Author: Christopherus

  • LOYAL and OBEDIENT until The End

    SETIA DAN TAAT. Dalam perjanjian baru, kata setia memiliki 3 makna yang berbeda, yaitu dapat dipercaya; taat menjalankan perintah; dan orang yang percaya, pengikut atau penganut. Ketika Tuhan Yesus berbicara tentang hamba-hamba-Nya yang setia, yang Dia maksud adalah Dia sedang menantikan orang-orang yang mau percaya dan mengikuti Dia; taat dalam menjalankan amanat-Nya; dan dapat dipercaya sepenuhnya. Tuhan menginginkan kita untuk terus beriman dan setia kepada-Nya. 

    Yesus merupakan Pribadi yang memberi contoh kepada kita bagaimana Ia menunjukkan ketaatan pada Bapa dalam hidup-Nya selama 33,5 tahun di bumi. Walaupun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat melalui apa yang telah diderita-Nya (Ibrani 5:8). Itulah sebabnya, Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama (Filipi 2:9). Maka dapat disimpulkan bahwa Allah sangat berkenan kepada orang yang setia dan taat kepada-Nya dalam situasi yang sangat  sulit sekalipun.

    Hari ini kita  melanjutkan belajar dari kitab Yosua dengan topik: “LOYAL and OBEDIENT until The End (SETIA dan TAAT sampai akhir Hayat)”. Bacaan Sabda diambil dari Yosua 23:1-16. Sahabat,  apa yang kamu lakukan ketika sedang gelisah? Gelisah merupakan suasana hati yang kalut, takut, disertai bimbang. Saat menjelang akhir hayatnya, Yosua tidak mau dikuasai kegelisahan. Dia tetap mengingat janji dan peringatan Allah.

    Ketika Yosua sudah tua dan lanjut umurnya. Pada momen tersebut, dia memanggil para pemimpin Israel. Mereka adalah tua-tua, hakim, dan pengatur pasukan (Ayat 2). Di senja usianya, dia ingin memberikan petuah penuh makna. Yosua mengingatkan kebesaran kuasa-Nya dalam kehidupan Israel (Ayat 3). Allah melakukan perkara besar demi kebaikan mereka. Misalnya, Dia telah memberikan Israel negeri yang menjadi milik pusaka mereka (Ayat 4-5).

    Atas semua kebaikan itu, Yosua mendorong umat Israel agar hidup sesuai kehendak-Nya (Ayat 6-8, 11). Yosua ingin agar mereka taat melakukan hukum dan ketetapan Tuhan. Umat Israel dilarang bergaul dengan bangsa penyembah berhala. Dengan begitu, mereka akan tetap setia menyembah Allah saja. Mereka harus terpaut kepada Allah dan mengasihi-Nya.

    Sahabat, jika Israel dapat hidup seperti itu, maka Allah menjanjikan kemenangan besar bagi mereka. Tuhan akan menghalau semua musuh Israel (Ayat 9-10). Namun, jika mereka menyimpang dari kehendak-Nya, kehancuran besar akan menanti (Ayat 12-16).

    Yosua telah setia mengabdi sebagai hamba Allah. Karya kasih-Nya kepada dirinya dan Israel selalu sempurna. Ini memperlihatkan bahwa Allah selalu setia kepada umat-Nya. Jadi, setiap umat juga harus hidup setia dengan melakukan kehendak-Nya sebagai bukti loyalitas kepada-Nya.

    Marilah kita menjalani kehidupan dengan sukacita. Allah selalu menjamin kebaikan, asal kita patuh kepada-Nya. Kehendak-Nya akan selalu membawa kita pada hidup berkemenangan. Jangan lamban untuk mengucap syukur dalam segala keadaan! Kuatkan langkah kita untuk mengikuti kehendak-Nya. Hingga sampai akhir hayat, kita tetap setia dan taat menjadi umat-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari perenungan pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 6-8?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan telah mengampuni dosa dan salah kita, memberi keselamatan kini dan nanti. Maukah Sahabat dan saya setia dan taat kepada Tuhan? (pg)

  • EDOM: Rejoicing over Suffering

    EDOM. Dari Wikipedia saya mendapat informasi bahwa Edom  merupakan nama tempat yang sebelumnya dikenal dengan nama Seir. Tanah dan penghuni dari Edom ini ditemukan di dataran bagian selatan dan tenggara dari Laut Mati. Edom juga bertetangga dengan Israel di timur dan selatan. 

    Di dalam Alkitab nama Edom memiliki tiga makna. Makna yang pertama (Kejadian 25:30; 36:1, 8, dan 19) yaitu nama lain dari Esau sebagai peringatan bahwa ia menukar hak kesulungannya dengan satu mangkok sup kacang merah. 

    Makna yang kedua (kitab Bilangan 20:18, 20, 21; kitab Amos 1:6, 11; 9:12; kitab Maleakhi 1:4) yaitu Edom sebagai suatu kelompok bangsa. 

    Makna yang ketiga (kitab Kejadian 32:3; 36:20, 21, 30; kitab 24:18) yaitu tanah yang diduduki oleh keturunan Esau, yang sebelumnya dikenal dengan nama Seir. 

    Kata Edom sendiri berarti merah. Kata ini menunjuk pada sup yang diberikan sebagai ganti hak kesulungannya. Selain itu, kata ini juga berkaitan dengan kelahiran Esau, warnanya merah, yang  terdapat dalam kitab Kejadian 25:25. Selain itu, kata merah ini juga muncul karena warna kemerah-merahan yang ada pada tanah Edom yang di dalam Akitab disebutkan terdiri dari batu yang berwarna merah. Dalam zaman Romawi atau Perjanjian Baru wilayah Edom dikenal dengan nama Idumea.

    Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “EDOM: Rejoicing over panSuffering (EDOM: Bersukacita di atas Penderitaan)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 35:1-35 dengan penekanan pada ayat 5. Sahabat, dalam praktik hidup sehari-hari kita sering mendengar ungkapan yang berbunyi:  “Menari di atas penderitaan orang lain”, yang  artinya  seseorang yang tampak senang atau bersukacita ketika melihat orang lain hidup menderita, tertawa lebar karena kemalangan yang dialami orang lain.  

    Sesungguhnya Tuhan tidak menghendaki kita bersukacita karena kesusahan, penderitaan atau kemalangan yang dialami oleh orang lain, termasuk yang dialami oleh musuh sekalipun.  Coba kita simak nasihat  rasul Paulus berikut ini:  “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!”  (Roma 12:15).  Inilah yang disebut dengan  tepa selira  (bahasa Jawa) yang artinya  berbela rasa.  Ketika melihat orang lain sedang tertimpa kesusahan atau kemalangan, Tuhan menghendaki kita berbuat sesuatu untuk menolong, bukan malah bertepuk sorak, sambal berkata:  “Rasain Lu …!”

    Sahabat, Edom memusuhi bangsa Israel, yang merupakan  umat pilihan Tuhan, dan menutup mata ketika melihat penderitaan umat Israel yang diakibatkan serangan musuh, bahkan mereka tampak bersukacita melihat umat Israel begitu menderita. 

    Kata Edom sendiri memiliki arti merah.  Akhirnya warna  merah  itupun menjadi sebuah kenyataan, karena tempat itu dipenuhi oleh warna merah oleh tumpahan darah para penduduknya yang mendapatkan penghukuman atau pembalasan dari Tuhan (Ayat 6-7).

    Sahabat, permusuhan Edom dan Israel berlangsung terus-menerus. Bahkan Edom bergembira saat saudaranya, Israel, tertimpa malapetaka (Ayat 5, 15). Edom berpikir bahwa tanah Israel dan Yehuda akhirnya akan menjadi miliknya (Ayat 10, 12). Karena alasan itu, Tuhan akan menghukum bangsa itu. Seperti Edom memperlakukan Israel dalam murka dan cemburunya, Tuhan akan memperlakukan Edom pun demikian (Ayat 11). Sebagaimana Edom bersuka ria karena Israel telah menjadi sunyi sepi, Tuhan juga akan membuat Edom menjadi sunyi sepi (Ayat 7, 9, 15). 

    Hal tersebut menunjukkan Tuhan peduli terhadap umat-Nya. Bahkan Tuhan menganggap apa yang dilakukan para musuh kepada umat-Nya sama artinya mereka melakukannya kepada diri-Nya (bdk. Kisah Para Rasul 9:5,  Yesus menyebut pengikut-Nya sebagai diri-Nya saat mereka dianiaya Saulus).

    Maka bersukacitalah karena kita memiliki Allah yang menganggap musuh umat-Nya sebagai musuh pribadi-Nya. Jangan takut jika menghadapi tantangan dan penganiayaan dari orang-orang yang memusuhi umat Tuhan. Ia akan menghukum mereka dengan keras. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apakah yang Tuhan kehendaki untuk Sahabat lakukan berdasarkan hasil perenunganmu?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita membutuhkan hikmat Tuhan untuk dapat merespons dengan benar atas setiap kesulitan dan penderitaan orang-orang yang ada di sekitar kita. (pg).