Author: Christopherus

  • ReKat: A Bright Future is Available (05 Mei 2023)

    Bacaan Sabda: Yosua 2:1-24

    Dari hasil perenungan saya dari Bacaan Sabda, saya mendapatkan:

    1. Pesan yang saya peroleh dari renungan Firman Tuhan hari ini: Rahab percaya dan mengakui bahwa Allah Israel adalah satu-satunya Allah yang dahsyat dan berkuasa. Dari kisah Rahab yang diselamatkan oleh Israel  ketika Israel menghancurkan Yerikho, memberi kabar baik bagi kita: Kasih karunia Tuhan juga tersedia bagi orang-orang yang memiliki masa lalu dan latar belakang yang kelam, hina dan memalukan. Tuhan bersedia menerima pertobatan Rahab dan semua pendosa lainnya yang mau percaya kepada Tuhan dan berbalik dari kehidupan lamanya. Tuhan sediakan masa depan yang cerah bagi mereka yang mau bertobat dan mengikuti jalan Tuhan.
    1. Dari Ibrani 11:31 , kita melihat Rahab memiliki iman yang begitu kuat. Rahab berani untuk menerima dan  menyembunyikan para pengintai dari Israel sekalipun  berisiko besar. Perbuatan Rahab dipandang baik oleh Allah. Biarlah kita yang telah percaya kepada Tuhan, iman kita harus tetap kuat sekalipun sedang menghadapi tantangan kehidupan yang berat, mari kita tetap berfokus kepada-Nya, yang menjadi Sumber Pertolongan bagi kita semua. Allah sanggup untuk mengubah masa lalu kita yang  kelam  menjadi masa depan yang gemilang.
  • Breaking Down the Problem Walls

    MASALAH. Wikipedia mencatat masalah didefinisikan sebagai suatu pernyataan tentang keadaan yang belum sesuai dengan yang diharapkan. Bisa juga diartikan kata yang digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang membingungkan.

    Masalah biasanya dianggap sebagai suatu keadaan yang harus diselesaikan. Umumnya masalah disadari pada saat seorang individu menyadari keadaan yang ia hadapi tidak sesuai dengan keadaan yang diinginkan. Masalah adalah ketika kenyataan yang terjadi atau realita, fakta,  tidak sesuai dengan yang diharapkan.

    Dalam beberapa literatur penelitian, masalah sering kali didefinisikan sebagai sesuatu yang membutuhkan alternatif jawaban, artinya jawaban masalah atau pemecahan masalah bisa lebih dari satu. Selanjutnya dengan kriteria tertentu akan dipilih salah satu jawaban yang dianggap paling tepat dan paling kecil risikonya. Biasanya, alternatif jawaban tersebut bisa diidentifikasi jika seseorang telah memiliki sejumlah data dan informasi yang berkaitan dengan masalah bersangkutan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yosua dengan topik: “Breaking Down the Problem Walls (Meruntuhkan Tembok Masalah)”. Bacaan Sabda diambil dari Yosoa 6:1-20 dengan penekanan pada ayat 3-5. Sahabat, setelah menghabiskan empat puluh tahun yang sulit di gurun, bangsa Israel kini berada di tepi timur Sungai Yordan. Tantangan selanjutnya: Merebut tanah Kanaan. Rintangan pertama adalah Yerikho (ayat 1), kota yang sangat sulit ditaklukkan. Kotanya dikelilingi tembok dan benteng-bentengnya memiliki dinding batu setinggi 11 kaki dan lebar 14 kaki.

    Maka runtuhnya tembok Yerikho merupakan  satu kisah  yang sangat menggetarkan hati kita.  Bagaimana tidak, tembok tersebut runtuh bukan karena kekuatan manusia menggunakan alat perang yang canggih, melainkan dengan kekuatan adikodrati, yaitu melalui sorak-sorai dan puji-pujian. 

    Pada waktu itu yang dihadapi oleh bangsa Israel di bawah kepemimpinan Yosua bukan perkara ringan, sebab mereka bukan hanya menghadapi Yerikho yang telah tertutup pintu gerbangnya (Ayat 1), tapi juga raja dan pahlawan-pahlawannya yang gagah perkasa.  Secara logika mustahil bagi bangsa Israel bisa masuk ke kota Yerikho karena pintu gerbangnya telah tertutup, namun bila Tuhan turut bekerja dan terlibat di dalamnya, maka perkara yang mustahil bagi manusia menjadi sangat mungkin bagi Tuhan.

    Sahabat, tembok Yerikho adalah gambaran dari masalah-masalah yang kita alami dalam kehidupan ini.  Betapa sering kita dihadapkan pada masalah yang sepertinya tidak ada jalan keluar, tertutup oleh tembok yang tebal, dan hal itu membuat kita takut dan khawatir.  Begitu melihat permasalahan itu tampak besar dan kuat, serasa sulit untuk ditembus dan diruntuhkan, kita pun sudah merasa kalah sebelum bertanding, alias menyerah.  Perhatikan apa yang Tuhan firmankan kepada Yosua!:  “Aku serahkan ke tanganmu Yerikho ini beserta rajanya dan pahlawan-pahlawannya yang gagah perkasa.”  (Ayat 2).  Tuhan berjanji dan membesarkan hati Yosua bahwa Ia akan memberikan kemenangan besar kepada bangsa Israel, dan janji itu pun ditepati-Nya!

    Karena itu orang percaya tak perlu takut menghadapi masalah sekalipun masalah tersebut sebesar dan sekuat tembok Yerikho, sebab kita punya Tuhan yang lebih besar dan lebih dahsyat dalam segala perbuatan-Nya, Tuhan yang kuasa-Nya tidak pernah berubah dahulu, sekarang dan sampai selama-lamanya.  Orang percaya tak perlu takut sebab di dalam diri kita ada Roh Kudus, Roh yang membangkitkan kekuatan  (2 Timotius 1:7)  dan  “… Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.”  (1 Yohanes 4:4). 

    Sahabat, orang percaya memiliki potensi Ilahi yang luar bisa!  Karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk menjadi lemah dan takut menghadapi apa pun. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu   dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Tolong tuliskan secara singkat salah satu pertolongan Tuhan yang Sahabat alami. 

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Iman menggerakkan kaki kita untuk menapaki anak tangga pertama. (pg).

  • MENJALANI TANPA PRIVILEGE

    Manusia biasanya memakai privilege (hak istimewa) untuk bisa lolos dari beberapa hal yang dianggap menghambat langkahnya, kalau bisa tidak usah lewat proses tertentu dan kalau bisa potong kompas saja.  Sangat sedikit orang yang punya privilege menyadari pentingnya proses untuk memperoleh sesuatu, termasuk dalam hal ini, Yesus Sang Mesias.  Hari ini kita melanjutkan belajar dari Injil Matius dengan merenungkan Matius 3:13-17.

    Saat Yesus meminta Yohanes Pembaptis  untuk membaptis-Nya, Yohanes menolak.  Sebagai seorang spiritualis, Yohanes mengenali siapa Yesus sebenarnya.  Bahkan Injil Yohanes mencatat pengakuan Yohanes kepada Yesus: Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa isi dunia (Yohanes 1:20). 

    Baptisan Yohanes sendiri merupakan tanda pertobatan dan kehidupan yang baru (Matius 3:11), maka saat Yesus dibaptiskan menandakan bahwa Yesus siap menjalani kehidupan yang baru.  Yohanes merasa bahwa dialah yang harus dibaptiskan oleh Yesus karena posisi Yesus lebih tinggi dari Yohanes secara rohani.  Namun Yesus menolak permohonan Yohanes dan memilih untuk menjalani proses pertama memulai pelayanan-Nya sebagai seorang pengajar yaitu baptisan.  Yesus  mau mengikuti proses yang ditetapkan manusia (Matius 3:16).

    Saudaraku, renungkanlah hal ini dari sikap Yesus:

    1. Yesus mengikuti proses walau memiliki privilege

    Apa arti privilegePrivilege adalah sebuah keistimewaan berupa akses atau keuntungan yang tidak diterima orang lain.  Biasanya privilege diterima berdasarkan segmen tertentu.  Karena Yohanes melayani di bidang spiritual, maka Yohanes menangkap keistimewaan Yesus yang saat itu datang dan minta dibaptis olehnya.

    Kesadaran Yohanes inilah yang mendorongnya untuk mengatakan kepada Yesus: Kamulah yang harus membaptisku, aku tidak layak.  Namun Yesus menolak privilege yang ditawarkan Yohanes, padahal saat itu Yohanes sangat popular dan banyak follower-nya.  Yesus memilih mengikuti proses. Inilah wujud kerendahan hati Yesus yang rela dianggap berdosa dan dibaptiskan agar bisa mulai menjadi Pemberita Kerajaan Allah.

    • Saat Ia merendahkan diri, surga justru menyatakan siapa diri-Nya.

    Tak disangka bahwa ketika Yesus selesai dibaptis, sebuah keajaiban terjadi dimana langit terbuka dan Roh Kudus turun disertai pengakuan status Yesus (Matius 3:16-17).  Ternyata surga merayakan sikap rendah hati Yesus dengan membuka status asli-Nya.  Kerendahan hati dan ketaatan sangat dihargai oleh Allah sebagaimana Paulus mengatakan dalam Filipi 2:8-9 bahwa Allah meninggikan kerendahan hati Yesus.

    Kerendahan hati dan ketaatan.  Itulah yang jelas tergambar dari sikap Yesus yang rela mematuhi proses walau sebenarnya Ia bahkan bisa memakai privilege-Nya.  Yesus merendahkan diri begitu rupa agar Kerajaan Allah dapat diberitakan. 

    Mari bandingkan dengan manusia.  Beberapa orang bersikap arogan Ketika memiliki keistimewaan sedikit saja. Misalnya saat punya jabatan tinggi atau punya orang tua pejabat, merasa bisa menganiaya orang lain yang dianggap mengganggu atau merugikan dirinya.  Kasus-kasus seperti itu akhir-akhir ini banyak kita dengar, lihat dan baca bukan?

    Oleh karena itu mari kita pikirkan bersama :

    1. Mengapa manusia selalu cenderung untuk memanfaatkan privilege untuk menghindari sebuah proses atau konsekuensi yang pastinya berkaitan dengan keuntungan dirinya?
    2. Apa yang bisa membuat manusia bisa hidup dalam sebuah proses tanpa mengutamakan privilegenya?

    Tidak banyak manusia mampu menahan diri dari memanfaatkan keistimewaan yang dia miliki untuk kepentingannya sendiri.  Hanya manusia yang memandang Kristus dan berkomitmen untuk mengikuti jejak-Nya  yang mampu melakukannya.  Apakah kita juga demikian?  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • TERHITUNG WALAU TAK DIPERHITUNGKAN

    Saudara, mulai hari ini kita akan belajar dari Injil Matius, dan  hari ini ini kita akan merenungkan Injil Matius 1:1-17 dengan topik: “TERHITUNG WALAU TAK DIPERHITUNGKAN”.  

    Kemunculan nama empat perempuan di silsilah Yesus seperti tercantum dalam bacaan kita merupakan hal yang sangat jarang terjadi. Biasanya silsilah di dalam Alkitab memuat nama-nama laki-laki dan bukan perempuan.  Itulah sebabnya kemunculan empat nama perempuan dalam silsilah Yesus, tokoh utama dalam Injil Matius, pantas untuk menjadi perenungan. Keempat perempuan itu adalah Tamar (ayat 3), Rahab (ayat 5), Rut (ayat 5) dan isteri Uria (ayat 6).  Keempatnya sebenarnya tidak memiliki kriteria yang cukup baik sehingga pantas disebutkan dalam daftar silsilah, yaitu:

    1. Tamar.  Ibu ini melahirkan si kembar Peres dan Zerah dari Yehuda yang adalah mertuanya sendiri (Kejadian 38:27). 
    2. Rahab bekerja sebagai wanita penghibur sebelum bertemu dan menikah dengan Salmon, salah satu mata-mata Yosua (Yosua 2 : 1).
    3. Rut adalah wanita asing yang meninggalkan identitasnya demi mengikuti mertuanya (Rut 1:16-17)
    4. Istri Uria (BIS : bekas istri Uria) untuk menyebutkan ibu dari Salomo, raja agung Israel.  Matius tidak menyebutkan nama perempuan itu sebagaimana ketiga nama yang lain, namun hanya mencatat statusnya sebelum menikah dengan Daud. Alkitab mencatat kehebohan perselingkuhan itu (2 Samuel 11)

    Jelas bahwa nama para perempuan di silsilah Yesus versi Matius bukanlah perempuan yang memiliki sejarah hidup yang biasa. Walaupun demikian para ibu ini mendapatkan tempat khusus yang disediakan oleh Matius untuk mencatat nama-nama mereka.  Mereka lemah secara identitas seksual karena mereka adalah perempuan, mereka juga lemah dalam catatan sejarah kehidupan karena pengalaman mereka masing-masing. 

    Namun Allah meninggikan mereka dengan kelahiran anak-anak mereka.  Nama mereka tercantum di daftar silsilah untuk menunjukkan bahwa dalam silsilah Sang Mesias pernah hidup orang-orang yang tersisih, orang asing dan bahkan orang yang melakukan dosa.  Namun ketika Allah mulai turut campur tangan dalam sejarah hidup mereka dan mereka berani meninggalkan masa lalu untuk berjalan di jalan yang benar, nama mereka dipulihkan.  Mereka yang tidak diperhitungkan, malah akhirnya terhitung dalam sejarah Sang Mesias.  Dibalik semua itu ada Allah yang bekerja keras mengubah kehidupan manusia.

    Saudaraku, selama manusia masih diberi kesempatan hidup di dunia, sejarah hidupnya masih terus dituliskan dan sangat prematur bila menjatuhkan vonis tertentu.  Bisa saja manusia suatu saat terjerembap dalam kubangan dosa, salah memilih jalan hidup, keliru memilih teman, dan lain-lain.  Sejarah hidupnya menjadi gelap dan kelam.  Sebagai sesama, kadang rasanya tidak sabar melihat orang itu tidak segera keluar dari kubangan dosa dan bahkan dengan bangga meneruskan jalannya yang salah.  Akhirnya vonis dijatuhkan : tidak ada harapan baginya dan tersingkirlah dia dari hitungan orang berhasil.

    Namun bagi Allah, selama manusia masih bernafas, kesempatan itu masih diberikan-Nya.  Allah bisa berkarya dengan untuk mengubah  apa yang tidak diperhitungkan manusia sanggup untuk masuk hitungan.  From zero to hero.  Apa yang kelam, diubah menjadi terang.  Mendung akan berlalu dan terang mengusir kegelapan itu.  Bila seorang menyadari dan mau menerima anugerah Allah,  ia akan mampu menjalani hidup dalam kebenaran dan mengusir kegelapan dalam hidupnya.  Sebagaimana pujian Maria : “Jiwaku memuliakan Tuhan … sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya” (Lukas 1:46, 48).  Ya, Allah sanggup melakukan itu : Meninggikan orang yang rendah dan tidak masuk hitungan.  

    Oleh karena itu renungkanlah :

    1. Apakah saya saat ini ada dalam status tidak diperhitungkan?
    2. Beranikah saya mempercayai bahwa anugerah Allah sanggup memulihkan kondisi saya yang terpuruk?
    3. Beranikah saya meninggalkan jalan kekelaman dan berjalan dalam kebenaran?

    Selagi masih ada kesempatan, semua bisa berubah sesuai kehendak Allah. Terpujilah Allah Sang Maha Bijaksana. (Ag)

  • GALILEA? MENGAPA TIDAK?

    Saudaraku, tidak banyak orang yang mau mengangkat nama daerah yang kecil, tidak dikenal dan bahkan tidak memiliki reputasi yang baik.  Namun Allah memilih menggunakan daerah itu untuk menjadi bagian dari rencana penyelamatan agung.  Mari hari ini  kita melanjutkan belajar dari Injil Matius dengan merenungkan Matius 2:19-23.

    Ketika Yusuf ayah Yesus disuruh Allah untuk membawa kembali keluarganya dari pengungsian di Mesir, ia memilih Galilea sebagai tempat domisilinya karena alasan keamanan, karena Arkhelaus telah menjadi Raja baru di Yudea dan ia dikenal sebagai raja yang memberatkan hidup rakyat. Keluarga ini memulai kehidupan baru di kota itu hingga Yesus dewasa sehingga Ia menyandang status sebagai Orang Nazaret (Matius 2 : 24) atau Orang Galilea (Yohanes 1:46, Yohanes 7: 41, Yohanes 7 : 52).

    Dikenal sebagai orang Galilea tidak terlalu menyenangkan karena pada masa Yesus hidup, orang Yahudi Galilea dikenal sebagai orang yang kurang terdidik dan kurang terhormat dibandingkan daerah lain.  Galilea juga menjadi tempat pertemuan berbagai bangsa, sehingga kerohanian orang Yahudi asal Galilea diragukan.  Walaupun begitu, Allah mengizinkan Yusuf membawa-Nya ke Galilea, daerah yang dianggap sinis oleh orang Yahudi sendiri.  Bahkan Yesus tidak keberatan dibesarkan di daerah itu, di Nazaret.

    Ada dua hal yang bisa direnungkan dari ayat-ayat ini :

    1. Allah tidak dibatasi oleh stereotipe buatan manusia.

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, stereotipe adalah prasangka yang didasarkan pada penilaian atau anggapan berdasarkan perilaku orang lain.  Seperti Yesus yang berasal dari Galilea, maka Natanael yang sangat Yahudi itu menyikapi sinis saat pertama bertemu dengan-Nya (Yohanes 1:46).  Natanael berpikir Yesus akan sama dengan Yahudi Galilea yang lain, padahal Yesus berbeda.  Mengapa Yesus tidak dibesarkan di Provinsi Yudea saja supaya lebih mudah bagi-Nya mengabarkan tentang Kerajaan Allah?  Karena stereotipe tidak dapat membelenggu karya Allah untuk menyelamatkan manusia. Allah tidak menciptakan stereotipe maka Ia tidak dibatasi olehnya.  Buktinya hingga akhir hayatnya Natanael yang juga Bernama Bartolomeus itu tetap mengikut Yesus sampai akhir dan bahkan menurut tradisi gereja ia meninggal sebagai martir. 

    • Apa yang dianggap tidak layak, bisa menjadi alat yang baik untuk Kerajaan Allah.

    Yesus tidak keberatan memulai pekerjaan dari Nazaret. Walaupun sepertinya orangtuanya mengambil keputusan yang darurat saat memilih Nazaret untuk menjauhi Raja Arkhelaus, namun ternyata memang itu adalah bagian dari rencana Tuhan.  Penghinaan terhadap Galilea tidak akan menyurutkan rencana Allah yang besar untuk umat manusia.  Allah mampu untuk memakai apa yang dianggap hina untuk sebuah karya yang besar.

    Dari perenungan ini ada beberapa hal yang bisa dipikirkan bersama :

    1. Apakah kita masih terkungkung dengan stereotipe dan menilai sesama berdasarkan hal itu?
    2. Yakinkah kita bahwa Tuhan sanggup mengangkat yang hina menjadi yang mulia?
    3. Beranikah kita menanggalkan stereotipe dan menilai sesame dengan anugerah Allah?

    Kiranya apa yang dilakukan Allah membuat kita mengikuti jejak-Nya dan memberanikan kita untuk lepas dari belenggu stereotipe dalam menilai diri sendiri dan orang lain. Tuhan memberkati. Selamat bertumbuh dewasa.  (Ag)