Author: Christopherus

  • Working is A Life Calling

    BEKERJA. Sahabat, Bob Black dalam tulisannya yang berjudul: “The Abolitition of Work” berkata: “Tidak seorangpun yang harus bekerja. Bekerja adalah sumber dari hampir semua kesengsaraan di dunia ini. Hampir semua kejahatan yang bisa Saudara sebutkan berasal dari bekerja atau dunia yang dirancang untuk bekerja. Untuk menghentikan kesengsaraan ini, kita harus berhenti bekerja.” 


    Dalam  kebudayaan yang suka bersantai, ada cukup banyak orang yang sepenuh hati menerima pemikiran Black. Di Amerika, orang menghabiskan sekitar 50 persen dari waktu aktif mereka untuk bekerja. Apakah bekerja itu merupakan kutukan, atau memang sesuatu yang dirancang secara unik untuk dilakukan oleh manusia? Berlawanan dengan pernyataan dari Bob Black, makna dan natur manfaat dari pekerjaan justru merupakan tema besar di Alkitab.

    Perihal bekerja dijelaskan di kitab Kejadian. Di pasal awal, Allah digambarkan sebagai pekerja utama; sibuk dengan penciptaan dunia (Kejadian 1:1-15). Alkitab menyatakan bahwa Allah bekerja selama enam hari dan beristirahat pada hari ketujuh. Allah adalah yang pertama kali yang melakukan pekerjaan di bumi; oleh karena itu, pekerjaan yang benar mencerminkan aktivitas Allah.

    Sahabat, karena Allah itu baik, bekerja juga baik (Mazmur 25:8; Efesus 4:28). Selanjutnya, kitab Kejadian 1:31 menyatakan bahwa ketika Allah melihat hasil dari pekerjaan-Nya, Dia menyebutnya:  “Sangat baik.” Allah kemudian memeriksa dan menilai kualitas pekerjaan-Nya. Ketika Ia memutuskan bahwa Dia telah melakukan pekerjaan yang baik, Dia menikmati hasilnya. 

    Hasil kajian Alkitab menunjukkan bahwa bekerja adalah aktivitas yang melekat kepada manusia secara hakiki sebagai suatu ciptaan. Allah, sang pencipta juga digambarkan sebagai sosok yang bekerja. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Raja-raja dengan topik: “Working is A Life Calling (Bekerja adalah Panggilan Hidup)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Raja-raja 9:10-28. Sahabat, sejak semula, panggilan hidup manusia adalah untuk bekerja. Itu sebabnya, manusia pertama ditempatkan di dalam Taman Eden dengan perintah untuk memelihara dan mengusahakannya. Dengan kata lain, boleh disebut manusia adalah pengusaha.

    Menjadi pengusaha berarti bekerja, niscaya mengusahakan sesuatu agar berdaya guna dan berhasil guna. Tak ada suatu apa pun di bawah langit ini yang dapat memastikan keberlangsungan hidup manusia. Hanya karena seseorang sudah berada dalam kecukupan, misalnya, tak berarti ia dapat bersantai-santai dan berandai-andai segala miliknya tak akan habis. Sesuatu yang orang dapatkan hari ini adalah hasil usahanya selama bertahun-tahun. Ia harus terus berusaha untuk kehidupannya pada masa depan.

    Sahabat, dalam konteks berusaha, Salomo dikisahkan masih terus berusaha untuk menyenangkan hati Hiram, meskipun belum sepenuhnya berhasil (ayat 12). Salomo merasa bahwa dengan memberikan 20 kota di Galilea akan menyenangkan hati Hiram. Ternyata Hiram tak senang dengan pemberian itu. Salomo sudah kaya raya, tetapi ia tidak tinggal diam. Ia masih terus bekerja keras mengusahakan banyak hal. Bukan untuk menambah kekayaan yang ia miliki, namun menjaganya agar tetap terawat baik (Ayat 15-28).

    Kita perlu belajar dari Salomo dengan menghayati bahwa bekerja  adalah panggilan hidup. Dengan demikian, kita dapat memiliki penghayatan yang lebih baik dan positif terhadap pekerjaan. Bekerja  perlu dilihat sebagai bagian hidup yang mesti dijalani dengan gembira. Benar bahwa ketika melakukan berbagai usaha, kita menghadapi banyak kendala. Oleh karenanya, jadikanlah semua itu sebagai kesempatan untuk mendapatkan pengalaman yang lebih baik dan bahkan lebih menantang.

    Sahabat, kendala adalah peluang, bukan ancaman. Artinya, kita dipacu untuk melakukan berbagai terobosan yang pada akhirnya mendatangkan kebaikan bersama. Selama masih ada kesempatan untuk mengerjakan banyak hal, kerjakanlah dengan sekuat tenaga. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdsarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang bekerja?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ketika seseorang bekerja dengan sungguh-sungguh, maka tidak saja ia akan menerima upahnya di dunia ini, tetapi juga dari Tuhan. (pg).

  • Our Life Guarantee

    KEPASTIAN. Sahabat, satu hal yang paling tidak kita sukai dalam hidup ini adalah menunggu. Terlebih lagi kalau harus menunggu dalam ketidakpastian. Ibarat berjalan dengan mata tertutup, situasi yang tak pasti membuat kita tidak bisa mengontrol apa yang bakal terjadi. Entahkah sesuai harapan atau tidak, kita tidak bisa tahu tanpa melewati masa-masa penantian mendebarkan terlebih dahulu.

    Dunia menawarkan berbagai bentuk kepastian, tetapi nyatanya semua itu tidak benar-benar menjadi jaminan. Berbeda dengan tawaran sok meyakinkan dari dunia, mengikut Tuhan seolah justru merupakan tantangan. Terkadang, kita ditempatkan pada beragam situasi ketidakpastian yang menegangkan. Satu hal dapat selalu kita pegang, sekalipun di tengah ketidakpastian yang mencekam, dengan bersandar pada Tuhan, kita pasti akan kuat menghadapi setiap tantangan yang menghadang.

    Oswald Chanbers berkata, “Iman banyak orang mulai bimbang bila kekhawatiran memasuki pikiran mereka. Cara untuk menyingkirkan ketakutan dari hidup kita adalah mendengar kepastian Allah, kata-kata sapaan Allah untuk kita.” 

    Sahabat, kepastian saya dibangun atas kepastian Allah kepada saya. Allah berfirman,   ”Aku sekali-kali tidak akan meninggalkankan engkau” supaya kemudian saya dengan pasti dapat berkata, “Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut” (Ibrani 13:5-6).

    Hal itu bukan berarti bahwa saya takkan tergoda untuk merasa takut, tetapi saya akan mengingat kata-kata kepastian dari Allah. Saya akan merasa penuh keberanian hati, seperti seorang anak yang berusaha untuk mencapai tolok ukur yang ditetapkan ayahnya bagi dia.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Raja-raja dengan topik: “Our Life Guarantee (Jaminan Hidup Kita)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Raja-raja 8:54-66. Sahabat, di dalam ketidakpastian, hal yang paling penting adalah KEPASTIAN. Dengan kepastian, orang akan merasa aman dan nyaman. KEPASTIAN menjadi jaminan yang membuat setiap orang dapat menjalani hidupnya dengan tenang. Persoalannya adalah betapa sulitnya menemukan dan mendapatkan kepastian yang kokoh, tak berubah, dan tepercaya.

    Pada masanya, Salomo adalah raja yang amat kaya raya dan berkuasa penuh. Ia termasyhur sampai ke seluruh dunia. Namun demikian, dalam semua kejayaannya, Salomo tak meletakkan jaminan pada semua yang ia miliki. Alih-alih pada harta dan kuasanya, Salomo justru meletakkan segenap jaminannya ke dalam tangan Tuhan. Ia menegaskan dengan suara nyaring bahwa Tuhanlah yang telah memberikan tempat perhentian bagi umat (Ayat 56).

    Sahabat, ketika Tuhan memberikan tempat perhentian bagi umat, itu semua adalah tanda yang sangat jelas mengenai pemeliharaan Tuhan terhadap umat-Nya. Tuhan yang memberi perhentian adalah Tuhan yang sama, yang berjanji kepada umat ketika menuntun mereka keluar dari Mesir menuju ke Tanah Perjanjian. Semua yang dijanjikan Tuhan kepada Musa diwujudkan-Nya. Untuk itulah Salomo mengingatkan dan meminta umat agar tak melupakan apa yang sudah Tuhan kerjakan (Ayat 58).

    Secara sederhana, orang-orang pada masa kini sering meletakkan jaminan pada asuransi, materi, kekuatan, atau hal-hal lain yang dipandang dapat dijadikan sebagai pegangan. Padahal, itu semua semu. Tampaknya saja baik, tetapi sesungguhnya tak satu pun pernah bisa selalu diandalkan.Tahun kehidupan yang akan kita jalani masih panjang dan terbuka dengan berbagai kemungkinan di depan sana. Dalam menjalani semua itu, sudah pasti kita butuh jaminan agar kita mau dan mampu melanjutkan perjalanan hidup ini, apa pun tantangannya.

    Sahabat, berangkat dari bacaan kita hari ini, pilihan terbaik adalah memercayakan segenap jaminan hidup kita dalam pemeliharaan Tuhan. Tak ada jaminan lain yang lebih pasti selain dari Tuhan. Dialah yang memelihara hidup kita dengan penuh cinta kasih. Pemeliharaan Tuhan-lah yang menjadi jaminan hidup kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 57?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hanya berjalan bersama Tuhan kita dapat menemukan kepastian di tengah dunia yang penuh keridakpastian. (pg).

  • NATAL DAN PEMBERIAN

    Saudara, dalam rangka menyambut natal pada tahun 2023, saya mengajak pembaca untuk merenungkan Matius 2:11 dengan judul: “Natal dan Pemberian.

    Tiga bulan menjelang bulan Desember 2023, Panitia Natal sebuah gereja dipusingkan tentang bagaimana gereja mereka akan merayakan Natal. Sebagian jemaat ingin perayaan Natal yang megah, syahdu dan penuh kemeriahan di sebuah grand ballroom hotel. Sebagian lagi beranggapan dirayakan di gereja dengan drama kelahiran Yesus, mendengarkan firman Tuhan lalu ditutup dengan perjamuan kasih.  Tetapi ada pula yang usul untuk merayakan Natal di panti asuhan sambil berbagi kasih kepada mereka yang kurang beruntung. Atau mengadakan perayaan natal dengan kaum marginal di lapangan terbuka.  Apa pun pilihan yang kemudian diputuskan oleh panitia Natal gereja tersebut tidaklah salah. 

    Saudara, salah satu makna Natal yang kadang terabaikan adalah PEMBERIAN. Keselamatan adalah makna utama Natal, tetapi selain itu ada pula PEMBERIAN.

    Saudara, bagi saya sesungguhnya natal dan setiap masa raya natal adalah WAKTU UNTUK MEMBERI: Orang-orang Majus memberi persembahan berupa emas, mur dan kemenyan bagi Yesus, tentu perlu banyak uang untuk membelinya. Gembala-gembala tidak membawa pemberian berwujud materi, tetapi mereka memberi iman mereka menanggapi berita dari malaikat. Sedangkan Yusuf dan Maria memberi hidup mereka. Menyerahkan diri mereka untuk rencana Tuhan, walaupun mereka tidak mengerti sepenuhnya hal tersebut.  Selanjutnya Allah Bapa memberikan PEMBERIAN  yang  TERBESAR dari segenap PEMBERIAN  yaitu  Anak-Nya yang Tunggal.

    Lalu apa yang akan kita berikan dalam Natal tahun  2023? Pertama, mari kita memberikan PENGAMPUNAN  dan KASIH (Yohanes 3:16;  Yohanes 6:12, 14-15 dan Matius 22:36-40).

    Kedua, mari kita  memberikan  TELADAN (1 Petrus  2:21 dan 1 Timotius 4:12). Teladan itu lebih nyaring bunyinya daripada nasihat. Kata “teladan” berarti “sedang menulis di bawah.” Anak-anak mengikuti jejeak orang tuanya. Kalau kita ingin anak-anak setia, maka jadilah orang yang setia. Kalau kita ingin anak melayani,   jadilah pelayan yang setia. Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat, meletakkan teladan-Nya dalam langkah-langkah yang Ia letakkan di seluruh dunia. Kita harus berjalan dalam langkah-Nya. Kita harus MENJADI TELADAN  seperti Kristus.

    Ketiga, marilah kita memberikan Injil kepada jiwa yang lapar (Amos 8:11-12; Lukas 2:10-12; dan Matius 28:19-20). Apakah Injil itu? Injil adalah kabar baik tentang Yesus Kristus. Itu termasuk kedatangan-Nya, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Kita harus membagikan injil kepada orang lain. Marilah kita memberi injil kepada orang yang tersesat pada zaman kita. Marilah kita memproklamasikan Kristus kepada semua orang.

    Keempat, marilah kita memberi KEMULIAAN kepada Tuhan (Lukas 2:14; Yohanes 3:30; dan Mazmur 103:1-3). Sejak semula  ALLAH adalah PEMBERI, dan setiap pemberian-Nya adalah baik dan sempurna, marilah kita memberi  kemuliaan bagi Dia. Itu menunjukkan ucapan syukur kita dan kerendahan hati kita, kesombongan tidak memberi kemuliaan untuk Tuhan. Adapun yang ada pada diri kita: Hidup, bakat, talenta, harta,  dan waktu kita Harus kita abdikan untuk KEMULIAAN TUHAN.

    Apa pilihan gereja Saudara dalam merayakan Natal tahun ini? Bila belum pernah, cobalah merayakannya bersama mereka yang kurang beruntung. Bisa di panti asuhan, di penjara, di komunitas anak-anak jalanan atau di panti wreda bersama mereka yang mungkin terabaikan oleh keluarga mereka sendiri. Yakinlah sukacita dan tangis haru mereka akan sangat bermakna,  kita telah melakukan sesuatu yang bermakna bagi sesama.

    Saudara, apa pun pilihan kita dalam merayakan tahun ini, setiap masa raya Natal kita diingatkan : Harus memberi pengampunan dan kasih; memberi  teladan; memberi Injil kepada jiwa yang lapar;  dan memberi kemuliaan kepada Tuhan. Selamat Natal. BERSUKACITALAH! (Pdt. Em. Gideon Suprapto).

  • DIA YANG TERLUPAKAN

    Saudaraku, kisah natal yang tiap tahun digaungkan selalu menyebut tokoh-tokoh natal seperti Maria, Yusuf, Zakharia, Elisabeth, gembala, malaikat, Herodes dan orang majus.  Namun ada seorang tokoh yang sebenarnya menjadi pelopor dari kedatangan Kristus, yaitu Yohanes bin Zakharia yang dikenal dengan nama Yohanes Pembaptis.  Mari merenungkan Lukas 1 : 76-80.

    Zakharia begitu bersukacita karena kelahiran anak lelaki semata wayangnya.  Ia sudah menjalani masa sulit karena bisu selama beberapa waktu dan ia mengucap syukur atas mukjizat yang diterimanya: Kesembuhannya dan kelahiran anaknya.  

    Sebagai seorang imam, Zakharia tahu bahwa anaknya memiliki misi kehidupan ilahi.  Hal  itu terungkap dalam nyanyian syukur untuk anaknya.  Awal kehidupan Yohanes memang penuh dengan mukjizat tetapi Zakharia mengerti Yohanes adalah pembuka jalan bagi Sang Mesias (Lukas 1:76).  Yohanes memang mengemban tugas yang berat yaitu untuk menyiapkan hati umat menyambut Mesias.  Dialah yang meluruskan hati umat yang bengkok agar siap dilewati oleh Mesias yang akan datang kembali memulihkan umat-Nya (Yesaya 40:3).  

    Yohanes memang menyerukan pertobatan : Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis supaa Allah mengampuni dosamu’ (Markus 1 :4; Lukas 3:3). Walau demikian Zakharia tahu Mesias itu bukanlah anaknya.  Yohanes sendiri menyadari hal itu dan berkata dengan lantang bahwa ia bukan Mesias (Yohanes 3:28). Nama Yohanes tidak disebutkan dalam kisah natal, namun kelahirannya menjadi pembuka kisah natal itu sendiri.  

    Tidak banyak orang yang mau hidup seperti Yohanes: Lahir dengan segala peristiwa illahi dan sepanjang hidupnya bekerja keras untuk meluruskan hati umat kepada Tuhan, namun pada akhirnya ia bahkan mempersilakan orang lain untuk dipermuliakan.  Manusia sangat menginginkan pengakuan dan sangat ingin memiliki monumen untuk dirinya sendiri.  Psikolog bernama Abraham Maslow menyebutkan bahwa penghargaan diri merupakan kebutuhan dasar manusia diusahakan untuk dapat terpenuhi setelah ia mendapatkan kebutuhan dasar yang lain: Kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman dan kebutuhan sosial (kebutuhan untuk dicintai).  

    Manusia secara kodrati ingin diakui eksistensinya dan diwongke  (dimanusiakan).  Penghargaan dikejar manusia dengan ambisinya, namun tidak  bagi Yohanes.  Semua itu tidaklah berarti karena ia menyadari tugas dan tujuan hidupnya: menyiapkan jalan untuk Kristus Sang Mesias. 

    Kisah Natal menjadi indah karena di dalam kisah ini semua orang berperan dalam tempatnya masing-masing sesuai dengan rencana Allah, termasuk Yohanes.  Walaupun Yohanes sering luput dari pembicaraan dalam momen natal namun karena kebesaran hatinyalah maka Yesus secara maksimal dapat bekerja untuk menghadirkan Kerajaan Allah.  

    Orang yang bekerja maksimal pada zamannya dan siap untuk dilupakan dengan jiwa besar demi kelanjutan pekerjaan Allah, itulah Yohanes Pembaptis.  Semua demi Rencana Keselamatan dalam diri Yesus.  Mari belajar dari Yohanes : Ia (Mesias) harus makin besar tetapi aku harus makin kecil (Yohanes 3:30). BERSUKACITALAH! Selamat bertumbuh dewasa. BERSUKACITALAH! (Ag)

  • INTEGRITAS DALAM NATAL

    Saudaraku, kedatangan Yesus sebagai Mesias telah dinubuatkan ribuan tahun sebelumnya dan Allah menepati janji itu dengan begitu detail.  Mari membaca dan merenungkan Lukas 2: 8-20.

    Gembala yang sedang menjaga kawanan domba tidak menyangka kalau malam itu mereka mendengar berita yang selama ini diimpikan oleh setiap orang Yahudi, yaitu kedatangan Mesias.  Dalam situasi terjajah oleh orang yang tidak mengenal Allah, tentunya berita ini sungguh mengejutkan sekaligus menggembirakan.  

    Sudah lama orang Israel menantikan kedatangan Mesias dan keyakinan kedatangan-Nya sudah diajarkan ratusan tahun, dari generasi ke generasi.  Para gembala itu pun pasti juga sudah mendengar ajaran tentang Mesias.  Walaupun tingkat pendidikan mereka minimal, namun pengharapan mesianis mereka sama dengan para ahli Taurat.  

    Mungkin saja mereka sudah tidak lagi banyak berharap karena terlalu lama menanti, namun malam itu mereka menerima kabar yang menggembirakan, yang bahkan tidak diterima oleh para imam dan ahli Taurat yaitu kabar kelahiran Mesias.  Mereka meyakini kabar itu sebagai sebuah kebenaran.  Bukan hanya karena pembawa berita itu adalah para malaikat namun juga karena  keyakinan mereka bahwa Sang Mesias akan lahir di Betlehem (Mikha 5:1).  

    Para gembala merespons berita itu dengan penuh sukacita apalagi ketika mereka menyadari bahwa berita yang mereka terima itu benar-benar sesuai dengan kenyataan yang mereka lihat (Lukas 2:20).  Para gembala itu bersukacita karena Allah menepati janji-Nya, integritas-Nya teruji.  JANJI SUDAH DIGENAPI. 

    Sebuah janji dari para pemegang otoritas menjadi sandaran pengharapan bagi orang-orang yang tertindas dan terhisap.  Ketika janji ditepati maka itu menjadi keyakinan bahwa mereka dapat dipercaya, sebaliknya saat janji tidak ditepati maka orang yang menerima janji itu bisa menjadi orang yang apatis dan kehilangan kepercayaan.  

    Kehidupan dunia yang penuh dengan dusta telah membuat manusia harus terus belajar untuk memercayai janji Allah. Selain karena pengalaman pahit, perhitungan waktu manusia dan Allah juga menjadi kesenjangan kepercayaan manusia terhadap janji Allah.   Kadang Tuhan terasa sangat lambat, kadang Tuhan terasa selalu diam dan tidak melakukan respons apa pun.  

    Namun Tuhan selalu mengingat janji-Nya sebagaimana 2 Petrus 3:9 mengatakan, ”Tuhan tidak lambat memberikan apa yang telah dijanjikan-Nya walaupun ada yang menyangka demikian …” (terjemahan versi Bahasa Indonesia Sehari-hari).  Kehadiran Sang Mesias adalah penggenapan janji agung Tuhan.  Bila Ia menggenapi janji yang sulit itu dengan begitu tepat dan detail, maka Ia pasti juga teruji untuk menepati janji yang lain kepada manusia. 

    Natal adalah bukti integritas Allah terhadap diri-Nya sendiri, yang mendatangkan berkat untuk manusia. Apa yang dijanjikan, telah digenapi.  Segala yang dikatakan, telah dilakukan.  Itulah integritas.  Integritas Allah mendatangkan sukacita bagi manusia yang lemah.  Bersyukurlah karena manusia dapat mengenal Allah yang memiliki integritas yang tinggi dan mari belajar untuk mengikuti integritas-Nya.  Percayalah kepada janji-Nya dan teruslah belajarlah untuk menjadi orang yang dapat dipercaya.  Selamat bertumbuh dewasa.  BERSUKACITALAH! (Ag)