Author: Christopherus

  • Nǐ Hǎo Ma?

    Saudaraku, Nǐ Hǎo Ma? Merupakan salam yang  sering disampaikan  warga Tionghoa untuk menyapa sesamanya, seperti salam “How do you do” ataupun “Piye kabare awakmu?” bagi warga Inggris ataupun teman-teman kita dari Surabaya. Nah bagi warga Tionghoa setelah salam nǐ hǎo ma, biasanya dilanjutkan salam berikutnya: 吗 (chī fàn le ma) artinya apakah sudah makan? 

    Zaman dulu khususnya di Tiongkok, saat berkunjung ke rumah saudara di luar kota jarang menemukan rumah makan atau penginapan, jadi saat bertemu dengan saudara pastilah akan disapa apakah sudah makan? Ucapan salam gabungan ini dianggap baik, jadi dirangkai menjadi salam yang lazim, ni hao ma, chi fan le ma. Khususnya salam apakah sudah makan? Atau sudah makan belum? Dipandang sebagai hospitality atau keramah-tamahan bagi sesama. 

    Mengajak makan dan menghidangkan makanan seadanya, saat makan bersama ada suasana hangat, dan terjadilah komunikasi yang lancar. Bahkan dalam acara rapat yang dihadiri banyak orang, bila dihidangkan minuman atau makanan kecil, maka suasana akan lebih rileks, bandingkan dengan rapat yang berjam-jam, tidak ada minuman, dan peserta rapat mesti terus menerus mendengarkan pimpinan rapat.

    Saudaraku, di kitab Wahyu 3:20 diceritakan Tuhan Yesus suatu hari mau berkunjung ke rumah hati kita: “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” 

    Aku membayangkan,  Tuhan Yesus lama mengetok di depan pintu. Sementara keluarga yang di dalam rumah, ngintip-ngintip dikit, siapa yang datang. Eh … Ternyata Tuhan Yesus. Ketika yang di dalam sedang bergumul,  Dia tetap mengetok di depan pintu …

    Sang Suami bergumul: “Saya mau berangkat kerja nih. Ngapain Yesus kok datang? Saya baru repot, pekerjaan lagi banyak,  mau tender, mana Si Anu minta duit 30% duluan, kalau tidak diberi maka kompetitor yang dimenangkan. Selain itu urusan pajak juga baru ruwet, laporan SPT diperiksa pajak. Buruh juga  minta kenaikan gaji, padahal usaha baru sepi.”

    Sang Istri bergumul: “Wah aku baru sibuk ngurus anak, anak perempuanku suka pulang malam-malam, ikutan merokok sama temannya. Yang remaja laki-laki,  teman-temannya banyak yang kupingnya ditindik sebelah, pakai tato.

    Selain itu  aku juga bingung ngurus Papaku yang sudah sakit-sakitan, rewel lagi, ongkos dokter banyak. Mamaku juga cerewet terus, maunya itu ini, diturutin tidak ada habis-habisnya. Apakah ada Panti Jompo yang bisa menerima langsung suami-isteri yang sudah tua? Cukup bayar bulanan sudah beres.”

    Sementara itu Tuhan Yesus tetap mengetok di luar, cukup sabar menanti pintu yang tidak   dibukakan. Tapi, kalau kita yang di dalam rumah mau membukakan pintu. siapa yang pertama bilang Ni hao ma? Tuhan Yesus duluan atau diri kita yang duluan? Setelah itu, mungkin kita melihat Tuhan Yesus datang dari jauh, lalu kita tanya chi fan le ma? Sudah makan atau belum? Ayo, ayo masuk, silakan duduk, saya ambilkan Aqua atau mau kopi atau teh? Ini ada kacang atom dan nanas tar di meja, silakan Tuhan Yesus nikmati dulu sementara saya siapkan teh wasgitel (wangi, sepat, legi, kenthel), atau kopi tubruk yang manis?

    Tuhan Yesus tentu tidak akan menikmati segala hidangan yang kita siapkan. Tidak perlu. Malahan Tuhan Yesus akan bilang: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” (Yohanes 6:35)

    Juga, Tuhan Yesus akan berkata lembut: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,  tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” (Yohanes 4:13-14).

    Nah, Tuhan Yesus sebagai tamu malahan menawarkan roti hidup dan air hidup yang bisa dinikmati selamanya oleh sang empunya rumah yang mau membuka pintu hatinya bagi-Nya.

    Saudaraku, umurku saat  ini  65 tahun. Sudah sekian kali aku membaca Wahyu 3:20, dan setiap kali membayangkan gambar Tuhan Yesus yang mengetok di depan pintu, aku semakin memahami apa arti membuka pintu hati bagi Tuhan Yesus: Mengundang Dia masuk, segala apa yang aku capai dan miliki selama ini tidak ada artinya di hadapan-Nya, karena Roti Hidup dan Air Hidup itu sungguh berlimpah. (Surhert).

  • Christ for all, all for Christ

    Saudaraku, aku kurang ingat secara pasti kapan orangtua kami mengenal Om Andreas Christanday. Belakangan aku tahu ternyata Om Andreas adalah adik kandung Pdt Charles Christano, Gembala Jemaat GKMI Kudus. Om Andreas alumni dari Institut Injil Indonesia (STT “I3”) Batu Malang. Kemudian Om Andreas sempat melanjutkan studi ke STT “Baptis” Simongan, Semarang. 

    Setelah lulus dari STT “I3” Om Andreas melayani di GKMI Kudus dan sudah ditahbiskan sebagai Guru Injil (GI). Tetapi pangggilannya untuk menginjil melalui satu yayasan yang bersifat mandiri dan interdenominasi semakin menguat, maka dia kemudian meninggalkan pelayanannya di GKMI Kudus. Dengan dukungan beberapa orang temannya, pada tanggal 3 Mei 1972 Om Andreas mendirikan Yayasan Christopherus.

    Aku sering melihat Om Andreas mengendarai VW Combi warna kuning dengan tulisan “Kristus Jawabnya” di bagian belakang mobil. Itulah satu-satunya mobil VW Combi yang berwarna kuning di Semarang. Dia bercerita kepada kami, penginjilan yang dia lakukan melalui khotbah (KKR), pelayanan musik (Vokal Grup, kadang band), dan pemutaran film.

    Christopherus  sering putar film di desa-desa sekitrar Semarang,Kudus, Jepara, Demak, dan Pati,  dengan memakai proyektor Sekonic dan film-film rohani Kristen produk dari luar negeri, kadang ada terjemahannya, kadang tidak.  Ya zaman itu masyarakat umum memang tahunya film “Beranak Dalam Kubur”,  “Satria Bergitar”, dan film-film Kung Fu produk dari Hong Kong,  yang mesti ditonton di bioskop dengan membayar karcis, maka mereka sangat antusias melihat tontonan film gratis di lapangan.

    Proyektor dipasang di atas kap mobil VW Combi,  layarnya kain seprei yang diikat bambu atau batang pohon. Ada  speaker yang dipakai untuk pengeras suara. Pemasangan properti sejak jam 3-4 sore, dikerjakan oleh  Ko Hok Djoen, yang rambutnya agak gondrong. Ko Djoen dibantu oleh beberapa orang teman. 

    Biasanya selewat maghrib film mulai diputar. Sebelumnya  ada pengantar pendek dari film yang akan diputar. Nah masyarakat yang datang menonton bisa ratusan, sering dari desa lain ikutan datang, lapangan jadi meriah karena banyak angkringan yang menawarkan berbagai makanan, terutama bakso. Sekitar jam 9 malam acara selesai, dan selanjutnya diharapkan ada gereja di daerah situ yang mau menindak lanjutinya.

    Saudaraku, karena Papa usahanya membuat sirup, pernah aku mengirimkan 1 krat sirup ke rumah Om Andreas di Pringgading Utara untuk digunakan dalam pelayanan di Mranggen. Ceritanya saat putar film disiapkan 1 drum besar dengan kran di bagian bawahnya untuk air minum, diisi air hampir penuh dan kira-kira ¼ blok es batu, sirup rasa jeruk dituang ke dalamnya. 

    Tim dari Christopherus dan anggota panitia setempat minum es sirup, pakai gelas plastik atau gelas kaleng. Zaman itu belum ada air botolan Aqua. Es setrup jadi favorit, hingga beberapa kali drum ditambah air dan es batu, bahkan botol sirup yang masih ada sirupnya juga diisi air es dibawa pulang oleh beberapa penduduk.

    Oh ya, karena Om Andreas sering pelayanan ke luar, maka kemana-mana dia sering membawa gitar. Juga saat beliau diundang khotbah ke Kelas Remaja maupun Komisi Pemuda di gereja kami, dia datang dengan gitarnya dan tim musik, menyampaikan khotbah dan puji-pujian. Nah ini, saat itu umumnya gereja tradisional alat musiknya memakai piano, maka kedatangan tim musik yang membawa gitar sering ditafsirkan mewakili denominasi gereja tertentu.

    Kemudian ada pelayanan Panti Asuhan Christopherus yang berlokasi di jalan  Karang Rejo Timur, jadi dari jalan Teuku Umar ke arah tanjakan Gombel belok ke kanan dan jalannya turun cukup tajam. Aku beberapa kali bersama Mama ke situ untuk membawakan beras atau sirup. Anak-anak panti sekitar 20-an orang ramai-ramai menggotong bahan makanan dari mobil, dan sepulangnya merupakan tantangan nyopir, karena jalan menanjak dari panti ke arah Teuku Umar, pakai mobil dengan kopling manual dan gigi satu mesin tidak boleh mati.

    Juga sebelum tahun 1980-an Christopherus punya pelayanan semacam sisterhood. Aku kurang paham pelayanan ini, tapi kemudian Yayasan Christopherus membuka pelayanan di pedalaman Kalimantan Tengah, yakni di Tumbang Marikoi. Untuk mencapai lokasi ini mesti menyusuri sungai Kahayan selama 4 hari. Pelayanan di sini berupa klinik pengobatan, dan pendidikan bagi warga masyarakat . Pelayanan ini  oleh beberapa orang Suster dari “Christustraeger” Jerman. Kita bisa membaca secara lengkap pelayanan mereka di buku “Cahaya Dalam Hutan Rimba” yang diterbitkan oleh Yayasan Christopherus pada tahun 2023.

    Saudaraku, setelah keluarga kami pindah ke Jakarta, aku tidak mengikuti lagi perkembangan aktivitas Yayasan Christopherus. Tahun ini Yayasan Christopherus sudah berusia 52 tahun. Selama 52 tahun lebih Christopherus tetap setia dengan visinya yaitu mengabarkan Injil ke seluruh dunia.

    Aku paling terkesan dengan motonya: “Christ for all, all for Christ” (Kristus untuk semua, semua untuk Kristus) yang diambil dari 2 Korintus 5:14-15. KRISTUS UNTUK SEMUA mendorong kita untuk selalu mengingat,  semangat dan setia mengabarkan Injil di mana pun kita ditempatkan Tuhan. Sedangkan semua untuk Kristus akan selalu mengingatkan kita untuk mengerjakan segala sesuatu dengan sepenuh hati dan memberikan segala sesuatu yang terbaik, karena SEMUA UNTUK KRISTUS. Bagaimana dengan kita sebagai Pendukung Christopherus? (Surhert).

  • Silent Before God

    BERDIAM DIRI DI HADAPAN TUHAN. Sahabat, berdiam diri di hadapan TUHAN akan membuat kita lebih mampu mendengarkan suara Allah. Pendengaran yang baik itu akan membuat kita sungguh mampu mengetahui kehendak-Nya. Persoalan manusia adalah begitu disibukkan dengan banyak suara sehingga tidak mampu lagi mendengarkan suara Allah. dan akhirnya terus bertanya-tanya dalam hatinya: ”Apakah kehendak Allah bagi saya?” 

    Dengan berdiam diri di hadapan Tuhan, kita bisa memercayai-Nya dengan segenap hati. Dia tak perlu teriakan kita atau sikap kritis kita supaya Dia bertindak membereskan kekacauan di bumi. Dia hanya butuh hati  dan iman kita untuk menggerakkan surga terbuka. 

    Saat kita datang dengan segenap hati kepada Tuhan, Dia akan menyatakan diri-Nya dan hadirat-Nya akan kita rasakan. Meskipun kondisi dunia saat ini seperti api yang menghaguskan dan menghancurkan, tapi mereka yang hidup di dalam Dia tidak akan terbakar. Allah itu ibarat aliran air hidup yang menyegarkan. Kita akan mengalami kelegaan di dalam Dia kalau kita datang, berseru dan fokus kepada hadirat-Nya.

    Syukur hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan tema: “Silent Before God (Berdiam Diri Di Hadapan Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 4:1-9 dengan penekanan pada ayat 5. Sahabat, kemarahan dapat menghinggapi siapa saja. Pemicunya pun dapat dari mana saja. Mulai dari masalah diri sendiri, sampai pada fitnah yang keluar dari mulut orang-orang yang dengki. Di tengah kemarahan tak jarang muncul keinginan untuk segera memuaskan hati dengan melampiaskannya. Membela diri, mengumpat, mengutuk, membeberkan keburukan orang lain, hingga mengutip ayat dengan maksud menghakimi sesama. Terlebih di masa kini kita dimudahkan dengan sarana yang sangat praktis yakni melalui media sosial.

    Namun demikian sang pemazmur dengan bijak menasihatkan supaya ketika marah, kita tetap diam. Berdiam diri untuk mengambil waktu merenung, menyelidiki hati supaya kita dapat mengoreksi diri sendiri serta bertobat jika ternyata telah melakukan tindakan yang melenceng dari kehendak Tuhan. 

    Sahabat, mengambil waktu untuk diam juga memberi kesempatan supaya hati kita menjadi lebih tenang. Menghindarkan kita dari emosi yang meledak-ledak serta pengambilan keputusan yang salah, yang dapat semakin memperburuk keadaan. Diam menjadi sarana yang baik untuk menghindari dosa. Menahan diri untuk tidak mengumbar emosi negatif tentu akan membuahkan hasil yang lebih baik daripada sekadar mendapatkan kepuasan sesaat.

    Mungkin dengan diam kita tampak lemah, salah dan kalah. Dengan diam kemarahan kita seakan tak tersalurkan. Namun memilih diam akan menjadi lebih bijak daripada membela diri dengan menjatuhkan orang lain. Bukankah Yesus pun memberi teladan demikian? Jika kita merasa harus berbicara, bicara saja pada Tuhan. 

    Dalam berbagai situasi yang kita hadapi, kita seringkali berespons yang salah. Kita berusaha mendesak Tuhan untuk mengubah kondisi kita atau memberikan solusi. Tapi lupa bahwa sebenarnya yang Tuhan mau adalah supaya kita berdiam diri sejenak dan mendengarkan suara-Nya. Dia mau kita lebih dulu tenggelam dalam hadirat-Nya dan tak terpengaruh dengan semua kekhawatiran kita.  

    Sahabat, Jadi, kalau  hari ini kita merasa Tuhan rasanya tak peduli dengan kondisi kita, pasti TUHAN mau kita berdiam diri sejenak di hadapan-Nya. Karena itu, berdiam dirilah di hadapan TUHAN, maka Ia akan memberikan jalan keluar atas setiap pergumulan kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 9?


    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Diam bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Dalam diam kita bisa semakin jelas mendengar suara Bapa. (pg).

  • BABILONIA VERSI PETRUS

    Saudaraku, Rasul Petrus meninggal di tahun 65–68 M. Sebelumnya ia ditangkap oleh Pemerintah Roma dan kemudian disalib secara terbalik. Di Wikipedia, sekitar musim semi antara bulan Maret – Juni tahun 65 M Rasul Petrus menuliskan kitab 1 dan 2 Petrus, yang ditujukan kepada orang-orang Kristen yang tersebar di seluruh bagian utara Asia Kecil, yakni mereka disebut “umat pilihan Tuhan”. Jadi kitab Petrus ditulis oleh Rasul Petrus pada saat dia ada dalam tahanan di kota Roma.

    Nah, yang membuat aku terkejut, 1 Petrus 5:13 Rasul Petrus menulis: “Salam kepada kamu sekalian dari kawanmu yang terpilih yang di Babilon …”  Lho kok menyebut kota Babilon atau Babel, padahal kota ini letaknya jauh jauh di arah tenggara kota Roma berjarak sekitar 3.600 km, kalau naik pesawat Boeing 737 saat ini butuh waktu sekitar 5 jam dari Roma ke Babilonia di negara Irak.

    Mengapa Rasul Petrus menyebut kota Roma sebagai Babilonia? Apalagi zaman itu mungkin kota Babil sudah bukan kota utama lagi, tapi malahan kemudian banyak disebut di kitab Wahyu sebagai kota besar yang durhaka, yang akan dihukum oleh Tuhan dan akan dimusnahkan (Wahyu 18:21).

    Dalam Kejadian 10:9-10 disebutkan Kerajaan Babel didirikan oleh Nimrod, dan kota Babel menjadi terkenal karena rakyat di situ mencoba membuat sebuah menara yang tinggi menjulang ke langit. Tuhan turun dari surga melihat Menara Babel, kemudian Tuhan mengacaubalaukan bahasa orang-orang saat itu, dari satu bahasa menjadi berbagai macam bahasa, sehingga tidak bisa saling berkomunikasi lagi, pekerjaan Menara Babel terhenti, dan akhirnya orang-orang menyebar ke seluruh bumi sesuai bahasanya.

    Setelah kisah ini Babel tidak disebut-sebut lagi di Perjanjian Lama meskipun muncul berbagai raja di daerah itu, yang terkenal antara lain Raja Hamurabi (1792–1750 SM) yang menyusun undang-undang Babilonia dan ada prasastinya yang sekarang disimpan di museum Louvre France. 

    Babilonia menjadi lebih terkenal karena para intelektualnya dapat menerapkan ilmu matematika dalam penghitungan variasi waktu siang sepanjang satu tahun surya, memuat daftar bintang dan rasi bintang, juga memprakirakan kemunculan bintang dan terbenamnya planet-planet. Jangan lupa ya, itu orang Majus dari Timur – diperkirakan dari Babel, mengunjungi bayi Yesus karena telah melihat bintang-Nya di Timur.

    Saudaraku, kemudian sekitar tahun 747–562 SM, ada dinasti Kasdim yang memerintah di Babilonia, raja-raja yang terkenal yakni Nebukadnezar yang menundukkan Kerajaan Yehuda dan menawan orang-orang Yahudi ke Babel. 

    Raja Nebukadnezar bermimpi melihat patung yang menjulang tinggi, dengan kepala dari emas tua, dan Daniel menyebutkan kepala patung dari emas ini adalah Raja Nebukadnezar, dan kemudian akan muncul kerajaan-kerajaan lain yang menggantikan Babel (Daniel 2). 

    Memang setelah cerita kemegahan kerajaan Babilonia di kitab Daniel, kemudian Babel pudar dan muncul kerajaan-kerajaan lain yakni Persia, Yunani dan Kerajaan Romawi yang menahan Rasul Petrus di Roma.

    Saat Petrus ditangkap, yang menjadi penguasa di Roma adalah Kaisar Nero yang berkuasa sejak tahun 54-68 M. Zaman Kaisar Nero terkenal dengan sebagai tirani dan kekejaman, melakukan banyak eksekusi, termasuk kepada ibunya dan saudara kandung adopsinya. Nero juga dikenal sebagai kaisar yang menyuruh anak buahnya “membakar Roma” untuk mendirikan kota Roma yang baru, namun Nero menuduh orang-orang Kristen yang membakar Roma dan memerintahkan penangkapan besar-besaran.

    Rasul Petrus sangat tertekan melihat situasi saat itu, dan mungkin teringat untuk membandingkannya dengan Babilonia zaman Nebukadnezar, meskipun negara dan masyarakatnya menyembah berhala dan kehidupannya tidak tertib, namun di situ ada tokoh-tokoh keteladanan yakni Daniel, juga kisah heroik ketiga teman Daniel: Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang berani dibakar karena tidak mau menyembah patung raja, ternyata tidak terbakar di dapur perapian, bahkan Raja melihat adanya orang yang keempat, yang rupanya seperti anak dewa.

    Jadi Rasul Petrus menulis dalam 1 Petrus 5:13: “Salam kepada kamu sekalian dari kawanmu yang terpilih yang di Babilon.”

    Saudaraku, mungkin Petrus berharap semoga ada mukjizat di Roma seperti telah terjadi di Babilonia dulu, sehingga orang-orang Kristen yang ditangkap oleh pasukan Roma bisa bebas, bisa pulang ke rumah, bisa bebas beribadah. Tapi itu tidak pernah terjadi, bahkan terjadi pembunuhan atau penyaliban massal kepada orang-orang Kristen.

    Berikut inilah penghiburan yang ditulis Rasul Petrus bagi orang-orang Kristen:  “Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya” (1 Petrus 4:12-13). 

    Saudaraku, apa yang dituliskan Rasul Petrus saat itu, juga berlaku saat ini bagi diri kita, meskipun kita tidak mengalami  mukjizat pertolongan dari Tuhan sebagaimana yang kita harapkan dan doakan, bahkan menghadapi penderitaan sebagai murid Kristus, namun percayalah, bahwa TUHAN Allah, SUMBER SEGALA KASIH KARUNIA,  yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya (1 Petrus 5:10). (Surhert).

  • GELISAH vs PERCAYA

    Saudaraku, kegelisahan diberikan Tuhan kepada manusia untuk menjadi mekanisme bertahan hidup.  Gelisah membuat manusia tidak nyaman dan berhati-hati.  Gelisah menjadi alarm batin manusia untuk waspada dan tak lalai.  Rasa gelisah yang amat sangat dirasakan para murid saat Yesus “berpamitan” kepada mereka.  Mari merenungkan Yohanes 14:1-4

    Kegelisahan yang dirasakan Petrus saat Yesus “berpamitan” ternyata juga dirasakan murid yang lain.  Selama ini mereka selalu bersama dalam suka dan duka dan mendadak setelah makan Paskah, Yesus berkata bahwa Ia akan pergi.  Bagaikan petir menyambar di siang bolong.  Itulah sebabnya mereka mulai bertanya dan bahkan berjanji muluk.  Murid yang mengungkapkan kegelisahan itu adalah Petrus, Tomas dan Filipus.  Yesus berusaha menenangkan mereka dengan menyatakan :

    1. Tak perlu gelisah.

    Kata gelisah berarti takut, khawatir, hancur, tertekan dan campur aduk.  Tidak ada ketenangan dalam kegelisahan.  Para murid gelisah karena mereka merasa akan ditinggalkan sendiri, sementara situasi yang akan dihadapi bukan situasi yang mudah.  Selama ini Sang Guru menjadi pelindung dan bahkan bisa membungkam mereka yang memusuhi.  Kalau Guru pergi, bagaimana nasib mereka?  Mereka sudah meninggalkan semua demi mengikut Yesus, mengapa Dia malah pergi ke tempat yang tak akan bisa mereka ikuti?  Tentu saja mereka gelisah setengah mati karena memikirkan masa depan mereka.  Namun Yesus melarang mereka gelisah.

    1. Percaya kepada Allah dan kepada Dia

    Satu-satunya cara mengatasi gelisah adalah percaya.  Yesus mengarahkan para murid untuk percaya kepada Allah yang berkuasa melindungi nyawa mereka dan percaya kepada pribadi Yesus sendiri yang mengatakan semua itu.  Yesus menyuruh para murid untuk mengalihkan energi negatif kegelisahan kepada hal yang positif: Kepercayaan kepada Yang Dapat Dipercaya.  INILAH IMAN.  Tak disangkal mereka akan berhadapan dengan situasi yang berat, namun rasa percaya akan membuat mereka tetap bertahan dalam keadaan apapun karena Sang Penguasa Semesta ada di pihak mereka.

    Saudaraku, ada banyak alasan orang gelisah pada saat ini , seperti yang murid Yesus rasakan.  Salah satunya adalah rasa sendiri menghadapi masalah.  Memang mungkin ada banyak kolega dan ada pasangan hidup yang menemani namun tidak semua hal dapat dipahami mereka. Saat rasa sendiri itu muncul dan kegelisahan mencengkeram, belajarlah PERCAYA kepada TUHAN.  

    Manusia mencoba mengatasi kegelisahan dengan banyak pertanyaan untuk menerima keadaan dengan logika, namun Tuhan menginginkan manusia untuk percaya kepada-Nya.  Penulis Amsal mengatakan ”Percayalah kepada TUHAN dengan sepenuh hatimu, dan janganlah mengandalkan pengertianmu sendiri.” (Amsal 3:5, BIS).  

    Saudaraku, bukan berarti Tuhan menghalangi manusia untuk menganalisis masalah dengan logika, namun Tuhan menginginkan manusia tetap memercayai kekuasaan dan otoritas-Nya yang berada diatas semua analisis itu.  Tidak mudah untuk percaya, namun Tuhan akan menolong umat untuk melakukannya.  Masih juga gelisah??? LAWANLAH DENGAN PERCAYA.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)