Author: Christopherus

  • God’s Forgiveness and Restoration for His People

    MEZBAH. Pada umumnya mezbah adalah sebuah tempat persembahan korban. Mezbah juga bisa diartikan sebagai sebuah peringatan, artinya: untuk mengingatkan kembali pada suatu pengalaman pertemuan dengan Allah yang luar biasa. Mezbah menandai tempat-tempat pengembaraan para nenek moyang bangsa Israel (Kejadian 12:8; 13:4; 26:25; 33:20). Allah mengadakan hubungan dengan umat-Nya. Oleh sebab itu orang berusaha mengadakan sebuah mezbah tunggal, yang dijadikan sumber kekuatan dan gambaran persatuan bangsa Israel (2 Tawarikh 3:12). 

    Kemuliaan Allah kembali hadir dalam Bait Suci. Pertanyaannya adalah bagaimana ibadah pada Allah diwujudkan? Salah satu unsur penting dalam Bait Suci terpusat pada mezbah.

    Hari ini kita Kembali belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “God’s Forgiveness and Restoration for His People (Pengampunan dan Pemulihan Allah terhadap Umat-Nya)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 43:1-27 dengan penekanan pada ayat 9. Sahabat, akibat segala kekejian yang dilakukan umat Israel dalam Bait Suci, kemuliaan Tuhan meninggalkan bait-Nya (Yehezkiel  8:1-11:25).

    Inilah klimaks dari seluruh penglihatan Yehezkiel, yaitu kemuliaan Allah telah meninggalkan Bait Suci akibat dosa umat-Nya (Yehezkiel 10:18-20). Melalui pintu gerbang Timur kemuliaan Allah meninggalkan Bait Suci yang lama (Yehezkiel 10:19). Melalui pintu gerbang Timur pula kemuliaan Allah kembali (Ayat 2 dan 4). Penglihatan ini menyatakan pengampunan dan pemulihan Allah terhadap umat-Nya.

    Allah sendiri menyatakan bahwa Bait Suci adalah tempat takhta dan tapak kaki-Nya. Ia akan menjaga Israel tidak menajiskan nama-Nya. Segala kenajisan Israel akan disingkirkan karena raja mereka adalah Allah yang kudus. Dinding yang melingkupi kompleks Bait Suci memisahkan segala kenajisan dari kesucian Allah yang hadir dalam hidup mereka (Ayat 7-9).

    Yehezkiel disuruh menggambarkan rancangan Bait Allah yang baru. Melalui gambar itu, bangsa Israel diingatkan dan diajar tentang kekudusan Allah. Selain itu, mereka diingatkan untuk melakukan dengan setia segala hukum Allah. Sungguh suatu hal yang indah karena Allah tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka. Dengan penuh kasih, Allah akan membimbing mereka kepada kehidupan baru. Dalam gambaran Kemah Suci, ruang mahakudus adalah tempat Allah bersemayam dengan tutup pendamaian dan Tabut Perjanjian sebagai takhta dan tempat meletakkan tapak kaki-Nya.

    Saat Israel melihat rancangan Bait Suci itu, mereka akan malu oleh berbagai kesalahan mereka. Pemulihan Bait Suci diikuti dengan peraturan dan hukum yang harus dilakukan mereka dengan setia. Mereka wajib menjaga daerah puncak gunung sebab tempat itu adalah tempat kudus Allah (Ayat 9-12).

    Sahabat, mezbah memiliki dua pengertian, yakni: Pertama, tempat ibadah manusia dinyatakan dan diperkenan Allah. Kedua, tempat kasih dan pengampunan Allah dinyatakan pada manusia. Ayat 18-27 menguraikan upacara penahbisan mezbah. Hanya para imam Lewi keturunan Zadok yang boleh mempersembahkan korban bakaran kepada Allah (Ayat 19).

    Sebelum mezbah digunakan untuk upacara kurban bakaran, terlebih dahulu harus dilakukan upacara penyucian mezbah (Ayat 18b-20). Upacara ini dilakukan selama tujuh hari berturut-turut dengan mengorbankan seekor lembu jantan muda, seekor kambing jantan yang tidak bercela, dan seekor domba jantan yang tidak bercela sebagai kurban penghapus dosa. Mulai hari kedelapan, para imam dapat menjalankan tugasnya mempersembahkan korban bakaran dan keselamatan dari umat.

    Persembahan korban bisa memiliki beberapa fungsi, antara lain: Pertama, sebagai penyucian dosa dan pendamaian antara orang berdosa dengan Allah yang suci, sebelum seseorang dapat menghampiri Allah dan berkenan kepada-Nya. Kedua, untuk menyatakan syukur atas anugerah pengampunan dan atas segala berkat Allah yang diterima orang tersebut. Ketiga, suatu persekutuan antara umat-Nya dengan Allah. Persekutuan ini dimungkinkan karena adanya pengampunan dan respons ucapan syukur.

    Di satu sisi, Allah mengadili setiap kesalahan umat Israel dengan murka-Nya. Di sisi lain, Allah setia akan janji-Nya. Ia merancang rencana agung untuk menyelamatkan manusia berdosa yang telah digenapi-Nya dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.

    Kita patut bersyukur karena Kristus sudah menggenapkan ritual Taurat ini melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Dia sudah menjadi korban penghapus dosa dan pendamaian. Melalui Dia, kita menaikkan syukur dan dipersekutukan dengan Allah Bapa.

    Melalui mezbah, Allah menyediakan sarana untuk manusia beribadah kepada-Nya. Ibadah yang diperkenan Allah hanya dimungkinkan melalui darah Kristus. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perernunganmu dari bacaan kita pad hari ini, jawablah bebrapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang mezbah?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Saat ini kehadiran Allah tidak dilambangkan melalui Bait Suci, melainkan melalui tubuh kita sebagai bait (rumah) Allah. (pg).

  • Seek the LORD as long as He is Willing tobe FOUND

    Hari ini kita kembali belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “Seek the LORD as long as He is Willing to be FOUND (Carilah TUHAN selama Ia Berkenan DITEMUI)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 41:1-26. Sahabat, penglihatan Yehezkiel kini sampai pada bagian utama dari Bait Suci, yakni ruang balai, ruang kudus, dan ruang  mahakudus. Itulah bagian sebenarnya dari Bait Suci, dan merupakan bagian yang tertutup. Hal itu menandakan bahwa Allah, sekalipun hadir di tengah umat-Nya, tetap berada terpisah dari manusia oleh karena kekudusan-Nya.

    Bait Suci itu berbentuk bujur sangkar yang sempurna, berukuran 100 x 100 hasta. Ini melambangkan kesempurnaan Allah yang bersemayam di dalamnya. Ukiran-ukiran gambar yang menghias dinding-dinding Bait Suci, yaitu kerub-kerub dan pohon kurma, sama dengan yang ada di dinding Bait Allah Salomo (1 Raja-Raja 6:29-36). Kerub adalah makhluk surgawi yang bersayap, yang menopang kemuliaan Allah (Yehezkiel 9:1; Yehezkiel 10). 

    Malaikat itu pernah ditugaskan menjaga pohon kehidupan di taman Eden (Kejadian 3:24).  Kehadirannya di Bait Suci melambangkan kekudusan dari ruang mahakudus. Pohon kurma melambangkan pengharapan dan kemakmuran (Mazmur 92:13). Dengan demikian kedua ukiran itu menyatakan bahwa Allah adalah sumber perlindungan dan kemakmuran. 

    Selain hiasan kerub dan pohon kurma, Yehezkiel juga melihat suatu benda yang menyerupai mezbah kayu di hadapan ruang mahakudus (Ayat 21), yang dinamai “meja yang ada di hadirat Tuhan”. Mungkin mezbah itu adalah meja roti sajian yang merupakan perabotan penting Kemah Suci (Keluaran 25:23-30).

    Membaca bagian-bagian Bait Suci yang rumit dan penuh makna itu, mengajarkan kepada kita bahwa Allah yang Mahasuci berkenan hadir di tengah-tengah umat-Nya. Allah berkenan umat-Nya menghampiri-Nya, karena itu CARILAH TUHAN selama Ia berkenan ditemui (Yesaya 55:6). 

    Sahabat, renungan  hari ini mengingatkan kita agar tidak menyia-nyiakan waktu.  Kesempatan yang ada mari kita gunakan untuk terus menerus MENCARI TUHAN.  Mencari Tuhan merupakan sebuah keputusan penting bagi orang percaya, terlebih saat kita berada dalam situasi-situasi yang sulit.  Ketika jalan yang kita tempuh terbentur tembok yang tebal, sedangkan berbagai upaya telah kita lakukan dan kesemuanya berujung kepada kegagalan, maka tiada jalan lain selain kita harus datang kepada Tuhan dan mencari wajah-Nya.  

    Mencari Tuhan berarti menyadari akan keterbatasan dan ketidakberdayaan kita, lalu dengan penuh kerendahan hati mencari-Nya.  Mencari Tuhan juga berarti berharap dan mengandalkan Dia saja.

    Mengapa kita harus mencari Tuhan?  Karena Dia merupakan sumber pertolongan sejati.  Sementara segala hal yang ada di dunia ini tak bisa memberikan jawaban dan jaminan yang pasti bagi kita.  Karena itu jangan sekali-kali kita menggantungkan harapan pada jejaring, kekayaan, jabatan, pengalaman, kepintaran atau ketrampilan, semuanya adalah sia-sia.  Gantungkan harapan sepenuhnya kepada Tuhan sebab Dia selalu punya jalan ajaib untuk menolong kita.  Dia tidak pernah kehabisan cara melepaskan kita dari berbagai masalah.  

     
    Sahabat, perjalanan hidup bangsa Israel hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi kita yang hidup di zaman sekarang ini.  Ketika mereka mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh, maka ada keamanan, perlindungan dan kemenangan.  Namun, ketika mereka meninggalkan Tuhan, berkompromi dengan dosa dan mencari pertolongan kepada ilah lain, kekalahan demi kekalahan harus mereka alami. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Yesaya 55:6? 

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya Tuhan.” (Mazmur 9:11). (pg).

  • Prepare yourself for the LORD

    MEMPERSIAPKAN DIRI. Saya coba mendata para pelayan Tuhan di satu gereja. Ada Gembala Jemaat, Majelis Jemaat, Pemain Musik, Pemimpin Pujian, Pemuji, Penari Altar, Petugas Sound System, Petugas Multi Media, Penyambut Tamu, Pengedar Persembahan, Pembaca Warta, Pendoa, Petugas Keamanan, Koster, dan lain-lainnya.  

    Apakah yang harus dilakukan oleh seorang pelayan Tuhan sebelum ia melakukan tugas pelayanannya? Ia harus  mempersiapkan diri lebih dulu. Sesederhana bagaimanapun pelayanan yang dipercayakan kepada dia, ia tidak boleh malas mempersiapkannya. Sikap yang menganggap enteng pelayanan, sama dengan menghina Tuhan empunya pelayanan.

    Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “Prepare yourself for the LORD (Persiapkan Diri untuk TUHAN)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 42:1-20 dengan penekanan pada ayat 13-14. Sahabat, sekali lagi Yehezkiel dibawa ke pelataran luar dan bilik-bilik bagian Utara. Bilik-bilik tersebut berhadapan langsung dengan lapangan tertutup dan bangunan yang di ujung Barat (Ayat 1-9a). 

    Bilik-bilik itu disebut kudus karena dipakai oleh para imam untuk beribadah kepada Allah. Selain itu, bilik-bilik tersebut digunakan untuk menaruh segala persembahan mahakudus. Itu sebabnya, tempat itu dikategorikan sebagai ruang kudus (Ayat 13). Dalam bilik itu, para imam harus menanggalkan pakaian upacara mereka saat akan meninggalkan pelataran untuk masuk ke pelataran luar (Ayat 14). 

    Seperti dalam renungan-renungan dari pasal-pasal sebelumnya, di sini pun ada jarak yang tegas antara imam dan awam, serta antara yang kudus dan tidak kudus. Tujuannya untuk menjaga dan memelihara kesucian Allah.

    Sahabat, selesai mengukur bagian dalam, malaikat membawa Yehezkiel ke pintu gerbang Timur dan mulai mengukur Bait Suci dari luar (Ayat 15-20). Keempat sisi tembok luar Bait Suci berbentuk bujur sangkar yang berukuran 500 hasta x 500 hasta. Tembok Bait Suci berfungsi untuk memisahkan yang kudus dari yang tidak kudus (Ayat 20). Dengan demikian, selesailah pengukuran dan pengamatan seluruh kompleks Bait Suci.

    Saya sadar dan akui bahwa penglihatan Yehezkiel dalam bacaan kita sulit diuraikan. Tetapi, ada beberapa hal yang bisa kita dipetik sebagai perenungan, antara lain: Pertama, kompleks Bait Suci menggambarkan milik Tuhan yang harus dipisahkan dari yang tidak kudus. Kedua, dari luar ke dalam ada gradasi kekudusan. Bagian luar dipakai orang awam untuk beribadah, pelataran dalam untuk imam-imam yang melayani, dan yang paling dalam adalah ruang Mahakudus.

    Sahabat, penglihatan mengenai bangunan Bait Suci serta ukurannya yang simetris mengajar kita dua hal, yakni: Pertama, siapa pun tidak boleh sembarangan menghampiri Allah, melainkan harus mengikuti ketentuan dan peraturan yang ditetapkan-Nya. Kedua, siapa pun harus menjaga diri dari pencemaran karena dosa. Semua peraturan ini berlaku bukan hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam seluruh aspek kehidupan umat Allah.

    Selain itu, apa yang menjadi peran Sahabat di dalam gereja saat ini? Apakah Sahabat sebagai pendeta? Pengajar? Penatua? Diaken? Pemain musik? Administrator? Koster? Atau anggota jemaat? Apa pun peranmu, Tuhan telah memilih Sahabat menjadi bagian dari persekutuan umat-Nya yang kudus. Karena itu persiapkanlah dirimu saat Sahabat datang kepada-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Tolong ceritakan secara singkat apa peran Sahabat di gereja saat ini?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Persiapan memang seringkali menyita waktu cukup lama. Namun, dengan persiapan matang itulah, kesuksesan akan terbuka lebar. (pg).

  • Vision of the New Temple

    PENGLIHATAN. Dari SarapanPagiBiblika ministry saya mendapat informasi bahwa penglihatan berasal dari bahasa Ibrani : hāzōn, Yunani : horama, Inggris : vision, sight, a spectacle, appearance, yang hampir selalu menandakan suatu arti pewahyuan ilahi. Pertama, kata hāzōn menunjuk pada pengertian dari “visi kenabian/profetik” dimana pesan-pesan ilahi dikomunikasikan (Yehezkiel 12:21-22). 

    Kedua, kata itu juga berarti menampilkan kembali pesan yang diterima melalui penglihatan profetik (Amsal 29:18). 

    Ketiga, arti kata hāzōn yang lainnya adalah menyajikan/menampilkan kembali secara keseluruhan dari pesan kenabian/nabi, seperti yang tercatat dalam Yesaya 1:1. Jadi, kata hāzōn menunjuk pada hubungan antara isi fokus komunikasi ilahi dengan pengertian-pengertian dari pesan-pesan tersebut yang tidak dapat dipisahkan.

    Sahabat, dapat disimpulkan bahwa penglihatan adalah salah satu cara Allah dalam menyampaikan maksud ataupun rencana-rencana-Nya kepada seseorang yang dipilih-Nya dalam keadaan sadar diri (tidak sedang tidur) mengenai orang lain, kelompok orang, suku ataupun bangsa. Orang yang dipilih Allah tersebut di beri karunia nabi atau diangkat sebagai nabi oleh Allah sendiri dan Allah juga memberi pengertian untuk menafsirkan penglihatan tersebut. Biasanya, penglihatan berhubungan erat dengan proses penyampaian pesan-pesan nubuatan.

    Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “Vision of the New Temple (Penglihatan tentang Bait Suci yang Baru).” Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 40:1-47. Sahabat, empat belas tahun telah berlalu setelah kejatuhan Yerusalem dan pembuangan ke Babel. Ketika Nabi Yehezkiel mengenang peristiwa tersebut (bdk. 2 Tawarikh 36:10), ia mendapat penglihatan dari Allah. Ia dibawa kembali ke tanah Israel dan sebuah gunung yang tinggi. Di sana, ia melihat gambaran yang menyerupai “kota” (Ayat 2-3a). Penglihatan yang Allah berikan kepada Yehezkiel harus disampaikan kepada bangsa Israel.

    Bentuk Bait Suci baru berbeda dengan yang didirikan oleh Salomo (Ayat 5). Bait Suci yang baru ini dikelilingi oleh tembok setinggi dan setebal enam hasta (1 hasta = 0, 5 meter). Malaikat Allah melakukan pengukuran seluruh bangunan Bait Suci yang mulai dari pintu gerbang Timur (Ayat 6-16). Setiap pintu gerbang berukuran 50×25 hasta (Ayat 13, 15). Di dalamnya terdapat serambi, kamar, dan setiap tiang tembok diukir gambar pohon kurma (Ayat 10, 16). Di pelataran luar ada 30 kamar untuk beribadah (Ayat 17). Lebar pelataran luar adalah 100 hasta (Ayat 19).

    Lalu, Yehezkiel dibawa ke pintu gerbang Utara (Ayat 20-27, 32-37) dan Selatan (Ayat 28-31). Deskripsi pintu gerbang Utara sama dengan gerbang Timur dan Selatan, sedangkan tembok Barat tidak memiliki pintu gerbang. Yang berbeda hanya ada tambahan tujuh anak tangga dari luar kompleks Bait Suci menuju pintu gerbang itu (Ayat 22) dan delapan anak tangga untuk pelataran dalam (Ayat 31).

    Dalam Bait Suci itu terdapat pelbagai bilik dan perabot yang berfungsi sebagai tempat menyembelih dan membersihkan korban bakaran (Ayat 38-43). Ada juga berbagai ruang untuk para imam Lewi yang bertugas, baik di Bait Suci atau pun di mezbah (Ayat 44-46). Selain itu, pelataran dalam berbentuk bujur sangkar (100×100 hasta). Di sini terdapat mezbah (Ayat 47).

    Sahabat,  kita harus menjaga kekudusan hidup kita, jangan cemari tubuh kita dengan hal-hal yang najis supaya Allah tetap tinggal dalam hidup kita; Allah adalah kudus dan kita harus hidup kudus sebagai bait-Nya.

    Dengan demikian orang percaya harus belajar memisahkan hal yang kudus dari yang berdosa. Ia tidak boleh mencampuradukkan kehidupan yang disucikan Allah dengan kehidupan yang berdosa. Karena itu, kita membutuhkan pertolongan Roh Kudus untuk menjaga kesucian hidup dan berani menolak segala godaan yang dapat menghambat kita takut akan Allah. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang menjaga kekudusan hidup?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Allah hadir dan tinggal dalam setiap orang percaya. Bahkan tubuh setiap orang percaya adalah Bait Kudus-Nya bukan lagi bicara suatu tempat (1 Korintus 6:19). (pg).

  • The Resurrected Dry Bones

    PENGHARAPAN. Dalam komunitas orang percaya, kita sering mendengar, membaca, dan memperkatakan kata pengharapan. Apa arti pengharapan?  Di dalam bahasa Yunani, kata pengharapan ditulis elpis, yang artinya menantikan yang baik.  Sedangkan di dalam bahasa Ibrani, kata pengharapan ditulis miqveh, yang artinya sangat menantikan dan mengumpulkan. 

    Sahabat, sangat menarik, kata pengharapan selain berarti menantikan ternyata mempunyai arti  mengumpulkan. Di dalam Filipi 4:8 dikatakan pikirkanlah (mengumpulkan) semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, yang disebut kebajikan dan patut dipuji.

    Lalu, Penulis surat Ibrani menyatakan bahwa  pengharapan adalah SAUH {Ibrani 6:19). Sauh atau jangkar digunakan supaya perahu atau kapal tidak terbawa tiupan angin, gelombang, atau badai di tengah laut. Artinya, di tengah masalah, setiap orang membutuhkan pengharapan, supaya hidupnya tidak terombang-ambingkan arus masalah.

    Pengharapan yang adalah sauh, membuat kita terkait kepada sesuatu yang kuat, stabil, dan kokoh, dalam hal ini adalah janji TUHAN di dalam hidup kita, yang membuat hidup kita teguh bertahan di tengah hantaman badai.

    Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “The Resurrected Dry bones (Tulang-Tulang Kering Dibangkitkan)”. Bacaan Sabda diambil darikitab Yehezkiel 37:1-14 dengan penekanan pada ayat 10. Sahabat, sudah hampir setahun Thomas menganggur. Meski dia  rajin mengirim surat lamaran, belum ada perusahaan yang menerimanya. Ia kehilangan harapan. Mengetahui keadaan anaknya, ayah Thomas mengajaknya ke kuburan. Sambil menunjuk batu nisan, ia berkata, “Di sinilah tempat orang-orang yang tak lagi punya pengharapan!”

    Pengharapan di dalam diri manusia menjadi sirna tatkala ia meninggal dunia. Menariknya, kitab Yehezkiel menunjuk pada pengharapan yang tidak biasa. Di tengah lembah penuh tulang-belulang manusia, Allah bertanya, “Dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?” Jawabnya tentu: Mustahil! Akan tetapi, Yehezkiel tahu kalau di tangan Allah, tidak ada yang mustahil. Karenanya, Yehezkiel menjawab: “Ya Tuhan Allah, Engkaulah yang mengetahui!” (Ayat  1-3). 

    Melalui nubuatan, tulang-tulang itu kemudian diubahkan-Nya menjadi tentara yang sangat besar (Ayat 4-10). Tulang kering menunjuk pada kehidupan yang mati, bukan secara fisik melainkan secara rohani. Hidup tanpa tujuan, tanpa pengharapan, dan tak lagi mampu melihat masa depan. Menghadapi situasi demikian, kuasa firman Tuhan benar-benar diperlukan. Daripada mengeluh, lebih patut memperkatakan firman Tuhan.

    Firman Tuhan bekerja lebih dahsyat daripada logika atau perkataan manusia. Mungkin kita dikatakan sebagai pribadi yang tak punya masa depan. Mungkin juga kita mengganggap diri kita sudah mati bagaikan tulang-tulang kering. Jika benar demikian, ingatlah bahwa bersama Tuhan yang hidup, kita selalu memiliki pengharapan. Tidak peduli seberapa kering pengharapan itu, Bersama Tuhan kita mampu melihat masa depan yang penuh harapan.   

    Apakah Sahabat sedang menghadapi pergumulan hidup yang berat? Jangan menyerah, tetaplah berharap dan bersandar kepada Allah karena Ia pasti mampu membuka jalan keluar,   “Pada-Mu, ya TUHAN, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat malu. Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda, ya ALLAH.” (Mazmur 71:1 dan 5). Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Ibrani 6:19?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Selama kita hidup, kita pengharapan. Sebaliknya selama kita berpengharapan, kita hidup. (pg).