
Author: Christopherus
-
God’s Calling is not An Option
KITAB YUNUS. Yunus, yang namanya berarti “merpati”, diperkenalkan sebagai putra Amitai (Yunus 1:1). Ia disebut dalam 2 Raja-Raja 14:25 sebagai:
(1) Nabi kepada kerajaan utara Israel semasa pemerintahan Yerobeam II (793-753 SM);
(2) Ia berasal dari Gat-Hefer, tiga sampai lima kilometer utara Nazaret di Galilea.
Jadi, orang Farisi salah ketika mengatakan bahwa tidak pernah ada nabi dari Galilea (Yohanes 7:52).Pelayanan nubuat Yunus terjadi tidak lama sesudah masa pelayanan Elisa (bdk. 2 Raja-Raja 13:14-19), bertumpang-tindih dengan masa pelayanan Amos (bdk. Am 1:1) dan diikuti oleh pelayanan Hosea (bdk. Hos 1:1). Sekalipun kitab ini tidak menunjukkan penulisnya, sangat mungkin penulis itu Yunus sendiri.
Kitab Yunus merupakan salah satu kitab yang termasuk dalam kelompok kitab-kitab kenabian dan khususnya dalam kelompok nabi-nabi kecil pada Perjanjian Lama. Tema : Luasnya Kasih Sayang Allah yang Menyelamatkan. Tahun Penulisan: + 760 SM
Kitab Yunus pada intinya adalah sebuah cerita tentang sifat Allah. Karena itu, kitab ini dapat dibagi menjadi empat bagian, masing-masing dipisahkan kira-kira menurut pasalnya: (1) Kedaulatan Allah, (2) Pembebasan Allah, (3) Belas kasih Allah, dan (4) Kebenaran Allah. Dalam paruhan pertama kitab ini, pembebasan Allah diperlihatkan melalui kedaulatan-Nya. Di paruhan kedua, pembebasan Allah diperlihatkan melalui belas kasih-Nya. Akhirnya, Allah menyatakan kebenaran-Nya dengan memilih untuk memaksa dan berubah pikiran.
Hari ini kita akan mulai belajar dari kitab Yunus dengan tema: “God’s Calling is not An Option (Panggilan Tuhan Bukan Sebuah Pilihan)”. Bacaan Sabda diambil dari kitab Yunus 1:1-17. Sahabat, panggilan Allah untuk memberitakan firman-Nya merupakan kesempatan istimewa yang diberikan kepada setiap orang percaya. Namun, ada kalanya motivasi terselubung mewarnai setiap keputusan untuk menjalani panggilan ini.
Nabi Yunus hidup pada masa pemerintahan Yerobeam II di Kerajaan Utara. Ia mendapat panggilan Tuhan untuk memberitakan penghukuman atas Niniwe, ibu kota kerajaan Asyur, yang merupakan musuh Israel (Ayat 2). Kejahatan penduduk Niniwe yang luar biasa telah membuat Yunus bersikap antipati terhadap mereka. Yunus berpikir bahwa ia mempunyai pilihan dalam merespons panggilan Tuhan, karena itu ia memilih melarikan diri ke Tarsis (Ayat 3).Sahabat, sebagai seorang yang menerima tugas untuk memberitakan firman Allah, Yunus lupa bahwa panggilan Tuhan bukanlah sebuah pilihan. Menyatakan kehendak Tuhan merupakan sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan.
Bagaimanapun upaya Yunus untuk lari dari kehendak Tuhan, ada cara Tuhan yang unik untuk membawa kembali Yunus kepada tugas yang ia harus terima, yaitu dengan memakai orang-orang yang tidak percaya.
Sahabat. kepastian akan rencana Allah yang harus terlaksana melalui hamba-Nya ini tidak dapat dihalangi oleh apa pun, bahkan sang nabi tidak memiliki pilihan untuk menolak. Atas penentuan Tuhan, seekor ikan besar datang dan menelannya sehingga ia harus berada di dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam.
Panggilan Tuhan harus dilihat sebagai hak istimewa dan kesempatan luar biasa yang dianugerahkan kepada kita. Hal tersebut bukan pilihan antara kehendak kita atau kehendak Allah. Hal tersebut memang kehendak Allah.
Sahabat, ketika Tuhan memanggil kita untuk melayani-Nya, yakni untuk menyatakan maksud dan rencana-Nya atas manusia, terimalah panggilan itu sebagai sebuah kehormatan yang diberikan Allah. Hal tersebut bukan pilihan; melainkan kewajiban. Jangan pernah berpikir untuk lari dari tanggung jawab itu, sebab Dia akan mengejar kita dan tangan-Nya yang kuat akan mengarahkan dan menuntun kita kembali untuk menjalaninya. Terimalah panggilan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pad hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu?
- Apa yang Sahabat pahami dari ayat 2-3?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jika kita dipercaya Tuhan melayani-Nya mari melakukannya dengan setia dan penuh tanggung jawab, karena tidak semua orang beroleh kesempatan yang sama. (pg).
-
Orang Pilihan: Penuh Roh Kudus
PENGANTAR. Semua murid Kristus adalah orang-orang pilihan. Dari mereka, para rasul menetapkan ada tujuh orang yang dikhususkan untuk menjadi pemimpin umat karena telah terbukti dan teruji bahwa mereka hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Rupanya para rasul menganggap bahwa tidak semua murid Kristus senantiasa penuh Roh Kudus (Galatia 5:16-25). Ada yang gagal untuk hidup setia dalam Roh, saat itu tidak penuh dengan Roh lagi.
Penuh dengan Roh Kudus, mengungkapkan suatu sifat yang berkesinambungan di dalam seseorang murid Kristus yang memungkinkan mereka melayani dengan kuasa Roh Kudus serta bernubuat dengan ilham yang diberikan oleh Roh Kudus.
Dipenuhi oleh Roh Kudus memiliki makna, yang pertama, penerimaan baptisan dalam Roh Kudus. Kedua, pemberian kuasa kepada seorang atau beberapa murid Kristus pada saat tertentu untuk berbicara di bawah otoritas Roh Kudus, dan yang ketiga, menunjukkan suatu pelayanan nubuat umum yang diilhami atau diurapi oleh Roh Kudus tanpa menyebutkan masa pelayanan tersebut.
APA MAKNA PENUH ROH KUDUS ITU? Setelah menerima baptisan Roh, murid Kristus dengan tekun dan setia hidup dalam Roh Kudus, sambil terus menerus mematikan perbuatan daging (Roma 8:13-14). Itulah perwujudan sebagai “penuh dengan Roh Kudus”, yakni memelihara kepenuhan ROH Kudus yang bertahta di pusat hati nurani mereka. Kepenuhan Roh Kudus meluap dalam pikiran, ucapan dan sikap hidup sesehari sebagai suatu kesanggupan ilahi dalam bimbingan Roh Kudus.
Baptisan dalam Roh Kudus saja tidak cukup untuk kepemimpinan rohani (Kristen) yang efektif. Para pemimpin rohani harus selalu bertekun dalam doa dan penyampaian Firman Tuhan. Kata yang tepat adalah “memusatkan pikiran” yang menunjukkan suatu kesetiaan yang terpusat dan tetap stabil memberikan banyak waktu berkenan kepada Tuhan dan menyenangkan hati setiap orang. Para murid Kristus menyadari bahwa doa dan pelayanan Firman merupakan tugas tertinggi. Dalam bab 6 Kisah Para Rasul kita perhatikan bahwa sering doa disebutkan beberapa kali.
KESIMPULAN. Dalam Kisah Para rasul bab 6 ini, disebutkan karunia meletakkan tangan di atas orang percaya. Dalam praktiknya, karunia penumpangan tangan dilakukan berkaitan dengan adanya penyembuhan, memberkati orang lain, baptisan dalam Roh Kudus, mengangkat orang untuk tugas khusus, memberikan karunia-karunia rohani oleh para penatua.
Penumpangan tangan menjadi doktrin mendasar pada gereja mula-mula (Ibrani 6:2). Tindakan ini tidak boleh dilepaskan dari doa karena doa menunjukkan bahwa berbagai karunia atau baptisan dalam Roh itu berasal dari Tuhan dan bukan dari mereka yang menumpangkan tangan.
Demikianlah dalam hal menahbiskan ketujuh orang yang penuh dengan Roh itu memiliki arti dua hal, yakni pertama, merupakan kesaksian umum dari pihak gereja bahwa ketujuh orang tersebut memiliki sejarah ketekunan dalam kesalehan dan kesetiaan terhadap pimpinan Roh (bdk. 1 Timotius 3:1-10). Kedua, merupakan tindakan untuk mengkhususkan ketujuh orang itu bagi pekerjaan Tuhan dan suatu kesaksian akan kesediaan mereka untuk menerima tanggung jawab atas panggilan-Nya.
Dalam Kisah Para Rasul 6:8, “Dan Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak.” Roh Kudus memberikan kuasa kepada Stefanus untuk “mengadakan mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda di antara orang banyak” sambil memberi hikmat luar biasa untuk memberitakan Injil sedemikian rupa sehingga lawan-lawannya tidak dapat menyangkal argumentasinya. Ini menjadi tantangan gereja masa kini, bagaimana para murid Kristus memiliki keberanian yang tulus dan kudus seperti Stefanus.
Berdasarkan hasil perenungan pendalaman kita Kisah bab 6, mari kita jawab pertanyaan:
- Pesan apa yang kita peroleh pada pemahaman kita hari ini?
- Jelaskan apa makna Penuh Roh Kudus?
- Apa penerapan dalam keseharian Kisah Para Rasul 6:8, “Dan Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak.”
Selamat sejenak merenung dan mengaplikasikannya dalam hidup hari ini. Simpan dalam-dalam di hati: Kita bersukacita, karena Nama Yesus, kita telah dianggap Penuh Roh. Amin (sp).
-
Menghadapi Tantangan Gereja Dari Dalam Dan Luar
PENGANTAR. Lukas sebagai penulis Kitab Injil ini, adalah teman seperjalanan Rasul Paulus. Dalam bab 5 ini Lukas mengamati perkembangan gereja mula-mula yang menghadapi berbagai tantangan baik dari dalam maupun luar. Dari dalam misalnya tentang kesaksian-pelayanan Ananias dan Safira. Sedangkan dari luar yaitu tantangan Mahkamah Agama Yahudi.
Dalam Kisah Para Rasul 5:9 berkata: “Kata Petrus: “Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan? Lihatlah, orang-orang yang baru mengubur suamimu berdiri di depan pintu dan mereka akan mengusung engkau juga ke luar.””
Yang dimaksud kamu berdua adalah suami istri bernama Ananias dan Safira yang menjadi anggota gereja mula-mula di Yerusalem. Kisah Ananias dan Safira dimuat di kitab Kisah Para Rasul 5:1-11. Arti Ananias adalah Allah telah memberikan atau Allah Rahmani.
Ananias dan Safira telah berkomplot untuk berdusta. Harta hasil penjualan tanahnya tidak diberikan seluruhnya sebagai persembahan di dekat kaki para rasul, termasuk Petrus. Oleh kuasa Roh Kudus perbuatan mereka diketahui, sehingga mereka dikatakan telah mendustai Roh Kudus. Mereka telah dikuasai iblis. Akibat dusta itu, keduanya mati, yang pertama Ananias dan tiga jam setelah itu Safira karena melakukan dusta yang sama dengan suaminya.
Sementara itu, pekerjaan Tuhan dan mukjizat-Nya terus dinyatakan. Oleh kuasa Roh Kudus, para rasul menyembuhkan orang-orang sakit dan dirasuk setan. Tantangan pun juga datang dari luar, para Mahkamah Agama Yahudi melarang mereka mengajar dalam nama Yesus. Kisah Rasul 5:29: “Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: ” Kita harus lebih taat kepada Tuhan daripada kepada manusia.” Terhadap tantangan itu, kita teladani prinsip hidup Petrus, yaitu “Apa yang berkenan kepada Tuhan?” dan bukan “Apa yang bijaksana, aman, menyenangkan dan disukai oleh orang banyak?”
MENGHADAPI TANTANGAN GEREJA DARI DALAM DAN LUAR. Popularitas para orang percaya karena kuasa Roh Kudus membuat mereka diperhatian oleh orang-orang di luar gereja. Mengapa? Yang jelas karena orang-orang luar gereja menolak Injil Yesus Kristus. Namun, para rasul pada waktu itu tidak berkurang semangatnya. Penderitaan karena nama Yesus adalah suatu karunia dan kehormatan. Maju terus tetap semangat mewartakan Injil Yesus Sang Mesias, baik di dalam maupun di luar rumah ibadah.
Agar Injil dapat disebar luaskan, para pengikut Kristus terus melanjutkan pengajaran Tuhan Yesus dan memberitakan Injil-Nya baik secara umum di luar gereja melalui kesaksian pribadi hidup berkarakter Kristus dan dalam perkumpulan-perkumpulan Kristen di rumah-rumah perseorangan. Hidup ini adalah kesempatan dan kesaksian.
KESIMPULAN. Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus (KisahPara Rasul 5:41). Karakter penderitaan Kristus telah terwujud di dalam pelayanan para rasul.
Hal tersebut selayaknya memberikan dorongan dan menantang kita mencari keintiman dengan Tuhan setiap hari, sebab hanya dengan cara itu firman itu telah menjadi daging di dalam hidup dan kehidupan kita sebagai murid Kristus di dunia ini.
Gereja harus tetap tekun dan setia berdoa dan hidup dalam persekutuan doa. Kita tidak sendiri dan tidak bisa sendiri. Di negeri yang plural, dimana pengikut Kristus termasuk yang minoritas, kita harus saling menyulut agar kita bisa berperan sebagai terang dunia. Kesaksian sebagai orang yang berpribadi Kristus harus menjadi berkat pikiran, ucapan dan sikapnya bagi lingkungannya.
Berdasarkan hasil perenungan pendalaman kita dalam kitab Kisah Para Rasul 5, mari kita jawab pertanyaan berikut:
- Pesan apa yang kita peroleh dari hasil perenungan kita pada hari ini?
- Jelaskan prinsip hidup Petrus, “Apa yang berkenan kepada Tuhan?” dan bukan “Apa yang bijaksana, aman, menyenangkan dan disukai oleh orang banyak?”
- Jelaskan makna yang terkandung di dalam Kisah 5:41
Selamat sejenak merenung dan mengaplikasikannya dalam hidup hari ini. Simpan dalam-dalam di hati: Kita bersukacita, karena dianggap layak menderita oleh karena Nama Yesus. Amin (sp).
-
The LORD is Here
KEHADIRAN TUHAN. Penulis kitab 2 Samuel mencatat bagaimana Daud membawa Tabut Perjanjian dari rumah Obed-Edom menuju ke kota Yerusalem. Pada waktu itu Daud baru saja dinobatkan jadi raja atas seluruh Israel dan baru saja memindahkan ibu kota ke Yerusalem, dan dia baru saja berhasil mempertahankan Yerusalem dari serangan Filistin.
Lalu Daud berusaha untuk mengembalikan Tabut Perjanjian, yang merupakan lambang KEHADIRAN TUHAN, ke Yerusalem, di mana selama 20 tahun Tabut Perjanjian tidak berada di tempat semestinya karena dirampas oleh bangsa Filistin; dan meski orang Filistin telah mengembalikannya, tapi tabut itu berada di Kiryat-Yearim yang merupakan pinggiran dari wilayah Israel. Karena itu Daud ingin mengembalikan tabut ini ke Yerusalem, kota Daud, pusat pemerintahan.
Di sepanjang perjalanan Daud mengekspresikan rasa syukurnya, karena ia tahu bahwa Tabut Perjanjian merupakan lambang kehadiran Tuhan, “Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan.” (2 Samuel 6:14). Tidak hanya itu, di setiap enam langkah Daud mempersembahkan korban kepada Tuhan, berupa seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan.
Sebagaimana ketika Tabut Perjanjian berada di rumah Obed-Edom, ia dan seisi rumahnya diberkati oleh Tuhan, juga saat Tabut Perjanjian berada di kota Daud, “Setelah Daud selesai mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, diberkatinyalah bangsa itu demi nama TUHAN semesta alam.” (2 Samuel 6:18).
Kala Tabut Perjanjian berada di tangan musuh, bangsa Israel selalu mengalami kekalahan demi kekalahan, namun setelah Tabut Perjanjian itu kembali berada di tangan orang Israel, terjadilah suatu pemulihan yang luar biasa.
Hari ini kita belajar dari bagian akhir dari kitab Yehezkiel dengan topik: “The LORD is Here (TUHAN Hadir di Situ)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 48:1-35 dengan penekanan pada ayat 35, yang merupakan penutup dari Yehezkiel 48 dan kesimpulan dari semua kitab Yehezkiel.
Allah menyuruh Yehezkiel untuk membagi-bagi negeri di antara suku-suku Israel menjadi milik pusaka mereka (ayat 29). Di tengah-tengah di antara bangsa Israel terletak tempat kudus Tuhan yang artinya Allah berdiam di tengah-tengah umat-Nya.
Kota yang dikhususkan buat Tuhan dikelilingi tembok dengan 12 pintu berdasarkan jumlah suku Israel dan diberi nama sesuai dengan suku-suku Israel. Hal ini menunjukkan setiap mereka memiliki hak yang sama atas kota itu.
Sahabat, posisi tempat kudus Tuhan yang berada di tengah bangsa Israel menunjukkan Allah menjadi sentral umat-Nya dan dapat dicapai oleh mereka dari 12 pintu yang ada. Nama kota yang baru tersebut “TUHAN HADIR DI SITU” menunjukkan keberadaan Allah berada di tengah umat-Nya.
Keberadaan dan kehadiran Allah dalam kehidupan orang percaya merupakan penggenapan dari kitab Yehezkiel. ALLAH HADIR di setiap hati orang percaya dan Allah menjadi sentral dari kehidupan orang percaya. KEHADIRAN ALLAH dalam hati orang percaya menunjukkan tidak ada pembatas lagi antara Allah dengan orang percaya. Kematian Yesus di kayu salib menghancurkan pembatas tersebut.
“TUHAN HADIR DI SITU” artinya “TUHAN HADIR DI HATI ORANG PERCAYA”. Oleh karena itu, maka kita harus menjaga tubuh dan hidup untuk tetap kudus supaya Allah tetap hadir. Tetap kudus artinya hidup dalam kekudusan. Kehadiran Allah yang membawa pemulihan, kelepasan dan janji-janji-Nya digenapi akan dialami oleh kita sebagai orang percaya.
Sahabat, kehadiran dan penyertaan Tuhan adalah segala-galanya bagi kita! Coba renungkan: Kalau bukan Tuhan yang menyertai, mampukah kita menjalani hidup sampai detik hari ini? Kalau bukan Tuhan yang menopang, sanggupkah kita bertahan di tengah goncangan, badai dan gelombang permasalahan hidup? Tanpa kehadiran Tuhan, ibadah dan pelayanan yang kita lakukan takkan berdampak apa-apa; begitu pula dalam pekerjaan, rumah tangga, bisnis, studi, kita sangat memerlukan Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!
Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
- Apa yang Sahabaat pahami dari 2 Samuel 6:17-18?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tanpa kehadiran dan penyertaan Tuhan, hidup kita takkan berarti apa-apa. (pg).




