Author: Christopherus

  • A Bright Future is Available

    RAHAB. Rahab merupakan salah seorang tokoh penting dalam Alkitab.  Perannya dikisahkan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dalam Yosua 2:1-24, Rahab diperkenalkan sebagai seorang perempuan sundal yang membuka jalan bagi kemenangan bangsa Israel atas Kanaan. Kemudian dalam Injil Matius pasal 1, Rahab diperkenalkan sebagai leluhurnya Tuhan Yesus. Kitab Ibrani juga mengaitkan Rahab dengan iman dan pembenaran (Ibrani 11:31). Siapakah sebenarnya Rahab itu, sehingga namanya dikaitkan dengan iman?

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yosua dengan topik: “A Bright Future is Available (Masa Depan yang Cerah Tersedia)”. Bacaan Sabda diambil dari Yosua 2:1-24. Sahabat, mengapa Rahab bersedia menampung dua mata-mata Israel? Apakah karena uang? Alkitab menjelaskan bahwa kedua orang Israel itu datang bukan untuk memakai jasa Rahab. Mereka melakukan tugas pengintaian terhadap kekuatan musuh. Oleh karena itu, Rahab tidak memperoleh keuntungan secara finansial dari kehadiran dua orang laki-laki itu sehubungan dengan profesinya.

    Dalam hal ini, Rahab sepertinya memiliki pemahaman yang baik tentang rencana serangan Israel ke Yerikho. Rupaya selama ini Rahab mendengar sepak terjang Israel mengalahkan bangsa-bangsa lain. Apalagi kisah spektakuler mengenai bagaimana bangsa Israel keluar dari Mesir. Rahab takjub dengan cerita bagaimana Laut Teberau terbelah dan berubah menjadi jalan raya untuk pelarian Israel dari Mesir. Rahab juga menyimak kisah-kisah bagaimana Israel mengalahkan  raja-raja. Rahab memahami bahwa perlindungan atas Israel itu berasal dari Tuhan yang Mahadahsyat (Ayat 10)

    Maka ketika suatu malam mata-mata Yosua datang dan menginap di rumahnya, ia nekat menyembunyikan dan melindungi mereka. Perkataan-perkataannya kepada mata-mata itu menunjukkan imannya kepada Allah Israel (Ayat 9-13, bdk. Yakobus 2:25). Ia sungguh percaya dan mengakui bahwa Allah Israel adalah satu-satunya Allah yang berkuasa.

    Rahab juga mengatakan bahwa sebagian besar penduduk Yerikho sedang diliputi oleh perasaan takut. Mereka juga sudah mendengar kabar kehebatan Tuhan yang menyertai Israel. Rahab dan sebagian penduduk juga merasa bahwa Yerikho sedang menunggu giliran hancur seperti bangsa-bangsa lain. Mereka sedang berharap-harap cemas menjadi korban berikutnya dari Israel (Ayat 11).

    Sahabat, dalam posisi inilah Rahab menunjukkan hikmat dan kecerdasannya. Rahab mengajukan penawaran jasa sebagai nyonya rumah yang bersedia menampung mata-mata Israel. Rahab meminta agar Israel menyelamatkan dia beserta keluarganya ketika Israel menyerang Yerikho (Ayat 13).


    Sahabat, ketika kota Yerikho dihancurkan, Rahab dan kaum keluarganya diselamatkan, seperti yang dijanjikan kedua mata-mata yang diutus Yosua. Kelak mereka menjadi bagian dari umat Allah (Yosua 6:17, 23, 25). Lalu ia menikah dengan Salmon dari suku Yehuda  dan nantinya menjadi nenek moyang Raja Daud, yang menurunkan Yesus, Sang Juru Selamat (Matius 1:5).

    Kisah Rahab adalah sebuah kabar baik. Bahwa kasih karunia Allah juga tersedia bagi orang-orang dengan masa lalu yang hina, cemar dan memalukan. Tidak ada dosa yang begitu besar sehingga pengampunan Allah tidak berlaku atasnya. Yang perlu dilakukan ialah, seperti Rahab, BERPALING  dari kehidupannya yang lama dan BERIMAN kepada Tuhan, satu-satunya Allah yang sejati. Di tangan-Nya, para pendosa diubahkan menjadi orang benar. Para penjahat menjadi pembawa kabar baik. Yang terbuang menjadi saluran anugerah dan pemberita pengharapan. Masa depan yang  cerah tersedia bagi mereka. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Ibrani 11:31?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Di tangan Tuhan, masa lalu yang KELAM dapat berubah menjadi masa depan GEMILANG. (pg).

  • Be a Productive People of God

    PERUMPAMAAN. Cara Yesus menjelaskan pengajaran-Nya memang luar biasa. Yesus memakai berbagai metode agar para pendengar-Nya dapat memahami dengan mudah, baik dan benar.  Salah satunya melalui perumpamaan.

    Secara sederhana perumpamaan berarti gambaran. Sebagai sebuah gambaran, Yesus berharap bahwa para pendengar-Nya mampu mengerti kebenaran firman, maka pastilah yang dipilih adalah contoh yang dapat dipahami dan dimengerti oleh para pendengar pada saat itu. 

    Perumpamaan Yesus adalah perumpaan (semacam analogi) yang diajarkan oleh Yesus kepada murid-muridnya. Kisah-kisah perumpamaan ini terdapat dalam kitab Injil: Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Kitab Matius memuat perumpamaan dengan jumlah yang terbanyak.

    Perumpamaan-perumpamaan Yesus  cukup sederhana dan cukup mudah untuk diingat. Oleh karena itu, perumpamaan tersebut masih dapat diceritakan dari mulut ke mulut, sebelum akhirnya menjadi bentuk tertulis. Salah satu sifat perumpamaan adalah penggambaran secara sepintas sebuah cerita yang sederhana dan lugas, tetapi memiliki makna yang jauh lebih dalam jika direnungkan lebih jauh. Salah satu perumpamaan yang cukup dikenal yaitu: Pokok anggur yang benar.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “Be a Productive People of God (Menjadi Umat Tuhan yang Produktif). Bacaan sabda diambil dari Yehezkiel 17:1-24 dengan penekanan pada ayat 8. Sahabat,  melalui nabi Yehezkiel  Tuhan menyatakan kerinduan dan kehendak-Nya atas kehidupan bangsa Israel yang menjadi umat pilihan-Nya.  Tuhan mau mereka menjadi umat yang produktif, yang mengalami pertumbuhan dan berbuah, seperti pohon anggur, “Namun ia ditanam di ladang yang baik, dekat air yang berlimpah-limpah, supaya ia bercabang-cabang dan berbuah dan supaya menjadi pohon anggur yang bagus.” (Ayat 8)
      

    Apa yang diharapkan dari pohon anggur?  Tak lain dan tak bukan adalah buahnya.  Pohon anggur hanya akan bermanfaat apabila dapat berbuah,  “Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.”  (Yohanes 15:16).

    Bertumbuh dan berbuah adalah cara menyenangkan hati Tuhan dan mempermuliakan nama-Nya,  “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.”  (Yohanes 15:8).  Kunci untuk dapat bertumbuh dan berbuah adalah melekat kepada Tuhan,  “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.”  (Yohanes 15:4), dan menjadikan hati kita sebagai tanah yang baik,  “Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.”  (Lukas 8:15)  Tanah hati yang baiklah yang dapat menghasilkan buah yang lebat:  “… ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.”  (Matius 13:8).

    Sahabat, Pemazmur menggambarkan kehidupan orang percaya yang produktif: “Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”  (Mazmur 1:3).  

    Sayang, sampai saat ini masih ada cukup banyak orang percaya yang kehidupan rohaninya tidak bertumbuh dan berbuah, padahal sudah menjadi pengikut Kristus bertahun-tahun lamanya dan bahkan sudah terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan rohani di gereja.  Kehidupan orang percaya yang demikian bisa disebut sebagai orang percaya yang kerdil dan mandul.  Tentu hal semacam ini sangat mengecewakan Tuhan! Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Yohanes 15:16?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita dipilih untuk dua hal: PERGI dan  MENGHASILKAN BUAH, dan buahnya itu tetap. (pg).

  • ReKat: God Preserves the Orphans

    (23 April 2023)

    Bacaan Sabda: Yeremia 49:1-39

    Dari hasil perenungan saya dari Bacaan Sabda, saya mendapatkan:

    1. Pesan yang saya peroleh dari perenungan firman Tuhan pada hari ini adalah: Ibadah kepada Tuhan harus utuh dan bulat, tidak boleh setengah-setengah. Ibadah kepada Tuhan tidak hanya terbatas pada  pujian yang dinyanyikan, doa yang dipanjatkan serta firman Tuhan yang didengarkan. Ibadah kepada Tuhan adalah nyanyian, doa dan firman Tuhan yang dilakukan serta diwujudkan dalam kesaksian hidup yang berdampak bagi sesama yang dilakukan dengan sungguh serta murni sebagaimana yang kita lakukan bagi Tuhan . Ibadah yang murni dan tak bercacat adalah ibadah yang dilanjutkan dengan tindakan dan aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
    1. Dari Yakobus 1:27, saya memahami: Tuhan menggerakkan hati umat-Nya untuk memberi perhatian serta membantu kebutuhan   para janda dan anak yatim. Yakobus mengajarkan umat-Nya untuk melakukan tindakan konkret dalam mewujudkan ibadah yang benar yaitu dengan mengunjungi para janda dan yatim piatu dalam kesusahan mereka. Mau menjadi kepanjangan tangan Tuhan untuk memerhatikan dan mengasihi mereka. 

    (Swan Lioe)

  • Don’t Hesitate!

    KITAB YOSUA. Kitab Yosua (akronim Yos.);  merupakan kitab keenam pada Perjanjian Lama Alkitab Kristen.   Kitab Yosua merupakan kitab pertama dari kelompok kitab-kitab sejarah   pada Perjanjian Lama Alkitab. Dalam Alkitab Terjemahan Lama, kitab ini disebut “Kitab Yusak”.

    Nama kitab ini merujuk pada tokoh Yosua bin Nun,  yaitu seorang tokoh bernama lahir Hosea yang menjadi pemimpin atas suku-suku Israel menggantikan Musa dan yang membawa mereka masuk dan merebut tanah Kanaan.

    Kitab ini berisi kisah bangsa Israel   ketika mereka merebut negeri Kanaan di bawah pimpinan Yosua bin Nun,  yang menjadi pengganti Musa memimpin umat Israel. Kitab ini mengandung sejarah bangsa Israel sejak masa kematian Musa hingga masa kematian Yosua. Peristiwa-peristiwa penting yang ada di dalam kitab ini antara lain: Penyeberangan Sungai Yordan, jatuhnya Yerikho, pertempuran di Ai, dan pengukuhan kembali perjanjian antara Allah dengan umat-Nya.

    Kitab ini pada dasarnya terdiri atas tiga bagian:

    1. Sejarah perebutan tanah Kanaan (Yosua 1-12) 
    2. Pembagian tanah kepada suku-suku Israel, penetapan kota-kota perlindungan, penyediaan kebutuhan untuk suku Lewi, dan pengiriman suku-suku di sebelah timur ke tempat-tempat tinggal mereka (Yosua 13-22).
    3. Kata-kata perpisahan dari Yosua, disertai laporan tentang kematiannya (Yosua 23-24).

    Hari ini kita mulai belajar dari kitab Yosua dengan topik: “Don’t Hesitate! (Jangan Ragu!)”. Bacaan Sabda diambil dari Yosua 1:1-18 dengan penekanan pada ayat 9. Sahabat, saat permasalahan, sakit-penyakit, krisis keuangan dan sebagainya datang menghantui hidup kita, rasa takut dan khawatir seringkali timbul mencemari pikiran kita sehingga iman kita menjadi lemah. 

    Kita mulai berpikir masalah yang kita alami terlalu berat dan tidak ada harapan lagi, padahal Tuhan berjanji bahwa masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:18). 

    Sahabat, hampir setiap manusia selalu berharap hidupnya baik-baik saja, mulus tanpa hambatan atau rintangan sedikit pun, padahal untuk mendapatkan janji Tuhan perlu proses, seperti dialami Yosua saat membawa bangsa Israel keluar Mesir menggantikan Musa. Itu tidak mudah, tantangan sangat berat karena bangsa Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk.

    Itulah sebabnya Tuhan berpesan kepada Yosua: Kuatkan dan teguhkanlah hatimu! Pesan itu disampaikai sampai 4 kali, artinya untuk bisa meraih janji Tuhan kita perlu memerhatikan pesan atau perintah-Nya karena suatu saat nanti kita akan menghadapi musuh. Musuh berbicara tentang sakit-penyakit, krisis keuangan atau masalah lain, tapi Tuhan berjanji, ”Seorang pun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” (Ayat 5)

    Ia akan selalu menyertai dan menolong kita saat kita membutuhkan, seperti pengakuan Daud, “Pertolonganku ialah dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.” (Mazmur 121:2). Mengapa janji Tuhan belum terealisasi dalam hidup kita? Masalahnya adalah kita mulai lemah dan tidak sabar menanti janji-Nya digenapi, padahal Tuhan punya waktu tersendiri untuk menggenapi janji-Nya.

    Sahabat, Dia tidak pernah terlambat untuk menolong kita, tapi kita sendirilah yang selalu membuat pertolongan itu tertunda oleh karena sungutan dan keluh kesah kita, sama halnya bangsa Israel yang tidak pernah berhenti mengeluh dan mengomel, padahal merka senantiasa mengalami pertolongan-Nya yang ajaib. Itu belum cukup bagi mereka untuk bisa mengucap syukur, yang ada malah selalu menyalahkan Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini? 
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 9?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Pendeknya, janji Allah selalu menuntut respons manusia. (pg).

  • Bite the Hands that Feed you

    PERIBAHASA. Peribahasa merupakan bentuk bahasa kiasan atau bahasa yang tidak mengungkapkan makna langsung tetapi menggunakan perbandingan. Biasanya, perbandingannya berbentuk kalimat atau bisa juga berbentuk kalimat-kalimat ringkas yang berisi ungkapan, perumpamaan, perbandingan, nasihat, prinsip hidup atau aturan tingkah laku kehidupan.

    Salah satu contoh peribahasa yang sering digunakan di dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat Indonesia adalah peribahasa:  “Air susu dibalas dengan air tuba” yang artinya  kebaikan dibalas dengan kejahatan. Air susu melambangkan kebaikan dan air tuba melambangkan keburukan. Untuk arti kata tuba sendiri artinya adalah pohon yang akarnya beracun dapat memabukkan atau meracuni.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “Bite the Hands that Feed you (Menggigit Tangan Orang yang Memberi kita Makan) ”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 16:1-52. Sahabat, Yerusalem adalah ibarat bayi yang dibuang oleh orang tuanya. Dengan penuh kasih, Tuhan memelihara dan membesarkannya (Ayat 6-7). Sebagai wujud kasih-Nya, Tuhan “memperistri” Yerusalem (Ayat 8-13). Itulah gambaran kasih Tuhan kepada Israel.

    Namun apa yang dilakukan bangsa Israel untuk membalas kebaikan dan kasih Tuhan? Sungguh sangat menyakitkan hati Tuhan, mereka malah memberikan kasih dan kebaikan kepada “kekasih-kekasih” mereka yang lain, yaitu dengan menyembah segala berhala yang disembah bangsa lain (Ayat 15).

    Sahabat, Israel sangat menikmati segala kelimpahan yang mereka terima dari TUHAN. Tetapi, mereka lupa diri. Mereka hidup sesukanya serta berbuat keji dengan mengikuti kebiasaan bangsa-bangsa di sekitarnya.  Mereka membalas air susu dengan air tuba. Mereka telah menggigit tangan Tuhan yang telah memberi makan mereka. TUHAN mengingatkan mereka bahwa sebelumnya Israel bagaikan anak yang dibuang, tidak diinginkan kehadirannya, dibiarkan mati, tidak disayangi oleh siapa pun. Penolakan anak yang baru dilahirkan karena sakit atau alasan jahat lainnya merupakan tradisi pada masa itu dalam kehidupan bangsa di luar Israel. 

    Secara keturunan mereka tidak lagi dipandang sebagai keturunan Abraham, tetapi berdasarkan tindakannya dipandang sebagai keturunan orang Kanaan, Amori dan Het; bangsa-bangsa yang ada di sana sebelum Israel, bangsa kafir yang tidak menyembah TUHAN (Ayat 1-5; bdk. Ulangan 26:5; Yosoa 24:14). Tanpa usaha dari pihak Israel, TUHAN memilih dan menjadikan Israel sebagai umat kesayangan-Nya dari antara segala bangsa di muka bumi. Ia mengikat perjanjian dengan mereka dan memberkati mereka dengan segala kelimpahan. Ia memberi mereka kehidupan, bahkan kesuburan. Dalam bagian ini juga dipakai gambaran perkawinan antara Israel sebagai mempelai perempuan dan TUHAN sebagai mempelai laki-laki. TUHAN memberikan segala kemegahan, kekayaan, dan kemasyhuran kepada bangsa Israel (Ayat 6-14; bdk. Rut 3:9).

    Sahabat, TUHAN menyatakan kasih-Nya kepada umat bukan karena apa yang dimiliki oleh umat tersebut. Tidak ada usaha atau pekerjaan baik sama sekali dari pihak umat untuk mendapatkan kasih-Nya. TUHAN ingin umat mengingat masa lalunya dan mematuhi ikatan perjanjian dengan-Nya.

    TUHAN telah menyatakan kasih-Nya dan menjadikan kita umat kesayangan-Nya. Jangan lupakan masa lalu kita yang buruk dan tidak layak bagi-Nya! Muliakan Dia sepanjang kehidupan kita! Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8-13?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sesungguhnya pada saat kita tidak menempatkan dan menjadikan Tuhan nomor satu dalam kehidupan kita, kita sudah melukai hati Tuhan. (pg)

  • God Will Always Fulfill His Promise

    BAGIAN PENUTUP KITAB YEREMIA. Sahabat, syukur kepada Tuhan kalau hari ini kita dapat sampai di bagian akhir dari kitab Yeremia. Kitab Yeremia ditutup dengan kisah Raja Yoyakhin yang dikasihani oleh Ewil-Merodakh, Raja Babel. Raja Babel memperlakukannya dengan sangat baik dan istimewa, yaitu makan bersama-sama dengan Raja Babel dan dipelihara kehidupannya oleh Raja Babel. Kita percaya bahwa apa yang dilakukan oleh Ewil-Merodakh, Raja Babel, adalah kehendak Tuhan, karena campur tangan Tuhan. 

    Bagi orang Israel, akhir cerita ini begitu penting. Raja keturunan Daud tetap ada, sekalipun dia tidak pernah kembali lagi ke Yerusalem. Hal yang amat penting di sini adalah bahwa penyertaan Allah atas Kerajaan Daud masih terus berlangsung. Hal ini menjadi sumber pengharapan bagi umat Allah untuk memandang ke depan. 

    Bagi kita saat ini, Kristus, anak Daud (Matius 1) merupakan sumber pengharapan bagi manusia berdosa. Hal lain yang merupakan penutup kitab Yeremia berkaitan dengan nubuat yang disampaikan oleh Nabi Yeremia. Kisah Nubuat yang disampaikan oleh Yeremia tentang penghukuman Tuhan kepada umat-Nya telah benar-benar terjadi. Oleh karena itu, mulai saat itu, nubuatan Yeremia tentang berkat masa depan menuju kepada penggenapan.Keadaan yang sulit sama sekali bukanlah tanda bahwa Allah tidak hadir dan memelihara.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari bagian akhir dari kitab Yeremia dengan topik: “God Will Always Fulfil His Promise (Tuhan akan Selalu Menggenapi Janji-Nya)”. Sahabat,  bacaan kita pada hari ini sepertinya mengulang kembali kisah kehancuran Yerusalem dan keruntuhan Yehuda di tangan Babel yang ada di pasal 39. Namun, penuturan di perikop ini lebih lengkap. Gaya penulisan catatan sejarah ini memakai gaya penulisan kitab Raja-raja (Ayat 1-3; lihat 2 Raja-Raja 24:18-20). 

    Rupanya pasal 52 sengaja dituliskan untuk menutup rangkaian nubuat Yeremia yang pada akhirnya terbukti digenapi (Ayat 1-30). Termasuk di dalamnya, bahwa belas kasih Allah tidak pernah benar-benar meninggalkan Yehuda (Ayat 31-34).

    Kehancuran Yerusalem terjadi sebagai bagian dari penghukuman Tuhan atas umat-Nya yang durhaka. Secara khusus ditegaskan bahwa kepemimpinan yang buruk dari seorang raja mengakibatkan segenap rakyat berdosa. Pada bagian ini ditegaskan bahwa ulah Zedekia bukan hanya mengakibatkan penduduk Yerusalem harus menderita, keluarganya pun ikut menderita. Tentu saja, Zedekia yang paling menderita (Ayat 10-11).

    Sahabat, penghukuman dahsyat ini termasuk meruntuhkan tembok Yerusalem yang menjadi kebanggaan Yehuda sebagai benteng yang tangguh, dan penghancuran bait Allah yang selama ini disalahgunakan sebagai jaminan bahwa Tuhan akan terus melindungi umat-Nya, walaupun mereka berdosa kepada-Nya (lihat Yeremia 7:1-15). Dengan hancurnya simbol-simbol keagamaan Yehuda, diharapkan hancur pula teologi yang keliru tersebut, sehingga tidak ada cara lain selain berserah penuh pada kedaulatan Allah serta tunduk kepada firman-Nya.

    Nubuat Yeremia pada mulanya disampaikan agar umat sebelum dihukum mendapat kesempatan bertobat. Sayang sekali, kesempatan itu tidak digunakan dengan baik malah umat dipimpin rajanya memilih tetap tinggal dalam dosa dengan rasa aman yang palsu. Murka Tuhan akhirnya dijatuhkan. Mereka harus kehilangan kemerdekaan.

    Sahabat, sesungguhnya keadaan sulit hanya membuat kita sulit mengerti bagaimana Allah dapat hadir, memelihara, dan MENGGENAPI  janji-Nya. Ketika orang percaya berada dalam keadaan yang sulit, yang perlu dilakukan adalah TETAP BERSANDAR  kepada Tuhan, jangan menjauhi Tuhan karena Allah sedang bekerja dengan cara-Nya sendiri. Kristuslah KEGENAPAN dari masa depan yang direncanakan Allah. Di dalam Kristus ADA PENGHARAPAN. Di dalam Kristus kita mendapatkan kekuatan dan segala sesuatu dapat kita tanggung. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdfasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Coba sebutkan hal-hal yang telah Tuhan tunjukkan kepadamu selama Sahabat membaca dan mempelajari Kitab Yeremia! Bersyukurlah kepada Tuhan untuk firman-Nya yang telah kita pelajari!

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Janji Tuhan pasti digenapi dalam kehidupan kita sekalipun kondisinya sulit untuk percaya. (pg).

  • God Organizes the Lives of His People

    PIALA EMAS. Piala, dalam bahasa Latin disebut “calix” yang berarti “cawan”. Piala adalah cawan yang menjadi wadah anggur. Piala emas melambangkan kemuliaan atau kehormatan karena biasanya digunakan menyajikan minuman bagi raja. Menjadi piala emas, berarti mendapatkan kehormatan dari Tuhan untuk melayani-Nya. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “God Organizes the Lives of His People (Allah Menata Kehidupan Umat-Nya)”. Bacaan Sabda diambil dari Yeremia 51:1-35. Sahabat, bacaan kita pada hari ini memperlihatkan Allah yang senantiasa setia dan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Dengan segala hikmat, Ia menata kehidupan umat-Nya.

    Allah melakukan pembalasan dengan menghukum Babel (Ayat 1-14). Allah menunjukkan diri-Nya sebagai Pribadi yang menjadikan alam semesta dengan segala hikmat dan akal budi-Nya. Hal ini menunjukkan kebodohan manusia yang tidak berpengetahuan karena hidup mereka penuh kesia-siaan dalam penyembahan patung (Ayat 15-19). Dosa dan kebodohan Babel menjadikan mereka sebagai lawan Allah (Ayat 25-35).

    Sahabat, Tuhan memakai Babel untuk menyatakan kedaulatan-Nya atas bangsa-bangsa. Babel menjadi alat Allah agar bangsa-bangsa, termasuk Yehuda, meminum cawan murka Allah (Yeremia 25:1-36). Namun, bacaan kita pada  hari ini memberi alasan mengapa cawan emas Allah itu akan dihancurkan. 

    Pertama, karena tindakan berlebihan Babel terhadap umat Tuhan ketika menyerbu dan menawan mereka. Babel bukan hanya menawan dan menjarah, tetapi juga menghancurkan bait Allah dan merampas peralatan ibadah di sana (Ayat 11). Termasuk di dalamnya ialah berbagai perabotan emas. Ironis! Babel ialah piala emas Tuhan yang merampas perabotan emas dari rumah Tuhan. 

    Kedua, karena walau mereka dipakai untuk melayani-Nya, mereka tetap memilih untuk memercayai dan menyembah berhala dewa sesembahan mereka (Ayat 17-18). Padahal Tuhan tidak dapat dibandingkan dengan para dewa palsu mereka (Ayat 15-18).

    Ilustrasi yang berbeda dipakai untuk menjelaskan Babel sebagai alat Allah, yaitu sebagai palu godam Allah untuk menghukum bangsa-bangsa (Ayat 21-23). Namun sekali lagi karena kejahatan Babel atas umat Tuhan, Allah menjadi lawan mereka (Ayat 24-26). Allahlah yang memerintahkan bangsa-bangsa tetangga Babel, yang kemudian hari lebur dengan Persia untuk menyerbu dan menghancurkan Babel (Ayat 27-33); sehingga umat Tuhan dapat berkata dengan lega, bahwa walau Babel telah menghancurkan mereka, pada gilirannya Babel akan dihancurkan Tuhan (Ayat 34-35).

    Sahabat, kalau saat ini kita mendapatkan kehormatan dan kesempatan  dipakai Allah untuk melayani, menjadi pelayan masyarakat secara luas,  hendaklah kita tidak melampaui batas wewenang yang dipercayakan Allah kepada kita. Hendaklah kita selalu ingat, kita ini pelayan, yang bertugas untuk memperjuangkan kesejahteraan masyarakat yang kita layani.

    Selain itu kita harus selalu ingat bahwa otoritas yang kita miliki berasal dari Allah, karena itu sudah selayaknya kita terus menjaga komitmen kita untuk setia dan tunduk hanya kepada Allah, Sang Pemberi Otoritas. 

    Sahabat, Tuhan tidak segan-segan menghancurkan piala emas-Nya yang tidak lagi  taat dan tidak tahu diri. Jadi, marilah kita senantiasa mawas diri dan menjaga dengan sungguh motivasi maupun cara kita melayani Dia dan sesama. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Bagaimanakah kehancuran Babel yang digambarkan oleh Yeremia?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Berdoalah bagi segenap orang percaya yang berperan aktif dalam pemerintahan agar apa yang mereka lakukan dan kerjakan dapat menjadi kesaksian di tengah-tengah bangsa ini. (pg).