin kuat pula iman kita; sebab kita tahu benar bahwa hidup kita dipelihara dan dilindungi oleh Allah yang setia.

    Berdasarkan hasil perenungan kita dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pada masa tuanya, Daud masih mengalami pergumulan yang berat, masih ada orang-orang yang  menginginkan kecelakaannya, tapi mengapa Daud bisa begitu yakin bahwa Allah adalah penolong dan pelindungnya? (Ayat 17 dan 19-21)
    2. Apa yang membuat Daud begitu yakin bahwa Allah yang ia sembah adalah Allah yang setia? (Ayat 22)
    3. Sesungguhnya apa yang paling dikhawatirkan dan ditakutkan oleh Daud? (Ayat 18)
    4. Apa yang menjadi kerinduan Daud untuk dapat dilakukannya pada masa tuanya? (Ayat 17-18)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)