Author: Christopherus

  • Favored by God

    LAYAK DAN TIDAK LAYAK. Sahabat, hal kelayakan adalah satu aspek yang sangat penting dari ajaran Perjanjian Baru. Kata yang diterjemahkan dengan kata “layak” ini muncul sebanyak 41 kali di dalam Perjanjian Baru. Ini menunjukkan betapa pentingnya kata tersebut.

    Mari kita simak Sabda Yesus berikut: Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu (Matius 10:12-13)

    Yesus berkata, “Jika mereka layak menerimanya.” Apa sebenarnya makna kata layak itu? Kata itu pada dasarnya berarti menimbang sesuatu. Lalu dari makna dasar tersebut, berkembanglah arti membandingkan nilai dari dua hal. Jika nilainya dipandang sebanding, maka kita menyatakan bahwa sesuatu itu layak. Ini berarti nilai dari sesuatu yang sedang kita amati itu setara dengan patokan yang ada. 

    Sebagai contoh, di Yohanes 1:27,  Yohanes Pembaptis berkata, “Membuka tali kasut-Nya (Yesus) pun aku tidak layak.” Artinya, Yesus sungguh agung dan aku sedemikian kecilnya sehingga aku ini tidak layak baginya. Di sini terdapat suatu perbedaan nilai. 

    Dengan cara yang sama, di Matius 8:8, sang perwira berkata, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku.” Di sini, kita dapat melihat hubungan antara kata berharga (worth) dan layak (worthy). Jadi arti dari kalimat itu: Jika kita  tidak menyadari betapa berharganya Yesus, maka kita tidak layak bagi-Nya.


    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Zakharia dengan topik: “Favored by God (Dilayakkan oleh Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Zakharia 3:1-10. Sahabat, seseorang bisa saja merasa dirinya lebih baik daripada orang lain dalam melayani Tuhan. Orang demikian, sebaiknya, harus merenungkan kembali pandangannya itu. Tuhan, yang kudus, tidak akan bisa dilayani oleh manusia pendosa. Itulah makna penglihatan keempat yang didapatkan Zakharia.

    Yosua, imam besar bait Allah, tampak berdiri di hadapan Malaikat Tuhan (Ayat 1). Sementara itu, Iblis di sampingnya sudah siap untuk mendakwa karena dianggap tidak layak dalam melayani. Akan tetapi, Malaikat Tuhan menghardik Iblis agar tidak mengganggu Yosua (Ayat 2).

    Sahabat, Yosua terlihat mengenakan pakaian yang kotor saat berdiri di hadapan Malaikat (Ayat 3). Karena itu, Malaikat Tuhan menyuruh orang-orang yang melayaninya untuk menanggalkan baju kotor yang dipakainya (Ayat 4). Artinya, Allah telah menyucikan Yosua dari segala kesalahannya. Sekarang, Yosua sudah berpakaian pesta dengan serban tahir di kepalanya (Ayat 5).

    Allah memberi jaminan kepada Yosua (Ayat 6). Apabila ia hidup seturut petunjuk Allah dan melakukan tugas yang diberikan, Yosua akan masuk ke dalam deretan orang yang melayani Allah di bait-Nya (Ayat 7). Tidak sampai di situ, Allah memberikan janji akan mendatangkan Sang Tunas (Ayat 8). Dialah Yesus Kristus yang disimbolkan sebagai permata bermata tujuh (ayat 9). Tuhan akan menghapuskan kesalahan negeri itu dalam sehari. Itu tidak berlaku hanya bagi orang-orang Yehuda, tetapi juga kepada segenap manusia.

    Sahabat, keselamatan dari Yesus mengubah segenap upacara ibadah mereka menjadi sukacita (Ayat 10). Suasana itu dilukiskan seperti sedang duduk-duduk di bawah pohon anggur dan ara.

    Sekarang, orang bebas datang kepada Allah tanpa perlu meragukan statusnya. Asal percaya kepada Yesus, kita adalah anak-Nya. Kita sudah selamat dari tuntutan hukuman dosa. Darah Yesus MELAYAKKAN  kita datang kepada Allah.

    Sahabat, selanjutnya, kita dipanggil untuk melayani Dia. Itu bukan karena kita mampu, tetapi karena DILAYAKKAN OLEH TUHAN. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 3-5?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hanya karena anugerah Tuhan, kita layak melayani-Nya. (pg).

  • Be Silent Before God

    BERDIAM DIRI DI HADAPAN TUHAN. Sahabat, berdiam diri di hadapan Tuhan akan membuat kita lebih mampu mendengarkan suara Allah. Pendengaran yang baik itu akan membuat kita sungguh mampu mengetahui kehendak-Nya. Persoalan manusia adalah begitu disibukkan dengan banyak suara sehingga tidak mampu lagi mendengarkan suara Allah. dan akhirnya terus bertanya-tanya dalam hatinya: ”Apa yang menjadi panggilan hidup saya?” 

    Dengan berdiam diri di hadapan Tuhan, kita bisa memercayai-Nya dengan segenap hati. Dia tak perlu teriakan kita  supaya Dia bertindak membereskan kekacauan di bumi. Dia hanya butuh hati kita dan iman kita untuk menggerakkan surga terbuka. 

    Saat kita datang dengan segenap hati kepada Tuhan, Dia akan menyatakan diri-Nya dan hadirat-Nya akan kita rasakan. Meskipun kondisi dunia saat ini seperti api yang menghaguskan dan menghancurkan, tapi mereka yang hidup di dalam-Nya  tidak akan terbakar. Tuhan itu ibarat aliran air hidup yang menyegarkan. Kita akan mengalami kelegaan di dalam Dia kalau kita datang, berseru dan fokus kepada hadirat-Nya.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Zakharia dengan topik: “Be Silent Before God (Berdiam Diri di Hadapan Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Zakharia 2:6-13 dengan penekanan pada ayat 13. Sahabat, ayat ke-13 dari bacaan kita pada hari ini mengajak kita untuk berdiam diri di hadapan TUHAN.  Pertanyaan kita sekarang adalah mengapa Zakharia mengajarkan kita untuk berdiam diri di hadapan Tuhan? Ada beberapa alasan mengapa kita harus berdiam diri di hadapan TUHAN, yakni: 

    Pertama, untuk mengikuti teladan Kristus. Misalnya seperti dalam Matius 14:23, “Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ”. Markus pun mencatat hal senada, “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” (Markus 1:35)

    Kedua, untuk mendengarkan suara Tuhan seperti yang dilakukan oleh Nabi Elia kala bertemu dengan Tuhan.Dalam kitab Habakuk 2:1 dituliskan juga hal serupa, “… aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku.” 

    Ketiga, sebagai ekspresi penyembahan kita kepada Tuhan. Seperti yang tertulis: “Berdiam dirilah di hadapan Tuhan ALLAH! Sebab hari TUHAN sudah dekat….” (Zefanya 1:7). 

    Keempat, sebagai ekspresi iman kepada Tuhan. Pemazmur menyatakannya sebagai berikut: “Hanya dekat Allah saja aku tenang dari pada-Nyalah keselamatanku” (Mazmur 62:2). 

    Kelima, untuk mencari keselamatan dan pertolongan dari Tuhan. Seperti yang tertulis: “TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya bagi jiwa yang mencari Dia. Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN” (Ratapan 3:25-26). 

    Keenam, untuk memulihkan kekuatan jasmani dan rohani. Seperti yang tertulis: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian dan beristirahatlah seketika!” (Markus 6:31). 

    Ketujuh, untuk belajar mengontrol diri. Seperti yang tertulis: “Jikalau ada seorang menanggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya” (Yakobus 1:26). 

    Sahabat, karena itu, marilah kita berdiam diri di hadapan TUHAN sehingga kita dengar-dengaran panggilan suara-Nya sehingga kita dapat semakin hidup sesuai dengan panggilan kita masing-masing. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 11?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita menjadi orang percaya hanya karena Tuhan telah memanggil. (pg).

  • OJO KESUSU

    Saudaraku, rasul Paulus menulis surat kepada Timotius  pada musim gugur, September-Desember tahun 58 M: “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang …. tidak mempedulikan agama … tidak dapat mengekang diri, garang … suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu….” (2 Timotius 3:1-4)

    Di tahun-tahun belakangan ini ternyata ada cukup  banyak manusia yang tabiatnya sudah disebutkan Paulus hampir 2000 tahun lalu, khususnya mengenai TIDAK BERPIKIR PANJANG dan BERLAGAK TAHU.  Dalam percakapan sehari-hari sering dikatakan: Orang-orang yang otaknya sumbu  pendek, seperti mercon, saat dinyalakan atau disumet dengan api dengan saat bunyi dor ternyata sangat singkat.

    Pada zaman Raja Daud ada seorang anak Imam Zadok yang bernama Ahimaas, terkenal jago lari, tapi sayang otaknya bersumbu pendek. Suatu ketika terjadi pemberontakan Absalom dan kepala Absalom yang berambut panjang kecantol di jalinan dahan-dahan pohon Tarbantin yang besar. Segera tentara Yehuda mengepungnya dan panglima Yoab membunuhnya (2 Samuel 18:19-33). 

    Ahimaas ada di situ dan melihat peristiwa ini, lalu dia segera minta izin ke Yoab untuk berlari ke Raja Daud yang ada di garis belakang untuk mengabarkan breaking news. Yoab melarang Ahimaas menyampaikan kabar terbunuhnya Absalom anak Daud dan menyuruh seorang Etiopia menyampaikan kabar ini. Tapi Ahimaas tetap meminta agar dia yang menyampaikan kabar, tetap dilarang, tapi nekat berlari melintasi jalan lain hingga bisa lebih cepat tiba di tempat Daud daripada si orang Etiopia.

    Benarlah, Ahimaas tiba di hadapan Daud dan ketika ditanya apa yang terjadi terhadap Absalom, Ahimaas tidak punya jawaban yang tepat di otaknya, dan menjawab: “Aku melihat keributan yang besar, ketika Yoab menyuruh pergi hamba raja, hambamu ini, tetapi aku tidak tahu apa itu.” Daud tentu jengkel dengan jawaban yang tidak memberikan informasi ini, kemudian berkata: “Pergilah ke samping, berdirilah di sini.” Ahimaas pergi ke samping dan tinggal berdiri, bengong, hingga si orang Etiopia datang dan menyampaikan kabar secara lengkap.

    Itulah Ahimaas, tidak memiliki data dan tidak memahami apa yang dilihatnya, sudah cepat-cepat berlari menyampaikan kabar berita yang ternyata dianggap tidak berharga, seperti kita melihat siaran di Tiktok bilang breaking news ada gempa tapi tidak menunjukkan lokasi tempatnya, bahkan gambar-gambar gempa di Palu pada September 1918 dimunculkan, sehingga gempa yang disebut breaking news ini akan diikuti dengan tsunami. Tujuannya ya hanya memantik kepanikan bagi orang yang sumbunya pendek dan klik follow akunnya.

    Saudaraku, berpikir lebih jauh dan bisa mengambil kesimpulan secara cepat memang boleh, bahkan diajarkan oleh Edward Charles Francis Publius de Bono atau Edward de Bono, seorang dokter dari Malta yang mencetuskan istilah BERPIKIR LATERAL,  dan menulis banyak buku tentang berpikir. Dia terutama mengajarkan sebelum kita mengambil suatu keputusan hendaknya dipikirkan dahulu mengapa suatu kejadian timbul, dan ini apakah mempengaruhi atau dipengaruhi oleh berbagai aspek seperti ekonomi, sosial, politik, hingga aspek budaya. 

    Gampangnya, kalau kita melihat orang ikutan demo di depan gedung balaikota, mesti bisa mengenali siapa yang demo, berapa orang yang sebenarnya menjadi inti pendemo, kenapa demo dan maunya apa, berapa orang yang hanya ikutan dan hanya menerima nasi bungkus di belakang, dan sebagainya. Dengan mengenali situasi ini maka dapat mengambil keputusan yang benar.

    Bagi kalangan Pengurus Gereja juga sekiranya dapat berpikir lebih jauh bila hendak membuat suatu program, bahkan mesti banyak menggumulkannya dalam doa apakah  sesuai dengan kehendak Tuhan. Misalnya di sekitar gereja banyak anak-anak kecil yang nampak kurang gizi, lalu kita cepat-cepat menggalang dana untuk bantuan susu dan kedelai sebulan sekali. Yang menerima nampak bahagia, juga bagian diakonia seakan-akan menjalankan misi Tuhan, terlebih lagi bila yang antri susu mencapai lebih 100 orang. Kalau ini dilakukan sepanjang tahun, ya habislah uang gereja, sementara yang butuh susu semakin hari semakin banyak karena datang dari kecamatan lain. 

    Jadi ojo kesusu (jangan terburu-buru).  Berpikirlah lebih panjang lagi bila hendak melakukan sesuatu, karena Tuhan sebenarnya sudah memberikan kita kemampuan untuk itu. Jadi jangan menyia-nyiakan berkat anugerah Tuhan yang ada di dalam otak kita, yakni CARA BERPIKIR. (Surhert).

  • PERANG DI LAUT MERAH

    Saudaraku, setiap hari kita membaca berita perang di Gaza, bahkan kini merambat di sepanjang Terusan Suez, Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab. Kalau kurang paham lokasinya silakan lihat di Google Maps. Perangnya jauh ada di sana, setidaknya 7-8 jam penerbangan dari Jakarta, tapi dampaknya berakibat buruk ke perekonomian Indonesia.

    Indonesia ternyata mengimpor banyak komoditas dan barang dari Eropa dan kapal-kapal kargonya melewati Terusan Suez. Beberapa komoditas impor utama Indonesia sesuai yang ada di website Kemenperin, antara lain: Tepung terigu, kedelai, BBM, garam, jagung, amonia bahan baku pembuatan pupuk, besi dan baja, alumina yakni bahan pembuatan aluminium, tembakau, kendaraan bermotor, juga barang-barang mewah yang kuantitasnya kecil tapi nilainya sangat besar. 

    Jadi mari sadarlah, jika kita makan roti yang dijual di toko roti sebenarnya gandumnya diimpor dari Ukraina, panci dan wajan penggorengan pakai alumina dari Rusia atau India, juga BBM mobil merupakan barang impor. 

    Nah, kapal-kapal kargo dari kawasan Eropa Barat ke Asia:  Tiongkok, Jepang, Singapura,  sebelum perang Gaza bulan Oktober 2023 semuanya lewat Terusan Suez, Laut Merah, Selat Bab al-Mandab lalu ke Indian Ocean, dan tiba di Singapura sekitar 30-35 hari dari pelabuhan Rotterdam. 

    Masalahnya sekarang ada ancaman dari kelompok di Yaman yang menembakkan torpedo ke kapal-kapal yang lewat di Laut Merah, dan benar-benar ada beberapa kapal kargo yang kena, meski ada patroli dari kapal AL Amerika dan Inggris yang mencoba mengamankan lokasi.

    Akibatnya pengiriman kargo utama dunia tidak berani ambil risiko lewat Terusan Suez, namun memilih lewat Tanjung Harapan Afrika Selatan, sesuai rute yang dilewati Marcopolo ke Asia tahun 1295, 730 tahun silam. 

    Nah jarak navigasi kapal bertambah, dari Shanghai ke Rotterdam nomalnya 33 hari / ±12.500nm (nautical mile) menjadi sedikitnya 45 hari / ±18.500nm karena lewat Afrika Selatan. 1nm = 1,852 km, jadi ada tambahan jarak ±6.000nm atau 11.110 km lebih. Jika kapal kargo besar berlayar dengan kecepatan 24 knot/jam membutuhkan 225 ton bahan bakar per hari. Jadi jika ada tambahan 12-15 hari pelayaran karena lewat Afrika Selatan, pasti BBM-nya akan perlu tambahan ± 3.300 ton, biaya kapal naik.

    Dampak ke ekonomi Indonesia akibat impor yang ongkos kapalnya naik, ya kenaikan ini akan dibebankan ke harga jual. Jadi kalau sebelumnya Rp 14.000 bisa beli 2 roti Gambang, maka dengan Rp 14.000 hari ini hanya dapat 1,5 roti, atau tetap 2 roti tapi panjangnya lebih pendek 3 cm. Sementara pendapatan kita tetap bahkan berkurang, tapi harga barang-barang dan makanan naik, jadi konsumsi akan turun.  Entah kalau dapat bagian duit korupsi Rp 271 T, ya harga mau naik berapa pun tetap bisa membeli barang-barang mewah.

    Saudaraku, pelan-pelan uang kita berkurang terutama sejak makin gencarnya perang di Gaza. Ada cukup banyak hamba Tuhan kalau doa syafaat hanya menyebutkan kiranya Tuhan menolong jemaat yang mengalami pergumulan dampak ekonomi, tapi pergumulan karena apa belum pernah dijelaskan. Mungkin belum pernah kita berdoa supaya perang di Gaza dan Ukraina segera berhenti, ada gencatan senjata, situasi keamanan pulih kembali, rakyat di sana bisa membangun kembali, dan jalur pelayaran perdagangan bisa normal kembali. 

    Dalam kondisi perang yang paling diuntungkan yakni hanya beberapa perusahaan penghasil senjata yang memasok senjata ke Gaza dan Ukraina, sementara ada ratusan ribu rakyat di lokasi perang sangat menderita, dan lebih jauh lagi jutaan rakyat di dunia, termasuk di Indonesia yang 270 juta jiwa juga kena dampak kenaikan harga.

    Saudaraku, coba kita simak kitab Yeremia 29:7: “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” 

    Bacaan kita di atas mengajak kita melakukan  dua hal. Pertama: Usahakanlah kesejahteraan kota.  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)  mengusahakan mengandung arti: Mengerjakan sesuatu; mengikhtiarkan (berpikir dalam-dalam untuk mencari solusi); berusaha sekeras-kerasnya dalam melakukan sesuatu dan membuat dan menciptakan sesuatu. Keempat elemen yang tercakup di dalam kata “mengusahakan” menunjukkan bahwa itu bukanlah sebuah hal yang sepele dan ringan. Melainkan penuh tantangan dan perjuangan. 

    Jika Tuhan meminta kita untuk mengusahakan kesejahteraan kota di mana kita ditempatkan, itu artinya keempat hal  di atas haruslah menjadi bagian dari fokus kita dalam bekerja dan berkarya. Bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidup kita dan keluarga, tetapi berbuat sesuatu sebagai bagian dari kontribusi dan peran serta kita secara aktif untuk pembangunan kesejahteraan kota di mana kita tinggal. 

    Kedua: Berdoalah untuk kota itu. Saat ini Tuhan sudah menempatkan kita di negara Indonesia, karena itu kita wajib berdoa untuk kesejahteraan bangsa dan negara Indonesia, dan lebih jauh lagi, kita perlu berdoa untuk perang di Gaza dan Ukraina agar secepatnya berhenti, karena perang berkelanjutan ini menimbulkan dampak ekonomi buruk bagi Indonesia. (Surhert)

  • KORUPSI LAGI

    Saudaraku, duuuh … Hari-hari ini koran dan medsos mendulang berita kasus korupsi yang melibatkan petinggi BUMN, selebriti dan crazy rich. Angka kerugian negara sesuai pernyataan Kejaksaan Agung sangat fantastis, kalau ditulis Rp 271.000.000.000.000. Kita sendiri pasti bingung membacanya. Oknum-oknum yang terlibat sebagian punya titel sarjana, ada yang lulusan luar negeri, dan kemewahan yang ditampilkan dari hasil korupsi sangat menawan seperti mobil-mobil crazy rich, perhiasan, tumpukan uang asing, bahkan saat ditahan juga menggunakan busana buatan luar negeri.

    Aku jadi ingat beberapa tahun lalu saat diajak Komisaris untuk silaturahmi dengan Duta Besar Swiss  di Rasuna Said Jakarta. Bertepatan pada waktu  itu juga ada ekspos kasus korupsi yang wah. Pak Dubes cerita bahwa minggu lalu ada pembukaan sebuah showroom jam tangan dari Swiss. Nah saat lucky draw di akhir acara Pak Dubes mendapatkan hadiah utama yakni jam tangan, ditunjukkan kepada kami, warnanya gold. 

    Pak Dubes bilang: “Saya malu memakai ini, saya datang sebagai tamu undangan menang lucky draw. Entah itu saya benar-benar beruntung  atau diatur oleh Panitia, sehingga saya mendapatkan jam tangan. Saya merasa tidak layak dan tidak berhak, karena saya datang ke acara tersebut mewakili negara Swiss. Nanti bulan depan ada acara Christmas Party di kedutaan, jam tangan ini akan diundi, siapa tahu yang mendapatkan justru Pak Satpam.” 

    Pak Dubes menunjukkan jam tangan yang dia pakai, sambil berkata: “Saya bangga memakai jam tangan ini, asli buatan Swiss, dan saya beli dari hasil kerja saya yang pertama setelah lulus university. Ada kebanggaan bisa beli dari hasil kerja, meski harga kurang dari Chf 1.000. Saya selalu ingat cara saya mendapatkannya. Ada berkat Tuhan di situ.”

    Nah itu dia, kalau koruptor di sini mungkin berpikir lain ya, kalau bisa mendapatkan hasil-hasil lebih dan luar biasa di luar tugas dan jabatannya mungkin semakin sukses, apalagi dari kekayaannya dia juga punya beberapa istri lagi. Pengusaha mendapatkan proyek yang dibumbui KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) juga bangga, pokoknya dapat order besar, meskipun akhirnya mesti mengurangi kualitas dan kuantitas material proyek karena perhitungan biaya juga ada batasnya, pokoknya asal 1-6 bulan setelah BAP (Berita Acara Pekerjaan) barang atau proyek yang diserahkan tidak rusak, ya aman.

    Di beberapa negara kita melihat adanya infrastruktur dan lingkungan yang tertata indah, rakyatnya puas karena melihat pajak yang disetorkan digunakan untuk pembangunan. Bahkan jika ingin bertemu dengan wakil rakyat bisa bertemu di warung bakmi atau kopi karena ada jadwal tetap bagi wakil rakyat mendengarkan masukan dari warga yang memilihnya.

    Sebagai renungan kita bersama, kalau kita ingin hal-hal yang baik bagi negara, mulainya dari mana? Ya dari diri kita dahulu, tidak melakukan upaya-upaya KKN membujuk pejabat negara, meskipun nantinya akan kalah tender. Ini menjadi dilema yang tiada akhir, bagaikan hendak menangkap ular kobra yang marah, mana yang harus ditangkap terlebih dahulu di bagian kepala atau ekornya, semua ada risikonya.

    Agar kita tidak melakukan upaya-upaya KKN, Tuhan telah memberikan rambu-rambu yang benar dalam menjalankan usaha dan bekerja sebagai berikut:

    Efesus 2:10: “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya”.

    Efesus 4:28: “Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri.”

    Kolose 3:17: “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.”

    1 Tesalonika 4:7: “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.” 

    Nah, rambu-rambu dari Tuhan itu kekal adanya, karena tidak ada satu iota atau titik yang hilang dari Firman Tuhan. Semuanya tergantung hati dan niatan  kita, mau mengikut jalan Tuhan meskipun berat, atau menerabas aturan asal mendapatkan kekayaan.  Ingatlah: Tuhan akan memperhitungkan tingkah lakumu  suatu hari saat keluargamu memasang iklan khusus untukmu: “Telah Pulang Ke Rumah Bapa”

    Akhirnya Saudaraku, mari bersama Pengamsal, setiap pagi sebelum kita melakukan segala aktivitas kita pada hari itu, kita berdoa: “Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.” (Amsal 30:8-9). (Surhert).

    .