Author: Christopherus

  • Conquer Problems with God’s Power

    TANTANGAN. Di dalam perjalanan pelayanan murid-murid Kristus yang ditulis dalam Alkitab, tidak ada seorang pun yang berjalan dengan mulus, tanpa tantangan. Penderitaan selalu menghadang dan harus dilewati demi tercapainya misi Allah melalui diri mereka. Rasul Paulus banyak menuliskan berbagai penderitaan yang dialaminya. Mungkin tidak ada manusia yang menginginkan penderitaan, termasuk Paulus sebagaimana yang ditulisnya dalam 2 Korintus 12:8.

    Dalam mengerjakan tugas pelayanan kita sering menimbang-nimbang berat tidaknya bagian-bagian tugas yang harus kita kerjakan. Mungkin tidak ada yang dengan sengaja memilih untuk mengerjakan yang sukar. Seorang siswa yang akan masuk ke Perguruan Tinggi, cenderung memilih jurusan yang sesuai dengan bidang minat dan kemampuan. Di satu sisi hal itu ada benarnya. Namun di sisi lain, sesungguhnya itu merupakan potret manusia yang tidak mau mengalami kesusahan. Manusia pada umumnya tidak mau meninggalkan zona nyaman dengan memilih hal-hal yang diperkirakannya tidak akan kesulitan mengerjakannya. Kalau pun ada, ia tergolong manusia luar biasa. Rasul Paulus  termasuk salah seorang sosok yang luar biasa itu.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Zakharia dengan topik: “Conquer Problems with God’s Power (Taklukan Masalah dengan Kekuatan Allah)”. Bacaan Sabda diambil dari Zakharia 4:1-14. Sahabat, kita tahu merintis pelayanan bukan tugas yang mudah. Ada banyak kendala yang bisa melunturkan semangat. Halangan, mulai dari kerikil sampai batu besar, bisa datang bergantian menghadang. Namun, di tengah situasi itu, kita harus tetap yakin bahwa Allah akan selalu memimpin

    Zerubabel mendapat tugas untuk membangun Bait Allah dan umat-Nya (Ayat 9). Mereka, yang kembali ke tanah perjanjian, bersusah payah untuk membangun kembali tanah leluhurnya dari reruntuhan.

    Namun, setelah sekian lama, mereka lupa tugas  utamanya sebagai umat, yaitu beribadah. Akan tetapi, permasalahannya adalah Bait Allah telah lama runtuh. Lalu, di mana mereka harus beribadah?

    Tuhan hendak memakai Zerubabel untuk menyadarkan umat Yehuda agar mulai membangun Bait Allah. Namun, orang-orang yang dihadapi Zerubabel bagaikan gunung batu besar. Oleh karena itu, tugas Zakharia adalah menyampaikan janji Allah kepada Zerubabel bahwa ia akan menyelesaikan tugas tersebut bukan karena kuat dan perkasanya, melainkan karena Allah (Ayat 6). 

    Dalam hal ini, Roh Allah akan meneguhkan setiap perkataan Zakharia kepada Zerubabel. Zerubabel dan Yosua adalah dua dahan pohon zaitun itu (Ayat 11). Merekalah perintis pekerjaan Allah untuk membangun kembali Bait Allah di Yerusalem.

    Allah memilih orang untuk membangun umat-Nya. Akan tetapi, bukan berarti rintangan segera sirna begitu saja. Gesekan, salah paham, dan berbagai masalah datang bak batu besar yang menghalangi pekerjaan Allah. Namun, kita tidak boleh mundur karena Allah, melalui Roh-Nya, akan selalu menguatkan. Inilah yang menjadi pegangan kita saat bekerja melayani Dia.

    Sahabat, zaman sekarang, teknologi sudah semakin maju. Kita patut bersyukur karena semua kemajuan itu bisa digunakan untuk mengatasi rintangan dalam pelayanan. Namun, kita harus tetap mawas diri. Semua kemudahan itu tidak boleh mengganti peran Roh Allah. Kita tetap harus mengandalkan Tuhan di atas segalanya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 2 dan 6?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Karya Allah tidak dikerjakan dengan keperkasaan atau kekuatan kita, melainkan dengan Roh Kudus. (pg).

  • PONSEL LIPAT

    Saudaraku, ini berita di Kompas tanggal 19 Oktober 2023 yang mengutip Tech Industry Lead Google Indonesia tentang survey Google yang berjudul “Think Tech, Rise of Foldables: The Next Big Thing in Smartphone”, ternyata jumlah handphone di Indonesia ada 354.000.000 perangkat, 354 juta lho!

    Jumlah penduduk Indonesia sesuai BPS ada 278,69 juta pada pertengahan 2023, termasuk anak-anak dan remaja di bawah usia 17 tahun, belum punya KTP. Dari rekapitulasi Pemilu 2024 (Kompas.com) total surat suara sah, berjumlah 164.227.475 suara, artinya ada 164,3 juta penduduk memiliki KTP dan ikut mencoblos.

    Jika handphone di Indonesia ada 354 juta, bisa dianggap segenap  penduduk yang punya KTP memiliki satu handphone, dan ada banyak yang memiliki handphone lebih dari satu, termasuk dari kalangan anak-anak.

    Google juga mencatat minat beli konsumen terhadap ponsel lipat mengalami pertumbuhan, sebanyak 75% responden menunjukkan minat dan ketertarikannya terhadap ponsel lipat, sedangkan 62% responden lainnya berencana membeli smartphone lipat sebagai ponsel baru.

    Apa itu ponsel lipat? Yang terutama, harga ponsel lipat harganya mulai dari 13 juta hingga 30 juta, bahkan ada yang ditawarkan edisi khusus 40 juta. Ponsel lipat umumnya dilengkapi kamera dengan resolusi yang tinggi meskipun diameter lensa hanya 10 mm, pengolahan foto/video, processor terbaru, dan karena mahal bisa menginstal beberapa aplikasi untuk bisnis seperti Adobe Acrobat, Notes dan Office.

    Kompas melaporkan 6 apps yang paling banyak di download atau dipakai di Indonesia, yakni: CapCut untuk edit video, TikTok, Facebook. Instagram, WhatsApp dan Shopee, jadi penggunaan ponsel umumnya untuk kebutuhan sosial/medsos, melihat video di TikTok dan komunikasi grup melalui WhatApp, sedangkan aplikasi untuk bisnis jarang digunakan. 

    Padahal kalau hendak mendapatkan foto/video yang bagus dan tajam mestinya memakai kamera yang diameter lensanya sekitar 40mm dan harganya kurang dari 10 juta dan beli smartphone seharga 6-7 juta, maka hasil foto pasti lebih tajam dan warnanya lebih berlimpah. Tapi nyatanya penjualan ponsel lipat lebih banyak daripada penjualan kamera.

    Beberapa tahun sebelum covid, aku mengenal seseorang yang menjual tas mewah dari Paris, hampir setiap bulan dia atau istrinya ke sana untuk membeli tas. Aku tanya, apakah tidak takut bersaing dengan perwakilan produk tersebut yang membuka showroom di mall mewah? Dia hanya tertawa lalu berkata: “Harga jual di showroom lebih mahal, modelnyapun lebih terbatas, dan kalau dibayar dengan cicilan kartu kredit paling 12 kali cicil.” 

    Nah dia menawarkan barang asli, harga lebih murah, cicilan hingga 15 kali dengan bunga yang lebih rendah dari kartu kredit, dan yang paling diminati, bisa tukar tambah bila ingin ganti model, tentu ada potongan harga melihat kondisi tas saat itu. Tawaran tukar tambah ini yang paling diminati para sosialita, bisa memakai tas mewah setiap tampil, jadi rakyat berpikir si sosialita punya koleksi tas mewah.

    Jadi membeli ponsel lipat yang harganya belasan juta dan hanya digunakan untuk melihat medsos, atau membeli tas dari Paris, sebenarnya untuk menaikkan citra dan gengsi diri, setidaknya bisa mirip gaya hidup para sosialita. Bagaimana mendapatkan barang-barang mewah ini urusan lain, namun kebanyakan dengan berhutang ke kartu kredit, meskipun kena bunga minimal 20%, jadi pinjam 20 juta mesti bayar 24 juta, dicicil 2 juta selama 12 bulan.

    Bagi orang yang memiliki penghasilan tetap setidaknya 10 juta per bulan, mungkin mudah mencicil 2 juta per bulan, atau 20% dari penghasilannya. Lantas kalau ada keperluan yang lain, atau kebutuhan rumah tangga yang meningkat, ya akan mencari upaya lain untuk mendapatkan dana, entah itu dari usaha lain, atau mungkin melalui cara-cara illegal, atau bahkan cari pinjol meskipun bunganya sangat mahal. 

    Saudaraku, coba kita simak peringatan Yakobus berikut ini: “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” (Yakobus 1:14-15). Mencari hutang lain untuk menutup hutang sebelumnya, gali lobang tutup lobang, akhirnya bisa sangat menekan dan merugikan.

    Rasul Petrus mengingatkan kita: “supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah. Sebab telah cukup banyak waktu kamu pergunakan untuk melakukan kehendak orang-orang yang tidak mengenal Allah. Kamu telah hidup dalam rupa-rupa hawa nafsu, keinginan, kemabukan, pesta pora, perjamuan minum dan penyembahan berhala yang terlarang.” (1 Petrus 4:2-3) 

    Saudaraku, jadi waspadalah, godaan-godaan untuk mendapatkan sesuatu yang akan menaikkan gengsi dan harga diri semakin banyak, tapi kita bisa minta tuntunan Tuhan agar memiliki pertimbangan yang matang sebelum memutuskan sesuatu, apalagi bila ingin berhutang untuk mendapatkan barang-barang yang bukan kebutuhan utama atau kebutuhan dasar. Waspadalah! Waspadalah! (Surhert).

  • G A R A M

    Saudaraku, khotbah yang menyinggung garam dunia biasanya dipasangkan dengan terang dunia, karena ayat-ayat tentang dua hal tersebut berurutan. Di Matius 5:13 Tuhan Yesus menyebut garam dan di ayat 14 menyebut tentang terang. Intinya sama, supaya kita bisa memberikan makna dan pengaruh ke sekitar kita.

    Kota Sodom, Gomora, Adma dan Zeboim ditunggangbalikkan TUHAN dalam murka amarah-Nya, seluruh tanahnya hangus oleh belerang dan garam, tidak bisa menumbuhkan apa-apa dan tidak ada tumbuh-tumbuhan apa pun (Ulangan 29:23). Tetap demikian kondisinya, dikenal sebagai Laut Mati (Dead Sea), hingga hari ini lebih dari 3.000 tahun setelah kejadian. Karena tingginya kadar garam maka tidak ada kehidupan, tetapi justru Tuhan Yesus menghendaki kita menjadi garam dunia, yang bisa larut dan memberikan pengaruh. 

    Saudaraku, tanggal 27 Oktober 2022 Presiden Jokowi menandatangani Perpres RI No. 126 tentang pergaraman nasional. Definisi garam ternyata cukup panjang, bukan sekadar bubuk putih yang kita lihat dan pakai sehari-hari di dapur. Garam adalah senyawa kimia yang komponen utamanya berupa Natrium Klorida dan dapat mengandung unsur lain, seperti Magnesium, Kalsium, Besi, dan Kalium dengan bahan tambahan atau tanpa bahan tambahan Iodium. Perpres tersebut menyebutkan ada 13 (tiga belas) macam garam yang dibutuhkan secara nasional, yakni:

    1. Garam konsumsi; 2. Garam untuk industri aneka pangan; 3. Garam untuk industri penyamakan kulit; 4. Garam untuk water treatment; 5. Garam untuk industri pakan ternak; 6. Garam untuk industri pengasinan ikan; 7. Garam untuk peternakan dan perkebunan; 8. Garam untuk industri sabun dan deterjen; 9. Garam untuk industri tekstil; 10. Garam untuk pengeboran minyak; 11. Garam untuk industri farmasi; 12. Garam untuk kosmetik; dan 13.Garam untuk industri kimia atau Chlor Alkali.

    Ternyata ada berbagai jenis garam, dan masing-masing garam ada maksud dan penggunaannya. Implementasinya dalam renungan kita pada hari ini, garam dunia yang Tuhan Yesus maksudkan bukan dalam artian umum atau asalan saja, tapi dapat menjadi garam pada setiap aspek kehidupan. Garam akan larut namun tidak kelihatan, tapi bisa memberikan rasa asin yang menyedapkan, bisa memberikan kesaksian tentang kasih setia Tuhan yang tidak berkesudahan. Sering diungkapkan dengan: Larut Tapi Tidak Hanyut.

    Kita bekerja dari rumah, atau bekerja di industri pakan ternak, peternakan dan perkebunan, juga sebagai nelayan yang mengasinkan ikan, kerja di industri-industri tekstil, sabun, farmasi, kosmetik, industri kimia, water treatment, atau bahkan di offshore (laut dalam) mengebor minyak, semuanya,  di mana kita telah ditempatkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Nah, Tuhan Yesus meminta kita untuk menjadi garam di sekitar kita. 

    Saudaraku, sesungguhnya setiap orang percaya yang menjadi warga Kerajaan Allah memiliki identitas yang disimbolkan seperti garam. Garam berfungsi untuk memberi rasa kepada makanan dan atau dipakai untuk mengawetkan makanan agar tidak cepat rusak atau membusuk. Ketika garam tidak berasa asin dan tidak murni, maka selain tidak berguna, garam itu akan dibuang.

    Kita diingatkan agar jangan hanya berkeluh terhadap berbagai kerusakan dan penyimpangan moral dalam masyarakat. Kita juga harus menjalankan fungsi kita sebagai garam agar dunia tidak semakin rusak dan menyimpang.

    Saudaraku, kita harus sadar, jika cara hidup kita sama persis dengan dunia berdosa, maka kehadiran kita tidak terasa alias tawar. Karena itu, mari kita mewujudkan identitas kita melalui menjalankan fungsi garam. 

    Untuk itu mari kita memberikan keteladanan hidup yang baik sebagaimana Yesus telah contohkan melalui sikap, karakter, pelayanan, atau nilai-nilai hidup-Nya. Kita juga bisa menjalankan dan memperjuangkan kebenaran, keadilan, kejujuran, dan kekudusan hidup kepada dunia. Entah melalui dunia pendidikan, politik, usaha, atau keluarga. Tujuan kita melakukan semua itu hanya satu, agar nama Tuhan dipermuliakan melalui hidup dan kehidupan kita. (Surhert).

  • LEMBU BETINA MERAH

    Saudaraku, Detik.com dan media online lainnya mengupload berita “Ritual Sapi Merah Israel yang Meresahkan Dunia”. Beritanya orang Yahudi sudah mendapatkan sapi merah yang mulus yang siap akan dikorbankan, setelah itu orang Yahudi akan membangun kembali Bait Suci yang sudah dihancurkan pasukan Jenderal Titus di tahun 70 M. 

    Hal yang meresahkan, lokasi pembangunan Bait Suci itu ada di Dome of Rock Yerusalem, yang juga menjadi tempat sakral bagi warga Muslim. Dengan kata lain akan terjadi perang dahsyat di Israel, bahkan disebut hari kiamat akan tiba.

    Saudara,  bacaan tentang lembu betina merah hanya aku temukan  satu-satunya di kitab Bilangan 19:2-3:  “Inilah ketetapan hukum yang diperintahkan TUHAN dengan berfirman: Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka membawa kepadamu seekor lembu betina merah yang tidak bercela, yang tidak ada cacatnya dan yang belum pernah kena kuk. Dan haruslah kamu memberikannya kepada imam Eleazar, maka lembu itu harus dibawa ke luar tempat perkemahan, lalu disembelih di depan imam.” 

    Raja Salomo saat meresmikan Bait Suci pertama di Yerusalem tahun 966 SM tidak mempersembahkan lembu betina  merah dalam pengorbanan, melainkan kambing domba dan lembu sapi yang tidak terhitung dan tidak terbilang banyaknya. (2 Tawarikh 5:6). Bait Suci Salomo dihancurkan oleh pasukan Nebukadnezar pada tahun 586 SM dan seluruh perkakas dari emas dan perak Bait Suci dibawa ke Babilonia.

    Sedangkan Bait Suci kedua dibangun setelah orang-orang Yehuda yang ditawan Babilonia dan Persia boleh pulang ke Israel lagi, pembangunan mulai tahun 535 SM dan selesai pada 12 Maret 515 SM,  seperti disebutkan di kitab Ezra 6:15-17.  Saat penahbisan orang Yehuda mempersembahkan ratusan lembu jantan, domba jantan, anak domba, kambing jantan sebagai korban penghapus dosa bagi seluruh orang Israel, tapi tidak mempersembahkan lembu betina merah.

    Penguasa tanah Israel saling berganti, ketika Herodes Agung merebut kota Yerusalem pada tahun 37 SM, sebagian bangunan Bait Suci kedua terbakar, dan pada tahun ke-18 pemerintahannya (20-19 SM), Herodes Agung melakukan pembangunan kembali Bait Suci. Pekerjaan itu dilakukan oleh para imam, dan tidak ada catatan tentang saat penahbisannya. Beberapa puluh tahun kemudian Tuhan Yesus mengendarai keledai diarak penduduk masuk kota Yerusalem dan masuk Bait Suci kedua ini, dan kelak Bait Suci kedua akan dihancurkan pasukan Jenderal Titus di tahun 70M.

    Nah, Bait Suci ketiga belum pernah dibangun, namun merupakan penglihatan Nabi Yehezkiel antara tahun 593-571 SM, dicatat di Kitab Yehezkiel pasal 40-47, khususnya di pasal 47. 

    Untuk itu aku ajak Saudara untuk merenungkan kitab Bilangan 19:1-22 secara utuh. Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) memberi judul Bilangan 19: Air pentahiran. Saudaraku, mengapa hukum penahiran dipaparkan untuk umat Israel yang sedang dalam perjalanan di padang gurun dan akan kelak berperang masuk ke tanah perjanjian? Dalam suasana berperang, tidak terhindari bersentuhan dengan mayat orang yang terbunuh. 

    Aturan Taurat jelas dan ketat, orang yang tersentuh dengan mayat akan menjadi najis tujuh hari lamanya (Ayat 11), dan harus tinggal di luar perkemahan. Bahkan kenajisan itu menulari benda dan orang di sekitarnya (Ayat 14-15). Tanpa penahiran, orang yang najis harus mengalami ekskomunikasi (pengucilan)  seterusnya (Ayat 13 dan 20).

    Dalam kasus-kasus kenajisan yang dicatat di kitab Imamat, salah satu cara penahirannya ialah dengan memberikan persembahan kurban (Imamat 14:10 dst.; 15:13 dst, 28 dst). Tentu biayanya mahal dan merepotkan. Namun dengan cara yang diaturkan sekarang kerepotan dan biayanya bisa ditekan. Seekor lembu yang khusus dibakar sampai habis, abunya dipakai untuk membuat air penahiran (Ayat  2-10). Air penahiran itu bisa dibuat kapanpun sesuai dengan kebutuhan.

    Peraturan yang Tuhan buat dan berlakukan untuk umat Tuhan bukan untuk mempersulit mereka, melainkan untuk memastikan bahwa mereka selalu dalam keadaan siap sebagai umat, bahkan pasukan Tuhan. Ingat konteksnya ialah perjalanan padang gurun dan peperangan. Oleh karena itu dibuat prosedur yang lebih mudah dengan tetap mempertahankan kesakralan umat Tuhan.

    Saudaraku, Ibrani 9:13-14 membandingkan darah kurban domba jantan atau lembu jantan dan abu lembu muda yang berfungsi menahirkan orang yang najis secara lahiriah dengan darah Kristus yang menyucikan secara rohaniah. 

    Sesungguhnya apa saja yang menajiskan secara rohani kehidupan kita masa kini? Bukan mayat manusia secara harfiah, melainkan kehidupan yang bagaikan mayat seperti yang dicatat dalam Efesus 2:1-3. Adakah hidup kita dikendalikan oleh hawa nafsu, oleh bujukan dunia ini, dan oleh tipu daya Iblis? Itulah yang menajiskan kita. Untuk itu diperlukan darah Kristus untuk menguduskan kita. (Surhert).

  • SEPIRING SAYUR

    Saudaraku, dalam buku My Country My People (吾國與吾民) yang ditulis oleh Lin Yutang pada tahun 1935, salah satunya mengetengahkan cara duduk saat ada perjamuan makan. Meja makan bentuk bundar, tuan rumah atau bos duduk menghadap pintu masuk. Tamu kehormatan pertama duduk di sebelah kanan bos, tamu kedua duduk di sebelah kiri, persis di depannya harus duduk manajer tertinggi dan wakilnya duduk di sebelah kanannya.

    Saat membaca buku tersebut aku berpikir apakah benar ada. Eh ternyata saat menghadiri jamuan makan di Qingdao sekitar 15 tahun lalu Pimpinan suatu pabrik besar mengatur kami berdua dari Indonesia sesuai aturan di atas. Aku sampaikan pengalaman tersebut ke Pimpinan: “Wah kami duduknya seperti di zaman Shu Han (221 M), duduk di Tengah adalah Kaisar Liu Bei, di kanannya Guan Yu dan di kirinya Zhang Fei.” Pimpinan tertawa, kemudian berkata: “Ya betul, rupanya tamunya juga memahami aturan duduk dalam jamuan sejak Samkok dulu.”

    Dua hari kemudian Pemimpin mengundang segenap agennya untuk dinner party, satu meja bisa 16 orang. Ada 6 meja, posisi duduk segenap tamu juga diatur sesuai tata krama. Di meja kami 16 orang ternyata bisa minum bir hingga 32 botol dan red wine 8 botol. Tidak ada yang mabuk, tiap gelas kosong pasti dituang oleh pelayan. Jika tidak mau minum bir atau wine lagi, maka kita menuangkan kuah sup ke dalam gelas, dan pelayan tahu bahwa tamu tidak ingin minum wine lagi. Di sepanjang jamuan dengan masakan lebih dari 12 macam per meja segenap tamu bersukaria, semua merasa dekat, satu semangat untuk menjadi dealer yang baik, tidak ada rasa persaingan meskipun lokasi usahanya mungkin berdekatan di satu kota.

    Jadi saat aku membaca Amsal 15:17: “Lebih baik SEPIRING SAYUR dengan kasih dari pada lembu tambun dengan kebencian”. Aku merasa sepertinya kok aneh karena saat ada jamuan makan mestinya ada suasana kasih dan bukan kebencian. Tapi setelah membaca kisah di 1 Samuel 20: 24-34 barulah aku  paham. 

    Raja Saul yang sudah dengki kepada Daud mengundang segenap panglimanya untuk jamuan makan pada saat tanggal 1 bulan baru, tapi tempat duduk Daud kosong, Saul berpikir mungkin Daud sedang tidak tahir atau sakit. 

    Jamuan kedua esok harinya ternyata Daud tidak hadir juga, dan Saul bertanya kepada anaknya, Yonatan: “Kemana perginya Daud?”. Yonatan menjawab bahwa Daud minta izin untuk pulang ke Bethlehem. Lalu Saul pun marah besar. “Anak sundal yang kurang ajar! Bukankah aku tahu, bahwa engkau telah memilih pihak anak Isai dan itu noda bagi kau sendiri dan bagi perut ibumu?” 

    Yonatan menjawab lagi, tapi Saul bahkan melemparkan tombaknya ke Yonatan, tidak kena, dan Yonatan pergi dari acara dinner dengan marah. Alkitab tidak mencatat suasana dinner selanjutnya, apakah Saul membanting piring dan panglima-panglima lainnya langsung bubaran. Jadi Saul meskipun mengadakan dinner dengan menu mewah sebenarnya ingin membunuh Daud. Hatinya dipenuhi dengan kebencian.

    Kisah lain di Alkitab (2 Samuel 17) saat Daud mengungsi ke Mahanaim menghindari Absalom yang memberontak, ada seorang sepuh yang kaya bernama Barzilai segera melayani rombongan Daud dan rakyatnya, meskipun ini mendadak, Barzilai dan rekan-rekannya sekuat tenaga menyiapkan tempat tidur, berbagai bahan makanan lengkap dengan alat-alat dapur untuk melayani rombongan yang lelah, haus dan kelaparan karena melintasi padang gurun. Dalam rombongan pengungsian Daud nampaknya istrinya Batsyeba dan Salomo anaknya ikut serta dan menikmati layanan yang tulus dari Barzilai. 

    Saudaraku, saat Daud hendak meninggal, juga mengingatkan Salomo untuk tetap berbuat baik kepada keluarga Barzilai, dan mungkin Daud juga bercerita bagaimana dia dulu pernah diperlakukan oleh Saul yang tidak tulus dalam mengadakan jamuan makan.

    Itulah mengapa kemudian Salomo menuliskan  Amsal 16:15-33, khususnya ayat 17.  Salomo mengajarkan kepada kita untuk memiliki hikmat dalam hal kelimpahan materi atau harta kekayaan yang kita punyai, bukan berfokus pada jumlah materi, melainkan pada sikap hati kita. Meskipun sederhana, memiliki sikap hati yang takut akan Tuhan jauh lebih baik dibandingkan memiliki banyak harta tetapi disertai kecemasan dan kebencian (Ayat 16-17). Orang yang bijak di dalam Tuhan dipenuhi kesabaran, kejujuran, ketekunan, dan senantiasa menggunakan akal budinya untuk melakukan kehendak Allah (Ayat 18-24). Hatinya mengarah kepada Allah dan kebenaran-Nya (Ayat 25-33).

    Pengejaran akan materi dan kesuksesan hidup tanpa disadari dapat mengikis kedamaian dalam hidup kita. Tidak heran, kita SELALU MERASA KURANG  dalam MERAIH PENCAPAIAN HIDUP  di dunia ini. Rasa cemas, takut, dan khawatir perlahan-lahan mengalahkan kedamaian di dalam hati dan hidup kita. Kita mulai khawatir saat hasil pekerjaan kita tidak memenuhi standar kesuksesan hidup di dunia ini. Kita takut direndahkan, kita takut menjadi miskin, dan kita takut ditolak oleh dunia ini. Semua itu tanpa sadar membuat kita kehilangan kedamaian, bahkan tak menutup kemungkinan kita kehilangan kemuliaan Allah.

    Saudaraku, kedamaian hidup tidak dapat dibeli dengan harta kekayaan, berapa pun jumlahnya! Kedamaian sejati hanya terletak pada hati yang takut akan Tuhan. Percayalah dan takutlah akan Allah, Dia akan memenuhi hatimu dan hidupmu! (Surhert).