Author: Christopherus

  • Be Careful in Life

    PEDANG. Wikipedia mencatat bahwa pedang adalah sejenis senjata tajam yang memiliki bilah panjang. Pedang dapat memiliki dua sisi tajam atau hanya satu sisi tajam saja. Di beberapa kebudayaan, jika dibandingkan senjata lainnya, pedang biasanya memiliki prestise lebih atau paling tinggi.

    Bilah pedang biasanya dibuat dari logam keras seperti besi atau baja. Meskipun terdapat pedang dari emas, itu hanya digunakan sebagai hiasan saja. Untuk latihan, biasanya pedang berbahan kayu yang digunakan, meski pedang dari kayu yang keras masih berbahaya. Senjata serupa pedang dan tombak yang menggunakan bilah obsidian (batu kaca vulkanik) digunakan oleh suku-suku asli Amerika Tengah dan Amerika Selatan yang pada saat kolonisasi Eropa belum mengenal logam.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “Be Careful in Life (Berhati-hatilah dalam Hidup)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 21:1-27. Sahabat, kitab Yehezkiel 21  adalah bagian dari kitab Yehezkiel dalam Alkitab Ibrani dan  Perjanjian Lama  di Alkitab Kristen.  Berisi perkataan nabi (dan juga iman)  Yehezkiel bin Busi, yang turut dibawa ke dalam pembuangan oleh Kerajaan Babilonia pada zaman raja Yoyakhin dari Kerajaan Yehuda dan raja Nebukadnezar dari Babel sekitar abad ke-6 SM.

    Sahabat, jika satu bangsa berperang dengan bangsa lainnya, maka persentase menang 50:50. Bagaimana jadinya apabila Allah berperang melawan bangsa Israel? Bacaan kita pada hari  ini merupakan kelanjutan dari Yehezkiel  20:45-49 yang berbicara tentang kehancuran bangsa dan tanah Israel. Jika dalam bacaan sebelumnya, murka Allah dilukiskan dengan kiasan “api” (Yehezkiel 20:47), maka dalam bacaan kita pada hari ini amarah Tuhan digambarkan seperti  “pedang pembunuh” (Ayat 14). Istilah “api” dan “pedang” memiliki fungsi yang sama, yakni memusnahkan dan membunuh.

    Allah menggunakan kata “pedang” untuk memperlihatkan bahwa diri-Nya mengangkat bendera perang. Artinya, Allah akan melenyapkan umat-Nya, baik orang benar maupun orang fasik (Ayat 1-5, 8-10). Cara Allah membinasakan umat-Nya dengan memakai kerajaan Babilonia (Ayat 18-25). Allah memakai tangan Si Pembunuh, yaitu raja Babel, menjadi pedang penghakiman dan kematian bagi umat Israel (Ayat 11). Tajamnya pedang Allah diibaratkan berkilau seperti petir (Ayat 10, 15).

    Sahabat, begitu hebatnya penderitaan yang bakal dialami bangsa Israel, Allah memerintahkan Yehezkiel mengerang kesakitan (Ayat 6) dan berkabung (Ayat 12). Sebab pedang kematian Allah akan membabat orang-orang fasik (Ayat 13, 15-16). Allah melakukan pembersihan sampai tuntas agar tidak ada satu pun kefasikan yang tersisa bagi bangsa Israel (Ayat 26).

    Walau seluruh wilayah Israel telah dihancurkan Allah menjadi puing-puing, namun Ia mampu membangun kembali kerajaan Daud dari timbunan puing tersebut. Kerajaan itu Allah titipkan untuk sementara waktu bagi mereka yang setia kepada-Nya sampai tiba ahli waris yang sejati untuk mengambil alih kuasa dan memerintah kerajaan tersebut (Ayat 27).

    Sahabat, Allah kita murah hati dan panjang sabar. Meski demikian, Ia tidak pernah menolerir orang yang terus-menerus hidup dalam kubangan dosa. Sebab akan tiba saatnya Allah akan mendatangkan hukuman atas mereka yang nyaman dalam keberdosaan. Sekali murka-Nya menimpa kita, maka kehidupan kita akan diluluhlantakkan tanpa ampun. Karena itu, BERHATI-HATILAH  kita DALAM HIDUP, berbicara, dan berperilaku. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang pedang dalam bacaan kita?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jika kita terus-menerus berbuat dosa, maka jangan kaget apabila murka-Nya menimpa kita. (pg).

  • Victory for Believers

    KOTA YERIKHO. detikedu mencatat Jericho merupakan kota tertua di dunia yang menjadi bukti berpindahnya kebiasaan manusia nomaden jadi menetap. Kota yang dihuni sejak 9000 SM ini dikenal dalam Alkitab sebagai kota pertama yang diserang bangsa Israel di bawah kepemimpinan Yosua setelah menyeberangi Sungai Yordan. Dalam Alkitab, Jericho juga disebut sebagai Yerikho atau Arīḥā.

    Kota tertua di dunia ini sempat ditinggalkan dan dihancurkan beberapa kali, namun kembali dibangun di area yang sama. Saat ditaklukkan oleh Inggris pada tahun 1918, wilayah Jericho menjadi bagian dari mandat Inggris untuk Palestina, seperti dikutip dari Encyclopaedia Britannica.

    Jericho juga dimasukkan ke Yordania sebagai tempat dua kamp besar pengungsi Arab setelah perang Arab-Israel pertama pada 1948. Selama Perang Enam Hari pada 1967, kota Jericho diduduki Israel. Kelak pada tahun 1994, Jericho diserahkan kepada otoritas Palestina di bawah perjanjian pemerintahan Israel-Palestina.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yosua dengan topik: “Victory for Believers (Kemenangan bagi Orang Percaya)”. Bacaan Sabda diambil dari Yosua 5:13-15 dengan penekanan pada ayat 14. Sahabat, bagi bangsa Israel, kota Yerikho adalah salah satu penghalang untuk mencapai tanah Perjanjian.  Yerikho adalah gambaran masalah yang besar.  Pada waktu itu Yosua sedang berada dekat kota itu.  Dengan kata lain Yosua sedang dekat dengan permasalahan yang sangat besar.

    Sahabat, tugas baru dan besar menanti Yosua. Tuhan memintanya untuk memimpin bangsa Israel menaklukkan kota Yerikho. Bagi Yosua, menaklukkan kota yang begitu besar dan dikelilingi tembok yang begitu tebal dan tinggi adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan. 

    Mungkin Yosua berpikir: “Bagaimana aku bisa masuk ke kota itu? Tembok kota itu begitu tebal, tentara-tentaranya pun pasti jauh lebih berpengalaman. Dengan cara bagaimana aku bisa menaklukkan kota itu? Ah, pekerjaan itu terlalu besar! Rasa-rasanya mustahil bisa merebut kota Yerikho!”

    Kehadiran seorang laki-laki yang berdiri di hadapannya sambil menghunus pedang itu sontak membuyarkan kegalauan Yosua. Yosua pun menaruh curiga pada kehadiran laki-laki asing itu dan sambil bersiaga ia bertanya apakah ia kawan atau lawan (Ayat 13). Ketika orang itu memperkenalkan diri sebagai Panglima Balatentara Tuhan, sujudlah Yosua menyembah hingga mukanya ke tanah. Yosua tahu kalau laki-laki itu tak lain dan tak bukan adalah Tuhan Allah sendiri yang menyatakan diri kepadanya (ay. 14). Tuhan tidak menghendaki Yosua fokus melihat kekuatan musuh yang besar, Yosua harus percaya ia disertai oleh Tuhan yang jauh lebih besar, yang akan berperang menyelesaikan tugas-tugasnya. Tuhan akan memberi kemenangan kepada umat-Nya.

    Sahabat, ketika sebuah masalah datang, di manakah mata hati kita akan tertuju? Kepada besarnya masalah atau besarnya Tuhan yang menyertai hidup kita? Memandang besarnya masalah akan membuat kita ragu, takut, dan hilang kekuatan. Tetapi memandang kehadiran Tuhan akan memberi kita kekuatan baru dan keyakinan untuk menang bersama Dia. 

    Sesungguhnya tidak ada masalah yang terlampau besar untuk ditaklukkan jika mata iman kita selalu tertuju kepada Tuhan yang jauh lebih besar. Kemenangan bagi orang percaya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang kota Yerikho?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dibutuhkan ketekunan, karena sedikit waktu lagi Tuhan pasti akan memberikan kemenangan dan mukjizat-Nya bagi kita, asal kita tetap taat kepada-Nya! (pg).   

  • Temptation from the Social Environment

    LINGKUNGAN SOSIAL. Pengalaman hidup  kita bercerita bahwa lingkungan sosial menjadi salah satu faktor penentu dalam memilih rumah untuk tempat tinggal. Mengapa? Lingkungan sosial merupakan  tempat berlangsungnya aktivitas sehari-hari. Lingkungan sosial menjadi faktor penentu terhadap perubahan-perubahan perilaku yang terjadi pada setiap individu atau kelompok. Lingkungan keluarga, teman sebaya, serta lingkungan tempat tinggal akan membentuk perilaku dalam diri setiap individu. Lingkungan sosial  yang baik akan membentuk pribadi yang baik, karena perilaku dan kepribadian seseorang cerminan dari lingkungan sosial yang ia tempati. 

    Keluarga menjadi lingkungan sosial yang pertama kali dikenal seorang individu sebelum terjun pada lingkungan sosial lainnya yang lebih besar. Kepribadian yang terbentuk pada anak dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sosialnya serta didasari oleh berbagai faktor berlangsungnya interaksi sosial. Ketika seorang anak mulai berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, maka secara tidak langsung kepribadian akan timbul berdasarkan hasil interaksi tersebut. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peran lingkungan sosial dalam membentuk kepribadian seseorang.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “Temptation from the Social Environment (Godaan dari LIngkungan Sosial)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 20:30-44 dengan penekanan pada ayat 30. Sahabat, dalam Roma 12:2 Rasul Paulus berpesan bahwa walau kita tinggal dan berada di dalam dunia, tetapi kita tidak boleh sama dengan dunia ini. Sama seperti ikan di laut, walau ikan tinggal di dalam air asin, tetapi tubuhnya tidak asin selama hidup. Tetapi saat ikan di laut mati maka tubuhnya diberikan garam agar bisa awet. Kita memang diutus Tuhan ke tengah-tengah dunia, tapi kita tidak boleh menjadi serupa dengan dunia.

    Sangat disayangkan saat ini ada cukup banyak orang percaya, tetapi masih menyimpan berhala atau memiliki berhala-berhala dalam hidupnya.  Memang setiap Minggu mereka masih rajin pergi ke gereja, namun sesungguhnya mereka mencintai hartanya lebih daripada cintanya kepada Tuhan.  Hati mereka telah terpaut kepada harta.  “… di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”  (Matius 6:21).  

    Padahal Tuhan Yesus dengan  jelas menyatakan:  “… Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”  (Matius 6:24).  Ada pula mereka yang tampak aktif terlibat dalam berbagai pelayanan gerejawi, namun sesungguhnya mereka melakukannya bukan untuk hormat dan kemuliaan nama Tuhan, tetapi supaya dilihat orang, dipuji, dihormati dan memiliki reputasi baik di mata orang-orang di sekitarnya.  Sesungguhnya mereka telah memberhalakan dirinya sendiri.

    Bangsa Israel adalah bangsa pilihan Tuhan, yang dikuduskan untuk menjadi umat yang beribadah kepada-Nya.  Namun mereka telah tergoda dengan lingkungan sosial, ketika melihat kehidupan bangsa-bangsa lain yang menyembah kepada berhala, mereka pun terpengaruh dan akhirnya hati mereka menjadi bercabang dua:  Kepada Tuhan dan juga berhala.  Artinya mereka tidak meninggalkan Tuhan sepenuhnya, tapi mereka juga menyembah kepada berhala-berhala.  

    Tak terhitung banyaknya Tuhan menegur dan memperingatkan, sebentar saja bertobat tapi kemudian berbalik lagi kepada berhala.  Bagaimana rasanya jika orang yang kita kasihi telah mendua atau berpaling kepada yang lain?  Kita pasti merasa cemburu dan hati ini terasa sakit.  Tuhan sangat membenci umat-Nya yang bercabang hati,  “… mereka menimbulkan sakit hati-Ku dengan berhala mereka. ” (Ulangan 32:21).  Berhala adalah kejijikan dan kekejian di mata Tuhan, dan Ia memandang umat yang melakukannya sebagai kenajisan.

    Sahabat, berhala-berhala “Zaman Now” memiliki berbagai macam bentuk.  Berhala adalah segala hal yang menggeser posisi Tuhan sebagai penguasa hati dan hidup kita.  Hobi, kekayaan, jabatan, bisnis, barang kesayangan, binatang kesayangan, bahkan  gadget dan sebagainya dapat menjadi berhala ketika semuanya itu menjadi lebih utama daripada Tuhan dan menyita sebagian besar waktu dalam hidup kita, sampai-sampai kita tidak punya waktu lagi untuk Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Roma 12:2?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Teruslah berusaha membawa perubahan bagi dunia agar dunia ini dipenuhi kemuliaan Allah. (pg). 

  • ReKat: God Protects His People(27 April 2023)

    Bacaan Sabda: Yermia 50 : 33 – 46

    Dari hasil perenungan saya dari Bacaan Sabda, saya mendapatkan:

    1. Pesan yang saya peroleh dari hasil perenungan saya: Sungguh tepat dan benar bahwa Tuhan itu melindungi umat Israel – Yehuda dalam pembuangan di Babel oleh bangsa Kasdim.Hal itu dinyatakan oleh nabi Yeremia, Tuhan menghibur dan menguatkan umat-Nya dalam keadaan letih  lesu  takut yang tak menentu karena dalam tawanan dan tekanan. Sebaliknya Tuhan, melalui nabi Yeremia bertindak tegas akan menghukum bangsa Kasdim, yang kelakuan mereka tidak dapat ditolerir, antara lain : Penyembah berhala; angkuh; bergelimpangan dengan dosa-dosa; dan bertindak menentang Tuhan yang Mahakuasa.
    1. Pemahaman saya tentang mengungkit-ungkit: Kata ini sama dengan membangkit – bangkitkan masalah, dengan sengaja, agar yang dipermasalahkan akan bereaksi,  terprofokasi dan beraksi. Mengungkit itu karena merasa diri benar, kuat, tangguh dan tidak ada siapa pun yang dapat mengalahkannya.

    (Haryono)

  • INSCRIPTION STONE

    PRASASTI. Kata prasasti berasal dari bahasa Sanskerta, dengan arti sebenarnya adalah “pujian”. Namun kemudian dianggap sebagai “piagam, maklumat, surat keputusan, undang-undang atau tulisan. Di kalangan arkeolog prasasti disebut inskripsi, sementara di kalangan orang awam disebut batu bertulis atau batu bersurat. Meskipun berarti “pujian”, tidak semua prasasti mengandung puji-pujian (kepada raja). 

    Prasasti adalah piagam atau dokumen yang ditulis pada bahan yang keras dan tahan lama. Penemuan prasasti pada sejumlah situs arkeologi, menandai akhir dari zaman prasejarah, yakni babakan dalam sejarah kuno Indonesia yang masyarakatnya belum mengenal tulisan, menuju zaman sejarah, di mana masyarakatnya sudah mengenal tulisan. Ilmu yang mempelajari tentang prasasti disebut Epigrafi.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yosua dengan topik: “INSCRIPTION STONE (BATU PERINGATAN)”. Bacaan Sabda diambil dari Yosua 4:1- 24  dengan penekanan pada ayat 7. Sahabat,  Allah memerintahkan agar Yosua memilih dua belas orang sebagai perwakilan dari suku Israel. Mereka ditugasi untuk mengangkat dua belas batu dari sungai Yordan (Ayat 1-3).Batu-batu itu adalah tanda peringatan perbuatan besar Tuhan tatkala Dia membelah sungai Yordan. Perbuatan ajaib itu membuat bangsa Israel dapat menyeberang (Ayat 7). 

    Tampaknya, pembaca pertama Kitab Yosua masih dapat melihat batu-batu itu (Ayat 9). Sepanjang bacaan pada hari ini, ada sebuah penegasan agar tetap mengingat sejarah. Jika anak-anak Israel bertanya apa arti batu itu, orang Israel harus menjawabnya. Mereka harus menuturkan tentang keajaiban perbuatan Tuhan itu (Ayat 6, 21).

    Jadi jelaslah bahwa  oleh karena campur tangan Tuhan semata,  Yosua dan umat Israel dapat menyeberangi sungai Yordan.  Padahal, aliran sungai Yordan itu sangat deras dan tidak mungkin untuk diseberangi.  Itulah sebabnya sungai ini menjadi tempat perlindungan yang paling aman bagi bangsa-bangsa di sekitar Kanaan dari serangan musuh, karena mereka yakin bahwa musuh tidak akan mungkin bisa melewati sungai yang deras ini.  

    Namun Yosua menceritakan bahwa ketika kaki para imam pembawa tabut perjanjian menyentuh air sungai Yordan, secara ajaib sungai itu terbelah menjadi dua dan bangsa Israel pun melintasi dasar sungai yang menjadi kering itu  (Yosua 3:17).  Bangsa Israel mengalami mukjizat luar biasa di sungai Yordan karena mereka mau taat melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuhan  (Yosua 3:3-5)!

    Peristiwa menyeberangi sungai Yordan adalah suatu peristiwa besar bagi bangsa Israel di bawah kepemimpinan Yosua.  Suatu bukti nyata bahwa Allah bangsa Israel adalah Allah yang hidup dan penuh kuasa!  Hal tersebut semakin menguatkan iman bangsa Israel.  Karena itu,  “… Apabila di kemudian hari anak-anakmu bertanya kepada ayahnya:  Apakah arti batu-batu ini?  maka haruslah kamu beritahukan kepada anak-anakmu, begini:  Israel telah menyeberangi sungai Yordan ini di tanah yang kering!  –  sebab Tuhan, Allahmu …”  (Ayat 21-23).

    Bangsa Israel mengalami mukjizat Tuhan yang luar biasa karena mereka mau taat dan melakukan apa yang diperintahkan Tuhan (Yosua 3:3-5). Bukan karena kuat dan gagah mereka tetapi semata-mata karena tangan Tuhan yang kuat dan perkasa yang menolong dan menopang mereka.

    Lakukan semua perintah-perintah-Nya dengan taat, maka mukjizat pasti akan kita alami.Kalau dahulu kita pernah mengalami mukjizat atau pertolongan Allah, kita harus ingat dan jangan lupakan itu semua. Jadikan prasasti yang bisa menguatkan iman kita dan lakukan semua perintah-perintah-Nya dengan taat, maka mukjizat pasti akan kita alami kembali. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita  pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 21-23?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Bukan karena kita kuat dan gagah, kita menjadi berhasil, tapi semata-mata tangan Tuhan yang kuat dan perkasa yang menopang! (pg).