Author: Christopherus

  • Dedicated to the Glory of God

    DEDIKASI. Sahabat, dedikasi adalah suatu tindakan pengorbanan dalam bentuk tenaga, pikiran, serta waktu, demi mewujudkan keberhasilan menuju suatu tujuan positif. Selain itu, dedikasi bisa dikatakan sebagai komitmen seseorang dalam menjalankan suatu tugas tertentu yang ingin dicapai. Perilaku dedikasi ini sendiri ditunjukkan sebagai bentuk pengabdian untuk melaksanakan cita-cita serta diperlukan adanya keyakinan teguh bagi setiap individu yang bersangkutan.

    Sumber lain  menjelaskan bahwa pengertian dedikasi adalah saat seseorang melakukan sesuatu dengan penuh pengabdian dan totalitas, maka hal itu tidak akan sia-sia, walau harus dipaksa serta dengan kelelahan yang mendera, hal itu juga menjadi bahan bakar semangat untuk dapat terus memberikan yang terbaik sekalipun menghadapi berbagai kesulitan.

    Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), memberi pengertian bahwa dedikasi adalah pengorbanan tenaga, pikiran, dan waktu demi keberhasilan suatu usaha atau tujuan mulia atau pengabdian.

    Mengacu kepada arti dedikasi di atas, dedikasi kemudian dapat digunakan untuk  menggambarkan kualitas sikap serta kinerja seseorang. Seseorang dapat dikatakan memiliki dedikasi yang tinggi pada pekerjaannya apabila memiliki ciri-ciri sebagai berikut: Memiliki semangat yang tinggi; memiliki hati dan sikap melayani; memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi; dan memiliki komitmen yang tinggi.    

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Raja-raja  dengan topik: “Dedicated to the Glory of God (Didedikasikan Bagi Kemuliaan Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari: 1 Raja-raja 7:1-51. Sahabat, jika sebagai orang percaya kita diperhadapkan pada pilihan: Lebih mementingkan karya yang mengagungkan Tuhan ataukah mementingkan monumen yang mengagungkan diri kita sendiri? 

    Bisa jadi secara spontan kita memilih yang pertama, atau secara jujur memilih yang kedua. Pernyataan tersebut mungkin juga terlintas di kepala kita ketika mengetahui fakta: Pertama, Salomo membangun Bait Suci selama tujuh tahun (1Raja-raja 6:38), sedangkan membangun istana Salomo selama tiga belas tahun (Ayat 1). 

    Kedua, secara ukuran, gedung “Hutan Libanon” saja (Ayat 2) jauh lebih luas dari Bait Suci (1Raja-raja 6:2). Ketiga, pembangunan istana Salomo (Ayat 1-12) menginterupsi pembangunan Bait Suci yang belum selesai (Ayat 6 dan 13-51). 

    Bukankah Salomo seolah-olah lebih mementingkan monumen yang membanggakan dirinya sebagai seorang raja besar pada zaman keemasan dia memerintah? Mungkinkah fokus Salomo kepada Tuhan mulai goyah dan teralihkan karena pembangunan istananya?

    Sahabat, jika kita memahami bahwa pemerintahan Daud mewakili pemerintahan Tuhan atas umat-Nya, maka hal itu berlaku juga ketika Salomo memerintah sebagai raja. Dengan demikian, mungkinkah kita menilai pembangunan istana Salomo itu sebagai sebuah bentuk pengagungan kepada Tuhan juga? Bukankah Tuhan memerintah atas Israel? Oleh karena itu, bukankah kemegahan istana Salomo juga menunjukkan betapa perkasa dan agungnya Tuhan yang memberkati Salomo melalui istananya yang luas dan megah?

    Alkitab memang tidak menilai pembangunan istana Salomo itu sebagai sesuatu yang negatif atau positif. Namun kita bisa belajar sesuatu yang melampaui kisah pembangunan istana Salomo itu sendiri, yakni masalah motivasi. Apakah motivasi yang mendorong kita untuk berkarya?

    Sahabat, bila kita mempunyai suatu karya yang sangat membanggakan, lalu kita menerima pujian, bagaimana perasaan kita saat itu? Kita membanggakan diri sendiri atau mengarahkan orang itu untuk memuji Tuhan yang telah memberkati kita? Mari kita belajar menjaga motivasi hati kita untuk berfokus hanya memuliakan Allah saja. Mari kita mendedikasikan segala karya kita untuk memuliakan Allah. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 13-14?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati:  Marilah kita memaknai karya-karya kita dengan sesuatu yang berarti dan mendedikasikan hasilnya agar melaluinya nama Tuhan saja yang dimuliakan. (pg).

  • Obedience and Alignment to His Word

    SELARAS. Sahabat, kita sering mendengar atau membaca ungkapan:  “Anda harus selaras dengan lingkunganmu untuk bisa menikmati  kebahagiaan”. Lalu apa  sebenarnya yang dimaksud dengan selaras?

    Salah satu definisi selaras yang saya temukan adalah “berada dalam garis lurus”. Definisi tersebut bagi saya kurang memiliki kedalaman yang saya tafsirkan. Definisi lain menambahkan lebih banyak substansi pada kata tersebut seperti “memberi dukungan kepada (orang, organisasi, atau tujuan).” 

    Mungkin bagi banyak orang, selaras adalah kata yang sederhana, artinya tidak lebih dari garis lurus. Bagi saya keselarasan adalah tempat dalam hidup saya yang saya cari, itu adalah emosi dan keadaan pikiran.

    Sahabat, ada cukup banyak orang yang menginginkan keselarasan, namun keinginan tinggal keinginan. Mengapa? Karena apa yang ditafsirkan kebanyakan orang sebagai keselarasan adalah momen di mana kita bekerja pada bidang yang kita impikan, memiliki kebebasan finansial, dan melakukan hal-hal yang kita sukai. Kebanyakan dari kita mengasosiasikan kata tersebut dengan keinginan materialistis. Bagi sebagian  orang berusaha menjadi orang yang memiliki segalanya, mobil, tas mewah, dan rumah impian. Bagi banyak orang, hal tersebut sedang diselaraskan! 

    Mari kita saling mengingatkan apa sebenarnya arti selaras. Sebagian dari antara kita diberitahu bahwa hidup adalah garis lurus. Kita diberitahu bahwa kita semua dilahirkan dengan bakat yang sangat jelas, sehingga kita harus berlatih hari demi hari sampai kita menjadi seorang ahli. 

    Kita semua harus memahami bahwa menjadi selaras adalah bagian dari menjadi. Tidak ada yang namanya garis lurus, luangkan waktu untuk memahami masa lalu kita untuk menaklukkan masa kini! 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Raja-raja dengan topik: “Obedience and Alignment to His Word (Ketaatan dan Keselarasan Hidup kepada Firman-Nya)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Raja-raja 6:1-38 dengan penekanan pada ayat 12.   Sahabat, bacaan kita pada hari ini menjelaskan dengan begitu terperinci rancang bangun Bait Allah yang harus dibangun oleh Raja Salomo. Setiap ruang dalam bangunan pun dijelaskan dengan begitu rinci ukuran-ukurannya. Bahkan, waktu untuk memulai pembangunan dan kapan berakhirnya pun sudah ditetapkan oleh Tuhan yakni tujuh tahun. 

    Sahabat,  yang sangat menarik adalah pembangunan Bait Allah itu dilakukan tanpa terdengar suara palu atau kapak beradu karena para tukang yang membangunnya tidak menggunakan peralatan dari besi (Ayat 7). Semua harus dikerjakan tepat seperti yang dikehendaki Tuhan. 

    Namun dalam setiap rancangan yang telah ditetapkan Tuhan untuk pembangunan Bait Allah itu, Tuhan memberikan pesan khusus kepada Salomo. “Jika engkau hidup menurut segala ketetapan-Ku dan melakukan segala peraturan- Ku dan tetap mengikuti segala perintah-Ku dan tidak menyimpang dari padanya, maka Aku akan menepati janji-Ku kepadamu yang telah Kufirmankan kepada Daud…” (Ayat 12). Dalam setiap pekerjaan yang Salomo lakukan, Tuhan mengingatkannya untuk hidup selaras dengan firman-Nya. 

    Sahabat, melibatkan Tuhan dalam setiap rancangan kita seyogianya disertai dengan sebuah komitmen untuk hidup menyelaraskan diri dengan firman-Nya. Apakah kita melakukan panggilan hidup kita dalam pekerjaan dan pelayanan didasari hati yang mengasihi Tuhan? Ketaatan dan keselarasan hidup kita kepada firman-Nya kiranya menjadi hal yang utama dalam hidup kita sehingga kasih itulah yang mendorong kita bekerja dengan sukacita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 12-13?


    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tanpa komitmen untuk mengasihi Tuhan, apa pun yang kita lakukan akan menjadi hal yang sia-sia. (pg).

  • Sharing Makes Us More Capable

    HIKMAT ITU PEMBERIAN. Sahabat, apa yang kita minta kepada Tuhan dengan rendah hati dan ketulusan pasti akan kita dapatkan. Ungkapan tersebut menggambarkan apa yang dialami oleh raja Salomo. Dalam upaya memerintah kerajaannya, Salomo memiliki banyak tantangan untuk mempersatukan 10 suku yang ada di Utara dan 2 suku yang ada di Selatan. Bukan hanya itu, Israel juga memiliki ancaman dari kerajaan lain seperti Mesir dan Kerajaan yang ada di Timur. Tantangan dan ancaman tersebut mendorong Salomo sebagai raja untuk mengatasi hal tersebut. Oleh sebab itu ia harus memiliki karakter dan jiwa kepemimpinan yang mumpuni.

    Dalam dunia perjanjian Lama, Salomo dikenal sebagai raja yang bijak dan berhikmat, bahkan tidak ada yang mampu menandingi hikmat yang dimilikinya. Pertanyaan yang paling mendasar adalah dari mana Salomo mendapatkan hikmat tersebut? Kalau kita kembali mencermati 1 Raja-raja 3, di sana kita akan menemukan perjumpaan Salomo dengan Tuhan dalam sebuah mimpi. Pada saat itulah ia minta hikmat. Dengan demikian jelas bahwa hikmat Salomo diperoleh dari Allah melalui doanya.

    Apa yang dialami oleh Salomo bisa juga kta alami yaitu mendapatkan hikmat yang luar biasa. Ketika kita dengan kesungguhan datang kepada Tuhan dan mohon kepada-Nya,  pasti Dia akan memberikannya. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Raja-raja dengan topik: “Sharing Makes Us More Capable (Berbagi Membuat Kita Semakin Mumpuni)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Raja-raja 4:1-34. Sahabat, pada masa pemerintahan Raja Salomo, Israel mengalami zaman keemasan. Raja membuat pemerintahan yang lebih efisien. Maka, penulis Kitab 1 Raja-raja mencatat: “Orang Yahudi dan orang Israel jumlahnya seperti pasir di tepi laut. Mereka makan dan minum serta bersukaria” (Ayat 20). Negara dalam keadaan aman dan makmur. Penulis menyatakan untuk persedian makanan di istana, dibutuhkan 5.000 liter tepung halus dan 10.000 liter tepung kasar, belum lagi dengan kebutuhan daging per harinya.

    Tak sekadar makmur. Penulis kitab 1 Raja-raja  menyatakan bahwa kerajaan-kerajaan di sekitar Israel menyampaikan upeti sebagai tanda ketaklukan kepada Salomo (Ayat 21). Itu berarti Israel pada masa Salomo dihormati, juga ditakuti banyak bangsa. Sungguh masuk akal jika melihat bahwa Salomo memiliki 40.000 kandang kuda untuk kereta-kereta perangnya. Jika satu kereta ditarik empat ekor kuda, maka Israel mempunyai 10.000 kereta kuda. Bandingkanlah itu dengan Indonesia yang saat ini memiliki 314 buah unit tank.

    Sahabat, namun, di atas semuanya itu, penulis kitab 1 Raja-raja mencatat bahwa Allah memberikan hikmat dan pengetahuan yang luar biasa kepada Salomo (Ayat 29). Hikmat itu yang membedakannya dari raja-raja yang ada pada masa itu, sehingga banyak orang datang untuk menimba ilmu darinya.

    Apa yang dapat kita pelajari dari bacaan kita pada hari ini? Pertama, betapa pun tinggi prestasi manusia, semua itu hanyalah anugerah Allah. Persoalannya memang ada yang mengakui, namun ada pula yang tidak. Pengakuan itu menjadi logis karena manusia tidak begitu saja muncul di muka bumi ini. Allah menciptakan dan memperlengkapi manusia dengan akal budi, sehingga kita pun dipanggil untuk memuliakan Allah.

    Kedua, kita dipanggil pula untuk tidak menikmati kepandaian itu seorang diri saja, namun mau membagikannya kepada orang lain. Uniknya, saat berbagi ilmu, kita tidak akan pernah kehabisan ilmu itu sendiri. Berbagi membuat kita makin mumpuni. Oleh karena itu, marilah kita berbagi ilmu agar dunia semakin dipenuhi dengan banyak orang yang berhikmat. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 29-30?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hikmat dari Tuhan akan Dia berikan kepada kita yang meminta dengan kesungguhan hati tanpa terselip keraguan. (pg).

  • The Best and Most Beautiful Works

    BAIT SUCI SALOMO. Sahabat, setelah memasuki Tanah Perjanjian di Kanaan, bangsa Israel tetap memakai Kemah Suci hingga masa pemerintahan Raja Salomo. Sepanjang awal masa pemerintahannya, Salomo menugaskan ribuan orang untuk ikut ambil bagian di dalam pembangunan Bait Suci. Pada tahun keempat pemerintahannya, dasar bangunan Bait Suci sudah diletakkan, lalu tujuh tahun kemudian seluruh bangunan Bait Suci selesai dibangun. 

    Pembangunan Bait Suci Salomo dimulai dari tahun 966 SM dan selesai pada tahun 960 SM, jadi lamanya proses pembangunan kurang lebih tujuh tahun. Bait Suci Salomo merupakan tempat ibadah pertama yang dibangun permanen. Lokasi pembangunan Bait Suci terletak di Gunung Moria, Yerusalem. Yang menjadi arsitek pembangunan Bait Suci ini adalah Huram seorang keturunan Fenesia dan suku Naftali. Adapun ukuran bangunan tersebut adalah panjang 60 hasta, lebar 20 hasta dan tinggi 30 hasta (1 Raja-raja  6:2). 

    Bait Suci memiliki area pelataran, yaitu tempat untuk korban bakaran dan pembasuhan kaki. Lalu terdapat ruang kudus yang di dalamnya terdapat tempat mazbah dupa, meja tempat roti sajian, kandil-kandil dan bermacam perlengkapan ibadah. Selanjutnya ruang mahakudus tempat Tabut Perjanjian diletakkan. Para imam masuk melalui serambi yang luas dan pilar-pilar besar berada di sisi yang menuntun ke ruang kudus. Ruang kudus mendapat pencahayaan dari lilin dan sinar yang berasal dari jendela yang terletak sangat tinggi, sementara ruang mahakudus sangat gelap gulita. 

    Bait Suci ini berdiri sejak tahun 960-586 SM, namun sangat disayangkan karena akhirnya hancur ketika Nebukadnezar (Raja Babilonia) menaklukan Yerusalem.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari 1 Raja-raja dengan topik: “The Best and Most Beatiful Works (Karya Terbaik dan Terindah). Bacaan Sabda diambil dari 1 Raja-raja 5:1-18. Sahabat, persiapan pembangunan Bait Suci menarik disimak. Salomo meminta kepada Hiram, raja Tirus, untuk mengirimkan pohon-pohon aras dari gunung Libanon (Ayat 6). Pada masa itu kayu aras terkenal sangat keras, tidak mudah lapuk, dan tahan rayap. Serat kayunya begitu padat sehingga bagus untuk ukir-ukiran dan baunya sungguh khas.

    Harganya pun tidak main-main. Salomo membayar dengan 322.500 kg gandum dan 4.400 liter minyak zaitun asli per tahunnya (Ayat 11). Jika harga gandum terbaik Rp 45 ribu per kg dan harga minyak zaitun terbaik Rp 300 ribu sekarang ini, maka setiap tahunnya Salomo mesti mengeluarkan sekitar Rp 16 miliar! Jika pembangunan Bait Suci itu memakan waktu 7 tahun, maka harganya menjadi sekitar Rp 112 miliar.

    Sahabat, harga yang lumrah mengingat kayu-kayu itu harus ditebang di pegunungan, dibawa ke Tirus, dan melalui Laut Tengah kayu-kayu itu dialirkan dalam bentuk rakit ke pelabuhan terdekat dengan Yerusalem (kemungkinan besar Yope), lalu dibawa kembali masuk ke pedalaman, dan ke dataran tinggi di Yerusalem (Ayat 9). Kita mungkin bertanya, mengapa Salomo mengimpor dan tidak menggunakan bahan bangunan lokal? Sepertinya Salomo ingin memberi yang terbaik bagi Allah. Untuk fondasinya, Salomo menggunakan batu-batuan pilihan dalam negeri sendiri (Ayat 17). Itu berarti Salomo tak hanya berorientasi impor.

    Karya terbaik dan terindah,  mesti dilakukan dengan cara baik. Itulah yang dilakukan Salomo. Dia tidak meminta kayu dari Tirus, tetapi sungguh-sungguh mau membayarnya dengan harga wajar dan tidak berutang.

    Sahabat, kita dapat belajar dari Raja Salomo. Saat mempunyai hajat membangun gedung gereja atau gedung pelayanan lainnya, adalah baik jika semua itu dibangun dengan semangat memberi yang terbaik. Namun, harus juga dengan cara yang terbaik. Jangan sampai belum apa-apa Panitia sudah minta diskon dari penyuplai dengan alasan untuk pekerjaan rohani. Kita perlu minta harga yang wajar. Tentu kita senang jika mereka turut berdonasi, namun jangan dipaksakan! Sehingga “gedung rohani” itu sungguh rohani dalam pengerjaannya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang ayat 17?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita memang harus menghormati dan menyenangkan hati orang tua kita. Namun, yang terutama harus kita senangkan dengan bakti dan hormat kita adalah Allah Bapa kita. (pg).