Author: Christopherus

  • HALELUYA! TUHAN PENOLONG yang SEJATI

    Sahabat, kita sering mengucapkan dan menyanyikan kata “HALELUYA”. Pertanyaannya: apakah kita tahu makna kata yang kita ucapkan atau nyanyikan itu? Secara harfiah, arti haleluya adalah PUJILAH TUHAN. Kata haleluya berasal dari bahasa Ibrani yang diserap ke dalam bahasa Latin menjadi ALLELUIA. Dalam bahasa Inggris, kata tersebut menjadi HALLELUJAH. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti haleluya adalah ungkapan untuk menyatakan pujian, rasa syukur, atau rasa sukacita atas anugerah Tuhan.

    Berdasarkan ibadat Israel, kata haleluya sering digunakan sebagai ajakan untuk menyembah Tuhan. Seperti yang telah dicatat dalam kitab Mazmur, kata haleluya selalu berada di bagian awal maupun akhir pada sebuah pujian.

    Tak hanya untuk menyampaikan pujian, kata haleluya juga bisa digunakan sebagai salah satu cara mengugkapkan syukur atau rasa terima kasih kepada Tuhan secara spontan. Haleluya! Pujilah Tuhan sebab Tuhan penolong yang sejati.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “HALELUYA! TUHAN PENOLONG yang SEJATI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 146:1-10 dengan penekanan pada ayat 5. Sahabat, Pemazmur mengawali dengan memuji Tuhan (ayat 1-2), dan dia segera mengingatkan kita untuk tidak menaruh kepercayaan kita kepada manusia, seberapa pun tinggi pangkat dan kedudukannya (ayat 3).

    Lebih lanjut Pemazmur mengingatkan tentang betapa fananya manusia yang tidak memiliki keselamatan pada dirinya. Ketika manusia mati, lenyaplah segala ingatan dan kenangan atas dirinya (ayat 4). Apa yang terjadi dengan harta dan simpanannya? Ke mana segala hal yang menjadi tumpuan dan pegangannya selama ini? Itu semua sirna begitu saja.

    Maka, diberkatilah mereka yang memiliki Tuhan Allah sebagai sandarannya (ayat 5). Ia menciptakan dunia, menebus umat-Nya dari penindasan, dan memulihkan hidup mereka (ayat 6-9). Bahkan, kematian tidak dapat menaklukkan-Nya karena Dia adalah Raja untuk selama-lamanya (ayat 10).

    Sahabat, inilah keyakinan iman bagi kita yang bersandar pada Tuhan Yesus Kristus, yang berkuasa atas kematian. Dialah jaminan abadi bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Dari keyakinan inilah kita menyanyikan “Haleluya!” Seruan “haleluya” bukanlah sebuah mantra atau ucapan jimat yang menenteramkan jiwa. Lebih daripada itu! Haleluya adalah ungkapan pengakuan iman kita ketika kita mengenali siapa Allah yang kita sembah.

    Persoalan terbesar dalam diri banyak manusia adalah mereka ingin memiliki kuasa atas diri dan kehidupan mereka. Manusia lupa bahwa hakikat hidupnya adalah buah karya ciptaan Allah Yang Mahakuasa. Maka, kepada Allahlah kita seharusnya bersandar. Siapa yang kita puji bukan lagi orang lain, atau diri sendiri, melainkan Tuhan, Sang Raja kita. Sebab di dalam nama-Nya ada keselamatan dan pemeliharaan yang kekal.

    Sahabat, jangan mengandalkan harapan pada apa yang fana, karena kuasa kasih Allah jauh lebih nyata, dan akan tetap ada untuk selamanya. Sampai kapan pun, dengan penuh keyakinan iman kita menyanyikan “Haleluya! Tuhan penolong yang sejati.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini? 
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4? (Yesaya 2:22)

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mengandalkan manusia akan tiba pada kekecewaan. Memercayai Allah akan memiliki kebahagiaan sejati. (pg).

  • Memiliki STRATEGI HIDUP

    Sahabat, kompleksnya hidup  menuntut kita untuk memiliki STRATEGI HIDUP. Apa itu strategi hidup? Strategi merupakan pendekatan secara umum yang berisi penjelasan bagaimana kita mencapai sasaran dan memecahkan masalah kita atau keahlian membuat beberapa proyek, rancangan, atau cara mencapai tujuan.

    Strategi hidup Kristen dipahami sebagai pelibatan Allah dalam seluruh kegiatan strategis orang percaya untuk mencapai tujuan dan sasaran Allah itu sendiri. Sedangkan strategi hidup merupakan seni dan ilmu menggunakan kecerdasan, kemampuan yang ada untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

    Sesungguhnya strategi hidup bukan suatu formula ajaib untuk menyulap hidup ini menjadi serba hebat, namun merupakan suatu proses. Dalam proses tersebut terjadi pemikiran, langkah-langkah hidup berdasarkan pada kehendak Allah dan kesadaran realistis sehingga pelaksanaannya terjadi pada kondisi yang menguntungkan. Karena itu kita perlu memiliki strategi hidup.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Memiliki STRATEGI HIDUP”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 46:1-34 dengan penekanan pada ayat 34. Sahabat, Yakub mengerti risiko perjalanannya ke Mesir. Artinya, ia tidak akan kembali lagi ke tanah Kanaan. Itu sebabnya ia membawa segala harta miliknya. Sebelum itu, ia pergi dulu ke Bersyeba untuk mempersembahkan kurban kepada Tuhan. Dalam penglihatan, Ia menyatakan penyertaan-Nya kepada Yakub. Ia berjanji akan membuat keturunannya menjadi bangsa yang besar di Mesir (ayat 1-4).

    Yakub pun memboyong segenap keturunannya ke Mesir. Jumlahnya enam puluh enam orang (ayat 26). Tetapi, jika dihitung dengan Efraim dan Manasye, yang lahir di Mesir, berjumlah tujuh puluh jiwa (ayat 27). Angka tujuh puluh bisa dipahami sebagai angka simbolik perlambang kesempurnaan.

    Yusuf langsung membawa mereka ke tanah Gosyen. Padahal Firaun belum memberi izin. Yusuf kemudian berstrategi supaya keluarganya dapat tinggal di sana. Caranya dengan meminta saudaranya memberitahu Firaun bahwa mereka adalah peternak, sebab segala gembala kambing domba adalah suatu kekejian bagi orang Mesir. Dengan begitu, mereka akan diperbolehkan tinggal di Gosyen (ayat 33-34). Suatu tempat terpisah dari hunian orang Mesir.

    Marilah kita seperti Yusuf. Seseorang yang berusaha memberikan yang terbaik bagi Kerajaan Allah dimana pun ditempatkan. Orang dunia sangat cerdik. Karenanya, kita harus lebih cerdik daripada mereka. Mintalah hikmat kepada Tuhan supaya kita memiliki strategi hidup.

    Sahabat, orang yang tidak memiliki strategi hidup, maka hidupnya tidak akan terarah dengan baik. Hidupnya akan menjadi kacau, tidak ada semangat karena tidak ada yang ingin dicapai. Sebagai orang percaya, apakah kita ingin menjadi seperti itu? Tentunya tidak. Untuk itu milikilah strategi hidup.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Mengapa Israel dengan mantap meninggalkan Kanaan dan melangkah menuju ke Mesir? (Ayat 3-4)

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sesulit apa pun situasi yang kita alami, kita harus tetap percaya bahwa ada Allah yang tidak sedetik pun meninggalkan kita. (pg).

  • TUHAN: Sang Penopang Hidup

    Sahabat, hidup tidak selalu terasa indah dan menyenangkan. Terkadang, kehidupan terasa menyesakkan dan begitu berat untuk dijalani. Saat itu, mungkin kamu hanya mampu  berteriak, “Tuhan beri aku kekuatan untuk melewati semua itu.”

    Kekuatan dari Tuhan, Sang Penolong yang akan memampukan kita menghadapi dan melewati segala tantangan hidup. Berapa pun usia kita dan betapa kayanya pengalaman hidup yang kita miliki, kita tidak akan mampu mengatasi tantangan dan rintangan hidup dengan kekuatan sendiri. Kekuatan Tuhan yang akan menjadi PENOPANG kita dalam masa kesukaran. Hal itu karena Tuhan setia kepada umat-Nya. Dia akan mendengar setiap teriakan minta pertolongan yang diucapkan hamba-Nya. Sesungguhnya hanya Tuhan yang dapat menjadi penopang hidup kita.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “TUHAN: Sang Penopang Hidup”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 145:1-21. Sahabat, Mazmur 145 merupakan mazmur yang merangkum pengenalan Daud akan Allah yang dia sembah, sebuah pujian syukur atas pemeliharaan Allah yang senantiasa bermurah hati kepada umat-Nya.

    Daud sebagai manusia biasa seperti kita,  mengalami pergumulan hidup yang tak beda jauh dengan kita, bahkan mungkin lebih berat karena masalah yang dialaminya dapat mengancam keselamatan jiwanya.  Namun meski berada di bawah bayang-bayang maut setiap hari Daud tetap mampu menjaga sikap hatinya, sehingga dari bibirnya selalu keluar ucapan yang memuliakan Tuhan (ayat 1-2). 

    Hal tersebut  jelas berbeda dengan respons hati kebanyakan orang percaya yang ketika masalah datang, lupa akan kasih dan kebaikan Tuhan, dan tak menunggu waktu lama mereka akan langsung mengeluh dan bersungut-sungut kepada-Nya.

    Sahabat, untuk dapat memuji Tuhan di segala segala musim kehidupan,  harus ada pengertian dan pengakuan terhadap kebaikan-Nya,  “TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.”  (ayat 8-9). 

    Jika orang tidak pernah merasa bahwa Tuhan itu baik dan pengasih, mana mungkin ia dapat memuji Dia?  Sebaliknya yang keluar dari mulutnya adalah ungkapan-ungkapan kekecewaan dan ketidakpuasan kepada Tuhan atas masalah yang sedang  menimpanya.

    Sahabat, sebagai umat ciptaan-Nya sepatutnya kita bersyukur kepada Tuhan (ayat 10).  Orang yang telah mengalami pertolongan Tuhan dan kebaikan-Nya pasti tahu arti pentingnya berterima kasih dan mengucap syukur (ayat 16 – 18).

    Karya agung-Nya akan diberitakan ke seluruh penjuru dunia. Tuhan menopang dan memelihara hidup umat-Nya. Segala jalan-Nya ditandai dengan keadilan dan kesetiaan (ayat 10b-20). Karena itu, Daud menyimpulkan puji-pujian kepada Allah sebagai tindakan yang berkelanjutan untuk selamanya (ayat 21).

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh melalui perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 16-18?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Di sepanjang sejarah, Allah adalah Raja atas umat-Nya. (pg).

  • SENI Melipat KEPAHITAN

    Sahabat, hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan akhirnya tahun pun berganti tahun, itu  menunjukkan bahwa segala sesuatu ada akhirnya dan selalu berubah.  Bila segala sesuatu harus ada akhirnya dan berganti dengan suasana baru, lalu bagaimana dengan keadaan dan suasana hati kita?  Apakah juga sudah mengalami pembaruan? 

    Jika di masa-masa lalu terjadi kekecewaan, kegeraman, pertikaian, saling membenci, saling memfitnah di antara keluarga, teman, rekan sepelayanan atau di mana saja, apakah sampai hari ini rasa itu masih tertanam di dalam hati kita, sehingga timbul suatu akar pahit?  Ada kepahitan di hati kita?  Apakah kita terus diam saja dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, padahal di hati kita masih berkecamuk rasa dendam, kepahitan dan sakit hati?

    Sahabat  pasti pernah melipat kertas menjadi bentuk burung, perahu,  bunga, atau serangga. Kegiatan melipat kertas tersebut dikenal sebagai kerajinan origami. Origami itu  seni melipat kertas dari Jepang. Origami berasal dari bahasa Jepang “ori” yang memiliki arti lipatan dan “kami” yang berati kertas.

    Sesungguhnya Origami mensyaratkan pengetahuan dan keterampilan dalam melipat kertas supaya dapat menghasilkan suatu karya yang indah. Tanpa pengetahuan yang benar dan keterampilan yang memadai, kita tidak akan bisa menciptakan lipatan-lipatan kertas menjadi bentuk yang kita inginkan. Bentuk-bentuk yang unik dan indah. Demikian juga dengan KEPAHITAN, ada seni melipat kepahitan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “SENI Melipat KEPAHITAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 45:1-18 dengan penekanan pada ayat 5. Sahabat, Kisah Yusuf merupakan cerita sukses seorang anak manusia dalam melipat segemap kepahitan yang terjadi dalam hidupnya. Kesuksesan hidup diraih Yusuf lantaran ia memiliki pengetahuan yang benar akan rencana Tuhan dalam hidupnya (ayat 5). Mimpi-mimpi pada masa mudanya bukanlah mimpi tanpa visi. Yusuf memandang mimpi sebagai pengetahuan yang memampukan dirinya untuk melihat masa depan keberlangsungan bangsanya. 

    Berbekal pengetahuan tersebut, Yusuf terampil dalam melipat segenap pengalaman hidupnya yang tidak menyenangkan. Perlakuan buruk dari saudara-saudaranya hingga mendekam di penjara Mesir merupakan rangkaian kepahitan yang harus dilaluinya supaya dapat menyelamatkan ayah dan saudara-saudaranya dari bahaya kelaparan. Keselamatan Yakub dan keluarganya menandai keindahan rencana Tuhan melalui hidup Yusuf. 

    Sahabat, kepahitan hidup yang berhasil diatasi oleh Yusuf laksana lipatan-lipatan ilahi yang menghasilkan satu bentuk keindahan di tangan Sang Mahakasih dan Maha Perancang. Hidup Yusuf adalah bukti yang tak terbantahkan. Yusuf berhasil melipat kepahitannya dengan apik dan menarik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5? (Efesus 4:31-32 dan Matius 6:14-15)

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita yang telah beroleh pengampunan dari Tuhan juga harus mau membuka hati untuk mengampuni orang lain, dan lipatlah semua kepahitan yang ada! (pg).

  • SANDARAN HIDUP

    Sahabat, dalam perjalanan dari Semarang ke Salatiga, istri seorang teman sepelayanan bercerita bahwa anaknya laki-laki ingin mendapatkan pasangan hidup seperti dirinya, yang dapat dijadikan sandaran hidup suami.

    Anaknya berdoa supaya diberikan seorang pasangan yang sesuai dengan kriterianya, pasangan yang bisa membuat hidupnya  lebih baik lagi. Dia  ingin Tuhan mempertemukan dirinya dengan orang yang tepat untuk dijadikan sandaran hidup. Anak teman saya berpikir jika sudah memiliki pasangan yang  sesuai dengan yang dia mau, maka hidupnya akan terasa lebih indah. Dia bisa 100% mengandalkan pasangannya   dalam berbagai hal. Suka dan duka akan dia bagi dengan pasangannya.  Hidupnya akan terasa jauh lebih berwarna daripada ketika dia masih bujangan .

    Lalu pikiran dan hati saya dipenuhi dengan tanda tanya besar: “Apakah tepat pasangan hidup dijadikan  sandaran hidup? Dapatkah pasangan hidup menjadi sandaran hidup yang kekal?”

    Untuk lebih memahami topik tentang: “SANDARAN HIDUP”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 144:1-15. Sahabat, Daud menuliskan nyanyian yang dicatat sebagai Mazmur 144 sebagai ucapan syukur atas penobatannya sebagai raja. Ia kemudian mengungkapkan doanya kepada Tuhan bagi bangsanya dalam perang dan dalam damai. Daud ingin menekankan pentingnya melihat kepada Tuhan sebagai dasar dari sandaran umat kepada-Nya.

    Daud mengawali nyanyiannya dengan pujian dan ungkapan yang terus terang di hadapan Allah, karena ia mengenali perhatian Allah atas umat-Nya (ayat 1-4). Pengenalan akan Allah memungkinkan Daud untuk menyerukan permohonan supaya Allah bertindak atas bangsa-bangsa yang menindas umat (ayat 5-8). Daud kemudian menaikkan syukur kepada Allah atas pemeliharaan-Nya baik dalam kondisi perang maupun damai (ayat 9-14). Daud mengajarkan bahwa bagi umat Allah, posisi dan prestasi bukan semata-mata hasil pencapaian mereka, melainkan suatu bukti karya pemeliharaan Allah mereka (ayat 15).

    Sahabat, bagaimana cara kita menilai bahwa seseorang diberkati oleh Allah? Apakah artinya kita akan memiliki harta berlimpah dan posisi yang bergengsi? Lihat bagaimana Daud menjabarkan realitas berkat: Allah menyertai dalam keadaan sulit seperti perang, dan keadaan baik yakni damai. Setiap pemberian yang kita terima adalah buah karya Allah bagi pekerjaan-Nya. Hal yang terutama adalah sikap hidup yang siap dan rela merendahkan diri di hadapan Allah.

    Yesus Kristus memberi kita kekuatan ketika Ia menjanjikan bahwa Ia pergi menyediakan tempat bagi kita, dan akan kembali menjemput ketika tempat itu sudah tersedia (Yohanes 14:1-3). Kalimat tersebut sesungguhnya menekankan tentang kepastian Allah yang dapat dijadikan sandaran. Masalah muncul ketika manusia tidak mau menyandarkan diri kepada Allah.

    Sahabat, sesunggguhnya harta abadi bukanlah soal apa yang kita bisa pamerkan, melainkan siapa yang hadir dalam kehidupan kita, baik dalam susah maupun senang. Allah yang sejati adalah Tuhan yang setia, yang senantiasa hadir dalam kehidupan umat-Nya. Dialah sandaran hidup kita yang kekal. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini?

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 3-4?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita seharusnya merasa sangat aman kalau kita bisa bersandar kepada Tuhan yang Mahakuasa, hidup dan kekal. (pg).

  • JANJI: Hutang yang harus DIBAYAR

    Sahabat, pengalaman kita dalam hidup bermasyarakat bercerita bahwa salah satu perhelatan yang penuh dengan JANJI  adalah KAMPANYE PEMILU.  Para kandidat berjanji untuk berjuang membela kepentingan rakyat kecil. Tetapi setelah terpilih, ternyata ada cukup diantara mereka yang berjuang hanya untuk kepentingan partai atau diri sendiri. Janji tinggal janji. Padahal, KUALITAS KARAKTER seseorang teruji ketika ia sanggup MEMENUHI JANJI.

    Apa itu janji? Janji adalah sebuah kontrak psikologis yang menandakan transaksi antara 2 orang atau lebih di mana orang pertama mengatakan pada orang kedua untuk memberikan layanan maupun pemberian yang berharga baginya sekarang dan akan digunakan maupun tidak. Janji juga bisa berupa sumpah atau jaminan. Janji adalah suatu kesanggupan untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu dalam usaha untuk mendapat kepercayaan. Janji dapat diucapkan maupun ditulis sebagai sebuah kontrak (Wikipedia).

    Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan bahwa janji adalah ucapan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat.  Maka dapat disimpulkan bahwa janji merupakan hutang yang harus dibayar.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “JANJI: Hutang yang harus DIBAYAR”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 44:18-34 dengan penekanan pada ayat 33. Sahabat, Yehuda tergolong orang yang memenuhi janji. Ia berani mengambil risiko untuk melindungi Benyamin, adiknya. Ia maju untuk menghadapi Yusuf ketika Benyamin akan dijadikan budak oleh Yusuf karena di dalam karungnya kedapatan piala perak Yusuf.

    Ungkapan “Yehuda dan saudara-saudaranya” mengingatkan bahwa Yehuda adalah juru bicara untuk keluarga. Pernyataan Yehuda ini merupakan pembelaan terpanjang terhadap manusia di dalam kitab Kejadian dan merupakan salah satu pidato paling mengharukan di dalam Alkitab.

    Sahabat, Yehuda tahu risiko yang dihadapinya karena melindungi adiknya. Ia tahu bahwa Yusuf bisa saja membunuhnya. Namun, Yehuda berani maju untuk membela keluarga dan memohon belas kasihan Yusuf.

    Ini yang perlu kita garis bawahi, Yehuda telah berjanji kepada Yakub bahwa ia akan menjamin keamanan Benyamin. Sekarang Yehuda punya kesempatan untuk menepati janji itu. Menjadi budak adalah nasib buruk, tetapi Yehuda bertekad untuk menepati janji kepada ayahnya. Ia menunjukkan keberanian yang luar biasa dalam melaksanakan janji. Bagi Yehuda, janji merupakan hutang yang harus dibayar.

    Menepati janji berarti menjalankan apa yang telah dijanjikan secara bertanggung jawab dengan tekad dan keberanian, termasuk bila harus berkorban.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 32-34?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jika seseorang menyadari dan menginsyafi kesalahan, itu belum menunjukkan apa-apa. Kita butuh tindakan nyata sebagai pembuktian. Tindakan yang berubah, ini merupakan bukti bahwa manusia lama kita sudah tanggal. (pg).