Author: Christopherus

  • Can I Help You?

    RINGAN TANGAN. Sahabat, kiasan adalah kata yang digunakan untuk memberi kesan indah atau penekanan pada suatu makna. Salah satu contoh kata kiasan yang sering kita jumpai dalam bahasa Indonesia adalah ringan tangan. Tahukah Sahabat apa maknanya?

    Dalam bahasa sehari-hari, kiasan ringan tangan memiliki dua konotasi yang berbeda. Kiasan itu bisa diartikan sebagai konotasi yang positif tetapi bisa juga diartikan dalam konotasi yang negatif.

    Kiasan ringan tangan dalam makna yang positif artinya suka menolong, suka memberi, suka membantu, dan dermawan. Kiasan ringan tangan bisa ditunjukkan kepada seseorang yang baik hati, suka memberi, dan suka menolong orang lain yang sedang mengalami kesusahan.

    Saat kamu bertemu dengan seseorang yang sering berperilaku baik, senang berbagi dengan sesama, dan orang yang suka menolong, berarti kamu sedang bertemu dengan seseorang yang ringan tangan. Sikap tersebut tentu merupakan sikap yang terpuji dan harus kita teladani dalam kehidupan sehari-hari.

    Sahabat, dalam konotasi yang negatif, ringan tangan bisa diartikan sebagai orang yang suka memukul. Seseorang yang ringan tangan mudah sekali memukul orang lain walaupun hanya permasalahan yang kecil.

    Ketika kamu menemukan seseorang yang sering memukul orang lain, maka kamu bisa melabeli orang tersebut dengan kiasan ringan tangan. Mereka suka melakukan kekerasan untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan.

    Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik, “Can I Help You? (Ada yang Bisa Saya Bantu?)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 13:14-21 dengan penekanan pada ayat 14. Sahabat, ketika kita datang kepada Customer Service (CS) sebuah bank, biasanya dia akan menyapa: “Ada yang bisa saya bantu?”  Dia menyapa seperti itu karena itu memang sudah menjadi tugasnya sebagai seorang Customer Service dan dia dalam keadaan sehat. 

    Saya punya pengalaman ketika saya mengunjungi seorang rekan hamba Tuhan yang sedang sakit di rumahnya. Kaki dan tangan kanannya bengkak akibat dia jatuh ketika bersepeda. Dia masih jumblo walau usianya sudah mendekati 50 tahun.   Tak lama HP nya  itu berbunyi. Ada WA masuk. Dia  minta saya membacakannya. Ada warga jemaatnya  yang mengeluhkan persoalannya. Dia mendiktekan jawaban pada saya. Isinya sangat menghibur dan menguatkan. Saya tak mengira dalam kondisi kaki dan tangannya sakit jika digerakan, dia masih punya kemauan untuk menolong jemaatnya yang lebih sehat tubuhnya.

    Sahabat, Elisa memiliki karakter yang luar biasa. Ia tidak membiarkan sakitnya menghalangi pelayanannya. Saat itu pasti penderitaannya  tidak ringan. Penyakit itulah yang menyebabkan kematiannya. Ya, tak lama kemudian ia menemui wafat. Namun, ia sempat memberikan banyak petunjuk walaupun tidak sepenuhnya ditangkap oleh Yoas. Ia tetap berusaha menolong (Ayat 14-19). Tuhan Yesus juga mencontohkan hal yang sama. Dalam penderitaan-Nya di kayu salib, Dia tidak mengabaikan penjahat di sebelah-Nya (Lukas 23:43).

    Apakah di masyarakat kita dikenal sebagai orang yang ringan tangan, yang siap memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan pertolongan? Apakah kita siap menyapa orang yang datang kepada kita dengan sapaan: “Ada yang bisa saya bantu?”

    Sahabat, orang yang sedang sakit dan menderita cenderung memikirkan diri sendiri, mengasihani diri, dan kurang memedulikan orang lain. Tuhan sering bekerja melalui manusia, termasuk mereka yang sedang sakit dan menderita. Saat seseorang minta pertolongan pada Tuhan, bisa saja Tuhan memakai kita untuk menolong orang itu. Siapkah kita saat Tuhan ingin memakai kita sebagai kepanjangan tangan-Nya sekalipun kita sendiri sedang sakit dan menderita? Saat Tuhan ingin memakai kita, apakah kita selalu siap, di mana pun dan dalam kondisi bagaimanapun? Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 14?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tolong menolong membuat hidup penuh dengan kemudahan, menjadikan hidup penuh dengan kebajikan. (pg).

  • Finishing Well

    MENGAKHIRI DENGAN BAIK. Sahabat, segala sesuatu yang BERAWAL pasti akan BERAKHIR. Maka kita perlu mengendapkan kesaksian  Rasul Paulus: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” (2 Timotius 4:7-8)

    Hidup manusia di bumi ada awal dan pasti ada akhir. Saya sebagai seorang penulis sangat senang mengibaratkan hidup itu bagai sebuah buku. Sampul paling depan merupakan catatan awal dari kehidupan dimulai yaitu kelahiran. Pada bagian dalam dimulai dari halaman pertama dan diikuti dengan halaman-halaman selanjutnya, itulah torehan sejarah atau jejak langkah berisi catatan kehidupan dari setiap peristiwa dalam hidup kita. 

    Semua hal yang baik dan buruk yang kita alami dan yang kita lakukan terekam semua. Pada bagian belakang ada sampul belakang (penutup), artinya tidak ada lagi kisah karena semua sudah berakhir, itulah kematian. Hal terpenting bukan pada panjang-pendeknya kisah atau umur seseorang, tetapi bagaimana kita mengisi catatan kehidupan dari awal sampai akhirinya.

    Mungkin ada Sahabat yang akan menjadikan sebagai  status di WA-nya pada hari ini: “Mengawali, menjalani dan mengakhiri dengan baik.”   Ada yang mengatakan jika memulai sesuatu dengan baik pasti akhirnya akan baik. Wait …. Wait …. BELUM TENTU. Dalam kisah hidup Simson menunjukan hal sebaliknya, hidupnya diawali sangat baik, ia seorang nazir Allah. Namun dalam perjalanan hidup bersama kekasihnya Delila, ia tergoda dan hidupnya berakhir tragis. 

    Ada pula yang berpendapat, tidak penting bagaimana memulainya,  yang penting bagaimana mengakhirinya. Wait … Wait … TUNGGU DULU. Jika berawal dengan tidak baik, kemungkinan besar tidak menghasilkan sesuatu yang baik. Ibarat pohon yang baik dapat dikenal dari buahnya. Pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik pula. 

    Saya yakin, kita semua berharap bahwa akhir kehidupan kita akan baik, maka masa hidup yang kita jalani kini merupakan kesempatan untuk memperbaikinya agar terarah pada maksud dan tujuan Tuhan menciptakan kita.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “Finishing Well (Mengakhiri dengan Baik)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-Raja 11:21 – 2 Raja-raja 12:21. Sahabat, ada cukup banyak orang bisa mengawali segala sesuatu dengan baik, dalam hal pekerjaan, pelayanan, pernikahan, persahabatan, dan lain-lain. Namun awal yang baik tidak menjamin akhirnya baik juga. 

    Seperti itulah juga kehidupan Yoas, sang raja muda. Ia menjadi raja sejak usia tujuh tahun (2 Raja-raja 11:21). Ia diasuh oleh putri Yoseba (bibinya) dan Imam Yoyada (pamannya). Firman Tuhan mencatat: “Yoas melakukan apa yang benar di mata Tuhan seumur hidupnya, selama imam Yoyada mengajar dia” (Ayat 2). Ia juga melakukan reformasi dan renovasi terkait dengan rumah Tuhan (Ayat 4-16). Namun Yoas tidak menjauhkan bukit penyembahan berhala (Ayat 3), sehingga Yehuda kembali terjerumus ke dalam penyembahan berhala (2 Tawarikh 24:18).

    Sahabat, ketika Tuhan mengutus para nabi untuk menegurnya, ia dan para pemimpin Yehuda tidak mau mendengarkan (2 Tawarikh 24:19). Yoas bahkan membunuh Zakharia, anak Yoyada, ketika ia berusaha mengingatkan Yoas akan kesalahannya (2 Tawarikh 24:22). Hidup Yoas berakhir dengan pemberontakan dari para pegawainya dan ia terbunuh (Ayat 20). 

    Meski ia mengawali perjalanan hidupnya sebagai raja dengan baik, namun ia mengakhirinya dengan tidak baik. Ketika ia mulai kompromi terhadap dosa penyembahan berhala, jalan hidupnya mulai bergeser dari jalan Tuhan. Hatinya tidak lagi berpaut kepada Tuhan yang telah menyelamatkannya. Ia merenovasi rumah Tuhan, tetapi ia tidak merenovasi hati dan hidupnya.

    Sahabat, belajar dari kehidupan Yoas, mari kita belajar untuk tidak kompromi terhadap dosa. Sekali kita mulai kompromi terhadap dosa, tanpa disadari kita akan berjalan terlalu jauh dari jalan Tuhan. Mari senantiasa merenovasi hidup kita, agar tetap terpaut kepada Allah sehingga kita tidak tersesat. Dengan demikian, perjalanan hidup kita yang sudah kita awali dengan baik, akan berakhir dengan baik pula. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari 2 Raja-raja 12:3?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan takut hidup. Percayalah bahwa hidup itu layak dijalani, dan keyakinanmu akan membantu menciptakan fakta  (William James). (pg)

  • CARI SAMPAI DAPAT

    Saudaraku, nilai sebuah benda bisa ditentukan dari seberapa gigih seseorang mendapatkannya.  Semakin ia gigih berjuang, semakin bernilai benda itu bagi dirinya.  Apa nilai manusia di mata Allah?  Mari renungkan Injil Lukas 15:8-10

    Bagi pembaca saat ini mungkin tidak terlalu memahami mengapa perempuan itu harus begitu serius mencari koinnya yang hilang.  Apakah perempuan itu begitu miskin sehingga hilangnya koin itu memengaruhi ekonominya ? Kemungkinan tidak.   

    Ada tafsir mengatakan bahwa uang itu adalah salah satu koin uang mahar perkawinan yang biasa dirangkai dan dipakai sebagai hiasan kepala perempuan Yahudi yang sudah menikah.  Nilai sosial itulah yang membuat perempuan itu mencari koin yang hilang dengan gigih, mencarinya sampai dapat.   Koin itu sungguh berharga bagi kehidupan dan perkawinannya sehingga ia saat menemukan kembali koin yang hilang itu, sukacitanya memuncak sehingga  ia berbagi sukacita dengan tetangga-tetangganya. 

    Yesus menyampaikan perumpamaan itu saat orang Farisi mengomentari sikap-Nya yang mau bergabung bersama orang yang dianggap tidak baik dan sampah masyarakat.  Terlihat bagaimana nilai manusia di mata Yesus, yaitu :

    1. Orang berdosa bernilai sama dengan orang yang dianggap baik.

    Penghargaan Tuhan kepada manusia inilah yang membuat Allah benar-benar melakukan tindakan yang serius hanya untuk mengembalikan manusia menjadi milik-Nya.  Allah menghargai bukan dari fisik namun dari hakikat manusia itu sendiri.  

    Senada dengan itu Firman Tuhan kepada Israel yang mengatakan, “Oleh karena engkau berharga di mataku dan mulia, maka aku ini mengasihi engkau maka aku memberikan manusia sebagai gantimu dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu” (Yesaya 43:4).  

    1. Surga bergembira karena pertobatan manusia

    Apa yang terpenting bagi Allah adalah manusia yang menyambut anugerah yang diberikan-Nya, seperti koin yang kembali ditemukan.  Inilah yang membuat surga bersukacita.  Bukan ritual, bukan agama namun pertobatan, itulah yang membuat surga gempar karena sukacita.  Manusia kembali menjadi milik-Nya.

    Saat dunia cenderung menghargai materi dan apa yang kasat mata,  Yesus ingin umat-Nya memandang sesamanya berharga.  Umat Allah seharusnya memiliki mata seperti mata Yesus dalam memandang manusia dan memikirkan seperti pikiran Yesus kepada mereka yang berdosa.  

    Perlu terus berjuang tanpa henti dan pantang menyerah untuk mengabarkan anugerah Allah kepada mereka.  Sebagai agen keselamatan dalam diri Yesus, setiap umat Allah perlu memahami berharganya nilai seorang manusia terlepas dari latar belakang, etnisitas, pekerjaan, orientasi seksual dan pemikirannya dan tidak membuat kotak-kotak yang mendiskriminasi mereka yang dianggap tidak sama dan berdosa.  

    Mari gigih berjuang mendoakan dan menginjil dalam segala keadaan dan kepada siapa pun  sebagaimana Kristus sudah terlebih dahulu melakukannya untuk umat kepunyaan-Nya.  Mari terus mengerjakan tugas yang diberikan Kristus dengan gigih dan pantang menyerah bersama dengan Roh Kudus .  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)  

  • ANUGERAH UNTUK YANG MEMBUTUHKAN

    Saudaraku, manusia bisa memiliki respons yang berbeda saat menerima pemberian yang biasanya disebabkan oleh tingkat kebutuhan terhadap pemberian tersebut.  Mereka yang memiliki rasa butuh yang tinggi akan bersukacita saat menerima pemberian. Mari renungkan respons para penerima anugerah Kerajaan Allah sebagaimana dituliskan dalam Lukas 14:15-24.

    Orang-orang yang menolak undangan dari penyelenggara pesta  itu masing-masing memiliki alasan yang rasional untuk tidak menghadiri pesta.  Namun di atas semua alasan itu, orang-orang yang sebenarnya mendapatkan hak istimewa tersebut menganggap urusan pribadi mereka lebih penting dan merasa tidak perlu dalam pesta.  Mereka adalah orang-orang yang saat itu tidak membutuhkan pesta.  

    Respons berbeda terlihat saat sang penyelenggara pesta mengajak orang-orang yang cacat, miskin, buta dan lumpuh untuk datang ke pesta itu.  Mereka adalah lapisan masyarakat yang tersingkir sehingga membutuhkan makanan dan pengakuan sosial.  Mereka menyambut gembira dan memenuhi rumah pesta itu.  Mereka kenyang dan merasa dimanusiakan.  Mereka yang bersukacita menerima berkat tak terduga.

    Kerajaan Allah menawarkan anugerah bagi mereka yang mau datang dengan rasa butuh.  Rasa membutuhkan menjadi kunci untuk menikmati anugerah dan  hidup di dalamnya.  Seburuk apa pun nilai seseorang, ketika ia datang kepada Tuhan dengan rasa butuh maka ia akan menemukan Allah, sang pemilik Kerajaan Allah itu.  Rasa butuh muncul karena kesadaran yang muncul sebagai karya Roh Kudus dan membutuhkan kerendahan hati untuk menerima pemberian Allah.

    Kehidupan sering kali mengaburkan prioritas manusia sehingga mereka menjadi salah fokus.  Apa yang penting malah diabaikan  dan apa yang kurang penting malah dikejar dengan sepenuh kekuatan.  Mengejar kebutuhan hidup jauh lebih penting daripada menerima dan menghidupi anugerah Allah.  Oleh karena itu butuh untuk sadar diri supaya bisa memahami apa yang paling penting dalam hidup: Anugerah Allah, karena dengan anugerah Allah manusia akan memiliki kekuatan menjalani kehidupan dengan cara yang sesuai dengan Firman Tuhan dan menggenggam keselamatan kekal. 

    Tetaplah rendah hati dan peliharalah rasa butuh kepada anugerah-Nya  sebagaimana Matius 5 ayat yang ketiga mengatakan, “Berbahagialah mereka yang miskin di hadapan Allah karena mereka yang punya Kerajaan Allah”   dan   ayat yang keenam yang mengatakan, “Berbahagialah mereka yang lapar dan haus akan kebenaran, maka mereka akan dipuaskan”. Hiduplah dalam anugerah dan nikmati penyertaan Tuhan dalam dinamika kehidupan.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • The Ambitions of Two Women

    AMBISI. Sahabat,  definisi ambisi menurut The Webster’s Dictionary adalah keinginan yang kuat untuk memperoleh kesuksesan dalam hidup dan mencapai hal-hal besar atau baik yang diinginkan.

    Sesungguhnya ambisi dapat memberikan dampak positif terhadap kehidupan seseorang bahkan komunitasnya. Baik kita tertarik untuk memulai bisnis sendiri, menekuni olahraga atau seni, belajar bahasa, meraih kekuasaan, atau memperjuangkan persamaan hak, ambisi yang sehat dapat menjadi titik awal yang baik.

    Sahabat, ketika kita memiliki tujuan yang jelas, kita mungkin akan lebih fokus pada tujuan tersebut dan lebih termotivasi untuk berupaya mencapainya. Ambisi dapat membantu kita memprioritaskan tindakan dan membuat keputusan yang membawa kita lebih dekat ke tujuan.

    Ambisi berpotensi mendorong pertumbuhan pribadi dan penemuan diri. Kita sering kali belajar lebih banyak tentang kemampuan  diri sendiri  ketika kita menantang diri sendiri dan melampaui zona nyaman. Pertumbuhan seperti itu memungkinkan kita mengembangkan keterampilan baru dan menjadi kreatif, mencari cara baru untuk menjadi sukses.

    Lalu apa bedanya ambisi dan obsesi? Obsesi adalah ide, pikiran, bayangan, atau emosi yang tidak terkendali, sering datang tanpa dikehendaki atau mendesak masuk dalam pikiran seseorang yang mengakibatkan rasa tertekan dan cemas. 

    Jika kita punya rencana, lalu memfokuskan energi dan pikiran untuk merealisasikannya, berarti kita memiliki ambisi. Jika keinginan itu sudah mendominasi pikiran tanpa terkendali sampai membuat emosi meluap, bahkan kadang dengan pengejaran membabi buta, berarti kita sudah terobsesi. 

    Untuk meraih ambisi, kita sering memaksakan diri. Alhasil, ketika sukses tidak dicapai, kita sangat kecewa. Punya ambisi sebenarnya boleh-boleh saja (bahkan wajib), tapi tak perlu sampai terobsesi. Pasalnya, obsesi hanya akan membuat kita berbuat atau mengorbankan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “The Ambitions of Two Women (Ambisi Dua Orang Perempuan)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-Raja 11:1-21. Sahabat, bacaan Alkitab hari ini berkaitan dengan dua orang putri raja yang memiliki AMBISI yang berbeda, yaitu Atalya yang AMBISInya jahat dan Yoseba yang AMBISInya baik. Atalya, istri Raja Yoram, adalah ibu dari Raja Ahazia. Saat mengetahui bahwa suami dan anaknya sudah mati, ia berniat membunuh semua keturunan raja (Ayat 1). 

    Sahabat, bagaimana mungkin seorang nenek bisa melakukan tindakan yang begitu kejam, yaitu membunuh cucu-cucunya sendiri? Tindakan Atalya yang amat sadis itu bisa dimengerti bila kita mengingat bahwa ia adalah putri raja Ahab dan ratu Izebel yang terkenal jahat (2 Tawarikh 21:6). Ia mempunyai AMBISI jahat, yaitu menjadi orang yang paling berkuasa di Kerajaan Yehuda. 

    AAMBISI Yoseba, putri Raja Yoram, saudara perempuan Raja Ahazia yang menjadi istri imam Yoyada (2 Tawarikh 22:11), amat berbeda. Ia menyembunyikan Yoas, anak Raja Ahazia yang masih berusia setahun, bersama dengan inang penyusunya (Ayat 2). 

    Selama enam tahun, Yoseba dan Yoyada menyembunyikan Yoas (Ayat 3) di rumah Tuhan. Mereka mempersiapkan Yoas untuk naik takhta pada usia tujuh tahun (Ayat 4-12). Walaupun harus berhadapan dengan Atalya yang berhati Iblis, Yoseba dan Yoyada berambisi untuk menobatkan Yoas sebagai raja (Ayat 12). Atalya dengan AMBISI  jahatnya mati dibunuh dengan cara yang tidak hormat (Ayat 15-16). Yoseba dengan AMBISI kudusnya membuat segenap rakyat Yehuda bersukaria (Ayat 20).

    Sahabat, jauhilah AMBISI jahat yang akan menghancurkan reputasi dan masa depan kita sendiri! AMBISI jahat akan membuat orang lain marah dan memusuhi diri kita, sehingga nama Tuhan dipermalukan. Kejarlah AMBISI  kudus dengan motivasi dan tujuan yang benar. AMBISI kudus akan menghasilkan sukacita dan damai sejahtera bagi orang-orang di sekitar kita dan membuat nama Tuhan dipermuliakan. Apakah kita memiliki ambisi yang kudus? Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 1 dan 2?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ambisi bukanlah apa yang kita lakukan  tetapi apa yang akan kita lakukan. (pg).