
Author: Christopherus
-
All is God’s Grace
KASIH KARUNIA. Berkat kemurahan Allah, bersama Rasul Paulus, saya menyatakan bahwa: “… karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” (1 Korintus 15:10). Apa itu kasih karunia?
Kasih karunia atau anugerah dalam bahasa Ibrani “khen” yang berarti perbuatan seorang atasan yang menunjukkan kepada bawahannya kasih karunia, padahal sebenarnya bawahan itu tidak layak menerimanya. Kasih karunia adalah pemberian Allah kepada manusia padahal manusia tidak pantas untuk menerimanya.
Kata itu misalnya digunakan dalam Kejadian 6:7, “Tetapi Nuh mendapat kasih karunia (khen) di mata TUHAN”; dan Keluaran 33:17, “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau”.
Kata Ibrani “khen” dalam bahasa Yunani diterjemahkan: “kharis”, yang secara umum berarti: Pemberian, hadiah, anugerah, kemurahan hati, dan karunia. Dalam Perjanjian Baru kata kasih karunia atau anugerah ini dihubungkan dengan keselamatan dari Allah bagi manusia.
Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yosua dengan topik: “All is God’s Grace (Semua adalah Karunia Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Yosua 11:16-23. Sahabat, sesungguhnya setiap kisah pasti punya akhir. Ada yang berakhir tragis, ada juga yang berakhir manis.
Dalam bacaan kita pada hari ini, diceritakan bahwa rangkaian pertempuran bangsa Israel sudah selesai. Perang berhenti (Ayat 23). Yosua berhasil merebut seluruh negeri (Ayat 16). Semua rajanya ditangkap dan dibunuhnya (Ayat 17). Tidak ada satu kota pun yang mengikat persahabatan dengan Israel kecuali orang Gibeon (Ayat 19). Singkatnya, Tuhan telah membuat Israel menjadi penguasa atas wilayah itu.
Sahabat, kisah perjuangan Israel berakhir manis. Akan tetapi, hal itu tidak didapat dengan mudah. Mereka melewati waktu yang cukup lama untuk meraih kegemilangan (Ayat 18). Kita membaca dalam Kitab Yosua bahwa perjalanan Israel penuh dengan dinamika. Petualangan mereka diselingi oleh pasang-surut dan suka-duka. Kadang, mereka dimurkai Tuhan, tetapi tidak sedikit keajaiban dan kebaikan-Nya yang mereka rasakan. Semua itu mereka lalui bersama.
Dari seluruh pergolakan itu, ada satu yang tetap sama, yaitu Tuhan selalu ada bersama Israel. Dia selalu setia dalam segala situasi. Ini menandakan pencapaian Israel hanyalah ANUGERAH SEMATA. Segudang prestasi Yosua merupakan BELAS KASIHAN TUHAN semata.
Kita dan Israel menyembah Tuhan yang sama. Dia tidak berubah. Kesetiaan-Nya tidak akan lekang oleh waktu. Jika Dia setia dengan Israel, maka Dia pun setia terhadap kita. Artinya, Dia juga akan menyertai dalam lika-liku kehidupan kita. Dia tidak akan pernah meninggalkan kita.
Sahabat, kita tidak tahu bagaimana akhir kehidupan ini. Bagi manusia, masa depan merupakan sebuah misteri. Pengetahuan tentang waktu hanya milik Tuhan. Namun sejarah Israel menunjukkan, jika Tuhan bersama kita, manis, sukacita, dan bahagia akan menjadi akhir dari kisah hidup kita. Dia mungkin akan menempa kita dengan banyak pelajaran. Bertahanlah! Tuhan melakukan itu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Setialah sampai akhir karena anugerah dari Tuhan selalu mendatangkan penghiburan, kekuatan, kebaikan, dan kemenangan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah.Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
- Apa yang Sahabat pahami tentang kasih karunia?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ketaatan pada perintah dan kehendak Tuhan menjadi kunci keberhasilan. (pg).
-
There is always A WAY
TANTANGAN. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tantangan berarti: Ajakan berkelahi (berperang dsb); Hal atau objek yang menggugah tekad untuk meningkatkan kemampuan mengatasi masalah; Rangsangan (untuk bekerja lebih giat dan sebagainya); Hal atau objek yang perlu ditanggulangi.
Pada sebagian orang sering menganggap tantangan adalah sesuatu yang membuat sulit, kadang menghambat sesuatu yang ingin kita capai. Tapi sebenarnya kalau kita mau melihat dari sisi yang agak berbeda dari pemahaman tersebut, sebenarnya tantangan merupakan bahan bakar yang sangat dahsyat dalam pencapaian sesuatu tujuan.
Sahabat, sesungguhnya tantangan akan menggairahkanmu, memberimu arah, dan membangkitkan yang terbaik dalam dirimu. Tantangan akan mendorong Sahabat untuk mempelajari keterampilan baru, meraup pengetahuan baru. Tantangan memotivasimu untuk memberi hasil terbaik dari dirimu.
Pernahkah Sahabat perhatikan atau sadari, bahwa saat kamu memiliki sedemikian banyak tugas yang harus dikerjakan, kamu justru memiliki lebih banyak energi untuk menyelesaikan apa yang semestinya harus selesai dikerjakan. Tapi sebaliknya saat sedikit hal yang perlu dikerjakan, ternyata lebih sedikit lagi hal yang selesai dikerjakan. Usahamu akan meningkat sesuai dengan volume pekerjaan yang harus dikerjakan. Tantangan mendorong hasil kerjamu. Tantangan tidak muncul untuk menarikan kamu ke bawah, tapi tantangan ada untuk mendorong Sahabat ke atas, sehingga menghasilkan hal yang terbaik dalam pencapaian target.
Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yosua dengan topik: “There is always A WAY (Selalu ada JALAN)”. Bacaan Sabda diambil dari Yosua 10:1-43. Sahabat, catatan panjang sejarah manusia merekam banyak peristiwa. Selain tragedi, sejarah juga menyuguhkan kepada kita kisah yang mencengangkan. Kita dihipnotisnya dengan kekaguman lantaran sejarah menyajikan banyak peristiwa yang melampaui nalar. Sejarah, terkadang, memaksa kita untuk mengakui ada tangan yang tidak terlihat sedang bekerja.
Sejarah orang Israel membuktikan hal tersebut . Orang Gibeon mendapat ancaman dan intimidasi dari raja-raja di sekitar wilayah mereka (Ayat 3-4). Mereka berencana untuk memerangi Gibeon. Kondisi ini membuat orang Gibeon datang kepada Yosua untuk meminta bantuan (Ayat 6). Tantangan ada di depan mata Yosua. Dia tidak bisa menolak ini sebab sudah ada ikatan perjanjian di antara mereka. Dia tidak punya pilihan, sehingga dia dan bala tentaranya pergi maju ke medan perang (Ayat 7).
Sahabat, Yosua menyambut tantangan yang ada. Dia maju bertempur dengan memegang janji Tuhan bahwa semua lawannya akan takluk (Ayat 8). Betul saja, Tuhan selalu menepati janji-Nya. Hujan batu dikirimkan untuk membunuh musuh Israel (Ayat 11). Bahkan, matahari bisa berhenti karena Yosua memintanya kepada Tuhan (Ayat 12-14). Yosua mengatakan semua itu berasal dari Tuhan yang berperang bersama mereka (Ayat 25). Sisa ceritanya sudah kita ketahui bahwa Israel berhasil mengalahkan semua lawan-lawannya (Ayat 42).
Tuhan kerap bekerja di luar akal sehat kita. Bagaimana mungkin hujan batu bisa turun dari langit? Bagaimana mungkin matahari berhenti? Itu membuktikan bahwa Tuhan tidak pernah kekurangan cara untuk menolong umat-Nya. SELALU ADA JALAN.
Sahabat, hari ini kita kita diingatkan untuk TIDAK ALERGI terhadap TANTANGAN. Permufakatan jahat yang didorong Iblis mungkin saja dibuat orang untuk menghambat pekerjaan Allah melalui kita. Namun keberanian untuk mengandalkan dan mengimani kuasa Tuhan yang tidak dapat dilawan kuasa dunia ini akan membuktikan bahwa kita adalah pemenang, bukan pecundang. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
- Apa yang Sahabat pahami tentang tantangan?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Penyertaan Tuhan selalu hadir dengan cara yang tak terduga. (pg).
-
Tyre’s Sin of Pride
TIRUS. Berdasarkan catatan dari Wikipedia Tirus adalah sebuah kota di Kegubernuran Selatan di Lebanon. Dengan berpenduduk 117.100 orang, Tirus mencuat keluar dari pantai Laut Tengah dan terletak sekitar 80 km di selatan Beirut. Nama kota ini berarti: Batu karang. Tirus adalah kota Fenisia kuno dan tempat kelahiran legendaris Eropa dan Elissan (Dido). Kini kota ini adalah yang keempat terbesar di Lebanon.
Di kota ini juga terdapat salah satu pelabuhan utama negara ini yang dikenal oleh masyarakat setempat dalam bahasa bahasa Prancis sebagai Soûr. Tirus adalah tujuan populer di kalangan para wisatawan. Kota ini mempunyai banyak situs kuno, termasuk Hippodrome (pacuan kuda) Romawinya yang dimasukkan ke dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO pada 1979.
Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “Tyre’s Sin of Pride (Dosa Kesombongan Tirus). Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 26:1-21. Sahabat, Tirus merupakan kota pelabuhan. Orang-orang yang mendiami wilayah Tirus adalah bangsa Fenesia. Saat itu Tirus termasuk salah satu kota terkaya (Yehezkiel 27:1-25; Yesaya 23:5, 8). Saking makmurnya, bangsa Tirus menjadi sombong dan bermegah atas kota-kota yang dibangun. Mereka sangat bersukacita dengan kejatuhan Yerusalem (Ayat 1-2).
Hancurnya Yerusalem memberikan keuntungan besar dalam jalur perdagangan bagi Tirus. Di sini terlihat jelas egoisme bangsa Tirus yang hanya memikirkan diri sendiri dan tidak peduli dengan nasib bangsa lain. Dengan kejatuhan Yerusalem, terbuka peluang besar untuk melakukan monopoli perdagangan, baik di darat maupun di laut.
Sahabat, karena sifatnya seperti itu, Allah mengutuk Tirus dan bersumpah akan memusnahkan seluruh kota dan bangunan berkubu yang mereka banggakan (Ayat 3-4). Apa yang mereka banggakan selama ini dalam sekejap akan lenyap karena bangsa yang sangat kuat akan menjarah habis semua kekayaan bangsa Tirus (Ayat 5, 12, 14). Penduduk mereka akan mati karena pedang (Ayat 6, 8, 11).
Bangsa Tirus yang dikenal sebagai raja lautan dan kota yang mewah dalam sekejap akan hancur oleh bencana alam. Allah akan membungkam kesombongan mereka dengan tsunami yang hebat. Gelombang air pasang yang hebat mampu menenggelamkan seluruh wilayah Tirus ke dasar laut (Ayat 19-20). Saking hebatnya bencana alam itu membuat keberadaan Tirus hanya tinggal kenangan (Ayat 21).Kejatuhan Tirus menjadi kejutan bagi banyak bangsa. Mereka tidak menduga bahwa Tirus yang tangguh dengan bentengnya yang kokoh dapat hancur lenyap dalam sekejap (Ayat 15-18).
Ketika sedang berada di puncak kejayaan, penduduk Tirus hidup dalam salah satu dosa yang paling dibenci Allah, yakni kesombongan yang dibuktikan dalam kehidupan yang mengandalkan diri sendiri. Akibatnya, mereka dihukum karena kesombongan tersebut. Pengalaman penduduk Tirus merupakan peringatan bagi saya dan Sahabat agar hati-hati dan waspada agar tidak jatuh dalam dosa kesombongan.
Sahabat, kesombongan merupakan ego yang terpusat pada diri sendiri. Tidak heran jika orang sombong memiliki kecenderungan memandang rendah orang lain. Perilaku sombong seperti ini dapat menghancurkan diri sendiri. Belajarlah rendah hati dan murah hati agar kita menjadi orang yang bijaksana. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!
Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Pesan apa yang Sahabat peroleh dalam perenunganmu?
- Sebagai anggota jemaat, peran apa yang dapat Sahabat lakukan agar gereja tidak jatuh ke dalam dosa kesombongan?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Orang sombong akan diseret turun oleh Allah sampai ke tempat yang paling rendah dan akan direndahkan serendah-rendahnya. (pg).
-
ReKat: Be Careful in Life(13 Mei 2023)
Bacaan Sabda: Yehezkiel 21:1-27
Dari hasil perenungan saya dari Bacaan Sabda, saya mendapatkan:
- Pesan yang saya peroleh dari hasil perenungan: Menyikapi disiplin yang dari Tuhan dalam menjalani hidup ini, secara nalar manusiawi kita memang diakui tidaklah mudah, sungguh berat! Mengapa demikian? Karena kecendrungan tubuh manusiawi kita, tertuju kepada penderitaan yang sedang menimpa, yang sedang menindih dan menekan jasmani kita, sehingga keadaan itulah yang menyebabkan kita lalai, lengah, padahal maksud kasih-Nya melalui penderitaan atau petir-Nya, sesungguhnya seharusnya menyadarkan kita. Oleh karena itu sesungguhnya inilah momen yang tepat untuk berubah, berbalik dan bersegera bangkit dari keterpurukan derita jasmani, jiwa dan roh ke arah penghayatan hidup yang Tuhan kehendaki.
- Pemahaman saya tentang pedang: Penghukuman yang dari Tuhan itu berlaku kepada siapa saja tanpa ada yang dikecualikan oleh Tuhan. Karena di pemandangan Tuhan seorangpun tidak ada yang benar, semuanya telah berdosa. Ayat 12, pedang ditujukan kepada para pemimpin umat, tetapi juga kepada segenap umat. Tidak ada seorangpun yang yang mampu bertahan dari penghukuman Tuhan. Dia berdaulat dan berkuasa atas umat manusia. Hanya pertobatan yang sejati dalam Kristuslah yang dapat melepaskan kita dari penghukuman-Nya.
(Haryono)
-
Vengeance is God’s Right
ANJING DENGAN KUCING. Wikipedia mencatat bahwa dalam bahasa indonesia dikenal pepatah seperti anjing dengan kucing, yang digunakan untuk menggambarkan dua orang yang saling bermusuhan dan tidak bisa didamaikan. Anjing dan kucing memiliki berbagai bentuk interaksi. Naluri alami keduanya mengarah pada interaksi yang bertentangan dan bermusuhan.
Sinyal dan perilaku yang digunakan anjing dan kucing untuk berkomunikasi sangat berbeda, dan dapat dianggap sebagai sinyal permusuhan, ketakutan, dominasi, persahabatan, atau teritorial yang disalahartikan oleh spesies lain. Anjing memiliki naluri alami untuk mengejar hewan kecil yang melarikan diri, naluri yang juga umum ditemukan pada kucing. Sebagian besar kucing akan lari dari anjing, sementara beberapa kucing mungkin akan melakukan tindakan seperti mendesis, melengkungkan punggung, dan mengusap anjing tersebut. Setelah dicakar kucing, beberapa anjing bisa menjadi takut pada kucing.
Jika dilatih dengan tepat, anjing dan kucing mungkin memiliki hubungan yang tidak bermusuhan. Anjing yang dibesarkan dengan kucing mungkin lebih menyukai kehadiran kucing daripada anjing lain.
Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “Vengeance is God’s Right (Pembalasan adalah Hak Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 25:1-17 dengan penekanan pada ayat 7. Sahabat, setelah menubuatkan kehancuran Yehuda, sekarang Tuhan beralih kepada bangsa-bangsa di sekeliling Yehuda, yakni bangsa Amon, Moab, Edom, Filistin. Hubungan mereka dengan Yehuda seperti anjing dengan kucing, banyak bermusuhannya daripada bersahabat. Karena bangsa-bangsa di sekeliling inilah, maka Yehuda dan Israel jatuh ke dalam penyembahan berhala, sehingga menimbulkan hukuman Tuhan bagi mereka.
Padahal tujuan Tuhan menempatkan Israel (Yehuda) di tengah-tengah bangsa ini, adalah untuk menjadi garam dan terang, menjadi berkat sehingga bangsa-bangsa ini mengenal Tuhan Allah Israel. Karena mereka tidak ada yang bertobat, dan kita juga tahu bahwa kehidupan mereka tidak lebih baik daripada orang Yehuda (Israel), mereka pun mengalami penghukuman dari Tuhan.
Sahabat, dari nubuatan dalam bacaan kita pada hari ini, kita dapat mempelajari empat hal: Pertama, Allah Israel (Yehuda) adalah Alllah yang Esa, Allah atas semua suku bangsa di dunia. Dia bukan hanya Allah atas Israel dan Yehuda saja, tetapi Dia juga adalah Allah atas Amon, Moab, Edom, dan Filistin, bahkan semua suku bangsa di dunia ini.
Kedua. Allah Israel berdaulat atas nasib bangsa-bangsa di dunia, walaupun dalam sejarah manusia melihat bahwa bangsa-bangsa ini dikalahkan oleh Babel, namun sesungguhnya Tuhan memakai Babel untuk menghukum mereka (Ayat 7, 11, 14, dan 17)
Ketiga, penghinaan terhadap Yehuda. Ketika Yehuda dikalahkan Babel dari jauh, mereka malah mensyukuri kekalahan dan kehancuran Yehuda, maka Tuhan secara Pribadi sangat membenci orang berdosa yang mengira dirinya lebih baik daripada orang yang dihukum oleh Tuhan.
Keempat, pembalasan adalah hak Tuhan, karena hukuman Tuhan bersifat adil dan bijaksana. Adil karena hanya Tuhan sajalah yang tahu besar kejahatan manusia, dan yang bisa menghukum sesuai keberdosaannya. Sedangkan bagi manusia, hal ini tidak mungkin bisa. Sesungguhnya, kita sama sekali tidak memiliki otoritas atas sesama kita, untuk menghakimi mereka. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!
Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
- Seberapa besar Sahabat melihat Tuhan berdaulat atas hidupmu dan orang lainnya, apakah ada perbedaan?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Apakah gereja dan pribadi kita sudah menjadi berkat bagi orang-orang sekitar? (pg).
-
ASK GOD
BUDAYA BERTANYA. “Ada pertanyaan?”, demikian kita sering mendengar atasan, penceramah, motivator, ataupun fasilitator pelatihan menutup topik pembicaraannya. Tidak jarang kita menemui, situasi hening, tanpa ada orang yang mengacungkan tangan untuk bertanya.
Beberapa orang yang berusaha menganalisa mengatakan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang pemalu, sehingga harap maklum jika tidak banyak respons terhadap presentasi yang sudah berlangsung. Benarkah tidak adanya pertanyaan ini di latarbelakangi oleh budaya malu? Atau justru, di budaya kita berkembang kebiasaan mematikan pertanyaan sehingga individu memang tidak menyuburkan kebiasaan bertanyanya?
Bapak Ev. Andreas Christanday sebagai Pendiri dan Ketua Pembina Yayasan Christopherus mengembangkan budaya RK3 yaitu Relasi, Komunikasi, Konsultasi, dan Koordinasi di lingkungan Pengurus, Staf, dan Karyawan Christopherus. Maka saya dengan penuh antusias sering bertanya kepada Beliau ketika saya dipercaya sebagai editor, menyusun acara, membuat konsep tema suatu acara, menulis artikel, dan membuat usulan program atau kegiatan.
Saat ini saya dipercaya untuk menulis renungan harian di Website Christopherus yang bertajuk: “Sejenak Merenung”. Setelah saya membaca ayat-ayat yang menjadi dasar renungan yang hendak saya tulis, saya selalu bertanya kepada Tuhan: “Tuhan, pesan apa yang harus saya sampaikan kepada para pembaca?”. Saya meyakini bahwa Tuhan merupakan sumber hikmat, kekuatan, pertimbangan, dan pengertian (Ayub 12:13).
Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yosua dengan topik: “ASK GOD (BERTANYA kepada TUHAN)”. Bacaan Sabda diambil dari Yosua 9:1-21 dengan penekanan pada ayat 14. Sahabat, Yosua pernah keliru mengambil keputusan ketika ia mengikat perjanjian dengan penduduk Gibeon tanpa melibatkan Allah, tidak bertanya kepada Tuhan terlebih dahulu (Ayat 14).
Sebetulnya orang Israel sempat mencurigai penduduk Gibeon, tetapi akhirnya mereka bertindak gegabah, lalu mengikat perjanjian dengan bangsa asing itu (ayat 7-14). Seandainya mereka BERTANYA kepada Allah dan mencari tahu kehendak-Nya sebelum memutuskan, niscaya mereka tidak akan mengambil keputusan yang keliru. Konsekuensinya, Yosua dan bangsa Israel harus menanggung akibat dari keputusan keliru tersebut untuk jangka waktu yang lama (Ayat 19-21).
Sahabat, kita dapat menyimpulkan bahwa bangsa Israel kena tipu karena mereka TIDAK BERTANYA atau meminta pendapat Allah ketika memutuskan saat mendapat tawaran dari bangsa Gibeon. Mereka langsung memutuskan menerima bekal bangsa Gibeon dan mereka baru sadar ketika tahu siapa sebenarnya bangsa Gibeon, bangsa yang seharusnya mereka tumpas.
Dalam hidup ini, keputusan yang berkaitan dengan perjanjian atau komitmen akan berdampak besar dan berjangka panjang, misalnya keputusan untuk menikah, menerima pekerjaan, berpindah pekerjaan, dan sebagainya. Mereka yang tidak melibatkan Allah berpotensi mengambil keputusan yang keliru.
Sahabat, apakah ada diantara kita yang sedang mempertimbangkan sesuatu berkaitan dengan perjanjian atau komitmen? Berhati-hatilah, jangan terburu-buru. Sebelum memutuskan, BERTANYALAH kepada Tuhan. Libatkanlah Tuhan dalam mengambil keputusan, supaya kelak kita tidak akan mengalami penyesalan yang tiada berujung!
Yakinlah ketika kita melibatkan Tuhan dalam pengambilian keputusan, Dia akan menuntun dan mengarahkan kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!
Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
- Apa yang Sahabat pahami tentang Budaya Bertanya?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Bertanya kepada Tuhan, itulah awal kemenangan kita.(pg).
-
The Parable of Rusty Clay Pot
KUALI. Berdasarkan catatan Wikipedia kuali merupakan salah satu alat memasak masyarakat Asia berupa belanga besar yang terbuat dari tanah dan umumnya digunakan untuk merebus sayuran. Bahan bakunya berasal dari tanah liat. Bentuknya bundar dengan mulut besar, antara bagian atas dan bawah sama besar kadang didesain dengan dua kuping sebagai pegangan.
Kuali telah lama ada dan telah digunakan masyarakat semenjak zaman Neolitikum (Zaman Batu Muda). Pada umumnya, kuali dibuat dari tanah liat, tetapi di dalam Hikayat Hang disebutkan terdapat pula kuali dari besi.
Di Jambi, kuali berfungsi sebagai alat memasak lauk pauk dan air minum. Oleh masyarakat Minangkabau, kuali digunakan untuk memasak jenis masakan gulai. Di Jawa kuali sudah dikenal oleh masyarakat umum sejak dulu kala, sedangkan di daerah Aceh kuali sering disebut dengan blangong.
Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “The Parable of Rusty Clay Pot (Perumpamaan KUALI yang Berkarat)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 24:1-14 dengan penekanan pada ayat 10-11. Sahabat, saat penghakiman Allah hampir tiba. Setiap nubuatan yang disampaikan Yehezkiel kepada bangsa Israel akan terwujud satu per satu. Bukan hanya umat Israel menjadi saksinya nubuatan Allah, tetapi Yehezkiel juga.
Untuk mencegah agar bangsa Israel berdalih atas nubuatan-Nya, maka Allah memerintah Yehezkiel mencatat tanggal, bulan, dan tahunnya. Tujuannya, sebagai kesaksian dan bukti sejarah bahwa penghakiman Allah itu terjadi (Ayat 1-2). Sebelum hari penghakiman itu tiba, Allah menyuruh Yehezkiel menyampaikan sebuah perumpamaan tentang kuali di atas api. Kuali menunjukkan kepada kota-kota Israel, sedangkan potongan daging mengacu kepada orang-orang Israel (Ayat 3-5; bdk. Yehezkiel 11:3, 7). Istilah “api” memperlihatkan armada perang Babel yang menginvasi wilayah Israel (Ayat 3). Kata “tulang-tulang pilihan” mencerminkan raja, pejabat negara, tetua adat, dan imam-imam kepala (Ayat 4).
Sahabat, mengingat dosa bangsa Israel terlalu berat, maka hukuman Allah dijatuhkan menjadi dua bagian, yakni: Pertama, hukuman untuk penduduk Yerusalem (Ayat 6-8). Kejahatan penduduk Yerusalem seperti karat dalam kuali yang tidak mungkin hilang. Satu-satunya “jalan penebusan dosa” adalah seluruh penduduknya ditawan dan diangkut ke pembuangan (Ayat 6). Dalam perjalanan ke negeri asing, banyak orang akan mati dengan mengerikan, apakah itu disebabkan oleh kelaparan, kehausan, rasa capek luar biasa dan sebagainya (Ayat 7-8).Kedua, hukuman untuk kota-kota Yerusalem (Ayat 9-13). Kota kebanggaan Israel akan menjadi timbunan puing-puing. Tidak ada satu bangunan pun dibiarkan berdiri kokoh (Ayat 11-12). Semua kota dan wilayah Israel akan menjadi kengerian dan kesunyian seperti tempat pembakaran mayat. Bau busuk yang menyegat. Tidak ada kehidupan yang tersisa di sana (Ayat 9-10). Mereka harus menjalani semua tuntutan keadilan Allah sampai amarah-Nya mereda (Ayat 13-14).
Sahabat, dari “Perumpamaan Kuali yang Berkarat” kita dapat belajar: Hidup yang hanya ditujukan hanya untuk diri sendiri mengakibatkan Tuhan demikian murka kepada Israel. Maka saat ini hidup kita sebagai orang yang telah diselamatkan, sudah semestinya tidak ditujukan untuk diri kita sendiri saja. Hidup sebagai orang yang diselamatkan hendaknya menjadikan kita mampu untuk menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab, termasuk tanggung jawab sebagai anggota persekutuan. Sebagai anggota persekutuan, kita semua diajak untuk mengusahakan persatuan yang utuh dan erat, dan itulah yang digambarkan oleh Rasul Paulus sebagai tubuh Kristus yang terdapat di 1 Korintus 12:12-13. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
- Apa yang Sahabat pahami dari 1 Korintus 12:12-13?
Selamat sejenak Merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jadilah manusia baru yang saling membangun satu dengan yang lain sehingga kesatuan tubuh Kristus benar-benar dirasakan kehadirannya, mewarnai dengan kebaikan. (pg).
-
Obedience due to Words of God
KETAATAN. Apakah ketaatan itu sulit? Ketaatan itu sesungguhnya sederhana, tidak rumit seperti yang dibayangkan. Secara prinsip, ketaatan kepada Tuhan berarti kita melakukan hal yang Tuhan katakan, tidak lebih dan tidak kurang. Namun, mengapa kita sulit melakukannya? Sebenarnya, kesulitan terbesar untuk bersikap taat bukan disebabkan perintah Tuhan itu rumit, melainkan keinginan manusialah yang mempersulit perintah tersebut. Keinginan dalam hati manusia sering kali mengalahkan keinginan untuk menaati Tuhan.
Sahabat, mengamati perilaku manusia yang cenderung sukar dalam menaati peraturan, saya semakin menyadari bahwa taat adalah karakter yang perlu ditumbuhkan lewat pembelajaran seiring berjalannya waktu. Tanpa adanya pembiasaan, yang berawal dari kesediaan untuk taat, niscaya akan sukar untuk menjadikan ketaatan sebagai gaya hidup, baik dalam hal menaati peraturan yang dibuat oleh manusia maupun menaati firman Tuhan.
Sebenarnya prinsip ketaatan itu sederhana: Jadikanlah kebiasaan sampai kita merasa tidak damai sejahtera ketika hendak melanggar aturan yang seharusnya kita taati. Pengalaman hidup kita bercerita bahwa hal tersebut bukanlah perkara mudah karena selalu ada tantangan dan ujian atas ketaatan kita. Namun, sambil menatap dampak positifnya ketika ketaatan itu sudah mendarah daging dalam diri kita, niscaya kita akan lebih termotivasi untuk menjadikan ketaatan sebagai bagian hidup yang tak terpisahkan.
Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yosua dengan topik: “Obedience due to Words of God (Ketaatan karena Firman Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Yosua 8:1-29. Sahabat, bangsa Israel baru saja mengalami kekalahan saat menyerang kota Ai. Seketika, keberanian mereka menciut. Padahal secara jumlah, penduduk Israel jauh lebih banyak dibandingkan penduduk kota Ai. Mereka seolah kehilangan kepercayaan bahwa Tuhan menyertai.
Setelah dosa Akhan terselesaikan, Tuhan pun berniat memulihkan bangsa Israel. Tuhan menyatakan niat kepada Yosua bahwa Dia akan memberikan kota Ai kepada Israel (Ayat 1-2).
Sahabat, janji tersebut membuat Yosua kembali bersemangat. Dia mengerahkan tiga puluh ribu pahlawan-pahlawannya (Ayat 3). Dibanding serangan pertama, jumlah ini sepuluh kali lipatnya. Israel sepertinya ingin mengerahkan semua kemampuan terbaiknya. Itu menunjukkan bahwa keyakinan mereka sudah mulai pulih. Firman Tuhan menyegarkan kembali semangat yang mulai kendur.
Kali ini, bangsa Israel menjaga kekudusan dan taat kepada perintah Tuhan (Ayat 8). Setelah melalui pertempuran dengan strategi jitu (Ayat 10-22), kota Ai pun berhasil direbut. Semua perintah Tuhan pun mereka lakukan dengan sempurna (Ayat 24-29).
Sahabat, bangsa Israel tampaknya belajar dari kegagalan mereka. Mereka disadarkan bahwa raihan kemenangan bukan karena kuat dan gagah, melainkan Tuhanlah yang berperan sebagai faktor penentu. Tuhan yang berperang untuk umat-Nya, bukan sebaliknya.
Melalui kisah ini, ada dua hal yang bisa menjadi perenungan kita. Pertama, ketika Yosua tawar hati, firman Tuhan menyemangatinya kembali. Dia bangkit dari keterpurukannya. Jadi, kepercayaan dirinya dibangun di atas firman Tuhan. Kedua, firman itulah yang menjadi pendorong ketaatan bangsa Israel. Artinya, sumber ketaatan adalah firman Tuhan, bukan dari yang lain.
Sahabat, sebagai komunitas orang percaya menyadari bahwa keinginan-keinginan dalam diri kita itulah yang membuat ketaatan itu menjadi rumit dan sulit. Itu adalah penghalang terbesar dalam hidup kita untuk menaati Tuhan. Mantapkan tekad kita untuk menaati semua perintah Tuhan dalam hidup kita. Pengamsal mengatakan, “Siapa meremehkan firman, ia akan menanggung akibatnya, tetapi siapa taat kepada perintah, akan menerima balasan.” (Amsal 13:13). Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
- Apa yang Sahabat pahami dari Amsal 13:13?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hidup menaati Tuhan karena pemahaman akan kebenaran, akan memudahkan kita dalam menaati peraturan dalam hidup keseharian. (pg).
