Author: Christopherus

  • MIMPI YUSUF MEWUJUD

    Sahabat, Tererai Trent lahir di Zimbabwe, dalam keluarga dan lingkungan miskin, yang hanya menyekolahkan anak laki-laki. Anak perempuan tidak boleh belajar, mereka hanya diminta siap menikah. Namun, Tererai berMIMPI menjadi perempuan terpelajar dan mengangkat kehidupan perempuan lain. Ia tuliskan mimpi itu di kertas, ia masukkan ke dalam kaleng, ia kubur di bawah batu.

    Suatu hari, seorang perempuan Amerika datang dan menantangnya untuk mengungkapkan  mimpinya. Dengan berani Tererai berkata ia ingin ke Amerika untuk belajar dan, secara ajaib, Tuhan membuka jalan. Tererai diajak ke Amerika, belajar di sana dengan semangat luar biasa, hingga meraih gelar doktor. Mimpinya terkabul! Kini ia terus berjuang bagi peningkatan hidup para perempuan, khususnya di Zimbabwe.

    Sahabat, orang yang memiliki mimpi, atau lebih tepatnya visi, memiliki tujuan yang jelas. Mereka pun berfokus melakukan apa saja yang perlu dilakukan, dan bersemangat mengejarnya. Dengan pertolongan Tuhan. MIMPI mereka akan MEWUJUD.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “MIMPI YUSUF MEWUJUD”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 42:1-38 dengan penekanan pada ayat 9. Sahabat, bencana kelaparan hebat melanda mulai dari Mesir hingga Kanaan, tempat di mana Yakub dan anak-anaknya tinggal.Yakub mendengar ada gandum di Mesir (ayat 1). Jadi, ia menyuruh anak-anaknya ke sana untuk membelinya (ayat 2).

    Ketika sampai di Mesir, mereka (tanpa disadari) bertemu dengan Yusuf, saudara yang pernah mereka jual. Ketika Yusuf melihat mereka tunduk kepadanya, seketika dia teringat mimpinya. Mimpi yang sudah menjadi kenyataan. Mimpinya kini telah mewujud (ayat 9).

    Sahabat, Yusuf ingin tahu apakah saudara-saudaranya masih sama seperti dahulu. Untuk itu, Yusuf sengaja membentak (ayat 7) dan menuduh mereka sebagai pengintai (ayat 9). Selanjutnya, Yusuf mulai menanyai mereka. Dalam proses “interogasi”, Yusuf menerima banyak informasi tentang keluarganya. Baik itu tentang keberadaan, jumlah keluarga, dan termasuk tentang “seseorang yang sudah tidak ada lagi” (ayat 13).

    Yusuf juga ingin tahu kabar saudara seibunya, Benyamin. Caranya, Yusuf pura-pura tidak percaya pada informasi itu. Untuk memastikan akurasinya, mereka disuruhnya untuk menjemput si bungsu (ayat 15-16)

    Pada saat inilah, saudara-saudara Yusuf mulai merasa menjadi tertuduh karena dosa-dosa masa lalunya (ayat 21-22).

    Sahabat, Yusuf, tidak sakit hati, apalagi dendam. Lebih lagi setelah mendengar kalau mereka menyesali perbuatannya. Dia menangis karena tak kuasa menahan haru bercampur rindu. Semua itu terjadi, tentu saja, karena Yusuf percaya pada pimpinan Tuhan (ayat 23-24).

    Pimpinan Tuhan bukan hanya untuk menunjuk arah perjalanan hidup. Tetapi, Dia juga mendidik kita bagaimana cara menjalaninya. Sebuah gaya hidup yang penuh kasih tanpa dendam dan kebencian.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat dapatkan dari perenunganmu hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 21-22?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan mengizinkan kita bermimpi agar kita memiliki  tujuan hidup. Bila Tuhan memberkati mimpi, pasti tercapai segala kerinduan. (pg).

  • TUHAN, Jagai dan Lindungi aku

    Sahabat, ditemani kopi hitam, sukun goreng, pisang goreng, dan tape goreng, obrolan kami sore itu semakin lama semakin gayeng. Saat ini dia menjadi salah seorang teman sepelayanan saya, tapi umur kami berbeda 20 tahun. Dia baru berumur 46 tahun.

    Dia bercerita bahwa masa kecilnya benar-benar hitam kelam. Dia tinggal di daerah pelacuran. Setiap hari dia melihat orang berjudi, mabuk-mabukan, saling mengumpat,  saling memaki, dan saling mengata-ngatai. Asap rokok dan bau minuman keras menjadi asupan hidungnya. Kata-kata jorok dan kasar menjadi asupan telinganya.

    Syukur, ada gereja yang membuka pelayanan di tempat tinggalnya. Guru Sekolah Minggunya selalu mengingat dia agar berdoa: “Tuhan, jagai dan lingdungi aku.”

    Untuk lebih memahami topik tentang: “TUHAN, Jagai dan Lindungi aku”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 141:1-10. Sahabat, menjaga hati agar tidak ternoda adalah perkara serius bagi Daud. Ia begitu takut untuk melakukan kesalahan di hadapan Tuhan, sekalipun hanya melalui perkataan mulutnya. Ia tahu bahwa Tuhan tidak berkenan kepada kejahatan. Itulah alasannya ia berseru kepada Tuhan.

    Maka tidak heran kalau Daud memohon agar Tuhan mengawasi mulutnya, agar ia tidak salah berucap dan akhirnya melakukan kejahatan melalui perkataannya (ayat 3). Jangan sampai ia memiliki hati yang jahat dan merasakan kesenangan orang jahat (ayat 4). Lebih baik orang benar menghukumnya daripada ia harus terlibat dalam kejahatan (ayat 5). Ada kalanya ia menerima ganjaran yang menyakitkan, namun hal itu diterima sebagai kasih. Baginya, hajaran orang benar mampu membawa dia kembali kepada kebenaran, asalkan ia tidak berkawan dengan orang fasik dan dilepaskan dari godaan.

    Sahabat, Daud pun berseru memohon perlindungan Tuhan agar menjaganya dari perangkap orang-orang yang melakukan kejahatan (ayat 8-9). Seruan Daud menunjukkan kesungguhan imannya di dalam Tuhan. Doa adalah seruan jiwa yang menjadi persembahan harum di hadapan Tuhan, apalagi disertai dengan kebencian terhadap kejahatan. Daud benci bila harus terlibat dalam perbuatan fasik. Orang benar akan membenci dosa, sekalipun tawaran manis menjadi godaan akan dosa. Ketika orang fasik jatuh ke dalam perangkap mereka sendiri, orang benar akan berlalu meninggalkan mereka (ayat 10).

    Ayo … Serukanlah kerinduan kita kepada Tuhan. Doa yang berasal dari hati yang gentar akan kejahatan merupakan persembahan yang harum di hadapan Tuhan. Lebih baik jatuh ke tangan orang benar (sekalipun menyakitkan) daripada ke tangan orang jahat. Hati yang mengasihi Tuhan akan menjaga dirinya dari kejahatan, dan memohon Tuhan agar menjagai dan melindunginya dari jalan yang serong.

    Sahabat, dengan seruan, “Dengarkanlah aku, Tuhan!”, kita hanya ingin memandang kepada Tuhan, supaya kita dijauhkan dari perangkap orang jahat dan doa kita menjadi persembahan yang harum bagi Tuhan.

    Dari hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8-9?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kunci kemenangan kita bukan pada upaya kita yang kuat dan tidak ikut-ikutan dunia ini, melainkan pada mengarahkan iman kita kepada Kristus yang sudah menang melawan dosa. (pg).   

  • PENGENALAN dan PENGALAMAN Berjalan Bersama ALLAH

    Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita bahwa tiada hari tanpa RUTINITAS. Apalagi bagi kita yang tinggal di kota besar, Rutinitas sudah menjadi sahabat yang terus menemani melewati hari demi hari. Lebih parah lagi, kita melakukan semua kebiasaan itu dengan irama yang monoton. Akibatnya, kita sering melewati hari begitu saja tanpa belajar apa-apa.

    Tanpa kita sadari, keadaan demikian mungkin akan berpengaruh pada pertumbuhan rohani. Kita bisa saja tidak mengalami kemajuan dalam pengenalan dan pengalaman berjalan bersama Allah. Untuk itu kita perlu punya tekad dan kemauan untuk MENJAGA SAAT TEDUH KITA. Semoga “Sejenak Merenung” dapat menjadi sahabat  setia dalam usaha Sahabat untuk mengalami kemajuan dalam pengenalan dan pengalaman berjalan bersama Allah.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “PENGENALAN dan PENGALAMAN Berjalan Bersama Allah”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 41:1-36 dengan penekanan pada ayat 16. Sahabat,  Yusuf masih dipenjara selama dua tahun sejak peristiwa “Mimpi juru minum dan juru roti” (Kejadian 40:1-23). Luar biasa, di sepanjang waktu tersebut, Yusuf terus melatih dirinya untuk lebih mengenali dan merespons Allah.

    Sahabat, diceritakan di bacaan kita, pada suatu hari, Firaun bermimpi hingga dua kali (ayat 1-7). Tetapi, tidak seorang pun mampu mengartikan mimpinya (ayat 8). Hal tersebut menyiksa hatinya hingga menjadi gundah gulana.

    Syukurlah,  juru minuman Firaun mengakui kesalahannya dan  mengingat Yusuf, dan menceritakan kepada Firaun kemampuan Yusuf menafsirkan mimpinya (ayat 9-13). Firaun, akhirnya, menyuruhnya untuk  memanggil Yusuf (ayat 14).

    Dengan rendah hati Yusuf menghadap dan berkata, “Bukan sekali-kali aku, melainkan Allah juga yang akan memberitakan kesejahteraan kepada tuanku Firaun” (ayat 16).

    Sesungguhnya lewat mimpi Firaun,  Yusuf bisa melihat rencana Allah. Sebuah rancangan untuk menyatakan kedaulatan-Nya atas dunia. Yusuf merespons rencana itu. Dia mencetuskan suatu gagasan yang luar biasa. Sesuatu yang tidak terpikirkan oleh siapa pun pada saat itu (ayat 33-36). Dengan cara itulah, Yusuf memberitakan perihal Allah kepada Firaun dan bangsa Mesir.

    Sahabat, Yusuf merupakan teladan bagaimana cara merespons Allah. Dalam kesukaran bertahun-tahun, dia tetap setia kepada Tuhan. Karena anugerah Allah, dia menunjukkan konsistensi yang tahan uji. Dia tidak mudah mundur walau banyak aral melintang datang menghadang. Dia mengalami pertumbuhan yang luar biasa dalam pengenalan dan pengalaman bersama Allah.

    Sesungguhnya, Itulah yang Tuhan harapkan dari kesaksian orang-orang percaya. Dunia bisa mengenal Dia dari cara kita merespons panggilan-Nya, sehingga, orang bisa mengenal Allah bukan melalui KATA, tetapi oleh AKSI NYATA

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh melalui perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 16?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Orang yang rendah hati akan menyadari bahwa  kemampuan dan segala yang dimilikinya,  ia dapatkan karena anugerah Allah; karena Allah memberkati dan menyertainya. (pg)  

  • Mintalah PERLINDUNGAN TUHAN

    Sahabat,  Tuhan Yesus pernah mengingatkan para murid bahwa mereka diutus, “… seperti domba ke tengah-tengah serigala, …” (Matius  10:16).  Zaman baheula, dunia yang berdosa sudah digambarkan sebagai serigala yang siap memangsa domba! Serigala yang siap menerkam mangsanya.  Apalagi dunia sekarang! Apalagi dunia di Zaman Now!

    Di dalam hidup yang penuh persaingan di segala sektor, kita harus senantiasa berjaga-jaga dan waspada bahwa ada cukup banyak orang yang menginginkan apa yang kita miliki saat ini. Ada yang mengincar posisi kita, ada yang mengiri keberhasilan kita, ada yang berusaha menjegal atau menghambat  karier kita, ada yang berusaha mengimbangi ketenaran kita, ada yang ingin mendapatkan harta kekayaan kita, dan lain sebagainya.

    Selain itu dalam setiap perjalanan kita setiap hari, sesungguhnya ada cukup banyak bahaya yang mengincar keselamatan kita. Kecelakaan di jalan. Selain itu  ada banyak virus di sekelilingi kita yang membahayakan kesehatan dan keselamatan jiwa kita. Kita pasti tidak akan mampu mengatasi dengan kemampuan dan kekuatan kita. Karena itu, mintalah perlindungan Tuhan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Mintalah PERLINDUNGAN TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 140:1-14 dengan penekanan pada ayat 2. Sahabat, berada dalam situasi perang dan dikelilingi musuh bukanlah situasi yang diinginkan Daud. Setiap hari mereka memicu terjadinya perang dan dengan sembunyi memasang jerat, sehingga Daud berlari kepada Tuhan yang mampu menolongnya.

    Daud memohon pemeliharaan Tuhan supaya Tuhan meluputkannya dari mereka. Ia berseru agar Tuhan berada di pihaknya. Tuhan adalah kekuatan dan keselamatan. Dia menjaga Daud dalam perang-perang sebelumnya. Maka sekali lagi, Daud memohon perlindungan Tuhan atas dirinya (ayat 7-8).

    Sahabat, Daud sadar bahwa dengan kekuatan sendiri ia tidak sanggup menghadapi teror itu. Maka serunya, “Luputkanlah …, jagalah aku …” (ayat 2); “Peliharalah …, jagalah aku …” (ayat 5). Hanya Tuhan yang sanggup melepaskan umat-Nya dari bulan-bulanan para musuh. Ia meminta juga agar niat jahat para musuh dikendalikan Tuhan (ayat 9), bahkan menerima pembalasan setimpal dari Tuhan (ayat 10-12). Hal itu menimbulkan rasa keadilan bagi semua orang yang pernah mengalami penindasan yang tidak seharusnya mereka alami dari sesama manusia (ayat 13-14).

    Bersyukurlah karena kita memiliki tempat perlindungan yang adil. Ia mampu melindungi kita dari tipu dan jerat orang jahat. Saat ini mungkin kita tidak berada dalam situasi perang seperti Daud, tetapi kita perlu memohon perlindungan terhadap maksud-maksud jahat orang yang ingin menjatuhkan kita, bahkan yang ingin menjauhkan kita dari Tuhan.

    Sahabat, Tuhan berdaulat dan adil. Setiap kejahatan pada akhirnya dikalahkan, pelaku yang tidak bertobat akan dibinasakan. Yang perlu kita lakukan saat menghadapi tentangan langsung maupun lewat main belakang ialah tetap hidup dengan integritas, sehingga mereka yang jahat tidak dapat menjatuhkan kita oleh karena kita benar. Tuhan akan membela kita pada saat-Nya. Bahkan kita bisa seperti Yesus, mengampuni mereka dan berdoa bagi pertobatan mereka.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 13? (Mazmur 119:71)

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhanlah yang akan menjadi pelindung dan pembela kita. (pg).

  • ReKat: ALLAH melimpahkan BERKAT dalam KERUKUNAN (20 Juli 2022)

    Bacaan Sabda: Mazmur 133:1-3

    Dari hasil perenunganku dari Bacaan Sabda, saya mendapatkan:

    1. Hikmat yang saya  dapatkan:  Ketika kita hidup rukun dan damai, maka Tuhan akan mencurahkan berkat-Nya kepada kita dengan limpah.
    2. Untuk meningkatkan kerukunan dalam keluarga, berikut usaha-usaha yang kami lakukan:  Mengadakan mezbah keluarga, yang diisi dengan berdoa dan merenungkan Firman Tuhan bersama; melakukan rekreasi pada hari libur atau makan bersama keluarga di luar di akhir pekan; saling menjaga perasaan (tenggang rasa); saling menghormatI;  saling membantu; saling peduli satu dengan yang lain; saling memaafkan; segera menyelesaikan jika ada  permasalahan di dalam keluarga.

    (Swan Lioe)

  • JANJI tinggal JANJI

    Sahabat, mungkin ada yang pernah membaca atau mendengar kata “ONGAESHI”. Dalam bahasa Jepang Ongaeshi berasal dari kata “On” yang berarti kebaikan, dan  “-gaeshi” yang berarti mengembalikan.

    Ongaeshi merupakan konsep balas budi dalam budaya Jepang. Orang Jepang merasa berutang budi atas segala kebaikan yang diterimanya. Kalau ada orang Jepang yang sakit, umumnya mereka tak mau ditengok. Alasannya, ada kewajiban moral bagi si sakit atau keluarganya untuk membalas kunjungan itu.

    Tapi berbeda dengan cerita yang terdapat dalam Alkitab. Yusuf sudah membantu mengartikan mimpi  kepala juru minuman Raja Firaun yang ditahan bersamanya.  Yusuf berharap ketika kepala juru minuman itu dikembalikan kepada pangkatnya yang semula, dia akan mengingatnya, dan menolong dia sehingga dapat dikeluarkan dari rumah pengurungan. Akhirnya juru minuman  dilepaskan dari penjara dan mendapatkan pekerjaannya lagi seperti posisinya semula, tapi ternyata dia melupakan Yusuf, janji tinggal janji.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “JANJI tinggal JANJI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 40:1-23 dengan penekanan pada ayat 23. Sahabat, Kepala pengawal menempatkan Yusuf di penjara bersama juru minuman dan juru roti Firaun (ayat 4). Mereka ditahan karena membuat kesalahan terhadap tuannya, raja Mesir (ayat 1)

    Selama di penjara, Yusuf merupakan orang yang dapat dipercaya. Hal itu membuat kepala pengawal raja meminta Yusuf untuk melayaninya. Dia pun melakukan tugasnya dengan baik.

    Suatu ketika, juru minuman dan juru roti bermimpi (ayat 6-7), namun tidak ada yang bisa mengartikannya. Hal tersebut sangat menggusarkan mereka. Karena pada masa itu, mimpi sering dihubungkan sebagai pertanda bahwa sesuatu akan terjadi di dunia nyata.

    Yusuf mendengar kisah mereka. Dia pun mengartikan mimpi tersebut. Namun, itu semua bukan karena kehebatannya, tetapi Allah yang menyingkapkan arti mimpi tersebut (ayat 8). Setelah diartikannya mimpi itu, Yusuf berpesan, “Tetapi, ingatlah kepadaku kalau keadaanmu telah baik” (ayat 14).

    Maka terjadilah sebagaimana arti mimpi itu (ayat 20-21). Tetapi di bagian akhir dari Kejadian 40, kita tahu bahwa juru minuman raja ternyata melupakan Yusuf. Walaupun, dia sudah kembali ke posisinya (ayat 23). Janji tinggal janji.

    Sahabat, pikiran manusia berbeda dengan pikiran Allah. Pikiran kita seringkali mengharapkan suatu kehidupan yang lebih baik. Tetapi nyatanya, rancangan kita berbeda dengan kehendak Allah. Realitas kerap tidak sesuai dengan harapan.

    Oleh karena itu, kita harus terbuka dalam pembentukan Allah. Ketika dalam kesulitan, kita harus belajar peka karena pada saat itulah, kita perlu bertanya kepada Allah apa yang menjadi keinginan-Nya, sehingga kita tidak larut dalam kekecewaan. Sebaliknya, kita beroleh kekuatan dan sukacita, sekalipun dalam penderitaan.

    Dari hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat dapatkan dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang diharapkan Yusuf dari juru minuman Raja Firaun? (ayat 14-15)

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kadangkala Tuhan mengizinkan seseorang melupakan janjinya kepada kita, supaya kita dapat belajar menaruh harap hanya kepada-Nya. (pg).